KATE'S POV

Aku dan Sugizo kembali ke dalam ballroom. Semua orang sudah kembali seperti sedia kala. Mereka melanjutkan acara mereka. Ada yang kembali berdansa, dan ada juga yang hanya sekedar mengobrol satu sama lain.

"aku bosan dengan musik klasik ini…" kata Sugizo. Memang, musik klasik yang dimainkan agak membuat ngantuk. Tapi orang-orang menikmatinya karena ingin berdansa.

"lho, tapi ini kan musik untuk berdansa…" aku menjawab.

"ya, tapi apa tidak bisa memutar musik yang lebih… ceria, begitu?"

Setelah itu, aku mendapatkan ide.

"tunggu sebentar…" aku meninggalkan Sugizo. Lalu aku mencari keberadaan Akito. Ternyata dia ada di sudut ruangan. Mengobrol bersama Juri, Kouki, Uruha dan yang lain.

"kau tidak apa-apa kan, Kate? Kau bicara apa saja dengan Sugizo?" Mia mendekatiku. Dia terlihat agak khawatir.

"aku tidak apa-apa, kok. Akito, bisa kemari sebentar?" aku memanggil Akito.

Akito berdiri dan mendekatiku. Aku membisikkan sesuatu di telinganya.

"ya, bisa saja sih. Tapi apa Sugizo mau?" Akito ragu.

"maka dari itu… ayo…" aku menyeret lengan Akito dan membawanya ke Sugizo. Begitu sampai di Sugizo, aku langsung menyampaikan maksudku apa. Dan Sugizo langsung setuju.

"baiklah. Kau membawanya kan?" tanya Sugizo.

"ya, ada di kotakku ini…" Akito menunjuk tas punggung miliknya.

Sugizo lalu menuntun Akito menuju panggung kecil ballroom. Dia meminta para orkestra untuk menghentikan permainan musik mereka. Semua orang bertepuk tangan untuk menghargai permainan mereka.

"aku akan memberikan persembahan spesial untuk kalian semua. Persembahan spesial dari para manusia yang sudah jauh-jauh datang kemari…" Sugizo menunjuk Akito yang sudah siap dengan biola dan busur di tangannya.

Sebelum Akito memulai permainannya, dia berkata, "sebenarnya permainanku tidak akan lengkap tanpa beberapa alat musik lagi. tapi sayang sekali tidak ada disini…"

"katakan saja, Akito. Kau akan mendapatkannya." Ujar Sugizo.

"benarkah?"

"ya…"

"kalau begitu, aku ingin bodhran, tin whistle, dan sebuah gitar…"

Dan dengan sihir Sugizo, semua itu langsung ada di depan mata Akito.

"terima kasih… setelah itu, aku membutuhkan bantuan Shou, Saga, dan Ruth…"

Dengan segera, Shou, Saga, dan Ruth berjalan dan naik ke atas panggung. Shou mengambil bodhran, Saga mengambil gitar, dan Ruth mengambil tin whistle.

"baiklah… please, enjoy the show…" Akito memulai permainan biolanya lebih dulu.

Musik yang dimainkan Akito bernada riang sekali. Membuat aku ingin meloncat-loncat dan menari. Lalu disusul oleh pukulan bodhran Shou, lalu suara merdu tin whistle dan petikan gitar yang semangat membuat orang-orang kembali berdansa.

Aku langsung menggamit lengan Mia. Aku merangkul lenganku dengan lengannya. "let's dance!" ajakku.

"ayo!" Mia menyambut ajakanku dengan semangat. Kami menuju ke tengah-tengah lantai dansa. Aku merangkul lengan kiri Mia dengan lengan kiri milikku, lalu kami berputar-putar sambil meloncat mengikuti alunan musik yang riang ini.

Orang-orang yang awalnya agak heran karena melihat cara berdansa kami yang agak aneh, mulai mengikuti kami. Mereka membawa teman dan pasangan mereka untuk berdansa. Bahkan beberapa anak-anak kecil ikut juga berdansa dengan tawa mereka yang riang.

"ayo Juri!" aku memanggil Juri yang masih berdiri di tempat kami tadi. Juri pun menyambut ajakanku dan kami berdansa bertiga, saling bergandengan tangan.

Senang rasanya bisa membawa Irish music ke dalam dunia ajaib seperti ini. Aku harap mereka semua menyukainya.

-

Keesokan harinya, kami harus pergi melanjutkan perjalanan. Tora memberi kami perbekalan makanan dan petunjuk untuk perjalanan kami. Kami berkumpul di depan gerbang istana, dengan kuda-kuda yang sudah siap untuk kami tunggangi.

"sebelumnya…" kata Tora. "aku berterima kasih pada kalian karena kalian sudah mau menghadiri pestaku semalam. Aku merasa terhormat…"

"kami juga berterima kasih karena sudah menerima kami dengan ramah, Tora…" jawabku.

"semua perbekalan sudah ada di dalam tas sadel kuda kalian. Dan…"

"apa?"

"aku ingin memberikan kalian pesan. Untuk perjalanan kalian nanti menuju gunung itu, kalian akan menemukan beberapa keganjilan saat perjalanan nanti."

"apa itu, Tora?" aku mulai terbiasa dengan semua keganjilan yang ada di Domhan ini.

"semua penampakan alam yang akan kalian temui itu karena perbuatan penyihir jahat tersebut. Dan aku akan menceritakan kalian tentang satu tempat."

"penampakan alam apa?"

"sungai darah…"

"apa? Sungai darah?" Akito kaget. "apa itu?"

"ya, aliran air sungai itu adalah darah, bukan air biasa yang biasa kita temui."

"lalu, apa yang harus kami lakukan ketika sudah mencapai sungai itu?"

"temui dewa sungai itu. Dan sampaikan ini…" dengan sihir, Tora memunculkan sebuah kantong beludru berwarna merah. Dia memberikan kantong itu kepadaku. "isinya adalah beberapa mutiara. Aku berhutang budi padanya. Dan aku ingin memberikan ini padanya. Tapi aku tidak bisa karena situasinya seperti ini. Sampaikan ini dan katakan padanya kalau aku ingin kalian dapat melanjutkan perjalanan. Dia juga sudah gerah dengan kelakuan penyihir jahat tersebut karena sudah mencemari sungainya…"

Aku memasukkan kantong beludru itu kedalam tas milikku. "akan kami sampaikan…"

Kami pun naik ke atas kuda kami. Setelah berpamitan pada Tora, kami melanjutkan perjalanan.

-

Perjalanan kami lalui dengan melewati hutan kecil, padang bunga, hingga jembatan, dan di tengah hari, kami sudah mencapai hamparan padang rumput dengan banyak semak-semak hijau.

"bagaimana kalau kita istirahat disini? Aku lelah sekali…" kata Ruth. Aku mengiyakan.

"aduh, aku haus…" ujar Mia. Dia membuka tas sadel miliknya, dan mengambil sebuah botol minum.

Aku turun dari kudaku. Memberi kesempatan untuk kudaku merumput.

"kita sudah seberapa jauh?" tanyaku pada Juri yang ada di belakangku.

"kurasa sudah setengah jalan. Kita bisa sampai di gunung itu pada malam hari nanti." Jawab Juri.

"malam hari? Mengerikan…" komentar Shou ketika mendengar jawaban Juri.

"aku hanya khawatir dengan Chimera. Itu saja…" dari sejak Reina menceritakan tentang Chimera, aku masih tidak bisa membayangkan bagaimana bentuk fisik Chimera walaupun dia sudah menjelaskan ciri-cirinya.

Kami pun duduk di atas rumput yang luas itu. Sambil menikmati pemandangan alam sekitar yang indah.

"kurasa, aku pernah melihat Chimera…" Juri mulai bercerita.

"oh ya? Benarkah?" aku menantinya untuk bercerita.

"ya, kejadiannya belum lama. Saat itu, aku sedang berada di hutan. Di hutan tempat kalian tersesat. Aku kesana untuk memburu rusa. Lalu, aku melihat sekelebat bayangan. Dia melesat sangat cepat sampai aku tidak sadar apa itu. Tapi aku bisa melihat siluetnya."

"ya, kepalanya seperti singa jantan dan bersurai. Aku mendengarnya mengaum."

"apa kau berusaha menangkapnya?"

"awalanya ya. Tapi, dia sudah lebih dulu menghilang. Tanpa jejak… kurasa penyihir itu membawanya kesana karena ingin dia berburu."

"menurut legenda, kau harus memanah tepat di bagian jantungnya kalau kau ingin membunuhnya. Agar dia tidak mengeluarkan api lagi dari mulutnya…"

Suasana menjadi hening. Aku tahu, pasti karena kami semua membayangkan bagaimana nanti kalau kita bertemu dengan makhluk berbahaya tersebut. Apalagi ternyata dia juga sangat cepat.

Tapi di sela-sela keheningan itu, kami mendengar sebuah gonggongan.

"suara apa itu?" tanyaku. Aku melihat ke segala arah. Yang lain juga.

Dan suara itu berasal dari semak-semak yang berada beberapa puluh meter dari tempat kami duduk. Semak-semak itu bergoyang-goyang. Seperti ada sesuatu yang bergerak di dalamnya.

"mungkin disitu ada hewan. Akan kulihat…" aku berdiri menuju semak-semak tersebut.

"hey, hati-hati, Kate!" kata Mia. Dia ikut berdiri menyusulku.

Ketika aku sudah sampai di depan semak-semak tersebut, aku mengulurkan tanganku untuk menyibakkan semak-semak itu. Tapi sesuatu itu sudah lebih dulu keluar dan meloncat menuju arahku. Membuat aku kaget sehingga aku terjatuh.

Begitu aku sadar, aku melihat di atas tubuhku. Seekor anjing yang lucu dan berbulu hitam dan cokelat duduk di atasku. Dia menatapku sejenak, lalu menjilati pipiku.

"ahahaha… geli…" aku menggendong anjing itu. "ah, kau lucu sekali, anjing kecil…"

Aku bangun. Semua orang mendekati kami. Aku memangku anjing lucu itu di atas pahaku. Dia terlihat sangat manja sekali.

"wah, lucu ya…" kata Ruth. Dia mengelus bulu indah anjing itu.

"tapi kenapa dia sendirian, ya?" tanyaku heran.

"mungkin dia tersesat?" Juri mencoba mengira-ngira.

"bisa jadi. Bagaimana kalau dia kita bawa saja? Kurasa, pasti dia akan bisa membantu kita nanti." Usulku.

"boleh juga! Tapi sebelumnya kita harus memberikan dia nama…" Ruth berpikir.

"bagaimana kalau Koron?" Aoi memberi usul.

"ah, nama yang bagus, Aoi!" seruku. "anjing kecil, namamu adalah Koron sekarang… selamat datang, Koron…" aku mengelus kepala Koron.

Dan Koron sepertinya senang dengan nama barunya. Karena dia menggonggong dengan semangat.

-

Setelah itu, perjalanan kami lanjutkan. Di saat hari sudah menjelang malam, kami sampai di sebuah danau. Danau tersebut berada di padang yang terbuka yang di dekatnya terdapat banyak pohon. Airnya sangat jernih. Kami memutuskan berhenti disana untuk minum.

Pertama, kuda kamilah yang pertama minum. Tapi, ketika kuda kami baru meminum air itu beberapa teguk…

"astaga!" kami terkejut ketika kuda kami perlahan-lahan berubah menjadi seperti patung dan berubah menjadi debu.

"jangan-jangan…" Juri sudah mulai waspada. Matanya sudah melihat ke arah sekitar kami.

"hahahaha… baguslah kuda kalian sudah berubah menjadi debu…" kami mendengar suara yang sangat parau yang berada di belakang kami. Sosok itu tiba-tiba saja berada disana. Dengan tudung dan jubah berwarna hitam. Dengan tombak sihirnya yang membuatnya terlihat seperti Grim Reaper.

"kau…" Juri menggeram. Dan kami langsung yakin kalau dia adalah penyihir jahat tersebut.

"suatu kehormatan bagiku bisa bertemu dengan manusia seperti kalian…" penyihir itu berjalan mendekati kami. "oh, maaf… salah satunya tidak dalam keadaan utuh, ya… hihihi…" penyihir itu melirik ke arah Kai.

"apa maumu, penyihir…?" tanyaku sambil mengarahkan busur dan anak panahku ke arahnya.

"apa mauku? Seharusnya aku yang bertanya begitu. Apa mau kalian? Kalian ingin membunuhku, bukan? Dengan panah kecil itu…" dia menunjuk anak panahku.

"setidaknya, aku hanya ingin membantu teman-temanku yang terusik karena ulahmu…" jawabku.

"hahaha…" si penyihir tertawa sarkastis. "membantu? Apa kau bisa, manusia kecil?"

"seharusnya tahta itu milikku. Dan Reina juga Tora tidak berhak mendapatkannya."

"cih… pantas saja orang tuamu tidak memberikanmu tahta." Aku langsung menembakkan panahku ke arah jantungnya. Tapi, panahku tidak sampai mengenainya. Dia menghalanginya dengan kekuatan sihir yang dia keluarkan dari tangannya. Membuat panahku hancur lebih dulu.

"sudah selesai main-mainnya?" tanya si penyihir. "kalau begitu sekarang giliranku."

Dia mulai mengeluarkan kekuatan sihirnya. Membuat danau yang ada di belakang kami bergolak. Menciptakan gelombang yang sangat tinggi. Dan gelombang itu ditujukan ke arah kami.

Kami sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Kami tidak bisa berlari lagi. begitu ombak danau tersebut hendak diarahkan ke kami, ada sesuatu yang mengenai tangan si penyihir sehingga dia kesakitan dan membatalkan sihirnya.

Ketika kami melihat ke arah penyihir, kami melihat tangan penyihir tersebut kesakitan. Karena lemparan bola yang cukup keras dari seseorang. Bola itu menggelinding ke arahku.

"jangan ganggu dia, penyihir jahat!" aku melihat Nao, Ruki, Keiyuu, Leda, dan Uruha di belakang si penyihir. Lengkap dengan persenjataan mereka. Ruki dengan belati yang dia genggam, Leda dan Uruha dengan sihirnya, Nao dengan busur dan anak panah, dan Keiyuu dengan beberapa bola besi yang berat dan pedang yang ada di sarungnya.

"kalian!" seru Mia senang.

Leda dengan sihirnya membuat banyak pohon-pohon yang ada di sekitar kami terasa seperti 'hidup' dan mempunyai roh. Daun-daun itu membentuk siluet manusia dan menyerang si penyihir.

Uruha dengan sihirnya membuat senjata dari air yang dia ciptakan. Air itu dia buat membeku berbentuk pisau dan mengarahkannya ke penyihir itu.

Si penyihir dengan susah payah menghindari sihir mereka. Sampai akhirnya penyihir itu menyerah dan mengubah dirinya menjadi seekor griffin. Dan dia terbang.

"sial, dia kabur…" gerutu Aoi.

"terima kasih, semua!" aku menghambur ke arah trio dwarf, Leda, dan Uruha.

"kita buntuti saja dia…" kata Akito.

"tapi, bagaimana caranya? Kuda saja kita sudah tidak punya…" Ruth menyela.

"tenang saja. Kami punya ini…" sahut Uruha. Dia bersiul dan tiba-tiba saja keluarlah griffin yang jumlahnya pas dengan jumlah kami. Mereka berdiri di depan kami dan menunduk.

"ini sebagai permintaan maaf kami karena telah mengambil dia…" salah satu dari griffin itu bisa bicara. Dia menunjuk Kai yang bersembunyi di belakang Akito. Sepertinya dia trauma melihat griffin.

"oh, tidak apa-apa… jadi… kalian kesini untuk…" jawabku agak ragu.

"ya, kami datang untuk membawa anda menuju gunung tersebut. Ayo naik…"

Satu persatu kami pun naik ke atas griffin kami masing-masing. Termasuk trio dwarf, Leda dan Uruha.

Dan kami pun mulai terbang. Tampaknya mereka semua menikmati acara terbang kami. Tapi, aku teringat pada Uruha. Aku berteriak padanya.

"Uruha! Kau yakin ingin ikut perjalanan ini?"

"ya, tentu saja!"

"tapi… apa tidak apa-apa? Kau kan harus kembali ke laut sebelum fajar!" seruku.

"tidak apa! Kalaupun aku harus mati, tidak apa! Aku ingin membantu kalian!"