THE PACIFIER IS FRAGILE

Disclaimer

Naruto : masashi kishimoto

Highschooldxd : ichie ishibumi

Rate : M

Genre : romansa, friendship, humor

Pair : nanti saja

.

Peringatan sebelum membaca, ffn ini mungkin banyak typo, kata yang kurang dan kesalahan ketik banyak terjadi (alur berantakan, typo, gaje, ooc dan lain sebagainya)

.

.

CHAPTER 13

.

"Huh..."

Sudah ke-7 kalinya Naruto menghela nafas, setelah itu dia kembali ke wajah datarnya. Dia cukup tenang, walau nyatanya di dalam pikirannya menyimpan banyak kekesalan atas apa yang telah terjadi padanya barusan

"Sial! Lagi-lagi celana dalam yang dia bahas,"

Kesalnya yang ditunjukkan kepada seseorang yang bernama Azazel karena telah membuang-buang waktu 1 jam untuk mengobrol, dan menyebabkan dia harus mengantarkan pesanan ramen agak malam.

Naruto sebenarnya ingin cepat pulang dan tidur, karena itu pesanan terakhir hari ini.

"Yo, Naruto-san," sapa seseorang dari depan Naruto.

Naruto menghentikan langkahnya, dia menoleh ke sumber suara yang menginstruksi pendengarannya yang ternyata itu adalah suara Issei.

"Huh..." Naruto tak ingin mengetahui alasan Issei malam-malam seperti ini berada di dekat taman kota ketika matanya menangkap bingkisan hitam di tangannya, dia sudah tau. Apalagi saat melihat tampang aneh Issei yang terlihat jelas walau sudah ditutup-tutupi dengan tampang polosnya itu. "Dasar,"

"Ah... Kau Issei," singkat Naruto.

"Hehe... mau mengantar pesanan, Naruto-san?" ucap Issei yang cukup tau ketika melihat bingkisan di tangan Naruto.

"Yap, yang terakhir," balas Naruto sambil mengangkat bingkisan tersebut.

Obrolan ringan pun tercipta, ketika Naruto menyatakan itu adalah pesanan terakhir dan akan langsung pulang karena jam kerjanya sudah habis. Issei pun memutuskan untuk ikut menemani Naruto mengantarkan pesanan agar bisa pulang bersama Naruto.

*Set!*

Tiba-tiba Naruto menghentikan langkahnya, matanya tertuju ke seberang jalan mengarah ke seseorang yang ternyata adalah Itachi yang nampaknya baru saja pulang dari kerjanya.

"Dia kenapa?" batin Naruto ketika melihat aura suram yang terpancar padanya.

"Ada apa, Naruto-san?" tanya Issei yang heran melihat Naruto tiba-tiba menghentikan langkahnya.

"Ah maaf, aku sedikit pusing," kata Naruto sambil berpura-pura memijit kepalanya. Kemudian dia menatap Issei. "Issei-san, bisa kuminta tolong padamu?"

"Apa?"

"Tolong antarkan pesanan ini, alamatnya sudah ada di dalam," ucap Naruto sambil menyerahkan bingkisan di tangannya. "Aku agak pusing hari ini,"

"Ah, baiklah-baiklah," kata Issei sambil menerima bingkisan tersebut tanpa curiga bahwa Naruto itu berbohong, karena sebenarnya Naruto tidaklah pusing sama sekali.

Dia sebenarnya penasaran kenapa Itachi terlihat murung tadi.

"Thank, Issei-san," Naruto pun melangkah ke arah berlawanan dengan Issei, meninggalkan Issei yang terdiam karena merasakan kejanggalan pada diri Naruto.

"Yasudahlah, sesekali jadi pengantar Ramen tak apa," dan akhirnya Issei tak mau ambil pusing tentang kejanggalan yang dia rasa barusan.

Karena Issei terlalu bodoh untuk cepat mencerna situasi.

.

.

.

Berjalan dengan perasaan emosi bisa membuat seseorang kehilangan arah tujuan langkahnya. Seperti Itachi sekarang yang menyimpan banyak emosi setelah melihat sebuah pemandangan di tempat kerjanya tadi, dan sekarang langkahnya telah membawanya ke tempat di dekat sebuah jembatan layang di atas sungai yang lumayan lebar yang menghubungkan kota Kuoh dan kota sebelah.

Saat melihat sebuah bangku kosong yang di pinggiran sungai itu, Itachi pun memutuskan untuk duduk disana.

'Bagaimana caraku memberitahu Okaa-san?'

Kepalanya terlalu berat untuk memikirkan apa yang dia pikirkan, sampai membuat Itachi tenggelam dalam pandangannya menatap air sungai.

Terhanyut dalam pikiran tak menentu.

Antara tindakan yang seharusnya ia ambil, atau tidak sama sekali.

Semua itu membuat Itachi tertekan memikirnya. Dia sayang dengan ibunya sehingga dia memikirkan masalah ini.

"Oi!"

Itachi tiba-tiba tersentak ketika mendengar suara yang meneriakinya, pandangannya dia alihkan ke samping untuk melihat si pemilik suara yang ternyata adalah Naruto. Akan tatapi Itachi harus dibuat sigap ketika sebuah minuman kaleng dilemparkan kepadanya, dia langsung menangkapnya.

"Kau kenapa, Itachi?" tanya Naruto sambil menghampiri Itachi dan langsung duduk di sampingnya. "Wajahmu tidak seperti biasa, ada masalah kah?"

"Entahlah..."

Naruto benar-benar yakin jika Itachi memiliki masalah, tapi dia tidak ingin terlalu mengetahui masalahnya karena Naruto pikir itu adalah masalah pribadinya.

"Huh..." helaan nafas pun keluar dari mulut Naruto ketika mendengar jawaban Itachi yang terkesan menyembunyikan sesuatu, dia menyenderkan punggungnya pada senderan bangku lalu menatap langit malam yang berbintang cerah.

"Kau ingin mendengar kisahku dulu?"

"..."

Tak ada alasan tertentu membuat Naruto mengatakan hal itu, hanya saja rasanya dia ingin menceritakan pengalaman hidupnya dulu kepada Itachi. Walaupun hanya direspons cuek seperti itu, Naruto yakin jika Itachi pasti ingin mendengarnya.

"Kau tau? aku adalah seorang yatim piatu sejak kecil dan terusir dari panti saat berumur 7 tahun..."

Itachi sudah tau itu, Naruto pernah menceritakannya sampai disitu, dan kelanjutannya masih belum.

"Aku tak bisa membayangkan jika hidup di jalanan sangatlah keras sekali... Dan entah bagaimana aku bertahan hidup, aku bertemu dengan mereka pada saat umurku 13 tahun..."

Sepintas di kepala Naruto terbayang 2 sosok pria yang begitu berarti baginya.

"Namanya adalah Tatsuya dan Kohaku, mereka lah yang telah menyelamatkanku dari kerasnya jalanan. Mereka juga menganggapku saudara..." Naruto terdiam sejenak, dan kemudian sedikit tersenyum. "Aku sangat senang sekali waktu itu, rasanya hidupku jauh lebih berarti karena ada orang-orang yang menganggapku ada sebagai diriku sendiri, bukan karena hal lain,"

Saat Itachi melirik ke arah Naruto, dia sedikit menaikkan alisnya ketika Naruto tiba-tiba tersenyum pahit.

"Yah, sangat senang sekali... Hingga saat itu tiba aku merasakan apa yang namanya kehilangan. Tatsuya meninggal karena kecelakaan..."

Saat itu juga Itachi hanya bisa terdiam membisu dengan mata yang membola sempurna atas keterkejutannya.

"Tapi... Satu hal yang tak pernah aku lupakan darinya adalah sesuatu yang disebut 'kebebasan' hidup. Merenung diri saat itu tak akan merubah segalanya, dan akhirnya aku memutuskan untuk pergi mencari 'jati diriku' yang sesungguhnya, dan pada akhirnya perjalananku berakhir di kota ini,"

Itachi masih terdiam, memikirkan maksud dari perkataan Naruto yang terakhir.

"Jadi..." Itachi seketika langsung menoleh ke arah Naruto, rasanya cukup aneh melihat Naruto tersenyum lebar kepadanya setelah tadi dia melihat senyuman pahit Naruto. "Jadilah dirimu sendiri,"

Kali ini nampaknya Itachi sedikit memahami maksud dari semua perkataan Naruto, dia tersenyum tipis seakan telah menemukan jawaban untuk masalahnya.

"Terima kasih... Aku merasa lebih baik sekarang,"

"Syukurlah kalau begitu,"

Akhirnya Itachi membuka minuman kaleng yang sejak tadi hanya digenggam saja, dia meminumnya dengan tenang.

Dan Naruto sendiri bernafas lega, sekarang tak perlu ada yang dikhawatirkan dari Itachi.

Naruto sedikit menegakkan kepalanya, pandangan dia alihkan ke jembatan untuk menikmati pemandangan kendaraan yang berlalu lalang menyeberanginya.

Penglihatan Naruto menemukan sesuatu di ujung jembatan.

Matanya dia sipitkan untuk memfokuskan penglihatannya, dan disana dia hanya mendapati sebuah kerumunan banyak orang.

Naruto masih penasaran.

Dia semakin menyipitkan matanya untuk memastikan apa yang terjadi di sana, dan tetap saja hannyalah sebuah kerumunan yang dapat dia lihat.

"Kau tau apa yang terjadi disana, Itachi?" tanya Naruto sambil menunjuk sudut jembatan yang dia lihat.

Itachi pun langsung melihat apa yang ditunjuk oleh Naruto, Tapi sama saja, yang Itachi lihat itu sama seperti Naruto, hanya sebuah kerumunan banyak orang yang terlihat jelas di matanya.

"Entahlah... Aku hanya melihat banyak orang disana," kata Itachi.

Naruto sedikit mendesah, dia pikir Itachi dapat mengetahuinya, ternyata sama sepertinya yang tak tau penyebab kerumunan itu.

Naruto langsung menghabiskan minuman kaleng yang tersisa, kemudian dia lempar ke tempat sampah dan tepat sasaran.

"Lebih baik ke sana saja, dari pada kita penasaran," kata Naruto yang memutuskan untuk bangkit dari duduknya, Itachi pun ikut-ikutan bangkit dari duduknya.

Mereka berdua pun langsung melangkah menuju sumber rasa penasaran mereka.

.

Setelah sampai di tempat tujuan, mereka berdua tak menyangka jika kerumunannya jauh lebih banyak ketimbang saat mereka lihat dari kejauhan.

"Itu berbahaya!"

"Hargai hidupmu!"

Orang-orang di situ berteriak seperti itu, membuat Naruto dan Itachi tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Naruto pun berinisiatif mendekati pria paruh baya di dekatnya, menepuk pundaknya sehingga pria itu menoleh kepadanya.

"Paman, apa yang terjadi disini?"

"Ada seseorang yang ingin bunuh diri, kami sedang mencoba mencegahnya,"

"Haa! Orang bodoh macam apa yang menyia-nyiakan hidupnya," Naruto sedikit terkejut. "Apakah sudah panggil Polisi?"

"Sudah, mereka akan datang sebentar lagi,"

Entah kenapa Naruto sedikit bernafas lega, tapi Naruto cukup penasaran dengan orang yang mencoba untuk bunuh diri.

Dengan sekali pemikiran, Naruto langsung menerobos kerumunan tersebut diikuti oleh Itachi di belakangnya, walaupun sedikit susah dan terganggu oleh suara berisik orang-orang yang berteriak mencegahnya, akhirnya Naruto bisa menerobos kerumunan tersebut.

Seorang gadis remaja seumurannya, rambut hitam panjang, itu yang pertama kali Naruto lihat punggung orang yang mencoba bunuh diri.

Sesaat ketika rambut gadis tersebut berkibar pelan tertiup angin dan menampilkan wajah samping gadis tersebut, seketika mata Naruto sukses membulat karena dia menyadari sesuatu.

Naruto mengenalinya.

Walaupun tak cukup kenal dekat dengan gadis tersebut, tapi Naruto mengetahui siapa gadis tersebut setiap mengantarkan pesanan Ramen untuk salah satu pelanggan Kedai, dia adalah anak dari pelanggan Kedai.

"Oh sial!"

Belum sempat Naruto berteriak mencegahnya, naluri Naruto ditarik seketika untuk berlari secepat mungkin dan sebisa mungkin menggapai gadis tersebut.

Setetes air mata yang keluar dari mata gadis tersebut membuat Naruto merasakan firasat buruk.

"Hey! Bahaya!"

"Kyaaaaaaaaa!"

Dan benar, belum sampai menggapai gadis tersebut, sang gadis tersebut telah menjatuhkan diri terlebih dahulu.

Teriakan histeris orang-orang pun menjadi-jadi saat itu.

"Hey! Bahaya!"

Naruto tak memperdulikan teriakan orang yang mau mencegah tindakannya. Naruto juga ikut melompat ke bawah.

Saat ini yang Naruto pikirkan hannyalah seseorang yang memiliki ikatan darah dengan gadis tersebut.

*BYUUUUUUR!*

"Apa yang sebenarnya kupikirkan ya?"

*BYUUUUUR!*

.

.

.

#Rumah Sakit

.

*Tap! Tap! Tap! Tap!*

Deru langkah kaki begitu cepat di lorong-lorong rumah sakit, Azazel sedang panik sehingga berlari di lorong-lorong rumah sakit.

Seseorang tadi meneleponnya, mengabari jika putrinya kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit. Saking paniknya saat itu, Azazel hendak pulang ke rumah langsung berbalik arah menuju rumah sakit.

Bahkan dia rela menyewa jasa seseorang pengendara yang pertama dia temui dengan harga yang tidak murah untuk mengantarkannya ke rumah sakit segera.

Keluarga jauh lebih penting daripada uang.

Tak perlu memakan waktu lama, Azazel sudah sampai di depan ruang UGD, disana terlihat seseorang yang cukup dia kenali, yaitu Naruto, dan seorang polisi perempuan yang tak begitu Azazel kenal.

"Naruto! Bagaimana keadaan anakku?!"

Azazel bertanya dengan intonasi yang tak sabaran, Naruto memaklumi itu, mungkin karena dia panik dan khawatir terhadap korban yang berada di ruang UGD.

"Paman, tenang dulu! Dia baik-baik saja,"

Azazel merasa sedikit lega mendengar jawaban dari Naruto, walau begitu, dia ingin segera memastikan kondisi korban di dalam.

Rasa khawatirnya masih belum menghilang.

Sebelum memastikannya sendiri, Azazel berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang UGD, sesekali melihat ke dalam untuk melihat kondisi di dalam.

Sedangkan Naruto sendiri sekarang pipinya dia plester untuk menutupi luka goresan batu di tepian sungai tadi setelah nekat menyelamatkan korban bunuh diri. Untungnya polisi yang datang adalah Mei Terumi dan langsung membawa korban dan dirinya ke rumah sakit untuk sesegera mendapatkan pertolongan langsung.

Naruto juga mungkin harus berterima kasih kepada Mei karena telah meminjamkan baju kemeja putih lengan panjangnya yang selalu dia bawa di dalam mobil, Setidaknya itu bisa menghangatkan tubuhnya walau celana hitamnya tetap basah sampai sekarang karena tak ada gantinya.

Tiba-tiba Naruto bangkit dari duduknya, sudah tak ada lagi yang perlu dia lakukan sekarang, pikir Naruto.

"Karena kau sudah disini, aku langsung pamit saja, Azazel-san,"

"Tapi Nar, bagaimana dengan kondisimu?"

"Ah, kau tenang saja, aku baik-baik saja," Naruto mengayun-ayunkan tangannya untuk membuktikan ucapannya.

Azazel hanya bisa pasrah melihatnya, tapi ada sesuatu yang perlu dia lakukan sebelum Naruto pergi.

Azazel membungkuk. "Terima kasih, Naruto," ucapnya.

"Ah ya," dengan sedikit kikuk Naruto menjawabnya, dia sudah yakin jika dia bilang 'itu bukan apa-apa' Azazel akan terus membungkuk seperti itu.

Rasanya tak enak hati jika sampai seperti itu.

Azazel menegakkan kembali tubuhnya, dan Naruto tersenyum, setelah itu berbalik badan.

"Kau yang dibutuhkan saat ini, Azazel-san,"

Naruto pun melangkah pergi disusul Mei yang sudah berjanji untuk mengantarkannya pulang. Meninggalkan Azazel yang tiba-tiba mengangguk seakan mengerti maksud perkataan Naruto sebelum pergi itu.

.

.

.

Seperti yang sudah dijanjikan oleh Mei, Naruto benar-benar di antarkan sampai ke Apartemennya.

Setidaknya itu adalah alasan yang masuk akal didengar, walau yang sebenarnya hanya rasa ingin tau seorang Mei tentang lokasi Apartemen Naruto.

"Terima kasih, Mei-san," di luar mobil Naruto membungkuk di hadapan Mei.

Naruto bukanlah seseorang bergensi tinggi yang tak tau tanda terima kasih, setidaknya dia tau, walau hanya pertolongan kecil, Naruto akan tetap berterima kasih dan suatu saat akan membalasnya, pasti.

"A-ah, y-ya," Mei cukup gugup menjawabnya, rasa Cakung dari dalam mobil dia bawa sampai sekarang.

Naruto pun kembali menegakkan tubuhnya.

Seketika suasana menjadi hening, seperti saat di perjalanan tadi. Mata Mei melihat ke segala penjuru untuk menemukan sebuah topik yang sejak tadi dia pikirkan, nampaknya tidak menemukannya sehingga dia semakin gugup.

Naruto sendiri hanya biasa saja, di dalam pikirannya, dia ingin sesegera masuk Apartemennya untuk berendam air panas.

"Kalau begitu, aku masuk sekarang,"

"Y-ya,"

Dan akhirnya kesempatan Mei untuk dapat mengobrol panjang dengan Naruto gagal karena dikalahkan oleh rasa gugupnya.

Mei hanya bisa melambai pelan menatap kepergian Naruto saat memasuki Apartemennya. Dia tidak berpikir untuk segera masuk mobil dan pergi, ada sesuatu yang dia tunggu.

Saat Naruto terlihat di lantai 2, lalu memasuki salah satu kamar Apartemen, Mei tersenyum seakan telah terpenuhi keinginannya yang hanya ingin tau letak kamar Apartemen Naruto.

Mei pun akhirnya bisa memasuki mobil dinasnya dengan perasaan lega sekarang.

.

Saat Naruto memasuki kamar Apartemennya, dia berpikir bahwa penghuni Apartemennya pasti sudah pada tidur, termasuk Itachi yang sudah dia suruh untuk pulang terlebih dahulu.

Tapi ternyata salah.

Itachi masih terbangun. Dia berada di depan Tv sedang menonton acara di TV, sedangkan Kurenai sudah tertidur di depan Itachi dengan membenamkan kepalanya di atas meja..

"Kukira kau sudah molor,"

"Setidaknya aku tau kau baik-baik saja sekarang,"

Itachi kemudian menghela nafas ketika melihat Naruto menatap heran kepadanya, seakan dia meminta penjelasan keadaan saat ini.

"Dia sudah menjelaskannya siap dia, dan aku juga sudah memberitahu jika kau pulang telat," kata Itachi sambil menunjuk Kurenai, dan itu sukses membuat Naruto bernafas lega. "Dia juga sudah menghangatkan airnya, dan makanannya juga sudah dia hangatkan,"

Naruto terteguh, dia merasa tidak enak hati dengan Kurenai setelah mendengar ucapan Itachi. Dia terdiam untuk sesaat, dia akan memikirkan apa yang perlu Kurenai kerjakan nanti.

Setelah itu Naruto melangkah ke kamar mandi.

Berendam di air hangat memang pilihan tepat, rasanya rasa lelah di tubuh seketika hilang.

Sambil menikmati sensasi nyaman berendam, Naruto mendongkrakkan kepalanya menatap langit-langit kamar mandi. Dia sempat berpikir sesuatu, tapi sesaat kemudian dia mendesah seakan apa yang dia pikirkan, tak perlu dia khawatirkan.

.

"Setidaknya aku melakukannya karena kemauanku, bukan karena terpaksa,"

.

.

Next

.

"Ayo! Bangkitkan Ffn Indonesia! Semangat!"

See you next chap...