THE PACIFIER IS FRAGILE
Disclaimer
Naruto : masashi kishimoto
Highschooldxd : ichie ishibumi
Rate : M
Genre : romansa, friendship, humor
Pair : nanti saja
.
Peringatan sebelum membaca, ffn ini mungkin banyak typo, kata yang kurang dan kesalahan ketik banyak terjadi (alur berantakan, typo, gaje, ooc dan lain sebagainya)
.
.
CHAPTER 17
.
#30 Menit kemudian...
Itachi masih terdiam setelah beberapa saat menyaksikan baku hantam yang menegangkan antara Naruto dan Garou dari balik tembok gedung tua tersebut.
Rasanya tak ayal, dia seketika langsung berpikir logis saat tadi melihat duel tersebut, jika Garou adalah sosok yang kuat karena bisa mengimbangi perlawanan Naruto, bahkan Itachi mengakui jika dirinya yang melawan Garou, mungkin sudah dipastikan kalah.
Disisi lain duel baku hantam antara Naruto dan Garou sudah mulai memasuki tahap penyelesaian setelah bertarung selama 30 menit. Mereka berdua sama-sama terluka parah dengan pelipis dan sudut bibir yang dihiasi oleh darah mereka. Akan tetapi jika dilihat dari mana pun, Garou lah yang paling parah.
Saat ini mereka berdua sedang mencoba untuk menegakkan tubuhnya dengan susah payah. Garou nampak kewalahan menopang tubuhnya, bahkan beberapa kali dia hampir ambruk karena sudah tak kuat untuk menopang tubuhnya, tapi dia paksakan untuk tegak karena itu adalah kunci dari kemenangannya jika dia berhasil bertahan.
Sedangkan Naruto, walau agak kewalahan tapi dia berhasil menegakkan tubuhnya tanpa hambatan sedikit pun. Tangan Naruto melemas, tapi sesaat kemudian dia mengepal dengan tubuh yang sedikit mendongkrak ke belakang.
Saat melihat itu, Garou malah tersenyum. Dia pasrah ketika sebuah tinjuan dari Naruto melesat ke arahnya sambil membatin. "Sudah kuduga, sekeras apa pun aku berusaha, aku... Tak akan pernah bisa memahami jalan pikirnya,"
*Bugh!*
Sebuah pukulan sukses mendarat di wajah Garou yang seketika membuat Garou tumbang ke permukaan. Tapi anehnya dia tertawa, seakan sudah puas oleh ini semua.
"Hah... kalau begini, aku sudah tenang untuk mempercayakan mereka kepadamu,"
Naruto cukup mengerti apa yang diucapkan oleh Garou, tapi saat Naruto ingin menyangkal pernyataannya, Garou menyela terlebih dahulu. "Maaf," ucapan singkat itu sukses membuat Naruto terdiam, sebelum pada akhirnya Garou melanjutkan lagi ucapannya. "Aku mewakili seluruh orang-orang Panti, meminta maaf sebesar-besarnya kepadamu. Kami... Waktu itu tidak bermaksud untuk bertindak yang mengakibatkan kau harus menanggung segalanya,"
Terdiam...
Naruto cukup tau apa yang dimaksud oleh Garou. Tapi... Semakin dia mengetahui segalanya, ada renung hati yang bergejolak marah jika mengingat itu semua.
"Kenapa?"
Naruto ingin tau alasannya kenapa dulu dia harus dikeluarkan dari panti, padahal dia tidak berbuat kesalahan besar untuk panti, dan perkelahian waktu dulu mungkin Hannya sekedar perkelahian anak-anak, semua orang pasti bisa memakluminya, pikirnya.
Garou yang mendapati pertanyaan dari Naruto malah menatap jauh ke langit, sesaat setelah menghela nafas dia berkata. "Kau telah banyak berkorban untuk panti, dari kau bekerja untuk mencukupi seluruh panti, sedangkan Panti dan kami semua tidak berbuat apa-apa waktu itu," Garou terdiam sejenak. "Kami merasa tidak enak hati melihatmu seperti itu, jadi... Kami memutuskan membuat skenario untuk mengeluarkanmu dari panti agar kami tidak dihantui rasa bersalah atas tindakanmu dulu yang berjuang sendirian untuk kecukupan panti,"
Saat mendengar pernyataan seperti itu, Naruto malah mengepal sangat erat, kepalanya menunduk sangat dalam. "Kenapa?" hanya ucapan itu yang terlontar dari mulut Naruto yang pada akhirnya dia menegakkan wajahnya yang telah dihiasi linangan air mata emosi.
"KENAPA HARUS DENGAN SKENARIO SEPERTI ITU! Apa kalian tidak memikirkan bagaimana penderitaanku hidup dikerasnya jalanan tanpa siapa-siapa, Haa!"
*Grep!*
Garou yang sudah siap menerima pukulan emosi dari Naruto dibuat bingung karena tak kunjung merasakannya. Dia perlahan membuka matanya dan dia melihat bahwa pukulan Naruto telah dihentikan oleh Itachi yang tiba-tiba muncul.
"Sudah cukup, Nar." kata Itachi.
Tapi hal itu malah mendapat tatapan tajam dari Naruto. "Lepaskan, Itachi! Sebelum aku menghajarmu juga," ucapanya.
Itachi yang mendengar itu seketika langsung memutar tangannya sehingga membuat Naruto sempoyongan ke belakang, dengan tindakan cepat, Itachi langsung mengepalkan tangannya.
*Duagh!*
Itachi langsung menghantam wajah Naruto dengan sekuat tenaga, dan Naruto langsung tersungkur dan jatuh tergeletak ke tanah.
Ketika melihat itu, Itachi langsung menghampiri Naruto dan berjongkok di hadapannya. "Kau... Pernah berkata kepadaku, masa lalu adalah langkah kehidupan untuk masa depan, semua tindakan ada jalan baiknya sendiri-sendiri," Itachi terdiam sejenak dan tiba-tiba mengulurkan tangannya. "Aku tidak tahu masa lalumu, tapi aku pikir itu adalah jalan terbaiknya sehingga kau bisa seperti ini saat ini,"
Tak ada yang bisa Naruto ucapkan, dia tak menemukan sebuah penyataan yang bisa menyangkalnya.
Terdiam sesaat adalah pilihannya.
Dan pada akhirnya Naruto menerima uluran tangan dari Itachi. "Yah... Kurasa kau benar," ucapnya sambil tersenyum tipis setelah menemukan jawaban yang mungkin tepat.
Dengan sekali tarik, Itachi membantu Naruto berdiri. Setelah Naruto cukup mampu untuk berdiri sendiri, kemudian Itachi beralih menghampiri Garou dan mengulurkan tangannya.
"Itu cukup berat untukmu bukan?"
"Yah... Kau benar,"
Garou menerima uluran tangan Itachi, dia akhirnya bisa berdiri atas bantuan tersebut.
Itachi menoleh ke arah Naruto setelah membantu Garou berdiri, dia tersenyum tipis. "Kau cukup mampu untuk berjalan bukan?"
"Cih," Naruto mendesis sebal, ucapan Itachi terdengar seperti mengejeknya, dengan langkah gontai, Naruto langsung mengikat leher Itachi dengan tangannya. "Sialan! Pukulannmu lumayan juga," ucapnya sambil menopang tubuhnya agar tidak ambruk.
Itachi yang mendengar keluhan Naruto hanya cengengesan saja.
"Sebaiknya cepat bawa aku dan wajah serigala ini pulang, aku cukup lelah hari ini," ucap Naruto sambil menunjuk wajah Garou yang dipapah Itachi di sebelah kiri.
"Hm,"
Dan akhirnya, Itachi yang tak tau apa-apa terpaksa menjadi korban untuk mengurus 2 gumpalan idiot itu ke Apartemen.
.
.
.
#Apartemen...
.
Sore ini cukup seperti biasa, melakukan rutinitas bersantai setelah melakukan berbagai hal kegiatan seperti berkerja, sekolah dan lain sebagainya.
Seperti yang dilakukan oleh Kurenai yang melakukan reuni kecil-kecilan di depan Apartemen bersama Kushina, Reikou, dan Mikoto.
"Kau belum pernah merasakan yang namanya berumah tangga, Reikou. Rasanya itu manis-manis pahit," Kushina berujar, dan entah kenapa Kurenai menganggukan kepalanya seolah dia mendukung ucapan Kushina.
Sedangkan Mikoto hanya diam saja, dia hanya menunjukkan senyum tipis mendengar penuturan Kushina, tapi jika dilihat dengan jelas, senyuman Mikoto nampak begitu berat seolah menyembunyikan sesuatu dari teman-temannya itu.
Hal itu sedikit membuat Reiko tak mengerti, dia belum pernah merasakan yang namanya berumah tangga, jadi wajar saja jika dia menanyakan tentang pendapat berumah tangga tadi.
"Ya kan memang aku belum pernah,"
"Kau akan mengalaminya jika sudah waktunya," kata Kurenai sambil menepuk bahu kiri Reikou. "Dan pastikan jika kau benar-benar memilih pasangan yang benar, cukup aku dan Kushina yang seperti ini,"
Reikou cukup tau maksud Kurenai, ini pasti tentang status mereka sekarang, menjanda. Reikou cukup tau perasaan mereka sebagai sesama perempuan, itu pasti sangat berat untuk menjalani hidupnya, pikirnya.
"Ya... Aku akan benar-benar memilihnya dengan cermat," kata Reikou, tapi sedetik kemudian pandangannya dia alihkan ke arah Kushina. "Btw Kushina-Chan, aku dengar dari Kurenai-Chan, kau sudah mendapatkan calon pengganti-nya ya?"
*Uhuk!*
Kushina terbatuk, dia terkejut mendengar ucapan yang terlontar dari Reikou. "Apa maksudnya itu?" Kushina sedikit tak mengerti, kemudian menatap Kurenai yang sedang cekikikan. "Jangan mengada-ada Kurenai-Chan, aku tak ada niatan untuk berumah tangga lagi ya,"
Kurenai seketika memasang wajah jahil, senyumannya dia tutupi dengan telapak tangannya. "Fu~fu~ tak perlu kau sembunyikan Kushina-Chan, aku tau jika kau diam-diam menyukai muridmu sendiri kan?"
"A-apa?" Kushina nampak terlihat gagap, wajahnya tersipu. "I-itu tidak mungkin," ucapnya mencoba menyangkal pernyataan.
Tapi reaksi yang ditampilkan oleh Kushina membuat Kurenai dan Reikou cekikikan, lain hal dengan Mikoto yang sedikit menaikam alisnya.
"Tunggu, jangan katakan jika kau terkena virus dari Kaguya yang diam-diam juga menyukai muridnya sendiri," ucap Mikoto sambil menatap curiga Kushina.
"I-itu tidak mungkin," Kushina semakin gelagapan, reaksinya membuat Mikoto terus menatapnya.
Di sisi lain, Kurenai dan Reikou tak henti-hentinya untuk terus cekikikan geli melihat kejadian tersebut, sampai pada akhirnya canda gurau mereka terhenti ketika sepasang mata Kurenai melihat ke ujung lorong, melihat Naruto dan Garau yang berjalan dipapah oleh Itachi.
"Naruto-san!" Kurenai terlihat panik saat melihat kondisi tuan Apartemennya yang tidak baik, dia dengan seketika pangsung menghampirinya.
Kushina dan Mikoto juga terkejut setelah mendadak dibuat kaget aleh kepanikan Kurenai, mereka juga menghampirinya. Sedangkan Reikou sedikit menaikan alisnya kepada siapa yang membuat panik teman-temannya, tapi sebelum dia tau mereka, dia memutuskan juga ikut menghampirinya.
"Naruto-san, kau kenapa?"
"Na-Naru, kau kenapa?"
"Itachi, apa yang terjadi dengan mereka?"
Sederet pertanyaan dari Kurenai, Kushina, dan Mikoto pun tak dapat dihindari, saat mendapati itu, Itachi menghela nafas. "Maaf, tanyaakan nanti saja, kondisi mereka jauh lebih penting," ucapnya.
Mereka yang memahaminya langsung memberi jalan untuk Itachi, sedikit ringan membawa 2 orang bodoh karena Kurenai mencoba membantu memapah juga.
Semuanya pun masuk ke dalam Apartemen Naruto, termasuk Reikou juga, Naruto dan Garou langsung di rebahkan di sofa. Mengetahui kondisi seperti itu, Kurenai tersadar jika di Apartemen tuannya tidak menyimpan P3K, seketika Kurenai langsung menatap Kushina.
"Kushina, minta P3K mu,"
"Baik,"
Kushina langsung bergegas ke Apartemennya dengan tergesa-gesa. Saat mengetahui itu, memunculkan sebuah reaksi heran pada diri Mikoto dan Reikou yang melihat Kushina begitu paniknya.
Dalam pemikiran jauh, akhirnya Mikoto dan Reikou menyadari apa yang membuat Kushina seperti itu, pandangan mereka diarahkan ke arah Naruto yang duduk bersimbah di sofa, wajah berdarahnya sedang dibersihkan oleh Kurenai.
""Souka... Aku mengerti sekarang,""
Nampaknya Mikoto dan Reikou telah menyadari apa yang membuat mereka penasaran, mereka akhirnya menampilkan sebuah senyum serigai yang mungkin akan menjadi mimpi buruk untuk Kushina ke depannya.
.
.
.
Next...
.
.
.
.
