KATE'S POV
Kami kembali ke istana Tora dengan griffin. Disana, semuanya sudah menyambut kami seperti pahlawan. Dan mereka memang berpikir seperti itu, kami adalah pahlawan.
Reina jauh-jauh datang menyebrangi lautan untuk menyambut kami di tempat Tora. Mereka mengadakan pesta untuk merayakan keberhasilan kami.
Mereka juga mengobati luka-luka kami. Memberikan Uruha sebuah kolam yang cukup besar yang terletak di taman istana untuk perubahannya menjadi mermaid lagi.
Ketika kami masuk ke dalam aula istana, semua orang bertepuk tangan untuk kami. Kami disambut dengan meriah. Sugizo dan kedua anaknya berdiri di ujung altar, tersenyum ke arah kami.
"terima kasih sudah menyelamatkan kerajaan kami, teman-teman…" kata Reina dengan penuh hormat. Kami membungkuk untuk memberi hormat.
"dan untuk malam ini nanti, akan diadakan pesta untuk merayakan keberhasilan kalian!" seru Tora dengan riang.
"tapi… kami ingin bertemu dengan Reita…" aku menunjuk ke arah Kai yang dari rautnya terlihat kalau dia sangat ingin kembali ke wujudnya yang semula.
"oh… tenang saja. Aku juga sudah mengundangnya. Juga dengan putrinya yang sedang sakit itu. Dia sedang beristirahat di kamar. Kalian bisa memberikan obatnya sekarang…" Sugizo menjawab.
-
Reita dengan perlahan memotong buah pir itu menjadi beberapa potong dengan pisau. Dia menaruh potongan buah pir itu di atas sebuah piring kecil. Dia lalu membawa piring itu dan duduk di sisi ranjang tempat putrinya berbaring.
Putrinya sangat cantik. Kulitnya putih pucat, namun sayangnya karena dia sedang sakit, wajahnya terlihat sangat pucat dan lelah. Rambutnya yang hitam legam dan panjangnya yang mencapai pinggangnya, dan bibirnya yang merah.
Perlahan Reita menyuapi putrinya dengan buah pir tersebut. Sang gadis perlahan menggigit dan mengunyah buah itu di mulutnya.
Khasiatnya cukup cepat. Setelah memakan pir itu, dia langsung tertidur dengan lelap. Reita meminta pada kami agar tidak mengganggunya. Karena efek dari buah itu sedang bekerja dan dia baru akan bangun nanti malam.
Dia mendekati kami yang sedang berdiri di depan pintu kamar. Dia tersenyum.
"aku sangat berterima kasih pada kalian… maaf kalau aku sudah menyusahkan kalian." Reita membungkuk memberi hormat kepada kami.
"tidak, Reita. Kami juga senang bisa menolongmu…" aku tersenyum.
"nah, siapa yang ingin kurubah bentuknya menjadi seperti semula?" Reita mencari-cari keberadaan Kai.
"wah, iya… Kai tidak ada…" Aoi celingukan mencari Kai.
"kau ingin tahu dimana dia berada?" ujar Juri. Kami semua mengangguk. Juri berjalan menuju balkon kamar. Dia menunjuk taman istana yang ada di lantai bawah.
''itu dia…'' Juri menunjuk Kai yang sedang berenang di kolam istana dan bermain kejar-kejaran bersama Uruha dan Koron. Kami semua tertawa terbahak-bahak.
''apa perlu kita panggil ?'' kata Reita.
Tapi aku menggeleng, ''tidak, biarkan saja mereka bersenang-senang disana…''
Dan kami pun tertawa kembali.
-
Pesta diadakan di malam hari. Pesta diselenggarakan di taman istana. Mereka menyalakan kembang api di udara. Ada orkestra musik, bahkan Akito dan Ruth pun ikut berpartisipasi untuk menyumbangkan lagu mereka. Bagi yang tidak bermain alat musik, mereka menari. Termasuk aku.
Semua orang datang. Bagi yang ikut dan berpartisipasi dalam perjalanan kami untuk mengalahkan penyihir, diberi hadiah. Trio dwarf mendapat rumah baru yang bagus dan layak untuk mereka di daerah kerajaan. Mereka sangat senang. Karena selama ini, hidup mereka hanyalah berpindah-pindah dan membuat kemah dengan suku mereka.
Leda mendapat hadiah yaitu dia bisa bernyanyi kembali dengan teman-temannya. Karena penyihir itu, mereka tidak bisa bernyanyi. Dan sekarang, mereka bisa bebas bernyanyi di hutan dengan suara merdu mereka.
Uruha, dengan sihir Reina, dia mendapat banyak sekali stok cokelat yang pasti akan cukup untuk persediaan selama setahun.
Juri dan Kouki. Karena kerusakan kapal, Kouki mendapatkan kapal baru. Sedangkan Juri, dia tidak meminta apa-apa. Baginya pengalamannya berpetualang bersama manusia itu adalah hadiahnya yang tidak akan ternilai.
Dan sekarang kami, para manusia akan diberi hadiah.
Kami membicarakannya di siang hari sebelumnya. Setelah kepulangan kami dari tempat penyihir. Kami mengingat semuanya. Semua yang telah kami lakukan selama kami berada di dunia ajaib ini.
Dan ketika mengingat itu, aku teringat pembicaraanku dengan Juri saat kami dalam perjalanan menuju istana.
''aku tidak menyangka kau akan memanggil pasukan centaur, griffin, dan yang lainnya…'' ujarku pada Juri.
''aku tidak memanggil mereka. Kai yang memanggil.''
''oh ya ?'' aku agak kaget.
''ya, maka dari itu kita melihat dia terbang saat kita akan diserang oleh para dwarf. Dia mencari bantuan ke istana. Dan Tora mengirim pasukannya.''
''hoo… cerdik juga dia…''
''yah, sepertinya ada gunanya juga dia menjadi angsa. Haha… oh ya, Kate…"
"apa?" aku menoleh ke arahnya. Wajahnya terlihat sayu. Walaupun dia masih berkonsentrasi mengendarai kuda miliknya.
"setelah semua ini selesai, dan kewajibanmu untuk menolong kami sudah berakhir… kau akan pulang, ya…"
Aku terdiam sebentar. Lalu menjawab, "Juri, aku juga harus kembali ke duniaku, cepat atau lambat. Mereka yang ada disana pasti mengkhawatirkanku…"
"oh… begitu ya…" dia mendesah berat.
"kenapa memangnya?"
"tidak apa. Kurasa, kalau kalian sudah pulang, tidak akan seru lagi…"
"tapi aku tidak tahu caranya untuk pulang. Apa aku harus seperti ayahku, mengambil daun emas dari sana?"
''bisa saja kau melakukannya… ''
''tapi apa daun emas bisa mengabulkan segala permintaanmu ? kurasa tidak…''
''kenapa kau berpikir begitu ?''
''karena dia tidak bisa mengembalikan ayahku. Kurasa, daun emas hanya melaksanakan tugas hidupnya, dan dia tidak boleh menyalahi peraturan alam…''
''ya, kau benar. Kau tahu, baru kali ini ada yang berpikir seperti itu. Kau benar-benar berbeda, Kate…''
''karena aku manusia ?''
''tidak. Aku tidak tahu, kau berbeda… itu saja… ''
''oh ya, bicara soal daun emas, kenapa ya saat dia tiba-tiba dia bekerja dan mengeluarkan cahaya lalu mengalahkan penyihir itu…"
''mungkin karena dia belum benar-benar layu. Kau memberikan daun itu pada penyihir dengan harapan agar kau bisa mengalahkannya. Dan daun emas itu mengabulkannya. Haha… senjata makan tuan. Kasihan sekali si penyihir… ''
''tapi dia pantas menerimanya… ''
''haha… kau benar…''
''jadi, kau akan meminta apa untuk hadiah yang akan Reina dan Tora berikan nanti ?''
''kurasa, dari semua yang telah kita lakukan, aku tahu jawabannya…''
"apa?"
Lalu aku menjawabnya, jawabanku itu membuat Juri terlihat semakin kecewa.
"baiklah… itu pilihanmu…" itulah jawabannya.
-
Lalu aku merundingkannya dengan teman-temanku. Kami berkumpul di kamarku, beberapa jam sebelum pesta dimulai.
"kurasa… setelah semua yang kita lalui disini, aku jadi ingin pulang…'' kata Mia. ''aku rindu kudaku…''
''aku juga. Ayah pasti mencari-cari kita juga. Lagipula, kita belum melaksanakan liburan kita. Kita kan masih bertengkar waktu itu. Ya kan?" sahut Ruth.
"aku juga ingin pulang… aku harus meminta maaf pada ibuku. Liburan ke Dundalk ternyata tidak seburuk yang kukira…" ujarku.
"Kurasa kau merasa terganggu saat aku bertemu denganmu di kereta waktu itu…" Shou menyindirku sambil bercanda.
"Shou… itu kan lain cerita…" kataku tersipu. "tapi kau memang cerewet di kereta…" kata-kataku tadi membuat Shou melemparkan bantal ke arahku.
"tapi apa yang lain akan menerima kalau kita pulang?" tanya Mia. "kalau kita pulang, berarti kita semua akan berpisah dengan Koron…" Mia memeluk erat Koron yang ada di pelukannya. Koron sepertinya mengerti apa yang kami bicarakan. Maka dari itu, wajahnya dari tadi terus menerus terlihat sedih. Dia tidak menggoyang-goyangkan ekornya seperti biasanya.
''di atas segalanya, setelah pulang dari sini, aku akan merindukan Koron…'' aku memanggil Koron. Koron lalu meloncat dari Mia dan berpindah ke pangkuanku.
''oh ya ? apa kau tidak merindukan dia?'' goda Aoi.
''dia? Dia siapa?'' tanyaku tidak mengerti.
''itu… sang ksatria…'' Aoi tersenyum lebar.
Aku menggeleng, ''aku sadar kalau dunia kita berbeda, Aoi. Kita tidak akan bisa bersama.''
''hey, tapi sahabat tidak pernah mengenal perbedaan, bukan? Kenapa tidak?" sela Saga.
"kalau begitu, kau bisa menjelaskan perasaanmu terhadap Reina?" tanyaku.
"oh… kurasa, aku akan mengambil jalan tengah. Dia kan harus memerintah dunia ini…" Saga mendesah kecewa. "tapi, tidak ada salahnya aku menjadikan dia sebagai sahabatku. Dia juga tidak keberatan, kok…"
"well, apa kalian sudah memutuskan?" tanya Ruth.
"yap… Dundalk…" kami sepakat.
-
Dan setelah acara menari dan acara bebas yang lain, sekarang saatnya.
Sekarang giliran Kai. Kai berdiri di tengah-tengah kerumunan orang-orang. Bersama Koron yang selalu menempel bersamanya setiap mereka bertemu. Sampai Kai terkadang risih sendiri pada Koron.
Reita bersama putrinya yang ada di sampingnya, berdiri di depan Kai. Dia tersenyum pada cowok berwujud angsa itu. "maafkan aku, Kai… akan kukembalikan kau seperti semula…"
Kai menunduk dalam ke arah Reita. Seolah dia sangat senang dengan kata-kata Reita tadi. Lalu, dengan cahaya sihir yang dikeluarkan dari tangan Reita, Kai kembali menjadi seperti semula. Dengan tubuh manusianya yang lengkap dan sempurna.
Tapi, ada satu yang ketakutan ketika melihat perubahan Kai.
Koron langsung berlari menjauh dari Kai. Dia bersembunyi di belakangku.
''kenapa, Koron ?'' aku menggendongnya.
''sepertinya dia takut padaku.'' Kai yang menjawab. ''sekarang aku akan membalas dendam padanya…'' Kai tersenyum. Senyumannya dibuat semengerikan mungkin. Sampai Koron semakin takut. "ayo, Koron… kita main kejar-kejaran…" dia mendekatiku dan berusaha mengambil Koron dariku.
Namun Koron meloncat lebih dulu lalu berlari menyusuri kerumunan. Lalu dikejar oleh Kai. Membuat yang lainnya tertawa terbahak-bahak termasuk aku.
''ah, ternyata Kai tampan juga ya… dia manis…'' sahut Uruha yang ada di sebelahku. Aku sampai kaget.
''kau menyukainya ?'' tanyaku.
''well, kurasa cukup tampan untuk seorang yang baru saja bertransformasi jadi manusia setelah dia lama menjadi seekor angsa…'' Uruha tertawa. Aku juga.
''nah, bagaimana dengan kalian ?'' tanya Reina. Dia maju ke tengah kerumunan. ''para manusia, aku, sebagai perwakilan dari rakyat dan penghuni Domhan, aku sangat berterima kasih pada kalian. Juga untuk yang lainnya, yang telah membantu mereka. Dan terutama untukmu, Kate…" Reina mendekatiku.
"kalian menginginkan apa? Kalian belum menyebutkan permintaan kalian sama sekali…"
"Reina… mungkin permintaan kami agak sedikit berat untuk kalian semua…" aku menjawab dengan suara yang cukup berat.
"katakan saja, Kate. Kalian bisa mendapatkan apa saja yang kalian inginkan…" kata Reina bijak.
Dan aku bisa merasakan suaraku rasanya semakin berat dan nyaris tanpa suara, "kami… kami ingin kembali ke dunia kami…"
