THE PACIFIER IS FRAGILE

Disclaimer

Naruto : masashi kishimoto

Highschooldxd : ichie ishibumi

Rate : M

Genre : romansa, friendship, humor

Pair : nanti saja

.

Peringatan sebelum membaca, ffn ini mungkin bayak typo, kata yang kurang dan kesalahan ketik banyak terjadi (alur berantakan, typo, gaje, ooc dan lain sebagainya)

.

.

CHAPTER 8

.

#3 Minggu kemudian

.

Hari berganti hari, tak terasa sudah 3 minggu terlewatkan. Banyak hal aneh terjadi di kehidupan Naruto selama itu. Bahkan Naruto dibuat tak bisa berpikir dengan kejadian aneh di kehidupannya itu.

Dari Itachi yang sekarang telah masuk sekolah kembali berkat bujukan Ibunya, Mikoto Uchiha. 2 minggu yang lalu Uchiha Mikoto datang ke Apartemen Naruto hanya untuk membujuk Itachi agar bersekolah lagi, dan pastinya gara-gara Uzumaki Kushina yang memberitau bahwa Itachi ada di Apartemen Naruto. Dan bujukan itu berhasil, Itachi mau kembali sekolah, tapi ia tak mau kembali ke rumah, karena Itachi lebih memilih tinggal bersama Naruto. Dan itu di setujui oleh Mikoto, dengan syarat Mikoto akan mengunjunginya 1 minggu sekali. Lebih parahnya, rundingan anak dan ibu itu tanpa diketahui oleh Naruto.

Kemudian Kushina, dia juga sering datang dan masuk ke Apartemen Naruto sejak 2 minggu yang lalu. Dengan alasan menjemput atau menemani Naruko yang sedang bermain bersama Mirai di Apartemen Naruto setiap harinya.

Dan Kaguya, ini jauh lebih aneh lagi menurut Naruto. Sejak 1 minggu yang lalu Kaguya terlihat aneh. Dia setiap hari datang ke Apartemen Naruto karena tugas bimbingannya terhadap Naruto. Bukan itu saja, bahkan sesekali Kaguya datang pagi-pagi ke Apartemen Naruto hanya sekedar membuat Sarapan dan selalu berkata. 'Kalau ingin pintar itu harus sarapan pagi,' ucapnya seperti itu. Sehingga membuat Naruto berpikir berkali-kali, 'Apa kaitannya ya?'.

Dan juga, Grayfia serta Shion. Dan entah kenapa mereka bisa tau Apartemen Naruto berada, sehingga membuat mereka kadang-kadang datang ke Apartemen Naruto. Itu karena 1 minggu yang lalu, Grayfia dan Shion kepergok oleh Itachi karena mengikuti Naruto, sehingga mereka tau letak Apartemen Naruto berada. Kalau untuk Ayame sudah jelas, ia datang ke Apartemen Naruto itu sudah menjadi hal biasa setiap harinya.

Seperti sekarang ini, pagi hari yang cerah di hari minggu ini, sosok Naruto masih tertidur, di sampingnya ada Itachi yang juga tertidur.

Dengan posisi yang sangat aneh kepala Naruto berada di sebelah kaki Itachi, posisi mereka berlawanan.

Mata Naruto berkedut, hidungnya mengendus merasakan aroma yang kurang enak. Sontak Naruto langsung membuka matanya, seketika pula muncul perempatan di kepala Naruto setelah tau sumber aroma tak enak itu.

"SINGKIRKAN KAKIMU, SIALAN!"

*DUBRAK!*

Itachi langsung tersungkur di lantai dengan posisi menungging, setelah dengan keras Naruto melemparnya dari atas tempat tidur.

"Au..."

Itachi merintih kesakitan di wajahnya, ia langsung duduk sambil mengusap hidungnya yang sedikit berdarah. "Sialan! Ini sakit!" ucap Itachi menatap tajam Naruto.

Dengan tampang Watados, Naruto malah beranjak dari tempat tidur, langsung menuju pintu keluar kamarnya. Naruto melirik ke arah Itachi saat pintunya terbuka. "Salahkan Kakimu yang membuatku ingin melemparmu."

*Brak!*

Seketika Naruto langsung menutup kembali pintu kamarnya. Sedangkan Itachi yang mendengar ucapan Naruto tadi, malah terdiam, kepalanya berasap tanda ia kesal.

"SIALAN KAU NARUTO!"

#Skip time

2 jam telah berlalu, Naruto dan Itachi tampak terlihat biasa-biasa saja, seperti telah melupakan kejadian pagi hari tadi.

Kini terlihat Naruto sedang duduk rebahan di sofa empuknya dengan baju hitam lengan pendek bergambar tengkorak serta celana Jeans pendek selutut.

Itachi juga sama, ia mengenakan baju hitam lengan pendek tapi polos, serta celana Jeans pendek selutut. Ia sekarang sedang duduk santai menonton acara Tv bersama Mirai di hadapannya.

*Ting! Tong!*

Suara bel Apartemen Naruto berbunyi, membuyarkan lamunan mereka yang berada di dalam.

Naruto menoleh ke arah Itachi. "Kau yang liat saja, Itachi. Aku malas."

"Cih. Mentang-mentang aku yang numpang, seenaknya saja menyuruhku ya," ucap Itachi sambil berdiri dan melangkah ke pintu depan Apartemen.

"Hehe... Resiko numpang itu," ejek Naruto, tapi Itachi tak menyahutinya karena sudah berada di depan pintu Apartemen.

.

*Cklek!*

*Krieeeeet!*

Itachi membukakan pintu. "Huh..." dan langsung menghela nafas setelah tau siapa yang berada di depan pintu tersebut. Yaitu Kushina dan Naruko.

"Itachi Nii-san, Mirai-Chan sudah bangun?" tanya Naruko.

"Sudah. Dia sedang menonton Tv di dalam."

*Wusssss!*

Tanpa tak terduga, Naruko langsung menerobos masuk tanpa permisi lerlebih dahulu, tapi itu sudah menjadi hal biasa akhir-akhir ini bagi Itachi.

"Maafkan kelakuan Naruko ya, Itachi." Ucap Kushina sedikit merasa tak enak.

"Tak apa-apa Sensei, ini sudah menjadi hal biasa akhir-akhir ini." Balas Itachi, membuat Kushina cengengesan kikuk. Itachi berbalik badan. "Sensei mau masuk?" tawar Itachi.

"Ah ya, aku mau menemani Naruko. Hehe..." balas Kushina masih dengan cengengesan kikuknya.

Itachi pun masuk ke dalam, diikuti Kushina di belakangnya. Hingga tak berselang lama langkah mereka pun sampai di dalam, dan Itachi langsung menaikan alisnya karena melihat Naruto telah mengenakan jaket hitam berhoodienya.

"Mau kemana kau, Nar?" tanya Itachi.

"Ah kebetulan ada Sensei di sini, bisa tolong jaga Apartemen ini Sensei? Dan Itachi, bisa kau temani aku keluar sebentar?"

Kushina hanya mengangguk, toh baginya ia sambil menjaga Naruko yang bermain di Apartemen Naruto. Sedangkan Itachi menatap penuh tanya kepada Naruto.

"Kemana?"

"Nanti kuberi tau."

Seketika Naruto langsung menyeret Itachi keluar Apartemennya. Meninggalkan Kushina yang sekarang duduk santai tak jauh dari Naruko dan Mirai yang sedang bermain di situ.

.

.

*Ting! Tong!*

Bel Apartemen Naruto kembali berbunyi setelah 1 jam kepergian Naruto dan Itachi.

Kushina beranjak dari duduknya, ia langsung melangkah menuju depan pintu Apartemen tersebut.

*Cklek!*

*Krieeeet!*

"Huh..." Kushina langsung menghela nafas setelah tau siapa yang berada di depan pintu Apartemen Naruto. Yaitu Kaguya dan Mikoto dengan pakaian santainya.

Kaguya dan Mikoto menatap aneh Kushina. "Oya~Oya~ Kenapa Kushina-Sensei berada di Apartemen muridnya sendiri." Goda Kaguya sedangkan Mikoto hanya mengangguk menyetujui ucapan Kaguya.

Kushina hanya memutar bola matanya bosan. "Anakku bermain disini." Singkatnya. Kini gantian Kushina menatap aneh Kaguya. "Ara~Ara~ kalau hanya sekedar membuat sarapan, kau telat Kaguya-Sensei. Karena orangnya telah keluar dari tadi," goda Kushuna.

Kaguya tersipu, tapi reaksi seperti itu tak membuat Kushina dan Mikoto terkejut. Pasalnya mereka tau bahwa diam-diam Kaguya menyukai muridnya sendiri, yaitu Naruto.

"Apakah Itachi Ikut, Kushina-Sensei?" tanya Mikoto memnghiraukan Kaguya yang masih mode tersipunya.

"Ya seperti itulah, anakmu pasti ikut." Balas singkat Kushina. "Kalian tunggu di dalam saja, kemungkinan mereka pergi tak lama." Ajaknya.

Kaguya dan Mikoto hanya mengangguk, Kushina pun melangkah masuk diikuti Kaguya dan Mikoto di belakangnya

.

.

#Dengan Naruto dan Itachi

.

Melangkah satai, menerobos ramainya orang berlalu lalang. Nampaknya Naruto dan Itachi habis beberlanja suatu kebutuhan. Itu terbukti dengan Naruto yang menenteng sekantung buah-buahan dan Itachi menenteng sekantung makanan ringan.

Itachi menoleh ke arah Naruto. "Oke. Kau belum memberi tau tujuan kita dari tadi, dan untuk apa ini semua?" tanya Itachi penasaran.

Naruto malah tersenyum, sontak senyuman Naruto membuat Itachi menaikkan sebelah alisnya. "Apa kau lupa. Kita sudah lama tak mengunjungi teman kita bukan,"

"Siapa?"

"Nagato."

Sontak ucapan terakhir Naruto membuat Itachi melebarkan mata. Ia teringat orang yang di sebutkan oleh Naruto tadi.

Itachi moleh ke depan. "Huh... Semoga penyakit yang di deritanya cepat sembuh kembali." Gumam Itachi.

"Semoga saja," timpal Naruto.

Terjadi keheningan, hingga 10 menit berlalu langkah mereka sampai di depan sebuah rumah sakit besar di kota Kuoh. Mereka pun memasuki rumah sakit tersebut, terus melangkah menuju suatu kamar pasien nomor 104.

Dan akhirnya mereka sampai di depan pintu kamar tersebut, mereka pun masuk. Dapat dilihat di dalam kamar pasien tersebut nampak remaja berambut merah seusia Itachi yang terbaring lemas dan memilukan, karena tubuhnya kurus sehingga nampak hanya tulang-tulangnya yang di balut kulit tubuhnya.

Dan di samping ranjang pasien tersebut namapak gadis berambut merah pajang dan memakai kacamata, terlihat seumuran dengan Naruto. Gadis itu tidur sambil duduk di samping rajang tersebut.

Naruto mendekati gadis tersebut. "Karin. Karin." Panggilnya.

Gadis yang dipanggil Karin menggeliat, ia terbangun dari tidurnya. Matanya langsung terbuka lebar saat tau siapa yang membangunkannya. "Na-Naru-Kun." Kejutnya.

Naruto hanya tersenyum. "Hmm. Aku datang berkunjung." Ucapnya, dan Karin hanya mengangguk saja.

Naruto menatap remaja yang terbaring lemas di ranjang. "Bagaimana kondisi Nagato?"

Karin menunduk. "Belum ada tanda-tanda akan Nii-san membaik," ucap Karin sendu.

*Puk!*

Naruto menepuk pundak Karin. "Tak perlu bersedih seperti itu, Nii-sanmu pasti akan sembuh kembali," ucap Naruto menyemangati.

"Um."

Naruto berpindah, ia mendekati meja tak jauh dari rajang pasien tersenbut. "Kutaruh ini disini ya, Karin." Ucapnya sambil menunjukkan sekantung buah-buahan.

"Um. Terima kasih,"

Naruto pun menaruh sekantung buah-buahan itu di atas meja lalu menoleh ke arah Itachi. "Woy. Taruh sini, Itachi."

"Ya, Ya, sabar bentar kenapa," balas Itachi sambil menaruh sekantung makanan ringan di atas meja.

"Naru."

Merasa dipanggil, Naruto menoleh ke arah Karin. "Apa?"

Karin menunduk. "Terima kasih atas bantuannya selama ini, aku tak tau harus berbuat apa jika tak ada kau yang membantunya selama ini, karena hanya Nii-san saja yang kumiliki sekarang ini," ucap Karin sambil terus menunduk.

Naruto pun tersenyum. "Kau tenang saja, selagi aku bisa membantu, maka akan aku bantu." Ucap Naruto.

"Terima kasih," ucap Karin kembali.

"Hm." Angguk Naruto. "Mungkin aku Cuma berkunjung sebentar, aku pamit sekarang, Karin." Pamit Naruto dan hanya dibalas anggukan kepala oleh Karin.

Naruto dan Itachi pun melangkah keluar, Naruto menoleh ke arah Karin kembali pas berada di ambang pintu. "Oh ya Karin. Disitu ada sedikit makanan dan uang untukmu." Ucap Naruto sambil menunjuk kanton yang berisi makanan ringan di atas meja. "Dan kau tenang saja, soal biaya inap dan perawatan selama sebulan telah kubayar, Notanya juga ada di situ," sambung Naruto.

Karin menunduk. "Terima kasih, terima kasih untuk semuanya, Naru-kun. Aku akan mengembalikannya suatu saat nanti." Ucap Karin.

Naruto geleng-geleng kepala. "Tak perlu Karin, aku Iklas kok. Nagato adalah temanku, dan aku sebagai temannya akan membantu sebisaku," ucap Naruto.

"Terima kasih," ucap Karin, kini sedikit air mata menetes karena terharu.

"Jaga Nii-sanmu, Oke," ucap Naruto sambil keluar dari ruangan itu.

Karin mengangguk, ia mendongakakan kepalanya. Terlihat matanya berkaca-kaca di balik kacamantanya. Tangan kanannya terangkat, menyentuh dadanya.

"Terima kasih Hiks... Terima kasih hiks... Terima kasih telah menyemangatiku di saat kuseperti ini, Naru-kun,"

#Skip time

Waktu berlalu, kini Naruto dan Itachi telah berada di luar Rumah Sakit dan sekarang berada di sebuat tempat makan di pinggiran jalan.

"Oh ya Naruto, aku ingin bertanya sesuatu padamu," ucap Itachi di sela-sela menyantap makanan yang di pesan tadi bersama Naruto di hadapannya.

"Apa?"

Wajah itachi menjadi serius, ia menatap Naruto. "Uang sebanyak itu di rekeningmu tadi, kau dapat dari mana itu semua?"

*Tuk!*

Naruto menaruh sendok di samping mangkuk Ramen, ia kemudian menoleh sekitarnya yang nampak begitu sepi, karena belum ada pelanggan satupun, dan posisi mereka juga sedikit jauh dari penjual Ramenya.

Naruto menoleh ke arah Itachi. "Banyak hal yang terjadi dulu, mungkin kau tak percaya bila kuberitau,"

"Tenang saja, semuanya aman terkendali,"

"Kupegang omonganmu, kalau tidak. Siap-siap menerima akibatnya,"

"Iya-Iya, tenang saja."

Naruto menghela nafas. "Dulu, waktu aku masih umur 12 tahun, aku pernah membobol sebuah bank di Tokyo." Ucap Naruto pelan.

Reaksi Itachi berubah, ia melebarkan mata terkejut. "Serius?" kejutnya.

Dan Naruto hanya menganggukan kepala, tanda ia membenarkan ucapannya tadi.

"Hm..." Itachi kembali duduk tenang. "Aku yakin, kau tak sendirian waktu itu."

"Yap. Aku memang tak sendirian. Aku melakukan itu bersama..." tiba-tiba Naruto mendongkrakan kepalanya, menerawang jauh entah kemana. "... Orang yang kuanggap Saudaraku,"

.

"Han."

.

.

#Tokyo

.

Kota Tokyo, pusat Jepang yang memiliki kepadatan penduduk jauh lebih banyak ketimbang kota-kota besar Jepang lainnya.

*Hoachim!*

Tiba-tiba pria dewasa dengan potongan rambut agak panjang bersin, sontak membuat pria dengan kepala pelontos tanpa rambut di hadapannya meliriknya.

"Kau kenapa Han?"

"Tidak apa-apa, Dom. Aku hanya kepikiran saudaraku, barusan." Balas Han. (Han Lue).

"Siapa?" tanya Dom. (Dominic Toretto).

Han sedikit tersenyum. "Kau akan tertarik dengannya Dom. Namanya Naruto."

"Hooo... Apakah bocah 12 tahun yang pernah membobol Bank bersamamu dulu itu?"

"Yap." Han mengangguk. "Dia ahli Kemudi juga," tiba-tiba Han membusungkan dadanya. "Dan pastinya aku yang mengajarinya," ucapnya sambil menepuk dadanya bangga.

Dom pun tersenyum. "Heee... Boleh juga," ucap Dom sedikit tertarik akan sesuatu terhadap sosok yang bernama Naruto.

Selanjutnya mereka pun melanjutkan lagi obrolan santainya di atas gedung tertinggi itu, dengan ditemani minuman beralkohol di atas meja tersebut.

.

.

#Apartemen Naruto

.

"Haha... Kau akan mengetahuinya nanti, Itachi."

*Krieeeeet!*

Ucap Naruto sambil membuka pintu Apartemennya, di sampingnya Itachi. Sambil mengobrol sejak tadi hingga tak terasa sudah sampai di Apartemennya.

"Kau membuatku penasaran, sumpah."

Kata Itachi, dan Naruto hanya cengengesan saja menanggapi ucapan Itachi.

Mereka pun melangkah masuk, dengan Itachi di belakang Naruto. Hingga tak berselang lama, langkah mereka pun sampai di ruang dalam Apartemen itu.

Entah kenapa Naruto dan Itachi langsung terdiam. Matanya terbuka, seperti terkejut melihat apa yang berada di dalam Apartemennya.

Dapat dilihat, di situ nampak ada 3 gurunya, Kushina, Kaguya dan Mikoto. Serta Senpainya, Ayame dan Grayfia. Serta murid sekolah seangkatannya, Shion, Rias dan Akeno. Yang entah kenapa bisa berada di Apartemen Naruto, karena Naruto tak tau hal itu.

Mereka yang berada di dalam pun tersenyum, menoleh ke arah Naruto dan Itachi yang terdiam mematung, kecuali Naruko dan Mirai yang asik bermain di situ.

Naruto menyipitkan matanya, tangannya mengepal plus urat-urat kekesalan telah muncul di kepalanya.

.

.

"WOY! SIAPA YANG MENYURUH KALIAN DATANG KESINI, SIALAN!"

.

Teriak Naruto sangat keras, tak peduli ada guru sekolahan disitu. Karena intinya ia kesal, tak peduli kepada siapapun itu.

.

.

Next...

.

Yo! Masih dengan Story saya ini, dengan cerita sederhana yang entah ada yang minat baca atau ngaknya, hehe.

Oke, yang mau Review, silahkan Review. Saya tidak melarangnya. Mau ngeFlame juga boleh, intinya bebas... Oke itu saja.

.

See you Next Chapter...