KATE'S POV

Tempat pertama yang kami lewati adalah lembah.

Lembah yang suram dan gelap karena hari sudah hampir malam, dengan pohon maple yang banyak jumlahnya, pohon maple yang mulai berguguran daunnya.

Kami semua waspada. Kami berjalan dengan pelan namun pasti. Dewa sungai berkata agar kami hati-hati dengan dryad yang mendiami pohon-pohon maple itu. Mereka adalah antek si penyihir. Mereka memata-matai siapapun yang datang ke lembah ini lalu menghabisi mereka sebelum mereka sampai ke istana penyihir.

Saat kami menyusuri jalan setapak, kami mendengar Koron yang ikut bersama kami menggonggong ke arah rimbunan pohon maple. Gonggongannya terdengar waspada dan menunjukkan adanya bahaya.

'ada apa, Koron?' aku mengambil Koron dan menggendongnya. Namun dia memberontak minta dilepaskan. Aku melepaskannya, dan dia terus menggonggong ke arah sana.

"mungkin Koron merasakan sesuatu?" kata Ruth. Dia merasa ketakutan, aku tahu itu.

Semuanya juga menyiapkan senjata. Termasuk aku. "le… lebih baik… kita terus berjalan saja…' ujarku.

Kami mengabaikan hal itu lalu kembali berjalan. Tapi tiba-tiba Juri berteriak, "Kate, awas!"

Sebelum aku sadar, ada sesuatu yang tiba-tiba lewat dari dekat telinga kananku dan menuju ke arah pohon-pohon maple. Dan beberapa detik kemudian aku sadar kalau itu adalah belati milik Mia yang menancap di pohon maple.

Dan juga suara jeritan yang mengerikan.

"astaga! Apa tadi itu!" seru Aoi kaget.

''entahlah… '' Mia berjalan mendekati pohon tempat belatinya menancap dan mengambilnya. Ketika dia memperhatikannya, ada bercak darah yang menempel di ujung belatinya.

''kau baru saja nyaris diserang oleh roh dryad, Kate… dan Mia membunuhnya… '' kata Juri.

''astaga… kenapa dia menyerangku?'' kataku.

"karena kaulah yang akan membunuh si penyihir. Ayo. Kita lebih baik lanjutkan perjalanan…" ujar Juri. Kami pun mulai berjalan lagi.

Tapi ketika kami baru beberapa langkah, kami mendengar suara-suara aneh dari balik rimbunan pohon maple.

''astaga, apa lagi itu?'' kata Ruth. Dia makin ketakutan.

"jangan takut, Ruth. Kita kan bersama-sama…" aku mencoba untuk menghibur.

Tapi Ruth benar untuk merasa takut.

Dari balik pepohonan maple itu, keluarlah banyak sekali kumpulan dwarf yang fisiknya sama seperti trio dwarf teman-teman kami. Tapi, mereka lebih mengerikan. Mereka membawa senjata tajam. Ekspresi mereka sangat bengis terhadap kami. Mereka siap menyerang.

Mereka menghalangi jalan kami. Tanpa suara, mereka bisa memberitahu apa yang akan mereka lakukan terhadap kami.

"kalian cepat pergi. Aku yang akan menangani mereka disini.'' Kata Aoi. Dia mengeluarkan pedang dari sarungnya. ''cepat !''

Aoi, Shou, Saga dan Akito tinggal. Trio dwarf juga ikut tinggal. Sedangkan Kai malah terbang dan pergi ke arah yang berlawanan. Tapi kami tidak terlalu memperhatikannya. Mungkin dia juga sama ketakutannya seperti kami.

Kami berusaha berlari secepat mungkin. Terkadang kami membuka jalan kami dengan melukai beberapa dwarf jahat yang berusaha menghalangi kami.

"aku tidak tahu apa yang akan menghalangi kita selanjutnya… firasatku buruk…" kata Ruth.

"aku juga, Ruth. Sejak dwarf tadi berusaha untuk menyerangku…" kataku.

Lalu, ketika kami baru sampai di tanjakan yang menuju gunung, kami mendengar suara-suara lagi. mereka dengan merayap di sekitar pohon. Dengan wajah mereka yang mengerikan seperti Siren yang kami hadapi di laut waktu itu.

Dan kami langsung sadar kalau mereka adalah pasukan dwarf.

"lebih baik kalian pergi lebih dulu. Kami yang akan menghadapi mereka…" kata Leda.

"ya, aku akan membantu Leda." Kata Uruha juga.

"ka… kalian yakin? Aku bisa membantu kalian…" aku tidak rela kalau mereka tinggal untuk menghadapi para dwarf ini.

"sudahlah. Lebih baik kalian pergi. Juri, tolong jaga 3 gadis ini…''

Sebelum aku bisa berkata apa-apa lagi, Juri sudah lebih dulu menarikku dan kami kembali berlari. Aku mencoba untuk melihat ke belakang. Leda dan Uruha berusaha melawan mereka dengan sihirnya.

Saat aku kembali lagi melihat ke depan, Mia tiba-tiba berhenti.

"lebih baik aku membantu mereka." Mia berbalik dan masuk ke dalam kerumunan dwarf untuk membantu Leda dan Uruha.

"Mia! Kembali!" seru Ruth.

"tidak, aku akan disini. Lebih baik kalian cepat-cepat kesana!" teriak Mia.

Ruth diam beberapa lama sebelum dia berbalik lagi dan kami kembali berlari menuju daerah gunung.

Suasana gunung semakin mencekam. Auranya terlihat suram dan berbahaya. Sudah beberapa roh jahat yang menyerang kami tapi akhirnya berhasil kami lumpuhkan.

Hingga akhirnya, kami mendengar suara raungan seekor singa.

"jangan-jangan itu…" Ruth khawatir.

"chimera!" jeritku saat chimera dengan taring yang sangat tajam dan besar berdiri di depan kami. Dia menyeringai dengan kejam. Seakan dia sudah tahu kalau kami bukanlah kawan mereka.

Dia mengaum lagi, dan mengeluarkan api dari mulutnya seperti naga. Kami mundur beberapa langkah, takut kalau api itu mengenai kami. Dan dia lebih mengerikan dari semua cerita yang pernah kudengar. Ekornya sangat panjang dan kalau diperhatikan ternyata ekor itu adalah ular phyton, tubuhnya seperti tubuh kuda, kepalanya adalah kepala singa jantan dengan surainya yang sangat lebat.

Dan dia menatap Juri…

Juri mengerti apa maksud chimera itu. Juri mengeluarkan pedangnya. Dan dia mengacungkan pedangnya di depan mata chimera itu.

''ini pertarunganku dengannya. Dia menantiku… lebih baik kalian segera pergi menuju istana penyihir. Hanya kau yang bisa mengalahkannya, Kate… '' kata Juri.

''Juri…'' aku ragu. Aku ragu kalau Juri akan baik-baik saja kalau dia bertarung dengan binatang paling buas seperti ini.

''pergi !'' teriak Juri yang membuat kami takut. Dengan berat hati, kami pun pergi meninggalkannya.

-

AUTHOR'S POV

Walaupun sudah banyak pasukan penyihir yang mati karena serangan mereka, pasukan dwarf semakin banyak saja. Membuat trio dwarf, dan para cowok kelelahan.

"mereka terlalu banyak!" seru Aoi.

"jangan menyerah!" Nao menyemangati dirinya sendiri dan teman-temannya.

Dwarf yang ada kesannya seperti ribuan. Mereka menyerang dengan binal dan tidak pandang bulu. Tampaknya, mereka akan terus menyerang tanpa henti sampai energi trio dwarf dan manusia melemah dan disaat itulah mereka akan menyerang dengan sungguh-sungguh.

"kita hanya bisa berharap…" ujar Shou lirih.

Hal yang sama juga terjadi pada Leda, Uruha, dan Mia. Mereka mulai kelelahan ketika mereka berusaha untuk melumpuhkan para roh dryad yang tidak ada hentinya menyerang mereka. Leda dan Uruha-lah yang paling lelah. Karena mereka terlalu memforsir kekuatan sihir mereka.

"kurasa semua ini pasti hanyalah sihir dari si penyihir…" Uruha berusaha menebak-nebak kenapa jumlah pasukan penyihir itu bisa sebanyak ini.

''mungkin saja. Dia pasti menyihir pasukannya sehingga jumlahnya bisa banyak seperti ini…'' jawab Leda terengah-engah, sambil mengalahkan seorang roh yang berusaha menyerang mereka.

''tidak peduli semua ini adalah sihir atau bukan… '' Mia menyerang roh dryad itu dengan belatinya. Dia juga kelelahan, sama seperti Uruha dan Leda. "kita harus menghabisi mereka semua…"

-

Keberuntungan tidak memihak pada Juri. Dia kembali terhempas ke tanah. Tubuhnya penuh luka. Dan beberapa bagian tubuhnya juga terkena luka bakar walaupun sedikit. Dia terengah-engah. Melawan chimera adalah hal yang tersulit dalam hidupnya selama ia menjadi seorang ksatria.

Tetapi, dia sudah lama menantikan pertarungannya dengan makhluk buas seperti ini lama sekali. Sejak dia bertemu dengannya yang sedang berkeliaran di hutan.

Chimera itu sekarang dengan gagahnya berdiri di depan Juri yang terkulai lemas dengan pedang yang ada di sebelahnya.

"sudah lama aku menginginkan pertarungan ini…" Juri menyemangati dirinya sendiri. Dia berusaha bangkit dan mengambil pedangnya. Lalu dia maju ke arah chimera itu.

Dia teringat satu hal. Untuk mengalahkan binatang ini, dia harus menusuk jantung binatang itu dengan pedangnya.

Dan dia sekarang mengincar kesempatan itu.

Dia berdiri menuju sisi kiri tubuh chimera itu. Dia menendang perutnya sekuat tenaga. Chimera itu berteriak kesakitan. Dia lalu tumbang.

Tanpa banyak tindakan lagi, Juri dengan seluruh tenaganya menancapkan pedangnya ke jantung sang chimera. Chimera kembali berteriak dengan kencang dan merasa sangat kesakitan ketika darah mengalir dari luka tempat Juri menusuknya.

Sejenak Juri menghela nafasnya dengan lega. Tapi ketika dia melihat jasad sang chimera yang sudah tidak bernyawa, dia terkejut.

Tubuh sang chimera mengeluarkan sinar keputihan yang sangat terang. Sampai membuat Juri menutup matanya dengan lengannya.

Setelah cahaya itu hilang, dia melihat chimera itu sekarang tidak berbentuk chimera lagi. bentuk itu sudah mencair menjadi genangan salju yang berwarna putih…

-

KATE'S POV

Ketika aku hampir mencapai istana, aku melihat di depan kami sekarang adalah sebuah kebun. Kami berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Ketika kami sedang menarik nafas kami perlahan-lahan, Ruth melihat sesuatu dari salah satu pohon yang ada di kebun ini.

"bukankah itu buah pir yang Reita cari untuk penyakit putrinya?" Ruth menunjuk buah pir yang menggantung di cabangnya. Buah itu berwarna putih.

"ayo kita petik…" aku berjalan mendekati pohon pir yang letaknya tidak jauh dari kami tersebut. Untungnya, cabang yang terdapat buah itu tidak terlalu tinggi sehingga kami bisa saja memetiknya dengan mudah.

Tetapi ternyata tidak semudah itu…

"kalian menginginkan buah itu?" kami mendengar suara parau. Pemilik suara itu tiba-tiba saja berdiri di samping kami. Dia menyihir buah itu sehingga buah itu terjatuh dan menghilang begitu saja.

"kau tahu, buah pir itu sangat sangat jarang sekali berbuah sehingga hanya itulah yang tersisa dari pohon ini…" kata si penyihir.

Kami mundur perlahan-lahan. Bergerak menjauhi si penyihir tersebut. Namun, dia menyeringai.

"kenapa kalian takut padaku? Kalian menginginkan buah pir tadi, bukan? Kenapa kalian tidak mengambilnya dariku?"

Aku langsung mengambil busur dan anak panahku lalu membidiknya. Tanpa ragu, aku melepas anak panahku dari busurnya. Tapi lagi-lagi, dengan sihirnya, dia mencegah anak panah itu menyentuh dirinya, lalu anak panah itu hancur perlahan.

"apa hanya itu kemampuanmu, manusia? Kalian benar-benar mengacaukan semua rencanaku!" dia mengamuk. Dia mengeluarkan sihirnya lagi. cahaya sihirnya yang berwarna merah itu dia arahkan ke kami. Kami berusaha untuk menghindar. Karena usaha kami kurang, membuat Ruth terjatuh dalam keadaan kakinya terkilir di atas tanah.

"Ruth, kau tidak apa-apa?" aku mendekati Ruth yang meringis kesakitan.

"i… iya… aku tidak apa-apa…" jawab Ruth sambil tetap meringis. "awas!" Ruth melempar tubuhku sehingga aku juga ikut terjatuh bersamanya. Dan tiba-tiba ada sebuah ledakan kecil di belakang kami. Penyihir itu masih berusaha untuk mencelakai kami. Dia mengincarku. Dia mengarahkan semua sihirnya ke arahku.

"lari, Kate!" Ruth menyuruhku. Aku tidak terlalu mengindahkan karena aku masih berusaha untuk menghindari sihir yang diluncurkan oleh si penyihir.

Tapi tiba-tiba, sihirnya berhenti. Aku berhenti untuk melihat keadaan sekitar. Dan aku melihat Ruth.

Penyihir itu sekarang mencengkram leher Ruth! Dia membawa belati yang ada di tangannya dan menaruh ujung belati itu di leher Ruth. Ruth berteriak memanggil namaku.

Kini aku berdiri di depan mereka. Penyihir itu menyandra Ruth.

''kumohon, lepaskan dia !'' aku meminta.

"tidak sampai kau memberiku daun emas yang kau bawa!" seru si penyihir. ''berikan aku daun emas itu, Kate !''

''kau tidak akan mendapatkan apapun dari daun itu, wahai penyihir…'' ujarku.

''kalau begitu kau ingin dia mati…'' dia membuat leher Ruth mengeluarkan sedikit darah karena belatinya.

"tunggu!" selaku. Aku merogoh kantong dressku. Penyihir itu mulai melunak. Dia melepaskan Ruth. Lalu aku memberikan daun emas itu dalam bentuk genggaman tangan yang sangat erat sehingga dia tidak bisa melihatnya.

Ketika dia mendapatkan daun emas itu, dia kembali marah besar.

Karena daun emas yang kuberikan sudah layu. Dia membuangnya begitu saja ke tanah.

"kau menipuku!" dia berteriak. Lalu dia mengeluarkan sihirnya lagi ke arahku dalam jumlah dan kekuatan yang sangat sangat besar. Aku hanya bisa pasrah. Ketika sihir itu siap meluncur ke arahku, tiba-tiba saja, cahaya itu terhalangi oleh sesuatu, mengambang begitu saja di udara.

Dan kemudian aku menyadari kalau aku sendirilah yang menahan semua kekuatan itu. Aku memfokuskan tatapan mataku ke arah cahaya sihir itu dan mengembalikannya lagi ke penyihir.

Si penyihir yang sama sekali tidak siap, terpelanting begitu saja oleh sihirnya sendiri. Tapi dia tidak selemah itu. Dia masih bisa berdiri.

Namun aku sendiri tidak seperti dirinya. Aku langsung merasa lemas. Dan terjatuh ke tanah. Mungkin karena tadi sihir yang baru saja aku punya tiba-tiba saja keluar begitu saja dalam jumlah yang besar padahal aku sendiri belum pernah mencobanya.

Penyihir itu memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerangku lagi. Ruth memanggil namaku lagi. Dia ingin menolongku, namun tidak dapat berbuat apa-apa. Penyihir itu sudah membuat kakinya tidak mampu bergerak.

Penyihir itu mendekatiku. Dia mengeluarkan sihirnya lagi ke arahku yang terkulai lemas. Kini aku benar-benar siap untuk mati.

Namun, lagi-lagi, dia tidak jadi mengeluarkan sihirnya. Dia malah berteriak kesakitan. Dia melihat ke arah kakinya.

Koron sedang menggigiti kakinya !

Lalu, di hadapan kami sekarang banyak pasukan centaur, dryad dipimpin oleh Leda, dwarf yang dipimpin oleh Nao. Di antara mereka ada Saga, Shou, Akito, dan Aoi. dan aku mendengar suara ringkikan dari atas langit. Aku melihat banyak sekali griffin yang terbang di atas sana. Mereka mendarat dengan indah di dekat kami. Dan di antara griffin itu, aku bisa melihat Kai juga.

''jangan dekati dia, penyihir !'' seru Juri yang berdiri di depan para pasukan itu. Dia terlihat terluka dan kelelahan.

''aku bahkan bisa melukai kalian hanya dengan sihirku ini… '' kata penyihir dengan sombongnya lalu dia mengeluarkan seluruh kekuatan sihirnya lagi. membuat kami silau dan menutup mata.

Dan lagi-lagi, ada yang menghalangi kekuatannya.

Di sela-sela sihir itu, aku melihat seberkas cahaya berwarna emas bersinar di tanah. Cahaya itu menyerang si penyihir yang sedang berusaha mengeluarkan seluruh kekuatannya. Dia berteriak kesakitan.

''cepat bunuh dia, Kate !'' seru Juri.

Tanpa diberitahu dua kali, aku berdiri. Dan mengambil panah yang belum pernah kugunakan sebelumnya. Panah yang ujungnya mempunyai bulu berwarna putih dan aku mengarahkannya ke arah penyihir yang masih kesakitan dengan seluruh konsentrasiku. Dan aku beruntung, tembakanku tepat sasaran mengenai jantung si penyihir. Dia berteriak lagi, wajah dan tubuhnya terbungkus oleh cahaya berwarna emas dan putih.

Lalu dia dan cahaya itu menghilang begitu saja, pergi ke arah langit dan berubah menjadi sesuatu yang sangat kami kenal.

"salju!" seru Aoi.

Ya, memang benar. Hujan salju…

Seketika itu juga, semua pengaruh sihir si penyihir hilang. Istana yang kami lihat tiba-tiba runtuh begitu saja, Ruth bisa berjalan kembali, dan yang terpenting, semuanya selamat.

''kau berhasil mengalahkannya !'' Mia berlari ke arahku.

''kau memang hebat, Kate.'' Juri juga ikut mendekatiku. Dan tiba-tiba dia memelukku. Membuatku menjadi kaget dan salah tingkah.

''oh… maaf…'' dia melepaskan pelukannya begitu saja. Aku tertawa kecil.

"tidak apa-apa… oh, kau sendiri ? kau juga tidak apa-apa? Kau terluka…" aku memperhatikan tubuhnya dari atas sampai bawah.

''tidak, tidak apa-apa… tenang saja…'' Juri ikut tertawa.

''terima kasih, Koron !'' Ruth menggendong Koron lalu memeluknya. Koron membalasnya dengan jilatan geli di pipi Ruth.

Lalu aku bisa mendengar suara sorakan dari para pasukan. Mereka kembali ceria sembari menikmati hujan salju yang turun.

''wah, salju disini sama sekali tidak dingin, ya…'' komentarku.

''bukan tidak, tapi belum." Juri melepas mantel ksatrianya dan kemudian memakaikannya padaku. "tapi sebentar lagi kau pasti akan membutuhkan api unggun dan cokelat panas…"

"kurasa itu ide yang bagus…" aku tersenyum.

"ayo, kita kembali ke istananya Tora!" ajak Mia. Aku mengangguk. Orang-orang istana harus tahu kabar kemenangan ini.

"tapi tunggu…" aku merasa ada sesuatu yang tertinggal. "buah pir itu!" aku mulai berlari namun tidak jadi ketika aku merasakan ada sesuatu yang menyentuh telapak kakiku. Aku melihat ke bawah. Dan disitulah dia. Buah pir yang aku cari.

Aku memungut buah pir itu dan tersenyum sendiri.

"kenapa?" tanya Juri.

"tidak… ini kan untuk obat penyakit yang diderita oleh putrinya Reita…" jawabku. "dan juga tiket untuk kebebasan Kai…"

Juri tertawa lepas. Dia baru ingat kalau Kai masih dalam wujud angsa. "kau benar. Ayo, kita pergi dari sini…" dia menggenggam tanganku.