THE PACIFIER IS FRAGILE

Disclaimer

Naruto : masashi kishimoto

Highschooldxd : ichie ishibumi

Rate : M

Genre : romansa, friendship, humor

Pair : nanti saja

.

Peringatan sebelum membaca, ffn ini mungkin banyak typo, kata yang kurang dan kesalahan ketik banyak terjadi (alur berantakan, typo, gaje, ooc dan lain sebagainya)

.

.

CHAPTER 9

.

#Pagi

.

"Hooooaaaaaam!"

.

Sambil terus menguap seperti seseorang yang kurang tidur, Itachi melangkah gontai bak mayat hidup berjalan. Dengan seragam sekolah Kuoh Gakuen yang ia pakai, tanda akan dirinya sedang berangkat menuju sekolahannya.

Dan dua meter di hadapannya, ada Naruto yang berjalan santai dengan tas sekolahnya ditumpangkan di bahu kanannya. Langkahnya tenang seperti tak tergganggu suasana sekitarnya. Walau sudah jelas di samping kanannya nampak Kaguya dan Kushina yang asik mengobrol dan pastinya mereka berdua memakai seragam guru. Dan di samping kirinya sudah pasti Ayame yang sejak tadi selalu mengajak Naruto mengobrol, tapi yang sering keluar dari mulut Naruto hanyalah kata "Hm..." "Iya," dan " Mungkin," sehingga membuat Ayame pasrah akan sifat Naruto yang acuh itu.

Hingga kini langkah mereka telah dekat dengan gerbang sekolah. Dan seperti biasa, di depan gerbang sekolah telah ada Kaicho dan Fuku-Kaicho, yaitu Sona dan Tsubaki. Mereka berada di situ untuk mengawasi para murid yang melanggar aturan sekolah, seperti murid terlambat.

Dan suatu keanehan akhir-akhir ini, karena bukan hanya Sona dan Tsubaki yang berada di gerbang sekolah. Melainkan masih ada Grayfia, Rias dan Akeno yang hanya sekedar menunggu dan menyapa seseorang saja.

"Ohayo, Sensei," Sapa mereka yang berdiri di gerbang sejak tadi.

"Ohayo," Balas Kaguya dan Kushina bersamaan

"Ohayo, Naru-kun/Itachi-kun," Sapa Grayfia, Rias dan Sona kepada Naruto, sedangkan Akeno kepada Itachi.

"Ohayo," Naruto menjawab dengan santainya, sedangkan Itachi hanya mengeluarkan kata "Hm," saja atas sapaan Akeno, sehingga membuat Akeno sedikit jengkel karena sapaannya tak dibalas.

Menghiraukan Grayfia dan Rias yang dari tadi senyam-senyum sendiri, serta Sona yang selalu berwajah datar. Tapi, jika diperhatikan lebih dekat lagi, nampak jelas ada senyuman tipis yang tercipta dari bibir Sona, serta arah pupil mata yang selalu tertuju pada Naruto.

Tapi Naruto-nya tak memperdulikannya, Naruto dan Itachi lebih memilih melangkah masuk sekolah dari pada terus berdiri di depan gerbang. Benar-benar tak ada gunanya bagi Naruto dan Itachi.

Dan mereka yang melihat Naruto dan Itachi melangkah masuk terlebih dahulu pun mengikutinya dari belakang. Dan sekarang yang tersisa di depan gerbang hanyalah Sona dan Tsubaki saja.

Bukan hal yang mengherankan bagi Tsubaki saat meliat Sona yang terus memperhatikan kepergian Naruto masuk. Tsubaki sudah tau sejak lama tingkah Sona seperti itu. Ya, Tsubaki tau bahwa Sona tertarik dengan Naruto karena sifatnya Naruto yang penuh akan kepedulian walau tertutupi oleh wajah datarnya itu. Dan ia juga cukup tertarik terhadap sosok Naruto itu yang menjadi perhatian Sona akhir-akhir ini.

.

.

.

Sedangkan untuk Naruto sekarang, ia baru saja keluar dari Toilet sekolah hanya sendiri, karena Itachi lebih memilih langsung ke kelasnya di kelaa 12A, dan tak mungkin juga meminta perempuan-perempuan tadi menemaninya, itu sangat tidak mungkin. Jadi Naruto lebih memilih ke toilet sendiri saja.

Melangkah santai di lorong-lorong sekolah menuju kelasnya. Saking santainya, Naruto menghiraukan pemandangan aneh para siswa-siswi di ujung lorong yang berbelok ke kanan itu. Mereka yang di ujung lorong itu nampak seperti memasang tatapan kekaguman dan terpesona akan sesuatu di arah kanan, sehingga Naruto tak melihat apa yang membuat mereka seperti itu, ah bukan tak melihatnya, tapi Naruto memang tak peduli sama sekali.

Tepat saat langkah Naruto di ujung lorong dan berbelok ke kanan sambil memejamkan mata karena menguap, saat itu pula Naruto berpapasan dengan tiga perempuan yang memakai seragam sekolah Kuoh Gakuen, ketiga perempuan itu terlihat asing di lingkungan sekolah, dan diasumsikan bahwa mereka adalah murid baru di sekolah tersebut.

Ada yang aneh, dua diantara tiga perempuan tersebut melebarkan mata terkejut saat berpapasan dengan Naruto. mereka berdua pun memghentikan langkahnya, sehingga membuat perempuan yang bertaxt name Irina Shido di dadanya terpaksa harus menabrak mereka.

"Aduh... Gabriel-Senpai, Xenovia-chan. Kenapa berhenti mendadak?"

Tak ada jawaban dari perempuan yang dipanggil Gabriel dan Xenovia. Melainkan sebuah tatapan terkejut mereka yang di arahkan ke belakang tepat mengarah punggung Naruto atas reaksi mereka yang Irina lihat.

"Na Naru," kejut Gabriel dan Xenovia.

Walaupun panggilan Gabriel dan Xenovia cukup pelan, tapi Naruto mendengarnya. Sehingga ia menghentikan langkahnya dan menoleh perlahan ke belakang untuk melihat siapa yang memanggilnya.

Naruto cukup terkejut, tapi hanya sebentar dan langsung merubah ekspresinya menjadi datar dan dingin setelah tau siapa yang memanggilnya.

Sebuah bayangan masa lalu yang pahit waktu di panti terpaksa harus teringat kembali di kepala Naruto setelah mengetahui siapa yang kini sedang memasang wajah terkejut kepadanya. Dua perempuan itu sangat Naruto kenali, sekaligus sosok yang Naruto benci atas keegoisannya hingga saat ini. Karena merekalah yang membuat Naruto terusir dari panti dan dalang dari adu domba merekalah penyebabnya.

"Cih," Naruto kembali melangkah.

Gabriel dan Xenovia langsung menunduk melihat reaksi acuh Naruto kepada mereka. Mereka merasa menyesal atas perbuatannya dulu, tapi saat melihat reaksi pertama Naruto seperti itu membuatnya tak yakin jika kata Maaf akan membuat Naruto Memaafkannya dan Melupakan masa lalunya.

Sungguh berat harus mambawa beban penyesalan selama kepergian Naruto dari panti. Seandainya Naruto tau, jika Gabriel dan Xenovia dulu tak bermaksud untuk mebuat keadaan rumit seperti ini. Mereka dulu hanya malu untuk mengakui jika mereka Menyukainya, tapi ejekan anak-anak panti dulu membuatnya harus bertindak bodoh waktu itu.

Dan seandainya waktu sekarang seperti waktu dulu sebelum menjadi rumit. Mungkin Gabriel dan Xenovia akan mengakuinya dan tak akan merasa malu bila terkena ejekan siapa pun. Tapi itu semua adalah suatu keinginan mereka yang sekarang sudah hancur lebur bagaikan debu kertas yang tertiup angin, sangat sulit untuk mengumpulkan kembali debu tersebut, dan jika pun sudah dikumpulkan di satu tempat, jelas akan masih ada debu yang tertinggal yang entah angin membawanya kemana, itu semua sangat mustahil bagi mereka.

Tapi, dibalik penyesalan Gabriel dan Xenovia, ada rasa senang terpatri di hati terdalamnya karena telah menemukan keberadaan sosok yang selama ini mereka cari dan Rindukan. Mungkin akan sulit untuk kedepannya, tapi mereka akan terus berusaha untuk mendapat kata Maaf darinya. Itu pasti, karena Gabriel dan Xenovia yakini bahwa dibalik kegelapan total pasti ada setitik cahaya kecil bersinar. Masih ada harapan walau itu sangat kecil kemungkinan bagi mereka.

Sedangkan Irina memiringkan kepalanya bingung melihat reaksi Gabriel dan Xenovia yang tiba-tiba menunduk sedih. Dan pikiran Irina bertanya-tanya, siapa Naruro sebenarnya? Dan apa hubungan dia dengan Gabriel dan Xenovia yang telah membuat reaksi Gabriel dan Xenovia berubah drastis sekarang ini. Mungkin Irina akan mencari tau hal itu nanti.

.

.

.

#Kepolisian Kuoh

.

*Prok! Prok! Prok!*

.

"Selamat Inspektur..."

"Selamat atas pencapaianmu, inspektur..."

Begitu riuh suata tepuk tangan di kantor kepolian Kuoh tersebut. Tak luput juga, disitu juga ada seorang polisi wanita berpangkat Inspektur harus dibuat tersipu atas banyak pujian dari rekan-rekan kepolisiannya.

Mei Terumi namanya, seorang polisi wanita berpangkat Inspektur dua itu telah berhasil meringkus komplotan pengedar obat terlarang yang sudah menjadi incaran bertahun-tahun lamanya, dan berhasil ia ringkus tiga hari yang lalu.

Dan akhirnya Mei sekarang mendapat pujian dari rekan-rekannya atas pencapaiannya, dan telah dikabarkan bahwa Mei akan naik pangkat karena kerja kerasnya meringkus komplotan tersebut.

"Terima kasih," Mei membungkuk sebentar. Tak dapat dipungkiri, jelas dirinya juga senang atas pujian tersebut, apalagi kenaikan pangkat secara mendadak itu. Jelas Mei senang bukan kepalang.

Mei kemudian duduk di kursi kerjanya, kemudian ia menyenderkan pungkungnya dan kepalanya didongkrakan ke atas, menerawang langit-langit ruangan. "Huh..." kemudian Mei menghela nafas tenang.

.

.

#Flashback on

.

*Dor!*

.

Satu tembakan telah dilesatkan, suaranya berasal dari gedung tua yang berada di pinggiran kota Kuoh.

Di dalam gedung itu, ternyata Mei yang tekena tembakan di lengan kanannya, ia memegang lengannya yang terus mengalirkan darah itu, dan tatapan sangat tajam menatap ke depannya kepada sosok bermasker hitam yang kini mengacungkan pistol kepada Mei.

Dan entah nasib apa Mei malam ini, dua jam yang lalu Mei yang pada saat itu bertugas sendirian mendapat laporan warga bahwa ada hal mencurigakan di gedung tua tersebut. Dan benar, setelah diselidiki oleh Mei, ternyata sedang terjadi transaksi obat terlarang dan Mei cukup mengenali wajah salah satu dari orang yang bertransaksi, seseorang yang telah menjadi buronan bertahun-tahun atas pengedaran obat-obatan terlarang.

"Haha... Kau tak akan bisa menangkapku, Inspektur," pria itu menyerigai dibalik maskernya. Pria itu mendekati Mei yang berlutut memegangi lengannya, dan pria itu masih tetap mengacungkan pistolnya.

"Kau tak akan lolos," Mei mencoba tenang, sedikit melirik pistolnya yang terjatuh tadi, tapi mustahi untuk diraih karena jaraknya cukup jauh ditambah tangan kanannya yang terluka. Sekarang Mei hanya bisa tenang dan mengamati situasi.

Tepat pria itu berhenti dua meter di hadapan Mei, pria itu mengarahkan pistolnya ke arah kepala Mei.

"Matilah."

*Ctak!*

*Dor!*

Mei yang sudah menutup matanya harus dibuat membuka matanya kembali, pasalnya ia mendengar lesatan tembakan, tapi tidak mengarah kepadanya.

Dan Mei melihat, bahwa pria di hadapannya sekarang sedang menatap tajam ke arah samping kanan, dan pistol digengaman pria itu telah tergeletak di lantai bangunan tua itu.

*Tap! Tap! Tap!*

Pria itu semakin menatap tajam ketika mendengar suara langkah kaki dari kegelapan ruangan. Hingga tak lama kemudian terlihatlah sosok remaja laki-laki berambut kuning jabrik, dan yang membuat Mei terkejut adalah remaja itu masih mrmakai seragam sekolah.

"Siapa kau bocah!"

Remaja itu tak menggubris bentakan pria itu, ia tetap melangkah mendekat tanpa rasa takut sama sekali. Dan seketika remaja itu melesat cepat saat meliat pria itu mencoba kembali mengambil pistolnya yang tergeletak.

*Duagh!*

Pria itu seketika langsung terseret ke belakang karena tak siap menerima tendangan keras dari remaja tersebut yang mengarah ke perutnya.

*Set!*

Belum sempat menegakkan badannya yang membungkuk, pria itu dibuat terkejut karena remaja itu telah berada di hadapannya.

*Duagh!*

Lagi-lagi, sebuah pukulan keras mendarat tepat di perut pria itu, sehingga membuatnya tambah membungkuk.

*Grep!*

Remaja itu meraih tengkuk pria tersebut dengan cepat dan mengangkat kepalanya.

Kemudian...

*DUAGH!*

Kepala pria itu dibenturkan dengan keras tepat di lutut remaja tersebut, dan seketika pria itu tergeletak tak berdaya di lantai, serta darah yang terus keluar dari dahinya.

Sedangkan untuk Mei yang melihatnya, ia dibuat tak bisa berkata apa-apa, Mei hanya diam, tapi ia juga kagum atas kelincahan remaja tersebut dalam hal bela diri. Walau gayanya brutal tapi remaja itu memiliki insting yang luar biasa menurut Mei.

Tapi...

Kekaguman Mei kini berubah menjadi terkejut ketika melihat remaja tersebut meraih pistol yang tergeletak di lantai, kemudian ia arahkan ke pria yang tergeletak tak berdaya tersebut.

*Dor! Dor!*

"Aaaaaaaargh..."

Sungguh tak dipercaya atas apa yang Mei lihat. Remaja itu bisa menarik pelatuk pistol tersebut dengan mudahnya seperti telah mahir menggunakan senjata api. Dua peluru dilesatkan dan diarahkan di kedua paha pria tersebut sehingga membuat pria yang ditembak itu berteriak kesakitan.

Karena saking terkejutnya, Mei tetap diam. Bahkan ketika remaja tersebut mendekatinya, Mei masihlah diam.

"A-apa yang ingin kau lakukan?" Mei merasa ketakutan. Tapi remaja itu menghiraukan ucapan Mei, remaja itu terus mendekati Mei.

*Breeeeeeeet!*

Baju seragam kepolisian Mei dibagian tangan kanan tanpa tak diduga dirobek dengan paksa oleh remaja tersebut. Mei hanya diam, walau nyatanya ia cukup takut melihat tindakan remaja tersebut, ditambah lagi, remaja tersebut tiba-tiba mengeluarkan sebuah Bolpoin dari saku celananya.

"Maaf, ini akan sakit. Tolong ditahan."

"Emmmmm..."

Mei langsung mendekap mulutnya dengan tangan kirinya, menahan rasa sakit di lengan kanannya atas aksi remaja tersebut yang ternyata mencoba mengeluarkan peluru yang bersarang di lengan kanan Mei.

Hingga lima menit, akhirnya peluru itu telah dikeluarkan. Tapi Mei kini dibuat harus berpikiran aneh-aneh terhadap remaja tersebut, pasalnya sekarang remaja itu sedang melepas ikat pinggangnya. Bayangkan saja, remaja pria melepas ikat pinggang di depan wanita, pasti ingin berbuat mesum atau yang aneh-aneh nantinya.

Tapi pemikiran itu dibuang jauh oleh Mei, karena ternyata ikat pinggang remaja tersebut dililitkan pada luka bekas peluru di lengan Mei, dan Mei cukup tau apa maksudnya, yaitu agar tak terjadi pendarahan pada lengannya itu.

"Sekarang sudah lebih baik," ujar remaja itu setelah mengikat ikat pinggangnya di lengan Mei.

Mei hanya terdiam, sampai remaja itu melangkah keluar gedung tua itu pun, Mei masih terdiam menatap kepergian remaja tersebut.

Tapi yang pasti, Mei mengetahui jika seragam sekolah yang dikenakan remaja tersebut adalah dari Kuoh Gakuen, dan tadi Mei sempat memperhatikan tanda pengenal di seragam remaja tersebut yang bertaxt nama Naruto.

.

#Flashback off

.

.

"Mungkin aku harus berterima kasih padanya nanti,"

.

.

.

#Kuoh Gakuen

.

Sangat membosankan, rasanya ingin cepat keluar kelas segera, itu yang dirasakan Naruto saat ini.

Kenapa?

Itu karena di kelas Naruto bertambah murid pindahan dari Tokyo, yang ternyata mereka adalah Xenovia Quarta dan Irina Shido. Dan yang membuat Naruto bosan dan ingin cepat keluar kelas adalah pelajaran pagi yang mengharuskan murid-murid di kelas Naruto harus membuat kelompok kecil yang dipilih secara acak, dan ternyata Naruto harus berkelompok dengan Xenovia.

Sedangkan Xenovia sendiri dari tadi terus menunduk. Selain menjadi murid baru di sekolah Kuoh Gakuen, ada alasan lain yang membuat Xenivia terus menunduk. Ia tak sanggup untuk melihat ke arah Naruto, dan ia juga takut melihat tatapan Naruto yang seolah-olah mengatakan 'Menjauh dari hadapanku, sialan!' sehingga membuat Xenoivia terus menunduk.

*Teng! Tong!*

Bel menunjukkan waktu istirahat pun berbunyi, kini Naruto hanya perlu bersabar sebentar menunggu guru keluar dari kelas tersebut.

Hingga tepat guru melewati pintu kelas, bersamaan dengan Naruto yang berdiri dari duduknya, dan langsung melangkah keluar dari kelas tersebut.

Xenovia ingin sekali menyapa, tapi mulutnya terasa berat untuk mengucap. Ia hanya pasrah, Xenovia sadar bahwa wajah datar Naruto sekarang itu disebabkan oleh dirinya.

"Via-chan, ayo kita ke kantin," Irina menghampiri Xenovia, dan hanya anggukan pelan sebagai jawaban dari Xenovia. Kemudian dengan lemas Xenovia pun melangkah keluar kelas mengikuti Irina.

.

.

Sedangkan Naruto, ia sedang melangkah cepat di lorong-lorong sekolah dengan penuh pemikiran yang kacau, dan entah kemana tempat yang Naruto tuju, karena tak sempat memikirkan tujuannya.

Banyak yang langsung menyingkir ketika melihat Naruto melangkah melewati mereka, selain karena Naruto memasang wajah datar yang mengartikan 'Menyingkir dari jalanku' sehingga membuat siapa saja lebih baik menyingkir.

Bahkan. Sirzerch, Ajuka dan Riser yang melihat Naruto melintas saat ini juga memilik menyingkir. Bagi Ajuka dan Riser, mereka terlihat ketakutan karena trouma atas kejadian diri mereka dihajar oleh Naruto dulu. Sedangkan Sirzerch hanya takut biasa.

Sebenarnya Sirzech pernah merencanakan untuk balas dendam terhadap Naruto. Tapi niat itu buang setelah tau reputasi Naruto sebenarnya di Tokyo. Waktu itu, Sirzech ingin balas dendam dengan menyewa geng-geng terkenal dari Tokyo untuk menghabisi Naruto, tapi apa jawaban mereka? Mereka semua menolak dengan alasan tak ingin memiliki urusan dengan Rubah Neraka.

Tapi Sirzech tak menyerah, ia mencari seseorang yang dijuluki Cobra. Tapi bukan jawaban yang diinginkan oleh Sirzech yang mereka balas, melainkan orang yang dijuluki Cobra itu malah menarik kerah baju Sirzech dan berkata. 'Yang benar saja sialan! Kau ingin kami berurusan dengan si bos, Haaa!' bentakan yang cukup keras dari Cobra benar-benar membuat Sirzech harus pasrah dan membatalkan niatnya jika tak ingin peti mati menjadi peristirahatan terakhirnya. Sungguh Sirzech tak menyangka jika Reputasi Naruto benar-benar terkenal di Tokyo.

Naruto terus melangkah, wajah datarnya terus melekat di wajahnya. Tapi langkah Naruto terpaksa harus berhenti ketika tepat lima meter di hadapannya terdapat Gabriel yang menunduk menghalangi jalannya.

"Menyingkir,"

Gabriel tetap terdiam menunduk. Hal itu membuat Naruto semakin jengkel lalu melangkah mendekati Gabriel.

"KUKATAKAN MENYINGKIR! SIALAN!"

"hiks... Hiks..." Gabriel terisak.

Naruto tak peduli itu, ia benar-benar jengkel dan rasanya benar-benar muak melihat sosok di hadapannya. Bahkan Naruto tak peduli jika kini ada seseorang di belakang Gabriel memasang wajah marah dan sedang melesat ke arah Naruto dengan kepalan tangannya.

"APA YANG KAU LAKUKAN TERHADAP GABRIEL-CHAN! BRENGSEK!"

*DUAGH!*

Semua yang melihat langsung melebarkan mata tekejut karena tak disangka seseorang yang melesat ke arah Naruto itu ternyata memukul wajah Naruto.

Hening, tak ada suara karena semua terkejut melihatnya, bahkan Gabriel juga terkejut melihatnya. Begitu juga Naruto, ia juga terkejut ketika tau siapa yang memukul wajahnya. Naruto benar-benar tau siapa orang itu, dia sama seperti Gabriel, orang-orang dulu yang ada di panti dulu.

Dan kini Naruto malah tersenyum, ia menoleh ke arah si pemukul wajahnya dengan senyuman mengejek yang dihiasi darah mengalir di sudut bibirnya.

.

.

"Wah, Wah, tidak kusangka bayi srigala ada disini, mau mati kah?"

.

Next...

.

Hello semuanya, apa kabar. Pasti baik-baik saja kan, ya syukurlah hehe...

Sedikit info, untuk nama Cobra yang di atas itu adalah Cobra dari High and Low.

Sedangkan untuk yang di panggil bayi srigala itu adalah Loup Garou.

Oke itu saja, Bye... See you Next Chapter.