Warning :

The Characters absolutely ain't mine. This is my first story, with all its mistake. Beware of the rate. It's surely not for a child. Hehehe

Yamanaka Ino. Gadis pirang itu nampak mengusap lengannya yang terbuka. Tak nyaman dengan gaun pesta yang ia kenakan saat ini. Mini dress ketat selutut tanpa lengan, yang memamerkan bentuk tubuhnya yang indah. Dress ungu tua itu nampak kontras dengan kulit putih Ino. Dada Ino yang besar tak dapat sepenuhnya tertutup oleh style dari gaun yang ia kenakan. Penampilan Ino sangatlah anggun dan juga seksi.

Ino tengah menghadiri pesta ulang tahun Gaara Sabaku dan sekaligus pesta pengumuman alih jabatan CEO Sabaku Corp dari Rasa Sabaku, ayah gaara kepada pewaris tunggalnya. Sabaku Corp adalah salah satu perusahaan sukses dan besar di Konoha. Tak heran pesta ini dihadiri oleh orang-orang penting dan orang terdekat Gaara.

Ino sendiri, merupakan teman kecil si tuan Sabaku. Selain itu, Ino juga merupakan adik tiri dari CEO Uchiha Corp, yang mana juga merupakan kolega dari keluarga Sabaku, Uchiha Itachi.

Sewaktu Ino kecil, ayahnya, Yamanaka Inoichi menikahi seorang wanita Uchiha, yaitu Uchiha Mikoto. Mikoto sendiri memiliki dua anak dari pernikahan sebelumnya, Itachi dan Sasuke Uchiha.

Namun, tiga tahun lalu ayah Ino jatuh sakit, dan tak lama setelah itu, ia meninggal.

Ibu dan kedua kakak tirinya, bisa dibilang tak begitu baik padanya. Mikoto tak pernah menganggap atau menyayangi Ino sebagai anaknya sendiri. Ia seakan tak menganggap kehadiran Ino di rumah itu. Sasuke, kakak keduanya selalu menjahilinya dan bersikap kekanakan padanya. Sedangkan Itachi, kakak tertuanya, sangat jarang mengajaknya berbicara. Namun, Itachilah yang selalu membelanya jika Ino sedang dimarahi Mikoto atau dijahili oleh Sasuke.

Kedatangan Ino ke pesta Sabaku bukan hanya karena ia teman Gaara, namun ada tujuan lain disana. Keluarganya ingin agar Ino mendekati Gaara, dan menikahinya. Mengingat Gaara merupakan pewaris dari Sabaku Corp, pernikahan anntara Ino dan Gaara akan berdampak sangat baik untuk perkembangan Uchiha Corp. Terlebih Sabaku Corp saat ini berada setingkat di atas perusahan Uchiha.

Gaara sendiri sebenarnya memanglah sudah tertarik terhadap Ino. Namun, Gaara telah dijodohkan dengan seorang Hyuuga, pilihan ayahnya.

Perjodohan itu, semata-mata memanglah karena bisnis. Ayah Gaara ingin perusahaan Sabaku bisa bermerger dengan Hyuuga, yang notabene juga merupakan perusahaan besar di Konoha.

Gaara sangat menolak dengan perjodohan itu, karena ia mencintai orang lain, si gadis Yamanaka.

Namun keputusan ayahnya sudah bulat, bahwa Gaara harus tetap menikah dengan Hinata.

Setelah peresmian CEO Sabaku yang baru, Gaara menghampiri tempat Ino berdiri. Itachi dan Sasuke memperhatikan mereka dari jauh. Hinata pun terus mengekor di belakang Gaara, membuat Gaara tak leluasa dan nyaman untuk berbicara dengan Ino.

"Hinata, aku ingin berbicara 4 mata dengan Ino. Tolong jangan ikuti kami." Gaara lantas menarik tangan Ino, pergi dari keramaian itu.

Hinata berdiri mematung, menatap Gaara yang pergi dengan wanita lain. Sebenarnya Hinata memang memiliki rasa terhadap Gaara. Itulah sebab mengapa ia tak menolak perjodohan ini.

Ia ingin mengejar Gaara, namun laki-laki itu melarangnya. Hinata tak ingin membuat Gaara marah dan berakhir membencinya. Ia bertekad membuat Gaara mencintainya.

"Kak, kita tak mengikuti mereka?" Ucap Sasuke saat melihat Ino ditarik pergi oleh Gaara.

"Biarkan saja, Sasuke. Kita cukup menunggu disini." Itachi lantas menyesap anggur merah yang tersisa sedikit di gelasnya, namun mata tajamnya masih menatap sosok adiknya dan pria berambut merah itu semakin menjauh, keluar dari ballroom.

"Kita akan kemana Gaara?" Pergelangan tangan Ino masih digeggam oleh Gaara.

Mendapat pertanyaan, Gaara berhenti. Ia menoleh pada Ino. Gaara tak menjawab, namun tangannya berubah menggandeng Ino. Menautkan jari-jarinya pada milik Ino.

Lantas Gaara menuntun Ino menuju ruangan yang berada diujung. Kamarnya. Lagipula pesta Sabaku memang digelar di hotel milik keluarga. Jadi Gaara bebas menempati kamar manapun.

Ino tengah berdiri di depan pintu kamar Gaara. Pria itu merogoh kartu akses yang berada di saku celananya, kemudian membuka pintu itu dengan tak sabar.

Ino lantas ditarik masuk oleh Gaara. Pria itu kemudian memeluk Ino erat.

"Aku sangat merindukanmu, Ino. Ah, apa aku berlebihan, padahal kemarin kita baru bertemu." Ino pun balas memeluk Gaara, mengusap lembut punggung kokoh sang pemuda.

"A-aku juga merindukanmu, Gaara."

Entah, Ino juga tak mengerti apa yang ia rasakan terhadap pemuda yang saat ini tengah memeluknya erat itu. Karena dari awal, Ino memang memiliki tujuan lain untuk mendekati Gaara. Membuat Gaara nyaman adalah cara agar pemuda itu semakin jatuh kepadanya.

Gaara melepaskan ramgkulannya pada tubuh Ino. Tangan besarnya menangkup pipi Ino lembut. Menatap Ino dalam, dan perlahan mendekatkan wajahnya. Ino menutup matanya, merasakan lumatan ringan di bibirnya. Gaara menciumnya dengan lembut dan sarat akan rasa sayang.

Ino membalas ciuman Gaara, tangannya merambat naik ke leher pemuda itu. Mengalungkan tangannya pada leher Gaara, mengusap rambut tebal itu dengan gerakan seduktif.

Gaara merasakan tubuhnya mulai memanas. Sentuhan Ino, rasa bibir gadis itu menjadi candu baginya. Ciuman Gaara menjadi semakin intens. Ia mengulum bibir Ino dan memasukkan lidahnya mengabsen apapun yang ada di rongga mulut si gadis.

"Ugh.." Ino meleguh, merasakan payudaranya diremas halus oleh si pemuda.

Perlahan Ino di tidurkan di atas ranjang King size itu, dengan tanpa melepas tautan bibir mereka.

Tangan Gaara bergerak menjelajah tubuh Ino yang masih berbalut Pakaian. Ciumannya pun pindah pada leher gadis itu. Untungnya, Gaara masih waras untuk tidak membuat kissmark di leher Ino, mengingat pakaian yang Ino kenakan saat ini cukup mengekspos bagian leher dan bahu si gadis.

"Ahh… Gaara…" Ino meleguh kembali ketika Gaara berhasil meloloskan gaunnya. Saat ini Ino hanya menggunakan Strapless bra hitam dan celana dalam senada. Pemandangan tubuh Ino di bawahnya, membuat Gaara tak dapat lagi menahan ereksinya.

Ino pun sadar akan tonjolan di celana Gaara saat ini. Jujur Ino masih takut untuk berhubungan intim. Ya, selama ini Ino masihlah seorang virgin. Dan apa yang ia lakukan saat ini dengan Gaara adalah yang pertama kali. Biasanya mereka hanya akan memeluk dan mencium saja.

Gaara mengulum puncak payudara Ino. Membuat Yamanaka cantik itu terus mendesah. Ini merupakan pengalaman pertama kalinya, tubuhnya dijamah begitu intens.

Apakah ia akan kehilangan keperawannya kali ini? Dan dengan Gaara? Entahlah Ino tak dapat berpikir, yang ia rasakan saat ini adalah remasan tangan Gaara di payudaranya. Sedangkan bibir Gaara terus turun menciumi perut ratanya.

Gaara pun bangkit dari posisinya, merentangkan kaki Ino. Ya, dapat Gaara lihat celana dalam Ino saat ini sudahlah basah.

"Uhmm…" Ino spontan menutup mulutnya, ketika merasakan tangan Gaara membelai kewanitaannya.

Gaara lantas meloloskan satu-satunya kain yang menempel pada tubuh Ino.

Kemudian pemuda itu melucuti pakaiannya sendiri. Dapat Ino lihat otot-otot tubuh Gaara yang begitu kokoh. Tatapan Ino lantas turun ke bagian selangkangan si pemuds merah. Ino menatap ngeri penis Gaara yang sudah bangkit maksimal itu. Besar dan keras. Ino tak bisa membayangkan jika benda itu harus memasuki tububnya.

Tanpa berlama-lama Gaara menundukkan wajahnya, menghirup aroma khas bagian intim wanita.

Jujur, ini bukanlah pengalaman pertama Gaara. Ia tahu titik-titik dimana untuk membuat wanita sangat terangsang.

"G-Gaara… apa yang kau—umph… ahhh…" belum sempat Ino menyelesaikan kalimatnya, Gaara mengulum bagian intim Ino. Menyapukan lidahnya pada bibir kewanitaan Ino, sambil sesekali menggoda lubang sempit itu.

"Ahhhh… uhhhh…. Gaara…" ino tak hentinya mendesah. Sensasi yang baru Ino rasakan ini, membuatnya kepayahan.. Rasanya begitu nikmat dan juga geli. Ino pun merasakan cairan hangat mengalir keluar dari dalam dirinya. Tak menunggu lama, Gaara menjilati cairan Ino hingga bersih.

Ino masih terengah-engah selepas orgasme yang ia alami. Lantas Gaara, menggesekkan ujung penis besarnya pada vagina Ino. Gadis itu terperanjat, dan otomatis memundurkan tubuhnya.

Ya, Ino masih merasa aneh dengan kejantanan Gaara. Dengan hanya menggesekkannya saja, Ino dapat merasakan teksturnya. Begitu keras dan tebal.

"I-ino… kenapa?"

"Maaf Gaara, sepertinya aku belum siap." Ino memberanikan diri berkata jujur. Ya, membuat Gaara jatuh cinta dan tergila-gila padanya memanglah bagian dari tugas Ino. Namun jujur Ino saat ini belumlah siap untuk melakukannya dengan Gaara.

Gaara tersenyum lembut. Wajah Ino yang polos terlihat sangat lucu di mata Gaara.

"Tak apa Ino. Aku tidak akan memaksa. Tapi apa aku boleh meminjam kedua kakimu?" Gaara menatap Ino lembut.

Ino pun mengangguk. Gaara merapatkan kedua paha Ino. Lantas kemudian Gaara menyusupkan penisnya yang sudah menegang itu dicelah kedua paha Ino. Membuat vagina Ino dan Gaara saling bergesekan…

"Aah… Ino…"

"Gaara… arrhh…"

Kedua insan itu saling mendesah menikmati sensasi gesekan kedua kelamin berbeda jenis itu.

Gaara pun merasa akan sampai, ia semakin mempercepat gerakannya.

Cairan putih kental itu keluar, membasahi perut Ino. Gaara pun mendesah lega.

Gaara kemudian memagut bibir Ino dalam. Mengungkapkan perasaannya dan berterima kasih.

Gaara bangkit, mengambil tissu yang ada di meja nakas. Mengulurkannya kepada Ino.

"Apa kau butuh mandi Ino?" Tanya Gaara memastikan.

"Um, kurasa tidak Gaara. Aku cukup akan menyekanya dengan tissu. Lagipula sebentar lagi aku harus pulang kan." Ino sibuk membersihkan dirinya dari cairan-cairan akibat kegiatan panasnya barusan.

Gaarapun hanya mengangguk, dan membantu Ino merapikan rambutnya. Sedangkan Gaara sendiri, akan langsung tidur di kamar itu. Sebab ia malas harus pergi lagi ke pesta Sabaku.

Jam menunjukkan pukul 10 malam. Sesampainya di ballroom, pesta masih begitu ramai. Para kolega Sabaku bahkan masih berdatangan. Hal ini menunjukkan eksistensi Sabaku memanglah tak main-main. Para tokoh penting tak sedikit Ino lihat disini.

Itachi dan Sasuke menghampiri Ino yang baru datang.

"Darimana saja kau Ino?" Tanya Sasuke.

"A-aku…"

"Nanti saja penjelasannya, kita pergi dulu dari sini." Itachi melangkah keluar dari tempat itu dan diikuti oleh adik-adiknya.

Sesampainya di Mansion Uchiha, Ino langsung menuju kamarnya. Mandi dan membersihkan diri.

Ketika ia bersiap akan tidur, pintu kamarnya terdengar diketuk.

Inopun beranjak dari ranjangnya, menuju pintu kamarnya.

"Oh.. Kak Itachi. Ada apa?"

"Sebelumya boleh aku masuk?" Ino pun mempersilakan Itachi masuk ke dalam kamarnya.

Setelah mengambil tempat di kursi santai Ino, Itachi menjelaskan maksudnya.

"Ino. Aku ingin kau melaporkan apapun mengenai Sabaku Gaara. Kapan kalian bertemu, dimana, dan… apa yang kalian lakukan." Terang Itachi.

"Ah… Baik kak. Akan kulakukan." Ino mangangguk patuh.

"Lalu, tadi, kemana kau dan Sabaku? Apa yang kalian lakukan?" Selidik Itachi.

Ino bingung dan canggung, bagaimana harus mengatakannya kepada Itachi..

"Eto…." Itachi mengetahui gelagat Ino saat ini. Menandakan apa yang mereka lakukan tadi adalah kegiatan intim."

"Apa kau… melakukan s-…"

"Tidak! Kami tidak sampai sejauh itu." Ino langsung menyela perkataan Itachi.

Pemuda itu lantas mendekati Ino yang duduk di ranjangnya.

"Lantas? Katakan padaku Ino, apa yang dilakukan Sabaku itu padamu?" Itachi semakin gundah dan was-was.

"K-kami berciuman… lalu-" belum sempat Ino menyelesaikan kalimatnya, Itachi lantas memagut bibir Ino. Si pirang melotot kaget atas apa yang dilakukan kakaknya saat ini. Namun ia juga tak menolak pagutan kakak sulungnya itu.

Itachi melepas pagutannya kemudian. Ino membuka matanya setelah dirasa Itachi melepaskan bibir.

"Lalu?" Sambung Itachi.

"D-dia mencium leher-" lagi-lagi sebelum Ino menyelesaikan kalimatnya, Itachi langsung menjilat dan mengecupi lehernya. Tak pelak hal itu membuat Ino mendesah geli.

"Anh…" desahan Ino terdengar begitu seksi di telinga Itachi. Membuat Itachi semakin bersemangat menghisap dan menggigiti leher Ino. Justru Itachi lah yang meninggalkan kiss mark di leher Ino.

Itachi menarik diri kemudian.

"Dan?.."

"Gaara membuka bajuku… dan menyentuh semuanya." Ino tak berani menatap mata Itachi yang terasa lebih kelam dari biasanya.

Itachipun menarik Ino berdiri. Melepas gaun tidur yang saat ini ia pakai. Gaun itupun lolos dengan mudah tanpa penolakan dari Ino. Gadis itupun tak tahu, kenapa ia tak menolaknya. Apakah ia terlalu takut, atau memang hal lain, entahlah.

Itachi kemudian melepas bra dan celana dalam Ino. Membuat Ino sepenuhnya telanjang di hadapannya. Bersih. Itachi tak melihat adanya kiss mark di tubuh Ino.

Itachi lantas mendorong tubuh Ino hingga telentang di ranjangnya. Perlahan ia menindih tubuh Ino, mengungkung gadis itu. Lantas, bibir Itachi aktif mengulum gundukan daging besar yang sedari tadi begitu menggodanya itu.

"Ahnn… aaah…" kuluman Itachi pada payudaranya terasa lebih kasar dari apa yang dilakukan Gaara. Namun Ino merasa lebih bergairah dengan apa yang dilakukan kakaknya sekarang ini.

Tangan besar Itachi merayap turuN ke area bawah Ino. Merasakan vagina Ino sudah basah. Telapak tangan hangat itu membelai kewanitaan Ino. Membuat si gadis semakin kepayahan akan perbuatan kakanya. Satu tangan Itachi yang lain masih sibuk meremas payudara sintal adiknya, sedangkan tangan yang satu lagi sibuk bermain dengan area privat Ino yang saat ini semakin basah.

"Aahhh… aaahh… hmmm." Sensasi yang ia rasakan, seakan ada ribuan kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya di dalam perut Ino.

"Aakkh…" Ino menjerit ketika dirasanya satu jari Itachi memasuki vaginanya.

"Ah…" Ino merasa nikmat setelahnya.

Gilaa… Itachi benar-benar bisa gila jika terus begini. Lantas, pria tampan itu membuka celananya dengn terburu-buru. Menarik turun semua kain yang menutupi bagian bawahnya, tanpa repot melepas kaos polos yang ia kenakan.

Untuk yang pertama kali, Ino melihat bagian bawah tubuh kakanya yang telanjang. Apalagi dengan kondisi penis yang telah menegang penuh. Bahkan lebih besar dari punya Gaara. Urat-urat kokoh yang menyelimutinya, membuatnya terlihat semakin menyeramkan bagi Ino.

"Kak…"

"Ya, aku tahu. Kau dan Gaara tidak sampai melakukannya. Tapi aku sudah tidak bisa menahannya Ino. Rasanya aku hampir gila melihat kau pergi dengannya tadi, dan menebak apa yang sialan itu lakukan padamu."

Ino terkejut dengan apa yang diucapkan kakaknya barusan. Apa itu artinya Itachi khawatir kepadanya? Atau apa?

Dan tiba-tiba dapat Ino rasakan sesuatu yang besar dan keras mencoba memasukinya.

"Aaargggh… sakit…. Ahhhhhghh…" Ino mengerang kesakitan. Ya, ini adalah yang pertama bagi Ino. Terlebih penis Itachi begitu besar, berusaha menerobos keperawannya.

Itachi tahu Ino kesakitan, namun ia tak bisa berhenti. Ia terus berusaha melesakkan penisnya ke dalam Ino.

"Aaah… ughh…" Itachi tak tahan untuk tak mendesah. Vagina Ino benar-benar sempit dan seakan mencengkram penisnya erat.

"Aaaaaah…" Akhirnya Itachi dapat memasukkan kejantanannya secara penuh ke dalam Ino. Ya, Itachilah yang akhirnya merenggut kegadisan adiknya.

Dilihatnya, darah segar merembes keluar dari dalam Ino. Ya, ia tahu apa yang ia lakukan sekarang.

Selama ini, memang ia menyukai Ino. Sebenarnya, ia tak tega dan tak rela jika Ino harus menikahi Gaara. Namun semua ini juga demi keluarganya, lagipula Itachi tak ingin Ibunya dan juga Sasuke tahu kalau ia menyukai adik tirinya.

"Uuuhhhgh…. Kak…" Ino mendesah ketika Itachi mulai bergerak di dalam dirinya.

"Aaah…." Desahan Itachi tak tertahankan. Dinding-dinding vagina Ino serasa mencengkram dan meremas penisnya..

Ino semakin merasakan nikmat, ketika Itachi bergerak semakin kasar dan cepat. Ya, Ino sangat terngsang sekarang. Penis Itachi di dalamnya seakan berdenyut-denyut, siap untuk mengeluarkan benihnya.

"Aaah… uh…."

"Aahnn… ohhh…"

Desahan keduanya tak dapat ditahan lagi, ketika keduanya mencampai puncak bersama. Dapat Ino rasakan cairan hangat mengalir memasuki rahimnya. Saat ini memang bukan masa subur Ino. Namun Ino merasa was-was jika ia hamil. Itachipun paham akan gelagat bingung Ino.

"Besok aku akan memberimu pil kontrasepsi. Kau tak akan hamil dengan itu."

Ino pun mengalungkan kedua lengannya pada leher Itachi. Menggiringnya mendekat. Lantas Ino mengecup singkat bibir tebal pria itu.

"Ahhh…" penis Itachi yang masih ada di dalam tubuh Ino, menegang kembali.

Ia pun membalik posisi tubuh Ino menjadi telungkup. Itachi mengangkat pinggul Ino dan melakukan penetrasi dari belakang. Posisi ini membuatnya semakin terangsang, dengan pemadangan punggung mulus Ino dan dua bongkahan pantat bulat yang sekal.

Plakkk… Itachi pun menampar pantat Ino dengan keras.

"Aaakh…" Ino mengerang kesakitan akibat tamparan Itachi di pantatnya, dan juga penis Itachi yang bergerak semakin cepat. Namun hal itu malah membuat Ino semakin merasa panas.

Kegiatan itu pun tak berakhir begitu saja. Keduanya saling merengkuh apa yang mereka butuhkan sampai keduanya merasa cukup. Kedua insan itu tengah diliputi nafsu dan perlahan perasaan itu semakin tumbuh di antara keduanya.

To be Continue….

Alohaaaa… Hi Minna!

Semoga cerita pertamaku di dunia perfanfic an ini menghibur kalian di tengah pandemi ini ya.

Jaga kesehatan Minna! Jangan sampai sakit!

Oiya, aku terbuka untuk sarannya, mengingat tulisanku masih banyak kekurangan. Hihi.

Jangan lupa tinggalkan review kalian agar aku tambah semangat nulisnya ya Minna!

Arigatou…