KATE'S POV
Malam ini, walaupun musim panas, tapi tidak terasa panas sama sekali. Cenderung dingin tapi hangat. Kata paman, suhu malam ini sekitar 19 derajat.
Maka dari itu, malam ini keluarga Hope mengadakan pesta barbeque di halaman rumah kami bersama keluarga Yutaka. Ternyata mereka adalah saudara jauh keluarga Hope dari Jepang. Karena suatu alasan yang belum kuketahui, seluruh keluarga Yutaka hijrah ke Dundalk. Dan anak-anak Yutaka tinggal di tempat paman dan tante.
Sebelum malam tiba, tanteku membawaku jalan-jalan. di belakang rumah kami adalah peternakan keluarga Hope. Anak-anak Yutaka bekerja disana. Disana ada peternakan sapi, ayam, domba, dan kambing.
Dan tentunya, ada sebuah ranch di dekat sana. Dimana banyak kuda yang merumput di padang rumput dekat peternakan. Aku sudah bilang ke tante kalau aku akan membawa Phillip, kudaku yang sudah kutunggangi sejak kecil untuk kutunggangi lagi dan berkeliling padang rumput. Oh, semoga Phillip tidak melupakanku.
Halaman belakang jadi sangat ramai karena kedatangan cowok-cowok Yutaka ini. Aku hanya duduk di ayunan sudut halaman. Mengamati cowok-cowok yang asyik bermain. Ruth yang berdiri di sebelahku memberitahu siapa nama mereka satu persatu.
Cowok yang berambut brunette. Tingginya kira-kira 170-an. Wajahnya benar-benar innocent dan manis. Seperti anak kecil. Saat dia tertawa, dia memperlihatkan lesung pipit di pipi kirinya. dia sedang duduk di atas rumput sedang bermain kart UNO bernama Kai. dia adalah anak bungsu dari Yutaka bersaudara. Ruth bilang dia agak susah untuk didekati. Karena dia tempramennya agak buruk dan suka berkata kasar.
Lalu, cowok berambut hitam legam yang ikut bermain UNO juga. dia terlihat dewasa. Aku suka matanya yang cool. Dan sosoknya agak misterius. Dia bernama Aoi. menurut Ruth dan orang-orang, Aoi orangnya ceroboh. Dan terkadang kecerobohannya itu bisa membuat orang lain kesal padanya. Dia juga tidak pernah bisa diam. Ada saja yang dia lakukan daripada diam dan bengong. Dia kakak tertua.
Dan cowok yang juga ikut bermain kartu UNO. Tapi dia berambut coklat madu sama seperti Shou. Tapi kata Ruth, cowok ini memang berambut coklat. Dia bernama Akito. bagi Ruth dan Mia, Akito orangnya baik. Tapi, dia kurang merespon setiap panggilan orang lain dan kelihatan cuek dan tidak peduli. Kesannya seperti sombong. Makanya tidak banyak orang yang dekat dengannya. Akito anak tengah.
Ruth mengajakku untuk bergabung dengan mereka. Yang awalnya kutolak. Karena aku merasa, aku tidak akan cocok dengan mereka. Tapi Ruth memaksaku. Dia menarik tanganku agar aku berdiri dari ayunan dan membawaku ke Yutaka bersaudara yang masih bermain kartu UNO.
"hey, Kai, Akito, Aoi. kenalkan, ini Katherine. Dia sepupu kami." Ruth mengenalkanku pada mereka. Mereka memperhatikanku dari atas sampai bawah. Aku merasa aneh.
"hai, pirang." Balas Kai cuek. Aku agak tersinggung.
"panggil aku Kate saja." aku mencoba untuk santai dan menanggapinya sebagai candaan.
"Ruth tadi sudah memberitahu namamu. Aku tidak setuli itu, kok." Jawab Kai sambil terus memperhatikan kartu-kartu yang dia pegang.
"see? Sudah kubilang, bukan? mereka tidak akan mau berkenalan denganku!" kataku ke Ruth.
"Kai, please... bisa tidak untuk lembut sedikit saja? dia kan teman baru kita..." kata Ruth pelan.
"kita? Kamu saja. aku tidak."
"kenapa?"
"karena aku malas berteman dengan cewek kota yang pirang dan manja."
Aku geram. Dan langsung menggertaknya. "excuse me, what is your problem! Did I offend you or something?"
"nothing. That's just my opinion..."
"hahaha... brunette freak..." sindirku. "kau hanya mengecat rambutmu kan biar menjadi keren? Padahal kau tidak sekeren itu."
"hey, sudahlah..." Aoi melerai kami. "kau Kate? Salam kenal, aku Aoi..." dia mengulurkan tangannya kepadaku. Aku membalasnya dengan cemberut karena Kai.
"jangan terlalu dipikirkan kata-kata Kai. dia seperti itu kalau dia menyukai seorang cewek. Dia terlalu malu untuk mendekatinya." Kata Aoi santai di depan Kai.
"jangan berkata yang aneh-aneh, Aoi. kau tahu aku sama sekali tidak menyukai cewek yang baru 5 menit kukenal." Potong Kai.
"kenal? Oh, maaf. Kapan ya kita berkenalan?" sindirku lagi.
"Ruth pasti sudah memberitahu siapa aku dan dia juga sudah bilang siapa namamu tadi. Jadi, selesai, kan? Kita sudah berkenalan."
Tanpa basa-basi lagi, aku langsung mendekati Kai dan memaksanya untuk berdiri. Kemudian aku menamparnya. Kai menerima begitu saja tamparanku di pipinya. Dan dia ingin membalas menamparku namun terlanjur ditahan Akito.
"hey! Jangan menampar cewek, Kai!" Akito menahannya dari belakang.
"Akito, biarkan aku menghajarnya..." kataku emosi. Tapi Ruth juga menahanku.
"sudah, Kate! Jangan berkelahi!"
Aoi menengahi kami. "Akito, bawa Kai ke dalam." Dan Akito langsung menggeretnya ke dalam walaupun dari wajahnya Kai sangat ingin menghajarku.
"maaf Ruth... dia jadi seperti itu semenjak ayah kami meninggal... dia masih labil..." kata Aoi.
"memangnya dia anak kecil! Umurnya berapa tahun! Badan saja yang besar, tapi kenapa masih manja seperti itu!" semprotku pada Aoi.
"maaf, maaf... tapi mungkin karena ayah kami meninggal secara mendadak dan tragis jadi dia masih seperti itu..."
"memangnya ayahmu meninggal karena apa?"
"karena kebakaran yang menghanguskan rumah kami setahun yang lalu." seseorang di belakang Aoi memotong pembicaraan kami. Aku melihat dia adalah seorang gadis yang terlihat beberapa tahun lebih tua daripada aku dan Ruth. Juga Aoi. dia juga terlihat dewasa dan keibuan. Dia membawa piring lebar yang di atasnya adalah banyak daging sapi yang cukup untuk kami semua. Dia menaruhnya di meja yang diletakkan di pinggir taman, sebelah pemanggang barbeque.
"kebakaran?"
"hai, kita belum berkenalan. Aku Makiko. Aku kakak Saga dan Shou. Kau sudah berkenalan dengan mereka?" Dia menyapaku dengan ramah.
"aku Kate. Ya, tadi aku bertemu Shou di kereta."
"haha... dia pasti merepotkanmu dengan celotehannya."
Aku tertawa. "ya, begitulah..."
"ya, setidaknya, dia dan Saga lebih ceria sejak kejadian kebakaran itu..."
"Saga?" tanyaku.
"dia kakak Shou. Nanti kau juga akan bertemu dengannya." Kata Ruth.
"ceritakan padaku, Makiko. Tentang kebakaran itu..." pintaku.
"setahun yang lalu, saat malam natal, kami sedang mengadakan pesta di rumah keluarga Yutaka. Ayah kami adalah adik dari ayahnya Kai, Akito, dan Aoi. tapi terjadi kebakaran karena lilin yang belum dimatikan. Lilin itu ditaruh di atas meja dan tidak sengaja membakar korden di jendela. Saat kami baru sadar, api sudah membesar. Kami hanya sempat menyelamatkan diri kami sendiri. api makin cepat membesar. Ayah Kai yang berusaha menyelamatkan kami dan ibu kami terlambat melarikan diri karena ingin mencari ayah kami yang tidur di lantai atas..."
"oh... maafkan aku... kau jadi harus menceritakan hal yang tidak enak..." aku menyesal.
"tidak apa... makanya, ibu kami jadi tidak betah di Tokyo karena selalu teringat dengan kejadian itu. dan kehidupan di Tokyo juga keras. maka dari itu dia mengajak kami pindah kesini. Karena disini... yah, setidaknya kehidupannya tidak sekeras Tokyo."
"waktu itu yang menaruh lilin di atas meja itu adalah Kai. makanya dia merasa sangat bersalah dengan kematian ayah kami. Tapi aku juga merasa bersalah. Karena aku sendiri yang mengajaknya bermain api. Jadi... maklumi saja..."
Oh... pantas saja Kai seperti itu.
"kami sudah bisa menerima. Kecuali Akito dan Kai. mereka yang dulu ramah dan ceria, sekarang jadi seperti ini. Maafkan Kai, ya..."
-
1 jam kemudian, pesta dimulai. Makiko sedang memanggang daging di pemanggang bersama paman. Tanteku sendiri sedang menyiapkan minuman di dapur bersamaku. Tapi, tante menyuruhku untuk berkenalan dan mendekati para cowok.
Dan aku keluar dari rumah ke halaman belakang. Kai terlihat sudah mulai tenang. Dia bersama Shou dan seorang cowok yang belum aku tahu namanya. Aku bisa menebak dia Saga. Saga berambut coklat tanah. Kata Ruth, dia tidak jauh beda dengan Shou. Sama-sama ramah dan periang. Ternyata mereka lihai memainkan alat musik sejak mereka pindah ke Dundalk. mereka belajar dari om dan beberapa tetangga disini. mereka bisa main gitar, tin whistle, bodhran, dan katanya mereka sekarang sedang belajar bermain piano. Mereka bertiga sedang bermain gitar di sudut halaman.
Aku mendekati mereka. Dan yang menyambut adalah Shou.
"hai, Kate... senang bertemu denganmu lagi."
"kita baru berpisah selama 4 jam, Shou..." jawabku.
"haha... iya. Kau sudah berkenalan dengan mereka?" Shou menunjuk Kai dan Saga.
"kurasa aku belum berkenalan dengan Saga. Kau Saga, kan?" aku beralih ke cowok berambut coklat tanah itu.
"ya. nice to meet you, Kate..." dia tersenyum padaku.
"Kai, kau sudah bertemu Kate?" Shou bertanya pada Kai. tapi Kai malah menaruh gitarnya dan pergi meninggalkan kami.
"ada apa dengannya?" tanya Shou.
"tidak apa-apa. Aku mengerti."
"kau mau ikut bermain gitar bersama kami?"
"ngg... kurasa, aku ingin membantu Makiko dulu..." aku menunjuk Makiko yang sibuk memanggang daging bersama paman.
"oh, baiklah. Tapi janji setelah ini kau akan bergabung bersama kami."
"ya, tenang saja."
Dan aku menuju Makiko. Aku membantunya memberikan bumbu ke daging yang dipanggang. Paman sendiri mengatur api unggun bersama anak-anak cowok.
Setelah semuanya siap, kami duduk melingkar di depan api unggun. Tante sudah keluar dari rumah dengan membawa banyak snack dan minuman.
Kami bernyanyi dan menari. Mereka semua melakukan ini karena menyambut kedatanganku. Aku jadi terharu.
Saga memainkan gitar, Shou memainkan bodhran, Akito memainkan biola, dan Makiko memainkan tin whistle. Kami menyanyi bersama-sama.
Sampai akhirnya tiba waktu kami untuk bercerita. Layaknya seperti sedang camping, kami mulai bercerita horor.
"kalian tahu hutan di seberang padang rumput belakang rumah kita?" tanya Aoi.
"ya..." jawab yang lain. Setahuku, tidak ada yang berani kesana. Karena hutan itu sangat lebat dan gelap. Banyak yang takut tersesat. Apalagi akhir-akhir ini banyak gosip kalau hutan itu berhantu.
"kalian ingin pergi kesana?" tanya paman.
"aku ingin." Aku mengangkat tanganku. Semua kaget.
"kenapa?"
"tidak ada salahnya kan? Bukankah udaranya akan lebih segar disana? Mungkin aku akan mengajak Phillip nanti..."
"Phillip?" sahut Makiko.
"ya, kuda putihku itu..." jawabku.
"bukankah itu kuda milik Kai?" Makiko melihat ke arah Kai.
"hah, bagus sekali. Kudaku sendiri bahkan diakui sebagai milik si pirang." Kai mendengus.
"aku sudah memiliki Phillip dari aku kecil. Dan kau disini hanya pendatang. Jadi, itu milikku." Kataku.
"yeah, kalau dia masih ingat..."
"Kai, aku tahu kau seperti ini karena apa. Tapi jangan terus membawa perasaan bersalah sampai jadi seperti ini."
Dia terlihat tersinggung. Dan dia berdiri. Lalu menghardikku.
"kau tahu apa? Kau tidak tahu apa-apa tentangku, miss Hope. Dan soal Phillip, dia milikku. Aku yang menjaga dan merawatnya selama ini. Bukan kau yang melupakan kampung halamannya sendiri." dan dia pergi masuk ke rumahnya sendiri yang ada di sebelah rumah paman.
Setelah itu, semua orang diam. Mereka tidak tahu harus berbicara apa. Suasana sudah rusak. Mereka tidak saling berbicara untuk beberapa lama.
"hey, kalian... kita disini kan untuk bersenang-senang..." Saga akhirnya membuka pembicaraan.
"maafkan aku. Aku merusak pesta kalian..." aku merasa tidak enak.
"Kate, ini juga pestamu. Kita kan mengadakan pesta ini untuk menyambutmu." Jawab tante.
"ya sudah. Kurasa, Kai besok pasti akan kembali lagi seperti semula. Mungkin dia akan mengizinkanmu menunggangi Phillip." Paman berdiri.
"hah.. iya, tapi sebelumnya aku akan habis dihajar lebih dulu olehnya..."
"tapi, aku peringatkan. Jangan coba-coba masuk ke dalam hutan itu. karena aku takut ada hal yang berbahaya disana." Paman mengingatkan kami semua. "kalian boleh bermain. Tapi hanya di padang rumput. Mengerti?"
Nada dan cara paman menasehati kami seperti menasehati anak SD. Padahal kami semua sudah SMA. Kecuali Makiko, dia bilang tadi kalau dia sudah kuliah di Universtas kota ini dan mengambil kerja part time di sebuah swalayan kota.
"baik, paman."
"yah, kurasa, kalian istirahat saja. semua makanan sudah habis, bukan? kalian harus bangun besok pagi. Kalian semua ada janji padaku untuk membersihkan kandang. Ya kan?" paman berkata pada anak-anak cowok.
Sedangkan aku sendiri hanya tertegun. Membayangkan apa yang ada di dalam hutan itu. semakin aku penasaran, semakin aku ingin kesana. Mungkin disana akan ada petualangan yang hebat. Lagipula, bukankah itu yang kucari selama aku berlibur disini, bukan?
