KATE'S POV

"Katherine! Ayo cepat! Nanti terlambat!" suara ibu terdengar dari lantai bawah.

Aku, yang masih tidur-tiduran di atas tempat tidur, malas untuk bangun. Hari ini aku harus pergi liburan ke Dundalk. oke, Dundalk memang kampung halamanku. Tapi apa karena itu ibu membatalkan rencana pergi liburan ke London dan membanting setir ke Dundalk? kota yang sangat membosankan itu?

"Katherine..." ibu membuka pintu kamarku.

"apa?" jawabku cuek.

"kau marah?"

"entahlah..."

"ibu tahu kau marah. Dan soal liburan ke London, kita bisa kesana tahun depan."

Aku diam saja.

"Kate, simpan kemarahanmu dan bawa kopermu sekarang. kau sudah rapi dan jangan kusuti pakaianmu dengan berbaring di tempat tidur."

Aku menggeram dan akhirnya turun juga dari tempat tidur. Aku menarik koperku yang ada di sudut kamar dan keluar rumah.

-

"oh, ayolah, Kate. Cerialah untukku." Kata ibu ketika kami sudah sampai di peron stasiun.

"kenapa ibu tidak ikut bersamaku?" tanyaku.

"sayang, ibu masih banyak pekerjaan yang menanti disini. aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja."

"ya, ya... jadi orang public relation sepertinya sangat sibuk, ya..." sindirku. "kenapa ibu tidak bilang saja kalau ibu juga tidak mau pergi ke kota yang bahkan mall saja mereka tidak punya?"

"jangan berprasangka buruk. Ini, tiket keretamu. Nanti, pamanmu akan datang menjemput di stasiun Dundalk." ibu memberiku tiket kereta.

"nanti disana aku harus bagaimana? Ikut bertani? Atau ikut memerah sapi? Oh, atau memetik bunga liar? Pasti asyik..." kataku sarkastis.

"terserah kau saja. tapi, kalau kau bilang liburanmu akan menyenangkan nanti, kau harus mencuci baju selama seminggu. Bagaimana?"

"ya. I'll take that bet. Lagipula, tidak ada asyiknya sama sekali disana. Kau hanya ingin membuangku agar aku tidak mengganggu pekerjaanmu, kan?"

Tapi ibu cuek dan mencium pipiku. "happy holiday, honey... sekarang, naik ke kereta. Sebentar lagi mereka akan berangkat."

Aku mengambil koper yang ada di sebelahku dan masuk ke dalam gerbong kereta. Aku mencari dimana tempat dudukku. Tempat dudukku berada di tengah-tengah gerbong kereta. Di sisi kiri. Dengan segera aku duduk disana. Aku melihat ibu melambaikan tangannya padaku dari jendela yang ada di sebelahku. Aku membalasnya dengan gontai. Aku tidak terlalu semangat untuk menjalani liburan musim panas tahun ini. London-ku hancur sudah.

Setelah itu, aku melihat ibu keluar dari peron. Aku ditinggalkan. Oh Tuhan, berikan aku petualangan disana. Aku tidak mau mati karena kebosanan.

Sambil menunggu kereta berangkat, aku mengambil PSP-ku dari dalam tas. Menyelesaikan petualangan game Warriors Orochi 2.

Baru beberapa menit bermain, aku mendengar suara kasak-kusuk disini. aku melihat ke sekitar. Ternyata para penumpang sudah mulai banyak yang naik. Kebanyakan adalah orang tua. Ada juga orang-orang dewasa yang dari penampilan mereka sama sekali tidak ada niat untuk berlibur. Sama sekali tidak ada anak yang seusia denganku. Oh great. Gerutuku dalam hati.

Tapi, aku menangkap sesosok pemuda mengenakan topi yang kerepotan membawa bawaannya. Dia tidak hanya membawa koper. Tapi juga sebuah ransel yang dia bawa dengan punggungnya, postman bag, dan segulung peralatan yang aku tidak tahu apa itu. dia berjalan ke arah tempat dudukku.

Kumohon, kumohon. Semoga dia tidak duduk disini. kumohon.

"hey, kau duduk disini?" ternyata dia berhenti di tempat dudukku. Shit...

"yeah..." jawabku cuek. Aku lebih baik diam saja dan pacaran dengan PSP.

"tempat dudukku juga disini. do you mind?" dia bertanya dengan sopan.

"tidak usah bertanya. Ini bukan tempat dudukku."

Dia sama sekali tidak marah padahal aku sudah ketus padanya. Dia malah tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Lalu, dia menaruh kopernya di antara kedua kaki kami sehingga kedua kaki kami tidak akan bertemu. Berbeda denganku yang menaruh koperku di dekat jendela. Ya ampun, tempat dudukku akan semakin sempit.

Kemudian dia menaruh tasnya yang lain di celah yang ada di atas tempat duduk kami. Dan dia kemudian duduk di sebelahku.

Karena keramahannya itu, aku memperhatikannya. Dia melepaskan topinya. Dan terlihat jelas wajahnya. Dia berambut pirang. Namun, matanya agak sipit dan berwarna biru gelap. Hidungnya mancung. Tidak kusangka dia setampan ini.

"kalau kau merasa terganggu, aku minta maaf. Aku akan pindah kalau kau mau." katanya.

"tidak usah. aku tidak mau kau kerepotan membawa bawaanmu itu lagi. Lagipula, semua tempat duduk juga sudah penuh."

"terima kasih. Oh, namaku Shou." Dia mengulurkan tangannya padaku.

"kenapa kau mengajakku berkenalan?" aku masih membiarkan tangannya terulur.

"well, aku melihat disini hanya kita saja yang berusia remaja. Dan aku tidak mau kita merasa asing. Lagipula, kalau ada apa-apa, kita bisa saling menolong kan?"

"oh... Katherine." Aku membalas uluran tanganku itu dengan agak canggung karena nama cowok ini.

"namaku aneh, ya?" dia menebak isi hatiku.

"ngg... ya..." jawabku masih canggung.

"yah, keluarga dari pihak ayahku adalah orang Jepang. Tapi aku mengikuti ibuku yang orang Dundalk untuk pindah ke kota itu. apa kau kesana untuk bekerja?"

Aku langsung tersinggung dengan pertanyaannya. "ehm, aku disana untuk berlibur. Aku garis bawahi. Berlibur. Lagipula, jarang sekali aku mendengar ada orang Jepang pindah ke kota kecil seperti Dundalk."

Shou tertawa, "maaf, maaf. Karena bisa kulihat wajahmu benar-benar khas Dundalk. kalau aku boleh jujur. Apa kau bisa memainkan alat musik? Kebanyakan orang Dundalk bisa bermain alat musik, bukan? dan ya, keluargaku pindah kesana karena mereka ingin mencari suasana baru. Dan karena keluarga dari pihak ibuku adalah orang Dundalk, mereka memutuskan untuk pergi kesana."

"tapi yang pindah hanya aku dan saudara-saudaraku yang masih satu angkatan denganku."

"maksudnya?"

"ya, yang seusia denganku. Seperti adik, sepupu, semacamnya. Kami memutuskan untuk sekolah disana. Aku akan memulai sekolahku tahun ini. Aku tadi hanya transit dari Airport Dublin dan aku naik taksi menuju stasiun ini."

Bagus sekali, sekarang aku malah mendengarkan curhatannya.

"namamu bagus. Siapa nama belakangmu?"

"you need to know about that?" jawabku kesal.

"maaf kalau kau terganggu." Dia langsung berhenti bicara.

Sabar, Kate. Perjalanan ini hanya 3 jam. Dan setelah itu kau bisa lepas dari cowok cerewet ini.

-

Sesampainya di stasiun Dundalk, aku menghela nafas. Yes! Aku akhirnya lepas darinya. Cowok Jepang berambut pirang aneh yang bahkan aku lupa namanya tadi siapa.

Sekarang, aku tinggal mencari pamanku yang ternyata berdiri di depan pintu keluar peron.

"selamat datang, Katherine!" paman menyambutku. Dia membawa koperku.

Sebelum aku menjawab, paman sudah bicara lagi. "lho, kau bersama Shou?"

"Shou?" aku menoleh ke belakang dan cowok pirang aneh itu tahu-tahu sudah berdiri 1 meter di belakangku.

"Mr. Hope?" tanya Shou kaget. mereka berdua menatapku.

"kau mengenalnya, Kate?" tanya paman dan Shou bersamaan.

"ARGH!"

-

"hahahaha! Oh, jadi kalian bertemu di kereta, ya? manis sekali!" kata tanteku yang ternyata menunggu di mobil paman yang diparkir di lapangan parkir stasiun. Dia yang membawa mobil.

Aku hanya menggerutu. Manis apanya? Di kereta aku sama sekali tidak bisa tidur karena mendengar celotehan cowok ini, setiap aku ingin bermain PSP, dia pasti selalu bertanya-tanya game apa yang aku mainkan, bagaimana caranya aku memainkan karakter gameku.

"Shou, keluargamu benar-benar ramah. Baru pertama kali ini aku berkenalan dengan saudara-saudaramu yang orang Jepang itu. mereka sering membantuku di peternakan."

"terima kasih, paman. Akhirnya aku bisa lepas dari kesibukan kota Tokyo."

"bicara soal kota, seharusnya aku ada di London saat ini." Jawabku.

"Katherine Hope, Dundalk juga sama hebatnya dengan London." Kata pamanku. "kau pasti tidak akan ingin pulang setelah ini."

"oh, jadi nama belakangnya Hope, ya? keren sekali!" tiba-tiba Shou berkata dengan keras.

"will you shut the hell up!" teriakku.

"sudahlah, Kate. Nikmati saja. kau bisa melihat pemandangan."

Dan aku mencoba untuk menurutinya.

Aku melihat padang rumput yang terhampar luas. Banyak sapi dan kambing berkeliaran dengan bebas untuk makan rumput. Dari jauh aku melihat pemandangan gunung. Aku membuka jendela mobil. Dan angin segar langsung menerpa wajahku. Aku menghirupnya dalam-dalam.

Memang, satu-satunya tempat yang masih banyak pemandangan hijau yang kulihat dari Google Earth hanya Dundalk.

"enjoy the scenery?" tanya Shou.

Dan aku tidak menjawab. Dundalk mulai menyihirku dengan keindahannya...

Tidak lama kemudian, aku sampai di rumah paman. Rumah paman berlantai 2 dengan cerobong asap, dan bahan dasar rumah itu adalah kayu dan dicat berwarna biru. Tapi masih terlihat kuat dan awet. Di halaman rumahnya yang cukup luas itu terdapat garasi, dan aku tahu di belakang rumah terdapat pohon yang aku tidak tahu namanya. Tapi cukup besar dan kuat. Di pohon itu terdapat sebuah rumah pohon milik 2 sepupuku yang kembar tapi tidak identik, Mia dan Ruth.

Saat kami turun dari mobil, aku melihat 2 gadis keluar dari rumah. Oh, mereka Mia dan Ruth!

"Kate! Akhirnya kau datang!" mereka seusia denganku. Tapi aku lebih tua beberapa bulan dari mereka. Oh Tuhan, saking marahnya aku pada liburan ini aku sampai lupa pada mereka.

"Mia! Ruth!" aku memeluk mereka berdua.

"ayo, cepat! Kami sudah menyiapkan kasur khusus untukmu! Kita bisa slumber party!"

Aku ingat mereka mempunyai kamar yang luas. Mereka berdua tidur disana. Kamar mereka agak tomboi seingatku. Dan sepertinya masih.

Dengan cepat mereka membawaku ke kamar mereka. Disana, aku melihat kamar mereka yang sudah berbahan dinding dari batu bata dicat berwarna hitam dan putih. Banyak sekali poster bintang-bintang Jepang. Ada juga buku-buku yang diletakkan di rak buku di sisi kanan kamar, dan sebuah loker kecil di sudut kamar. Kalau tidak salah, mereka menggunakan loker itu untuk menyembunyikan snack kesukaan mereka dan mereka bisa mengeluarkannya saat tengah malam. Dimana mereka biasa melakukan slumber party.

Dan aku bisa melihat mereka sudah menata kasur bersprei warna biru untukku dengan rapi lengkap dengan selimut tebal dan beberapa kaus kaki. Dan terletak di antara tempat tidur mereka.

"jangan lupa kalau di Dundalk musim panas hanya 14 derajat. Jadi selimut tebal sangat berguna." Kata Mia.

"sejak kapan kalian menyukai... ngg... cewek-cewek ini?" tanyaku sambil menunjuk poster-poster mereka.

Mereka berdua tertawa terbahak-bahak.

"hahahaha! Kau lucu sekali, Kate. Ruth, jelaskan padanya."

"oke, mereka itu cowok, Kate. Tapi ya, dandanan mereka cantik-cantik." Ruth menunjukkan satu persatu poster itu. ada band Kagrra, Gackt, Laruku, Dir En Grey, Luna Sea, Screw, Sug, dan masih banyak lagi.

"sejak kapan kalian... ngg... menyukai apa tadi? Visual kei?" tanyaku.

"sejak keluarga Yutaka itu datang kesini! Cowok-cowok Yutaka mengenalkan band-band ini pada kami." Jawab Ruth bersemangat. "kau harus berkenalan dengan mereka. Mereka keren."

Hm... keluarga Jepang di Dundalk? keluarga Yutaka? Cowok-cowok? Ramah? Menarik juga...