KATE'S POV
Pada akhirnya, Leda ikut bergabung dengan kami. Dia berkata kalau sudah lama dia tidak berpetualang.
Tapi sebelum dia ikut, Ruth memberikan t-shirt dan celana pendek yang dia taruh di dalam tas yang dia bawa ke Leda. Dan untuk apa dia memberikannya ke Leda?
Karena dia ingin Leda memakainya. Masa ikut perjalanan dengan memakai baju daun?
Sekarang kau bisa membayangkan seorang dryad memakai baju dari dunia kami. Dan anehnya, Leda menyukainya!
Kami kembali menyusuri jalan setapak hutan. Trio dwarf dan Leda banyak bercerita soal Domhan yang keadaannya jauh lebih baik sebelum kedatangan penyihir jahat tersebut.
"kurasa, mungkin agak sulit untuk masuk ke dalam istana Ratu Peri." kata Leda.
"kenapa?" tanya Nao.
"karena sekarang istana itu diberi tembok yang tidak terlihat dan tembok itu menghalangi jalan orang yang ingin masuk kesana. Sehingga, sekarang tidak ada satupun yang bisa menembus pertahanan tembok itu dan bertemu dengan Ratu."
"bagaimana ini? Bukankah Ratu sendiri yang menginginkan kita ada?" sahut Akito.
"entahlah. Tapi tidak ada salahnya kan dicoba lebih dulu?" kata Ruki.
"mungkin semua ini karena Yang Mulia Sugizo..." kata Keiyuu menduga-duga.
"Sugizo? Siapa dia?" tanyaku.
"dia adalah ayah dari Ratu Peri. memang, dia sudah menyerahkan seluruh tahta dan kekuasaannya pada putrinya. Tapi kalau soal ilmu dan sihir, Yang Mulia Sugizo-lah yang lebih ahli. Kudengar, dia tinggal di sebuah istana di seberang laut pulau ini."
"hah? Tunggu, Domhan punya... laut?" Aoi kaget.
"ya, mungkin dunia ini hampir sama dengan dunia kalian. kami pernah nyaris masuk ke dunia kalian. tapi untunglah Reita menyelamatkan kami sebelum kami terlihat oleh orang-orang kalian." jawab Keiyuu.
"apa disini tidak ada manusia?" tanya Ruth.
"kalau manusia murni seperti kalian... tidak ada..."
"lalu?"
"Ratu Peri memang mempunyai fisik yang sama persis seperti kalian, tapi dia bukanlah manusia. dwarf, jin, bahkan sampai dryad dan peri pun ada di dalam silsilah keturunan keluarga kerajaan." Leda menjelaskan.
"waw... rumit sekali..." aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya dwarf menikah dengan dryad atau peri menikah dengan jin. Berlawanan sekali dengan filosofi di duniaku.
"tapi kalian tidak usah terlalu memikirkan hal itu."
Untunglah... kataku dalam hati.
"sepertinya kita sudah hampir tiba..." kata Saga. Dia melihat sebuah menara istana yang menjulang tinggi.
"ya, kita hampir sampai di istana ratu..." jawab Nao.
Tidak lama kemudian, akhirnya kami lepas juga dari hutan. Sekarang kami menyusuri padang rumput yang cukup luas. Hanya tinggal beberapa kilometer lagi, kami akan sampai di gerbang istana es tersebut.
Tapi tiba-tiba, aku mendengar suara ringkikan dari atas langit. Kami semua mendongak ke atas. Dan Nao-lah yang terkejut.
"ada griffin!" dia berteriak. Griffin adalah burung yang sangat besar. Badan, sayapnya yang lebar mirip seperti tubuh burung garuda. Tapi kepalanya hampir mirip dengan burung elang. Dan kakinya cukup panjang dan cengkramannya sangat erat. Dia juga mempunyai ekor yang cukup panjang seperti hewan mamalia seperti singa, harimau, dll.
Dan Nao berhak untuk merasa takut. Griffin itu terbang merendah ketika dia melihat kami. Kami langsung memacu kuda kami melintasi padang rumput.
Tapi griffin itu tidak mengincar kami, tapi dia mengincar Kai. Kai yang duduk bersama Aoi di sadel kuda tiba-tiba disambar oleh griffin itu dengan cepat dan lincah.
"dia menyambar Kai!" Aoi langsung panik. Dia takut griffin itu akan menjadikan Kai sebagai makan malamnya nanti.
Tapi tunggu dulu... ketika griffin itu sudah mendapatkan Kai, dia langsung terbang naik lagi. tapi dia menuju istana es dan mendarat dengan indah disana. Di balkon terdekat istana tersebut.
"dia mendarat di istana es!" seruku sambil menunjuk balkon istana.
Tanpa basa-basi lagi, kami langsung memacu kuda kami kesana. Dengan tanpa sadar melupakan kalau sebenarnya istana tersebut mempunyai tembok yang tidak terlihat.
Dan tentu saja, kuda kami langsung meringkik ketakutan ketika kami mulai mendekat ke istana itu. karena mereka merasakan hal 'ajaib' yang ada di istana tersebut.
Kami kemudian turun dari kuda kami. Dan kami merasa panik.
"bagaimana ini? Bagaimana cara kita menyelamatkan Kai kalau masuk ke istana saja kita tidak bisa?" kata Akito.
"aku juga tidak tahu..." jawabku pasrah. Aku melirik ke arah Nao, Ruki, Keiyuu, dan Leda. Mereka juga tidak tahu apa-apa.
Sekilas kalau dilihat dengan mata biasa, istana ini sama sekali tidak terlihat seperti mempunyai tembok penghalang. Terlihat sangat biasa saja. tapi begitu kau ingin terus berjalan, kau pasti akan merasa terbentur oleh sesuatu. Dan sesuatu itu pasti akan membuatmu tidak bisa menerobos lagi. dan sesuatu itu adalah tembok penghalang.
Aku berjalan perlahan-lahan dengan tangan kananku terulur ke depan. Mencoba mencari tahu dimana letak sebenarnya tembok itu. mencoba untuk merabanya.
Dan baru beberapa langkah aku berjalan, aku bisa merasakannya. Ketika aku menyentuhnya, rasanya seperti menyentuh tembok kaca yang sangat dingin. Tapi tidak rapuh seperti kaca biasa. Malah terkesan sangat kuat seperti kaca anti peluru, tapi lebih kuat lagi.
Namun, ketika aku baru menyentuh tembok itu dengan telapak tanganku, aku dan yang lain mendengar suara yang sangat nyaring. Suara pecahan kaca yang retak kemudian pecah dan roboh. Kami melihat ke sekeliling. Kami sama sekali tidak menemukan sumber suara itu.
Tapi telapak tanganku yang tadinya menyentuh 'tembok' sekarang menyentuh udara kosong.
"hebat, Kate! Kau merobohkan dinding kaca itu!" seru Nao.
Aku sendiri hanya bisa menggaruk kepalaku. Mencoba mencerna apa yang barusan terjadi.
-
Begitu kami berdiri di depan pintu gerbang istana, kami disambut oleh penjaga yang makhluknya adalah centaur (manusia berbadan kuda tapi dari pinggang ke atas berbadan manusia).
Tanpa harus memeriksa siapa kami, apa yang ingin kami lakukan di istana 'keramat' ini, mereka langsung mempersilakan kami memasuki halaman istana.
Di halaman, sudah ada beberapa faun (manusia berkaki kambing) yang menyambut kami. Kami merasa terheran-heran. Ada apa ini? Apa karena Ratu Peri menanti kedatangan kami sehingga kami diperlakukan seperti tamu presiden?
Para faun itu mengantarkan kami sampai pintu masuk istana. Di dalam istana yang sangat megah itu, benar-benar keren. Semua material bangunan sampai perabotan istana semua terbuat dari es yang membeku dan seperti diukir dan dipahat sehingga menjadi bentuk tangga, lemari, dan lain sebagainya. Tapi anehnya, kami sama sekali tidak merasa kedinginan. Dan kami berjalan tidak merasakan licin. Seolah kami hanya berjalan diatas lantai keramik biasa.
Beberapa meter di depan kami, terlihatlah kursi singgasana. Dan disanalah dia berada.
Seorang gadis yang kalau dia manusia mungkin berumur 20-an, sangat cantik namun wajah dan kulitnya putih pucat seperti salju, tapi bibirnya merah merona seperti bunga mawar. Rambutnya panjang sepinggang dihiasi dengan mahkota yang terbuat dari es. Dia mengenakan gaun sederhana yang sisa gaunnya dari ujung kaki bisa mencapai 5 meter berwarna putih, dan yang membuat kami merasa terhipnotis adalah, mata birunya yang menyiratkan karisma, kemuliaan, dan kebaikan yang sangat dalam. Membuat kami langsung berlutut ketika kami berhadapan dengannya.
"selamat datang di Domhan, Kate, Ruth, Mia, Aoi, Akito, Saga, dan Shou... dan juga untuk dwarf yang cantik dan para dwarf yang periang, terima kasih banyak karena telah mengantar mereka kemari..." suara Ratu Peri benar-benar merdu. Melebihi suara merdu milik Leda.
Kami pun berdiri kembali. Dan Ratu Peri kembali berkata, "aku memang menanti kalian. dan terima kasih karena sudah merobohkan dinding tidak terlihat yang menghalangi istana kami..."
"ma... maksud anda?" tanyaku tidak mengerti.
"ya, demi keselamatanku dan keutuhan istana, ayahku menyihir istana ini sehingga mempunyai tembok tidak terlihat sehingga orang-orang jahat tidak akan bisa masuk dan menghancurkannya. Tapi kata ayah hanya ada satu orang yang bisa menghancurkan tembok itu. yaitu kau, Katherine Hope. Kau dan teman-temanmu-lah yang akan membantu dan melindungi kami. Dan kalian bisa memanggilku Reina. karena sebenarnya derajat kalianlah sebagai manusia yang tertinggi dibandingkan kekuasaanku termasuk ayahku sendiri. jadi aku tidak mau orang yang lebih tinggi daripadaku memanggilku dengan panggilan yang lebih hormat."
Setelah Ratu Peri berkata seperti itu, aku langsung lemas. bagaimana tidak? Aku, yang seharusnya menghabiskan liburan musim panasku dengan berada di London dan jalan-jalan di Oxford Road sekarang terjebak bersama dua sepupuku, saudara-saudara aneh keturunan Jepang yang baru kutemui dan belum terlalu kukenal, ditambah dengan kata-kata bijak namun langsung menjatuhkan mentalku karena aku dan teman-temanku sudah dianggap pahlawan dalam waktu semalam saja dan kini bertanggung jawab atas dunia mereka...
