Sasuke masih tersenyum palsu kepada Karin hingga gadis itu berkata bahwa Sai adalah pacarnya. Sasuke mulai memasang wajah dinginnya. Karin mulai menyadari keberadaan Sakura di belakang punggung Sasuke yang menatap mereka dengan pandangan bingung.
"Ah, Sasuke. Itu pacarmu ya?" tanya Karin menunjuk Sakura tanpa melepas pelukannya pada lengan Sai.
"Oh, Sakura. Ia hanya... temanku." kata Sasuke. Entah mengapa susah sekali berkata teman. Rasanya Sakura lebih dari itu, tapi Sasuke belum bisa menbgatakannya. Ia.. belum melupakan Karin seutuhnya. Sakura mematung diam, tak mengucapkan sepatah katapun. Ia berpikir, (Iner Sakura mode on)
Ternyata... aku tak lebih dari 'teman' bagi Sasuke..
Ternyata...aku memang bukan siapa-siapanya Sasuke..
Sasuke.. kau menyukai gadis itu 'kan?
Kenapa aku.. tak bisa menggantikannya...? (Iner Sakura mode off)
Sasuke mulai berbincang dengan Karin -dan pacarnya. Sakura perlahan berjalan meninggalkan ketiga orang itu. Entag ada yang menyadari atau tidak, Sakura keluar gerbang sekolah dan berjalan pulang.
"Sasuke.." gumamnya seraya menunduk.
.
.
.
.
"Sakura, bisa kau belikan wasabi dan jeruk di toko sebelah sekolahmu itu?" teriak kak Sasori dari dapur. Apa hubungannya wasabi dengan jeruk ya?
"Baiklah kakakku yang pemalas." kata Sakura. Di rumah, Sakuralah yang membersihkan seluruh ruangan, mengecek pembayaran listrik dan juga mengambil dan menabung di bank. Sedangkan kakaknya hanya memasak di rumah.
Sasori hanya diam menanggapi ejekkan adiknya yang kesekian kalinya. Sakura langsung menggantik bajunya dan mengambil beberapa uangnya lalu keluar.
Jalanan lumayan sepi, jam-jam sore seperti ini biasanya Sakura tak keluar rumah, jadi ia agak kaget melihat jalanan yang biasanya ramai menjadi sesepi ini. Di sebelah toko yang kak Sasori maksud ada sebuah toko alat musik, yang klasik maupun yang tidak.
Sakura memasuki toko yang dituju itu dan melihat papan nama 'makanan'. Dengan cepat, Sakura sudah berada di bawah papan itu dan mencari-cari jeruk. Setelah menemukannya, Sakura mengambil beberapa dan pergi mencari wasabi. Sakura telah menemukan semuanya, ia segera membayarnya dan keluar toko itu dengan satu plastik di tanganya.
Sakura baru berjalan beberapa langkah dan berbelok masuk ke sebuah toko alat musik yang ada di sebelah toko makanan tadi.
Setelah melihat-lihat sekelilingnya, Sakura menemukan seorang pegawai toko sedang berbincang dengan pembeli. Sakura memperhatikan mereka.
"Saya suka yang ini untuk cucu saya. Bisa kau coba nak?" seru seorang kakek-kakek yang sedang mengutarakan pendapatnya pada sebuah grand piano hitam mengkilat di hadapannya.
"Tentu saja." seru sang pegawai dan mulai duduk di kursi piano. Sakura hanya memerhatikan dari belakang pegawai itu. Pegawai dengan rambut pantat ayam itu merenggangkan jarinya. Ia mulai menekan tuts piano itu dengan cepat. Hei, Sakura tahu lagu ini..
"Ini 'kan... Hungarian Rhapsody karya Franz Liszt. Hebat juga pegawai itu." gumam Sakura. Ia melipat keuda tangannya di depan dada dan menutup matanya, mulai menikmati lagu tanpa cacat itu. Jari-jari itu memelan lalu mempercepat lalu memelan lagi lalu cepat lagi, begitu seterusnya dan nada-nada ini sangat ceria dan indah. Sakura ingin sekali rasanya ke toko ini setiap hari jika ia dapat mendengar lagu-lagu klasik yang dimainkan pegawai itu.
Lagu itu terlalu sempurna dimainkan sang pegawai, hingga sang kakek yang ingin membeli saja lupa akan tujuannya ke sini. Kakek itu tersenyum senang, para pegawai dan pembeli juga menatap ke arah pegawai itu.
"Bukan Sasuke namanya kalau tak bisa memainkan lagu seindah itu." ujar seorang pegawai dari kejauhan. Barulah Sakura menyadari bahwa satu-satunya orang yang memiliki rambut pantat ayam yang ia kenal hanyalah Sasuke Uchiha. Tunggu, sejak kapan Sasuke bekerja di sini? Well, kau bisa salahkan Sakura karna ia tak suka keluar di sore hari yang sepi dan hangat.
Pegawai.. er.. Sasuke selesai memainkan lagu Hungarian Rhapsody itu. Toko itu dipenuhi tepuk tangan dari lantai atas hingga lantai bawah. Sakura mengurungkan niatnya untuk menghampiri Sasuke karena ia melihat setelah Sasuke membungkuk hormat, ia langsung berbincang dengan sang kakek lagi.
"Bagaimana? Anda mau membelinya?" tanya Sasuke sopan seraya tersenyum. Orang-orang kembali kepada aktivitasnya masing-masing, yang berbelanja kembali memilih barang yang akan dibeli, para pegawai kembali melayani pembeli yang mulai kebingungan apa yang harus dibeli.
"Hohoho... Piano itu saya ambil. Andai aku juga bisa membawamu nak. Hohoho..." tawa orang tua itu. Sasuke menuliskan nota kakek itu dan memberikannya kepada yang membeli.
"Piano ini akan diantar besok ke rumah kasih telah membeli." ucap Sasuke mengakhiri pembicaraan mereka. Sakura keluar dari penyamarannya, pura-pura melihat barang di dalam sana seakan ingin membeli. Ia menghampiri Sasuke dan menepuk pundaknya dari belakang.
"Ue... Ternyata Sasuke yang dingin bisa tersenyum dan berkata sopan juga ya..." seru Sakura jahil. Sasuke berbalik dan menarik Sakura ke tempat sepi dan kecil, mungkin tanah entah berantah. Sasuke mencengkram lengan Sakura sedikit kencang hingga gadis itu berkata saat Sasuke berhenti,
"Auch.. tanganku sakit." Sasuke langsung melepas cengkramannya dengan wajah memerah malu. Sakura memegang lengan yang Sasuke cengkram tadi.
"Sedang apa kau di sini? Kau tahu aku sedang sibuk? Tidak, tepatnya.. Kenapa kau tahu aku ada di sini?" tanya Sasuke menumpuk dengan wajah aneh. Citra Sasuke yang dingin runtuh sudah.
"Sasuke.." teringat kembali Karin yang tersenyum kepada Sasuke. Sakura diam sesaat.
"Kenapa?" tanya Sasuke lagi.
"Biarkan.. Ini adalah untuk yang pertama dan yang terakhir." Sakura berkata pelan dengan mata berkaca-kaca tanpa merubah mimik wajahnya.
"Apa maksud-" kalimat Sasuke terpotong.
Sakura berjinjit seraya melepaskan belajaannya. Ia menutup bibir Sasuke dengan miliknya. Sasuke terbelalak, tapi tak mencoba untuk melawan. Sakura mempertahankan posisi itu selama tiga menit tanpa perlawanan dari yang bersangkutan. Sakura mengeluarkan airmatanya dan melepaskan ciuman itu.
"Maaf..." seru Sakura lalu mengambil barang belanjannya dengan cepat lalu berlari meninggalkan Sasuke. Sasuke mematung dan bergumam pelan,
"Apa maksudmu Sakura?"
.
.
.
.
Sakura POV
Aku sudah sampai di rumah dan langsung melemparkan barang belanjaan ke arah wajah kakakku. Sebelum mendengar omelan sang pemalas itu, aku langsung naik menuju kamarku memikirkan apa yang barusaja kuperbuat.
.
Aku mengerti sekarang..
Sasuke tak mungkin melupakan gadis secantik Karin..
Aku tak mungkin bisa menjadi pengganti Karin..
Sasuke... A-aku tetap tak bisa melupakanmu walau aku tahu bahwa aku tak akan bisa mendapatkamu..
.
Segeralah kuraih biolaku dan memainkannya untuk menenangkan pikiranku. Tapi, nama orang itu masih menghantui pikiranku.. Sasuke...
.
Sejauh apa aku mencintaimu? Kapan kita pernah bertemu?
.
Sakura akhirnya terlelap tanpa memakan makan malam yang disajikan kak Sasori,
"Sakura! Makan malam!"
.
.
.
.
Hari-hari berlalu seperti biasa. Sakura jarang berkata-kata kepada Sasuke. Bahkan ia tak pernah menunggui atau melihat Sasuke latihan lagi, yang membuat Ino bingung. Sakura makin hari makin membaik permainannya, begitupun Ino dan yang lainnya. Sasuke? Sakura tak tahu bagaimana kabarnya. Sasuke sebenarnya tak meningkat tak menurun, netral. Berhari-hari mereka bercanda ria, menangis dan meningkat. Hingga saatnya mereka akan tegang, hari dimana mereka akan tampil. Hari yang menentukan nilai tambahan yang tinggi dan tak membatas yang akan membantu mereka menjadi lulusan terbaik di sekolah itu.
Hari pertama, kelas Sakura.
"Sakura, kau siap?" tanya Asuma -sensei
"Hai!"
A/N: Aku tak tahu berapa kata yang aku tulis karena di tablet enggak ada tulisannya. Jadi maaf kalau pendek lagi. Ok... Bales ripiuu...
ichi ykaiyun: Update kilat bisa bisa aja... tapi pulsaku sekarat ... Yang penting readers puas! Sip! Thx reviewnya!
Cherry Blossom Clash: Thanks ripiuunyaaaaa... *nari-nari GaJe
Salamanca Tree Hiddle: monna update kilat soalnya gak ada kerjaan di rumah. MonnaC ikut les biola doang kok. Tapi kalo soal lagu-lagunya Sasuke saya cari sendiri sebagian, sebagian lagi nanya sama temen yang les piano :p. Sankyuuu for the review!
RnR pleaseeee...
With Joy,
monnaC
