Warning :

The Characters absolutely ain't mine. This is my first story, with all its mistake. Beware of the rate. It's surely not for a child. Hehehe

FLASHBACK…

Gadis pirang kecil itu menggenggam erat tangan ayahnya, dengan netranya yang menelusuri sekeliling. Ia dan ayahnya tengah berjalan di tengah taman, atau lebih tepatnya halaman rumah megah yang terdapat taman bunga luas disana. Ino yang menyenangi bunga tentu saja tak bisa mengalihkan pandangannya barang sedikit.

"Ino… Perhatikan langkahmu. Jangan sampai kau terluka." Nada suara lembut sang ayah memperingatinya.

"Baik ayah." Ino menurut.

Dan sampailah mereka di depan pintu tinggi yang sudah terbuka lebar, seakan memang menyambut mereka. Seorang maid tua datang, diikuti beberapa maid lain di belakangnya.

"Selamat Pagi, Tuan Yamanaka, dan hai gadis manis. Nyonya sudah menunggu di dalam." Sapanya ramah pada Ino dan Inoichi.

"Pagi, Chio Obasan. Terima kasih banyak. Ayo Ino." Inoichi melangkah masuk pada mansion megah itu dengan Ino yang masih digandengnya.

Di dalamnya, terlihat seorang wanita cantik berambut gelap tengah duduk di sofa bludru yang nampak mahal, dengan santai menyesap tehnya. Tak lupa, dua anak laki-laki yang saat ini tengah memandangi Ino dan ayahnya. Ino merasa… sedikit takut.

"Oh sayang… kau sudah datang?" Mikoto bangkit dan memeluk Inoichi.

"Maaf, kau pasti sudah menunggu sejak tadi bukan?"

"Tak apa, bukan masalah untukku sayang. Oh hai Ino, kemarilah, berkenalanlah dengan Itachi dan Sasuke. Itachi, Sasuke, ajak Ino bermain oke? Ibu sedang ada pembicaraan dengan paman Inochi." Itachi mengangguk, sedangkan Sasuke langsung pergi begitu saja.

"Ayo Ino." Itachi menggenggam tangan Ino. Gadis kecil itu nampak takut dan segan. Namun tatapsn lembut Itachi, membuatnya percaya dsn mengekor di belakang Itachi.

Itachi membawa Ino ke balkon halaman belakang. Ino dapat melihat pemandangan indah dari atas sana.

"Wahh…" Ino kecil terkagum-kagum. Ino duduk di kursi berhadapan dengan Itachi. Bocah laki-laki itu tersenyum tipis, melihat betapa polosnya anak kecil di depannya itu.

"Hei.. Jadi kau ya anak paman Inoichi?" Ino menoleh pada seseorang yang baru saja duduk di sampingnya, Uchiha Sasuke.

Ino mengangguk.

"Cih! Jadi kau akan jadi adikku ya? Merepotkan." Sasuke menyeringai.

Berbeda dari Itachi yang lembut, Sasuke terlihat tak begitu bersahabat.

"Sasuke! Perhatikan bicaramu." Itachi memperingatkan.

"Wah apa ini? Kau tampak seperti kakak sungguhan baginya. Haha." Mata Ino berkaca-kaca, ia benar tak nyaman berada di dekat Sasuke. Itachi yang pandai membaca situasi, beranjak dari posisinya dan menggandeng Ino pergi dari sana.

"Ino, Kak Sasuke memang seperti itu. Ino tidak boleh menangis, oke?" Itachi mengusap kedua mata Ino. Sekali lagi, Ino hanya mengangguk.

Selang beberapa minggu, terjadilah pernikahan Inoichi dan Mikoto. Ino dan ayahnya otomatis pindah dan tinggal di Mansion Uchiha. Meskipun hidupnya akan tercukupi disana, namun Ino merasa kurang nyaman dan terbiasa.

Ia sangat-sangat ingin berbicara kepada ayahnya, bahwa ia belum bisa sepenuhnya beradaptasi dan ingin mereka kembali ke rumah lama. Namun, melihat betapa bahagianya Inoichi, Ino kecilpun merasa tidak ingin mengganggu kebahagiaan sang ayah.

Tahun demi tahun Ino jalani sebagai keluarga baru Uchiha. Dirinya sudah beranjak dewasa, begitu pula dengan Sasuke dan Itachi. Ino terpaut 3 tahun dengan Sasuke, dan 7 tahun dengan Itachi. Mikoto juga begitu baik padanya, hingga ayahnya meninggal. Semenjak itu, Mikoto berubah. Ia tak seperti ibu yang ia kenal dulu. Satu-satunya orang yang diam-diam peduli dengannya hanyalah Itachi.

Itachi selalu membantunya ketika ia menemui kesulitan, tentu saja tanpa sepengetahuan Ibunya atau Sasuke.

Menurut Ino, Sasuke sendiri adalah yang paling menyebalkan. Ia selalu bermain-main dan semaunya sendiri. Jika Itachi cenderung orang yang pendiam, maka Sasuke adalah kebalikannya.

FLASHBACK END

Ino berbaring pada sunbed menikmati sinar matahari yang tak begitu terik, sembari mengeringkan dress pantainya yang basah. hari ini langit begitu cerah dan matahari begitu ramah, lagipula sunblock andalannya sangat efektif melawan sinar uv.

"Nah Ino.. Pantai tak begitu buruk kan?" Gaara tiba-tiba menghampiri tempat Ino dan memberikan minuman segar kepada Ino.

"Yah.. kau benar." Ino tersenyum cerah, menikmati jus dingin kesukaannya.

Tiba-tiba saja Ino teringat sesuatu.

"Ah aku baru ingat. Bukankah Kak Itachi akan pulang hari ini?"

"Um.. Ya Kau benar Ino. Kalau sekarang harusnya Itachi-san sudah di pesawat." Gaara melihat arlojinya.

"Mengapa kau tak mengingatkanku Gaara?" Ino protes.

"Untuk apa? Lagipula dia bisa pergi sendiri ke bandara. Besok pun kita juga sudah harus pulang Ino, aku hanya ingin waktumu saja disini." Gaara menunjukkan rasa tak sukanya secara terang-terangan.

Mengerti Gaara sedang kesal, Ino memberikan satu kecupan ringan di bibir pemuda itu.

"Aku mengerti, tak usah marah ya?" Ino membujuk.

Gaara hanya terdiam. Namun jari telunjukkan menyentuh bibirnya sendiri, memberi isyarat pada Ino bahwa ia ingin ciuman lagi sebagai syarat. Wanita itu tersenyum geli, lantas memberikan apa yang diminta pemuda itu.

Ino sangat senang, sudah lama sekali ia tak berlibur seperti ini. Terlebih, Gaara sangat-sangat memperhatikannya. Beban yang selama ini ia bawa, terasa lebih ringan.

Satu harian penuh mereka habiskan dengan bersenang-senang. Ino merasa menjadi dirinya sendiri ketika bersama pria merah itu. Tak ada rasa takut, tertekan maupun gelisah. Ia sangat ingin bisa mencintai Gaara dengan sepenuh hatinya. Ia akan belajar untuk itu.

Hari sudah petang. Setelah selesai dengan makan malam mereka, Ino bergegas membersihkan diri. Selagi Ino mandi, Gaara merapikan barang-barang yang akan mereka bawa. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia menuju meja kecil dan mengambil satu benda kecil yang sedikit tertutupi vas bunga. Sebuah microcamera. Gaara tahu tindakannya ini sangat keterlaluan dan kekanakan. Ia juga terkesan overprotective dan posesif. Tapi sungguh, ia sangat mencintai Ino, dan ia harus melakukan ini. Jujur Gaara sangat curiga dengan sikap Itachi kepada Ino. Agaknya kedatangan Itachi ke Suna juga tak hanya semata-mata urusan bisnis. Tetapi, karena Ino.

Hubungan keluarga mereka begitu palsu di mata Gaara. Ino dan Itachi bukanlah saudara sedarah, dan sangat maklum untuk ia merasa was-was.

Gaara hanya khawatir ketika saat ia tak ada, Itachi menemui Ino diam-diam atau sebaliknya. Makanya ia memutuskan untuk mengawasi Ino. Sungguh ia sangat berharap semua hanya kecurigaannya semata. Ia berharap kamera itu tak menunjukkan apapun yang berarti.

Gaara mencoba menyambungkan kamera itu pada handphonenya, namun gerakannya terhenti terinterupsi oleh sang wanita.

"Gaara? Sedang apa? Sebaiknya kau mandi dulu." Ino mengeringkan rambutnya yang masih basah.

"Oh.. Y-ya Ino. Kau sudah selesai?" Gaara dengan cepat memasukkan kamera dan handphonenya ke dalam tas kerjanya.

Ino hanya mengangguk mengiyakan. Gaara segera bergegas menuju kamar mandi. Ino cukup penasaran apa yang dilakukan Gaara. Sebab, ia sempat melihat Gaara memegang sesuatu dan terburu menyembunyikannya ketika ia datang.

Apapun itu, Ino tak ingin menuruti rasa penasarannya itu. Ia tak ingin mencampuri urusan Gaara terlebih jika itu menyangkut pekerjaannya. Ino merasa tak cukup berhak, tak semua hal harus ia ketahui.

Gaara telah selesai dengan kegiatannya. Ino sudah tertidur lelap dengan selimut sebatas leher. Nampaknya Ino sedikit kelelahan, tapi ia juga bahagia bisa melihat Ino begitu ceria hari ini.

Gaara duduk di samping Ino. Ia mengelus pucuk kepala Ino, dan menciumnya. Lalu, mencium kedua matanya yang tertutup secara bergantian. Turun, mengecup pucuk hidung ramping sang wanita. Dan terakhir, mengecup manis bibir Ino. Gaara tersenyum. Ino begitu damai dalam tidurnya, dan terlihat sangat cantik.

Ia ingin Ino menjadi miliknya dan menua bersama. Ia sangat mencintai gadis itu.

Setelah berpakaian, Gaara mengambil kembali benda yang tadi sempat ia sembunyikan. Namun pergerakannya terhenti. Ia ragu apakah ia harus mengecek kamera itu atau tidak. Disisi lain, Gaara sangat ingin mempercayai Ino, namun di sisi lain ia juga takut jika kekhawatirannya itu bukan sebatas ketakutannya saja.

Gaara menyerah. Ia memilih untuk tetap mempercayai gadisnya. Ia menyimpan kembali microcamera itu.

Malam telah berganti. Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Pemuda bersurai merah itu menggeliatkan tubuhnya, melakukan peregangan.

"Good Morning." Sapa Ino yang sudah duduk di meja rias, mempercantik diri.

"Ah.. Good Morning, dear." Gaara mengacak rambutnya malas. Matanya masih setengah terbuka.

"Terima kasih sudah mengemas barangku Gaara." Ino bangun pagi karena akan merapikan barangnya, namun sang pemuda sudah dengan sigap melakukannya.

"No problem. Lagipula aku menyukainya. Hehe." Gaara tersenyum childish.

"Apa maksudmu? Lain kali jangan seperti itu, aku tak ingin merepotkanmu dan terkesan seperti wanita pemalas."

"Tidak. Gadisku bukan gadis pemalas. Oh tunggu… berarti kau baru saja mengatakan bahwa kau ingin berlibur lagi denganku, eh sayang?" Gaara menghampiri Ino, memeluk gadis itu dari belakang.

"Aku tidak mengatakannya." Ino balas memeluk lengan Gaara yang melingkarinya.

"Benarkah? Jangan berbohong padaku, hum?" Gaara mencium tengkuk Ino yang terbuka.

"Aku menyukainya, tapi kau harus berhenti Gaara. Kita memiliki penerbangan pagi." Ino memperingatkan. Sekali Gaara memulai, pria itu tak akan mau berhenti.

"Begitukah? Aaa… padahal aku sangat ingin." Rengek Gaara. Ino berbalik, berhadapan dengan tubuh jangkung itu.

Ia memeluk Gaara sejenak. Gaara balas memeluk Ino. Merasakan hangatnya tubuh gadis itu. Seperti ini. Gaara ingin seperti ini selamanya. Merengkuh Ino, melindunginya dan tak akan melepaskannya barang sedetik.

Ino berusaha membebaskan diri, namun Gaara nampaknya enggan.

"Gaara—"

"Sebentar saja Ino. Lima menit saja, okay?" Ino hanya bisa terdiam. Ia mengalah.

Gaara memeluknya erat.

Singkatnya, Ino telah sampai di bandara Konoha. Sasuke sudah standby disana untuk menjemput Ino.

"Sasuke-san, sebenarnya Sasuke-san tak perlu kemari, saya tentu akan mengantar Ino sampai mansion Uchiha dengan selamat."

"Terima kasih Gaara-san sebelumnya. Saya ada urusan bisnis sekitar sini, dan kebetulan Gaara-san mengatakan akan pulang hari ini dengan penerbangan pagi." Jelas Sasuke.

"Baiklah jika begitu saya titip Ino, Sasuke-san. Saya permisi. Ino, hati-hati oke? Kabari aku jika sudah sampai." Gaara berpamitan, tak lupa berojigi pada Sasuke.

"Cih!" Sasuke mendecih tak suka, melihat punggung Gaara yang semakin menjauh.

"Ino cepat masuk mobil!" Perintah Sasuke, sementara dirinya memasukkan barang bawaan Ino ke dalam bagasi. Ino bergegas, sebelum kakaknya itu meneriakinya.

Sepanjang perjalanan, Ino dan Sasuke tak berbicara sedikitpun. Sasuke fokus dengan stirnya, sedangkan Ino sibuk memandangi keadaan luar dari jendela mobil.

"Hei kau! Memangnya handphonemu kemana? Sampai-sampai kak Itachi tak bisa menghubungimu dan berakhir seperti orang tak waras."

"Ah kemarin? Aku hanya sedang sibuk." Ino sengaja tak membalas pesan atau menelepon balik Itachi setelah sampai di hotel kemarin. Ia tak ingin Gaara kesal.

"Hei orang bodoh pun tahu jika itu hanya alasan. Aku sangat heran kenapa kalian lebih mirip sepasang kekasih yang sering bertengkar karena hal-hal kecil." Sasuke! Kau tak sepenuhnya salah.

Ino hanya diam. Ia tak berniat melanjutkan obrolan itu.

Tak berselang lama, mereka telah sampai di mansion Uchiha. Para maid dengan sigap menurunkan barang-barang Ino dan membawanya masuk.

"Kakak mau kemana?" Sasuke hendak pergi setelah mengantar Ino.

"Bukan urusanmu." Lalu ia memacu mobilnya pergi segera.

"Terima kasih jika begitu." Gumam Ino yang tentu saja Sasuke tak bisa mendengarnya.

Mansion Uchiha begitu sepi. Biasanya Mikoto akan langsung menginterogasinya selepas ia berurusan dengan Gaara.

"Yugito, apa ibu sedang pergi?" Tanya Ino pada salah satu maid yang sedang sibuk merapikan kamar Ino.

"Nyonya Uchiha sedang ada urusan ke luar kota, Nona."

"Ah.. Baiklah…" Gadis maid itu berojigi dan keluar dari kamar Ino setelah selesai.

Tak lupa, Ino menonaktifkan mode airplane di handphonenya. Notifikasi dari Gaara muncul berderet, tak ada yang lain selainnya. Kenapa Ino merasa sedikit… kecewa? Apa yang ia inginkan? Jujur saja ia mengharapkan Itachi juga akan menghubunginya, namun nampaknya mustahil sebab pria itu sedang kesal padanya.

Ino harus mengambil langkah mundur mulai sekarang, ia tak ingin terus terjebak dalam hubungan yang tak jelas dengan kakaknya, terlebih lagi mereka benar-benar telah melewati batas.

Seharian Ino hanya beraktivitas di kamarnya saja. Melakukan panggilan video dengan Gaara, menonton series-series kesukaannya, mendengarkan musik dan melakukan yoga.

Ia sama sekali tak bosan, karna memang ia sudah terbiasa.

Tok.. tok.. tok..

"Masuk." Jawab Ino.

"Saya mengantarkan salad anda, nona." Yugito meletakkan makanan yang didominasi warna hijau itu di meja nakas Ino.

"Terima kasih Yugito, kakak-kakakku sudah pulang?" Tanya Ino. Sebenarnya Itachi dan Sasuke bukan tipe-tipe orang yang akan membuat kegaduhan di rumah, namun hanya saja atmosfer mansion Uchiha itu bertambah 'dingin' ketika para Uchiha tidak ada, menurut Ino.

"Tuan Itachi baru saja pulang, nona. Sedangkan tuan Sasuke, belum." Jawab maid cantik itu.

"Ah, baiklah." Yugito beranjak dari kamar Ino segera.

Tak berselang lama, handphonenya berdering. Panggiln video Gaara.

Ino bangkit dari posisinya dan duduk bersandar pada kepala ranjang. Merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, dan menerima panggilan itu.

"Hai Gaara. Oh, nampaknya apa kau masih di kantor?"

"Tidak Ino. Aku sedang di ruang kerjaku sekarang, di rumah. Apa ini? Setelah melihatmu rasa lelahku hilang."

"Kau ini. Hahaha." Ino tertawa geli mendengarnya.

Namun, atensinya pada benda persegi itu teralihkan. Itachi berdiri tepat di depan pintu kamarnya yang sudah terbuka lebar. Tentu dari posisinya itu, Gaara tak bisa melihat Itachi.

"G-gaara. Um, maaf nampaknya kita sambung besok saja. Tiba-tiba perutku sangat tidak enak." Ino mencari alasan. Ia tak ingin Gaara melihat Itachi menghampirinya, dan di sisi lain, sangat tidak nyaman 'diawasi' ketika sedang menelfon.

"Apa kau sakit Ino? Sejak kapan? Apa kau butuh sesuatu?" Gaara terdengar cemas.

"Ti-tidak! Ah.. maaf.. maksudku karena makanan pedas… ya! Pasti karena itu.. Besok pasti sudah tak apa. Tak perlu khawatir."

"Begitukah? Kau yakin, Ino? Segera hubungi aku oke, jika besok rasa nyamannya masih berlanjut."

"Pasti! Pasti, aku akan menghubungimu… Dah.. good night."

"Good night, honey." Pip. Sambungan telepon itu terputus.

"Sudah?" Itachi membuka suara. Ino tak menjawab. Itachi beranjak dari posisinya.

"Padahal… aku ingin mendengarkan kalian lebih lama lagi."

"Maaf. Untuk tak menelfon atau menjawab telfon kakak waktu itu." Ino merasakan aura dingin yang menakutkan dari pria yang saat ini tengah duduk tepat di depannya itu.

"Oh ya? Tak apa. Aku akan memaklumimu sebab kau sedang melaksanakan 'tugas' mu disana. Bukan begitu?" Itachi mendekat. Menyentuh pipi Ino dan memainkan anak rambut Ino dengan jarinya. Meski begitu, seringaian tipis di wajah Itachi membuat Ino was-was, apalagi bau alkohol menguar dari laki-laki itu.

Tangan besar Itachi merambat turun menyentuh leher Ino, lalu menyentuh lengan Ino yang memang terbuka sebab Ino mengenakan baju tanpa lengan.

Ino merinding. Tangan Itachi ditubuhnya mengalirkan sensasi yang lain. Tidak. Ino harus menjaga jarak dengan Itachi. Ia tak ingin jatuh semakin dalam. Ia tak ingin mengingkari niatnya lagi.

Ino menepis tangan Itachi yang berada di bahunya sekarang.

"Aku sudah meminta maaf padamu. Dan… aku ingin beristirahat sekarang, kak. Tolong—-" Belum sempat Ino menyelesaikan kalimatnya, Itachi dengan cepat mencium bibir Ino. Dapat ia cecap, rasa alkohol yang sangat, dari pagutan itu.

"Upp… umh.." Ino berusaha melepaskan diri. Namun sia-sia, tenaganya sudah jelas tak ada apa-apanya dibanding Itachi. Pria itu menidurkan tubuh Ino dan mengungkungnya dengan tubuh tingginya. Ino tak bisa bergerak ataupun melarikan diri.

"Kak… ah… tolong hentikan…" Itachi tak peduli. Ia menciumi leher jenjang Ino dan meninggalkan beberapa tanda disana.

"Ugh…" Ino terkesiap. Merasakan sesuatu yang menonjol menggesek kewanitaannya.

"Kaak… Kumohon…. Berhenti!" Ino berusaha memberontak. Itachi yang sedikit terganggu, menahan kedua tangan Ino di atas kepala pirang itu. Membuat Ino tak bisa bergerak.

"Sial!" Umpat Itachi. Ia sudah sangat terangsang, tapi nampaknya Ino belum cukup 'siap'.

Itachi menyingkap baju yang dikenakan Ino, dan menenggelamkan wajahnya pada dada besar sang wanita…

Ino merapatkan bibirnya. Ia menahan semua desahannya, meskipun tubuhnya sangat menyukai perlakuan kasar Itachi. Terlebih, Itachi dengan sengaja terus menggerakkan pinggulnya, menyentuhkan kejantanannya pada titik sensitif Ino. Membuat area itu mulai lembab dan gatal.

"Kau tak ingin mengakui jika kau menyukainya Ino? Baiklah." Itachi menelusupkan satu tangannya yang menganggur ke dalam celana legging yang Ino kenakan.

"Umm… akh…." Ino tak dapat lagi menahannya… terlebih dengan lihainya Itachi memainkan jarinya disana.

Itachi menarik cepat semua bawahan yang Ino kenakan. Wanita itu sudah sangat 'basah' sekarang. Dengan terburu, Itachi menurunkan celananya sendiri, dan bersiap melakukan penetrasi. Rasanya ia sudah ingin meledak saja.

"Apa yang kalian lakukan?!" Teriak seseorang dari ambang pintu. Itachi dengan sigap menaikkan celananya dan menutupi tubuh Ino dengan selimut.

"Sas.. suke…" Itachi tak dapat mengatakan hal lain selain menyebut nama orang yang memergokinya.

Ino duduk bersandar pada kepala ranjang dengan selimut menutupi sebatas leher.

Sasuke menarik kursi di dekatnya. Duduk di depan Ino dan Itachi. Mengamati kedua insan yang hanya bisa menundukkan wajahnya.

"Aku memang sudah merasakan ada yang tidak beres diantara kalian ini. Entah apa yang akan Ibu katakan jika tahu ini semua." Kalimat Sasuke itu sukses membuat Itachi dan Ino mendongak.

"Seumur hidupku aku tak pernah meminta apapun padamu, Sasuke.. Namun kali ini kumohon. Anggaplah kau tak melihat apapun. Aku tak ingin Ibu menyakiti Ino. Ini semua salahku. Aku sedikit mabuk dan berusaha memperkosanya." Terang Itachi.

"Apa benar begitu Ino?" Sasuke menyipit penuh selidik.

"Aku… aku…" Ino tergagap tak bisa menjawab.

"Sudahlah Sasuke… Ini hanya kesalahan. Lebih baik kita pergi dari sini, biarkan Ino beristirahat." Itachi menarik Sasuke berdiri. Tentu saja Sasuke tak mudah percaya begitu saja, ia hanya tak ingin memperpanjang masalah. Untuk saat ini.

Itachi pergi begitu saja setelah menutup pintu kamar Ino. Meninggalkan Sasuke yang masih berdiri mematung di sana.

Sasuke baru saja pulang. Ketika ia akan menuju kamarnya, dimana harus melewati kamar Ino, ia mendengar suara 'berisik'. Awalnya ia tak peduli, namun entah mengapa ia menutuskan untuk berbalik arah dan mencoba membuka pintu kamar adiknya itu, dan memang ternyata tak dikunci.

Dan benar saja, ia memergoki kakak dan adiknya itu tengah bercumbu.

"Dasar."

Keesokan paginya, suasana di meja makan terasa sangat berbeda. Itachi dan Ino sedikit canggung di hadapan Sasuke yang nampaknya biasa saja dan menikmati makanannya.

Bukan berarti mereka biasanya selalu riuh ketika bersama atau apa, hanya saja mengingat kejadian semalam membuat Itachi dan Ino 'was-was' terhadap Sasuke. Takut-takut kalau pemuda itu mengadu kepada Ibunya setelah Mikoto pulang dari urusannya.

"Aku tahu yang kalian takutkan. Tenang saja, aku akan menyimpannya untuk diriku sendiri. Lagipula aku masih sangat ingat dengan rencana besar kita, jika terjadi apa-apa pada pemeran utama kita, bukankah suatu bencana?" Sasuke membuka suara. Ia tahu, dari awal memang ibunya tak sungguh-sungguh bisa menerima Ino dalam keluarga ini. Setiap kali ada masalah apapun, pasti Ino yang akan disalahkan. Harus Ino. Entah apa yang akan terjadi pada gadis itu jika Ibunya tahu dia dan Itachi memiliki hubungan. Yah.. Sasuke bukanlah orang bodoh yang percaya saja pada alasan Itachi semalam. Ia yakin bahwa memang ada sesuatu diantara mereka berdua.

"O..oh.. ya… kau benar. Bagaimana pun kita harus melindungi Ino sampai akhir." Itachi menimpali.

"Hei.. Lihatlah siapa yang berbicara, kak. Melindungi Ino sampai akhir? Bukankah kau yang merusak rencana dan menempatkan dia dalam masalah?" Sasuke menyeringai. Ucapannya memang tak salah. Ekspresi kemenangan nampak jelas pada wajah tampan itu setelah mengskakmate kakaknya. Bagaimana? Cukup keren bukan?

Sasuke memang hanya peduli pada rencana besarnya, namun ia sudah cukup 'jahat' pada Ino selama ini. Lambat laun Sasuke merasa iba, terlebih Ino juga telah dimanfaatkan untuk mencapai tujuannya.

"Ino, apa kau akan pergi dengan kak Itachi?" Sasuke memperhatikan Ino yang sudah berpakaian dan berdandan rapi.

"Tidak, kak. Aku memiliki janji dengan pengurus panti yayasan Uchiha." Selama ini Ino selalu rutin berkunjung ke rumah panti asuhan yang dimiliki oleh keluarga Uchiha. Ino merupakan penyayang dan menyukai anak-anak. Dapat berinteraksi langsung dengan mereka membuat sesuatu dalam dirinya bahagia.

Ino menuju kesana dengan Sasuke. Kebetulan Sasuke akan bertemu client yang bertempat tak jauh dari panti asuhan Uchiha.

"Aku akan selesai setelah jam makan siang. Jadi tunggu saja, aku akan nengantarmu pulang." Seru Sasuke setelah menurunkan Ino di depan panti.

"Iya kak." Sasuke dengan segera melajukan mobilnya.

Skip…

Setelah makan siang bersama penghuni panti, Ino bersiap-siap pulang. Ia sudah mendapat pesan dari Sasuke bahwa pemuda itu akan menjemputnya.

Ino melangkah keluar dari gerbang panti itu dan mobil Sasuke sudah nampak dari kejauhan sedang melaju ke arahnya.

Namun, tiba-tiba sebuah mobil van hitam metalik berjalan mundur dan berhenti tepat di depan Ino. Dengan cepat seseorang dari mobil itu keluar dan menyeret Ino masuk ke dalamnya.

Sasuke yang melihat kejadian itu, langsung tancap gas menambah kecepatan mobilnya untuk mengejar.

"Sialan! Berani sekali mereka bermain-main dengan Uchiha!" Sasuke berusaha menelpon Itachi, namun nihil tak ada tanggapan.

"Itachi bodoh! Kenapa disaat seperti ini malah tak menyahut, hah?!" Sasuke semakin menambah kecepatan mobilnya menyusul mobil yang membawa Ino.

Mobil itu memilih jalan setapak yang hanya muat dengan satu kendaraan saja, semakin membuat Sasuke kesulitan untuk menghentikannya. Nampaknya, pengemudi mobil itu mengetahui jika Sasuke mengejar mereka.

"Bos! Nampaknya mobil itu terus mengejar kita bos!" Ucap seseorang berambut oranye bernama pain.

"Ck! Hei Konan, buat jarak aman dari mobil di belakang!" Perintah sang bos.

Wanita berambut ungu itu mengangguk mengerti dan semakin menambah kecepatan mobilnya.

Sedangkan Ino sudah tak sadarkan diri akibat dibius oleh pain. Tangannya telah diikat dengan erat, sangat mustahil untuk membebaskan diri.

"Cih! Kau tak akan bisa kabur dari Uchiha!" Sasuke bergumam dan terus mengikuti mobil van itu.

To be Continue…

I'm comeback… terima kasih untuk para readers yang telah sudi mampir di fanfic abal-abal ini. Dan terima kasih untuk setiap masukan yang diberikan.

Jadwal author sangat padat sehingga tak bisa mengunggah lanjuta cerita dengan cepat. Dan maaf jika chapter ini banyak kekurangan karena ditulis dalam waktu satu jam saja.. huhu gomenasai.

Aku pasti akan menamatkan judul ini meskipun dengan kecepatan update yang sangat lelet. ありがとう。。