THE PACIFIER IS FRAGILE
Disclaimer
Naruto : masashi kishimoto
Highschooldxd : ichie ishibumi
Rate : M
Genre : romansa, friendship, humor
Pair : nanti saja
.
Peringatan sebelum membaca, ffn ini mungkin banyak typo, kata yang kurang dan kesalahan ketik banyak terjadi (alur berantakan, typo, gaje, ooc dan lain sebagainya)
.
.
CHAPTER 12
.
#Malam hari.
"Naruto!"
.
Naruto yang sedang sibuk di dapur kedai terpaksa harus menghentikan pekerjaannya mencuci piring dan mangkok karena Teuchi memanggilnya, dia langsung melangkah keluar dapur segera.
"Iya paman, ada apa memanggilku?" tanya Naruto setelah keluar dari dapur dan melihat Teuchi yang berdiri di Caunter depan Kedai.
Teuchi mendekati Naruto dengan menenteng 2 bingkisan yang sudah Naruto ketahui kalau itu berisi ramen pesanan. "Ini Azazel-san memesan ramen, katanya menyuruhmu untuk mengantarkannya di tempat biasanya, dan satunya lagi pesanan orang lain, alamatnya sudah ada di dalam," ucap Teuchi sambil menyerahkan bingkisan tersebut.
"Huh..." helaan nafas pun tercipta dari mulut Naruto, dia sangat tau betul siapa yang pesan dan tau dimana harus mengantarkannya karena orang yang memesan itu memang sudah menjadi pelanggan kedai tersebut. "Baiklah paman," Naruto menerima bingkisan dari Teuchi.
Teuchi pun hanya tersenyum. "Hati-hati di jalan Naruto,"
"Iya paman," balas Naruto sambil melangkah keluar kedai dengan menenteng bingkisan pesanan ramen untuk pelanggan.
Teuchi masih tersenyum memandang kepergian Naruto sampai tak menyadari jika Ayame menghampirinya dan langsung heran melihat ayahnya yang senyam-senyum sendiri.
"Tou-san," panggil Ayame.
Teuchi tersentak. "Ah Ayame, kau mengagetkan Tou-san saja," kejutnya menoleh ke arah Ayame.
"Habisnya Tou-san senyam-senyum sendiri, memangnya Tou-san sedang memikirkan apa?"
Teuchi kembali tersenyum, kemudian menoleh ke arah pintu kedai tempat Naruto keluar tadi. "Tou-san merasa salut dengan Naruto, dia anak yang pekerja keras," ucapan Teuchi dijeda, dia tersenyum aneh dan matanya melirik ke arah anaknya yang sedang memasang wajah bingung. "Mungkin dia cocok menjadi kekasihmu, Ayame,"
*Bluuuusss!*
Wajah Ayame langsung bersemu merah mendengarnya. Dia langsung menunduk dan memainkan jari tangannya. "A-Apakah i-itu tandanya Tou-san me-merestui," ucapnya malu-malu.
*Puk!*
Teuchi menepuk bahu anaknya dan berbisik. "Kalian masih remaja, belum saatnya untuk memikirkan hal yang lain hehe..."
Muka Ayame menjadi tambah merah, bukan merah karena malu tapi karena sangat kesal. Dia baru menyadari jika ayahnya itu sedang menjahilinya tadi.
"TOU-SAN AHOOOO!"
Ayame berteriak kesal dan langsung melangkah ke dapur dengan cepat, sedangkan Teuchi malah cengengesan melihat anaknya yang telah dia jahili, dia cukup senang melihat ekspresi anaknya yang seperti itu.
.
.
.
.
#Skip time
.
Kini Naruto sedang berjalan di pinggiran sungai, dia hendak mengantarkan pesanan untuk seseorang yang cukup dia kenal akrab. Dan Naruto sudah tau dimana orang itu berada kalau tidak di rumahnya sendiri.
Tiba-tiba langkah Naruto terhenti tepat di belakang seseorang pria paruh baya yang sedang memancing di sungai dangkal. "Yo! Azazel-san," sapa Naruto kepada seseorang yang bernama Azazel di hadapannya.
Azazel yang merasa dipanggil sedikit melirik ke belakang. "Oh kau Naruto," ucapnya santai setelah tau siapa yang menyapanya.
"Ini pesananmu," kata Naruto sambil menyodorkan bingkisan pesanan Ramen kepada Azazel.
"Oh Thank," kata Azazel menerima bingkisan tersebut.
Tiba-tiba Naruto teringat sesuatu, dia merogoh kantongnya dan mengeluarkan secarik kertas. "Oh ya Azazel-san, apa kau tau alamat ini?" ucap Naruto sambil menunjukkan secarik kertas yang dia pegang.
Azazel pun menerima secarik kertas tersebut, lalu membaca tulisan yang tertulis di secarik kertas tersebut. "Hmm..." Azazel berdehem panjang, dia mengelus dagunya sambil mengingat. "Ah aku tau, ini alamat rumah keluarga Nakano," ucapnya setelah mengingat apa yang dia pikirkan.
"Bisa kau beritau lokasi tepatnya Azazel-san?"
"Gampang," singkat Azazel sambil menyerahkan secarik kertas tersebut kepada Naruto, dan langsung diterima oleh Naruto. "Kau temani aku mengobrol sebentar, nanti akan kuberitau," lanjutnya.
"Baiklah, jangan membahas yang aneh-aneh tentang celana dalam, atau aku pergi," ucap Naruto pasrah kemudian duduk di samping Azazel.
"Tidak, tenang saja. Aku hanya ingin meminta pendapatmu saja," kata Azazel.
Tanda tanya besar muncul di kepala Naruto, tidak biasanya bagi Naruto melihat Azazel ingin membicarakan hal lain kepadanya, karena biasanya yang Naruto tau Azazel akan selalu membicarakan celana dalam wanita yang dia lihat (Dalam artian Mengintip) sehingga membuat Naruto bosan untuk berlama-lama bersama Azazel.
"Apa?" tanya Naruto yang tak mengerti.
Azazel entah kenapa memandang sungai dangkal di hadapannya, pandangannya sendu sehingga membuat Naruto memiringkan kepalanya. "Kau tau Naruto? Alasanku sering berdiam diri di pinggiran sungai seperti ini?"
"Entahlah aku tidak tau," ucap Naruto sambil mengangkat sedikit kedua bahunya tanda dia tak tau, lalu Naruto kembali melanjutkan ucapannya. "Memang kenapa?" tanyanya.
"Aku adalah pimpinan perusahaan DaiTanshin. Kadang kala aku ingin meluangkan waktuku bersama keluargaku yang tersisa, yaitu putriku. Tapi, saat aku bisa pulang lebih cepat dari pekerjaanku yang padat, putriku selalu tidak ada di rumah, jadi aku memutuskan untuk datang ke sini," ucap Azazel memberi alasannya.
"La memang ada apa dengan anakmu itu, bukannya dia masih seumuran denganku?" tanya Naruto sedikit penasaran.
"Entahlah, aku tidak tau seperti apa pergaulannya, yang jelas setiap dia pulang hampir pagi pasti tercium bau Alkohol dari mulutnya. Aku sering memarahinya karena itu, tapi malah membuatnya semakin bertambah buruk lagi kelakuannya, dia bahkan akhir-akhir ini jarang pulang ke rumah. Padahal aku hanya ingin meluangkan waktuku untuknya, tapi kenapa malah jadi seperti ini,"
"Huh..." Naruto hanya bisa menghela nafas mendengar curahan dari Azazel. Tau bukan berarti mengenal, Naruto memang tau rupa anaknya Azazel karena dia kadang melihatnya di rumahnya Azazel waktu sore saat mengantarkan pesanan Ramen yang di pesan oleh anaknya Azazel. "Aku masihlah bocah remaja yang baru lahir kemarin, dan aku belum menjadi orang tua sepertimu, jadi aku tidak tau apa yang kau rasakan saat ini, Azazel-san. Tapi ini hanya kemungkinan saja--" Naruto menggantung ucapannya sehingga Azazel menoleh kepadanya dengan menaikkan sebelah alisnya. "Anakmu hanya perlu sebuah pemahaman yang bisa ditangkap nalar olehnya, masanya dia yang sekarang hanya menginginkan sebuah kesenangan dan ketika dia sudah bosan dan sadar, dia akan kembali seperti dirinya seperti sedia kala, kau hanya perlu bersabar untuk memahaminya," lanjutnya memberikan sebuah saran.
"Heh, kau seperti mengenal karakteristik seseorang saja," kata Azazel sedikit kagum dengan pemikiran Naruto yang begitu dewasa.
Tiba-tiba Naruto mendongkrakkan kepalanya. "Sadari kecil aku hidup sendiri tanpa adanya orang tua yang mendampingi kehidupanku, itu membuatkan untuk bisa secara cepat berpikir lebih jauh lagi," ucap Naruto sambil teringat sepintas masa lalunya yang berjuang melewati kerasnya kehidupan jalanan, dia tersenyum tipis mengingat itu semua.
Sedangkan Azazel sedikit terkejut mendengar pengakuan dari Naruto, dia baru tau jika Naruto seorang anak yatim piatu sejak kecil. Tapi dibalik keterkejutan Azazel, dia juga kagum dengan pemikiran Naruto yang bisa dibilang sudah dewasa. Dan selanjutnya Azazel mengalihkan topik pembicaraan, dia tak ingin menyinggung kehidupan Naruto itu.
.
.
.
#Mall
.
Itachi tak bisa untuk terus mengeluh, dia harus bekerja keras menjadi juru parkir di salah satu Mall di kota kuoh. Dia merasa minder karena Naruto yang nyatanya lebih muda darinya bisa bekerja menghasilkan uang sendiri dan mandiri, Itachi juga ingin seperti itu, dia tak ingin mengandalkan uang jerih payah orang tuanya, dia juga tidak seperti adiknya yang enak-enakkan hidup mewah karena hasil dari orang tuanya.
"Huh..."
Helaan nafas tenang pun keluar dari mulut Itachi, dia merasa cukup lelah karena malam ini banyak kendaraan yang terparkir di parkirkan Mall dan baru saja selesai mengatur parkir kendaraan terakhir. Tapi bagi Itachi dia tidak bisa untuk bersantai karena kemungkinan sebentar lagi ada kendaraan yang datang maupun keluar.
"Itachi-Kun,"
Itachi tersentak, dia langsung menoleh ke samping ke arah seseorang yang memanggilnya yang ternyata adalah Akeno. "Hn..." dan hanya dua huruf singkat yang akhirnya keluar dari mulut Itachi setelah tau siapa yang memanggilnya.
Akeno merasa kesal karena sapaannya hanya dibalas deheman saja oleh Itachi, dia memanyunkan bibirnya. "Mooo... Itachi-kun, jangan cuek seperti itu kenapa,"
"Apa si maumu? Kau tau aku ini sangat lelah hari ini," kata Itachi tanpa menoleh.
"Makanya jangan cuek seperti itu," ucap Akeno, kemudian dia tiba-tiba menyodorkan sebuah bingkisan kepada Itachi. "Ini aku bawakan makanan untukmu, aku tau kamu pasti lapar kan?" lanjutnya sambil tersenyum.
Seketika Itachi terdiam, dia tidak menyangka bahwa Akeno yang Itachi anggap perempuan pengganggu kini membawakannya makanan untuknya. Itachi pun melirik sebentar ke arah bingkisannya
"Maaf, aku tidak la--"
Kriuuuuuuuuk!
Itachi ingin menolak, akan tetapi perutnya tak bisa diajak kerja sama yang tiba- tiba mengeluarkan bunyi khas cacing perut yang berdemo minta jatah. Sontak hal itu membuat Itachi sedikit menunduk karena malu, dan Akeno malah cekikikan mendengar suara perut Itachi.
"hihi... Tu kan, cacing di perutmu sedang demo, Itachi-kun,"
Apa boleh buat, Itachi akhirnya membuang egonya dan rasa gengsinya. Itachi pun menerima uluran bingkisan dari Akeno dengan sedikit rasa malu, dan itu membuat Akeno merasa senang karena Itachi mau menerima pemberiannya.
Selagi memakan makanan pemberian Akeno. Itachi terus merasa aneh karena Akeno terus memperhatikannya, akhirnya Itachi lebih memilih untuk memandang ke depan dari pada harus melirik ke arah Akeno yang dari tadi terus tersenyum manis kepadanya.
Akan tetapi saat makanan yang hendak masuk ke mulut Itachi, terpaksa terhenti karena respon alaminya. Hal itu membuat Akeno merasa heran ketika melihat Itachi terdiam dengan pandangan yang mengarah ke depan.
Akeno pun memutuskan untuk melihat apa yang membuat Itachi terdiam. Di sana, di seberang jalan, pandangan Akeno hanya mendapati sepasang orang dewasa yang sedang bergandengan tangan memasuki sebuah hotel dan itu sudah biasa bagi Akeno karena sering melihatnya.
Akan tetapi, sepasang orang yang bergandengan di depan hotel tersebut bukanlah pemandangan biasa bagi Itachi. Dia tau siapa mereka, sangat tau malahan.
Saat melihat itu, dia merasa sakit dan juga marah secara bersamaan. Karena orang yang Itachi lihat adalah cerminan dirinya versi dewasa, dengan kata lain yaitu ayahnya, Uchiha Fugaku. Dan yang membuat marah dan sakit hati Itachi yaitu karena perempuan yang digandeng ayahnya bukanlah ibunya, melainkan wanita lain yang tak dikenali.
Sekarang Itachi tak melanjutkan makannya. "Maaf Akeno-san," ucapnya sambil mengembalikan makanan yang tersisa setengah kepada Akeno.
"Ke-kenapa? apa masakanku tidak enak?"
Akeno sedikit menunduk sedih karena makanan buatannya tak dihabiskan oleh Itachi, padahal dia sudah berkerja keras membuatnya dengan harapan mendapat pujian dari Itachi, tapi nyatanya tidak karena Itachi tak menghabiskannya.
"Bukan seperti itu, aku sudah kenyang," ucap Itachi bersamaan dengan dirinya beranjak dari duduknya lalu memungut tasnya yang diletakkan di sampingnya.
"Lalu kenapa, Itachi-kun?"
"Aku sedikit pusing, mau pulang dan terima kasih atas makanannya, tadi itu sangat enak,"
Jawab Itachi bersamaan dengan dirinya melangkah pergi meninggalkan Akeno yang kini malah tersenyum senang karena mendengar jawaban yang diinginkan dari Itachi, yaitu pujian atas masakannya.
Hingga beberapa saat kemudian Akeno tersadar dari rasa senangnya, dia langsung beranjak dari duduknya dan langsung mengejar Itachi yang sudah jauh dari pandangannya. "Tunggu, Itachi-kun!" teriaknya berharap Itachi mau menghentikan langkahnya untuk menunggunya, tapi nyatanya tidak, Itachi terus melangkah seolah teriakan Akeno tak terdengar olehnya.
Sedangkan Itachi, di setiap langkahnya sedang dipenuhi sebuah emosi yang meluap, tangannya mengepal sangat erat dan wajahnya menampilkan wajah paling datar seumur hidupnya.
"Beraninya kau mengkhianati Okaa-san, sialan! Akan kubuat kau menderita seumur hidupmu!"
.
.
.
Sedangkan di depan Hotel, pasangan yang tadi dilihat Itachi nampak menghentikan langkahnya tepat di depan pintu hotel, sang pria menoleh ke belakang.
"Perasaan tadi aku melihat Itachi, kemana dia?"
Bingung pria itu mengamati seberang jalan mencari sesuatu, tapi hasilnya tak ada sehingga membuat perempuan yang digandengannya merasa bingung saat melihat pria itu tolah-toleh kebelakang.
"Kau kenapa, Fugaku-kun?"
"Ah tidak apa-apa, ayo masuk,"
Sang perempuan hanya mengangguk mendengar jawaban dari sang Pria, kemudian mereka berdua kembali melanjutkan langkahnya memasuki hotel. Tampa tau bahwa setelah memasuki pintu hotel akan menjadi sebuah kehancuran yang siap menghampiri mereka di kemudian hari yang entah kapan, Authornya juga tidak tau.
.
.
.
Next
.
Ah akhirnya bisa update yang ini, yah walaupun wordnya segitu si hehe.
Maaf Cuma segitu kemampuan saya, apa adanya hehe...
Oke see you next chapter...
