A/N:
Hai! Ketemu lagi sama Dami yang baru ganti ava FFn dan update profil. XD
FF ini akan tamat di chapter 4 dan penulisannya sendiri sudah rampung.
Terima kasih ya sambutannya:
DwitaDwita, shantyy9411, Jessica807, Indaah cqupp, mumu, Yurako Koizumi, Inggit, sweetyYeollie, ParkDoMyon Zi Tao, Shinelightseeker, Eggxbacon, Cho MinHyun, nicha, CussonsBaekBy, YeWon3407, naranari, oneheartforsuju, SHY Fukuru, Beautypeach, Nikeeetusulliha, Ferina refina, Azura Eve, LuckyDeer, SlytherSoul d'Malfoy, BaekYeoleuuu, Deerlohan, BLUEFIRE0805, yeolseun12, Ahjumma Kece, 12Wolf, Chanz, guest.
Balasan review ada di bawah.
Oh iya, kalau menemukan ada typo tolong bantu mengigatkan ya. :)
Selamat membaca chapter ketiga ini!
.
.
.
Tolong katakan dia masih waras.
Tolong katakan Chanyeol tidak gila.
Tapi gelagatnya tidak mencerminkan demikian.
Seperti hari ini, bukannya memeriksa laporan bawahannya, dia malah tepekur malas di atas meja kerja sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Kadang-kadang menghela napas panjang tanpa sebab, pandangan menerawang kosong, bahkan berkali-kali ditegur bosnya—Direktur Choi—karena tidak menyimak.
Sepekan berlalu sejak Baekhyun berterus terang. Sudah sepekan pula Chanyeol uring-uringan.
"Siapa nama pria yang kau sukai itu?" tanya Chanyeol penuh selidik.
"Kris Wu."
"Seperti apa orangnya?"
Baekhyun mendelik kasar, "Kenapa kau ingin tahu?"
Chanyeol memasang ekspresi datar. Dia sendiri tidak mengerti mengapa begitu penasaran.
"Dia baik, tampan, menawan, berkelas, dan sangat loyal." Bibir Baekhyun menggurat senyum ketika mengucap kata terakhir.
"Di mana kau bertemu dengannya?" kali ini gayanya seperti polisi yang sedang mengintograsi.
Baekhyun menyahut malas, "Di bar."
"Nah nah, dia pasti hanya om-om hidung belang yang hanya memanfaatkanmu!"
"Kau ini bicara apa sih! Kris bukan orang semacam itu!" Baekhyun yang kesal melengos pergi meninggalkan Chanyeol yang masih menyantap puding pencuci mulut di meja makan.
"Hei-hei Baekhyun, kau mau kemana? Aku belum selesai bicara!"
"AKU MAU TIDUR!"
Baekhyun menghentikan langkahnya untuk kemudian melirik dari balik bahu, "JANGAN LUPA HARI INI JADWALMU MEMBERSIHKAN KULKAS DAN BUANG MAKANAN YANG SUDAH KADALUARSA!"
Kemudian pintu kamar dibanting keras.
.
.
.
Lagi-lagi Chanyeol menghela napas gusar.
"Aaaarrrrgggghhhhhhh!"
.
.
.
2nd PROPOSAL
[ CHAPTER 3 ]
by kwondami
EXO FAN FICTION
CASTS: Chanyeol, Baekhyun, and another supporting casts.
GENRE: Romance
RATING: T
Warning: Shounen-ai, OOC, AU.
.
.
.
Chanyeol butuh melepas penat.
Untuk itu dia mengajak sekretarisnya yang penurut menemaninya makan siang. Kyungsoo yang tidak berdaya menolak akhirnya hanya mengiyakan saya ajakan sang atasan.
Di waktu bersamaan, Baekhyun mendapat telepon singkat dari ibu mertuanya bahwa dirinya akan berkunjung nanti malam. Untuk menyambut kedatangan sang ratu agung, Baekhyun sengaja menyempatkan diri untuk berbelanja bahan-bahan memasak.
Sesuatu mengusik keasikannya berbelanja ketika lensa matanya membidik sosok Chanyeol tengah melenggang bersisian dengan sesorang. Baekhyun mengucek matanya untuk meyakinkan diri.
Benar.
Objek menjulang itu adalah Chanyeol—suami kontraknya.
Dan siapa itu di sampingnya?
Baekhyun mengerjap. Lalu mengerjap lagi. Akhirnya ia menyipitkan matanya sampai tinggal segaris, berusaha menajamkan fokusnya pada sosok mungil di samping Chanyeol.
Loh, dia kan orang yang sama yang waktu itu bersama Chanyeol di restoran Perancis. Sedang apa mereka di sini? Dan kenapa Chanyeol kelihatan sangat bahagia?
Bibir Chanyeol mengembang lebar dengan sudut terangkat sempurna. Sesekali dia mencuri lirik si pemuda manis yang berjalan di sisi. Si pemuda manis merespon malu-malu.
—malu-malu tapi mau.
Cih.
Eh apa tadi dia bilang? Manis? Oke oke, dengan berat hati dia harus mengakui bahwa orang yang sedang bersama suami kontraknya memang manis.
Ah, tapi Baekhyun juga tidak kalah manis kok!
Loh loh, kenapa dia jadi sewot begini?
"Semuanya jadi sepuluh ribu won." Suara kakek penjual buah membuyarkan konsentasi.
Baekhyun beralih dari kegiatan mengamati dan cepat-cepat membayar belanjaannya seraya mengucapkan terima kasih. Ketika ia balik menoleh ke tempat yang sama, Chanyeol sudah menghilang dari pandangan.
.
.
.
"Hyung, bagaimana kandunganmu?"
"Baik, terima kasih. Kapan kau akan main kemari?" Yixing mengelus perutnya yang semakin besar seiring waktu kelahiran yang semakin dekat. Tidak biasanya Baekhyun meneleponnya sore-sore seperti ini.
"Hyung, menurutmu—selingkuh itu—apa?"
Yixing terdiam, mencerna pertanyaan Baekhyun, "Selingkuh? Kenapa kau bertanya begitu?"
"Apa jatuh cinta pada orang lain termasuk selingkuh? Walaupun kau sebenarnya tidak mencintai suamimu?"
Yixing terenyak, "Itu namanya selingkuh hati."
"Lebih parah mana selingkuh hati dengan selingkuh fisik?"
Yixing mengurut keningnya yang tidak sakit, "Tidak ada yang lebih mending. Karena dua-duanya berarti pengkhianatan. Kebanyakan orang berselingkuh fisik karena tidak puas pada pasangan. Tapi kurasa selingkuh hati juga sama buruknya."
Jeda mengisi sambungan telepon.
"Baekhyun, kau dan Chanyeol baik-baik saja kan?" Yixing bertanya hati-hati.
Tak ada jawaban.
"Bagaimana kehidupan seks kalian, baik-baik saja?"
Terdengar suara mirip tersedak di seberang.
"...Ah, itu—sudah ya hyung. Nanti kutelepon lagi. Daaaah~"
Klik.
Baekhyun mematikan ponselnya secepat kilat.
Semu hangat menggelayuti pipinya.
Mana mungkin dia dan Chanyeol melakukan 'itu', mereka kan tidak saling mencintai!
.
.
.
Bel melengking nyaring.
Si istri pemilik rumah melenguh sejenak sebelum menggerakan tubuhnya ke arah pintu—ditambah adegan setengah berlari dan hampir tersandung. Itu pasti Chanyeol yang baru saja pulang dari kantor. Baekhyun bisa mengenalinya hanya dari cara lelaki itu memencet bel.
Pintu terbuka bersamaan dengan cengiran lebar, "Wow, sedap sekali wanginya. Apa kau masak banyak?"
"Eomma akan berkunjung malam ini," tukas Baekhyun datar.
"Apa? Kenapa kau tidak memberitahuku!?"
"Karena aku tidak mau mengganggu kencanmu Tuan Park." Baekhyun tersenyum remeh. Maksudnya memang untuk menyindir.
Dahi Chanyeol beriak. Bibirnya maju satu senti. Berpikir.
"Jangan pura-pura tidak mengerti deh. Aku tahu kau baru saja pulang setelah kencan di Dongdaemun, ya kan?"
Chanyeol menggosok pelipisnya, masih bingung, "Maksudmu Kyungsoo?"
"Oh, jadi namanya Kyungsoo." Komentar Baekhyun sarkartis dengan nada sengaja dipanjang-panjangkan.
"Dia sekretarisku yang baru."
"Kau pikir aku akan percaya?"
"Kau cemburu?"
Nada bicara Baekhyun berubah tinggi. Sebelah alisnya ikut-ikutan naik, "Cemburu? Kau bercanda? Mana mungkin aku cemburu padamu!"
Cemburu? Cih, yang benar saja!
Baru saja Baekhyun menarik napas untuk mempersiapkan protes yang lebih panjang, bel bernyanyi lagi. Kali ini temponya seperti ketukan empat per empat.
Ting tong ting tong.
"Astaga itu pasti eomma! Cepat kau pasang foto pernikahan kita!" jerit si mungil panik.
Si tinggi bereaksi sama panik. Chanyeol bergegas mencari figura foto berbingkai hitam yang dimaksud, "Di mana kau simpan benda itu?"
"Di balik rak buku. Itu di sana!" telunjuk Baekhyun mengarah pada rak buku di sudut ruang tamu.
"DI MANA!?"
Ting tong ting tong. Bunyi bel makin tidak terdengar sabar.
"ITU DI SANA! MASA BENDA SEBESAR ITU TIDAK KELIHATAN SIH! BODOH!" pekik Baekhyun geram.
"DI MAN—"
—oh itu dia!
Duh, bisa-bisanya aku memutuskan untuk menikah dengan laki-laki bodoh macam Park Chanyeol!
Chanyeol buru-buru memasang kembali figura berisi foto pernikahannya ke dinding ruang tamu. Di foto itu Chanyeol dan Baekhyun tersenyum bahagia dengan air mancur sebagai latar. Coba saja kau lebih jeli mengamati maka kau akan tahu kalau keduanya tersenyum palsu. Mereka memang sengaja tidak menggantung foto tersebut, kecuali kalau ada inspeksi mendadak seperti hari ini.
"Selamat datang eomma!" sambut Baekhyun seceria mungkin tepat setelah daun pintu mengayun terbuka.
Sang ratu agung—ibu mertua melenggang masuk tak mengindahkan sambutan dari menantu, "Tadi rasanya aku mendengar suara berteriak-teriak, apa itu suara kalian?"
Baekhyun melirik si pria tinggi lewat sudut mata, memerintahkannya untuk segera mengambil alih situasi.
"...Oh, ahahaha, tadi ada kecoak sehingga Baekhyun menjerit-jerit ketakutan." Chanyeol mengulas senyum semanis mungkin, berharap ibunya bisa terkelabui.
"Oh." Untunglah ibunya megangguk-angguk mengerti. Nyonya Park melayangkan pandang pada interior rumah, tak cukup teliti menangkap tingkah laku putera dan menantunya yang saling sikut.
.
.
.
Mereka bertiga duduk manis melingkar di meja makan. Berbagai sajian lezat terhidang, bau sedap menyapa indra penciuman.
"Cobalah sup ini eomma, Baekki sengaja membuatkannya untuk eomma," tawar Baekhyun pada mertuanya sambil tak lupa menggurat senyum. Tangannya sibuk memindahkan sup seafood dari panci ke dalam mangkuk kecil.
"Aigoo~ puteraku memang pandai memilih istri," balas sang ibu mertua berbinar-binar. Ia memang sudah jatuh cinta pada Baekhyun sejak putera semata wayangnya itu memperkenalkannya sebagai calon istri. Tak heran Baekhyun sangat disayang oleh ibu mertuanya.
"Eomma ikut bahagia melihat rumah tangga kalian yang jauh dari masalah," cetusnya lagi dengan luapan senang.
Jauh dari masalah apanya! Chanyeol dan Baekhyun saling bertukar sinyal dongkol.
"Jadi kapan kalian akan memberikan eomma cucu?"
Kalimat tanya tersebut bereaksi signifikan pada adegan selanjutnya.
Chanyeol berhenti menyuap sedangkan Baekhyun mendadak kaku seperti robot. Oh ayolah, setelah pertanyaan 'kapan menikah' sekarang pertanyaan yang sering diajukan pada mereka adalah 'kapan punya anak?'
"Seberapa sering kalian melakukan hubungan intim dalam seminggu?" tanya Ibu Chanyeol lancar tanpa beban seakan-akan hal yang dia tanyakan tak jauh beda dengan 'berapa kali kalian sikat gigi dalam sehari.'
Kedua sejoli dihadapannya saling berpandangan shock.
Senyap.
Sebelah alis wanita paruh baya itu naik, menanti jawaban.
"Tiga," celetuk Baekhyun cepat.
"Lima," Chanyeol menimpali.
Kini Chanyeol dan Baekhyun saling melempar pandangan membunuh. Jika ada pisau, mereka pasti sudah melempar seperti ninja.
Nyonya Park menyerut supnya perlahan, lalu mengulang pertanyaannya dengan tenang. "Jadi berapa kali?"
"Lima," sahut Baekhyun kilat.
"Tiga," seru Chanyeol dramatis.
Baekhyun menikam manik lelaki di sampingnya seakan hendak memakan pria tiang listrik itu bulat-bulat. Bibirnya berkomat-komit tanpa suara, 'Apa yang kau lakukan bodoh!?'
"Kami melakukannya setiap hari eomma," cetus Chanyeol akhirnya. Sudut bibirnya ditarik setinggi mungkin, menampilkan senyum manis yang dibuat-buat. Namun senyum itu langsung pudar taktala Baekhyun mencubit paha Chanyeol yang tertutup taplak meja, "Aw!"
Waks! Apa dia bilang? Setiap hari? Yang benar saja!
Faktanya mereka sama sekali belum pernah melakukannya. Dan tidak akan pernah!
Tapi ibu Chanyeol tersenyum puas dengan jawaban tersebut. "Oh, itu bagus. Apalagi pengantin baru memang sedang hot hotnya. Hahahaha."
"Bagaimana eomma, masakan Baekhyun enak kan?" Chanyeol buru-buru mengalihkan pembicaraan dari topik menjurus tersebut karena sekarang Baekhyun memberondongnya dengan isyarat mata 'Park Chanyeol-kau-mati-setelah-ini!'
Untunglah akhirnya mereka bisa menangani wanita agung tersebut dengan baik. Diam-diam Chanyeol kagum akan kepiawaian Baekhyun dalam merebut hati ibunya. Setelah malam yang melelahkan, keduanya mengempaskan punggung di sofa ruang tengah.
Chanyeol menumpukan lehernya pada senderan sofa. Ia memijit keningnya sendiri, bersyukur hari ini bisa dilalui dengan baik.
"Besok kau tidak perlu masak untuk makan malam karena aku ada acara di luar."
"Baguslah kalau begitu. Besok malam aku memang ada janji dengan Kris."
Si mungil kemudian bangkit terlebih dulu untuk menuju kamarnya sendiri, meninggalkan sosok Chanyeol yang menatap punggungnya dengan penuh arti.
.
.
.
Pukul tujuh malam, para tamu undangan mulai berdatangan. Acara launching yang diadakan di salah satu hotel mewah di Seoul itu dihadiri oleh banyak orang penting. Di dalam ruangan ballroom, lampu berwarna-warni jatuh bagai rinai hujan, mulai dari yang menyorot terang sampai bersinar lembut temaram. Untuk menghangatkan suasana, musik lembut sebagai background dimainkan oleh pemain biola, harpa, dan pianis terkenal.
Baekhyun masih duduk di jok empuk mobil mewah Kris karena pria menawan itu tidak mau buru-buru turun. Kris bilang, ada sesuatu penting yang ingin dia sampaikan.
Mobil dipenuhi atmosfer romantis. Wangi lavender menenangkan sekujur saraf kasmaran.
Baekhyun yang duduk di samping pria semenawan Kris tak henti-hentinya menyirat hangat merah muda. Ia seperti gadis remaja yang baru pertama kali jatuh cinta. Kris sendiri tidak ingin kehilangan kesempatan sedetik pun memandangi Baekhyun. Setiap fitur dan gerak-gerik Bekhyun amat menyita perhatiannya.
Jemari Kris kemudian tergerak untuk meraih jari-jari putih lawan bicaranya. Pelan, tapi pasti.
Tubuhnya kemudian dicondongkan untuk mengeliminasi jarak. Dari bibirnya meluncur kalimat manis. "Baekhyun-ssi, jadilah kekasihku," pinta Kris lembut. Ada permohonan dalam nada ucapannya, namun tetap tak merendahkan kesan seorang Kris Wu.
Baekhyun tercengang. Dia tidak menyangka Kris akan menyatakan cinta secepat ini.
Kris lalu menyentuh jari Baekhyun hati-hati dan memasangkan sebuah cincin perak indah di sana. Dia menatap Baekhyun lurus-lurus.
"A—aku—" Baekhyun tergagap.
Diam-diam Baekhyun meraba letak hatinya berada. Ada rasa aneh menyelinap. Bukan—bukan rasa bahagia, tapi rasa bersalah. Jantungnya berdetak cepat. Bukan degupan cinta melainkan degupan canggung.
Kris menggoyangkan simpul dasinya lalu berdehem lirih sekedar untuk mengusir rasa canggung. Bibirnya lantas membentangkan senyum penuh pengertian. "Kau tidak perlu menjawab sekarang. Aku akan memberimu waktu untuk berpikir."
.
.
.
Di pusat acara, terlihat gerombolan pebisnis sedang asik berbincang-bincang. Di antara mereka nampak Lee SooMan—sang CEO, Choi Siwon, Joonmyeon, serta tentu saja Chanyeol. Kyungsoo yang belum terbiasa datang ke pesta berskala besar, mengkeret di sisi Chanyeol dengan gesture andalannya—tertunduk malu-malu.
Tingkah laku Kyungsoo mau tak mau menarik perhatian Chanyeol. Dia tidak dapat membohongi dirinya sendiri ketika seluruh pancaindranya bagai tersedot pada tampilan indah berbibir penuh itu.
Kris telah turun dari mobilnya dengan sebelah lengannya menggamit Baekhyun mesra. Mereka baru lima langkah memasuki ballroom ketika Baekhyun menangkap sosok yang tak disangka-sangka tengah berdiri di tengah pesta.
Sialnya, Chanyeol langsung menoleh ke tempat Baekhyun dan Kris berdiri. Tak perlu menoleh dua kali bagi Chanyeol untuk mengenali 'istrinya'. Dia bergegas setengah berlari menuju pasangan tersebut. Di belakangnya, Kyungsoo tergopoh-gopoh mengikuti.
Chanyeol mengangkat dagunya tinggi-tinggi kemudian melangkah percaya diri ke arah Kris, "Maaf Tuan, aku tidak mau menyebutmu sebagai pria perusak rumah tangga orang tapi orang yang sedang kau gandeng itu adalah istriku!" desisnya tajam, tepat di depan muka Kris.
Kris ternganga.
Seorang pria yang tingginya hampir sama dengannya tiba-tiba menghampirinya dan mendampratnya di hadapan banyak orang. Kejadian ini berlangsung dalam tempo cepat tanpa memberi kesempatan otaknya untuk memproses apa yang sedang terjadi.
Sebaliknya Baekhyun melotot marah, tapi belum sempat ia mengajukan protesnya, Chanyeol sudah menarik lengannya kasar. "Ayo kita pulang!"
Chanyeol menyeret paksa Baekhyun menuju parkiran mobil, lalu mengempaskan tubuh mungil itu ke jok di sebelahnya. Segera setelah itu, ia menstarter mobilnya emosi, meniggalkan Kris dan Kyungsoo yang masih terpaku di tempat.
Kris bagai tersambar petir.
.
.
.
"YA! APA YANG KAU LAKUKAN PARK CHANYEOL!?"
Telinga Chanyeol berdengung akibat lengkingan falseto Baekhyun. Bola matanya tetap fokus menyetir walaupun sejak tadi Baekhyun memukul-mukul pundaknya kesal.
"Aku menyeretmu untuk kebaikanmu sendiri! Apa kata orang-orang yang melihat kau jalan dengan si pirang tamp—shit, maksudku pria selain suamimu! Ingat, kau masih tercatat sebagai istri Park Chanyeol!" Balas Chanyeol tak kalah sengit.
"Aku kan tidak tahu kalau kau juga datang ke pesta itu!"
Chanyeol berdecak datar, "Salah sendiri tidak bertanya."
"Kau sendiri datang bersama orang lain!" Nada suara Baekhyun naik satu oktaf.
"Sudah kubilang kan, Kyungsoo itu sekretarisku! Harus berapa kali kujelaskan sampai kau mengerti! Dan pelankan suaramu itu, telingaku sakit mendengarnya."
"Kalau begitu aku minta cerai."
Ckiiiiiitttttttt.
Pedal rem refleks terinjak membuat tubuh mereka berdua sedikit terpental ke belakang. Chanyeol menoleh cepat ke samping. "K—kau apa?"
"Aku minta cerai, jelas?" sahut Baekhyun dengan penekanan di setiap spasi.
Raut muka Chanyeol berubah keruh. Dia menelan ludah banyak-banyak. "—y—ya! Cincin siapa yang kau pakai? Kemana cincin pernikahan kita?" ucapnya gugup untuk mengalihkan perhatian Baekhyun.
"Oh, jadi kau mau meminta cincin itu? Tenang saja, nih aku kembalikan." Baekhyun merogoh kantung celananya namun air mukanya berubah panik. Dia tidak menemukan cincin itu di sana.
Chanyeol yang melihat gelagat Baekhyun terus mendesak, "Mana cincinnya?"
Baekhyun menjawab takut-takut. "Ku—kurasa cincinnya terjatuh di suatu tempat."
"APA!?"
.
.
.
Nyatanya cincin itu ada di tangan Kris.
Tidak—dia tidak mencurinya. Dia menemukannya di jok mobil mewahnya yang tadi diduduki Baekhyun. Kris mengamati benda mungil perak itu secara seksama.
Obsidian kembarnya menangkap sebuah ukiran kecil.
Sebuah inisial.
C & B.
.
.
.
Matahari berada tepat di atas kepala ketika Chanyeol melangkahkan kakinya yang terlampau panjang ke sebuah kantor bercat cokelat. Dia harus menunggu sekitar lima menit sampai akhirnya dipersilakan masuk.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pria yang duduk di kursi kulit hitam dengan posisi memunggungi Chanyeol."
"Istri saya minta cerai," tandas Chanyeol langsung pada inti. Air mukanya menampilkan kecemasan.
Kursi itu berputar, memperlihatkan tubuh pria berkemeja putih dan berdasi merah. Tersenyum optimis tak ubahnya motivator terkenal di televisi. "Apa masalahnya? Perselingkuhan? Perbedaan prinsip? Kekerasan dalam rumah tangga? Anda tidak memuaskannya di ranjang, yang mana?"
Chanyeol berjengit mendengar frasa terakhir. Demi Tuhan, dia sama sekali belum pernah menyentuh Baekhyun, jadi mana tahu kalau Baekhyun bisa puas atau tidak?
"Agar saya bisa menyelesaikan masalah anda, saya butuh kejujuran anda dengan membeberkan data dan fakta yang menunjang," lanjutnya lagi sok ilmiah.
Chanyeol berdehem. "Begini Tuan Jongdae, saya dan istri saya menikah tanpa cinta. Hmm, bisa dibilang perkawinan kontrak."
Kim Jongdae, laki-laki yang berprofesi sebagai konsultan pernikahan itu memajukan tubuhnya antusias. Kasus ini merupakan barang baru baginya.
Perkawinan kontrak?
Hmm, menarik juga.
"—lalu?"
"Lalu saya menyadari saya perlahan mulai mencintainya, tepat ketika dirinya mulai mencintai orang lain."
.
.
.
"Maaf menunggu lama."
Jongin melangkahkan kakinya ke dalam ruang kerjanya yang bercat cokelat. Di kursi tamu telah menunggu seorang pemuda mungil berambut brunette.
"Jadi anda Byun Baekhyun?" sapa Jongin dengan senyum cerah.
"Benar." Baekhyun balas menoreh senyum.
"Jadi apa masalah anda?" Jongin mengeluarkan sebuah notes kecil dari dalam laci meja, bersiap mencatat setiap keluhan kliennya.
"Saya ingin bercerai dari suami saya," terang Baekhyun lugas.
"Sudah dipikirkan baik-baik?"
Baekhyun termenung. Sebenarnya dia sama sekali belum memikirkannya matang-matang.
"Apa ada orang ketiga dalam kehidupan pernikahan anda?"
—tepat sekali.
Dan juga orang keempat kalau perlu ditambahkan.
"Bagaimana kehidupan seks anda berdua?"
Duh, kenapa semua orang bertanya hal ini sih!?
"Maaf kalau pertanyaan saya ini bersifat pribadi, tapi sebagai konsultan pernikahan saya harus—"
"Kami belum pernah melakukannya," imbuh Baekhyun cepat. "Sejujurnya kami tidak saling mencintai, kami menikah atas dasar perjanjian. Bisa dibilang ini perkawinan kontrak."
Jongin nampak berpkir sebentar lalu membuat tulisan beruntun di halaman lain.
"Lalu apa tidak ada sebersit pun rasa cinta untuk suami—ehm—maksud saya suami kontrak anda?"
"Mengenai itu—"
"Sedikitpun?" todong Jongin tak sabar.
"Saya rasa saya mulai mencintainya..."
.
.
.
Chanyeol terbangun karena semilir bau gosong menembus dinding kamar tidurnya. Dia menguap lebar, lalu melangkah malas ke arah dapur.
Tidak ada Baekhyun di sana.
Yang ada hanya telur mata sapi berwarna hitam tergolek di atas teflon karena terlambat di angkat.
Kemana Baekhyun?
Hoeeeeeek.
"Baekhyun?" Chanyeol berjalan ke arah sumber suara. Pintu kamar mandi yang terbuka menampakan tubuh mungil Baekhyun yang sedang berjongkok di sisi kloset.
"Baekhyun?"
Baekhyun tersentak kaget ketika Chanyeol bergegas menghampirinya. Chanyeol mengambil posisi lalu memijit tengkuknya pelan. Sebuah gerakan teratur yang lembut dan membuat nyaman. "Baekhyun, kau sakit?" suaranya terdengar khawatir.
Baekhyun memberi isyarat tangan agar Chanyeol menjauh karena gelombang mual kembali menghajar. Cepat, mendadak, tanpa aba-aba.
Hoeeeeeek.
Chanyeol mengusap-usap punggung 'istrinya' sekedar membantu meredakan mual. Baekhyun bersandar lunglai di dinding kamar mandi, keringat perlahan meleleh di punggung. Ketika mualnya sudah agak reda, akhirnya ia berucap lemah, "Aku tidak apa-apa."
"Tidak apa-apa? Jelas-jelas kau sakit." Tanpa meminta persetujuan Baekhyun, Chanyeol mengulurkan tangan untuk mengangkat tubuh mungil itu. Ia memapah Baekhyun ke sofa empuk ruang tengah.
Tubuh Baekhyun terhempas halus di permukaan sofa. Peluh membasahi keningnya, dia merasa badannya dilingkupi hawa panas sekaligus dingin.
Bola mata keduanya saling bersirobok beberapa detik.
Dari jarak sedekat ini, Baekhyun bisa melihat sirat khawatir di iris chestnut Chanyeol yang cemerlang. Baekhyun baru menyadari jika mata Chanyeol sangat indah, dan dia juga... hmmm... tampan?
"Tunggu di sini, aku akan ambilkan air putih dan obat pereda mual."
Si brunette hanya mengangguk patuh.
Chanyeol kembali tidak lama kemudian dengan segelas air putih. Tentunya sebelumnya dia tidak lupa mematikan kompor dan membuang telur malang itu ke tempat sampah.
"Kau belum sarapan, kau bisa terlambat ke kantor."
"Kau yang sakit kenapa malah mengkhawatirkan aku?" Namun secelah hatinya merasa hangat karena meskipun Baekhyun sakit, dia tetap memikirkan dirinya.
Chanyeol memijit pelipis istrinya hati-hati. Ia memberikan tekanan dan usapan bergantian. Dia juga memastikan Baekhyun meminum obatnya dengan benar.
Chanyeol tetap di sana sampai Baekhyun mulai terkantuk-kantuk. Setelah memastikan pemuda tersebut benar-benar terlelap, dengan hati-hati ia menggendong tubuh ringan itu ke kamarnya sendiri—bukan ke kamar Baekhyun. Diselimutinya tubuh mungil itu sampai ke dagu.
Ia akhirnya berangkat ke kantor meskipun separuh hatinya berat meninggalkan Baekhyun sendirian.
Joonmyeon mengamati air muka sepupunya hari ini. Ekspresi itu begitu keruh seakan setengah nyawa Chanyeol tidak berada di kantor. Joonmyeon yang penasaran akhirnya bertanya.
"Baekhyun sedang sakit," jawab Chanyeol lesu.
"Oh ya? Sakit apa?"
"Entahlah, dia muntah-muntah terus sejak pagi."
"Mungkin istrimu hamil," cetus Joonmyeon santai.
Chanyeol sontak menoleh cepat. Bola matanya melotot tajam.
Dipandangi secara intens oleh sepupunya membuat Joonmyeon jengah. "Kenapa? Apa aku salah bicara? Muntah-muntah itu gejala awal kehamilan. Untuk lebih yakin periksakan saja ke dokter."
Astaga! Kenapa aku tidak kepikiran sampai situ?
Oke, ini gawat.
Baekhyun hamil? Tapi siapa yang menghamilinya? Aku kan tidak pernah menyentuhnya sama sekali!
Kemudian reseptor memorinya mendadak melambungkan satu nama—Kris.
Astaga! Si blonde itu... Pasti dia pelakunya! Aku sudah bisa menduga karena dari caranya menatap Baekhyun. Dasar serigala pemangsa domba muda!
"Hei Chanyeol, kau tidak apa-apa?" Joomyeon melambai-lambaikan tangannya di depan wajah sang sepupu.
Bukannya menjawab, Chanyeol malah bangkit lalu buru-buru melangkah ke luar.
"Hei Chanyeol! Kau mau ke mana? Kau bisa dimarahi Siwon hyung kalau membolos! Jangan lupa kau harus berangkat ke Jepang besok pagi!"
.
.
.
Ting tong tong ting tong
Bel dipencet kasar. Si pelaku tak punya kesabaran cukup untuk menunggu lebih lama agar pintu segera dibuka.
Dari dalam, gagang diayun, membuat daun pintu berderit terbuka.
—oh, akhirnya!
"Loh, tumben sekali kau pulang cepat." Wajah Baekhyun sore ini lebih cerah dan tidak sepucat pagi. Nampaknya dia sudah agak sehat. Dia heran melihat Chanyeol ada di ambang pintu.
Tanpa basa-basi, si tinggi meregup pundak mungil si brunette lalu mengguncangnya keras. "Baekhyun, jawab pertanyaanku jujur. Apa benar kau hamil?"
Si pemilik bahu melayangkan sinyal tak mengerti.
Tak ada jawaban, Chanyeol mengajukan pertanyaan kedua.
"Apa si pirang itu yang menghamilimu?"
Baekhyun melongo. Dia kesulitan mencerna serbuan beruntun itu.
Chanyeol mendekatkan wajah mereka berdua, lalu bertanya dengan suara lirih. "Apa kau semudah itu menyerahkan tubuhmu padanya? Apa kau menjual tubuhmu demi uang? Sudah berapa kali kau tidur dengannya? Kau tidak perlu berbohong padaku, aku sangat mengerti dirimu."
—SLAPS!
Sebuah tamparan telak menyapa pipi kanan Chanyeol.
Oke, ini sakit. Dan ini masih ada sambungannya.
"YA! APA YANG KAU KATAKAN! MEMANGNYA AKU SEMURAH ITU HAH? KAU SAMA SEKALI TIDAK MENGERTI DIRIKU!"
"Tapi kau muntah-muntah—"
Emosi perlahan naik ke ubun-ubun, membuat kepalanya terasa pening. Dadanya naik turun terkuasai amarah. Baekhyun menyergah marah, "AKU MUAL BUKAN KARENA HAMIL BODOH! TAPI KARENA KERACUNAN SUSU STROBERI! INI SEMUA SALAHMU KARENA TIDAK MEMBUANG MAKANAN YANG SUDAH KADALUARSA DARI KULKAS. DASAR PARK IDIOT!"
Dengan satu tangan memegang pipi, Chanyeol mengawasi dengan jelas perubahan raut muka Baekhyun yang marah namun lambat laun berbalik sedih.
Mata biji kuaci itu perlahan meloloskan kristal bening.
"Aku membencimu!"
Sungguh bukan ini yang Chanyeol mau. Ia merutuki dirinya yang begitu bodoh dan berprasangka buruk. Tapi ini semua dilakukannya karena termakan api cemburu.
—karena ia mencintai Byun Baekhyun...
"Pokoknya aku minta cerai!" tuntut si brunette sengit, masih berlinangan air mata. "Aku ingin kau urus surat perceraian kita secepatnya," sambungnya tajam.
Ucapan Baekhyun bagaikan sembilu menghujam jantung Chanyeol. Tak hanya itu, kalimat tersebut juga telah merobek hatinya. Karena dia tahu, kali ini Baekhyun tidak main-main dengan tuntutannya.
"Baekhyun-ah..."
Yang dipanggil tidak merespon, masih tenggelam dalam kubangan air mata. Bagaimana tidak sakit hati, Chanyeol menuduhnya menjual tubuhnya.
—orang yang dicintainya menuduhnya melakukan perbuatan serendah itu...
Baekhyun kembali mendesis, "Aku minta cerai, Park Chanyeol."
Chanyeol melangkah pelan mendekati sosok mungil Baekhyun namun si mungil mundur beberapa langkah sambil menatapnya, masih sengit. Tampak tak ingin didekati. Kentara sekali tak ingin disentuh. Jurang pemisah menganga lebar di antara mereka.
Chanyeol memang sudah keterlaluan. Dia telah berbuat kesalahan.
"Besok pagi aku harus berangkat ke Jepang dan harus menetap di sana selama enam bulan. Bisakah kita menunda sampai aku pulang?"
Baekhyun tidak berkata apa-apa.
Dia berbalik menuju kamarnya sendiri lalu membanting pintu amat keras.
To be Continued...
A/N:
Oke deh, sekarang semua casts EXO sudah keluar. Yang penasaran sama endingnya coba cek lagi A/N Dami di chapter pertama. Hehehe.
Chocotaro: mari kita lihat sebenernya Kris jahat apa nggak. :D
GreifannyGS: Hi! Makasih ya udah mampir. Iya nih, aku lagi tobat bikin angst. Haha
xiaolu odult: adanya Chanbaek.
Needtexotic: Aku juga suka Krisbaek. Hahaha
Exindira: Konfliknya sengaja ga dibikin rumit karena dari awal niatnya bikin FF ringan.
Jung Eunhee: gapapa, aku suka banget malah review yang panjang lebar kaya yang kamu tulis. Aduh, saya ga bakat naikin rating. Beneran T-T *kemudian lirik FF rated M punya sendiri yang ujung-ujungnya kena author block.
Araaassi: Baekhyun disiksa? Beneran nih ntar aku bikin dia tersiksa. Hahaha xD makasih udah mampir.
DwitaDwita: Pertanyaan kamu sudah kejawab semua di chap ini ya. ^^ Makasih semangatnya.
shantyy9411: Baekhyun jadinya sama siapa itu masih rahasia. xD
Jessica807: Yup, tebakannya benar. Berarti kamu benar-benar bisa nangkep kalimat yang aku tulis. :)
Indaah cqupp: Iya, Baekhyun emang calon istri idaman—Kris banget! *kabur*
Mumu: nah aku suka nih readers kaya kamu, ga mentingin pairing siapa di suatu cerita. :3
Yurako Koizumi: Iya, aku lagi tobat ga bikin angst nih. *tapi masih bikin yang rada menjurus ke sana* hahah. Makasih udah mampir (lagi) :)
Inggit: Bukan ava twitter aku dear, tapi ava akun FFn aku. :D
sweetyYeollie: *Baekyeol mental ditendang* Nadosaranghae! :3
ParkDoMyon Zi Tao: Terima kasih. Ditunggu review berikutnya ya. :)
Shinelightseeker: Hehe, gapapa. Aku seneng kok baca review kamu. :)
Eggxbacon: Akhirnya ada juga yang mendukung cerita ini mengarah ke angst. X'D
Cho MinHyun: Nih, Kkamjong udah nongol. Hehe.
Nicha: Iya kan kasian kalau Kyungsoo jadi orang ketiga yang jahat melulu. :(
CussonsBaekBy: Chanyeol kan emang pervy. Cuma jaim aja dia. Haha
YeWon3407: oy ayyes! *tetep manggil ayyes* makasih udah review lagi. :3
naranari: Jawabannya tunggu chap berikutnya ya..
oneheartforsuju: Iya nih aku semangat update untuk FF ini. Hehe
SHY Fukuru: Yah, jangan males dong. Anggep aja Kyungsoo itu debu di hati Chanyeol. *halah*
Beautypeach: ini udah lanjut. :)
Nikeeetusulliha: Ini udah lanjut. Mampir lagi ya~
Ferina refina: Relain dulu aja ya mereka selingkuh. T-T terima kasih.
Azura Eve: Oy Az~ mana nih Anterograde Tomorrow? *malak*
LuckyDeer: Seneng banget baca review kamu. Seneng kalau kamu suka ^^
SlytherSoul d'Malfoy: Terima kasih sudah mampir. :)
BaekYeoleuuu: Baekhyun, "Gapapa kalau Kris playboy, aku tetap terima sepenuh hati kok. Soalnya ganteng." *ini kata Dami atau kata Baekki?*
Deerlohan: Iya aku juga ga habis pikir masa tiga bulan tinggal bareng belum saling suka. Aku aja liat Chanyeol sekali langsung suka. -,- *ngaco
BLUEFIRE0805: Perang bintang? xD
yeolseun12: Chanyeol buat kamu? Hmm, kasih ga ya.. kasih ga ya... *dipelototin Baekhyun*
Ahjumma Kece: Dear ahjumma kece, ahgassi kece ini sangat suka sama avatar FFn kamu!
Seaweed Noona: Ini udah lanjut.
12Wolf: iyaaa kenapa yaaa?
Chanz: Terima kasih sudah mereview. :)
Guest: Ya ampun, aku harus berterima kasih sama teman kamu yang sudah ngasih link ini. xD
.
Ga ada yang kelewat kan?
.
.
Ayo review lagi kalau ending chapternya mau cepat dipost. :)
Love,
Dami.
