THE PACIFIER IS FRAGILE

Disclaimer

Naruto : masashi kishimoto

Highschooldxd : ichie ishibumi

Rate : M

Genre : romansa, friendship, humor

Pair : nanti saja

Peringatan sebelum membaca, ffn ini mungkin bayak typo, kata yang kurang dan kesalahan ketik banyak terjadi (alur berantakan, typo, gaje, ooc dan lain sebagainya)

.

.

CHAPTER 6

.

TING! TONG!

.

Pintu Apartemen Naruto berbunyi kembali setelah 2 jam kedatangan Kaguya. Sontak Naruto yang mendengar itu pun langsung beranjak dari duduk santainya di sofa dengan Kaguya yang berada di hadapannya yang Cuma di batasi oleh meja kecil serta Mirai berada di samping Naruto.

Tap! Tap! Tap! Tap!

Naruto langsung melangkah ke arah pintu meninggalkan rasa penasaran Kaguya yang ingin tau siapa tamu milik Naruto, sehingga dia terus melihat ke sisi Naruto berada sekarang.

Ckek!

Krieeet!

"Sesuai janji kemarin,"

Ucap seorang wanita berambut coklat di balik pintu Apartemen Naruto yang ternyata Ayame dengan penampilan yang sangat cocok seperti gadis yang ingin berkencan yang kini sedang tersenyum kepada Naruto setelah pintu Apartemen terbuka.

Naruto memegang dagunya seperti sedang berpikir. "Janji apa ya, Aya-nee?" tanya Naruto.

Ctak!

Ayame langsung menjitak kepala kuning Naruto, sontak Naruto langsung meringis kesakitan sambil memegang kepalanya.

"Apa-apaan si Aya-nee?"

Ayame bersedekap dada. "Bukannya kemarin kau meminta diriku untuk menemanimu ke pusat berbelanjaan membeli keperluan Mirai-chan," ucap Ayame memberitau.

Naruto langsung melebarkan mata. "Ah, aku lupa hehe," cengengesan Naruto sepertinya telah mengingat janjinya dan Ayame hanya menghela nafas saja.

"Kau tak mempersilahkan aku masuk apa, Naru? Aku ini wanita lo, tidak baik membiarkan seorang wanita berdiri di depan Apartemen pria terus," ucap Ayame menatap Naruto.

"Ya ya, Silahkan masuk Nyonya cerewet," ucap Naruto mempersilahkan seperti seperti seorang pelayan.

Grep!

"Au!"

Ayame langsung menjewer telinga Naruto. "Kau salah omong kan?" ucap Ayame tersenyum manis, sangat manis sampai-sampai membuat Naruto merinding.

"Y-ya aku salah omong tadi," gagap Naruto. "Au sakit, jangan tarik Aya-nee," rintih kesakitan Naruto disaat Ayame menarik Naruto masuk Apartemen dengan posisi masih menjewer Naruto.

Tap! Tap! Tap! Tap!

Set!

"Kaguya-Sensei?!"

Kejut Ayame saat melihat sosok Kaguya yang sedang duduk santai di Apartemen milik Naruto.

Kqguya menoleh ke belakang, tapi hanya sebentar setelah tau siapa yang datang ke Apartemen Naruto, dan Ayame sudah melepaskan jewerannya terhadap Naruto.

Lalu Ayame melangkah dan duduk di hadapan Kaguya tepat di samping Mirai, sedangkan Naruto sudah masuk ke dalam kamarnya entah untuk apa.

Dan Ayame langsung menatap tajam Kaguya. "Kaguya-sensei, bukannya pengawasan untuk Naru itu hanya di sekolahan saja, kenapa hari libur seperti ini harus di awasi juga?" tanyanya.

"Huh," Kaguya menghela nafas. "Sebagai murid jangan sok tau, peringatan kemarin itu sudah di kategorikan peringatan keras. Jadi harus diawasi ketat kelakuannya setiap hari," ucap Kaguya beralasan.

"Tapi tidak seharusnya di hari libur bukan, Sensei?" tanya Ayame yang sekarang malah menatap aneh Kaguya.

"Ya tak apa si, aku tak mengawasinya di hari libur jika ingin di DO," balas Kaguya.

"Atau hanya alasan Sensei saja ya? Untuk mendekati Naru," ucap Ayame dengan nada sedikit aneh.

Kaguya terdiam dan melirik ke arah Ayame. "Anak kecil tau apa si, seorang guru dekat dengan muridnya itu Cuma segedar membimbing lebih baik lagi. Tidak seperti para remaja yang taunya hanya bisa melihat dari sebelah matanya saja tanpa tau alasannya," jelas Kaguya memberi tau.

Sedangkan Ayame malah mengangkat kedua bahunya. "Kan siapa tau Sensei, pada dasarnya Sensei itu sudah berumur, masih jomblo lagi. Pasti milih yang mudaan karena yang seumuran sudah habis stoknya," ucap santai Ayame tanpa beban saat mengucapkannya.

Kaguya terdiam dan langsung memasang wajah datar, ucapan Ayame bagaikan peluru pistol yang di tembakkan ke jantungnya.

.

"Sialan ini bocah! Kalau bukan muridku sendiri sudah pasti ku jambak ini bocah!"

.

Batin Kaguya sangat kesal terhadap Ayame, tapi tidak dengan wajah yang di tampilkannya seakan-akan biasa-biasa saja saat mendengar ucapan Ayame yang terbilang hinaan pedas kepadanya.

Krieeeeeeet!

Kaguya serta Ayame langsung menoleh ke arah pintu kamar Naruto yang terbuka dan langsung terdiam membisu. Disitu ada Naruto dengan kaos hitam gambar tengkorak dan di balut jaket berhoodie yang resletingnya dibiarkan terbuka dan celana jeans hitam podel pensil sampai mata kaki. Sehingga terlihat keren di mata orang yang melihatnya.

"Naru-kun tampan sekali," batin Ayame terpesona.

"Ternyata dia tampan juga kalau rapih seperti itu," batin Kaguya terpesona juga.

"Mau berangkat sekarang tidak, Aya-nee,"

Lamunan Kaguya dan Ayame pun buyar karena ucapan Naruto. "Ah, ayo Naru," balas Ayame yang tersadar dari lamunannya, lalu monoleh ke arah samping. "Yuk, Mirai-chan," ajaknya dan dijawab anggukan oleh Mirai.

Naruto menoleh ke arah Kaguya. "Sensei mau pulang atau mau disini saja? Soalnya saya mau keluar bersama Aya-nee dan Mirai," ucapnya.

Srek!

Kaguya beranjak dari duduknya. "Sensei pulang saja," balasnya.

"Baiklah," singkat Naruto.

Lalu mereka bertiga keluar Apartemen dengan Mirai yang di tuntun oleh Ayame sedangkan Kaguya disamping Naruto.

"Sebenarnya Sensei akan memberikan bimbingan kepadamu hari ini. Tapi karena kalian ingin kencan, maka lain kali saja bimbingannya," ucap Kaguya setelah mereka berempat berada di luar Apartemen milik Naruto.

Sontak Ayame langsung bersemu merah atas ucapan Kaguya, sedangkan Naruto hanya memutar matanya bosan.

"Terserah Sensei lah," balas singkat Naruto.

Lalu mereka berempat melangkah menuju tangga yang ada di pojokkan dan pergi dari Apartemennya Naruto.

Cklek!

Pintu kamar Apartemen sebelah milik Naruto tiba-tiba terbuka dan memperlihatkan sosok Kushina yang sedang tolah-toleh seperti mencari sesuatu.

Kushina memegang dagunya. "Aneh? Tadi pagi aku mendengar suara Kaguya-sensei, dan barusan aku juga mendengar suara Kaguya-sensei di sini," batinnya. "Ah, mungkin khayalanku saja karena akhir-akhir ini aku sering kelelahan," gumamnya lalu berbalik badan dan masuk lagi ke dalam Apartemennya.

.

#Skip Time

.

1 jam berlalu, kini Naruto serta Ayame dan Mirai sudah berada di toko pakaian, sedangkan Kaguya sudah pulang ke rumahnya.

Bahkan di dalam toko pakaian tersebut mereka bertiga menjadi bahan tatapan semua orang yang ada, bukan tatapan aneh-aneh, melainkan tatapan kagum kepada mereka berdua.

Karena di pandangan orang-orang, mereka nampak seperti keluarga kecil yang bahagia. Dengan Naruto sebagai suami dan Ayane sebagai istri sedangkan Mirai sebagai anaknya, pikir orang-orang yang melihat mereka.

"Nii-san, kalau yang ini bagus tidak?" tanya Mirai sambil menunjukkan baju santai kepada Naruto dan Ayame.

Naruto menoleh ke arah Ayame. "Aku tidak pandai dalam urusan seperti ini, bisa kau berikan pendapatmu, Aya-nee," ucapnya.

Ayame mengacungkan jempol tangan kanannya. "Sangat bagus Mirai-chan," ucapnya sambil tersenyum.

"Sungguh?" senang Mirai memastikan lagi dan dijawab anggukan kepala oleh Ayame. Lalu Mirai menoleh ke arah Naruto. "Nii-san, ambil yang ini ya," minta Mirai.

"Hm," angguk Naruto. "Ambillah apa yang kau suka, Mirai," ucapnya sambil tersenyum menginyakan.

Sontak Mirai langsung tambah senang dan langsung memilih apa yang diinginkannya itu atas ijin dari Naruto pastinya.

Hingga 1 jam berlalu, acara Naruto dan Ayame yang menemani Mirai memilih-milih pakaian di sudahi dan kini mereka bertiga berada di meja kasir untuk membayar apa yang mereka ambil dari toko tersebut.

"Ini pak total belanjaannya," ucap sang kasir menyerahkan hasil belanjaan yang sudah di total harganya kepada Naruto.

"Pak?"

"Ada masalah pak?"

"Aku ini ma--Au!"

Naruto langsung merintih kesakitan di kakinya karena hasil injakan seseorang, dan pelakunya adalah Ayame itu sendiri.

"Maafkan suami saya ini ya, dia suka bercanda," ucap Ayame sambil tersenyum kepada sang Kasir. Sedangkan sang Kasir hanya ber-O-ria saja.

Tapi tidak dengan Naruto yang langsung menatap tajam Ayame. Bukan karena injakannya, melainkan karena ucapan yang keluar dari mulut Ayame.

"Aya--Au!"

lagi-lagi Naruto merintih kesakitan di kakinya saat mau mengeluarkan suara karena lagi-lagi kakinya di injak oleh Ayame.

Ayame langsung menatap tajam Naruto. "Sayaaaang, bisa kau bayar total belanjaannya sekarang," ucapnya penuh penekanan.

"Y-ya tolong lepaskan kakimu dulu," ucap Naruto seketika acara Ayame yang menginjak kaki Naruto pun disudahi, dan Naruto langsung merogoh kantong celananya mengambil dompet hitam langsung membukanya lalu mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya.

Naruto menaruh uangnya di hadapan sang kasir, kemudian langsung keluar meninggalkan sang kasir yang Sweatdrop dari tadi bersama Ayame dan Mirai dengan tas belanjaan Naruto yang membawanya dan langsung menuju tempat tujuan selanjutnya.

.

#Skip Time

.

3 jam berlalu, semua yang diperlukan untuk kebutuhan Mirai telah tercukupi, kini mereka sedang berada di kedai pinggiran jalan untuk mengisi perut yang kosong.

"Apa-apaan si tadi, Aya-nee? Kita ini masih pelajar," kata Naruto sambil memakan makanannya dan di hadapannya ada Ayame dan Mirai yang duduknya bersebelahan.

Ayame menoleh ke arah Naruto. "Bukannya tadi cocok, kau sebagai ayahnya, aku sebagai ibunya dan Mirai sebagai anaknya. Sangat cocok bukan?" ucapnya sambil mengangguk-anggukkan kepala.

Naruto menoleh ke arah samping, tak ada niatan untuk membalas ucapan Ayame. Entah kenapa matanya tertuju pada sosok berjaket hitam yang kepalanya di tutupi hoodie jaketnya berada di seberang jalan pas dekat tempat ATM.

Srek!

Ayame dan Mirai langsung menoleh ke arah Naruto. "Mau kemana Naru?" tanya Ayame.

"Aku mau mengambil uang sebentar," balas Naruto sedangkan Ayame hanya ber-O-ria saja.

Lalu Naruto melangkah keluar Kedai tersebut dan menyeberang jalan menuju tempat ATM tersebut.

Set

Langkah Naruto terhenti tepat di samping orang berjaket hitam tersebut. "Katakan?" ucapnya tanpa menoleh keorangnya dan sepertinya Naruto kenal dengan orang tersebut.

"Huh," orang berjaket hitam itu menghela nafas. "Akatsuki akan mengacak-acak Kedai Ichiraku malam ini," ucap orang berjaket hitam tersebut.

"Dimana mereka berkumpul malam ini?"

"Markas timur,"

"Huh," Naruto menghela nafas. "Pastikan kau tak ada di sana malam ini jika kau tak ingin aku hajar juga, Itachi," ucapnya.

"Baiklah," Singkat orang berjaket hitam yang ternyata bernama Itachi lalu melangkah pergi meninggalkan Naruto yang masih di depan pintu ATM.

Naruto lalu memasuki tempat ATM tersebut dan mengambil beberapa uang simpanannya yang telah tersimpan di Bank. Kemudian kembali ke tempat Ayame dan Mirai berada.

"Sepertinya kau kenal dengan orang tadi, Naru?" tanya Ayame setelah Naruto kembali ke kedai yang mereka tempati sekarang.

"Hanya orang yang bertanya alamat saja tadi," balas Naruto lalu kembali duduk.

"Ooooooo," singkat Ayame ber-O-ria saja.

Lalu mereka bertiga melanjutkan lagi acara makannya, hingga tak lama kemudia acara mereka makan pun selesai dan langsung pulang setelah membayar makanan yang mereka makan, dan pastinya Naruto yang membayar itu semua.

Dan Ayame langsung pulang ke rumahnya, sedangkan Naruto langsung ke Apartemennya bersama Mirai dan pastinya Naruto yang membawa semua belanjaan kebutuhan milik Mirai.

Cklek!

Tiba-tiba pintu sebelah Apartemen Naruto terbuka pas saat Naruto akan melewatinya.

"Kushina-sensei/Kau," kejut Naruto dan Kushina bersamaan.

"Sedang apa kau disini?" bingung Kushina saat tau muridnya kelayapan di sebuah Apartemen. Tidak pantas saja, pikir Kushina.

"La, aku kan tinggal di Apartemen sebelah, Sensei," balas Naruto.

Kushina melebarkan mata. "Jangan bohong. kau itu masih pelajar dan kau tak memiliki orang tua, mana mungkin bisa menyewa Apartemen," sangkal Kushina.

Wajah Naruto berubah menjadi datar. "Mau aku bisa atau tidaknya terserah saya, Sensei tak perlu tau itu semua," ucapnya dingin lalu menoleh ke arah Mirai. "Ayo Mirai," ajak Naruto dan dijawab anggukan kepala oleh Mirai lalu melangkah ke Apartemennya.

Sedangkan Kushina yang melihat perubahan ekspresi Naruto begitu cepat hanya bingung saja.

" Kenapa dia seperti itu? Aku kan hanya mengatakan fakta tentangnya, kenapa dia marah?" bingung Kushina.

"Bodo amat ah," ucapnya lalu menoleh ke dalam Apartemennya. "Naruko! Sudah selesai apa belum!" teriak Kushina memanggil orang yang ada di dalam Apartemennya.

"Iya Ma! Ini sudah selesai!" teriak dari dalam Apartemen menyahuti teriakan Kushina.

Tap! Tap! Tap! Tap!

Tak lama kemudia datang sosok anak kecil umuran 8 tahun dengan rambut kuning menghampiri Kushina, yaitu Naruko anaknya Kushina dan Minato.

"Sudah Ma, ayuk," ajak Naruko.

Kushina mengangguk. "Yuk," angguk Kushina.

Dan ternyata Kushina ingin keluar Apartemennya bersama Naruko entah kemana tujuannya, yang jelas tak ada yang mengetahuinya.

Sedangkan Naruto sekarang sedang duduk santai di ruang tengah Apartemennya dan barang bawaanya sudah di taruh di dekat tembok.

Sambil mendongkrakkan kepalanya Naruto menerawang langit-langit ruangan Apartemennya, tapi pikirannya jauh melayang entah kemana.

"Tak akan kubiarkan itu semua--"

.

.

.

"--Akatsuki,"

.

.

Next...

.

Yo. Apa kabar kalian, pasti sehat kan? Iya kan? Hehehe.

Udah itu aja--!

.

See you next chap...