Lanjutan fic saya^.^ No need to wait! Let's begin the fic! Ah, bentar. Ada pintu diketok… *Lari ke depan rumah*. Yipee! Aka-chan datang! Ngebantuin bikin fic deh! Ok, ini yang beneran, let's begin!
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: OOC, Musical Life, GaJe, alur kecepetan, dll
Chapter 2: Arabesque No.1, Debussy
"Liebestraum No.3…Dream of Love, karya Liszt Franz."
Sakura mengucapkan kata-kata itu dengan lirih. Ia tak mengubah wajah sedihnya. Matanya terbuka lebar seperti biasa, air matanya mengalir deras dan menetes membawa air itu ke lantai ruangan Sasuke, mulutnya sedikit terbuka tak percaya apa yang ia dengar dari orang sedingin Sasuke. Tubuhnya lemas seakan akan jatuh. Sakura melihatnya. Sakura melihatnya…
Ia melihat ayahnya yang sedang memainkan Liebestraum No.3 di hadapannya sambil tersenyum.
"A-Ayah… Ayah…" cukup, Sakura tak dapat menahan tangisnya lebih lama lagi. Ia ingin bertemu ayahnya, bahkan ia sempat berpikir untuk bunuh diri saat ia mendengar bahwa ayahnya meninggal. Tapi, Sakura tak pernah melihat ayahnya sekalipun. Ia tak pernah melihat ayahnya berada di dalam peti mati yang dikubur itu.
Sakura terhuyung-huyung hingga akhirnya terjatuh ke dalam pelukan Sasuke. Saat melihat Sakura terhuyung, Sasuke langsung berlari ke arah perempuan itu dan menangkapnya. Sasuke mengenal Sakura, ia adalah teman Ino, Ino adalah orang yang disukai Shikamaru, Shikamaru adalah sahabat karibnya sejak kecil.
"Sakura, apa yang terjadi dengan ayahmu?" Tanya Sasuke mengangkat Sakura dan menidurkannya di sofa ruangan itu. Setiap ruangan memiliki sofa panjang putih untuk beristiharat. Sasuke memandangi mata Sakura yang sembab. Rambut panjang Sakura tergeletak lemas di atas sofa itu, jepit rambut yang ia pasang di toilet tadi hampir lepas, Sasuke membenarkan posisi jepit rambut itu.
"Apa aku… pernah mengenalmu?" Tanya Sasuke entah kepada siapa. Ia merasakan hal yang sama seperti perempuan di hapannya itu,
Mengenal Sakura sebelum memasuki SMA itu, tapi ia tak ingat.
Sasuke berjalan menuju piano hitam yang tadi dimainkannya. Ia sembarang memencet nada-nada yang ia mengerti. F, F mayor, C, D, A, G dan masih banyak lagi. Ia mencet nada itu secara asal tapi terdengar seperti musik di telinganya. Entah apa yang dipikirkannya sekarang.
Terbayang akan kondisi Sakura sekarang, ia mulai mengenang masa lalunya.
Nada piano Sasuke terdengar kesal saat ia mengingat,
Ibunya yang sakit-sakitan di rumah… Ayahnya yang sangat sibuk hingga tak memperhatikan istrinya di rumah. Ayahnya yang selalu menunda untuk membawa ibunya ke rumah sakit. Ayahnya yang selalu berpergian bersama perempuan lain.
Nadanya menjadi sangat cepat dan datar saat ia mengingat,
Ia yang terus menemani ibunya sendiri di rumah, ia yang selalu belajar agar ibunya senang dan sembuh dari penyakitnya. Ia yang selalu membuat ibunya tertawa, tawa yang dipaksakan.
Sasuke menitikkan air mata dan nada piano itu terdengar rendah,
Sasuke, bisakah kau memainkan piano itu agar ibu bahagia nak? Ibu suka mendengarkan suara piano yang kau mainkan. Mainkan untuk ibu… Jangan berhenti memainkannya ya Sasuke. Kau terlahir untuk itu, sayang.
Kata-kata itu adalah kata-kata terakhir seseorang yang melahirkan Sasuke sambil menggenggam tangan Sasuke.
Nada ini datar, tapi Sasuke tetap menitikkan benda bening itu dari matanya,
Kini Sasuke terpaksa tinggal berdua dengan ayahnya yang busuk itu. Kakak Sasuke, Itachi, belajar di luar negeri. Ayahnya bahkan berkata bahwa ia akan menikah lagi. Sasuke yakin, perempuan yang bersama ayahnya kini hanya tergiur akan kekayaan orang tua bodoh itu.
Kini ia mengingat betapa bencinya ia akan ayahnya. Ia pasti sudah membunuh orang tua busuk itu jika ia tak ingat bahwa orang itu adalah ayahnya. Sasuke mengmencet seluruh nada dari yang rendah ke tinggi lalu ke rendah lagi. Setelah itu, ia memukul tuts-tuts piano itu dengan kesal.
Kalian tahu? Inilah yang Sasuke selalu lakukan setiap kali sekolah selesai. Masa lalu yang sepi ia kenang sendiri, tanpa bantuan siapapun. Ia teringat akan Sakura yang mengucapkan kata 'Ayah'.
Satu tetes air mata jatuh ke sebuah tuts piano.
"Apakah ayah Sakura… Sudah tak ada?" Tanya Sasuke kepada dirinya sendiri. Ia beruntung masih mempunyai ayah, tapi itu tak mengubah fakta bahwa ayah tua itu tetap berengsek.
Kedua mata emerland itu terbuka, kelopak matanya semakin ke atas dan memperlihatkan keindahan kedua mata itu. Sembab di matanya sudah hilang karena tertidur. Rambutnya masih berantakan. Jaket hitam Sasuke menutupi lutut sampai kakinya yang tak memakai apa-apa. Sakura membutuhkan beberapa detik untuk menyadari dimana ia berada sekarang.
1…
2…
3…
"EEH!" Sakura berteriak
"Kenapa aku di sini!" Lanjutnya seraya duduk di sofa itu
"Maaf, ini milikmu!" melempar jaket Sasuke kepada yang punya
"Wah! Rambutku!" menyisir rambutnya dengan tangan
"He? Sasuke kenapa menangis?" tanyanya saat melihat Sasuke
"Terserahlah, tapi yang lebih penting… Kenapa aku bisa di sini?" teriaknya tak ingat
Suara-suara rusuh dari Sakura yang sedang kebingungan berhasil membuat air mata Sasuke kering dan berteriak marah,
"Diam bodoh! Tenanglah Sakura! Akan kujelaskan semuanya!" Sasuke duduk di samping Sakura. Ia menjelaskan bagaimana ia mengetahui Sakura. Itu sukses membuat bocor rahasia Shikamaru bahwa ia menyukai Ino. Ia menceritakan saat ia melihatnya di depan pintu ruangannya, saat ia jatuh sambil mengucapkan kata-kata ayah.
"Oh, aku mengerti. Ja~ Aku pulang dulu ya Sasuke." Sakura menteng tempat biolanya yang Sasuke letakkan di sebelah sofa tempat Sakura terbaring. Sebelum Sakura beranjak meninggalkan ruangan itu, Sasuke menggenggam tangan Sakura, mencegahnya pergi. Sakura melirik Sasuke dengan tatapan heran dan malu.
"Sakura… Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Sasuke. Sakura hanya mengangkat bahu tak tahu.
"Ya… sepertinya." Kata Sakura menundukkan kepala. Merasa bersalah karena tak tahu harus menjawab apa. Sasuke perlahan melepaskan genggamannya dan Sakura pergi setelah menatap Sasuke beberapa detik.
"Tadi.. Sasuke menangis?" Sakura bertanya kepada dirinya sendiri. Itulah hal yang menyangkut di pikiran Sakura. Tadi Sakura, dalam keadaan setengah sadar, ia mendengar Sasuke memainkan sebuah lagu yang sebenarnya tak Sasuke sadari ia memainkan lagu ceria itu menjadi lagu sedih.
Flashback + Sakura POV
Ah… Aku dimana? Surga? Terserahlah… Apa itu? Suara lagu itu seharusnya tak semenyedikan itu. Lagu itu seharusnya ceria.. tapi kenapa lagu ini begitu sedih?
Ah, malaikat bersayap hitam itu yang memainkannya. Ia.. menangis? Well, bukan urusanku. Tapi mendengar lagu ini.. Aku seperti ingin menangis. Lagu ceria itu telah tertutup awan gelap yang merintikkan air-air yang tak menyenangkan. Seketika, terjadi hujan yang begitu deras di dalam lagu itu. Lagu itu seharusnya melambangkan kebebasan, ini.. lagu yang melambangkan kehancuran seperti dikurung di suatu tempat yang kecil dan gelap.
"Arabesque No.1, Debussy."
End of Flashback + Sakura POV
"Arabesque No.1 ya…" pikir Sakura sendiri. Ia berjalan menelusuri jalan yang panas, tak terasa sekarang sudah musim panas. Sakura hanya memakai kaos pink tipis tanpa lengan dan rok mini putih. Rambutnya dikuncir satu.
'Mungkin akan terasa tak panas kalau aku memotong rambutku.' Pikir Sakura seraya mengambil beberapa helai rambutnya dan melihatnya dengan seksama. Hei, sepertinya ia mengenal orang itu, orang dengan rambut pirang panjang. Dan ia bersama orang berambut nanas hitam.
"Wah, gossip baru nih…" Sakura terkekeh pelan dan mengambil handphonenya, ia memfoto orang itu, ya, orang itu Ino dan Shikamaru yang sedang bergandengan tangan. Ia memfoto meeka yang ada di seberang jalan. Tanpa pikir panjang lagi, Sakura langsung berlari untuk mencetak hasil foto yang ia dapatkan, di rumah.
Dengan cepat, ia berada di rumahnya hanya dengan berlari dari tempat ia memfoto kedua orang itu.
"Tadaima~" ucap Sakura dan melepas sepatunya dengan cepat. Merasa aneh tak ada jawaban dari ibu atau kakaknya, Sakura mencari mereka berdua ke atas dan di sekitar rumah.
"Aneh, biasanya ibu dan kakak ada di rumah pada jam-jam seperti ini." Sakura kembali memasuki rumahnya dan mengambil secangkir the di atas meja. Tiba-tiba, handphone Sakura berbunyi,
"Halo?" ucap Sakura malas
"Sakura! Kau sudah pulang 'kan? Ibu ada di rumah sakit di dekat stasiun! Cepat kemari, ibu gawat!" teriak suara panik di seberang sana yang sudah tak asing lagi di telinga Sakura.
"Hah? Bagaimana bisa kak Sasori? Kakak jangan bercanda deh!"
"Kakak tidak bercanda! Cepat ya!—" Sambungan terputus. Sakura langsung berlari menuju pintu masuk dan keluar. Ia segera menyetop taksi yang paling cepat ia lihat dan menyebutkan tujuannya. Hari itu, Kamis tanggal 26 Agustus, jam 15.45, Sakura berangkat ke rumah sakit.
Di belahan bumi yang lain, maksudku… Tak jauh dan tak dekat dari Sakura, Sasuke sedang menenteng biolanya menuju sebuah rumah sakit. Jam 15.45 hari Kamis tanggal 26 Agustus, Sasuke berangkat ke rumah sakit itu dengan membawa sebuah biola.
Sasuke pernah menjadi murid seorang pemain biola sampai permainannya sempurna, tak diragukan lagi bahwa Sasuke juga bisa bermain cello dan alat-alat lainnya.
"Cih, kakak tak menelepon kalau ia sudah ada di sini. Bukannya langsung ke rumah malah ke rumah sakit duluan. Kenapa aku disuruh membawa biola lagi? Apa urusannya biola dengan bibi yang sakit?" gerutu Sasuke saat sedang berjalan di trotoar jalanan. Ia segera menyetop taksi dan memberitahu tujuannya.
Rumah sakit di dekat stasiun, Melody Hospital.
Sasuke dan Sakura turun di tempat yang berbeda tapi bersamaan. Sasuke di pintu masuk selatan dan Sakura di pintu masuk timur. Mereka menuju lantai tujuh tanpa saling mengetahui satu sama lain ada di sana.
Sasuke memencet tombol tujuh dan menunduk, memperhatikan biolanya. Sepertinya sudah lama sekali ia tak memainkannya. Saat kakaknya menyuruhnya membawa biola, Sasuke menemukan setumpuk debu di biola itu, juga di tempatnya.
Sakura memencet tombol tujuh dengan raut wajah cemas. Rambutnya berantakan, pakaiannya kusut, matanya sembab setelah menangis. Ia tak melepaskan biola di tangannya sampai sekarang, dari pulang tadi, mencari ibu dan kakaknya, saat ditelepon kakaknya, saat di taksi juga sampai sekarang, ia tak melepaskannya. Biola itu adalah sahabat sejatinya sejak kecil, yang tak pernah menginggalkannya saat duka ataupun senang.
Sasuke melangkah keluar lift, ia mencari-cari kamar tujuannya. '701…701… Yang mana sih? Itu kalau tak salah ada di pembatas kamar V.I.P dengan kamar biasa 'kan? Kakak mendapat kamar yang susah terus.' Gerutu Sasuke berkeliling lantai tujuh itu.
Sakura melangkah keluar lift, ia sudah kenal seluk beluk dan denah rumah sakit ini sejak kecil. Karena dulu ia sering sakit-sakitan dan selalu dirawat di sini. Untungnya sekarang Sakura sudah menjadi kuat dan tak sering sakit. Di setiap sisi rumah sakit terdapat dua orang yang memainkan alat musik klasik. Karena itulah ini dinamakan Melody Hospital. Sakura telah berdiri di depan pintu itu, 702.
Mereka bertemu di sana. Kedua mata emerland dan onyx itu saling menatap seakan bertanya-tanya. Diam saling menatap selama beberapa saat.
Akhirnya, Sakura mengalihkan pandangan dan memasuki ruangan ibunya. Begitupun Sasuke setelah ia melihat Sakura masuk ke dalam. Ruang bibi Sasuke adalah ruang V.I.P. Bibinya menderita leukemia stadium empat. Kamar Sakura biasa. Ibunya pingsan di rumah, begitulah carita kak Sasori.
Sasori dan Itachi sebenarnya sudah melihat adik mereka di depan pintu. Saat mereka ingin menyuruhnya masuk, mereka menengok ke kanan (Sasuke yang menengok) dan ke kiri (yang ini Sakura). Mereka menjadi bertanya-tanya apa yang mereka perhatikan tadi.
"Sakura," kata Sasori
"Sasuke," kata Itachi
"Tadi kamu melihat apa hingga kau berhenti dulu di depan pintu?" Tanya mereka bersamaan yang tentunya tak mengetahui satu sama lain.
"Ah… A-Ano—"
"Eh? Tadi—"
A/N: Sudah cukup aneh? Arabeque no.1 ya? Menurutku itu lagu yang indah (Menurutku loh, nggak tahu deh menurut readers). Tapi lagu ini awalnya tak terlalu cepat. Tapi lama kelamaan akan menjadi cepat lalu lambat lagi. Aku ingin Sasuke bisa mengubah lagu indah ini menjadi lagu yang sedih (Nggak tau sih gimana jadinya), mungkin nadanya akan menjadi lebih cepat dan diulang-ulang? Terserah deh. Dengerin lagunya ya~~~ Wish you like it.
Amutia Blossom Saver: O.o~~ Suka fic yang kayak gini? Thx ya^^ Ini udah cukup panjang belom? Kurang ya? Besok sampe 2500 kata deh kalo para readers mau.
Parapluei De Fleurs: Update? Udah pasti dong! Selang dua-tiga hari cukup cepet 'kan? Masih banyak tugas liburan soalnya~~ Kasihani-lah saya T^T*Aka-chan aja nggak mau ngasihanin, digebuki terus…~~* Ok, fic ini di update terus kok
Cherry Blossom Clash: Sankyu atas Reviewnya… Update? Mungkin selang dua-tiga hari, mungkin loh (Bisa jadi lebih dari itu). Ini udah update kok^^ *Bangga hanya selang dua hari* Okay, ikutin terus ya~~~
Ada typo nggak? Kalo ada saya nggak sedih kok~ *Bangga* *PLAK (Baca: Tampar)*
RnR please~~~ (Merintih kesakitan karena ditampar)
Great Luck for You,
MonnaC
