THE PACIFIER IS FRAGILE

Disclaimer

Naruto : masashi kishimoto

Highschooldxd : ichie ishibumi

Rate : M

Genre : romansa, friendship, humor

Pair : nanti saja

Peringatan sebelum membaca, ffn ini mungkin bayak typo, kata yang kurang dan kesalahan ketik banyak terjadi (alur berantakan, typo, geje, ooc dan lain sebagainya)

.

.

CHAPTER 2

.

#Malam hari

.

"Woy Naruto! Kemari," panggil bos pemilik kedai bernama Teuchi kepada Naruto yang sedang mengelap meja-meja tempat pelanggan tadi makan, Sontak Naruto langsung menoleh ke sumber suara.

"Ya paman Teuchi, apa ada hal lain yang bisa kubantu?" tanya Naruto berhenti dari acara mengelapnya langsung mendekati Teuchi.

"Ini kau antarkan pesanan terakhir, alamatnya sudah di dalam dan bayarannya untuk dirimu saja, kau langsung pulang saja," kata Teuchi sambil menyerahkan 2 bungkus pesanan kepada Naruto.

"Tapi paman, uangnya kan untuk keuntungan kedai," balas Naruto menolak jika pembayaran dari pelanggan untuknya, dan hanya dibalas senyuman tulus Teuchi.

"Tidak apa-apa, anggap saja sebagai bonus kerja kerasmu hari ini," balas Teuchi membuat Naruto mengangguk senang.

"Terima kasih paman, aku pamit dulu," balas Naruto langsung keluar kedai setelah menyambar jaket hitamnya di dinding sambil membawa 2 kantong pesanan ke pelanggan terakhir.

.

#45 menit kemudian

.

Kini Naruto sedang berjalan menuju Apartemennya setelah mengantarkan pesanan ke pelanggan. Dengan wajah senang menghiasi wajah Naruto, karena senang tadi mendapatkan tips dari pemesan tadi. Sambil bersiul ria Naruto terus melangkah menghiraukan ramainya jalanan. tiba-tiba saja Naruto terhenti langkahnya melihat ke sebuah gang sepi nan gelap menangkap pemandangan yang sering dilihatnya.

Di gang tersebut ada 3 preman jalanan sedang mengganggu sepasang kekasih yang diketahui adalah senpai-nya Naruto dan anehnya pria yang sebagai pasangan wanitanya malah lari meninggalkan si wanita sendirian yang takut sudah terpojok dan si preman yang mendekatinya dengan tampang mesum memandang wanita tersebut.

Dengan santai Naruto melangkah masuk gang tanpa disadari oleh orang-orang di Gang tersebut.

"JANGAN MENDEKAT! DASAR MESUM!" bentak si wanita yang diketahui memiliki rambut putih perak sedang ketakutan melindungi bagian depan tubuhnya.

"Jangan kasar-kasar dong neng, abang jadi tambah semangat ni," balas salah satu preman paling depan dengan gelagat tangannya seperti meremas sesuatu. Sontak si wanita langsung menutup matanya karena takut.

.

" Sialan kau Sirzech! Tega sekali kau meninggalkanku sendirian seperti ini," batin sang wanita terus menutup matanya.

.

"Hmm, ternyata pria sekarang seperti tikus tanah ya," tiba-tiba tindakan 3 preman tersebut terhenti oleh suara Naruto yang berada di belakangnya sedang menyender di tembok dengan santainya.

"Siapa kau! Berani sekali mengganggu acara kami!" bentak preman yang sepertinya bosnya.

"Bos, di-dia si Na-Naruto yang banyak dibicarakan oleh Geng-Geng jalanan di Kota ini bos," kejut temannya si preman setelah melihat dengan jelas wajah Naruto.

Sontak si bos preman dan si wanita langsung melebarkan mata terkejut setelah mendengar nama Naruto.

.

" Di-Dia Kohai-ku!" kejut sang wanita.

.

"Ho jadi ini orang yang lagi banyak dibicarakan, hmmm boleh juga," kata si bos preman langsung mengepalkan tangannya dan menerjang Naruto.

.

BUGH!

.

"Kau baru saja jadi preman, sudah nekat saja," kata Naruto malah meninju dengan cepat wajah preman tersebut. Sontak si preman langsung terjungkal, sedangkan untuk 2 teman premannya tak berani bertindak takut kena pukulannya Naruto.

.

BUGH!

.

Lagi-lagi Naruto meninju wajah si preman yang tadi mencoba berdiri dan langsung terjungkal lagi ke belakang. Dengan perlahan Naruto mendekati si preman lalu berjongkok meraih tangan si preman dengan tangan kanannya dan tangan kirinya memegang jari telunjuk si preman.

.

KREK!

.

"ARRRRRGGGHHHHH!"

.

Dengan tampang tak berperasaan Naruto mematahkan jari telunjuk si preman dengan mudahnya, sehingga si preman menjerit kesakitan. Kemudian Naruto memegang jari tengah si preman.

"Ano sa, jika kalian tak pergi sekarang maka jari ini akan patah lagi lo," kata Naruto santai. Sontak si preman yang telah dipatahkan jarinya langsung ditarik oleh 2 temannya tadi dengan paksa, sehingga pegangan Naruto terlepas dan 3 preman itu pergi keluar gang dengan si bosnya dirangkul di tengah.

"Huh, ada-ada saja kelakuan orang-orang sekarang," gumam Naruto setelah 3 preman tadi tak terlihat lagi. Tiba-tiba saja Naruto melangkah keluar gang.

"Kau bisa pulang sendiri kan, Grayfia-Senpai," kata Naruto sambil melangkah keluar meninggalkan wanita yang bernama Grayfia yang sedang terkejut, dan tak berselang lama Naruto menghilang di ujung gang.

.

" Ternyata dia lebih peduli, walau di sekolah sering dihina anak ngak jelas," batin Grayfia setelah Naruto tak ada. Tiba-tiba Grayfia berdiri lalu melangkah ke arah berlawanan dengan Naruto. " Mungkin aku harus berterima kasih padanya besok," sambung batin Grayfia tersenyum dan langsung menghilang di ujung gang sepi tersebut.

.

.

#Skip tempat lain

.

Di sebuah rumah model tradisional yang masih di daerah kota Kuoh. Dapat dilihat di dalam rumah, atau lebih tepatnya di ruangan tengah terjadi suatu hal perdebatan entah apa itu.

"SUDAH KUBILANG! AKU TIDAK MAU DIJODOHKAN OLEH SIAPAPUN AYAH!"

Suara perempuan berambut putih panjang membentak seorang pria tua yang disebut ayah.

"Aduh Kaguya! Kau itu sudah dewasa, mengertilah," kata sang ayah kepada anaknya yang bernama Kaguya. atau lebih tepatnya Otsusuki Kaguya, guru mapel Ekonomi di Kuoh Gakuen berumur 29 tahun dan masih melajang.

"KUBILANG TIDAK MAU YA TIDAK MAU! AKU BISA CARI PASANGAN SENDIRI AYAH!"

Balas Kaguya sengit membuat sang ayah menghela nafas lalu menatap Kaguya serius.

"2 tahun, kuberi waktu 2 tahun untukmu mencari pasangan, jika selama itu kau tak mendapatkan pasangan, maka kau harus menikah dengan orang pilihan ayah," kata sang ayah serius membuat Kaguya mengangguk cepat.

"Baik! Bahkan sebelum 2 tahun aku akan bawa pasanganku kemari," balas Kaguya yakin lalu melangkah pergi tanpa permisi menuju kamarnya.

.

"Anak itu maunya apa si? Tidak tau kemauan ayah saja yang ingin cepat-cepat memiliki cucu," gumam sang ayah sambil memijat kepalanya pusing dengan tingkah keras kepala Kaguya.

.

.

#Skip Apartermen Naruto

.

KRIIIEEEEET!

.

Dan kini Naruto sudah sampai di Apartemennya langsung mengantungkan jaketnya di tembok, setelah itu menuju dapur langsung membuat kopi. Dan tak berselang lama langsung ke ruang tengah setelah kopi jadi dan duduk di sofa sederhana yang ada disitu.

TAP!

"Huh, melelahkan," kata Naruto langsung merebahkan punggungnya di sofa setelah meletakkan gelas berisi kopi panas di atas meja.

"Sepi, membosankan," gumam Naruto sambil memandang atap Apartemennya. Tiba-tiba saja Naruto terbayang wajah nenek yang pernah tersenyum tulus padanya di langit-langit atap Apartemennya, seketika Naruto langsung tersenyum senang.

"Iya nek, iya. Aku akan melakukan seperti nenek ucapkan dulu padaku," kata Naruto entah kepada siapa di Apartemen itu. "Karena kupercaya, apa yang kuinginkan tak akan mudah untuk didapatkan dengan mudah," sambung Naruto entah kepada siapa lagi.

Tak berselang lama akhirnya Naruto kembali meminum kopinya yang sudah tak panas lagi, dan hanya menyisakan setengah gelas lalu berdiri melangkah menuju kamarnya untuk tidur dan mimpi indah menunggu hari esok dengan suasana masih sama atau berbeda untuk diri Naruto.

.

.

#Pagi pukul 07:05

.

Seperti hari-hari biasa semenjak 2 bulan lalu setelah mendapatkan kerja paruh paginya mengantar koran. Kini Naruto sudah melangkah menuju sekolahannya setelah rutinitas kerja paginya selesai. Dengan tampang biasa tak memperdulikan hal-hal sekitar, Naruto terus melangkah santai tanpa beban dihidupnya menghiraukan tatapan siswa-siswi yang sekarang terlihat lebih aneh. Bukan aneh karena jijik atau apa, melainkan tatapan lebih aneh seperti ketakutan dengan sesuatu, entahlah itu tidak penting bagi Naruto.

"NARU! TUNGGUUUUU!"

Tiba-tiba dari arah belakang ada suara perempuan yang memanggil Naruto, tapi hanya dibalas helaan nafas Naruto karena sudah tau betul siapa pemilik suara yang memanggilnya.

"Hah, kamu jahat banget Naru! hah, tak menghampiriku akhir-akhir ini," kata si perempuan setelah didekat Naruto dengan Nafas terputus-putus seperti habis lari Maraton 1 km.

"Bukannya ngak mau Aya-nee, kau biasanya sudah berangkat lebih pagi," balas Naruto kepada perempuan di sebelahnya yang bernama Ayame, anak dari pemilik kedai tempat Naruto bekerja.

"Hm! Tetap saja kau jahat Naru! Ya kau seharusnya menjemputku lebih pagi lagi," balas Ayame memalingkan wajahnya sebal.

"Ya-ya, kuusahakan besok akan kujemput lebih pagi lagi," balas Naruto tenang, dan entah kenapa Ayame malah tersenyum tapi tak terlihat oleh Naruto.

"Na gitu dong Naru, tapi janji ya?" kata Ayame sudah menoleh kearah Naruto.

"Iya bawel," balas singkat dan seketika Ayame langsung menggaet tangan Naruto dan menyeret Naruto menuju sekolahan dengan cepat

"Ayo Naru, nanti kita terlambat!" ucap Ayame sambil terus menyeret Naruto dan Naruto hanya menghela nafas pasrah dengan kebiasaan Ayame akhir-akhir ini terlalu overprotektif padanya.

.

" Kau tau Naru, aku sangat senang bisa mengenalmu," batin Ayame tersenyum senang tanpa diketahui oleh Naruto terus menyeret Naruto dengan cepat memasuki gerbang sekolah, menghiraukan Sona yang di depan gerbang tadi ingin memanggil Naruto.

"Oke Naru, kita berpisah disini. Jangan lupa nanti pulang sekolah bareng ya," kata Ayame setelah sampai di karidor sekolahan.

"Ya-ya dan kalau telat sedikit akan kutinggal," balas Naruto santai.

"Ya kuning jelek," sahut Ayame langsung melangkah menuju kelasnya dan Naruto hanya biasa saja tak ada niatan untuk membalas ucapan Ayame. Dan kemudian Naruto melangkah ke arah berlawanan dengan Ayame menuju kelasnya, dan entah kenapa siswa-siswi seketika langsung minggir seperti memberi jalan untuk Naruto.

" Aneh? Kenapa semuanya tambah aneh ya?" bingung Naruto dengan tingkah siswa-siswi yang tambah aneh pikir Naruto di setiap langkahnya menuju kelasnya.

Hingga akhirnya Naruto sampai di kelasnya pun keanehan dari siswa-siswi terlihat jelas di dalam kelas, kecuali Issei pastinya. Dan yang paling membuat heran Naruto adalah kenapa tak ada lontaran hinaan dari awal masuk sekolah sampai di kelas tak ada satu pun yang berbisik merendahkannya. Semuanya diam menyingkir dari arah jalan yang akan dilewati, bahkan Menma dan rombongannya pun terdiam di tempat duduk masing-masing tanpa suara.

"Yo Naruto-san," sapa Issei ketika Naruto sudah duduk di tempat duduknya.

"Hm, ohya Issei, apa ada yang aneh dengan sekolahan ini?" tanya Naruto bingung dengan situasi bagaikan kuburan di kelasnya.

"Huh, nanti akan kujelaskan di atap sekolah," balas Issei menghela nafas mengerti.

"Baiklah,"

singkat Naruto. Dan akhirnya siswa-siswi di kelas pun terdiam tanpa suara sampai seorang guru memasuki kelas tersebut sebagai pemecah keheningan dan selanjutnya diisi kegiatan belajar sampai waktu istirahat.

.

.

#Skip waktu istitahat

.

SREK!

.

Tiba-tiba Issei berdiri dari duduknya setelah guru pengajar di kelas tersebut meninggalkan kelasnya. Seketika Issei langsung menoleh ke belakang tempatnya Naruto.

"Naruto-san, mau kekantin?" kata Issei mengajak Naruto dan hanya dibalas helaan nafas Naruto.

"Kau duluan saja? Aku mau mengerjakan soal terakhir ini yang tak kumengerti," balas Naruto membuat Issei mengangguk mengerti.

"Baiklah, kutunggu di atap sekolah," kata Issei lalu melangkah keluar kelas.

.

KYAAAA GRAYFIA-SENPAI,

GRAYFIA-SENPAI SELALU CANTIK SEPERTI BIASANYA,

WIDIH! ICE QUEEN DATANG KE KELAS INI,

GRAYFIA-SENPAI PASTI INGIN MENEMUIKU,

NGIMPI KAU! YANG JELAS INGIN MENEMUIKU,

.

Berbagai teriakan-teriakan geje di depan kelas membuat langkah Issei terhenti langsung menatap kagum sosok Grayfia yang begitu cantik Sosok yang dijuluki Ice Queen di sekolahan ini. yang sekarang memasuki kelasnya dengan tingkah mencari sesuatu.

Bluuus!

Croot!

Tiba-tiba saja Grayfia tersenyum manis setelah menangkap pemandangan yang dicari di sudut kelas sedang frustasi entah karena apa. Sontak senyuman Grayfia membuat para laki-laki mimisan dan blushing karena tak tahan dengan senyuman manis Grayfia. Tak tanggung-tanggung, sosok Sasuke yang tak peduli dengan siapa pun bisa bersemu merah ketika melihat senyuman Grayfia.

Dengan pelan Grayfia melangkah menuju sosok remaja yang ada di pojokkan kelas dan terus menjadi bahan perhatian semua orang yang ada dikelas.

"Hey--"

"SIAL! SOAL INI MEMBUATKU PUSING!"

Ucapan Grayfia yang ingin menyapa Naruto pun terpotong oleh teriakan Naruto yang frustasi karena tak menemukan jawaban soal matematika nomor terakhir

Sontak semua murid yang berada di kelas itu terdiam dan bertanya-tanya dalam hati, kenapa Grayfia menyapa sosok Naruto, pikir mereka.

"Up! Maaf Senpai, aku tak tau kau ada disitu," kata Naruto ketika melihat Grayfia di sampingnya dan bingung kenapa Grayfia bisa ada di kelasnya.

"Um, tak apa-apa," balas Grayfia tersenyum dan lagi-lagi membuat seisi kelas blushing, tapi tidak dengan Naruto yang biasa saja.

"Jadi? Kenapa Senpai ada di kelasku? Bukannya kelas Senpai berada di kelas 12?" tanya Naruto santai tanpa menoleh ke arah Grayfia di sampingnya, karena sedang fokus dengan tulisan di buku yang berada di hadapannya.

"Terima kasih, terima kasih untuk yang tadi malam," balas Grayfia tenang membuat Naruto menghela nafas langsung menutup bukunya.

SREK!

Dan seketika Naruto berdiri dari duduknya dan melangkah melewati Grayfia.

"Berterima kasihlah kepada Tuhan yang telah memberikan takdir keselamatan untukmu," ucap Naruto pas di samping Grayfia dan langsung melangkah keluar kelas menyeret Issei menuju kantin meninggalkan Grayfia yang diam mematung disitu.

" Aku tau, sebenarnya kau hanya malu dipuji bukan, Naruto," batin Grayfia tersenyum lalu melangkah keluar kelas menghiraukan siswa-siawi di kelas tersebut yang terheran-heran dan bertanya-tanya dengan kejadian barusan.

.

.

#Skip ruang guru

.

"Ne, Kushina-sensei, apa kau tau murid kelas bimbinganmu yang bernama Naruto," tanya seorang guru berambut ungu diikat ekor kuda yaitu Anko Mitarashi, guru Olahraga untuk kelas 11, bertanya kepada guru wanita berambut merah panjang yaitu Kushina Uzumaki, atau sekarang sudah menjadi Namikaze. Sontak Kushina langsung menoleh ke arah Anko.

"Hmm, ah aku tau anak ngak jelas asal-usulnya itu, dia memang di kelas bimbinganku yang selalu duduk di pojokkan, memang kenapa Anko-sensei?" Jawab Kushina lalu balik bertanya.

"Begini, sebenarnya julukkan ngak jelas untuknya tidak pantas menurutku?" balas Anko membuat Kushina menaikkan sebelah alisnya.

"Maksudmu?" kata Kushina yang bingung dengan sikap Anko yang tiba-tiba membela sosok Naruto.

"Kau ta--"

"Lagi membicarakan apa si, kelihatannya seru," tiba-tiba ucapan Anko terpotong oleh suara wanita yang menghampirinya. Yaitu Kaguya bersama Mikoto di sebelahnya yang ingin nimbrung percakapan Anko dan Kushina.

"Entahlah, Cuma tak biasanya seorang Anko-sensei yang tak terlalu peduli, tiba-tiba sekarang peduli dengan murid bimbinganku si Naruto anak ngak jelas itu," kata Kushina santai membuat Kaguya dan Mikoto saling pandang lalu menatap Anko yang cuek bebek.

"Aku hanya mendeskripsikan dengan apa yang kulihat 2 hari yang lalu," balas Anko tenang membuat ketiga guru lainnya menaikkan alisnya tak mengerti.

"Maksudmu?" kata ketiga guru wanita bersamaan membuat Anko menghela nafas.

"Huh, kau tau, 2 hari yang lalu tebih tepatnya waktu pulang sekolah, aku melihat si Naruto sedang membantu seorang nenek-nenek yang kesusahan membawa barang," balas Anko tenang membuat ketiga guru wanita tertawa pelan.

"tidak mungkin Anko-sensei," tawa Kushina. "Aku yakin, Anak ngak jelas membantu si nenek karena ada maunya," sambung Kushina menyangkal kenyataan.

"Kau benar sekali Kushina-sensei," timpal Kaguya dan didukung anggukkan Mikoto.

"Terserah kalian mau percaya atau tidak, yang jelas si Naruto benar-benar membantu si nenek dengan tulus, aku bisa melihat wajahnya yang tersenyum tulus saat menolong si nenek, bahkan aku juga mengikuti si Naruto sampai di rumah nenek itu, kau tau apa yang terjadi," kata Anko membuat ketiga guru terdiam ingin mendengarkan kelanjutan ucapan dari Anko. "Dia malah memberikan sejumlah uang yang cukup banyak setelah tau rumah si nenek yang begitu sederhana," sambung Anko dan ketiga guru masih terdiam karena terkejut dan tak percaya.

KLING!

Tiba-tiba suara HP milik Kushina berbunyi, sontak Kushina langsung merogoh kantong celananya mengambil HP dan langsung membukanya yang ternyata sebuah pesan WA dari teman kantor suaminya.

.

.

DEG!

.

.

Next

.

.

weh-weh banyak yang penasaran dengan incest-nya ya...hmmm begini, kalo untuk Incest memang kubuat untuk kejutan nantinya dichap-chap berikutnya. Karena aku punya rencana tersendiri untuk itu...

.

dan kenapa ngak ada lemon? Yah karena diriku tak pandai bikin lemon, jadi maaf ya.