THE PACIFIER IS FRAGILE

Disclaimer

Naruto : masashi kishimoto

Highschooldxd : ichie ishibumi

Rate : M

Genre : romansa, friendship, humor

Pair : nanti saja

.

Peringatan sebelum membaca, ffn ini mungkin banyak typo, kata yang kurang dan kesalahan ketik banyak terjadi (alur berantakan, typo, gaje, ooc dan lain sebagainya)

.

.

CHAPTER 11

.

*Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing...!*

Bel tanda berakhirnya pelajaran di Kuoh Gakuen telah berbunyi membuat para siswa-siswi Kuoh Gakuen berteriak kegirangan karena saking senangnya dan langsung berhamburan keluar dari wilayah sekolah untuk pulang dan lain sebagainya bagi yang punya kepentingan lain.

Ada pemandangan tak biasa di gerbang sekolah, para siswa-siswi memandang penasaran sosok perempuan cantik berambut merah marun yang berseragam polisi serta sebuah ikat pinggang di genggaman tangannya, yaitu Mei Terumi.

"Swit...! Swit..!"

Riser bersiul menggoda Mei, sedangkan Sirzech dan Ajuka hanya terpesona melihatnya.

Riser dengan gaya kerennya merapikan rambutnya agar terlihat keren dan melangkah cool mendekati Mei, akan tetapi itu malah terlihat menjijikkan bagi Mei yang hanya meliriknya.

"Hey nona, apa kau sedang menungguku," goda Riser dengan mengedipkan sebelah matanya.

Mei rasanya ingin sekali muntah mendengar godaan Riser kepadanya, tapi dia tahan untuk sebisa mungkin agar tangannya tak melayang menamparnya, citra sebagai polisi bisa buruk bila itu terjadi.

Mei terpaksa tersenyum tipis. "Maaf pemuda-san, aku memang sedang menunggu seseorang tapi bukan dirimu," ucapnya berharap Riser mengerti untuk jangan mengganggunya.

"Hoekkkkk...!"

Issei, Motohama dan Matsuda langsung muntah saat tiba-tiba Riser mengedipkan matanya kembali. Sontak membuat Riser langsung menatap tajam mereka bertiga dan Issei, Motohama dan Matsuda langsung mengambil langkah seribu untuk menghindari ancaman Riser.

Kini Riser kembali menggoda Mei. "Seseorang itu pasti aku kan? Kau pasti lupa denganku," kata Riser dengan PeDenya membuat Mei memutar bola matanya bosan dan muak atas rayuan gombal Riser, dan kini Mei memilih untuk diam menghiraukan Riser yang terus-terusan menggodanya dengan gaya alaynya.

.

"Oh ya Itachi, kau langsung pulang kan?"

"Tidak, aku langsung ke tempat kerjaku,"

"Hah... kukira kau akan pulang duluan, sekalian titip makanan untuk Mirai,"

"Ini juga aku sudah telat, kau sajalah. Paman Teuchi pasti mengerti kalau kau terlambat,"

"Ya, ya, ya,"

.

Mei tiba-tiba langsung menoleh ke belakang saat mendengar suara seseorang yang familiar baginya. Dan benar, Mei langsung tersenyum saat tau siapa pemilik suara yang didengarnya, yaitu suara Naruto yang mengobrol dengan Itachi sambil melangkah keluar menuju gerbang sekolah.

Riser, Sirzech dan Ajuka hanya menaikkan sebelah alisnya saat melihat reaksi tiba-tiba Mei, sontak mereka bertiga langsung menoleh ke belakang dan langsung mendesis tak suka saat tau siapa yang datang kemudian menyingkir pergi dengan rasa jengkel bagi Riser karena melihat Naruto.

"Hey,"

Mei menyapa Naruto ketika mereka sudah dekat, membuat Naruto dan Itachi menghentikan langkahnya dan saling pandang karena tak tau sapaan Mei untuk siapa.

Karena bingung, Naruto berinisiatif untuk bertanya. "Kau memanggilku, Nona?" ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Um," angguk Mei.

Kini Naruto dan Itachi dibuat bingung kembali. Bagi Itachi, dia bertanya-tanya dalam hati. "Apa si Baka-Kuning ini berbuat ulah? Sampai-sampai Polisi menemuinya," bingung Itachi karena heran saja saat melihat seorang Polisi menemui Naruto.

Sedangkan Naruto sendiri juga bingung dan bertanya-tanya dalam hatinya. "Apa aku berbuat kesalahan besar sampai-sampai Polisi menemuiku?" batinnya mengingat-ingat apa kesalahannya di muka umum sehingga harus Polisi yang menemuinya, tapi dalam ingatan Naruto hanya muncul saat dirinya pernah memukuli seorang preman yang menodong seorang perempuan. "Kurasa itu bukan deh, aku kan cuma menolong perempuan itu," lanjut batinnya dan mulai mengingat kembali apa yang perlu dia ingat.

Sedangkan Mei merasa bingung saat melihat Naruto sedang berusaha untuk mengingat sesuatu sambil memejamkan matanya, dia memiringkan kepalanya dan menatap Naruto dengan dekat.

Pada akhirnya otak memori Naruto tak mampu untuk menemukan file dokumen ingatan terdalamnya, Naruto membuka matanya dan langsung tersentak kaget saat tau sedang ditatap oleh Mei. Begitu juga Mei, dia juga tersentak kaget karena tanpa sadar dirinya malah mengamati wajah Naruto dan tiba-tiba pas Mei melihat ke arah mata, saat itu pula mata Naruto terbuka, dan tadi itu membutuhkan kecepatan 0,2 detik bagi Mei untuk sadar bahwa dirinya sedang menatap Naruto.

Mei langsung tersipu, dia sangat malu sekali karena acara mengamati wajah seseorang harus kepergok oleh orangnya, dan itu baru pertama kalinya bagi Mei menatap lama wajah seorang pria.

"Anoo... apakah ada keperluan denganku sampai menemuiku disini?" tanya Naruto kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Ah ini, aku ingin mengembalikan ini," kata Mei menyerahkan ikat pinggang yang dia bawa. "Sekaligus aku mau berterima kasih kepadamu untuk 3 hari yang lalu," sambungnya diakhiri dengan senyuman tipisnya.

Gear otak Naruto kembali berjalan, memproses ucapan Mei dan akhirnya teringat saat dirinya menolong seorang Polisi wanita 3 hari yang lalu (Scanenya di ch 9 jika ingin melihat dan membaca ingatan Naruto di Flashback Mei Terumi. saya sedang malas ngetik :D)

"Owhhh... kau perempuan yang waktu itu ya?" mata Naruto setelah sudah mengingat siapa itu Mei.

"Aku Mei Terumi, cukup panggil aku Mei saja," Mei entah kesambet apa malah memperkenalkan dirinya dan entah kenapa dalam hati Mei berharap jika namanya harus bisa diingat oleh Naruto.

"Ah kalau aku Naruto, dan ini temanku Itachi," kata Naruto juga memperkenalkan dirinya dan Itachi sekaligus setelah ikat pinggangnya di terima olehnya. "Lagian ini tak dikembalikan juga tak apa-apa, aku masih punya," sambungnya.

"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih untuk waktu itu, dan sekalian mengembalikan itu," kata Mei memberi alasan.

"Ah kau tak perlu berterima kasih Mei-san, waktu itu aku hanya kebetulan lewat saja," ucap Naruto kikuk.

"Heee... pertolonganmu waktu itu sungguh berharga bagiku loh, mungkin jika tak ada dirimu waktu itu, aku tak tau apa yang akan terjadi kepadaku," kata Mei lagi.

Naruto tersenyum hangat. "Sudahlah Mei-san, tak perlu dibahas lagi. Anggap saja itu adalah sebuah takdir keselamatanmu," kata Naruto, dan itu membuat Mei tersenyum mengerti. "Mungkin kita bisa melanjutkan obrolan kita lain waktu, aku sedang terburu-buru saat ini karena Imoutoku sendirian di rumah," lanjutnya memberi alasan untuk pamit, karena memang nyatanya Naruto ingin cepat-cepat pulang ke Apartemennya.

Mei mengangguk mengerti, kemudian dia merogoh kantong baju polisinya dan mengeluarkan secarik kertas. "Ini nomor Emailku, jika kau butuh bantuanku kau bisa menghubungiku," ucapnya sambil menyerahkan secarik kertas tersebut.

"Ah terima kasih," dengan terpaksa Naruto menerima secarik kertas dari Mei, nyatanya dia memang tak membutuhkan itu.

"Oke, karena kau sedang terburu-buru, mungkin aku akan langsung pergi," ucap Mei setelah secarik kertas sudah berada di genggaman Naruto, sedangkan Naruto hanya mengangguk mengiyakan dan Mei langsung beranjak pergi setelah itu.

Setelah merasa kepergian Mei sudah jauh, Itachi menoleh ke arah Naruto. "Sepertinya kau kenal dengannya?" ucapnya kepada Naruto.

"Hmm... aku tidak tau, jangan tanya aku." Balas Naruto tanpa menoleh. "Aku pulang dulu, jika kau nanti pulang aku tidak di Apartemen, kuncinya mungkin nanti kutitipkan kepada pemilik Apartemen." Sambungnya memberitau tanpa menoleh, dan Itachi hanya mengangguk mengiyakan.

Kemudian Naruto dan Itachi melangkah pergi ke arah berlawanan. Naruto pulang ke Apartemennya dan Itachi pergi ke tempat kerja paruh barunya.

.

.

.

.

#Skip Time

.

Melangkah santai sambil bersiul-siul, kini Naruto sedang menaiki tangga untuk menuju Apartemennya di lantai 2. Di tangannya ia tenteng sebuah kantong plastik yang berisi makanan yang tadi dia beli di warung makan pinggir jalan, makanan yang ia beli untuk Mirai selaku adik angkatnya.

Hingga tak terasa Naruto sudah berdiri di depan pintu Apartemennya. Ketika dia hendak membuka pintu, tiba-tiba dia terdiam dan merasa bingung ketika mendengar suara Mirai yang sedang mengobrol dengan orang dewasa di dalam Apartemennya.

Naruto pun berpikir dan menebak-nebak, setaunya hanya Mirai yang berada di Apartemennya, sedangkan Kushina-Sensei yang sudah bias masuk ke Apartemennya masihlah di sekolahan, jadi sangat tidak mungkin Mirai mengobrol dengan Kushina-Sensei menurut Naruto.

Karena penasaran, Naruto pun membuka perlahan pintu Apartemennya, melangkah masuk dengan cara mengendap-endap seperti pencuri, tapi ketahuilah, Naruto memang spesialis pencuri rumah mewah dulu di Tokyo, jadi mengendap agar tak ketahuan orang dialah ahlinya.

Hingga acara mengendapnya telah sampai di ruang tengah, Naruto langsung menatap curiga seorang wanita dewasa berambut hitam panjang yang sedang asik mengobrol dengan Mirai di depan layar Tv, dan keberadaan Naruto tak diketahui oleh mereka.

"Mirai, kau mengobrol dengan siapa?" tanya Naruto.

Seketika Mirai dan Wanita dewasa di dekat Mirai terkejut langsung menoleh ke sumber suara. "Nii-Chan!" kejut Mirai.

Wanita dewasa langsung paham ketika Mirai menyebut Naruto adalah Nii-Chan, dia langsung berdiri kemudian membungkuk sopan kepada Naruto. "Maaf jika kehadiranku membuatmu curiga, Pemuda-san," ucapnya.

Cukup lama bagi Naruto mengobservasi Wanita dewasa yang membungkuk sopan kepadanya, Naruto merasa tak ada hal yang mencurigakan dari wanita tersebut, Naruto pun menghela nafas setelah itu.

Naruto menoleh ke arah Mirai. "Jadi Mirai, siapa orang ini?" tanyanya.

"Anoo... dia adalah--"

"Aku adalah Kaa-sannya Mirai, namaku Kurenai Yuhi." Wanita tersebut memotong ucapan Mirai dan memperkenalkan namanya.

"Huh..."

Naruto hanya menghela nafas setelahnya, dia memilih langsung duduk karena dia pikir wanita yang bernama Kurenai itu tak terlalu mencurigakan baginya, kemudian menaruh kantong plastik berisi makanan di atas meja kecilnya.

Kurenai yang tau posisi tempat dia berada sekarang memilih duduk di lantai untuk menghormati pemilik Apartemen tersebut, Mirai juga duduk di samping ibunya.

"Jadi kau Kaa-sannya Mirai ya, syukurlah kalau begitu," ucap lega Naruto.

"Terima kasih telah merawat Mirai selama ini, aku sangat berhutang banyak padamu," Kurenai sedikit menundukkan kepalanya.

"Hah... tidak perlu kau pikirkan, sudah sepantasnya seseorang harus menolong yang kesusahan, aku tak merasa keberatan selama ini," kata Naruto tenang sambil membuka bingkisan yang ia bawa.

Kurenai menggigit bibir bawahnya, ia ingin sekali mengucapkan sesuatu yang penting terhadap pemuda di hadapannya.

"Mirai, Nii-San belikan makanan un--"

"Pemuda-san tolong ijinkan aku untuk tinggal disini, aku berjanji tak akan lama tinggal disini jika aku sudah menemukan tempat tinggal yang layak untukku dan Mirai," ucap Kurenai memotong ucapan Naruto sambil bersujud memohon kepada Naruto.

"Ka Kaa-San," Mirai membulatkan matanya tak percaya melihat aksi ibunya.

Sedangkan Naruto, ia juga dibuat terkejut atas aksi Kurenai yang tiba-tiba seperti itu. Tapi rasa penasaran mulai menyelimuti pikiran Naruto, " Kenapa wanita ini meminta ijin untuk tinggal disini, sebenarnya ada apa dengan kehidupannya," batin Naruto bertanya-tanya dalam pikirannya.

"Hey apa-apaan kau Nona, tolong jangan seperti itu," ucap Naruto yang merasa risih melihat Kurenai terus bersujud di hadapannya.

"Kumohon, ijinkan aku untuk tinggal disini," Kurenai masih kukuh bersujud, dia hanya ingin mendengar jawaban kepastian langsung dari pemuda di hadapannya.

Naruto yang sudah risih dan merasa tak enak melihat Kurenai terus-terusan seperti itu pun memutuskan untuk berkata. "Baiklah-baiklah, aku ijinkan kalian tinggal disini, tapi sebelum itu kau jelaskan kenapa kau ingin tinggal disini? Bukannya masih ada tempat lain selain disini?"

Kurenai langsung menegakkan kepalanya, ia merasa sangat senang sekali mendengar jawaban dari pemuda di hadapannya. Kurenai kemudian menarik nafas pelan dan kemudian dikeluarkan dengan perlahan.

#Skip Time

30 menit telah berlalu, Naruto telah mendengar penjelasan secara rinci dari Kurenai tentang kehidupannya. Dari kehidupan rumah tangganya yang telah hancur berantakan dan diceraikan oleh suaminya yang bernama Sarutobi Asuma yang berselingkuh dengan wanita lain dan merebut hartanya, lalu kehidupannya di jalanan selama 2 minggu karena sudah tak memiliki apa-apa.

Naruto cukup terharu mendengarnya, ia hanya menghela nafas pasrah setelah mendengar penjelasan Kurenai yang begitu detail dia sampaikan.

"Baiklah kau boleh tinggal disini, jika kau tak memiliki pekerjaan maka kau boleh bekerja disini, aku juga butuh seseorang untuk merawat Apartemenku karena aku jarang ada waktu luang untuk membersihkan Apartemenku sendiri. Ini juga aku tak lama, karena aku ada pekerjaan yang harus kukerjakan sekarang," kata Naruto pasrah sekaligus menawarkan pekerjaan untuk Kurenai merawat Apartemennya, karena nyatanya memang benar Naruto jarang sekali untuk berdiam lama di Apartemennya karena setiap sore dirinya kerja di kedai ramen Teuchi dan pulangnya pasti malam.

Kurenai sangat senang mendengar tawaran dari Naruto, dia langsung membungkukkan kepalanya dengan cepat. "Terima kasih, terima kasih atas tawarannya, aku tak akan mengecewakanmu pemu--"

"Panggil aku Naruto saja sudah cukup," ucap Naruto memotong cepat ucapan senang Kurenai.

"Baik Naruto-san," kata Kurenai.

*Srek!*

Tiba-tiba Naruto berdiri dari duduknya, ia melirik jam sebentar kemudian menoleh ke arah Kurenai dan Mirai. "Baiklah, aku sudah telat kerja dan aku akan berangkat sekarang, aku serahkan Apartemenku kepada kalian," kata Naruto berpamitan dan dijawab anggukan kepala oleh Kurenai dan Mirai, kemudian Naruto melangkah keluar Apartemennya.

Hidup lama di jalanan bagi Naruto membuatnya kenal karakteristik ekspresi seseorang, Naruto tau mana ekspresi yang benar-benar membutuhkan dan ekspresi yang hanya berpura-pura membutuhkan. Dia percaya kepada Kurenai untuk merawat Apartemennya selagi pergi karena Naruto melihat ekspresi Kurenai benar-benar membutuhkan, jadi tak ada salahnya bagi Naruto. Dan Naruto percaya Kurenai tau apa pekerjaannya tanpa harus dia beritau lagi, Kurenai pasti bisa melakukannya.

Sedangkan di dalam Apartemen, Kurenai cukup kagum dengan sosok Naruto. Masih sekolah dan sudah bekerja, mandiri dan bijak walau diusianya yang masih muda, mungkin Kurenai baru pertama kali bertemu pemuda yang seperti itu, yaitu Naruto. Dia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, dia bersumpah dalam hatinya untuk tak mengecewakan sosok yang murah hati mau menolongnya mulai sekarang.

"Kaa-san, mau makan lagi ngak?" tiba-tiba Mirai menawarkan makanan yang telah ia buka dari bingkisan yang Naruto bawa.

Kurenai yang melamun mengagumi Naruto pun tersentak oleh ucapan anaknya, dia menoleh ke arah anaknya. "Yah... Kaa-san kan sudah masak, jadi sia-sia dong masakan Kaa-san," ucap Kurenai sedikit kecewa.

Pasalnya dirinya telah memasak banyak makanan dari bahan yang tersedia di dapur untuk menyambut tuan Apartemennya, tapi malah tuan Apartemennya hanya pulang sebentar dan langsung pergi lagi, ditambah tuan Apartemennya membawa makanan, jadi semua usaha Kurenai benar-benar sia-sia sekarang.

Kurenai pun hanya menghela nafas pasrah, dan dia mulai tau kesibukan tuan Apartemennya sekarang dan besok-besoknya dia tak akan mengulangi kecerobohannya.

.

.

.

#Sore

.

Uzumaki Kushina dari tadi terus menghela nafas lelah, pekerjaannya sebagai guru memang merepotkan karena harus meneliti beberapa tugas dari murid-muridnya dan bisa pulang waktu sore, dan setelah itu langsung menjemput Naruko di sekolahannya. Untung saja sekolahan Naruko menyediakan jasa penitipan anak, jadi Kushina tak perlu repot-repot dan terburu-buru jika Naruko pulang sendirian karena pasti Naruko ada di penitipan.

Kushina hanya bisa menghela nafas kembali ketika melihat Naruko berlari terburu-buru menaiki tangga menuju Apartemennya, dia sudah tau, pasti Naruko ingin bermain dengan Mirai yang berada di Apartemen sebelahnya.

Akan tetapi saat Kushina hendak membuka kunci Apartemennya, dia dibuat terkejut dengan sosok yang baru saja keluar dari Apartemen sebelahnya.

"Kurenai!/Kushina!"

Kejut Kushina dan Kurenai bersamaan, dan nampaknya mereka saling mengenal satu sama lain sehingga mereka tau nama mereka masing-masing.

Kushina mengurungkan niatnya untuk membuka pintu Apartemennya, dia menatap penuh tanya Kurenai. "Kau sedang apa disini Kurenai?" bingung Kushina. setau Kushina, temannya ini berada di kota sebelah, jadi dia heran saja saat melihat temannya berada di kota Kuoh, apalagi di Apartemen sebelahnya.

"Ceritanya panjang Kushina," balas Kurenai sedikit sendu dan itu membuat Kushina memiringkan kepalanya tak mengerti. "Lebih baik masuk ke Apartemenmu, aku akan ceritakan semuanya," lanjut Kurenai yang melihat Kushina memasang wajah tak mengerti.

Dan kemudian Kushina pun langsung bergegas membuka kunci Apartemennya, dan langsung masuk diikuti Kurenai di belakangnya.

.

30 menit berlalu, Kushina nampak begitu terharu mendengar cerita temannya itu di ruang tamu Apartemennya. Kisah hidup rumah tangga Kurenai hampir mirip dengannya yang bercerai karena suami berselingkuh, tapi Kushina bersyukur karena kehidupannya tak separah Kurenai yang sampai-sampai harus tinggal di jalanan.

"Aku tidak menyangka jika Asuma sampai setega itu kepadamu Kurenai," kata Kushina terharu.

"Yah aku juga tidak menyangka jika dia menduakanku seperti itu setelah merebut semua hartaku," ucap Kurenai sedih.

"Um, aku juga senasib denganmu," kata Kushina memberitau, tapi Kurenai Cuma mengangguk mengerti karena dia sudah paham maksud perkataan Kushina. "Ngomong-ngomong, kenapa kau berada di Apartemen muridku?" sambung Kushina bertanya.

"Ha!" kejut Kurenai. "Naruto adalah muridmu?"

"Ya, dia bersekolah di Kuoh Gakuen, di kelas bimbinganku," ucap Kushina menambahkan.

"Souka..." Kurenai mulai mengerti. "Kau tau Kushina, Mirai itu anakku," ucap Kurenai memberitau.

"Ha!" dan kali ini Kushina yang terkejut. "Jadi selama ini?" ucap Kushina sedikit berprasangka buruk terhadap Kurenai.

Nampaknya Kurenai tau prasangka Kushina terhadapnya. "Tidak Kushina, aku kenal dengan Naruto juga baru tadi, kamu jangan salah paham," jelas Kurenai memberitau.

Dan entah kenapa Kushina bernafas lega mendengarnya, hal itu membuat Kurenai sedikit menyeringai saat melihat reaksi Kushina seperti itu.

"Kau nampaknya cemburu ya Kushina jika aku kenal dengan Naruto," goda Kurenai.

"A-apa, ja-jangan salah paham, di-dia hannyalah muridku, mana mungkin A-aku cem-cemburu terhadapnya," gagap Kushina dengan wajah yang memerah karena terkejut atas ucapan Kurenai terhadapnya.

Tapi reaksi Kushina malah membuat Kurenai semakin menyeringai. "He~~ yang benar? Asal kau tau Kushina, aku sekarang bekerja untuk merawat Apartemennya lo," ucap Kurenai dengan senyum menggodanya.

Dan itu sukses membuat Kushina membuka mulutnya lebar-lebar karena terkejut mendengar perkataan Kurenai. Dan selanjutnya di Apartemen Kushina hanya terdengar suara tawa dari Kurenai yang senang menjahili Kushina.

"Sekarang aku tau kelemahanmu Kushina, hehehe,"

Batin Kurenai yang nampaknya akan merencanakan sesuatu kejahilan terhadap Kushina setelah memahami betul reaksi Kushina sekarang ini.

.

.

.

Next...

.

Oke, chapter ini adalah ketikan beberapa jam langsung jadi barusan, dan langsung kuupdate tanpa kucek kembali... yah namanya ide lewat ya jangan disia-siakan hehehe...

.

Oke itu saja, See you next chapter...