KATE'S POV

Berkat bantuan Uruha, akhirnya kami sampai juga di dermaga pulau seberang.

"Oh Tuhan… baru kali ini aku merasakan rindu pada daratan…" Aoi menghela nafasnya.

Aku turun dari kapal yang sudah ditambatkan oleh Kouki. "pulaunya indah… masih sangat hijau…" aku melihat pulau yang ada di depanku sekarang. Gunung yang terdapat di pulau itu masih sangat hijau. Berbeda dengan duniaku yang sudah gersang karena selalu ditebangi. Andai aku bisa hidup disini…

Tapi, begitu kami baru turun dari kapal, aku melihat ada beberapa orang yang sepertinya pengawal istana kalau dilihat dari pakaian prajurit mereka yang berwarna merah stroberi mendekati kami.

Mereka yang jumlahnya terdiri 5 orang itu membungkuk kea rah kami.

Juri langsung mendekati mereka. "apa kalian utusan dari raja Tora?" tanyanya.

"ya, tuan Juri… kami datang kemari untuk mengantarkan anda dan teman-teman anda menuju istana. Anda semua sudah dinantikan." Salah satu dari mereka menjawab.

Oke, kesan pertamaku saat melihat istana ini adalah…

Menakjubkan…

Istana ini sangat besar dengan banyak menara seperti istana dongeng. Istana ini bernuansa putih. Dengan banyak bunga mawar ditanam di sekitar halaman. Banyak sekali penjaga disana-sini. Aku yakin sekali di taman belakang istana ini pasti akan lebih menakjubkan daripada ini.

"Yang Mulia sangat menyukai bunga. Jadi.. dia menanam banyak bunga disini." Jelas salah seorang prajurit padaku.

"sepertinya dia orang yang ramah." Jawabku.

"tentu saja." Gerbang istana dibuka. Kami disambut oleh senyuman yang ramah dari para penjaga istana, tukang kebun, dan beberapa pegawai istana.

Ketika kami sudah memasuki ruangan istana, kami dibuat lebih kaget lagi.

Karena bagian dalam istana sangat elegan. Bernuansa klasik, krem dan merah. Di tangga, perabotan, selalu ada ukiran-ukiran yang sangat manis.

Di depan kami adalah sebuah kursi tahta milik sang Raja. Dan aku melihat seorang pria muda yang rambutnya berwarna hitam, putih, dan dari wajahnya terlihat sangat terhormat, terpelajar, berwawasan luas, dan… tampan tentunya.

"Yang Mulia… tamu anda sudah datang…" prajurit yang tadi aku tanyai memberi hormat kepada sang Raja.

"ya, terima kasih… dan siapkan kamar yang nyaman dan bagus untuk mereka."

Prajurit itu membungkuk lagi lalu memberi salam pada kami sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan kami.

Kami pun ikut memberikan hormat. Termasuk Kai yang mengembangkan sayapnya dan menundukkan kepalanya.

"Reina memberitahuku kalau kalian akan datang…" kata sang Raja.

"ya, Yang Mulia…" jawab Akito.

"jangan panggil aku seperti itu. Sama seperti Reina yang meminta kalian dengan biasa, panggil saja aku Tora…"

"ba… baik, Tora. Apakah kau akan membantu kami?" jawabku.

"ya, aku bisa membantu kalian. Perjalanan menuju gunung itu masih cukup jauh. Aku bisa memberi kalian bekal dan transportasi…"

"terima kasih…" kami membungkuk lagi.

"tapi ada 1 syarat…" Tora mengacungkan jari telunjuk tangan kanannya.

"apa itu?"

"kalian harus mengikuti pesta yang akan kuadakan malam mini…"

-

"gaun ini bagus sekali…" ujar Mia sambil berkaca di depan cermin besar yang ada di kamar kami. Dia mengenakan gaun satin yang ujungnya menyentuh lantai dan berwarna hijau daun. Gaunnya memang agak mirip gaun model zaman kerajaan Perancis dulu di masa pemerintahan Marie Antoinette dan Louis XIV, tapi bagiku gaunnya keren.

Aku dan Ruth juga memakai gaun yang sama. Tapi aku berwarna biru dan Ruth berwarna merah.

"seandainya aku bisa membawa gaun ini untuk ibuku…" kataku. Aku agak menyesal padanya karena terakhir aku bertemu dengannya aku marah padanya.

"yeah, aku ingin membawanya untuk tante dan ibu! Satu truk sekaligus!" sahut Ruth.

"aku agak ragu dengan pesta Tora…" kata Mia.

"mengapa?"

"karena… yah, kau pasti bisa menebak bagaimana tamu-tamunya."

"kurasa, kita tidak akan tahu kalau kita tidak ke ballroom sekarang. Ayo…" aku membuka pintu kamar.

-

Dugaanku benar. Tamu-tamu yang datang kebanyakan berpenampilan sangat elit dan… magis… dan aku bisa menebak beberapa di antara mereka.

Elf, aku tahu mereka ada karena aku melihat ada beberapa titik cahaya putih yang berterbangan di sekitar ballroom. Elf adalah peri kecil yang sangat cantik. Seperti Tinkerbell.

Beberapa pemuda bangsawan. Oke, mereka memang tampan dengan baju kebesaran mereka dan sarung pedang yang ada di pinggang mereka. Tapi satu-satunya bangsawan yang menarik perhatianku hanyalah Juri yang sedang bersama Kouki di tengah-tengah ballroom. Mereka terlihat mengobrol bersama seorang bangsawan berambut warna emas. Wajahnya misterius sekali. Tapi aku sangat menyukai wajah misterius itu. Dia terlihat tersenyum pada Juri. Dan aku bisa melihat matanya yang berwarna ungu bercahaya di bawah lampu ballroom.

Beberapa putri bangsawan. Aku tidak terlalu memperhatikan mereka. Mereka asyik berdansa dengan pangeran-pangeran mereka.

"hey… apa yang mereka lakukan?" Mia menunjuk sudut kiri ballroom. Disana terlihat Aoi, Akito, Shou, dan Saga sedang asyik mengambil makanan. Kai sendiri ikut terbang di dekat mereka dan mengambil sepotong buah apel yang lalu dia makan. Oh, rasanya pasti sulit makan dengan cara mematuk dengan paruh.

"kurasa… mereka sedang menikmati pesta?" jawabku.

"kalau mereka iya, kenapa kita tidak?" sahut Ruth. Ruth benar. Kami menuju tengah-tengah lantai dansa. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan sekarang. Ingin berdansa tapi kami tidak mempunyai pasangan.

Tetapi…

Aku melihat seorang pemuda yang cukup tampan mendekati Ruth. Dia mengajak Ruth berdansa. Dengan agak kikuk, Ruth menerimanya.

"pasti menurutmu pesta ini aneh…" seseorang berkata di belakangku. Aku berbalik. Juri tahu-tahu sudah ada disitu. Bersama Kouki dan pemuda berambut warna emas itu di sebelahnya.

Aku jadi salah tingkah. "oh… tidak juga… tapi… yah, tamu-tamunya memang… jarang kulihat. Baru kali ini aku ke pesta mewah seperti ini…"

"kau cantik…" Juri tiba-tiba memujiku. Mungkin pipiku sekarang sudah memerah. Sangat merah.

"hey, pipimu seperti buah apel. Merah sekali…" kata Kouki menunjuk pipiku.

"oh iya, aku lupa memperkenalkan dia." Juri menunjuk pemuda berambut emas tersebut. "dia Taigong, temanku."

Taigong membungkuk di depanku untuk memberi hormat. Kemudian dia mengambil tangan kananku yang memakai sarung tangan berwarna putih dan mencium tanganku dengan lembut. "senang bertemu dengan seorang gadis manusia seperti anda…"

"oh… ya, senang berkenalan denganmu…" baru kali ini juga aku diperlakukan seperti ini oleh cowok. Apalagi dia adalah keturunan bangsawan.

"mulanya aku berpikir kalau manusia hanyalah mitos. Ternyata…" Taigong tersenyum padaku. "tidak kusangka aku akan bertemu dengan 'mitos' itu. Apalagi 'mitos' itu sangat cantik dan berdiri di depanku saat ini."

"Oh Tuhan…" aku melupakan Mia yang ada di sebelahku. Aku melirik Mia. Dia hanya termangu. Menatap Taigong dengan penuh kagum. Dan aku baru ingat kalau cowok seperti Taigong adalah tipe favoritnya. "perkenalkan dia Mia, sepupuku."

Taigong juga melakukan hal yang sama yang dia tadi lakukan padaku. Mencium tangan Mia. Mungkin, kalau Taigong tidak ada disini, Mia pasti sudah pingsan.

"maafkan aku. Apakah ada sesuatu yang salah di wajahku?" Tanya Taigong pada Mia. Aku menahan tawa. Mia langsung kembali ke bumi. Tersadar dari lamunannya.

"oh… ti… tidak… tidak ada yang salah, kok…" jawab Mia salah tingkah.

"hoo…" lalu terdengar suara orchestra musik klasik memenuhi ballroom. Taigong lalu mengulurkan tangan pada Mia dan mengajaknya berdansa.

Dan tentunya dengan senang hati Mia menerimanya.

Kini tinggal aku bertiga bersama Juri dan Kouki masih mematung di tengah-tengah lantai dansa.

"kau tidak membawa partner dansa, Kouki?" Tanya Juri.

"oh, aku sudah mengundang seseorang. Dia akan datang sebentar lagi…" jawab Kouki. "ah, itu dia…" Kouki menunjuk kea rah pintu masuk ballroom. Disana, ada seorang gadis yang wajahnya sangat sangat mirip dengan Uruha mengenakan gaun sederhana berwarna ungu.

"dia mirip sekali dengan Uruha." Kataku.

"tentu saja. Dia kan Uruha." Jawab Kouki.

"APA?"

"ya, disini, seorang mermaid bisa berubah menjadi manusia setiap malam. Tapi kalau sudah fajar, mereka harus kembali ke laut."

"kalau mereka tidak kembali ke laut meskipun sudah pagi?"

"aku tidak tahu bagaimana jadinya mereka. Mungkin mereka akan sekarat…"

Dan Uruha langsung menyadari keberadaan kami. Dia berjalan ke arah kami dengan anggun. Seolah dia sudah terbiasa dengan kedua kakinya tersebut.

"bagaimana? Aku cantik bukan?" Uruha berputar untuk memperlihatkan gaunnya. "aku mendapatkan gaun ini dari Raja Tora. Dia baik sekali…"

"ya, kau cantik. Dan lebih baik simpan gaunmu itu baik-baik..." komentar Kouki. "dan aku tidak ingin membuang waktu. Shall we dance…?" Kouki mengulurkan tangannya pada Uruha.

Uruha menyambut ajakan Kouki. Mereka pun meninggalkan aku berdua bersama Juri.

"yah, kurasa… hanya tinggal kita berdua saja…" Juri tersenyum. Aku tidak bisa menjawab.

"kau ingin berdansa?" Juri mengulurkan tangannya padaku. Aku menggeleng.

"tidak, tidak.. aku tidak bisa berdansa…" aku tidak mau ketika saat berdansa nanti aku akan berkali-kali menginjak kaki Juri.

"aku akan mengajarimu."

"tapi…"

"kumohon, nona… akan menjadi sebuah kehormatan yang sangat besar kalau aku bisa berdansa dengan gadis manusia…"

"jangan panggil aku nona…" aku menyambut uluran tangannya dan tersenyum.

"baik, Kate…" dia membalas senyumanku. Dia menarik tanganku perlahan menuju kerumunan orang-orang yang sedang berdansa. Tangan kanannya menggenggam tangan kiriku. Sedangkan tangan kirinya berada di pinggangku. Dengan diam, dia mengajariku. Langkah kakiku lama-lama mulai terbiasa dengan langkah kakinya yang anggun. Kami saling bertatapan.

"ceritakan padaku, tentang duniamu…" kata Juri membuka pembicaraan.

"well, duniaku… lebih realistis daripada duniamu."

"maksudnya?"

"di duniaku sama sekali tidak ada sihir, peri, dryad, bahkan sampai mermaid seperti Uruha sekalipun. Makanya… walaupun aku tidak mengatakannya dengan langsung, aku menyukai Domhan…"

"tidak ada sihir? Apakah membosankan?"

"terkadang hidup itu membosankan, Juri… tapi kalau kau bersama dengan orang-orang yang kau sayangi dan kau menjalani hidupmu dengan tenang dan apa adanya, kurasa, akan terasa lebih menyenangkan…"

"aku mengerti. Setiap hidup pasti ada masalah. Dan cara orang-orang mencari jalan keluar dari masalah itulah yang membuat mereka unik. Bukankah begitu?"

Aku mengangguk. "aku bahkan belum pernah berpikiran seperti itu..." lama-kelamaan, aku bisa makin mengagumi ksatria tampan yang ada di depanku ini.

"kau lain, Kate…" dia berkata dengan lembut.

"karena aku manusia?"

"tidak… aku hanya merasa, kau lain saja. Kau menarik."

"sudah 2 kali kau memujiku."

"haha… tapi aku jujur, Kate…"

"terima kasih…"

Tiba-tiba, terdengar suara terompet bergaung di seluruh ruangan.

"kurasa, para Raja sudah datang…"

Dan dari tangga ballroom, aku melihat Tora menuruni tangga bersama seorang pria setengah baya. Dan pria itu membuatku termangu.

Ya, dia memang tampan dan berkarisma. Tapi bukan itu yang membuatku termangu. Pria itu mungkin ayahnya Tora, Sugizo. Tapi…

Dia sangat sangat mirip sekali dengan ayahku…

"ayah?" Tanya sadar aku mengucapkan kata itu. Juri mendengarnya.

"ayah?" Juri heran.

"ayah!" tanpa sadar aku menyebut kata itu lebih keras lagi. Sampai orang-orang yang hening karena kedatangan 2 raja itu menoleh ke arahku.

Tora melihatku. Tanpa sadar, setetes air mataku mengalir. Aku berlari memotong kerumunan. Berlari menuju ke depan singgasana mereka.

"ada apa, Kate?" Tora heran melihatku seperti ini. Aku hanya menatap Sugizo yang ada di sebelahnya.

"ayah…" aku langsung menghambur dan memeluk Sugizo. "aku merindukanmu, ayah.. aku tahu ibu bohong. Kau tidak meninggal…" aku terisak.

Tiba-tiba Tora menarikku. "ada apa denganmu, Kate? Dia bukan ayahmu…"

-

Suasana taman istana saat malam hari cukup indah. Bunga-bunga bermekaran di setiap semak-semak taman. Aku tidak tahu banyak nama-nama dari bunga-bunga itu. Dan aku tidak terlalu memikirkannya.

Karena aku sedang bersama seorang pria yang aku sangka adalah ayahku. Untunglah dia maklum dengan sikapku saat di ballroom tadi.

Kami duduk di bangku taman. Aku masih diam. Dia juga. Tapi akhirnya dia membuka pembicaraan.

"aku… mirip dengan ayahmu?"

Aku mengangguk pelan.

"maafkan aku… tapi tadi aku merasa aku melihat almarhum ayahku ketika aku melihatmu…"

"ayahmu meninggal karena apa?"

"dia meninggal karena kecelakaan lalu lintas saat aku kecil." Aku menjawab dengan cepat. Tidak mau mengingat-ingat lagi.

"aku mengerti… kau pasti merindukannya…"

"sangat… sangat merindukannya…"

"apa nama ayahmu adalah Michael?"

Aku terkejut. "darimana kau tahu?"

"karena dia pernah kesini. Ke Domhan saat dia masih kecil…"

"oh ya?"

"dia tersesat di hutan. Dan dia sampai di padang rumput tempat pohon daun emas itu berada. Dia menangis. Lalu, aku yang masih kecil dan seusia dengannya kebetulan berada disana untuk bermain, bertemu dengannya. Kami saling bertatapan. Kami mirip satu sama lain…"

"lalu aku membantunya mencari jalan keluar. Aku memetik salah satu daun emas dari pohonnya, lalu memberikannya pada Michael. Aku menjelaskan apa kekuatan daun ajaib tersebut. Dan dia langsung berharap agar dia bisa pulang."

"apakah dia sadar kalau dia kesini?"

"kurasa tidak sepenuhnya. Karena dia kembali dalam keadaan berada di atas tempat tidur, ibunya sedang membangunkannya, dan dia merasa kalau apa yang dia alami bersamaku hanyalah mimpi."

"mungkin karena itu hutan itu tertarik padamu dan membawamu kesini. Karena kau adalah keturunannya."

Aku menatap pria berambut cokelat tanah tersebut. "warna rambutmu sama seperti milik ayahku…"

"tapi kau pirang…"

Aku memegang rambutku. "oh, aku mendapatkannya dari keluarga ibuku. Mereka kebanyakan berambut pirang."

"apa kau menyimpan daun emas itu, Kate?"

"ngg… ya, disini…" aku merogoh saku gaunku dan mengambil daun emas yang terlupakan. Lalu memberikannya pada Sugizo.

"kau bisa mengharapkan apapun, Kate…" dia memberikan daun itu lagi kepadaku.

"apa aku bisa berharap ayahku bisa hidup kembali?"

Sugizo menggeleng. "tidak, Kate. Itu menyalahi peraturan alam. Sudah takdirnya untuk meninggal dan kita tidak bisa merubahnya."

"tapi apa itu berarti aku tidak bisa berharap bertemu dengan ayahku?"

"kurasa, lebih baik kau coba saja… ucapkan harapanmu dalam hati."

Dan aku mengharapkannya. Aku membayangkan wajah ayahku yang selalu ceria dan langsung melupakan rasa lelahnya ketika aku menyambutnya saat dia pulang dari kerja. Aku membayangkan saat-saat kami bersama. Dimana dia selalu berkata bahwa kami adalah sahabat. Yang selalu ada dan tidak akan pernah saling mengkhianati.

Tiba-tiba, daun itu bersinar. Lalu memancarkan kepingan cahaya berwarna emas. Kepingan cahaya itu bertebaran dan membentuk sebuah siluet. Lama-kelamaan, siluet itu membentuk sebuah wajah, tubuh yang utuh dan sempurna, membentuk seorang pria setengah baya dengan mengenakan kemeja putih dan celana kain hitam yang aku tahu itu adalah kesayangan pria itu.

"ayah…" aku langsung berdiri. Air mataku kembali mengalir. Aku mengulurkan tanganku yang rasanya sangat jauh sekali dari tangannya padahal hanya beberapa centi dariku. Aku bisa menyentuhnya. Dia nyata!

"dia roh ayahmu, Kate… lebih baik kau cepat-cepat mengungkapkan isi hatimu padanya, sebelum dia menghilang…" kata Sugizo.

"ayah… aku… merindukanmu…" aku memeluknya. Aku terisak. Aku tidak peduli dia roh atau apalah itu. Dia ayahku, apapun bentuk fisiknya, dia tetap ayahku.

Ayahku hanya tersenyum. Dia tidak bisa berkata apa-apa, tapi bagiku tidak apa. Aku langsung mengungkapkan semuanya. Semuanya sampai aku tidak tahu harus memulai darimana dan tidak tahu bagaimana mengakhirinya.

Rasanya baru semenit aku berbicara sampai aku tidak bisa menyentuhnya lagi dan wujudnya memudar. Wujud ayahku kembali menjadi kepingan cahaya emas. Melayang-layang seperti kunang-kunang dan terbang ke langit yang dihiasi bulan yang sangat indah.

"kau tahu, kau sudah berbicara dengannya selama 5 menit lebih…" Sugizo menyadarkanku.

"rasanya baru semenit aku berbicara dengannya…"

Sugizo berdiri dan tersenyum bijak padaku. "yang terpenting dia tahu bagaimana keadaanmu, dan dia tahu kau masih sangat menyayanginya dan akan selalu mengenangnya sampai kapan pun…"