KATE'S POV

Kouki menjalankan kapal dengan kecepatan normal. Tidak ingin terburu-buru. Sebenarnya, kami ingin cepat sampai. Karena badai sepertinya akan datang tidak lama lagi.

Aku mendekati Kouki yang sedang mengendalikan kemudi kapal di atas dek. Aku bertanya padanya apa masih jauh untuk sampai ke seberang.

"seharusnya sih, tidak jauh. Tapi entah kenapa perjalanan kita sepertinya tidak berujung..." Kouki mengambil teropong pengintai yang dia taruh di saku jasnya, dan mencoba untuk mencari daratan atau semacamnya di ujung laut depan. Dia menggelengkan kepalanya. Hasilnya nihil.

"apa kita tersesat?" tanyaku.

"seharusnya tidak. Kompas menunjukkan arah yang benar. Aku takut kalau kita bertemu naiad..." wajahnya menunjukkan kekhawatiran.

"naiad?"

"mereka adalah makhluk yang mirip mermaid namun jahat. Dengan nyanyiannya yang merdu, dia menghipnotis para pelaut yang ada di dekat mereka sehingga mereka tidak sadarkan diri lalu kapal mereka menabrak batu karang dan tenggelam..." Juri tiba-tiba berdiri di sebelahku.

"semoga kita tidak bertemu mereka. Laut ini adalah daerah kekuasaan mereka." Ujar Kouki penuh harap.

Setelah Kouki berkata seperti itu, aku merasakan ada air yang menetes di lengan dress biruku (saat di istana es kemarin Reina memberi kami baju ganti karena pakaian kami yang lama sudah kotor sekali). Ketika aku menyadarinya, aku mendongak ke atas. Hujan mulai turun.

Badai akan datang dengan cepat...

-

Sudah hampir 2 jam kami berlayar. Pakaian kami basah tapi tidak kunjung sampai juga. yang lain mulai mempertanyakan kenapa mereka tidak sampai juga. terlebih Aoi yang daritadi sudah muntah-muntah karena mabuk laut. Cuaca yang tadinya hanya gerimis kini mulai hujan.

Ketika kami berkumpul bersama di dekat Kouki yang memegang kendali, dia meminta kami untuk menaikkan layar. Karena takut layar yang terkembang akan robek.

Tapi, ketika kami berusaha untuk menutup layar, kami mendengar suara nyanyian yang sangat merdu.

Suara merdu itu menyanyikan lagu yang membuat kami terbuai. Membuat kami melupakan semua kesibukan kami. Aku melihat yang lain. Mereka diam saja walaupun ombak sudah mulai membesar dan hampir saja membanjiri dek. Kouki sudah melepaskan kendalinya, Juri juga diam.

Aku sendiri, entah mengapa sangat menyukai nyanyian merdu yang sepertinya dinyanyikan oleh gadis ini. Dan aku bisa melihat sosok mereka. Mereka berada di permukaan air laut. Mereka sangat cantik. Rambut mereka pirang keemasan, mengenakan mahkota yang terbuat dari rumput laut yang bagus. Aku bisa makhluk-makhluk berekor seperti mermaid itu masih terus bernyanyi dan tersenyum ke arah kami. Mereka berenang menuju kapal kami yang mulai terombang-ambing karena ombak yang besar. Aku tahu mereka adalah naiad. Aku ingin berteriak tapi tidak bisa. tubuhku kaku.

Tiba-tiba, aku merasakan sebuah hantaman yang sangat keras sehingga aku kehilangan keseimbangan dan jatuh di atas dek. Aku dan yang lain langsung sadar sepenuhnya. Suara nyanyian naiad sudah berhenti. Ketika kami sadar, kami melihat bagian depan kapal kami menabrak karang.

Oh Tuhan...

"naiad!" Kouki langsung berteriak. Namun teriakannya tidak seberapa terdengar karena suara hujan badai yang semakin deras.

Setelah mendengar Kouki berteriak, kami langsung mengambil tindakan. 2 naiad yang kami lihat wajahnya sudah berubah. Wajah mereka yang tadinya sangat cantik tiba-tiba menjadi sangat mengerikan. Mereka mempunyai taring dan kuku yang tajam. mereka berenang dengan cepat ke arah kami yang tidak bisa pergi karena kapal kami yang rusak.

Aku mengambil busur dan sebuah anak panah dari kantong yang aku bawa di punggungku. dan aku siap untuk menembak mereka. Tapi...

Mereka tiba-tiba berhenti dan terlihat sangat ketakutan. Mereka langsung berbalik dan berenang menjauhi kapal kami.

"mereka pergi..." kata Ruth.

"lebih baik aku perbaiki kapal. Sepertinya kerusakannya tidak terlalu parah." Teriak Saga ketika dia melihat luka kapal yang tidak seberapa. Hanya beberapa kayu yang patah dan berlubang. Tapi kalau diabaikan, kapal bisa tenggelam. Apalagi dalam keadaan badai seperti ini.

Saga mengambil tangga tali yang ada di dekatnya. Lalu membentangkan tangga itu di bagian luar kapal. Dengan hati-hati, dia turun dengan membawa perlengkapannya. Cukup bernyali juga dia.

"hati-hati, Saga!" teriak Shou.

"kau tidak bisa menjalankannya Kouki?" tanya Juri.

"tidak bisa... aku takut kalau aku menjalankannya kapal malah akan tenggelam. Lebih baik kita tunggu Saga memperbaikinya. Ayo kita bantu dia." Kouki berlari untuk membantu Saga diikuti oleh para cowok.

Mia, yang tidak berbuat apa-apa. Hanya melihat laut dari pinggir kapal.

"Mia! Jangan ke pinggir! Nanti kau jatuh!" teriakku. Tapi Mia diam saja. dia malah melongok lebih jauh ke arah permukaan laut.

"Mia..." aku mendekatinya dan menarik lengannya. Namun dia tidak bergeming.

"hei.. kau penasaran tidak kenapa naiad tadi tiba-tiba ketakutan padahal sebelumnya mereka bernafsu ingin memangsa kita?"

"Mia... aku tahu kau penasaran. Tapi... jangan dekat-dekat pinggir kapal. Nanti kau jatuh..." aku menariknya.

"lihat..." dia menunjuk ke permukaan laut. "ikan-ikan banyak yang berlarian... sepertinya mereka takut..."

"mungkin mereka takut karena badai?"

"entah kenapa perasaanku tidak enak, Kate.. kurasa lebih baik suruh Saga dan yang lain kembali."

"hei! Apa itu!" seru Ruth yang berdiri di belakang kami. Dia menunjuk ke kejauhan. Kami melihat ada sirip yang sangat besar melintasi permukaan laut. Sirip itu berwarna putih. Dan dia melintas dengan sangat cepat dan menuju ke arah kami.

"Saga! Kawan-kawan! Cepat naik!" teriakku ke mereka. Kai, langsung terbang menghampiri mereka. Bersuara dengan sangat keras agar mereka mau naik.

"ada apa, Kate? Kenapa kalian terlihat panik?" tanya Juri.

Aku tidak menjawab. Aku masih menatap sirip mengerikan itu yang jaraknya kini hanya beberapa puluh meter di depan kami. Aku menyiapkan anak panahku dan busurnya lagi.

Dan ketika Juri melihatnya, dia langsung mengeluarkan pedang dari sarungnya yang ada di pinggangnya.

"jangan-jangan ini..." dia terlihat takut.

"apa? Tolong jangan katakan hal yang menakutkan..." jawab Ruth.

"sea serpent!" Juri langsung berteriak ketika pemilik sirip mengerikan itu menampakkan wujudnya dari dasar laut. ular itu juga memperlihatkan ekornya. Ular laut raksasa yang panjangnya kira-kira 200 kaki dan lebarnya 20 kaki itu menyeringai dan memperlihatkan juga taring-taringnya yang tajam. dia meraung dan membuat telinga kami merasa pekak.

"cepat naik!" teriak Juri pada Aoi, Shou, Akito dan Saga yang masih berusaha naik kembali ke atas dek. Mereka langsung terkejut dan ketakutan ketika melihat sosok ular raksasa yang berwarna hitam pekat itu. ular itu menatap kami dengan matanya yang merah menyala.

Dia lalu mengangkat ekornya. Lalu membantingnya ke laut. menciptakan ombak yang sangat dahsyat ke arah kapal kami. Kami langsung tersapu habis. Untungnya kami masih berada di atas dek.

"bagaimana kita melawannya, Juri!" teriak Kouki.

"aku tidak tahu! Bukankah ular seperti ini tidak ada di laut ini!"

Kami tahu, dengan senjata yang kami bawa sekarang, kami tidak akan mungkin melawannya. Kecuali...

"kalau aku bisa menembak matanya, mungkin akan bisa..."

"kau gila! Panahmu tidak akan bisa membuat mata raksasa itu merasa kesakitan!" kata Shou.

"tidak ada salahnya kan dicoba!" sekarang ular laut itu berusaha untuk menghancurkan kapal kami dengan cara yang sama, menyapunya dengan ombak air laut yang dia buat.

Dia menundukkan kepalanya. Entah kenapa, ular laut ini tidak menyerang kami. Padahal kalau dia lapar, dia hanya tinggal mencaplok kami dengan mudahnya.

Tapi ketika dia melihat Kai yang terbang rendah di atas dek, dia menyeringai lagi.

Dia sudah menemukan mangsanya. Dia meliuk-liukkan kepalanya untuk mengejar Kai. Kai dengan gesit menghindar.

"Kate! Sekarang kesempatannya!" teriak Juri. Kepala ular laut itu merendah sekarang. semua orang sudah merunduk dan berlindung di tempat yang agak tersembunyi. Seperti di balik tiang layar kapal yang besar.

Dan dengan hati-hati, aku membidik sasaranku. Dan dengan cepat, aku melepaskan anak panahku ke arah mata ular laut yang menunduk untuk mencari Kai.

Tapi aku tidak beruntung, tembakanku meleset. Panahku malah menancap di bawah matanya. Mungkin rasanya tidak terlalu sakit bagi ular laut itu, tapi dia merasakannya. Maka dari itu sasarannya kini beralih ke aku.

Aku berlari dengan susah payah di sekeliling dek berusaha menghindari serangannya. Tapi efeknya adalah, kapal semakin rusak. Aku bisa mendengar lagi suara retakan kayu yang berasal dari lubang kapal yang tadi diperbaiki Saga. Dan kini, ular laut itu juga berusaha menghancurkan dek kapal.

Saat aku berlari sampai ujung dek, tiba-tiba ular itu bergerak dari samping kapal dan menuju ujung dek. Dan menyeringai di depanku. Aku langsung berteriak ketika melihat wajah seram itu tahu-tahu sudah di depanku.

Dia membuka mulutnya. Aku sudah pasrah. Aku menutup mataku. Tidak mau melihatnya lagi. setelah ini dia pasti akan memakanku.

Aku bisa mendengar teriakan yang lain di belakangku. Tapi aku tidak menoleh.

Namun, ular itu tidak segera memakanku juga. gantinya, aku malah mendengar suara raungan hewan lain.

Ketika aku membuka mataku, aku melihat ada monster laut lain. Dia berleher panjang dan mempunyai 4 sirip seperti anjing laut di sisi kedua badannya. Masing-masing sisi mempunyai 2 sirip. Dan kalau di dunia kami, dia muncul di perairan danau Skotlandia, dan kami menyebutnya...

Loch Ness...

Loch ness itu menerkam tubuh ular laut tersebut. Membuat ular laut raksasa itu mengerang kesakitan. Mereka jatuh ke dalam laut sesaat.

Yang lain langsung keluar dari persembunyian mereka dan mendekatiku. "kau tidak apa-apa?" yang lain bertanya.

Aku hanya mengangguk, tetap menatap kedua monster itu saling berkelahi. Aku bisa melihat ular laut itu mengeluarkan darah dari tubuhnya karena gigitan loch ness tersebut.

Dia sama sekali tidak memberikan kesempatan untuk ular itu menyerangnya. Loch ness masih menyerang dan menyerang.

Akhirnya, ular laut itu menyerah dan lari menjauh dengan tubuhnya yang penuh darah.

Untuk sesaat, kami merasa senang akhirnya ular itu pergi. Tapi kami takut monster loch ness akan menjadi monster berikutnya yang akan menyerang kami.

Loch ness tersebut menoleh ke arah kami. Dia tidak melakukan apa-apa. Dan tiba-tiba, hujan badai mulai mereda. Ombak mulai berhenti bergulung dengan ganas. Langit mulai cerah. Dan loch ness itu berbalik dan menyelam lagi ke dasar laut. sama sekali tidak ada niat untuk menyerang kami atau menghancurkan kapal kami.

"waw... aku baru melihat monster itu... ada yang tahu?" tanya Kouki heran.

"ya, dia Loch Ness. Dia menjadi legenda di dunia kami. Tapi... kenapa dia bisa ada disini?" jawabku.

"kita pikirkan saja nanti. Lebih baik kita perbaiki kapal. Lubang malah bertambah." Saga kembali turun ke bagian dia memperbaiki kapal tadi. Tanpa ragu, dia malah melepas pakaiannya sehingga dia telanjang dada dan menceburkan dirinya ke laut. hanya untuk bisa memperbaiki lubang kapal yang ada di bagian bawah kapal dengan leluasa.

"sial, pakaianku basah semua..." Ruth dan Mia menggerutu ketika menyadari dress mereka basah dan mereka mulai kedinginan. Dan aku juga merasakan hal yang sama.

"yah, yang penting ular laut dan loch ness sudah tenang disana." Sahut Aoi.

"dan banyak ikan..." Akito menunjuk banyak ikan yang ada di atas dek. Ikan-ikan itu menggelepar-gelepar karena tidak lagi berada di atas air.

"kurasa lebih baik mereka dikembalikan ke tempat asal mereka." Tanpa ragu dan merasa jijik, Shou mengambil beberapa ikan dengan tangannya dan dengan cepat dia melemparkannya ke laut lagi. sampai semua ikan yang ada di dek habis.

"lebih baik aku bantu Saga dulu..." kata Aoi. dia juga melepas pakaiannya sehingga ikut telanjang dada dan menyeburkan dirinya ke air. Membantu Saga. Akito dan Shou juga ikut.

"wah! Untung coklatku tidak hilang!" Ruth mengambil sebuah coklat berbungkus besar merk Van Houten rasa cashew nut dari kantong dressnya. "kalian mau?" dia menawariku dan Mia.

"mau!" seru kami.

"kalian juga mau?" Ruth menawari Kouki dan Juri.

"oh, tidak usah. lebih baik aku mengurusi bagian kapal yang lain." Jawab Kouki. Dia mencoba membuka layar kapal. Walaupun basah, tapi setidaknya dia bisa berkembang. Dan layar kapal akan kering dengan cepat.

"oke, kapal mungkin akan cepat diperbaiki. Tapi..." Juri mendekati kami bertiga dan berpikir. "kita masih tersesat..."

Kami baru sadar kalau kami masih berada di tengah-tengah laut. tanpa ada pemandangan daratan di depan mata kami.

"jadi kita harus bagaimana?" tanyaku.

Lalu, Juri teringat sesuatu. "oh iya! Panggil dia saja!" Juri mengeluarkan sesuatu dari kantong pakaiannya. Sebuah peluit kecil yang terbuat dari kerang. Dia meniup peluit itu.

"untuk apa kau meniup peluit itu, Juri?" tanyaku. Dia hanya menjawab, "nanti kau juga akan tahu..."

Beberapa lama kemudian, aku bisa melihat dari sisi kanan kapal ada seseorang yang sedang berenang mendekati kapal kami. Sepertinya dia mermaid. Kami berdiri di pinggir kapal. Dan kami langsung tahu siapa mermaid itu. dia sangat cantik. Rambutnya berwarna cokelat madu dan memakai bikini (kalau aku menyebutnya begitu) berwarna ungu. Dan ekornya juga berwarna ungu juga.

"ada apa kau memanggilku?" tanya mermaid pada Juri. Kami, para cewek masih menganga dengan wajah mermaid itu. dia memang cantik, tapi... kenapa rasanya janggal ya?

"oh, Uruha.. kau tahu keadaan kami sekarang."

"kenapa kapalmu bisa rusak seperti ini?" tanya Uruha. "tidak biasanya..."

"karena tadi ada badai dan juga kemunculan ular laut raksasa yang menyerang kapal kami." Jawab Juri.

"oh... pantas saja Loch Ness pergi..." jawab Uruha santai.

"hah? Kau tahu Loch Ness?" tanyaku.

"ya, dia memang monster yang banyak tingkah. selalu bermain kesana kemari sampai dia tanpa sadar melewati portal menuju dunia manusia. dan dia terkenal di dunia sana."

"dia temanmu?" tanya Juri.

"bisa dibilang begitu. Dia selalu meminta jatah ikan padaku. Dia benci pada ular laut. makanya dia menolong kalian."

Lalu, kami melihat cowok-cowok sudah selesai memperbaiki kapal dan naik kembali ke kapal. Mereka penasaran dengan siapa kami berbicara.

"kalian berbicara pada siapa...?" tanya Aoi. dan Aoi langsung kaget ketika melihat sosok Uruha di bawah.

"semua, perkenalkan, dia Uruha. mermaid temanku." Juri memperkenalkan Uruha.

"mermaid? Lho? Dia cewek ya?" tanya Aoi tidak percaya.

"apa maksudmu? Tentu saja aku wanita!" Uruha agak tersinggung.

"aku bingung. Kalau kau cewek, kenapa dadamu rata? Dan kalau kau cowok, kenapa kau cantik?" Aoi menunjuk dada Uruha.

"Aoi!" aku menyikut lengan Aoi.

"huh, kalian manusia jahat!"

"kau tahu kami manusia, Uruha?" tanya Mia.

"tentu saja. dari wangi kalian."

"wangi?" Aoi mencium keteknya sendiri. "sial, rasanya asin..."

"bodoh!" Akito menjitak kepala kakaknya. "tentu saja. kan tadi kita baru saja menceburkan diri ke laut!"

"oke, kembali ke Juri. Ada apa kau memanggilku?"

"kapal sudah selesai diperbaiki. Aku ingin meminta tolong padamu. kau bisa membimbing jalan kami menuju daratan? Aku harus membawa mereka ke istana Raja Tora..."

Uruha menggelengkan kepalanya. "tidak mau. buat apa aku membantu manusia-manusia kasar seperti mereka."

Semua kini menatap Aoi.

"hey, ada apa denganku?" Aoi merasa tidak bersalah. "sekarang aku percaya kok dia cewek dari suaranya yang merdu itu."

"ayolah, Uruha... kami mohon padamu..." aku meminta pada Uruha.

"tidak. Kecuali kalau kalian mau memberikan sesuatu sebagai permintaan maaf."

"Uruha, bagaimana kami bisa memberikan kau sesuatu sedangkan seluruh barang-barang kami sudah tersapu oleh badai tadi?" jawab Kouki.

"kalau begitu..." tiba-tiba pandangan Uruha tertuju pada cokelat Van Houten yang dipegang Ruth.

"aku akan membantu kalian kalau kalian memberiku itu. aku belum pernah melihat benda itu sebelumnya." Uruha menunjuk cokelat milik Ruth.

"apa? Kau mau cokelatku?" tanya Ruth kaget.

"oh... jadi namanya cokelat ya? bisa dimakan?" tanya Uruha.

"tentu saja bisa dan aku tidak akan memberikannya padamu. ini persediaanku satu-satunya."

"kalau begitu, aku tidak akan membantu kalian. sampai jumpa." Uruha berbalik dan hendak untuk menyelam lagi. tapi dicegah oleh Akito.

"tunggu, tunggu! baiklah, Ruth akan menyerahkan cokelatnya untukmu." Akito melirik Ruth dan memberi isyarat kalau dia harus memberikan cokelat itu.

"berikan saja, Ruth. Daripada kita tersesat terus..." bujuk Mia. Uruha berbalik dan terlihat senang ketika Ruth melemparkan cokelat miliknya ke tangan Uruha. Uruha mengambil sepotong kecil cokelat itu dengan jarinya dan memakannya. Dia menikmatinya.

"mm... rasanya enak..."

"ah, rasanya aku seperti melihat model iklan cokelat di iklan TV..." komentar Akito.

"ssh! Diam!" kini aku menyikut Akito.

"nah, kau bisa memakan sisanya nanti. Sekarang antar kami..." pintaku.

"baiklah, baiklah. Kalian tidak sabaran sekali, sih?" Uruha menggerutu. "kalian sudah siap? Ikut aku." Uruha lalu menyelam lagi dan menuju ke bagian depan kapal. Membimbing kami.

Dengan usaha yang agak keras, Kouki berusaha mengendalikan kapal lagi.

Dan kami mengikuti Uruha.

"hahaha... mermaid yang aneh..." komentar Aoi.

"memangnya kenapa?" tanyaku.

"aku bisa membayangkan dia duduk di atas batu karang sambil makan cokelat dan monster Loch Ness itu datang untuk meminta."

"kau ini, Loch Ness mana mungkin suka cokelat..."

"ini Domhan, Kate... segala hal yang aneh bisa terjadi disini."