KATE'S POV

Demi mengembalikan Kai seperti semula, kami berjalan menyusuri jalan setapak itu dengan kuda kami. Kuda Kai ditinggalkan di padang rumput. Kuda itu tidak mungkin kabur. Karena rumput-rumput yang ada disana pasti sudah membuat si kuda kekenyangan dan tidak bisa berlari.

Hari sudah mulai gelap. Kami sama sekali tidak membawa penerangan.

"aku takut... hutan ini agak... menyeramkan. Seperti menyimpan sesuatu." Kata Mia pelan di sebelahku.

"iya. kita juga tidak tahu medannya dan kita tidak punya penerangan. Bagaimana kalau malam ini kita berkemah disini sampai pagi? Kita buat api unggun." Usulku.

"tapi, kalau ada binatang buas, ular, atau semacamnya bagaimana?" Ruth agak keberatan.

"lebih baik kita hadapi bersama-sama daripada kita tersesat di hutan." Jawabanku itu membuat yang lain bergidik ngeri.

Kami berhenti di pinggir jalan setapak. Untunglah kami membawa sisa-sisa perlengkapan kerja kami di ransel. Para cowok mengambil dan memotong-motong kayu bakar yang ada di dekat kami dengan parang yang mereka bawa, dan para cewek membersihkan tempat yang akan kita diami dari daun-daun kering.

Beberapa lama kemudian, api unggun sudah menyala dengan terang dan menghangatkan tubuh kami. Kuda-kuda kami ikat dengan tali dan menyambungkannya ke batang pohon yang kuat yang ada di sebelah kami.

"setidaknya, untuk malam ini saja kita bertahan. Semoga peri yang ada di istana es itu bisa mengubah Kai menjadi seperti semula." Aoi mencoba menghibur kami. Kai berada di pangkuannya. Dia sudah tertidur.

"dia sudah tidur rupanya." Aoi mengelus bulu angsa milik Kai. dia mengangkat Kai dari pangkuannya dan menaruhnya di sebelahnya dengan perlahan. Tidak mau membuat Kai terbangun.

"yah, setidaknya kita tidak akan mendengar ocehannya untuk beberapa lama. Itu sisi positifnya." Kataku. Lalu aku menguap lebar. Aku juga capek. Belum lagi dengan kejadian-kejadian yang membuat kami masih merasa tidak percaya.

Dan akhirnya, kami langsung tertidur dengan lelap, lupa dengan suasana menyeramkan hutan ini.

-

Suara berisik itu datang lagi.

Aku terbangun. Sepertinya baru beberapa jam aku tertidur. Aku bangkit dan melihat ke sekitarku yang sangat gelap. Gelap, dan sama sekali banyak pohon yang membuat suasananya agak menyeramkan.

Tapi, di antara pohon-pohon itu, aku melihat bayangan seseorang yang sedang berjalan. Apakah itu? mungkin bukan manusia, tapi bisa jadi binatang buas.

Aku membangunkan Mia yang tidur di sebelahku. Dia menggerutu dan agak marah ketika aku membangunkannya malam-malam begini. Tapi ketika aku menceritakan kalau ada seseorang yang sedang mengendap-endap, dia langsung menggamit lenganku ketakutan.

Kami waspada.

Dan suara itu datang lagi. Mia juga membangunkan Ruth dan yang lain. Ketika semua sudah mulai terjaga, kami semua langsung waspada.

Suara itu datang lagi. Aoi, Shou, dan Saga bahkan sudah menyiapkan parang yang mereka bawa untuk menghadapi sesuatu ini.

Dan sumber suara itu tiba-tiba keluar dari semak-semak. Kami para gadis langsung menjerit karena kaget.

"hey! Aku bukan penyihir! Kalian tidak usah berisik seperti itu!" seru suara itu. kami membuka mata kami. Dan terlihatlah di hadapan kami seorang lelaki yang berwajah muda dan segar. Tapi... dia cebol?

"kau siapa? Mau apa kau dengan kami?" tanya Shou.

"maaf, aku tidak bermaksud untuk menakuti kalian atau semacamnya." Makhluk cebol itu sekarang berdiri di tengah-tengah lingkaran duduk kami. Wajahnya kini terlihat makin jelas di dekat api unggun. "aku hanya penasaran dengan kalian. kami mengamati kalian semenjak kalian masuk ke hutan ini. Kalian terlihat tidak berbahaya. Dan kami juga tahu kalau salah satu diantara kalian ada yang dikutuk oleh penyihir penjaga pohon berdaun emas itu." lelaki cebol itu melirik ke arah Kai.

"tunggu... apa kau ini dwarf? Dan... maksudnya dengan 'kami'?" tanyaku.

"ya, aku dwarf. Perkenalkan. Namaku Nao." Dia membungkuk di depan kami dengan anggun. Dia terlihat lucu sekali. Walaupun wajahnya terlihat dewasa, tapi cara berpakaiannya tidak seperti itu. dwarf yang tingginya kira-kira hanya setinggi pinggangku ini memakai kaus beludru hijau sepanjang lututnya. Dan memakai celana kain berwarna coklat tanah. Dia mengenakan topi yang akan mengingatkanku dengan St. Patrick di karnaval St. Patrick's Day setiap tanggal 17 Maret.

"aku... Kate..." jawabku.

"kenapa? Kau belum pernah melihat dwarf sebelumnya?" tanya Nao.

Aku menggeleng. "belum. kami tidak berasal dari sini."

"oh... kalian dari mana?"

"begini, kami sedang menyusuri hutan yang ada di dekat pohon emas. Kami tersesat. Tiba-tiba begitu kami keluar dari hutan, kami malah sampai disini." jelas Mia.

"hutan itu... memang gerbang menuju dunia ini dari dunia kalian. dan... selamat datang di Domhan."

"Domhan?"

"Domhan adalah nama dunia ini. Kalian berasal dari mana?"

"ngg.. Dundalk..."

"Dundalk? belum pernah dengar."

"tentu saja. itu kan nama dunia kami. Well, kota kami." Jawab Aoi.

"kalian ingin pergi kemana?"

"kami ingin pergi ke istana es. Kami harus menemui Ratu Peri. Kami diperintahkan oleh penyihir yang menyihir teman kami untuk mengambil buah pir dari gunung."

"ah! Ratu Peri pasti sudah menanti kalian! memang penyihir itu kelihatannya jahat karena sudah menyihir teman kalian, tapi dia seperti itu karena penyihir jahat yang mengacaukan dunia ini. Dia memaksa Ratu Peri untuk memberikan tahtanya tapi Ratu Peri menolak, karena dia kejam."

"maka dari itu, penyihir jahat mengincar daun-daun emas dari pohon itu. karena setiap helai daunnya mempunyai kekuatan yang hebat."

"kekuatan apa itu?" tanya Saga.

"salah satunya, mengabulkan apapun keinginan kalian. makanya penyihir itu – yang namanya Reita – menjaga pohon berdaun emas itu agar tidak ada seorang pun yang mengambilnya."

"sebenarnya, Reita itu penyihir yang jahat atau baik?" tanya Ruth.

"dia penyihir yang baik. Tapi karena penyihir jahat itu mengutuk putrinya agar sakit-sakitan. Dan obatnya adalah pir yang tumbuh di gunung itu."

"jadi begitu..." aku mulai paham maksudnya. "lalu, kenapa Ratu Peri menanti kami?"

"karena kalianlah yang ada di ramalan itu!" Nao berseru riang. "akhirnya kalian datang juga! lebih baik kau ikut denganku! Aku dan teman-temanku sudah menyiapkan sambutan untuk kalian!"

-

Akhirnya, kami mengikuti Nao pergi ke perkampungannya yang tidak jauh dari tempat kami berkemah. Disana banyak sekali dwarf yang mendirikan perkemahan. Ada yang sedang memasak di api unggun (baunya enak, lho), ada yang sedang mengasah senjata, beberapa ada yang menyambut kami dengan anggun seperti cara Nao membungkuk ke arah kami tadi.

"inilah klan dwarfku. Kami kadang-kadang suka berpindah-pindah karena anak-anak buah penyihir jahat suka mengganggu kami."

Aku melihat dwarf-dwarf itu sedang menatap kami. Mungkin mereka masih merasa agak aneh dengan kedatangan makhluk yang lebih tinggi dari mereka.

"kau membawa teman baru lagi, Nao? Hoo... dia lebih tinggi pula." 2 orang dwarf tiba-tiba berdiri di depan Nao yang sedang memberi tahu letak-letak dan apa saja yang dilakukan para dwarf di perkemahan ini.

"yap. Pasti Ratu Peri senang kalau kita mengantarkan mereka ke istana es." Jawab Nao. "oh iya..." Nao berpaling ke arah kami. "perkenalkan mereka adalah Ruki..." Nao menunjuk dwarf pertama yang pakaiannya sama dengan Nao namun berwarna merah. "dan Keiyuu..." Nao menunjuk dwarf di sebelah Ruki yang berpakaian sama juga tapi berwarna kuning.

"kalian lucu sekali..." kata Mia sambil tertawa kecil.

"lucu? Aku sudah dewasa, tahu!" Ruki tiba-tiba setengah berteriak pada Mia. Nao pun menyela.

"ngg... Ruki tidak suka dibilang lucu, imut, atau semacamnya..."

Tapi sebenarnya, Ruki memang lucu. Dia pipinya tembam dan bulat, kulitnya putih bersih seperti salju (aduh, aku saja bahkan susah sekali mengembalikan kulit putihku yang coklat gara-gara berjemur di pantai Perancis dulu), rambutnya coklat, dan dia juga mengenakan topi yang sama seperti milik Nao dengan warna merah. Dia seperti anak kecil yang mengenakan kostum santa klaus tapi bedanya dia tidak berjenggot putih.

"tapi dia memang lucu." Aku sengaja menggoda Ruki. Ruki langsung cemberut. Wajahnya semakin lucu.

"hahahaha! Kau makin lucu kalau cemberut, Ruki!" Ruth semakin gemas pada Ruki.

"sudahlah, Ruki. Kau memang ditakdirkan dengan wajah seperti itu. terima saja. bukankah itu wajah yang seharusnya dimiliki oleh seorang dwarf?" kata Keiyuu.

"sudah, sudah. Jangan bertengkar. Bagaimana kalau kita semua makan? kurasa kalian semua pasti lapar, bukan?"

Dan kami semua baru merasakan kalau perut kami sudah menjerit dan minta disumpal oleh makanan yang enak.

"ayo, sup dan roti khas buatan kami sangat enak lho..." kata-kata Nao itu membuatku menelan ludahku.

-

Setelah makan malam, kami tidur kembali. Para dwarf itu baik sekali. Mereka sudah menyediakan tenda khusus untuk kami. Sedangkan Kai sendiri diberi bantal empuk dan enak untuk tempat tidurnya.

Keesokan harinya, kami pergi melanjutkan perjalanan setelah mengambil kuda kami yang kami tinggal semalam. Nao, Ruki, dan Keiyuu ikut bergabung dalam perjalanan kami sebagai penunjuk arah dan juga pemandu.

Mereka menjelaskan bahwa di hutan ini banyak sekali dyrad yang mendiami pohon. Ruki bilang, dryad sangat sangat cantik sekali. Mereka sering membantu orang-orang yang tersesat di hutan. Terkadang menghibur mereka dengan nyanyian mereka.

Dan kami bertemu dengan seorang dryad hari ini. Di siang hari ketika kami sedang memetik apel di pohon apel. Ternyata pohon apel yang kami petik adalah tempat tinggal seorang dryad.

Tiba-tiba, dryad itu muncul keluar dari dalam pohon. Kami semua kaget.

"aduh! Bisa tidak sih, makhluk-makhluk yang ada disini tidak keluar dari pohon terus?" gerutu Akito kaget.

Dryad yang keluar memang sangat sangat cantik. Sampai Aoi, Shou, Saga, dan Akito menganga karena kecantikannya. Sampai aku, Mia, dan Ruth menahan tawa karena wajah mereka yang lucu itu.

"ah! Maafkan aku, Leda!" kata Keiyuu. "lho, ternyata kau pindah ya?"

Dryad yang hanya mengenakan pakaian dari daun-daun pohon itu menjawab dengan suaranya yang sangat merdu sekali, "iya. Aku sudah tidak suka lagi dengan pohon ek rumah lamaku. Ternyata pohon apel lebih enak."

"sejak kapan kau pindah dari pohon ek, Leda?" tanya Ruki.

"lumayan lama. Kau ingin mengambil apelnya? Biar kuambilkan untukmu." Leda mengambilkan beberapa apel untuk kami.

Kami beristirahat sebentar di bawah pohon sambil memakan apel yang dipetik. Apel dari Domhan ternyata lebih segar dan enak daripada apel dari duniaku. Seolah ada sihir yang membuat apel ini terkesan... istimewa.

"sudah lama kami para dwarf tidak mendengar kalian bernyanyi lagi..." kata Keiyuu kepada Leda.

Leda, yang sedang duduk di atas cabang pohon menunduk ke bawah dan menjawab, "semua itu karena penyihir jahat. Dia melarang kami bernyanyi. Kalau kami melawan, kami akan mati."

"hhh.. kenapa penyihir itu selalu mengacaukan semuanya..." kata Ruki pelan.

"dan aku bisa melihat manusia-manusia yang kalian bawa mempunyai bakat dan aura yang besar untuk melawan penyihir itu." Leda melihat ke arah kami.

"apa maksudmu, Leda?" tanya Mia.

"iya, aku tahu kau bisa bermain biola," Leda menujuk Akito. "dan kau bisa bernyanyi," dia menujuk Mia. "kau bisa memainkan pedang" dia menujuk Aoi dan Shou. "kau ahli dalam arsitektur," dryad itu menunjuk Saga. "aku tahu kau bisa akrab dengan para binatang termasuk griffin yang paling ganas sekalipun," Leda menunjuk Ruth. "dan kau, kau adalah seorang pemanah yang hebat. Hanya dengan sedikit berlatih, kau bisa menembak sasaranmu tanpa meleset." Dia menunjukku.

Aku? Bisa memanah? Mana mungkin! Dan tidak hanya aku saja yang membantah perkataan Leda, yang lain juga.

"tapi ini Domhan, teman-temanku yang baik..." kata Leda bijak. "kalian bisa menjadi orang yang sangat sangat berbeda disini. dan bakat kalian itu akan berguna untuk melawan penyihir jahat itu..."