THE PACIFIER IS FRAGILE
Disclaimer
Naruto : masashi kishimoto
Highschooldxd : ichie ishibumi
Rate : M
Genre : romansa, friendship, humor
Pair : nanti saja
.
Peringatan sebelum membaca, ffn ini mungkin banyak typo, kata yang kurang dan kesalahan ketik banyak terjadi (alur berantakan, typo, gaje, ooc dan lain sebagainya)
.
.
CHAPTER 15
.
Hal yang tak biasa mungkin sudah cukup, bagi Kurenai pekerjaan rumah tangga adalah hal sepele baginya, dia adalah mantan ibu rumah tangga, jadi pekerjaan yang sekarang dia lakukan tak membuatnya terkejut sama sekali.
Bersih-bersih Apartemen tuannya sudah dia lakukan, mencuci pakaian tuannya juga sudah dia lakukan, menyetrika pakaian juga sudah. Itu pekerjaan paling mudah baginya, apa lagi tempat yang dia kerjakan terbilang kecil untuk seukuran rumah.
Namanya juga Apartemen.
Dan sekarang saatnya melakukan tugas lainnya, yaitu berbelanja. Dia tak habis pikir dengan karakter tuannya, dia di suruh berbelanja kebutuhan dapur dengan uang yang terbilang banyak.
Tapi hal itu tak membuat Kurenai berani untuk mengambil keuntungan sendiri dengan mengambil uang sisa belanja, dia akan mencoba untuk jujur dan akan mengembalikan uang yang tersisa nanti.
Setidaknya...
Tapi ketika tuannya bilang 'kau boleh menggunakan uangnya apabila ada sesuatu yang ingin kau beli' hal itu membuat Kurenai berpikir, memangnya apa yang dia butuhkan saat ini? Diberi ijin untuk tinggal itu sudah cukup baginya, dia bersyukur akan hal itu, dia tak ingin meminta lebih dari itu.
Saat ini Kurenai berada di Mall bersama anaknya, setelah perjuangannya membeli kebutuhan dapur tadi di lantai bawah Mall, dia menyempatkan diri naik ke lantai 2 tempatnya lapak-lapak makanan berada. Mungkin untuk hal ini tuannya tak keberatan, pikirnya.
"Kurenai,"
Saat sedang menikmati sajian makanan yang di pesan, Kurenai mendengar ada yang memanggil dirinya. Ketika dia menoleh ke samping, dia cukup terkejut atas siapa yang memanggilnya.
Seorang wanita dengan rambut ungu panjang, body bak gitar Spanyol, Kurenai cukup kenal dengannya karena dia adalah teman masa sekolahnya.
"Raikou,"
Wanita yang dipanggil Raikou atau nama lengkapnya Minamito no Raikou hanya bisa tersenyum ketika teman lamanya bisa mengenalinya.
"Boleh aku duduk disini?"
"Boleh,"
Raikou pun duduk berhadapan dengan Kurenai,
Mungkin agak sedikit heran bagi Kurenai melihat Raikou disini, setaunya Raikou adalah temannya yang sibuk karena mewarisi perusahaan Minamoto, dan kenapa dia dengan santai ada disini.
"Raikou-Chan, bukannya kau sangat sibuk memimpin perusahaan Minamoto, kenapa kau ada disini?"
"Fufu~~ kau nampak tidak suka melihat temanmu ini santai sedikit ya, Kurenai-Chan,"
"Bukan begitu... Kukira kau terlalu sibuk sehingga tak ada waktu bersantai seperti masa sekolah dulu,"
"Fufu~~ sesekali tak masalah bukan,"
Percakapan mereka terhenti ketika seorang pelayan mengantarkan minuman untuk Raikou. Dia pun meminumnya dengan tenang.
"Yah~ bisa dibilang aku sekarang memimpin perusahaan Cabang di sini," kata Raikou melanjutkan ucapannya tadi.
"Souka..." Kurenai mulai paham, dia pun meminum minumannya.
Ada sesuatu yang terlintas di kepala Raikou saat melihat kondisi Kurenai saat ini, lebih tepatnya ada yang janggal menurut Raikou.
"Ngomong-ngomong, apakah kau dan Asuma pindah kesini? Setauku kau dan Asuma tinggal di kota sebelah,"
Seperkian detik waktu rasanya terhenti di sekitar Kurenai, dia cukup terkejut dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut Raikou. Tapi pertanyaan itu wajar bagi Kurenai, mungkin temannya itu belum mengetahui masalah rumah tangganya.
Walaupun Kurenai bisa memaklumi pertanyaan itu, tetap saja rasanya sangat sakit untuk mengingat masa lalunya, rasanya seperti tertusuk tombak di jantungnya. Dia hanya bisa menunduk untuk menyingkirkan rasa sakitnya setelah teringat kembali masa lalunya.
Hal itu membuat Raikou yang melihat reaksi tiba-tiba Kurenai merasa tak enak saja. Entah kenapa dia merasa bersalah melontarkan pertanyaan tadi walau dia juga tak tau masalah yang dialami oleh Kurenai.
"Maaf, bila pertanyaannya menyinggung dirimu, Kurenai-Chan," Raikou benar-benar merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, mungkin kau belum tau yang sebenarnya," Kurenai berucap lirih dan masih menunduk. "Aku sudah bercerai dengannya,"
Mata Raikou sukses membulat sempurna, dia benar-benar terkejut atas pengakuan Kurenai barusan. Dia tak menyangka jika Kurenai dan Asuma yang sudah menjalin hubungan sejak masa sekolah, dan dia pikir mereka adalah pasangan yang serasi dan setia, tapi kenyataannya malah berakhir seperti itu. Sungguh Raikou tak menyangka, dia tak ingin tau alasannya, yang jelas pasti adalah masalah rumit rumah tangga Kurenai dan Asuma.
"Maaf, aku tidak bermaksud, Kurenai-Chan,"
"Tidak apa, lagian itu sudah kulupakan dan sekarang aku jauh lebih baik,"
Setelah itu mereka terdiam, Raikou tak menemukan topik lain untuk dia bahas, dia tak ingin menyinggung lebih jauh keadaan Kurenai saat ini.
"Jadi, sekarang kau tinggal dimana, Kurenai-Chan?" akhirnya Raikou menemukan topik sederhana untuk basa-basi.
"Di komplek Apartemen Mawar nomor 104," balas Kurenai. "Memangnya ada apa?"
Senyum senang pun tercetak jelas di wajah Raikou. "Yos, aku akan menyewa kamar disana, aku juga sedang mencari tempat tinggalku," ucapnya dengan senang, dia hanya berpikir mungkin akan menyenangkan jika bertetangga dengan teman lamanya.
Kurenai cukup senang mendengarnya, tapi ketika dia menyadari sesuatu jika dia tinggal di Apartemen seseorang, membuatnya menjadi terdiam kaget.
"Eeeeeeeeh! Jangan!" Kurenai mencoba mencegah setelah menyadari kesalahannya yang baru dia sadari.
"Eh... Kenapa Kurenai-Chan?" Raikou nampak terkejut.
"Disana biaya sewanya mahal, ah ya mahal," alibi Kurenai yang cukup bagus untuk mengecoh, walaupun itu terdengar aneh untuk Raikou yang bisa dibilang soal uang bukan masalah baginya.
"Soal itu mah gampang, Kurenai-Chan,"
Sekarang Kurenai tak bisa menjawab sepatah kata pun untuk mencegahnya, kesalahan keduanya adalah dia baru menyadari jika Raikou adalah anak pimpinan perusahaan, dengan kata lain uang adalah hal sepele baginya.
Sekarang Kurenai harus berpikir keras untuk mengecoh Raikou agar tidak mengetahui jika dia tinggal di Apartemen seseorang. Sedangkan Raikou malah terlihat cukup senang sambil sesekali berharap dia akan bertemu teman lama selain Kurenai seperti Kushina dan Mikoto. Rasa senang Raikou membuat Kurenai semakin frustasi memikirkan masalahnya sekarang.
.
.
.
#Kuoh Gakuen, Jam Istirahat ke-2
.
Saat jam pelajaran kosong, itu sangat menyenangkan bagi para murid-muridnya. Seperti di kelas ini, sejak pelajaran sesudah Istirahat pertama sampai sekarang benar-benar kosong dikarenakan guru pengajar Iruka Umino sedang ijin karena sakit, tapi sebagai gantinya hanya diberi tugas tertentu untuk mengisi waktu kosong.
Dan itu adalah keberuntungan bagi Naruto, tidurnya yang kurang akhirnya tercukupi. Masa bodo soal tugas yang harus dikerjakan, cukup minta Shion sedikit contekkannya sudah beres, dia sudah yakin jika Shion pasti akan memberitahunya.
Setidaknya soal tugas bukan masalah.
Sebagian murid pasti menghiraukan, seperti para siswa laki-laki yang bersenang-senang sejak tadi di dalam kelas, main lempar-lempar barang tertentu memangnya itu adalah kesenangan yang dimaksud.
*Ctak!*
Seketika kegaduhan langsung terhenti ketika mereka tak sengaja melempar remasan kertas mengenai Naruto yang baru bangun dari tidur nyenyaknya.
Suasana mencengkam ketika tak ada respons dari Naruto yang kepalanya di dongkrakkan ke belakang, dan mereka sebagai pelaku pelemparan merasa merinding ketika Naruto bergerak sedikit untuk membenarkan kepalanya.
"Oi,"
Dan para pelaku pelemparan langsung terdiam kaku saat melihat senyuman dan tatapan yang di arahkan ke arah mereka. Itu adalah senyuman biasa tapi terlihat menakutkan bagi mereka yang melihatnya.
"Hey, Delivery Ramen-kun," suara perempuan tiba-tiba masuk ke pendengaran Naruto, menggugah Naruto untuk melirik ke samping untuk melihat siapa yang memanggilnya.
"Siapa?" Naruto tak cukup kenal dengan perempuan itu yang ternyata adalah Ichika, nyatanya dia juga tak tau jika kelasnya mendapatkan murid baru, jadi tak ada salahnya bagi Naruto bertanya seperti itu.
Ichika hanya tersenyum mendapati pertanyaan Naruto. "Terima kasih untuk pertolonganmu 2 hari yang lalu," ucap Ichika berharap bahwa Naruto bisa mengingat kejadian 2 hari yang lalu waktu malam saat menolongnya dari aksi penodongan preman.
Dan Naruto bisa mengingatnya.
"Ah, kau perempuan malam waktu itu," ucap Naruto dengan yakin.
"Jahat banget cara mengingatnya," Ichika merasa tak suka dengan cara penyebutan Naruto seperti itu, dia mengembangkan pipinya sebal.
"Haha... Maaf aku tidak tau," Naruto hanya bisa tertawa kikuk untuk menanggapinya, habisnya mau bagaimana lagi, dia juga hanya mengingat hal seperti itu tanpa tau namanya.
"Sudahlah, aku memaklumi, mungkin kau belum mengetahui namaku," kata Ichika. "Namaku Nakano Ichika, salam kenal Delivery Ramen-kun," sambungnya memperkenalkan diri sambil tersenyum manis.
"He..."
"Ini benar dirimu kan, Jelek?"
Sepintas pandangan menjadi putih, Naruto yang ingin menjawab ucapan Ichika seketika terhenti. Ada suara yang terdengar tak asing baginya ketika dia mendengar kata Jelek yang tiba-tiba membuatnya berpikir 'Tidak mungkin' Naruto sangat jelas dan mengingat kata sebutan itu, itu sudah lama waktu dia berumur 10 tahun dan hanya satu orang yang berani memanggilnya seperti itu.
"Miku,"
Hanya kata itu yang tiba-tiba terucap dari mulut Naruto, perlahan dia bergerak menolehkan kepalanya untuk mengetahui siapa yang memanggilnya tadi, tapi saat dia telah mengetahui siapa yang memanggilnya jelek yang sedang tersenyum senang kepadanya, dia malah menjadi bingung.
"Siapa kau?"
Naruto tak mengenali Miku, gambaran seseorang yang ada dalam pikiran Naruto terlihat berbeda dengan apa yang dia lihat sekarang. Ini aneh, dia mirip seperti Ichika, itu yang Naruto pikirkan.
Miku terdiam, dia menunduk sedih seolah dia kehilangan sebuah harapan selama ini. "Souka... Jadi kau tak mengingatku," ucap lirih Miku, padahal dia sudah yakin tanpa tindik di telinga Naruto dan rambut yang sudah tak di cat merah, dia masih mengenalnya bahwa Naruto yang sekarang dia lihat itu sama dengan Naruto yang di masa lalu untuk Miku.
Ichika merasa bingung mendapati situasi sekarang, melihat reaksi saudarinya membuatnya merasa bodoh untuk sesaat. 'Apa yang terjadi? Apa hubungan mereka sebenarnya?' sebuah pertanyaan itu muncul secara cepat ke kepalanya.
Dari pada memikirkan hal yang tak menentu, Ichika yang lebih memilih menanggapi situasi langsung membawa Miku menjauh dari Naruto yang memasang ekspresi bingung tingkat akut. Disana sudah di sambut oleh Nino yang juga memasang ekspresi bingung karena sempat melihat situasi yang terjadi.
Situasi kelas juga menjadi terasa aneh, mereka yang melihat situasi juga merasa bingung ketika suasana kelas yang tiba-tiba berubah, pandangan mereka tertuju pada Naruto. Disisi lain Shion yang hendak mengantarkan sebuah Bento untuk Naruto menghentikan niatnya, hawa suram tiba-tiba menyelimutinya.
"Sudah kuduga, mereka adalah ancaman bagiku,"
Dan situasi kelas membuat Aika Kiryuu tersenyum, untuk menanggapi sesuatu yang terjadi dia bisa menyimpulkan dengan jelas apa yang terjadi sebenarnya, dan sesuatu hal yang menarik mungkin akan terjadi sudah terbayang di kepalanya. "Hihi... Drama yang menarik," batin Aika Kiryuu sambil membenarkan kacamata bulatnya.
.
.
.
#Apartemen Naruto
.
Kurenai benar-benar merutuki kebodohannya karena tak jujur dari awal jika dirinya menumpang seseorang, nyatanya Raikou benar-benar menjadi tetangga Apartemen yang menempati kamar nomor 45.
Dan sekarang yang harus Kurenai pikirkan adalah bagaimana caranya mengatakan hal yang sejujurnya ketika Raikou mampir di Apartemennya.
"Yah~~ kita benar-benar menjadi tetangga, Kurenai-Chan," Raikou merasa senang karena bisa menjadi tetangga Kurenai dia pikir.
"Ano... Begini Raikou-Chan, sebenarnya Apartemen ini bukan aku yang menyewanya, aku hannyalah menumpang saja,"
Akhirnya Kurenai bisa mengatakan apa yang ingin dia ucapkan setelah mengumpulkan keberanian untuk mengatakan, sedangkan Raikou sedikit menaikkan alisnya karena bingung dengan maksud ucapan Kurenai.
"Maksudmu apa, Kurenai-Chan?"
Dan pada akhirnya Kurenai menceritakan pengalamannya dengan perlahan, dari penceraiannya, perjuangannya tinggal di jalanan tak luput dia ceritakan, dan berakhir dengan pertemuannya dengan tuannya yaitu Naruto.
Reaksi Raikou sudah bisa ditebak dengan jelas ketika mendengar pengakuan Kurenai, dia memasang wajah terkejut bercampur dengan rasa terharu terhadap Kurenai karena tak menyangka jika kehidupan Kurenai seperti itu.
*Grep!*
Hanya sebuah pelukan yang bisa Raikou beri saat ini, menyatakan jika dia juga berturut sedih seperti Kurenai, berharap itu bisa mengurangi kesedihan untuk temannya itu.
"Aku mengerti... Jangan bersedih lagi,"
Kurenai akhirnya merasa lebih baikkan, rasanya beban di pundaknya berkurang setelah dia dengan jujur menceritakan statusnya kepada Raikou.
Tapi ada sesuatu yang ingin Raikou protes setelah mendengar pengakuan Kurenai, dia langsung menatap Kurenai.
"Kirenai-Chan, kau tinggal di Apartemenku saja bagaimana?"
"Maaf Raikou-Chan, bukannya aku tak mau, tapi aku sudah berjanji kepada pemilik Apartemen ini untuk bekerja disini,"
"Aku tidak yakin Kurenai-Chan jika tuanmu itu baik, aku takut jika dia akan berbuat macam-macam kepadamu nanti,"
Kurenai tau jika Raikou mencemaskannya, tapi dia sudah yakin dengan keputusannya sehingga dia hanya tersenyum untuk meyakinkan Raikou.
"Percayalah Raikou-Chan, tuanku itu sangat baik, aku jamin itu,"
"Huh..." akhirnya Raikou pasrah, percuma dia memaksa Kurenai jika sudah seperti ini. "Tapi aku akan terus mengawasimu agar tuanku tak macam-macam kepadamu," ucapnya seperti ibu-ibu yang menasehati anaknya, cukup lucu, Kurenai hampir tertawa kecil mendengarnya.
"Haik," dan Kurenai langsung mengangguk, seolah langsung menurut seperti anak kecil di hadapan orang tuannya.
Dan selanjutnya hannyalah obrolan ringan seputar kehidupan mereka, dari Raikou yang mengeluh karena belum mendapatkan kekasih sampai sekarang dan Kurenai yang memberitahu jika Kushina juga tinggal di Apartemen ini, membuat Raikou yakin untuk tinggal di Apartemen ini karena ada teman masa sekolahnya yang menjadi tetangganya.
.
.
.
Next...
.
.
.
.
See you next chapter...
