THE PACIFIER IS FRAGILE
Disclaimer
Naruto : masashi kishimoto
Highschooldxd : ichie ishibumi
Rate : M
Genre : romansa, friendship, humor
Pair : nanti saja
.
Peringatan sebelum membaca, ffn ini mungkin banyak typo, kata yang kurang dan kesalahan ketik banyak terjadi (alur berantakan, typo, gaje, ooc dan lain sebagainya)
.
.
CHAPTER 10
.
Hening, semua siswa-siswi yang berada di lorong sekolah itu seketika terdiam setelah menyaksikan detik-detik terakhir Garou memukul wajah Naruto.
Kini suasana ruangan itu terasa dingin dan mencengkam ketika dua remaja itu saling tatap, Naruto yang entah kenapa malah tersenyum setelah dipukul oleh Garou, sebuah senyuman yang dihiasi darah di sudut bibirnya terlihat mengerikan di mata para siswa-siswi yang melihatnya.
Sedangkan Garou, ia mengepalkan tangannya sangat kuat karena marah, saat itu pula Garou rasanya ingin sekali melayangkan pukulan kembali untuk menghancurkan senyuman Naruto itu, tapi ia tidak bisa. Entah kenapa tangannya terasa berat untuk diangkat, dan pandangan Garou seperti melihat sebuah tembok besar dan kokoh yang sangat mustahil untuk dihancurkan dengan tangannya, sehingga membuat Garou hanya bisa diam dan mengeratkan giginya saat melihat senyuman Naruto yang seolah-olah itu bukan apa-apa.
*Tap! Tap! Tap! Tap! Tap!*
*Tap! Tap! Tap! Tap! Tap!*
Keheningan akhirnya menghilang diganti dengan deru suara langkah kaki ramai dari arah belakang Naruto yaitu rombongan kelas 10 dan 11 serta dari belakang Garou yaitu rombongan kelas 12.
Itachi nampak tergesa-gesa dari belakang Garou, setelah sampai Itachi sedikit menaikkan alisnya ketika melihat darah di sudut bibir Naruto, lalu pandangan Itachi langsung menatap Garou dan menarik kerah baju Garou.
"kau anak baru disini. Sudah berani berulah ternyata," ucap dingin Itachi dan menusuk. Hal itu membuat suasana di lorong itu kembali menegang, sedangkan Garou tak bisa berucap apa pun, nyatanya ucapan Itachi itu benar, ia adalah murid baru pindahan dari Tokyo bersama Gabriel, Xenovia dan Irina.
"Huh..." Naruto menghela nafas tenang, ia berpikir sangat lah tidak bagus bila diteruskan, akan menjadi masalah nantinya yang pasti berdampak pada dirinya sehingga Naruto menepuk pundak Itachi. "Sudahlah Itachi, lebih baik kita pergi sebelum terkena masalah," ucapnya membuat Itachi melepaskan kerah baju Garou, tapi masih tetap dengan tatapan tajamnya.
Menghiraukan suasana sekitar, Naruto melangkah melewati Garou, lalu disusul Itachi sambil menunjuk wajah Garou yang diartikan adalah sebuah ancaman sebelum Itachi melangkah melewati Garou.
Hening sesaat di lorong itu setelah kepergian Naruto dan Itachi, kemudian disusul bubarnya para siswa-siswi yang sempat menyaksikan suatu persitegangan.
"Garou! Apa yang kau lalukan tadi?" Gabriel membentak Garou, memprotes tindakannya tadi.
Tapi Garou malah menatap Gabriel. "Kau lihat tadi Gabriel. Orang yang selama ini kau dan Xenovia rindukan bukan lagi orang seperti dulu. Lebih baik lupakan dia." ucapnya dengan sedikit bentakan, dan tangannya menunjuk ke arah tempat Naruto dan Itachi keluar.
Kali ini Gabriel marah terhadap Garou. "Itu bukan urusanmu Garou. Kau tak berhak ikut campur urusanku!" bentaknya, bersamaan dengan Gabriel yang melangkah melewati Garou begitu saja dan menghampiri Xenovia dan Irina yang sudah menunggunya.
Lalu mereka bertiga melangkah menjauh dari lorong tersebut, meninggalkan Garou yang terdiam sendiri dan menunduk.
"Seandainya kau tau Gabriel, aku jauh lebih peduli ketimbang dirinya. Karena aku mencintaimu dari dulu,"
.
.
.
Ravel Phoenix, sekarang ia merasa gugup dan entah harus berbuat apa dengan kotak obat di tangannya.
Berdiri di samping pilar penyangga bangunan sekolah dan mata tertuju pada Senpainya yang duduk santai di bangku taman sekolah dengan salah satu temannya.
Ravel sempat terkejut tadi saat melihat perseteruan Senpainya di lorong sekolah. Dan yang membuat Ravel sangat terkejut ternyata salah satu Senpainya yang berseteru ternyata adalah sosok yang selama ini ia kagumi bahkan rasa kagumnya telah berubah menjadi rasa suka.
Ravel sangat yakin, ia masih mengingat bagaimana awal mula rasa kagumnya terhadap sosok Senpainya itu. Saat awal penerimaan siswa-siswi baru Kuoh Gakuen berawal, dimana Ravel menjadi korban dari kakaknya yang bernama Riser Phoenix.
Dimana beberapa siswa waktu itu yang sangat membenci kakaknya melampiaskan kebenciannya terhadap dirinya. Dengan menghadang dirinya pulang sekolah di jalanan sepi lalu menyergap dirinya dan berniat untuk memperkosanya rame-rame.
Tapi Ravel sangat bersyukur waktu itu, dimana sosok Senpai dengan ciri khas rambut kuning jabrik menolongnya dengan menghajar siswa-siswa yang menyergapnya. Dan mulai saat itulah Ravel mengaguminya dan mulai memperhatikannya dalam diam.
Rasa kagum menghiraukan segalanya, Ravel tak peduli banyak siswa dan siswi, bahkan guru yang sering kali menyebut Senpainya anak tidak jelas. Di mata Ravel, Senpainya itu tetaplah sosok yang ia kagumi.
Hingga suatu saat Ravel mendengar sebuah rumor yang menyatakan bahwa Senpainya itu dekat dengan Senpai dari kelas 12. Perasaan aneh mulai muncul di diri Ravel, yaitu rasa cemburu.
Ravel tau jika ia memang cemburu, karena Ravel sadar rasa kagumnya telah berubah menjadi rasa suka. Jadi setiap kali melihat Senpainya itu dekat dengan cewek lain, ada rasa tersakiti dalam hatinya, tapi dia tidak bisa memprotes itu semua. Tapi ada rasa sedikit senang dalam hatinya karena Ravel hanya mendengar rumor sebuah kedekatan, jadi Ravel dengan PeDenya berasumsi jika Senpainya belum memiliki kekasih, dan ada kesempatan untuknya mendekatinya.
Dan sekarang Ravel mempunyai sebuah kesempatan untuk bisa mendekati Senpainya dengan bermodal kotak obat yang pastinya isinya adalah obat. Ravel mencoba mengatur nafasnya agar tenang dan tak merasa gugup untuk melangkah.
"Yos! Kamu pasti bisa Ravel," batin Ravel menyemangati dirinya sendiri.
Perlahan Ravel mulai melangkah, terus melangkah pelan ke arah Senpainya, hingga seketika rona merah tercipta di pipi Ravel ketika hampir sampai ke tempat yang di tuju.
Dan wajahnya langsung merah padam saat sudah berhenti tepat di dekat Senpainya. "Na Naruto-senpai," ucapnya gugup, semua ucapan yang sudah direncanakan hilang sudah ketika Naruto dan Itachi menoleh ke arahnya.
Sungguh Ravel ingin sekali menyembunyikan wajahnya di balik semak-semak, ia sangat malu sekali saat ditatap oleh kedua Senpainya, terutama Naruto.
"Kau kenal dengannya Nar?" tanya Itachi kepada Naruto.
"Hmm..." Naruto berpikir sambil memperhatikan Ravel dengan seksama.
"Kyaaaaaaa... aku harus bagaimana sekarang?" batin Ravel benar-benar ingin sekali menutup wajahnya yang memerah itu karena tak kuasa di perhatikan oleh Naruto.
Bohlam lampu menyala terang di atas kepala Naruto. "Aku tau, kau Imotounya si ayam bakar itu kan?" ucap Naruto setelah menemukan jawaban dari pikirannya.
Entah Ravel harus berbuat apa sekarang? Ia sedang malu luar biasa, tapi ia ingin tertawa saat mendengar panggilan Naruto terhadap kakaknya itu. Jadi Ravel hanya bisa memberi jawaban dengan sebuah anggukan pelan saja.
Dan rasa kepenasaran Itachi akhirnya terbayar karena ucapan Naruto yang menyebut Ayam Bakar, ternyata adalah Riser, dan di depannya adalah adiknya Riser sehingga membuat Itachi mengangguk paham.
"Jadi ada keperluan apa kau menemuiku?" tanya Naruto to the point.
"Ano... ano... aku ingin memberikan ini," gagap Ravel sambil menyodorkan kotak obat tersebut kepada Naruto.
Cukup heran si Naruto, padahal ia tak butuh obat untuk mengobati luka yang menurutnya bukan apa-apa, tapi Naruto menghargai tindakan Ravel saat ini, maka Naruto pun menerima kotak obat tersebut. "terima kasih," ucap Naruto setelah kotak obat tersebut berada di tangannya.
"U-um." Angguk Ravel.
Tanpa di sadari oleh Naruto, Itachi dan Ravel, ada pihak ke-4, ke-5, ke-6, ke-7, dan ke-8 yang sedang mengawasi mereka dari kejauhan di tempat yang berbeda-beda.
Semua pihak itu menggenggam erat apa yang bisa mereka pegang di dekatnya, mata mereka tertuju pada Ravel dengan tatapan tidak suka.
"Sialan cewek itu. Berani sekali merebut posisiku,"
Batin semua pihak yang menatap Ravel itu secara bersamaan, dan Ravel yang berada di dekat Naruto tiba-tiba merinding ngeri karena merasakan hawa dingin yang mencengkam kulit tubuhnya.
.
.
.
.
#With Mirai
.
Rasa bosan memang sangat menyebalkan, Mirai sedang mengalaminya saat ini.
Mirai tidak sekolah seperti Naruko, jadi ia sendirian di Apartemen yang hanya ditemani oleh siaran Tv saja, itu tak bisa mengobati rasa bosannya.
Akhirnya Mirai memutuskan untuk beranjak dari sofanya lalu berjalan menuju dapur, di sana Mirai mengambil uang di atas lemari yang telah Naruto tinggalkan untuk dirinya apabila ingin membeli sesuatu di dekat Apartemen. Mirai pun memutuskan untuk keluar Apartemen setelah mengambil uang jajannya.
Singkat waktu, apa yang ingin dibeli oleh Mirai telah dibeli, tapi Mirai belum ingin kembali ke Apartemen. Kini langkahnya membawanya ke taman kota Kuoh yang tak jauh dari Minimarket yang tadi disinggahi oleh Mirai.
Terus melangkah di pinggiran jalan raya menuju taman kota, dan entah kenapa baru setengah perjalanan Mirai menghentikan langkahnya, matanya melebar tak percaya dengan apa yang dilihat di seberang jalan tepat di depan sebuah toko buah.
Mirai sangat tau apa dan siapa yang dia lihat, seorang wanita dewasa yang duduk tersimpuh di depan toko, rambutnya hitam panjang tapi berantakan sekarang, pakaiannya lusuh seperti tak pernah ganti selama beberapa hari, wanita itu terlihat memprihatinkan, meminta-minta kepada setiap orang yang lewat, berharap ada seseorang yang baik mau memberikan makanan kepadanya, tapi sejauh ini tak ada yang memberikan makanan kepadanya, orang-orang hanya lewat hanya memandangnya tak peduli dan jijik melihatnya.
"Kaa-san," kejut Mirai saat tau siapa wanita yang dilihatnya.
Seketika Mirai dengan tergesa-gesa langsung menyeberang jalan. Untung saja tak ada mobil yang melintas, jadi aman. Mirai langsung berlari menuju wanita itu dan langsung memeluknya dengan erat.
"Hiks... Kaa-san," isak Mirai disela pelukannya, bahkan Mirai tak peduli tindakannya itu malah menjadi perhatian aneh orang-orang yang melintas. Mirai hanya ingin memeluk wanita itu, sosok yang sangat ia rindukan selama ini.
Sontak wanita yang dipeluk oleh Mirai tersentak, ia cukup terkejut tadi saat tiba-tiba ada anak kecil yang memeluknya tapi sekarang ia tersentak mendengar suara anak kecil tersebut yang memanggilnya ibu.
Wanita itu masih mengingat, masih mengenal suara itu. Suara yang selama ini ia cari, suara yang selama ini ia rindukan sejak hancurnya rumah tangganya yang mengakibatkan dirinya menjadi menyedihkan selama ini.
Wanita itu dengan perlahan mulai meraba kepala Mirai, mendongkrakkan kepala Mirai agar dirinya bisa melihat rupa Mirai.
Betapa senangnya wanita itu setelah tau rupa Mirai, matanya berseri-seri. Ia sangat yakin bahwa anak kecil di hadapannya benar sosok yang selama ini ia cari dan rindukan, sosok yang mampu membuat mental orang tua bangkit dari keterpurukan, yaitu sosok anaknya sendiri.
"Mi-Mirai, ini benar kamu nak?" wanita itu bertanya untuk memastikan kebenarannya.
"Um," Mirai mengangguk cepat. "Kenapa Kaa-san ada di sini, dan kenapa Kaa-san bisa seperti ini?" bingung Mirai, pasalnya saat terakhir kali Mirai tak kembali pulang atau tersesat, ibunya masihlah bersama ayahnya dan tinggal di rumah yang cukup mewah, walau tak dipungkiri jika Mirai memang sering mendengar perdebatan ibunya dan ayahnya dulu, tapi Mirai tak menyangka jika sekarang ibunya seperti ini dengan kondisi yang memprihatinkan.
"Hiks... Tou-sanmu bukan orang baik, Hiks... Kaa-san diusir setelah semua yang Kaa-san miliki dia ambil Hiks... Kaa-san sekarang hanya mempunyai dirimu Nak," isak sedih wanita itu.
Tekejut, Mirai melebarkan mata terkejut. Walaupun Mirai masih dibilang anak-anak ia cukup paham apa ucapan wanita itu, sehingga membuat Mirai kembali memeluk wanita tersebut.
"Hiks... Kaa-san masih memiliki Mirai hiks..." Mirai semakin mempererat pelukannya, begitu juga wanita itu yang terisak juga seperti Mirai.
Hingga beberapa menit kemudian, isak mereka mereda, Mirai melepas pelukannya dan menatap wanita itu.
"Kaa-san sekarang tinggal dimana?" tanya Mirai.
Wanita itu menunduk. "Kaa-san kadang tidur di teras-teras toko, kadang pula Kaa-san tidur di bawah jembatan. Kita sudah tak memiliki tempat tinggal Nak," jawab wanita itu sedih mengungkapkan kenyataannya yang pahit itu.
Mirai sungguh tak menyangka bahwa kondisi ibunya sekarang seperti itu, tapi Mirai punya ide dan langsung meraih tangan ibunya. "Yuk Kaa-san, tinggal bersama Mirai," ajak Mirai.
"Dimana nak?" wanita itu sedikit bingung dan heran. Tidak percaya bahwa Mirai memiliki tempat tinggal, akan tetapi setelah melihat penampilan Mirai yang terlihat rapih dengan pakaian yang bagus, wanita itu mulai percaya walau masih ada keraguan didirinya.
"Pokoknya Kaa-san ikut saja,"
"Um.."
Wanita itu hanya bisa menurut saja, ia meraih tas besar yang kemungkinan berisi pakaian, lalu pergi dari tempat itu mengikuti Mirai di depannya.
Dan acara Mirai yang ingin pergi ke taman pun di batalkan, karena sekarang Mirai ingin mengajak ibunya pulang ke tempat dimana selama ini ia tinggal, siapa lagi kalau bukan Apartemennya Naruto.
.
.
.
.
10 menit berlalu, Mirai dan wanita itu telah sampai di Apartemen Naruto.
Ada banyak pertanyaan dalam benak wanita itu sejak dari luar Apartemen hingga sekarang sampai di dalam Apartemen. Wanita sungguh tak percaya jika anaknya yang masih kecil itu bisa tinggal di Apartemen yang sudah pasti biaya sewanya mahal, sehingga wanita itu memutuskan bertanya untuk memastikannya.
"Sayang, ka-kau benar tinggal di sini? Biaya sewa Apartemen ini mahal lo, tidak mungkin Mirai bisa menyewanya kan?"
"Hehe..." Mirai malah cengengesan, membuat wanita itu bingung tak mengerti. "Naruto Nii-chan adalah orang baik, dia menolong Mirai," ucap Mirai memberitau.
Wanita itu akhirnya paham, ternyata apa yang di pikirannya benar tak meleset, bahwa mana mungkin anaknya bisa menyewa Apartemen, pasti orang lain yang menyewanya yang dengan baik hati mau menampung anaknya itu.
"Oh ya sayang, Kaa-san ingin mandi. Sudah 2 hari Kaa-san belum mandi, jadi bisa Mirai kasih tau di mana kamar mandinya?"
"Kaa-san tinggal masuk ke ruangan itu, di sebelah dapur kamar mandinya," ucap Mirai menunjuk arah dapur.
Wanita itu mengangguk, kemudian ia melangkah ke arah yang di tunjuk Mirai dengan menenteng tasnya.
Setelah sesampainya di kamar mandi, wanita itu melucuti semua pakaian yang di kenakannya, lalu berdiri di bawah Shower dan kemudian shower di nyalakan, air pun mengguyurnya.
Sesaat menikmati guyuran air dari Shower itu, wanita itu berpikir. "Tadi Mirai bilang dia Nii-chan, berarti orang yang menolong Mirai masih muda?" tanyanya dalam batinnya.
.
.
"Aku harus berterima kasih kepadanya karena telah menolong Mirai, dan semoga dia dengan baik hati mau membiarkan aku tinggal di sini sebelum aku bisa mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal yang layak untuk kehidupanku dan Mirai,"
.
.
.
Next...
.
Oke... see you next chapter...
