KATE'S POV

"ayo, Ruth! Lambat sekali, kau!" aku menengok ke belakang. Beberapa meter di belakangku, Ruth sedang menunggangi kuda miliknya. Dia berusaha menyusulku yang sedang menunggangi Phillip.

"tunggu, Kate! Aduh, Phillip ternyata masih sangat cepat, ya."

Aku pun memelankan langkah Phillip. Kami menunggangi kuda kami di padang rumput dekat peternakan. Kai terpaksa merelakan Phillip karena dia harus bekerja disana. Tadinya aku ingin membantu mereka. Tapi paman bilang aku harus menikmati liburanku dan aku disuruh menunggangi Phillip, agar dia mengingatku lagi.

Dan ternyata Phillip masih mengingatku. Dia meringkik riang ketika aku mendatanginya di kandang.

Kami sekarang berada di tengah-tengah padang rumput. Aku turun dari Phillip dan membiarkan Phillip merumput. Kuda milik Ruth juga melakukan hal yang sama.

"sudah lama kita tidak berkuda bersama." Kata Ruth.

"ya, benar. Seingatku kita terakhir melakukannya saat kelas 4 SD. Setelah itu kita tidak sempat melakukannya. Oh, ngomong-ngomong, dimana Mia?"

"disana." Ruth menunjuk seorang gadis yang menunggangi kuda berwarna coklat dari kejauhan. Gadis itu adalah Mia. Dia menuju ke arah kami.

"kalian masih saja balapan." Kata Mia sambil tertawa. Kami ikut tertawa.

"ya, begitulah. Sudah lama aku tidak membawa Phillip berlari." Aku mengelus Phillip.

Sejenak aku melihat suasana padang rumput yang tidak mempunyai pohon namun segar dan tidak terlalu panas. Padang rumput sangat luas dan hijau. Seperti permadani. Lalu aku melihat ke belakang. Dan terlihatlah hamparan hutan angker di depan kami. Jaraknya beberapa kilo dari tempat kami berdiri.

Kalau kuperhatikan, hutannya tidak terlalu seram. Malah terlihat segar dan menggoda untuk dimasuki. Tapi kata paman, itulah daya tarik hutan itu sehingga membuat orang-orang tersesat dan tidak kembali dari sana. Kupikir, kalau kami bisa melewati hutan itu, mungkin kami akan sampai ke kota sebelah atau tempat lain yang menakjubkan.

Aku jadi ingat novel Chasing Redbird karya Sharon Creech. Tokoh utamanya adalah seorang gadis yang penyendiri dan dia menemukan sebuah jalan setapak di dekat rumahnya. tapi jalan setapak itu sudah tertutup oleh rumput, tanah dan sebagainya. dia memutuskan untuk menyusuri jalan setapak itu sambil membersihkan jalannya. Ketika dia mengikuti jalan setapak itu, dia menemukan banyak tempat yang namanya mengerikan tapi tidak semenakutkan itu. dia menemukan tebing yang belum pernah dia lihat, dia menemukan hutan, dia menemukan ladang jagung, sampai dia menyelamatkan nyawa seseorang yang ada di pondok dekat jalan setapak itu. dan tanpa dia sangka, cowok yang selama ini menyukai dia mengikuti dia dari belakang. Akhirnya jalan tersebut membawanya menuju kota sebelah.

"hey, bagaimana kalau kita kesana?" aku mengajak Ruth dan Mia menuju hutan.

"are you insane?" itulah jawaban Ruth.

"jangan mencari bahaya, Kate. Dad sudah menyuruh kita untuk menjauh dari sana." Kata Mia.

"tapi kau tidak lihat, hutan itu sama sekali tidak berbahaya. Ayolah, dulu kan kita pramuka waktu SMP. Anggap saja kita sedang mempraktekkan ilmu kita."

"iya... tapi kalau kita tersesat?"

"kita bisa kembali sebelum gelap."

"kenapa sih susah sekali berdebat denganmu, Kate?" kata Ruth. Aku hanya tersenyum.

"oh ya, tadi Dad memanggil kita. Kita diajak untuk membantu di peternakan. Ayam-ayam kita bertelur banyak disana. Kau mau membantu mengambilnya, Kate?" ajak Mia.

"yah, baiklah..." aku menaiki Phillip lagi. lalu, kami pergi ke peternakan.

-

Aoi melakukan kekacauan di peternakan (lagi).

Dia memecahkan beberapa telur saat dia membawanya untuk dimasukkan ke dalam kotak. Paman sempat mengomel. Aoi meminta maaf dan gantinya dialah yang akan membawa telur-telur itu ke pasar atau supermarket untuk dijual.

Dia memang ceroboh. Dia membawa telur-telur itu dan tanpa sengaja tersandung ember yang diletakkan oleh Akito untuk menaruh telur-telur yang dia ambil. Untungnya telur milik Akito di ember tidak ikut pecah. Tapi telur-telur milik Aoi menjadi korban.

Saat kami semua bekerja, aku mengamati perilaku cowok-cowok Yutaka itu. Kai katanya ada di kandang domba untuk bersih-bersih disana. Sisanya, membantu di kandang ayam yang cukup besar ini. Paman benar-benar sukses sekarang.

Setelah kami selesai bekerja, kami membawa kuda kami masing-masing ke padang rumput. Kami berkuda disana hampir seharian.

Saat hampir menjelang sore, kami masih bermain disana. Kuda-kuda kami biarkan merumput. Aku masih menatap hutan itu dari kejauhan. Aku sangat ingin sekali kesana. Aku penasaran. Aku harus kesana. Hutan itu seperti menarikku dan menggodaku untuk masuk ke dalamanya dan menjelajahinya.

Tanpa sadar, aku meraih Phillip dan naik ke atasnya. Lalu berlari ke arah hutan. Mia, Ruth dan yang lain kaget karena tiba-tiba melihat aku pergi.

"kau mau kemana, Kate!" panggil Ruth. Tapi aku tidak menjawab. Aku terus menunggangi Phillip ke arah hutan.

Berbagai panggilan tidak kuhiraukan. Dan aku baru sadar ketika aku sekarang sudah berada di tengah-tengah hutan. Tidak tahu arah.

"aduh, sudah kubilang jangan kesini, Kate. Ayo kembali." Aku menoleh ke belakang. Ada Ruth, Mia, Kai (yang terlihat kesal), Aoi, Akito, Shou, dan Saga dengan kuda mereka.

"dasar bodoh. Kau mau tersesat disini?" kata Kai sinis padaku.

"haha... lalu, kenapa kau mengikuti orang bodoh ini masuk ke dalam hutan? Kalian juga. kenapa kalian mengikutiku?"

"karena, saat kami memanggilmu tadi, kau tidak mendengar. Kau baru mendengar saat sudah sampai disini. maka dari itu, ayo pergi. Sebelum hari gelap." Jawab Mia.

"Kate, hutan ini berbahaya. Oke, mungkin tidak angker. Tapi apa kita tahu arah? Apa kita tahu medannya? Tidak, kan?" bujuk Shou. Aku melihat wajah-wajah mereka yang terlihat agak takut dan khawatir. Dan akhirnya aku bersedia.

"hh.. baiklah. Ayo..." aku berbalik arah dan mereka mengikutiku. Kami berjalan kembali ke luar hutan.

Tapi, kami sama sekali tidak menemukan ujung hutan. Kami sepertinya malah terus berada di tempat yang sama walaupun kami merasa kami sudah berjalan cukup jauh dan memutar. Dan sudah hampir 2 jam kami seperti ini.

"see? Kita jadi tersesat!" gerutu Kai.

"astaga, sebentar lagi gelap..." Saga khawatir.

"semua ini gara-gara kau, Kate!" Kai menyalahkanku.

"kenapa aku? Kan kalian yang mengikutiku kesini!" balasku.

"karena tingkah anehmu tadi yang membuat kita tersesat! Bagaimana kalau Mr. Hope mencari kita!" amuk Kai.

"haha... aku tidak butuh kepedulianmu, brengsek." Jawabku.

"sudah, diam! Bertengkar tidak akan menyelesaikan masalah!" seru Mia melerai kami. Kami pun diam.

"Mia benar. Lebih baik kita telusuri dengan hati-hati. Mungkin saja kita salah berbelok. Dan sepertinya kuda kita juga sudah mulai kelelahan." Ruth mengelus punggung kudanya, berusaha menghibur sang kuda agar dia tidak cepat merasakan lelah.

"maafkan aku karena aku kalian jadi ikut tersesat." Aku menunduk malu.

"sudahlah, tidak apa. Yang penting rasa penasaranmu hilang." Jawab Ruth pasrah. Aku jadi merasa bersalah pada mereka.

Tuhan, tolonglah kami...

"hey, apakah itu cahaya?" Saga menunjuk sebuah cahaya yang berada di kejauhan. Terlihat sangat jelas karena hutan sudah mulai gelap.

"mungkin saja itu jalan keluar. Ayo!" sahut Akito. kami langsung memacu kuda kami ke arah sana. Cukup jauh juga ternyata. Tapi, begitu kami sampai di cahaya itu, ternyata itu bukanlah jalan keluar yang menuju padang rumput peternakan. Yang kami lihat sekarang memang padang rumput, tapi bukan padang rumput peternakan yang kami kenal. Tapi padang rumput yang agak aneh. Kami tercengang melihatnya. Kenapa kami bisa sampai disini? apa kami malah terbawa ke seberang hutan?

Di depan kami, adalah sebuah padang rumput yang dari kejauhan terdapat gunung yang sangat indah. Semua terlihat seperti pegunungan Alpen jaman dulu yang sangat segar dan menenangkan.

Di tengah-tengah padang rumput, kami melihat sebuah pohon yang daun-daunnya berwarna emas. Kami bingung, pohon apa itu. kami belum pernah melihatnya sebelumnya.

"eh, apa kita sampai di seberang hutan?" tanya Mia penasaran.

"mungkin?" jawabku tidak yakin. Aku memacu Phillip ke arah pohon itu. mereka mengikutiku. Aku turun dari Phillip tidak jauh dari pohon berdaun emas itu. beberapa cabang dan rantingnya ada yang merunduk ke bawah sehingga aku dapat memetiknya dengan mudah. Aku memetik sehelai daun dari pohon itu. aku memperhatikan daunnya, dan kemudian kaget.

"all, mungkin daun ini benar-benar daun emas. Daun ini agak berat dan..." aku memperhatikannya.

"berkilau kalau kena cahaya..." lanjut Ruth.

"oh Tuhan! Kalau kita memetik semua ini, mungkin pulang dari sini kita bisa membeli mobil Ferrari!" kata cowok-cowok. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.

"kalian ini bagaimana, sih! Apa kalian tidak sadar atau bertanya-tanya kita ada dimana sekarang?" sahut Mia.

"eh, iya ya... kita dimana?"

Sebelum pertanyaan itu terjawab, tiba-tiba muncullah seseorang di depan kami. Kami langsung terlunjak. Karena orang itu terlihat cukup seram. Pakaian dan tudungnya hitam dari atas sampai bawah seperti penyihir.

"si... siapa kamu?" tanyaku takut-takut.

"UNTUK APA KAU MEMETIK DAUN EMAS INI, HAH!" kata orang itu tajam dan marah. Suaranya agak parau. Sepertinya dia laki-laki.

"ma... maaf... aku tidak tahu kalau pohon ini ada yang punya..." aku meminta maaf.

"kalian adalah mata-mata penyihir jahat itu, ya kan!"

"pe... penyihir? Penyihir apa? Kami bahkan tidak tahu kami ada dimana sekarang."

"berani-beraninya kau mencuri dan tidak mau mengaku kau siapa!" tiba-tiba tangannya mengeluarkan sinar. Aku mundur perlahan-lahan. Dia mengangkat tangannya yang bersinar itu dan mengarahkannya ke arahku. Tapi aku bisa menghindar. Dan sinar itu tidak mengenaiku. Tapi...

"Kai!" jerit Mia. Aku menoleh ke belakang. Dan aku sekarang dia melihat Kai lagi. gantinya, aku malah menemukan angsa. Angsa putih. Ternyata orang itu penyihir! Dia mengubah Kai menjadi angsa!

Kai tidak bisa berkata apa-apa. Gantinya dia hanya bersuara khas angsa yang tidak kami mengerti maksudnya.

Aku langsung berlutut di depan penyihir itu. aku merasa bersalah.

"maaf, maafkan aku!" aku menyerahkan daun emas itu pada si penyihir.

"itulah jadinya kalau kalian mengusik pohon ini!" seru penyihir.

"tolong kembalikan teman kami seperti semula." Pinta Ruth. Yang lain mendukung.

"tidak! Kalau kukembalikan kalian akan bagaimana? Ingin mengambil daun-daun emas ini sampai habis?"

"tidak! Kami tersesat di hutan. Dan tahu-tahu kami ada disini. kami tertarik melihat pohon ini dari kejauhan. Kami penasaran dan aku memetik salah satu daunnya. Kami sama sekali tidak tahu kalau pohon ini ada yang punya yaitu anda..." aku mencoba menjelaskan.

Tiba-tiba penyihir itu diam. "jadi kalian tidak tahu apa kekuatan dari daun yang kau pegang itu?"

"tidak, sama sekali tidak. Kami tadi hanya mencari jalan pulang. Dan kami tiba-tiba sampai disini."

Penyihir itu terlihat berpikir sejenak. Dan dia mengucapkan kata-kata yang membuat kami agak lega. "kalian kumaafkan. Tapi, kalau kalian ingin teman kalian kembali seperti semula, kalian harus membawa sebuah buah pir yang tumbuh di pohon yang terletak di gunung sana." Sang penyihir menunjuk sebuah gunung yang tadi kami lihat.

"tapi, kami tidak tahu jalan!" kataku. Memang dari sini terlihat dekat. Tapi itu sebuah gunung yang sangat jauh perjalanannya.

"temui Ratu Peri. Dia pasti akan membantu kalian. dia ada di istana es. Susuri saja jalan setapak itu dan kalian akan menemukannya." Sang penyihir menunjuk sebuah jalanan setapak yang sepertinya terbuat dari batu bata di seberang padang rumput. Jalanan itu mengarah menuju hutan.

Dan kemudian penyihir itu menghilang begitu saja.

"bagaimana ini? Kai sudah menjadi seperti ini." Kai dalam wujud angsa sedang duduk menunduk di bawah pohon. Dia terlihat sangat bersedih dengan keadaannya sekarang.

"kalau begitu, tidak ada cara lain..." kata Aoi. dia juga sangat khawatir dengan keadaan adiknya.

"ya, kita harus pergi ke gunung itu..."