DISCLAIMER
Silahkan baca disclaimernya di chap 1, saya males ngetiknya-_- #plak
WARNING : TYPO(s), aneh, gaje, dan sebangsanya-_- haruskah saya ngetik warning yang sama di setiap chapter?._.
No bash, no flame, no plagiat
Gak suka, gak usah baca
Happy reading~^^
.-.-.-.
All in Normal POV
Jongin berusaha menahan tawanya yang siap menyembur keluar kapan saja. Ia sungguh tidak tahan melihat ekspresi shock Kyungsoo yang terlihat sangat lucu. Kyungsoo tetap mempertahankan ekspresi shock-nya itu selama beberapa detik, setelah itu ia memasang ekspresi datar pada wajahnya. Jongin harus mati-matian menahan tawa melihat perubahan ekspresi Kyungsoo yang cukup ekstrim itu. Kyungsoo mendengus sebal.
"Kalau kau mau tertawa, tertawalah" katanya dengan nada datar. Jongin benar-benar tertawa sekarang. Kyungsoo membiarkan Jongin terus tertawa sampai ia puas. Setelah Jongin puas tertawa, barulah ia kembali bicara.
"Jadi... kau ini namja dan kau menyusup ke sebuah asrama putri dengan menyamar menjadi yeoja... oh yeah! Ini hebat... lalu kau yang menyamar menjadi yeoja ini sekamar denganku, jadi intinya aku sekamar dengan namja... dan aku tidak tau apa tujuanmu menyusup ke asrama putri ini... ah! Biar kutebak! Kau ini namja mesum ya?" tanya Kyungsoo sambil menatap Jongin dengan tatapan waspada.
Tiba-tiba, sebersit ide 'cemerlang' terlintas di benak Jongin. Ia menyeringai, lalu ia menatap Kyungsoo dengan tatapan mesum. Kyungsoo bergidik ngeri, lalu ia mengambil ancang-ancang untuk melakukan jurus andalannya, yaitu 'jurus maling kepergok gak pake kolor' alias kabur.
Jongin mendekati Kyungsoo, dan tepat sebelum ia menangkap Kyungsoo, Kyungsoo telah kabur. Namun sepertinya nasib Kyungsoo sedang buruk hari ini, karena pada saat ia mau membuka pintu kamar agar ia bisa keluar, ternyata pintu itu terkunci. Dan yang mengunci pintu itu bukan Kyungsoo, karena ia sedang tidak memegang kunci pintu. Jadi, sudah pasti Jonginlah yang mengunci pintu.
Kyungsoo membalikkan tubuhnya dan menatap Jongin yang terus berjalan pelan mendekatinya dengan tatapan horor. Jarak antara Kyungsoo dan Jongin sudah semakin tipis. Kyungsoo mulai panik. Ia pun berlari ke kanan, namun sayangnya Jongin telah mencengkram pergelangan tangannya. Jongin menarik pergelangan tangannya, lalu ia memeluk Kyungsoo dari belakang.
Kyungsoo semakin panik, ia berusaha melepaskan diri sekuat tenaga. Tapi apa daya, tenaga Jongin memang jauh lebih besar darinya. Jongin menyeringai. Ia semakin mempererat pelukannya pada pinggang Kyungsoo. Kyungsoo semakin memberontak. Tapi hasilnya sia-sia, semakin Kyungsoo memberontak, maka semakin kuat juga Jongin memeluknya. Kyungsoo pun akhirnya pasrah, ia tidak mau membuang-buang tenaganya. Lagipula, menurutnya ini adalah kesempatan yang bagus untuk mengambil kunci kamar dari Jongin dan—
"Ahhhh..." sebuah desahan lolos dari bibirnya ketika Jongin dengan sangat sengaja menyentuh dadanya. Jongin kembali menyeringai.
—atau mungkin ini justru kesempatan yang sangat tidak bagus.
"Kau nakal juga ya..." kata Jongin sembari menjilat dan menghisap serta mengigit kecil leher jenjang Kyungsoo. Kyungsoo mulai menggeliat tak nyaman.
"J-Jonginnnhh... he-hentikannhh..." Tentu saja Jongin tidak menggubrisnya. Ia justru semakin sibuk membuat 'karya' di leher Kyungsoo. Kyungsoo terus berusaha melepaskan diri. Karena ia tidak tau apa yang harus ia lakukan, akhirnya Kyungsoo memakai jurus terakhir yang dapat ia pikirkan sekarang. Ia pun menyundul dagu Jongin sekuat tenaga. Sontak Jongin melepaskan pelukannya dari Kyungsoo. Kyungsoo segera memanfaat kesempatan yang ia dapat ketika Jongin sedang memegangi dagunya yang sekarang berwarna kemerahan akibat sundulan dahsyat si Madun—eh, si Kyungsoo maksudnya. Kyungsoo segera mengambil kunci kamar dari saku celana Jongin dan segera membuka pintu kamar, lalu ia pergi.
Jongin mengumpat kesal. "Cih, dia kabur... padahal kan sedang asyik-asyiknya... tapi... ini aneh... dia siswi SMU tapi kok dadanya rata ya?" gumam Jongin. "Dadanya benar-benar rata... seperti papan triplek... apa pertumbuhannya terhambat ya?" gumamnya lagi. Ia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan hal itu. Ia menutup pintu kamar, kemudian berjalan menuju tempat tidur. Entah kenapa, ia jadi ingin tidur.
Sementara itu, di lain tempat Kyungsoo sedang mengatur nafasnya karena ia berlari cukup lama tadi. Ia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan untuk sekedar duduk-duduk dan menikmati udara sejuk yang berasal dari AC di perpustakaan. Sesampainya di perpustakaan, ia duduk di tempat favoritnya, yaitu di pojok perpustakaan, di tengah-tengah tumpukan buku yang tinggi.
'Apa aku ketahuan? Tadi... dia menyentuh dadaku... apa dia menyadarinya?!' batin Kyungsoo, masih mengatur nafasnya yang terengah-engah. 'Semoga saja tidak ketahuan...' batinnya lagi.
Kyungsoo kembali mengingat-ingat kejadian dimana Jongin 'menggodanya' tadi. Ia tidak menyangka bahwa ia dapat mengeluarkan suara yang sangat menjijikkan yang disebut desahan. Wajahnya memerah seketika. Pikiran-pikiran kotor lainnya pun merasuki benaknya. Ia buru-buru menggelengkan kepalanya untu menghapus pikiran-pikiran menjijikkan itu. Setelah itu ia memutuskan untuk pergi dari perpustakaan itu setelah ia merasa sudah tidak begitu lelah lagi.
Sekarang ia bingung harus pergi ke mana. Tidak, ia tidak mau kembali ke kamar sekarang. Itu sama saja dengan masuk ke kandang singa kelaparan dengan membawa daging segar. Ia memutuskan untuk berkeliling di gedung asrama yang sangat besar. Pertama ia pergi ke ruang musik. Ia melihat ada beberapa anak klub musik yang sedang berlatih di dalam, juga ada beberapa siswi baru yang ingin mendaftar untuk bergabung dengan klub musik.
Tujuan keduanya adalah ruang olahraga. Ia menemukan beberapa yeoja sedang melakukan senam. Ia meneruskan berkeliling asrama, dan tujuan terakhirnya adalah ruangan misterius yang tadi ia kunjungi. Ia sangat penasaran dengan isi dari ruangan itu, tapi ia tidak berani untuk mendobrak pintunya. Ia memutuskan untuk mengunjungi lagi ruangan itu nanti malam.
Ia kembali ke kamarnya. Dengan agak ragu, ia menyentuh kenop pintu kamarnya dan membuka pintu itu perlahan. Ia sangat bersyukur ketika menemukan Jongin sedang tertidur. Ia menutup pintu kamarnya, namun ia tidak menguncinya, berjaga-jaga kalau 'sesuatu' yang tak diinginkan terjadi. Mulai sekarang, ia harus meningkatkan tingkat kewaspadaannya, kalau tidak, bisa saja hal seperti tadi terjadi lagi.
Ia berjalan menuju ruang baca. Kamar yang ia tempati adalah satu-satunya kamar di asrama yang memiliki ruang baca. Dan ia merasa beruntung bisa menempati kamar ini. Ia mengambil sebuah buku bersampul hitam dan tak berjudul. Ia membuka buku itu dan membacanya. Entah apa yang ia baca, namun ia terlihat begitu serius ketika membaca buku itu.
—30 menit kemudian—
Kegiatan membacanya terusik ketika ia mendengar erangan rendah dari ruang sebelah. Rupanya Jongin sudah bangun. Kyungsoo bingung. Apa yang harus ia lakukan di hadapan Jongin? Ia memutuskan untuk pura-pura membaca buku yang sedang ia pegang. Setidaknya membaca buku adalah kegiatan yang 'normal'.
"Sedang baca apa?" tanya Jongin tepat di belakang Kyungsoo. Sontak Kyungsoo kaget.
"Yak! Kau mengagetkanku!" Jongin tertawa. Kyungsoo mendengus sebal. Ia pun berjalan pergi.
"Mau kemana kau?" tanya Jongin. Kyungsoo menolehkan kepalanya sedikit.
"Mandi, ini sudah sore" jawab Kyungsoo. Tiba-tiba Jongin menyeringai.
"Bagaimana kalau mandi bersama?" tanyanya. Kyungsoo sontak melemparkan bantal yang brada di ranjangnya, dan bantal itu tepat mengenai wajah Jongin. Kyungsoo tersenyum horor.
"Dalam mimpimu..." katanya. Lalu ia buru-buru mengambil pakaian ganti, handuk, dan ia berlari kecil ke kamar mandi.
Jongin meringis karena lemparan bantal Kyungsoo cukup keras. Ia lalu melihat buku yang tadi dibaca Kyungsoo. Karena penasaran, ia membuka buku itu dan membacanya. Tapi tak lama kemudian ia menutup buku itu karena tulisan dalam buku itu menggunakan bahasa yang sama sekali tidak ia ketahui. Mungkin itu bahasa latin, tapi huruf-huruf yang tercetak dalam buku itu bukanlah huruf latin. Ia semakin bingung.
'Untuk apa Kyungsoo membaca buku seperti ini?' batinnya. Ia mengambil buku itu dan menyembunyikannya di suatu tempat. Ia akan menyelidiki buku itu nanti, mungkin saja ada petunjuk yang bisa mengungkapkan jawaban dari misi yang sedang ia emban.
Misi? Ya, ia punya sebuah misi yang berkaitan dengan seseorang yang berada di asrama putri ini. Maka dari itu, ia menyusup ke dalam asrama putri ini dengan menyamar menjadi yeoja.
Ia berjalan menuju ranjangnya dan duduk di atasnya. Ia melihat sebuah televisi di depan ranjangnya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari remote televisi itu, tapi ia tidak menemukannya. 'Masa tidak ada remote-nya sih? Kalau tidak ada remote-nya, untuk apa ada televisi disini?' batinnya.
Ia berjalan mengelilingi kamar, hanya sekedar melihat-lihat. Semua benda yang berada di kamar sangat tertata rapi, menunjukkan bahwa Kyungsoo merupakan pribadi yang rajin. Ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di kamar. Walaupun seharusnya ada 'sesuatu' yang mencurigakan di sana.
'Sial! Tidak ada petunjuk sama sekali!' batinnya. Ia pun kembali ke ranjangnya dan duduk di atasnya. Tak lama kemudian, ia melihat Kyungsoo keluar dari toilet dengan mengenakan piama bermotif pororo.
"Kau pakai piama di sore hari?" tanyanya. Kyungsoo mengangguk.
"Ini kebiasaanku... oh iya, kau pasti bingung kenapa tidak ada remote televisi di sini kan?" tanya Kyungsoo. Jongin mengangguk.
"Itu karena televisi di kamar ini menggunakan sistem perintah suara, jadi kalau kau mau menghidupkan televisi, katakan saja 'TV, power on'" jelas Kyungsoo dan televisi itu pun seketika menyala. Jongin menatap televisi di depannya dengan kagum.
"Apa semua kamar di sekolah asrama ini memakai televisi seperti ini?" tanya Jongin.
"Tidak, hanya kamarku saja... lagipula aku sendiri yang membuat televisi ini, makanya tidak ada mereknya..." jawab Kyungsoo. Jongin menatap Kyungsoo dengan pandangan kagum. 'Bagaimana bisa aku tidak mengetahui soal ini?' batin Jongin. Ia memutuskan akan menanyakannya pada yang lain nanti.
"Bagaimana bisa?" tanya Jongin.
"Aku tidak mau memberitaumu..." kata Kyungsoo sembari menaruh handuknya di jemuran handuk(?) lalu duduk di samping Jongin. Jongin menatap Kyungsoo sebentar, kemudian ia menyeringai.
"Kau tidak takut padaku?" tanya Jongin, masih dengan seringaiannya.
"E-eh?" kata Kyungsoo. Ia mulai merasakan aura gelap di sekitarnya.
"Hmm... kau berani juga ya..." kata Jongin. Kyungsoo sudah bersiap-siap untuk kabur. Ia buru-buru beranjak dari ranjang itu, namun Jongin menarik rambut panjangnya. Dan rambut itu terlepas, menampakkan rambut asli Kyungsoo. Jongin tentu saja kaget, begitu pula Kyungsoo. Jongin menatap rambut yang sedang berada di tangannya.
"Jadi ini wig?" tanya Jongin.
"I-ituu... aku bisa jelaskan..."
Jongin kembali menatap Kyungsoo yang sesungguhnya. Rambut Kyungsoo yang seperti namja dan ia ingat bahwa dada Kyungsoo rata saat ia menyentuhnya tadi, dan kedua fakta itu cukup meyakinkannya.
"Jadi... kau juga NAMJA?!"
.-.-.-.
TBC or END?
Mian chap 2 nya pendek, otak saya lagi mandet-_-
Btw, ganti ratednya nanti aja kali ya, lagian chap 2 gak bahaya kok (?)
Pas saya baca review dari kalian, ternyata banyak yang bingung sama gender Kyungsoo ya._.
Tapi saya bahagia kalo kalian bingung, karena saya sengaja bikin kalian bingung XD *ketawa evil tapi gagal-_-*
Ini balesan review-nya :
.-.-.-.
OhSooYeol : bingung? haha... tapi pas baca chap ini udah gak bingung lagi kan? Gomawo udh review^^
ArraHyeri2 : tujuannya? Itu masih rahasia, sifat asli Kyungsoo juga masih rahasia^^ sip, ini udah lanjut, gomawo udh review^^
soosoo : ini yaoi kok.. gomawo udh review^^
Park KyungMi : ini ff yaoi^^ lucu? hehe.. gomawo. Ini udh lanjut. Gomawo udh review^^
puputkyungsoo : hmm... disini kyungsoo juga namja.. seru? hehe... gomawo. Ini udh lanjut. Gomawo udh review^^
t.a : ini udh lanjut. Gomawo udh review^^
Brigitta Bukan Brigittiw : ini udah lanjut. baca aja deh komiknya, seru kok, walaupun agak" 'begitu'(?). Tapi ff ini alur ceritanya beda jauh sama komik aslinya, saya cuma ngikutin judul sama latarnya. Gomawo udh review^^
.-.-.-.
4 review lainnya udh saya jawab lewat PM ya..
Ff ini bakal dilanjut kalo banyak yg review'-'
Well, mind to review again?
