KATE'S POV
Perjalanan menuju gunung itu ternyata memakan waktu sampai fajar. Dan ketika kami tinggal setengah jalan lagi untuk sampai kesana, kami terpaksa turun ke tanah karena Uruha harus mencari sumber air untuk perubahan wujudnya.
Karena para griffin juga butuh istirahat, kami pun turun ke bawah, ke sebuah danau kecil yang berada tepat di bawah kami. Sepertinya pulau ini terdapat banyak sekali danau, ya.
Begitu sampai di tanah, Uruha langsung menghambur dan terjun ke danau. Lalu, kami melihat seberkas cahaya yang cukup terang di sekeliling Uruha dan air danau. Dia sudah berubah menjadi seorang mermaid lagi.
"katanya kau tidak takut mati..." kata Aoi.
"tapi aku tidak mau mati sebelum aku membantu kalian lebih dulu..." jawab Uruha yang sekarang bebas berenang di danau.
"sudahlah, Aoi... kita kan juga butuh istirahat..." kata Mia. "bagaimana kalau kita mengumpulkan buah-buahan untuk sarapan? Bekal kita kan sudah habis semua karena kuda-kuda kita mati oleh penyihir itu." Mia berlari ke arah pepohonan yang ada di dekat danau.
Disana terdapat banyak buah apel yang tumbuh di pohon.
"hey, lihat! Koron mengejar Kai!" Ruth menunjuk ke arah Koron yang mulai mengejar Kai. Dia menyalak ke arah Kai. Kai sendiri lari terbirit-birit. Takut Koron menggigitnya. Melihat seekor angsa jejadian dan seekor anjing lucu kejar-kejaran membuatku tertawa.
"hey, dia menyukai Kai!" kata Saga.
"dia pasti tidak tahu kalau Kai manusia..." Shou menggelengkan kepalanya.
"kurasa Saga benar. Koronmenyukai Kai. Makanya dia ingin mengajak Kai bermain, tapi Kai sendiri takutKoron menggigitnya. Makanya dia kabur. hahaha..." kata Aoi.
"kau tidak ingin menghentikan Koron, Kate?" tanya Ruth yang terlihat khawatir dengan Kai.
Aku tertawa terbahak-bahak dan menjawab, "tidak, tidak usah. Biarkan mereka berkreasi. Hahahaha..."
Lalu kami melihat Koron yangmasih terus mengejar Kai. Cara Kai berlari membuatku tertawa terbahak-bahak. Karena buntutnya bergoyang-goyang! Dan Kai berlari ke arah danau. Dia berenang di danau. Berpikir kalau Koron pasti akan menyerah kalau Kai masuk ke dalam danau.
Tapi Kai salah, Koron bisa berenang. Koron malah ikut masuk ke dalam danau dan mengejar-ngejar Kai lagi. membuat kami semakin tertawa terbahak-bahak. Mereka kejar-kejaran di sekeliling danau.
Tapi Uruha yang melihat mereka kejar-kejaran langsung menyusul dan ikut mengejar Kai. Dia berkomplot dengan Koron.
Uruha yang bisa berenang dengan cepat, dengan mudah menangkap Kai. Dan dia menaruh Kai ke dalam pelukannya. Dia juga membelai Koron.
"hey, sudah Koron... kau membuat Kai takut..." Uruha membelai kepala Koron yang berada di sebelahnya. Koron membalasnya dengan gonggongan.
Kami, yang melihat pemandangan yang 'intim' itu, hanya bisa melongo. Membayangkan Kai dalam bentuk manusia didekap oleh Uruha...
"teman-teman!" Mia tiba-tiba datang dengan terengah-engah karena baru saja berlari. Dia membawa beberapa buah apel di kedua tangannya.
"ada apa, Mia? Kenapa kau terengah-engah begitu?" tanyaku.
"kau harus lihat ini!" Mia mengabaikan apel-apelnya begitu saja terjatuh ke bawah dan dia menarik tanganku. Membawaku ke tempat dia mengambil apel tadi.
"tadi, saat aku mengambil apel, aku berjalan sebentar ke arah sana..." Mia menunjuk bagian belakang pohon."dan aku menemukan ini..." dia mengajak kami ke sisi belakang pohon. Dan terlihatlah pemandangan di balik pohon tersebut yang membuat kami menganga.
Sebuah padang rumput yang luas dengan sungai darah yang sangat deras alirannya di seberangnya...
Kami semua turun ke bawah. Mendekati sungai tersebut. Memang, sungai itu warna airnya merah seperti darah,tapi sama sekali tidak berbau amis. Rasanya seperti sungai yang diberi cat yang berwarna merah.
Lalu aku teringat pada mutiara yang dititipkan Tora kepada kami. Aku mengeluarkan bungkusan mutiara itu dari kantong dressku. Aku mengacungkan bungkusan itu ke arah sungai. Dan memanggi ldewa sungai tersebut.
Lalu air sungai darah itu menggelegak, dan keluarlah sosok berbadan manusia dari dalamnya. Dia mengambang di atas permukaan sungai tersebut.
"ada apa kau memanggilku?" dewa sungai itu bertanya dengan nada yang agak tinggi. Tapi aku bisa melihat raut wajahnya yang ramah.
Kami semua membungkuk memberi hormat. Aku membuka pembicaraan.
"kami datang karena utusan dari Yang Mulia Raja Tora. Dia menitipkan ini untuk anda..." aku menyerahkan bungkusan tersebut pada dewa sungai.
"oh... jadi kalian para manusia itu?" lalu, bungkusan yang ada di genggaman tanganku melayang. Dengan sihirnya, bungkusan itu melayang hingga sampai ke tangan sang dewa.
"ya, benar..."
"terima kasih... sudah lama aku menantikan ini dari Tora. Mutiara ini bisa mengembalikan sungai ini seperti semula..." sang dewa mengeluarkan mutiara dari bungkusan tersebut. Dan mutiara itu terdiri dari 3 butir.
Sang dewa menyemplungkan ketiga mutiara tersebut ke dalam sungai. Dan perlahan-lahan, warna merah dari air sungai memudar. Menjadi jernih kembali.
"dan satu lagi... aku bisa meminta tolong pada kalian?" tanya sang dewa.
"apa itu?" tanyaku.
"maukah kalian membantuku membangun jembatan untuk sungai ini?"
Lalu, Saga menunjuk dirinya,"aku akan membantumu..."
Katanya, jembatan bisa dibangun hanya dalam waktu beberapa jam saja. Karena dewa sungai sudah menyiapkan segala keperluan membangun. Seperti kayu, paku, dan lain , membangun dengan setengah kekuatan sihir pasti cepat, bukan?
Di saat para cowok sedang membantu dewa sungai membangun jembatan, kami para cewek duduk-duduk di danau. Mendengarkan cerita dari Leda. Terkadang melihat atraksi sihir yang dilakukan oleh Leda dan Uruha.
Kadang-kadang Kai dan Koron juga menghibur. Koron ternyata memang menyukai Kai. Makanya setiap ada Kai, disitu pasti ada Koron. Aku melatih Koron agar dia tidak menggigit Kai. Binatang disini rupanya cukup cerdas juga.
"kau ingin belajar sihir?"Leda menawariku.
"ngg... memangnya aku bisa melakukannya?"
"kalau kau berniat, kau bisa melakukannya..." Leda tersenyum yakin padaku. "kalau kau mau, aku akan mengajarimu..."
"well, aku sih mau-mau kalau aku tidak bisa, jangan kecewa, ya..."
Leda tertawa. "tidak apa... aku bisa merasakan kau mempunyai bakat sihir, Kate... tapi karena kau manusia dan tinggal di dunia yang tidak terlalu mempercayai sihir, makanya kau tidak bisa menyalurkan bakatmu..."
Aku terpana mendengar kata-kata Leda tadi. Dan membiarkan Leda membawa diriku ke dalam sihirnya.
Kami berdua duduk bersila berhadap-hadapan di atas rumput. Leda mulai menggerakkan tangannya. Dia berkonsentrasi. Dan kemudian, tangannya mengeluarkan bola cahaya berwarna putih. Dan bola itu mulai 'dimasukkan' ke dalam tubuhku. Aku terguncang.
Rasanya seperti ada 'sesuatu'yang masuk ke dalam tubuhku. Aku tidak tahu apa itu. Kepalaku terasa berat.
"Leda, kau memasukkan apa kedalam tubuhku?" aku memegangi kepalaku yang terasa melayang-layang.
"aku ingin memberimu bakat tersebut, Kate... kau tidak apa-apa?"
Aku berusaha untuk menguasai diriku. Setelah aku merasa baik-baik saja, Leda mulai mengajakku berbicara lagi.
"nah, sekarang cobalah untuk menggerakkan tanganku. Tapi... tanpa menyentuhnya..." Leda mengacungkan tangannya ke arahku.
"kalau kau bisa, kekuatan sihirmu bisa dipakai untuk melawan si penyihir..."
"kosongkan pikiranmu dan fokus..." Leda berkata lagi.
Dan aku mencoba untuk melakukannya. Aku mulai menggerakkan tanganku untuk melakukan sihirnya. Tapi tidak bisa. Aku mencoba untuk melakukannya berkali-kali namun hasilnya nihil.
"kurasa, kau masih butuh banyak latihan, Kate..." Leda mendesah.
"aku tidak mengerti. Kau memberikan aku bakat tersebut. Tapi kenapa aku tidak bisa melakukan sihirnya?"
"sihir tidak bisa langsung kau praktekkan begitu saja. Kau harus banyak belajar, Kate. Apalagi kau juga harus membiasakan diri dengan bakatmu itu..."
"waw, kau hebat, Kate!" Ruth memujiku. Koron menyalak riang ke arahku.
"jadi, aku harus bagaimana? Apa kekuatanku ini bisa kubawa pulang?" tanyaku.
"entahlah... dunia kita berbeda, Kate... aku takut kau tidak bisa membawanya pulang..."
Lalu, aku mendengar Saga berteriak dari dekat pohon. "teman-teman! Jembatan sudah jadi!"
Kami berlari ke arah sungai yang sudah memiliki jembatan kayu itu. Jembatan buatan mereka terlihat kokoh dan kuat. Kayu yang digunakan ternyata sangat bagus.
"terima kasih karena telah membantuku, wahai manusia... dan apakah kalian tahu, kalau kalian menyebrangi sungai ini, kalian sudah memasuki daerah kekuasaan penyihir. Jadi aku sarankan, kalian harus cepat-cepat pergi sebelum dia tahu keberadaan kalian disini."
Aku melihat matahari yang sudah condong ke barat. Hari sudah hampir malam.
"wah, jembatan yang bagus..." Uruha berdiri di belakang kami. Dia sudah berubah lagi. "apa kata dewa sungai benar. Kita harus cepat-cepat pergi sebelum penyihir itu tahu kalau kita akan menghabisinya."
Lalu kami menyebrangi sungai itu lewat jembatan. Begitu kami sampai di seberang, kami langsung merasakan hawa jahat dan hawa yang suram. Seakan penyihir itu mempunyai banyak mata di sekeliling kami. Kami merasakan sesak nafas.
Dan setelah ini, aku tahu,kalau pertarungan akan segera dimulai...
