KATE'S POV
"kalian benar-benar ingin pergi?" tanya Reina seakan dia sama sekali tidak mendengarkan apa yang kukatakan barusan.
"bukannya pergi… kami…" sebelum aku bisa menerukan kata-kataku, Reina sudah memotong lebih dulu.
"sudah, tidak apa. Aku bisa mengerti. Kalian juga mempunyai kewajiban yang tidak kalah penting di dunia kalian…'' Reina tersenyum sedih.
Ternyata tidak hanya Reina saja yang merasa kecewa, yang lainnya juga. Aku bisa melihat sekitarku. Wajah mereka terlihat murung. Bahkan Mia dan Ruth pun menundukkan kepala mereka. Aku tahu mereka sedang menahan tangis.
Tapi mereka juga tahu, kalau mereka tidak bisa melarang kami…
"besok kalian bisa pulang…" ujar Reina lirih.
-
Setelah acara selesai, semua orang kembali ke tempat mereka masing-masing. Termasuk kami, kami kembali ke kamar kami. Semua kami lakukan dengan diam. Karena permintaan kami tadi. Setelah acara tadi selesai, kami berpamitan pada mereka. Mereka sangat berterima kasih pada kami. Beberapa diantara mereka bahkan menangis.
Dan salah satunya, ketika aku ingin memasuki kamar untuk tidur. Uruha memanggilku.
"hai, Uruha.. ada apa?" tanyaku.
Dia diam saja. Mencoba untuk mencari kata-kata yang tepat. Wajahnya terlihat sedih.
"kalau kalian memang ingin pergi besok pagi… maka aku… tidak bisa hadir untuk mengantar kalian…" katanya lirih.
"Uru…" aku jadi tidak enak padanya.
"tapi, tenang saja. Aku tidak akan sedih. Kan memang keinginan kalian untuk pulang, dan kalian memang harus pulang…" dia berkata dengan nada gembira yang dibuat-buat.
Aku tidak tahu harus berkata apa. Kami saling berpandangan. Lalu, kami berpelukan.
"terima kasih, Uru…" aku menahan tangis. "terima kasih ya…"
"tidak, tidak. Harusnya aku yang berterima kasih. Kalian memberiku cokelat." Dia melepas pelukan kami dan merogoh saku dressnya, dan mengeluarkan cokelat pemberian Mia dan Ruth yang tidak dia makan.
"aku simpan sebagai kenang-kenangan dari dunia manusia… '' dia tersenyum.
''Uru… seandainya aku bisa kembali kesini, aku pasti akan membawakanmu cokelat yang banyak untukmu lagi…''
''haha… akan kunantikan itu… dan oh ya…'' dia kembali merogoh sakunya. "kenang-kenangan… '' dia mengeluarkan sebuah kotak beludru yang cukup panjang berwarna biru dan aku membukanya. Isinya adalah beberapa kalung mutiara.
''astaga, Uru… terima kasih…'' aku mengagumi kalung mutiara yang berkilauan itu.
"itu untukmu, Ruth, dan Mia. Dan soal Koron, Ruki berkata dia mau merawat dia…"
"oh, terima kasih lagi Uru…" aku memeluk Uruha lagi. "kau tahu hadiah ini sangat berarti."
''apapun yang kau lakukan disana, jangan lupakan kami. Oke ?''
''tentu !''
-
Keesokan harinya, kami kembali ke padang rumput dimana kami dulu bermula. Di bawah rimbunan daun emas yang berkilauan karena terkena cahaya matahari.
Koron tidak henti-hentinya melolong sedih. Dia tidak mau lepas dari kami. Tapi Ruki mengambilnya. Dia mencoba menghibur Koron kalau semuanya akan baik-baik saja.
Dan disaat perpisahan inilah, semuanya perasaan akhirnya terungkap.
Aku bisa melihat Saga dan Reina berpelukan. Reina mencium lembut pipi Saga. Dan dia sama sekali tidak mau mengucapkan selamat tinggal pada Saga. Saga sendiri hanya berusaha kuat, dia menunduk dalam ke arah Tora dan Sugizo. Walaupun akhirnya mereka pun saling berpelukan.
Aku sendiri juga berat berpisah dengan Leda. Leda sangat baik. Dia berpesan agar aku harus hati-hati disana.
Dan yang terberat, adalah saat ketika aku berpamitan dengannya.
Kini aku berhadapan di depan sang ksatria. Dia tersenyum padaku. Aku pun membungkuk ke arahnya. Tapi dia menahanku.
''jangan seperti itu, Kate… kita teman…''
''aku hanya ingin memberi penghormatan terakhir untukmu sebagai seorang ksatria…''
''aku tidak pernah merasa kalau aku adalah seorang ksatria kalau aku sedang berada di dekatmu.''
Aku kembali diam. Juri kembali tersenyum. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan sesuatu dari situ yang berupa kotak kecil berwarna hitam. Dia membuka kotak itu. Isinya adalah sebuah cincin emas bermata berlian yang kecil.
"Juri… aku tidak bisa mengambil ini…" kataku. Tapi dia tidak menjawab. Dia malah mengambil tangan kiriku lalu memasukkan cincin itu di jari manisku.
"anggap kalau ini adalah kenang-kenangan. Aku terlalu sedih untuk harus membiarkanmu pergi, jadi kumohon bawa cincin ini bersamamu… ''
Kami pun berpelukan. Pelukannya sangat erat. Sampai aku merasa sesak. Tapi aku tahu rasa sesak ini karena aku harus berpisah dengannya.
Dia pun melepas pelukan kami. Kami bertatapan sesaat. Mata kami pun saling berbicara. Dengan akhir bibir kami saling bersentuhan.
Kami berciuman beberapa saat. Tidak tahu berapa lama. Ciumannya sangat lembut di bibirku. Dan aku sangat merasa kehilangan ketika dia melepasnya.
"sudah saatnya, Kate…" kata Reina mendekati kami. Dia memberikan aku sehelai daun emas. "ucapkan permintaanmu…"
Sebelum aku menerima daun emas itu, aku juga memeluk Reina lebih dulu. Aku bisa merasakan air mata yang hangat menetes di pundakku.
Kami melepas pelukan kami dan dia berkata, "sudah lama aku tidak menangis, kau tahu itu?" dia tersenyum sedih lalu mengusap air matanya.
"terima kasih, Reina…"
"aku juga berterima kasih…"
Lalu aku dan yang lainnya berkumpul. Kami saling berpegangan tangan. Aku mengucapkan keinginan kami dengan berat hati. Sambil terus menatap para penghuni dunia ajaib ini. Mereka melambaikan tangan mereka ke arah kami.
Setelah itu, kami melihat cahaya yang berwarna keemasan dari daun emas. Cahaya itu mengelilingi kami. Perlahan-lahan, pandangan dunia ini dan mereka semua mulai memudar.
Lalu, semakin lama, semakin gelap…
-
Aku membuka mataku. Cahaya yang sangat terang mulai merasuki mataku. Aku menutup mataku dengan tangan, berusaha untuk membiasakan diri dengan cahaya itu.
Ketika aku sudah terbiasa, aku terbangun. Aku melihat sekitarku. Kini aku berada di padang rumput di belakang rumah Ruth dan Mia. Sedangkan yang lainnya berada di dekatku, mereka masih tertidur. Dan juga kuda-kuda kami merumput tidak jauh dari kami.
''hei, bangun…'' aku membangunkan Mia yang tertidur di sebelahku. Mia membuka matanya perlahan. Dan dia bangun. Melihat keadaan sekitar juga.
"apa kita… sudah di Dundalk?" tanya Mia agak ragu.
"kurasa begitu…" aku menunjuk rumahnya yang terlihat dari sini.
Yang lainnya pun terbangun karena panggilan paman yang berjalan mendekati kami dengan kudanya. ''kenapa kalian semua tidur disini ? kalian tidak ingin membantuku ?''
Kami saling berpandangan. Kenapa paman sama sekali tidak merasakan kehilangan kami ?
"lho… memangnya tadi paman tidak tahu kami ada dimana?" tanyaku.
"tadi aku mencari-cari kalian. Ternyata kalian berbaring disini. Ayo, kita bekerja." Ajak paman. "bawa kuda-kuda kalian."
Lho… jadi… Domhan… dan yang lainnya… hanya mimpi?
"apa tadi kita hanya bermimpi?" tanya Ruth. Aku mengangkat bahuku. Aku melihat keadaanku. Aku tidak mengenakan dress dari Domhan lagi. gantinya, aku malah memakai pakaian yang sama ketika aku dan yang lainnya tersesat di hutan.
"aku tidak tahu…" jawabku.
Tapi paman terus memanggil kami sehingga kami pun terpaksa berdiri dan mengambil kuda kami.
"hey, lihat! Apa itu?" Mia berseru. Dia menunjuk ke arah rimbunan rumput. Disana ada sesuatu yang berkilauan. Aku berjalan ke arahnya dan memungut benda berkilauan itu.
Dan ternyata itu adalah 3 buah kalung mutiara dan sebuah cincin berlian.
"kurasa ini bisa menjadi bukti yang cukup…" aku memberikan 2 kalung mutiara ke Ruth dan Mia. "kalau kita memang pergi kesana…"
"dan bukti cinta kalian…" goda Mia lagi.
Aku menonjok pelan lengan Mia. Dia sendiri hanya tertawa.
Dan aku mengenakan cincin itu tanpa ragu. Aku menikmati kilauan berliannya di bawah matahari.
"ciuman pertamaku dengan seorang ksatria…" aku tersenyum sendiri.
"dan aku tidak akan pernah menyangka aku bisa menjadi seekor angsa…" Kai tiba-tiba ikut pembicaraan dan menggerutu.
Kami semua tertawa terbahak-bahak.
"sudahlah, Kai. Kau jadi angsa kan ada sisi baiknya juga…"
"apa?"
"itu, menjadi hiburan si mermaid cantik…'' jawab Aoi dengan wajahnya yang usil. Kai pun langsung mengejar Aoi.
-
Beberapa hari kemudian, kami kembali ke hutan itu. Mencoba untuk mencari jalan agar kami bisa kembali lagi ke Domhan.
Tapi ternyata tidak bisa. Hutan itu ternyata ujungnya adalah kota seberang. Dan di tengah-tengah hutan, kami menemukan sebuah danau kecil. Danau yang airnya masih sangat jernih dan dingin. kami pun bermain disana.
Disaat anak-anak cowok sedang asyik berenang dan membuat bom air dengan cara menjatuhkan diri mereka ke air, aku sendiri hanya duduk menatap mereka bermain. Tidak terlalu berniat untuk membasahkan diri.
Dan beberapa hari ini juga, aku masih terus berharap aku mempunyai daun emas itu dan berharap aku bisa kembali kesana. Tapi aku tahu sihir daun itu tidak akan bekerja disini. Karena dunia ini terlalu realistis.
Tapi disaat yang sama, aku masih bisa merasakan ada seseorang yang mengawasiku. Tidak berbahaya, tapi aku merasa tenang ketika aku merasakan hal itu.
Dan hal itu juga dirasakan oleh mereka.
Apakah penghuni-penghuni dunia ajaib itu mengawasi kami?
Aku tidak tahu.
Yang pasti adalah, hubungan dan persahabatan kami adalah nyata, dan tidak akan bisa terputuskan oleh dua dunia…
-
Dua minggu kulalui di Dundalk dan rasanya sangat cepat sekali. Sampai aku sekarang masih tidak sadar kalau aku sekarang sudah berada di stasiun Dublin, menunggu ibuku untuk menjemputku.
Tidak lama kemudian, aku bisa melihat mobil ibuku muncul dari pintu masuk stasiun. Dia berhenti di depanku yang berdiri di depan pintu masuk gedung stasiun. Aku memasukkan koperku dan beberapa bungkusan yang isinya adalah oleh-oleh dari Dundalk.
Hingga akhirnya, kami pun pergi meninggalkan stasiun. Ibu bertanya banyak hal.
''apa yang kalian lakukan disana ? apakah menyenangkan ?'' tanya Ibu.
''aku hanya membantu paman bekerja di peternakan. Dan… kami hanya bermain. Itu saja…''
''kami? Bagaimana kabar Ruth dan Mia? Mereka baik-baik saja? Apa kalian akur?"
Aku tertawa. "tentu saja. Kami baik-baik saja kok."
"dan kau belum menjawab pertanyaanku…" ibu membelokkan setirnya ke arah kanan. "apa liburanmu menyenangkan?"
Aku mendesah sebentar lalu tertawa kecil karena teringat sesuatu. Setelah ini tampaknya aku memang harus mencuci baju selama seminggu, "lebih dari menyenangkan. Ibu, apa kau tahu ternyata kita mempunyai saudara jauh dari Jepang?"
