A/N:
Setelah dicoba ditulis, ternyata cerita ini baru akan tamat di chapter 4 atau 5.
Chapternya terakhirnya sudah rampung, jadi tinggal melengkapi bagian tengah.
Thanks To:
YeWon3407, Jessica807, yeolseun12, Adistii, exindira, indah cqupp, surat kaleng, ferina refina, Naranari, Blacknancho, Pintukamarchanbaek, DwitaDwita, SHY Fukuru, Jung Eunhee, shinlophloph, Chocotaro, BaekYeoleuuu, chika love baby baekhyun, CussonsBaekBy, Mumu, Shantyy9411, nicha, Ritaanjani4.
Balasan review ada di bawah.
Ternyata Dami masih banyak di-PHP-in dengan user yang mem-follow/favorite tanpa menulis review. Hiks. T-T
Please respect.
.
.
Jam berdentang satu kali saat Chanyeol merenggangkan ototnya yang kaku. Ia menguap lebar, selaput matanya terasa perih karena lima jam nonstop tak beralih dari layar komputer. Di depan hidungnya, ada tumpukan kertas berserakan yang masih harus diperiksa.
Chanyeol mengerang. Sebagai Manajer Marketing, dia harus membaca laporan singkat sales yang disiapkan oleh bawahannya, belum lagi mempersiapkan persentasi untuk meeting besok.
Terdengar ketukan lembut, kemudian pintu terbuka. Itu pasti Baekhyun yang baru saja pulang.
"Belum tidur?" tegur si brunette lembut.
Kulit wajah Baekhyun menampilkan semburat merah. Kelopak matanya sayu dan kelihatan lelah.
Baekhyun pasti habis menenggak alkohol, Chanyeol membatin. Dia tahu benar rekan satu atapnya itu tidak kuat minum tapi hobi memaksakan diri.
"Belum, masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Kau dari mana saja? Kenapa baru pulang? Pulang sendirian? Baekhyun kau mabuk?" tanya Chanyeol beruntun bak rentetan gerbong kereta.
Chanyeol bangkit dari kursi kerjanya untuk memapah Baekhyun, namun pemuda mungil itu menepisnya halus, "—tidak—hik—perlu. Aku bisa sendiri."
Pemuda brunette tersebut lantas berbalik untuk menuju kamarnya sendiri.
Chanyeol tidak menyadari bahwa semburat merah di wajah Baekhyun tidak hanya disebabkan oleh mabuk, tetapi juga karena suatu hal.
Hal yang kemudian akan mengubah status 'perjanjian' mereka.
.
.
2nd PROPOSAL
[ CHAPTER 2 ]
by kwondami
EXO FAN FICTION
CASTS: Chanyeol, Baekhyun, and another supporting casts
GENRE: Romance, drama
RATING: T
Warning: Shounen-ai, OOC, AU.
.
.
Ada suatu rasa.
Orang normal menyebutnya cinta.
Orang tidak waras menyebutnya obsesi.
Orang putus asa menyebutnya alasan untuk bunuh diri.
.
Untunglah Baekhyun termasuk golongan yang pertama.
.
Baekhyun terjaga pagi-pagi untuk menjerang air, mengoles roti, merebus telur, dan berbenah rumah. Semua itu dilakukannya dengan suka rela, riang gembira, tanpa suatu paksaan seperti yang tertulis pada perjanjian pranikah antara dirinya dan Chanyeol.
Mengenai Chanyeol, laki-laki humoris itu masih terlelap. Dia memang biasa bangun setelah 'semuanya siap.'
Tak lama kemudian suara khas berbunyi berulang-ulang. Itu suara alarm Chanyeol. Suara klik pelan menghentikan jeritan nyaring si alarm.
Hitunglah lima menit maka kau akan menemukan sosok menjulang itu berdiri di ambang pintu, tidak lupa menggaruk tengkuknya yang selalu terasa gatal setiap pagi.
"Selamat pagi!" Baekhyun menyapa riang. Kedua tangannya sibuk memasukan roti bermentega ke dalam toaster.
"Hoaahmmm—pagi." Chanyeol berjalan ke arah meja makan. Baekhyun baru saja hendak menegur Chanyeol—seperti yang sudah-sudah—karena pria itu selalu main comot seenaknya. Tapi kali ini Chanyeol tidak berbuat demikian, alih-alih dia malah berkata, "Bisa kau bungkuskan saja sarapanku? Aku harus meeting pagi-pagi sekali. Aku akan sarapan di kantor."
Sebelum Baekhyun sempat menjawab, Chanyeol berseru lagi. "Oh ya, untuk makan malam nanti aku ingin makan sup rumput laut. Bisa tolong buatkan?"
Baru saja Baekhyun membuka mulutnya, namun Chanyeol kembali memotongnya. "Kenapa mukamu masih merah? Apa kau masih mabuk?"
Baekhyun menyentuh kulit wajahnya sendiri.
Hangat.
Efek mabuknya sudah benar-benar hilang, wajahnya bersemu karena alasan lain.
Karena hari ini seorang pria menawan akan datang menjemputnya untuk sebuah janji makan siang.
"Selamat pagi Pak Manajer."
Langkah Chanyeol terhenti. Itu bukan suara Sehun yang biasanya atau suara Minseok sekretarisnya. Itu suara—
"—kau siapa?"
Si pemilik suara terkesiap. Ia menjawab terputus-putus, "Mulai hari ini saya bekerja sebagai sekretaris anda tuan."
Chanyeol menepuk keningnya keras. Astaga, tentu saja itu Do Kyungsoo! Kan dia sendiri yang merekrutnya kemarin untuk menggantikan posisi Minseok.
Chanyeol berdehem. Menjaga wibawanya yang sempat runtuh. Dia kemudian menyapu tubuh Kungsoo secara seksama.
Hmmm, bokongnnya cukup berisi. Oke, harus dia akui, bokongnya cukup sexy.
Bahunya mungil, membuat Kyungsoo terlihat sangat imut.
Lirikan Chanyeol merayap ke atas, bola matanya berhenti pada dua bongkah bibir Kyungsoo yang penuh.
—menggoda.
"—tuan?"
Suara lirih Kyungsoo menyeret Chanyeol kembali ke realita.
Dia berdehem lagi, "Siapkan berkas-berkas untuk meeting hari ini."
"Baekki-ya, kau mau makan siang bersama kami?"
Guratan pensil di kertas putih tidak terhenti ketika Baekhyun menjawab. Maniknya fokus pada rancangan busana yang sedang ia gambar. "Tidak, kau pergi duluan saja ge."
Luhan mengangguk. "Baiklah tapi jangan terlalu asik bekerja sampai kau lupa makan siang," Tegurnya memperingatkan. Ia bersiap diri untuk melenggang bersama Tao.
Baekhyun mendongak sedikit untuk melempar senyum. "Tidak akan kok."
Pemuda bermanik gemintang itu melirik arlojinya sekilas.
Lima menit lagi.
Dan jantungnya berdetak mengiringi detik penantiannya akan kedatangan Kris Wu.
Nama pria menawan itu Kris, lengkapnya Wu Yi Fan.
Sekilas pasti kau akan menyangka dia bukan orang Asia. Well, hampir seluruh hidupnya memang ia habiskan di Canada.
Rambut pirangnya, kulitnya yang putih bersih, gesture-nya yang terhormat, setelan serba bermerk, semua itu cukup menandakan bahwa Kris Wu memang bukan orang sembarangan.
"Kau mau makan apa?" tanya Kris mengawali. Ia condongkan tubuhnya ke depan, mencari-cari mata Baekhyun. Tak lupa bibirnya menyunggingkan senyum maut.
"—a—apa saja," Baekhyun menyahut gugup. Bagaimana tidak gugup jika kau dihadapkan pada pria gentleman super menawan.
Baekhyun berdeduksi demikian karena sebelum sampai ke restoran mewah ini, Kris dengan gerakan elegan membukakan pintu mobilnya untuknya. Setelah itu, dia juga menarik kursi sebelum Baekhyun mengempaskan tubuhnya pada kursi antik berpelitur.
Kris betul-betul mengagumkan.
"Kau keberatan jika kita makan Escargot Bourgogne?"
Mata Baekhyun memicing. "Es—apa—?"
"Escargot Bourgogne." Desis Kris penuh aksi. Matanya belum lepas dari daftar menu bersampul beludru.
"—oh, oke." Tukas Baekhyun pendek, padahal hatinya menjerit—makanan apa pula itu!?
Kris menutup buku menu dengan bunyi plop pelan. Sebelah tangannya lantas terangkat, menjentikkan jari memberi isyarat. Tak lama kemudian, seorang pelayan datang bergegas menghampiri.
"Aku pesan seperti biasa," titahnya pada si pelayan.
Baekhyun bergumam dalam hati. Apa semua tempat mewah sudah jadi tempat langganannya?
Setelah mencatat pesanan, pelayan tersebut lalu membungkuk sedikit untuk kemudian mohon diri.
"—jadi sampai di mana kita tadi?"
"Sampai pada topik Seoul Fashion Week," cetus Baekhyun antusias.
"Ah ya!" Lagi-lagi Kris memamerkan senyumnya yang bisa membuat seribu wanita jatuh pingsan dalam waktu bersamaan. "Oh ya—sebelumnya boleh aku bertanya sesuatu?"
Kau bertanya jumlah helai rambutku pun, aku akan dengan senang hati menjawab. Baekhyun membatin.
"—kau belum menikah kan?"
Jarum waktu seakan berhenti bergerak. Baekhyun mendadak kaku di kursinya.
Dia terlalu terkejut oleh pertanyaan Kris.
Kris segera membaca situasi. "Eh, maaf jika pertanyaanku tidak sopan." Ia melirik sekilas jemari putih Baekhyun yang terpampang jelas di atas meja lantas buru-buru mengoreksi kalimatnya. "—maksudku, kau belum terikat hubungan dengan seseorang bukan?"
Baekhyun refleks menautkan jari tangannya. Jarinya saling meraba untuk mengecek sesuatu.
—dia memang tidak memakai cincin pernikahannya siang itu.
Ia menggeleng lalu mengangguk bergantian.
Kris menaikkan alisnya sangsi. Tatapan bingung seakan memohon jawaban cepat.
"—itu—" kata-kata Baekhyun terputus ketika lensanya menangkap sosok lain melenggang memasuki restoran. Kepalanya tersentak ke belakang. Baekhyun memang duduk di posisi menghadap ke pintu.
Sosok Chanyeol—suaminya—dengan seorang pemuda mungil bermata bulat bercahaya.
Mari kita mundur ke waktu satu jam yang lalu.
Chanyeol sedang merenggangkan tangannya ketika sekretarisnya—Kyungsoo menghampirinya di ruangan. Bisa dibilang meeting hari itu sukses berkat persiapan matang sang Manajer Marketing, yakni siapa lagi kalau bukan Chanyeol sendiri.
Tolak ukur pertemuan tersebut sukses adalah ketika sang direktur—Choi Siwon mengundangnya untuk makan siang bersama.
Chanyeol melonggarkan simpul dasi. Ia merasa bangga pada dirinya sendiri.
"Tuan Park."
Kyungsoo berdiri di hadapannya dengan anggun, bersiap menyampaikan sesuatu. "Pesan dari Tuan Direktur jika ia akan menjamu anda di restoran Ile-de-France. Mobilnya sudah disiapkan."
Chanyeol bangkit untuk membereskan kertas-kertas yang bertebaran di meja. Setelah itu ia menyambar jasnya yang tergantung dan mengenakannya cepat.
"Kau ikut denganku," tuntut Chanyeol.
Mata bulat Kyungsoo membelalak, "Saya?" tanyanya tak percaya. Ini baru hari pertamanya bekerja, terlalu berlebihan jika ia sudah ikut jamuan makan atasan.
"Iya, kau kan sekretarisku."
"Ba-baik tuan." Bibirnya mengulum senyum manis, irisnya berbinar jernih, kentara sekali Kyungsoo sangat gembira.
Sejenak Chanyeol terkesima.
Ia menatap sekretarisnya tak berkedip.
Terlalu terpesona pada binar mata bulat milik Kyungsoo.
"—kenapa kau ingin tahu?" Baekhyun bergerak resah di kursinya, berusaha menormalkan deru gugup jantung. Untunglah Chanyeol duduk di posisi terhalang tembok sehingga tidak bisa melihat dirinya dan Kris.
Sedang apa Chanyeol di sini dan bersama siapa!?
Eh tunggu, kenapa juga ia harus gugup. Dia kan bukan istri yang berselingkuh di belakang suami. Garis bawahi kalimat berikut: Mereka kan tidak saling mencintai!
"Baekhyun?" Kris memanggil lembut, menarik lawan bicaranya ke alam sadar.
"Eh iya—kenapa kau ingin tahu?" Baekhyun mengulang lamat-lamat.
Pria priang itu mengempaskan punggungnya dengan gesture slow motion. Matanya berkedip penuh goda. "Nothing. I'm just curious."
"Curiosity kills the cat," timpal Baekhyun cepat. Terkekeh.
Kris mendelik lalu tertawa merdu.
Sosok Baekhyun terlalu menarik untuknya. Terlalu cantik, terlalu memikat, terlalu misterius seakan minta diselami. Terlalu—
"—jadi?"
Baekhyun tergugu.
Satu detik berlalu lagi. Kris tetap menunggu.
Ia melirik punggung Chanyeol di kejauhan, lalu melirik ke arah jemarinya yang polos.
Dua detik terlewat. Baekhyun berpikir cepat.
Dirinya menarik napas dalam-dalam, mengisi gelembung paru-parunya penuh-penuh sebelum memberikan jawaban spektakuler. "Aku belum menikah dan belum memiliki kekasih," lirihnya pelan—nyaris berbisik, memastikan telinga Chanyeol di seberang tidak cukup tajam untuk mendengar.
.
.
.
Sudut miring merayapi bibir Kris...
.
.
.
Dan Kris tersenyum puas.
Chanyeol melirik jam tangannya gelisah. Sudah tiga puluh menit dia menunggu namun sosok sang direktur belum muncul juga. Setahunya, Choi Siwon bukanlah orang yang suka terlambat.
Ponselnya berbunyi. Chanyeol merogoh sakunya cepat.
"Halo?"
"Chanyeol maafkan aku, tiba-tiba aku dipanggil oleh CEO." Suara Siwon terdengar buru-buru. Chanyeol berkonsentrasi pada setiap kata yang diucapkan seniornya. C-E-O? Itu berarti Siwon sedang berhadapan dengan Lee SooMan.
"Kutraktir kau lain kali, oke? Sudah dulu ya."
Klik. Panggilan langsung dimatikan.
Chanyeol mendengus. Sia-sia saja dia datang ke restoran mahal ini, huh!
"Apa yang terjadi tuan?" tanya Kyungsoo prihatin.
Chanyeol mendesah pelan, tapi tiba-tiba sebuah ide tercetus di otaknya.
"Pesan apa pun yang kau mau, biar nanti kumasukan tagihannya ke rekening Direktur Choi Siwon."
Anggap saja ini makan siang bersama dengan sekretaris semanis Kyungsoo.
Xi Luhan melongokan lehernya untuk melihat sebuah mobil mewah yang terparkir di depan butiknya. Sosok Baekhyun kemudian turun dari salah satu sisi, menentang dua tas belanjaan besar.
Tepat ketika kaki Baekhyun bergerak memasuki butik, Luhan tak dapat menahan diri memberondongnya dengan rentetan pertanyaan. "Baekhyun, kau dari mana? Siapa pemilik mobil mewah itu? Astaga, dari mana kau mendapatkan semua ini?" telunjuknya terarah pada dua kantung belanja yang dibawa rekannya.
Baekhyun menyambut dengan senyum berbunga-bunga. "Namanya Kris Wu—aku bertemunya di bar—"
"—siapa kau bilang?" potong Luhan cepat.
"Kris Wu."
"Kau tidak salah?"
Baekhyun memutar bola matanya tak mengerti. "Memangnya kenapa?"
"Astaga—kenapa kau malah bertanya kenapa?" seru Luhan tak sabar. "Dia itu pemilik agensi model besar. Konon model yang berkerja dengannya tidak hanya model Asia, tapi banyak juga wanita jenjang yang berasal dari Eropa dan Amerika. Dia muda, kaya, dan—"
"—menawan." Sahut Bekhyun menyaingi kecepatan cahaya.
Luhan menyipit. Meyembunyikan binar bercahaya miliknya di balik kelopak mata. "—dan kau baru saja turun dari mobil mewahnya?"
"Memangnya kenapa?" Baekhyun mengulang pertanyaan yang sama.
Ada apa sih dengan otak sahabatnya ini? Luhan menjerit dalam diam.
"Ya! Itu berarti kau berselingkuh. Baekhyun kau selingkuh!" sembur Luhan dramatis, membuat Tao yang sedang sibuk men-display manekin ikut menoleh.
"Siapa yang selingkuh?" tanyanya kelewat polos.
"Baekhyun kau sudah menikah dan kau tidak boleh berjalan dengan pria lain di belakang suamimu!" Luhan berkata tegas. Lugas dan jelas.
Zi Tao yang penasaran menghampiri mereka berdua. Namun fokusnya malah tersita pada salah satu kantung belanja Baekhyun. Ia merogoh isinya lalu berseru nyaring. "Wow! Gucci! Ini kan model terbaru!"
Baekhyun tidak memedulikan pekikan girang Tao. Dia malah termenung, sibuk memikirkan kata-kata Luhan barusan.
Tak dimungkiri, kata-kata Luhan menyiletnya tajam.
"Hyung—yang ini boleh untukku ya? Boleh ya hyung~" rengek Tao manja.
Baekhyun mengangguk di luar sadar.
"Eeeeh yang benar?" Tao memeluk tas yang baru saja berpindah hak kepemilikan.
Luhan melirik Tao gemas lalu menggeleng-gelengkan kepala. Dia kembali pada pekerjaannya, membiarkan Baekhyun yang masih tenggelam dalam kubangan angan.
"Aku pulang."
"Selamat datang."
Hidung Chanyeol bereaksi mengirimkan sinyal pada otak lalu turun ke organ lambung. Baru saja satu langkah memasuki apartemennya, dia bisa tahu menu masakan malam itu.
"—sesuai pesananmu, sup rumput laut." Seru Baekhyun dari arah dapur seakan bisa membaca pikiran rekan satu atapnya.
Chanyeol tersenyum lebar. Aroma masakan favoritnya membuat perutnya semakin meronta minta diisi. Ia melangkah bersemangat ke arah meja makan.
"Hei-hei, cuci tangan dulu, ganti bajumu, dan sebaiknya kau mandi karena bau badanmu itu sudah tak karuan Park Chanyeol." Protes Baekhyun panjang.
"Aku lapar." Chanyeol mulai mengunyah, tak mempedulikan ocehan pemuda yang secara hukum adalah istrinya. Secara hukum—bukan secara perasaan apalagi hati.
Baekhyun tertawa melihat tingkah Chanyeol yang makan dengan bringas. "Pelan-pelan saja makannya, aku membuatkan semuanya untukmu kok."
"Bagaimana harimu?" tanya Chanyeol dengan mulut penuh nasi. Mereka memang tidak saling mencintai, tapi ia merasa wajib mengetahui hal tentang Baekhyun sebagai rekan satu atap. Semua dilakukan semata-mata untuk menjaga komunikasi.
Hei, mereka kan sahabat baik.
"Aku sedang sibuk mempersiapkan baju-baju yang akan dibawakan di acara Seoul Fashion Week."
"Itu saja?"
—sebenarnya tidak.
Pelipis Baekhyun berdenyut keras. Haruskah dia menceritakan tentang Kris pada Chanyeol? Bagaimanapun juga, Chanyeol adalah orang terdekatnya selama enam bulan terakhir jika dihitung tiga bulan awal perkenalan dan tiga bulan masa menikah.
Baekhyun menghela napas, menimbang-nimbang.
Toh akhirnya dia mengambil keputusan.
"Chanyeol—"
"Hm?"
"Ng... bagaimana jika aku jatuh cinta pada orang lain?"
"K—kau? brrsssstttt—uhuk-uhuk..." Chanyeol sukses tersedak. Nasi yang sedang ia kunyah berhamburan ke luar.
"Ya ampun! Sudah kubilang kan jangan makan terburu-buru." Baekhyun cepat-cepat menyerahkan segelas air pada Chanyeol. Ia juga ikut membersihkan remahan nasi di wajah pria di hadapannya.
"K—kau apa?" ulang Chanyeol setelah dipastikan tenggorokannya bebas dari bulir nasi yang tersesat ke sana.
"Aku jatuh cinta pada orang lain!" ulang Baekhyun, setengah memekik.
Chanyeol tertegun. Bingung harus bereaksi apa.
Sumpitnya melayang kaku di udara. Tubuhnya membeku seperti tertancap pada kursi.
Sesaat hanya ada bunyi putaran jarum detik yang tergantung di dekat meja makan.
"Oh." Akhirnya hanya satu kata ini yang meluncur dari bibirnya. Ia kembali sibuk menyeruput sup rumput laut buatan Baekhyun, kali ini dengan gerakan lebih pelan.
"Bagaimana?" cetus Baekhyun tak sabar.
"Bagaimana apanya?"
"Iya bagaimana?"
"Bagaimana apanya, apanya yang bagaimana?" Chanyeol memutar-mutar pertanyaan Baekhyun, membuat pemuda pemuda brunette itu dongkol.
Duh berbelit sekali sih!
"Ya! Kau bilang kan pernikahan kita hanya berlaku sampai masing-masing dari kita menemukan orang yang kita cintai!" Habis sudah kesabaran Baekhyun.
"Tapi kita kan baru menikah selama tiga bulan! Lagipula aku belum menemukan orang yang kucintai, dengan demikian—perjanjian kita masih berlaku!" Chanyeol memberi ultimatum. Walau reseptor memorinya mendadak teringat akan si mungil Kyungsoo dan bibirnya yang merah merekah.
"Lantas aku harus menunggu sampai kau juga jatuh cinta begitu? Bisa-bisa aku jadi perjaka tua!" sulut Baekhyun berapi-api.
Chanyeol berhenti mengunyah lalu menatap lawan bicara yang sudah hidup dengannya selama tiga bulan. Sorotan matanya menukik tajam, amat lekat.
Hening menengahi.
Ada jeda yang turun diam-diam dari langit, membekap mereka berdua.
Sejenak manik keduanya saling berbenturan beberapa detik, tapi kembali saling menghindar. Terlalu canggung untuk saling menatap
Keduanya lantas menghabiskan sisa makan malam mereka dalam diam.
To be Continued...
A/N:
Biasanya saya membalas review lewat PM, tapi pengen juga ngerasain bales lewat sini. :D
Oke check it out!
YeWon3407: Ini ayyes kaaan? Ayyes kenapa kamu ganti user name? :O
Jessica807: Apakah mereka saling memendam? Nantikan kelanjutan ceritanya. ;)
yeolseun12: Dami juga maunya mereka ga pisah. Doain aja suapaya feel angst aku gak tiba-tiba menghantui jalan cerita. Hehehe.
Adistii: Seneng kalau kamu suka, terima kasih ya. ^^
Exindira: Eh, kamu review lagi :3 aku manggil kamu apa nih?
ferina refina: Wuehehehe, nampaknya banyak request supaya cerita ini happy ending. Chapter ini KrisBaek moment dulu gak apa-apa kan?
Naranari: Ini sudah lanjut. ^^
Blacknancho: Hai! Nih aku udah posting chapter 2-nya. :D
Pintukamarchanbaek: Wah, kamu banyak review di FF aku, seneng deh :D. Pertanyaan kamu sudah Dami jawab di chapter 2 ini.
DwitaDwita: Doakan supaya feel angst aku gak gentayangan. Hehehe.
SHY Fukuru: Iya bener! Adegan itu memang terinspirasi dari iklan itu. Dami juga lagi sering ditanyainn pertanyaan macam itu tuh, bedanya pertanyaannya 'Kapan lulus?' :( *curhat*
Jung Eunhee: Ini udah cepat belum ya updatenya? :3
indah cqupp: Horeee! Indah ninggalin review lagi di FF-ku. Tokoh penghambat itu diperlukan supaya jalan cerita ga berjalan datar. ;)
shinlophloph: Dimaklumin aja, mereka kan gak saling mencintai. Hehe.
Chocotaro: Yooo! Itu emang Kris. Btw, user name kamu bikin laper (?) ;D
BaekYeoleuuu: Haiiii Daebi! Nampaknya aku jauuuuh lebih tua dari kamu. *pengakuan* Kita sama ternyata, Follow/fav tanpa review itu kaya dikasih harapan kosong ga sih?
chika love baby baekhyun: Mereka selingkuh? Tenang aja, Baekhyun udah dimarahin sama Lulu kok. Terima kasih sudah mereview!
CussonsBaekBy: Iya aku juga lebih suka KrisBaek daripada ChanSoo. :)
Mumu: Ini sudah lanjut. ^^
Shantyy9411: Yup, semoga akhirnya happy ending. Terima kasih sudah mereview!
nicha: Hai kemana aja? :D terima kasih sudah review.
Ritaanjani4: seneng kalau kamu suka. ^^
.
.
Berkenan meninggalkan jejak lagi?
Mari biasakan saling menghargai.
.
.
PS: Eh, aku baru aja ganti ava nih. Gimana-gimana? Oke gak? Telinga Chanyeol lebar banget ya.*gak penting*
