KATE'S POV
Reina memberikan kami kamar yang nyaman. Di dekat puncak menara istana. Oke, walaupun mewah, tapi... capek! Kami harus menaiki banyak tangga untuk mencapai kamar kami.
Tapi ya sudahlah, semua itu terbayar dengan pemandangan indah laut Domhan. Dan malam pertama kami di istana, Reina duduk bersamaku di balkon kamarku. Mengobrol sambil menikmati indahnya pemandangan laut di malam hari.
"kau lihat cahaya di ujung laut sana?" Reina menunjuk sebuah titik cahaya putih yang cukup terang. Seperti lampu di menara mercusuar.
"ya. memangnya kenapa?"
"disitu tempat tinggal kakakku, Tora. Juga ayah kami."
"hoo... apakah istana mereka juga istana es seperti milikmu?"
Reina tertawa, "tidak, tidak. Mereka tidak terlalu menyukai es. Tapi istana mereka indah. Banyak bunga bermekaran disana. Mereka sering mengadakan pesta jamuan. Dan tamu-tamunya adalah bangsawan-bangsawan dari negara tetangga."
"tunggu, Domhan juga memiliki negara tetangga?"
Reina mengangguk. "ya. dunia ini luas, Kate... dan aku hanya menguasai sedikit dari daerah dunia itu."
"apa pulau itu dikuasai oleh kakakmu?"
"ya. kami berbagi daerah kekuasaan dengan adil. Kami menganggap kami adalah sekutu di bidang politik. Dulu aku sering singgah kesana untuk menghadiri undangan pestanya. Tapi semenjak penyihir itu datang, aku jadi tidak bisa kesana lagi."
"dari semalam Leda, trio dwarf, bahkan kau selalu menyebut-nyebut penyihir itu. siapa dia? apa yang dia mau dari Domhan?"
"tentu saja kekuasaan, Kate... dia sebenarnya adik ayahku. Kakekku tidak memberikan bagian kekuasaan untuknya karena dia jahat. Kakekku bisa merasakannya."
"maka dari itu, dia kabur dan mempelajari ilmu hitam. Dia abadi dan sekarang meneror kami."
"kelihatannya kemampuannya tanpa cela..." kataku.
"tidak juga, sayangku. Semua ilmu sihir pasti mempunyai titik kelemahan. Dan aku baru saja menemukan titik kelemahan penyihir itu."
"apa itu?"
"dia akan mati oleh anak panah yang terbuat dari bulu angsa, dan yang harus memanahnya adalah manusia..."
Oh... pantas saja... maka dari itu Reina sangat mengharapkan kami.
"soal Kai.. aku minta maaf. Griffinku tidak tahu kalau dia manusia. angsa disini sangat langka."
"tidak apa. Dia memang harus diberi pelajaran dari sikap sombongnya."
"bukan begitu, Kate. Dia orang yang baik. Kau harus tahu itu." Reina diam sebentar. Lalu melanjutkan, "dan aku membutuhkan beberapa helai bulunya. Kalau dia bersedia."
"kurasa dia memang harus bersedia."
"pembuatan senjata itu akan dibuat esok setelah pencabutan beberapa helai bulunya. Dan aku sudah menyiapkan senjata untuk kalian."
"aku bahkan tidak tahu cara menggunakan senjata, Reina."
Reina tersenyum. "dan sekaranglah saatnya untuk kau berlatih. Karena lawanmu tidak hanya penyihir itu. masih banyak monster lain yang harus kau hadapi sebelumnya."
"kalau boleh tahu... apa itu?"
Reina diam sebentar. "Chimera. Kau tahu?"
Aku menggeleng.
"chimera adalah makhluk buas pemakan daging. Dia berkepala singa jantan, berbadan kuda, berekor ular, dan mulutnya menyemburkan api seperti naga."
Aku langsung bergidik ngeri. Oh Tuhan, mungkin aku sudah lebih dulu menjadi santapan chimera sebelum aku bisa bertemu dengan penyihir tersebut.
"yang pasti sekarang, mulai besok kau harus latihan memanah. Dan beberapa hari kemudian kau akan menyeberangi laut menuju istana kakakku. Disana dia akan memberimu beberapa petunjuk dan
bantuan."
-
Pagi itu, setelah sarapan, kami langsung pergi ke halaman istana untuk berlatih. Tapi sebelumnya, kami diberi beberapa peralatan oleh sang Ratu.
Di altar, Reina duduk di singgasananya. Didampingi oleh kedua penasihatnya. Mereka membawa beberapa kotak kayu walnut. Dan kotak-kotak tersebut panjang dan ukurannya berbeda-beda.
"untuk Mia dan Akito, harap maju..." kata Reina dengan suaranya yang penuh wibawa. Mia dan Akito maju beberapa langkah. Membungkuk untuk memberi hormat kepada sang Ratu.
"aku memberikan kalian ini." Reina berdiri dari kursi kebesarannya dan mengambil 2 buah kotak kayu dari tangan penasihatnya. Dan memberikan kotak itu ke tangan Akito dan Mia. Mereka membuka kotak kayu tersebut.
Milik Akito isinya adalah sebuah biola yang sangat indah desainnya. Jauh berbeda dari desain yang ada di dunia kami. Dan ketika Mia membuka kotak miliknya, isinya adalah sebuah belati. Belati kecil namun kelihatannya berat karena gagang dan sarungnya terbuat dari emas murni. Belati tersebut sangat mengkilat dan sangat tajam ujungnya.
Saat Akito dan Mia masih terpana dengan hadiah yang diberikan sang Ratu, Reina sudah memanggil Aoi dan Shou. Mereka maju sejajar dengan Akito dan Mia. Reina memberikan kotak untuk mereka juga.
Dan mereka berdua membuka kotak itu. isinya adalah sebuah pedang yang didesain dengan sangat teliti kalau dilihat dari ukiran gagang pedangnya, sarung pedangnya yang berwarna merah stroberi.
Lalu giliran Saga. Dan aku bisa melihat cara pandangan Reina terhadap Saga. aku teringat cerita Saga semalam di kamar, setelah aku mengobrol dengan Reina.
"dia cantik sekali..." kata Saga lirih.
"siapa? Sang Ratu?" tebakku. Saga mengangguk.
"kau menyukainya? Jujur saja, Saga." Aku bertanya padanya.
"kalau jujur, ya. aku menyukainya... matanya menghipnotisku. Dan aku ingin sekali menyelam ke dalam matanya tersebut."
"Saga... tapi dia kan..." kataku ragu.
"ya, aku tahu. Dia ratu. dan seorang Peri. seorang Peri tidak akan bisa bersama dengan manusia biasa yang berbeda dunia dengannya, bukan?"
Aku bisa merasakan nada kecewa dari kata-katanya tadi.
Mungkin Reina pun juga mempunyai perasaan yang sama. Bahkan ketika dia memberikan kotak kayu untuk Saga, dia terlihat agak canggung. Begitu Saga membukanya, isinya adalah beberapa peralatan. Ada palu, bahkan palunya terbuat dari perunggu. Juga kapak, dan sebagainya. Tapi anehnya, Saga sama sekali tidak merasa berat ketika membawa semua peralatan itu.
"dan untuk Ruth..." Reina menoleh ke arah Ruth. "mungkin aku tidak memberikan bekal seperti teman-temanmu dapatkan. Tapi, aku bisa memastikan, kau akan selalu bisa membantu mereka dalam perjuangan kalian. setelah aku melihat kau berbincang-bincang dengan griffin milikku dan dia mengajakmu terbang."
Ruth membungkuk dengan hormat, "baik, Yang Mulia..."
"dan untukmu, Katherine..." dia memanggilku. Aku maju menghadapnya.
"ini untukmu..." Reina memberikan kotak kayu terakhir. Aku membukanya, dan isinya adalah sebuah busur, banyak sekali anak panah, juga tas kecil untuk menampung semuanya. Ujungnya adalah bulu yang berwarna biru laut. Dan yang paling mencolok di antara semua anak panah itu, ada sebuah anak panah dengan ujung bulu yang berwarna putih bersih. Dan ketika aku menyentuhnya, aku sadar kalau bulu itu adalah bulu angsa.
Lalu, tiba-tiba ada seekor angsa terbang diatas kami. Dia turun di sebelah Reina. Dan membungkuk ke arah Reina. Angsa itu tentu saja Kai.
"wah, Kai, kau bisa terbang?" Aoi kaget.
"dan untuk Kai, terima kasih banyak atas bulu angsa yang kau berikan. Kurasa Reita mempunyai tujuan kenapa dia menyihirmu seperti ini..." kata Reina.
"Reina..." kata Aoi. "apa kau bisa menghilangkan kutukan dan mengembalikan Kai seperti semula?"
Reina menggelengkan kepala, "maafkan aku. Tapi menurut peraturan sihir, harus penyihir yang menyihir orang itulah yang bisa menarik lagi kekuatan sihirnya."
Sejenak Aoi terlihat kecewa.
"dan semuanya... aku memberikan semua itu adalah untuk senjata. Senjata untuk melawan penyihir tersebut. Aku percaya kalian bisa mengalahkannya."
-
Setelah kami latihan beberapa hari di istana, kami siap berangkat menuju istana Tora yang ada di seberang laut dengan membawa senjata kami. Sebelum kami berangkat, di pelabuhan..
Reina dan kami berdiri di dekat dermaga. Dia menunjuk ke sebuah kapal yang seperti kapal bajak laut di film Pirates of The Caribbean. Kapal kayu yang cukup besar. Dan dia berkata kalau kapal itulah yang akan menjadi kendaraan kami.
"tentunya sudah ada nakhoda dan ksatria yang akan menemani kalian..." Reina menunjuk ke arah dua orang yang berjalan menuju dermaga. Dan kami melihat ada 2 orang yang berpakaian seperti... seorang pelaut. Tapi salah satunya berpakaian seperti ksatria. Karena dia membawa pedang dan memakai pakaian kebesarannya. Mereka membungkuk memberi hormat kepada Ratu.
"terima kasih sudah menyanggupi permintaanku, Juri dan Kouki..."
Kouki adalah si nakhoda dan Juri adalah si ksatria. Ya ampun, Juri tampan sekali...
"permintaan anda adalah perintah kami, Yang Mulia..." jawab Juri sopan. Reina tersenyum dan memperkenalkan kami semua. Aku langsung 'meleleh' ketika Juri menyalamiku dan tersenyum padaku.
"sudah, Kate... kembali ke bumi..." Mia menggodaku.
"tidak, Mia... kita ada di Domhan..." jawabku melantur tanpa melepaskan pandangan sedikit pun pada Juri yang terlihat berbincang-bincang sebentar dengan Reina.
Ketika kami akan naik kapal, Leda dan 3 dwarf berkata mereka tidak ikut.
"karena kami akan memberikan bantuan kepada kalian. semoga bisa berguna. Aku harus memanggil para anggota suku untuk membantu kalian. juga Leda." Jelas Keiyuu.
Tentunya kami sangat berterima kasih dengan kata-kata mereka.
Akhirnya, tambatan kapal tersebut dilepas dan kami mulai berlayar. Kami mencoba menikmati perjalanan ini sebagai pesiar, bukannya perjalanan untuk menumpas kejahatan.
"aku cukup mengenal baik laut ini karena aku sering berlayar bersama Kouki..." kata Juri.
"jadi kau tahu jalan?" tanyaku.
"ya, tentu saja. tapi... ada satu hal yang agak kutakutkan.."
"apa itu?"
Juri menunjuk ke atas langit yang mulai berwarna kelabu. Dan aku mengerti maksudnya.
Aku benci badai...
-
Side Story
Di puncak gunung yang bersalju tebal dan sangat dingin, terdapat sebuah istana. Istana itu terlihat megah namun suram dan menyimpan aura menakutkan.
Dan di puncak menara istana tersebut, adalah sebuah penyihir, dia melihat dan memperhatikan bola kaca yang ada di depannya.
Dia melihat penampakan beberapa anak manusia, seorang ksatria, dan nakhodanya sedang berlayar. Penyihir itu tersenyum.
Dan di sebelah bola kristal itu, ada seekor burung gagak hitam yang badannya cukup besar. Dan gagak itu bisa berbicara.
"tuan, sepertinya mereka berusaha untuk mengalahkan anda..." kata gagak itu.
"diam kau, Sacre. Aku tahu itu dan kau tidak usah menjelaskannya padaku." Kata si penyihir galak.
"maaf, tuan... apa anda akan mengambil tindakan?"
"tentu saja..." jawab penyihir itu.
"apa itu, tuan? Kalau aku boleh tahu..." tanya Sacre penasaran.
"apakah kau pernah mendengar tsunami dan monster laut berleher panjang?" si penyihir tersenyum licik.
Sacre ikut tersenyum. "wah, sepertinya akan berjalan sangat menyenangkan, tuan..."
"tentu saja. dan akan lebih menyenangkan lagi kalau mereka semua mati..."
