Semenjak pertemuannya dengan Rivaille, Eren sudah berfirasat bahwa hidup dan karirnya yang tenang akan berubah cukup drastis.

Atau mungkin, nasibnya itu sudah ditentukan semenjak foto itu berhasil diabadikan oleh Thomas dan Mina.

Entahlah...


Photo

II

Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama

Sorry for the OOC-ness and typos if there are any.

Enjoy!


Eren membuka lapisan kulit tipis yang menutupi kedua bola mata berwarna zamrudnya, terkejut mendapati dirinya terbangun di kamar hotel. Kepalanya terasa sakit seperti ditusuk-tusuk. Eh? Bagaimana aku sampai disini?

Ingatan kemarin malam termainkan di kepalanya. Eren melompat dari kasur, mendesah lega melihat kameranya aman di sampingnya. Ia meraih ransel yang entah bagaimana juga hadir karena seingatnya benda tersebut ia tinggalkan di jalanan. Ada secarik kertas bersandar nyaman di atasnya, terisi oleh tulisan tangan yang tertoreh apik.

Kuantarkan kamu dan barangmu. Siang ini temui aku di sungai jika ingin ID pers WFN dan memory card dari kamera milikmu kembali.

Eren mendesah frustasi. Benar saja, ia tidak mendapati ID-nya dimana-mana. Pria aneh itu memintanya bertemu sore ini?

Apa ini jebakan?

Tidak, percuma. Lagipula dia sudah tahu tempatku tinggal dan sampai sejauh ini dengan mencuri ID dan memory card-ku.

Dan menjamahi tubuhku.

Eren kembali merasakan bulu romanya kembali berjoget disko.

.

.

Matahari sudah naik. Karena Eren tidak bisa membawa otaknya untuk konsentrasi menulis artikel, akhirnya ia memutuskan untuk mandi saja. Setelah selesai ia pakai sehelai baju kaus beserta sebuah kemeja motif kotak-kotak berbahan flanel yang simpel, dan lalu keluar. Namun untuk jaga-jaga, kali ini ia tidak membawa kameranya.

Eren pergi dengan penuh tekad untuk mengetahui siapa Rivaille sebenarnya. Sina Recon Corps? Yang benar saja. Jika Eren sudah terlibat dengan salah satu anggota pasukan rahasia negara Sina, masalahnya tidak akan sederhana.

Rivaille itu pasti menginginkan sesuatu dariku. ID dan memory card itu hanya pancingan supaya aku ke sana.

"Lama sekali, Eren."

Eren menjerit kaget begitu ada badan yang (lagi-lagi) mendekapnya dari belakang. Ia mengenali tubuh dengan tinggi di bawah rata-rata untuk ukuran pria, namun begitu kuat dan kokoh menekan punggung rampingnya. "Ri-Rivaille."

"Hm? Kau ingat namaku." Ucap Rivaille dengan muka temboknya. Eren jadi ingin memutar mata.

"Jadi apa yang kau inginkan?" kata Eren to the point. Begitu-begitu juga, Eren tidak bodoh.

Rivaille tampak tersenyum senang. "Ikut aku." Tanpa peringatan pria itu langsung menyeret Eren dengan menarik tangannya kencang, membuat yang lebih muda sedikit merengut kesakitan. Beberapa menit mereka berjalan seperti itu. Eren tidak protes. Ia tetap pasrah tangannya ditarik kemana-mana.

Karena toh, melawan pun percuma. Tenaga pria kecil ini tidak main-main.

"Di sini."

Kepala Eren mendongak menatap bangunan besar di depannya. Restoran? Eren kembali terhenyak ketika Rivaille menyeretnya lagi, masuk ke bangunan itu. Semenit kemudian dia sudah cengo di depan Rivaille, duduk di meja yang agak jauh di pojok. "Pesan makananmu." Titah pria itu lagi.

"Aku tidak lapar." Jawab Eren singkat. Tapi langsung dipelototi dengan tatapan maut dari makhluk di depannya. "Baiklah…omelette. Dan iced lemon squash."

Rivaille mengangguk puas. "Chicken cordon bleu. Dan hot amaretto coffee."

Sang pelayan segera mengantarkan list pesanan kedua tamunya. Setelah ia pergi, Rivaille kembali diam menatap Eren.

Risih, Eren bersungut tajam, "Apa?"

"Langsung saja," sahut Rivaille, "kamu dari Wings of Freedom News, bukan? ID-mu menceritakan itu."

Ngapain nanya kalau udah tahu, nyet? Sinis Eren dalam hati.

"Kudengar ada dua orang anggota WFN yang menghilang di Maria."

Kalimat itu akhirnya mendapat reaksi dari Eren. Thomas dan Mina. Kedua tangan Eren mengepal erat. Dua orang teman dekatnya yang lain di kantor, yang menghilang saat tugas. Eren, Mikasa, dan Armin sudah mencari jejak mereka diam-diam semenjak itu sampai sekarang, dan belum mendapatkan apa-apa.

Mungkin…mungkin, ia bisa mendapatkan sesuatu dari Rivaille. Kali ini bukan jiwa jurnalisnya yang mengambil alih. Hanya seseorang yang mencari jejak temannya yang hilang.

Eren mendesis pelan, "Dan apa hubungannya dengan Sina Recon Corps seperti Anda?" terbersit dalam pikirannya sekilas, apakah ada suatu konflik antara Sina dan Maria.

Rivaille justru menjawab dengan pertanyaan lain, "Menurutmu, apa konflik yang terjadi di Maria?"

Eren terdiam sesaat. Ia menaikkan satu alis matanya, heran. "Maria sedang dilanda kudeta untuk menurunkan pemerintahan saat ini yang terlalu otoriter." Ia menatap Rivaille yang tidak memberikan respon apa-apa. "Jadi, apa hubungannya dengan Sina?"

Rivaille menatap lurus mata Eren dengan matanya yang tajam bagai elang. Ia membuka mulutnya, "Itu—"

"—Silahkan. Iced lemon squash dan hot amaretto coffee." Pelayan wanita yang tadi datang membawa pesanan. Rivaille hanya menatap kesal dan memalingkan muka. Eren ingin tertawa melihatnya. Tampaknya Rivaille tidak suka perkataannya dicampuri.

"Jadi?" tanya Eren lagi begitu si pelayan sudah jauh dari jangkauan pendengaran. Wangi kopi bercampur almond dan bir amaretto dari cangkir minuman Rivaille terasa menggoda.

Suara Eren membuat Rivaille kembali berpaling. "Ah…ya, sampai dimana tadi. Oh, dengan Sina." Pria itu menyeruput kopinya, "Sebelum itu, Jaeger. Di WFN, apa pekerjaanmu?"

Dahi Eren mengerut, "Bukannya kopi dengan amaretto itu diminum pagi hari?"

"Jawab saja." balas Rivaille singkat, namun ampuh untuk membuat Eren sedikit kembali mundur.

"Aku menulis artikel tentang tempat wisata." Eren menjawab sembari menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Sekaligus untuk memperlebar jarak mereka.

"Jadi pekerjaanmu hanya berjalan-jalan, menulis pengalamanmu, dan digaji?" Rivaille mendengus dengan seringaian kecil, "Huh, nyaman sekali hidupmu."

Eren tidak tahu apakah kalimat itu hanya sekedar opini atau sekaligus berisi sindiran. "Deadline tetap menyeramkan, kau tahu." timpalnya, dan perkataan itu lebih mejadi sebuah pernyataan daripada pertanyaan. Pria di depannya hanya semakin menarik senyumannya.

"Terserah." Ujar Rivaille, menaruh cangkirnya di meja dengan halus. "Menilai dari kameramu kemarin—aku tahu, itu baru—aku duga kamu juga mengambil foto-fotonya sendiri?"

Orang ini benar-benar mengamatiku, pikir Eren yang jadi merasa agak seram juga mau tidak mau. "Begitulah. Aku penulis merangkap fotografer untuk artikel di rubrik Go Travel di website Wings of Freedom News."

Heh, Eren tersenyum dalam hati. Ia tidak pernah merasa bosan memperkenalkan dirinya secara lengkap. Tentu saja, karena hal ini jarang ia lakukan, ID pers dan kemeja seragam WFN cukup meneriakkan identitasnya tanpa ia harus berkata.

Rivaille membalasnya dengan seringaian kecil. Jari tangannya anggun memutari bibir cangkir kopi di atas meja. "Kalau begitu, kurasa kamu juga sedikit tahu tentang dunia fotografi."

Sang jurnalis menangguk, agak ter-offense dengan kata 'sedikit tahu' itu. Tapi Eren membiarkannya dan hanya mengangguk tanda konfirmasi.

Rivaille menegakkan badannya di kursi, "Sebenarnya, kami—"

"—Silahkan, omelette dan chicken cordon bleu. Selamat menikmati."

Rivaille kembali menggeram jengah, sementara Eren mati-matian menahan tawa. Pria ini memang tidak suka perkataannya diinterupsi, Eren harus mencatatnya agar tidak jadi sasaran geraman sangar dari Rivaille. Aroma omelette menjamahi indera penciumannya, terasa begitu lezat dan menggoda. Pemuda polos itu lalu sadar kalau ternyata perutnya cukup lapar.

"Sampai dimana lagi tadi…" Rivaille menarik nafas untuk mengatur emosinya," Ah, iya. Sebenarnya, intel kami menemukan satu hal yang menarik, Eren."

Jantung Eren sedikit berdetak kencang mendengar Rivaille memanggil namanya. Cepat-cepat ia meminum lemon squash segar miliknya. Wajahnya terlihat sedikit memerah.

Rivaille meraih saku bajunya dan menunjukkan suatu benda yang membuat Eren tersedak. Ia membulatkan matanya untuk melihat dengan lebih jelas.

Foto itu. Foto terakhir Thomas yang dikirim Mina sebelum mereka hilang.

Oh my god. Eren perlahan kembali menjernihkan pikirannya. Ah, Rivaille anggota pasukan rahasia, tidak heran jika mereka juga punya koneksi dengan para intelijen. Eren mengambil foto itu dari tangan Rivaille dan mengamatinya. Ini asli. Hanya saja, sudah dicetak.

"Eren." Panggil Rivaille lagi, "Coba kamu amati baik-baik foto itu."

Eren mengangkat kepalanya. Pikirannya berpikir agak melambat ketika Rivaille berbicara lagi.

"Itu adalah hal yang ingin disampaikan kedua orang temanmu."

.

.

Hari-hari berjalan sibuk seperti biasa di kantor WFN. Gedung menara kantor tersebut tinggi menjulang bersama dengan bangunan pencakar langit lainnya, hanya dibedakan dengan tulisan 'Wings of Freedom News' beserta logo yang tersemat besar dan bangga di atasnya. Logo WFN sendiri berupa dua sayap yang saling menyilang; satu berwarna putih dan yang satu lagi berwarna biru dalam. Logo tersebut juga terbordir gagah di seragam para krunya yang berwarna hijau hutan, tepatnya di bagian saku dada kiri, lengan kiri, dan punggung. Singkatnya, memakai seragam itu adalah kebanggaan terbesar bagi para jurnalis.

Dan pada hari itu, kantor berita paling ternama itu mendapatkan berita mengejutkan.

"Warga diserang oleh penyakit misterius yang menyebar dengan sangat cepat…"

Ian melihat berita di salah satu TV lokal Maria yang berhasil ditangkap dengan kabel. Segera ia menaruh cangkir kopinya dan berlari menuju para pencari berita yang bekerja di lantai 5.

"Semuanya! Kita ada berita baru!"

Suara lancang sang Redaktur Berita seketika mengalihkan perhatian semua orang di sana. Ian mengganti channel TV yang untungnya masih memberitakan kejadian itu.

"Cari informasi sebanyak-banyaknya tentang ini. Reporter, bersiaplah turun ke lapangan!" titah Ian dengan penuh kepemimpinan, "dan, Ackerman."

Gadis pemilik marga itu memindahkan pandangannya dari laptop ke arah atasannya.

"Setelah mendapat informasi mengenai ini dari reporter, bisakah kau menulisnya menjadi artikel? Untuk Headline News di buletin online kita."

Mikasa mengangguk, "Tidak masalah." Ia melirik ke layar TV yang ternyata sudah berganti berita. "Tadi aku dengar tentang penyebaran penyakit misterius. Di mana itu?"

Ian meletakkan jarinya di depan dagunya, mencoba mengingat. "Suatu daerah di Maria, hm…apa lagi namanya tadi, ya? Shi…ganshina? Iya, Shiganshina, kurasa. Distrik kecil di Maria itu—"

Ian spontan berhenti di bawah tatapan Mikasa yang tampak sangat terkejut.

"Maaf, Sir…" Mikasa menelan ludah, "Shiganshina?"

Ian balas menatapnya heran. Tidak tahu harus bicara apa, ia menangkap sosok kepala pirang yang berdiri tidak jauh dari situ. Dan ternyata reaksi Armin Arlert tidak jauh lebih baik.

Ian benar-benar tidak mengerti dengan ini. Tunggu. Tunggu, tunggu dulu.

"Jangan-jangan…kalian punya keluarga di sana?" Ian bertanya dengan suara penuh kehati-hatian. Ia merasa lega ketika mereka berdua menggeleng.

"Tidak. Lebih tepatnya, sudah lama tidak ada." Jawab Mikasa dengan ekspresi yang tidak begitu terbaca. Setelah itu perasaan tidak enak Ian justru semakin memburuk.

"Kami hanya kaget karena itu tempat kami, dan Eren…pernah tinggal, Sir." Tambah Armin dengan senyuman yang seperti berusaha menenangkan. Walau tentu saja, distrik terpencil itu menyimpan banyak sekali kenangan masa kecil mereka.

Ah, pantas saja. Jadi Ackerman, Arlert, dan Jaeger itu dulu tinggal di tempat yang sama. Dan kemungkinan besar mereka juga tumbuh bersama. Suatu hal yang patut dihargai, karena mereka masih tetap berteman hingga sekarang ketiganya bekerja di WFN ini. "Oh begitu. Maaf."

Mikasa dan Armin hanya bilang tidak perlu minta maaf. Ian lalu undur diri untuk kembali pada pekerjaannya. Tidak lama, keluar keputusan bahwa Jean Kirschtein dan Marco Bodt-lah yang akan terjun ke lapangan untuk meliput.

"Jadi kita akan ke kampung halamannya si Eren, huh?" cibir Jean sambil menguap. Marco memberinya sikutan ke pinggang, menyebabkan si pria yang lebih tinggi itu mengaduh kesakitan.

"Jangan begitu, Jean. Mikasa dan Armin pasti juga cemas."

Marco memang paling baik, ramah, pengertian, dan down to earth. Ia paham bagaimana Shiganshina itu tempat yang penting bagi tiga orang rekannya itu, walau mereka tidak pernah secara gamblang menceritakannya.

Jean menggerutu seraya masuk ke dalam mobil kantor yang dihiasi dengan identitas WFN. Segera, mobil hitam itu melesat mengantar para pemburu berita menuju medan perangnya.

.

.

"Jadi?"

"Hm?"

"Kapan kau akan mengembalikan ID dan memory card-ku?"

Eren mulai jengkel. Setelah 'lunch date' tadi, kini Eren ditarik manusia pendek bernama Rivaille ini ke berbagai tempat. Mereka berjalan-jalan di kota, melihat-lihat toko pernak-pernik, toko oleh-oleh, hingga akhirnya duduk kembali di sekoci yang menyusuri sungai yang membelah kota Trost. Selama itu juga, Rivaille tidak berbicara apa-apa lagi tentang foto itu. Sekarang mereka berdua malah diam menutup mulut. Rivaille mendayung perahu itu tanpa mengucap sepatah kata pun. Eren semakin kesal. Emosinya sudah nyaris ke ubun-ubun.

"Kenapa kau tidak mau bicara apa-apa!? Kalau memang ogah ya paling tidak kembalikan ID dan memory card-ku! Kau tahu aku harusnya mulai bekerja menyusun artikel supaya tidak menumpuk!" Eren akhirnya meluapkan amarahnya. Tapi orang yang dituju bahkan hanya memandangnya dari ujung mata.

"Kalua begitu, kerjakan besok saja."

Telinga Eren langsung panas.

"Tidak bisa! Besok aku masih harus ke beberapa tempat untuk meliput lagi!"

Rivaille menghentikan dayungannya. Perahu kecil mereka bergeming pelan di tengah sungai, mengikuti arus. Suasana seketika hening dengan hanya suara air dan burung-burung yang ada.

"Kau pikir aku akan membicarakan hal sepenting ini di tengah keramaian? Karena alasan itu aku membawamu ke sini supaya kita bisa bicara dengan tenang."

Eren masih menatapnya dengan pandangan menistai. Rivaille duduk, menaruh dayung dari kayu untuk terbaring di pinggir tempat duduk di sekoci.

"Kalau begitu kenapa tidak langsung saja? Kau membuang waktuku." Eren mengernyitkan dahinya dari sinar matahari yang tengah terbenam. Kalau saja tidak dalam situasi begini, ia pasti sudah mengagumi pemandang indah yang tersaji di hadapannya sekarang. Melihat matahari perlahan turun, tenggelam dalam tumpukkan daun hijau dari pepohonan, sambil bersantai di atas sekoci yang bergerak pelan menyusuri arus sungainya.

Rivaille memandang Eren lurus sambil bertopang dagu di pinggiran perahu. "Menarikmu kemana-mana itu cukup menyenangkan."

Eren sudah akan terenyuh dan blushing kayak remaja cewek SMA dengan cinta monyetnya, kalau saja Rivaille tidak mengatakan kalimat lanjutannya. "Seperti membawa anjing jalan-jalan, kau tahu."

Eren ingin menghajar manusia bontet bertampang sedatar lantai kantor WFN itu di sini, saat ini juga. Tapi ia memutuskan untuk menahannya, karena ia ingat pada kejadian kemarin. Rivaille bisa membunuhnya dengan mudah, dimana saja, kapan saja.

Bulu roma Eren meremang. Bagaimana pun ia sedang berhadapan dengan salah anggota dari pasukan rahasia, Sina Recon Corps. Reputasi mereka bukan main-main.

Ugh.

Rivaille menyadari perubahan sikap pemuda itu. Tatapan penuh amarahnya dialihkan ke tempat lain, seakan ingin membuat air dalam yang mengelilingi mereka mendidih dengan emosinya. Pria berkemeja putih itu mendengus geli. Eren kembali menyerang Rivaille dengan pelototannya tapi malah membuat pria yang lebih tua semakin menyeringai. Tidak bisa dipungkiri. Anak ini lucu.

"Aku suka pandangan matamu, Eren." Ujarnya setengah tertawa kecil.

Eren mengabaikan sedikit detak jantungnya yang tiba-tiba berubah cepat, "Apa? Kau menggodaku?"

Rivaille semakin jelas mentertawainya. Bibir Eren maju membentuk sebuah kerucut dengan sedikit rona merah di pipinya yang tidak ia sadari. Rivaille terpana sesaat, namun langsung dapat meraih kembali kontrol dirinya.

"Um…jadi…kau masih tidak melihat apapun yang aneh dari foto itu?" terdengar agak aneh cara bicara Rivaille, tapi untung Eren tidak menangkapnya.

Eren menatap sekali lagi cetakan gambar di hadapannya, berusaha mencari apa pun yang dimaksud Rivaille. Mata hijaunya fokus menyapu kejadian yang terabadikan dalam gambar itu. Di hadapannya, Rivaille kembali bertopang dagu, hanya menatap wajah Eren. Kulitnya yang berwarna agak tan terlihat berkilau memantulkan sinar matahari sore. Iris hijaunya terlihat sangat bercahaya merefleksikan kilau dari sekitarnya. Rambut cokelatnya berayun pelan ditiup angin sejuk dan terlihat sangat lembut. Raut wajah khas laki-laki dengan tulang rahang yang tegas, meski pipinya agak tembem dan memperkuat kesan innocent meski umurnya sudah kepala dua. Belum lagi, kedua belah bibir yang terlihat ranum itu—

Stop. Hentikan, Rivaille. Ia melepaskan sepasang batuk kecil untuk melepaskan pikirannya dari pemuda di hadapannya. Ini tidak sehat, Rivaille meyakinkan dirinya sendiri, Eren 10 tahun lebih muda darinya. Belum lagi dia ini jurnalis. Dengan kata lain, orang media. Sedangkan Rivaille adalah orang yang bergerak secara rahasia, dan paling menjauhi dari yang namanya tersorot berita. Ia dan Eren bagai dua sisi koin, dua kutub yang berlawanan, dua orang yang hidup di dunia yang berbeda. Dunia depan dan 'dunia belakang'. Tapi dengan berbicara mengenai suatu foto yang kemungkinan menyimpan banyak rahasia penting seperti ini, itu artinya mereka sudah berada di wilayah 'abu-abu'.

Ah, sial, kenapa hidup begitu rumit. Andai Rivaille menjadi pengusaha saja, mungkin ia bisa menjadi milyarder dan hidup dengan tenang di tempat aman.

Suara Eren memecah racauan otaknya.

"Ini…"

Rivaille kembali memfokuskan perhatiannya pada sang jurnalis. Kedua iris jamrud itu tampak menemukan sesuatu.

"Kalau dipikir…foto ini…maksudku, tentara yang ada di foto ini…" Eren berhenti sebentar, memutar otak untuk mencari kalimat yang tepat, "dia memegang suntikkan. Tampaknya sedang menginjeksi sesuatu ke korban perang yang ditolongnya ini."

Rivaille menarik alisnya. Ia tampak tertarik dengan jawaban Eren, "Lalu? Jelas terliat benda berjarum itu di sana. Ada apa dengan itu?"

Eren menggigit bibir bawahnya. "Kalau dipikir…apa yang ia suntikkan ke korban itu?"

Entah kenapa jantung Rivaille terpacu. Ia mendengar lanjutan dari dugaan Eren dengan antusiasme yang nyaris menyamai rasa penasarannya ketika berusaha memecah sistem keamanan negara lain untuk sedikit mengintip ke dokumen-dokumen rahasia mereka. Ups, tidak boleh kelepasan memberi tahu orang lain.

"Apa yang kau pikir ia suntikkan, huh? Eren?"

Eren menatapnya tepat di mata.

"Lebih tepatnya…apakah tentara itu benar-benar 'menolongnya', Rivaille?"

Kedua iris berwarna perak itu berkilau. "Dan apa yang membuatmu berpikir begitu?"

Eren menggenggam erat kertas foto di tangannya, "Ibuku pernah bilang. 'Jangan langsung mempercayai apa yang kamu lihat sebelum kamu membuktikannya sendiri'."

Sang jurnalis WFN memutar foto yang tengah menjadi bahan perbincangan hingga menghadap ke lawan bicaranya.

"Foto ini, Rivaille. Makna yang ingin ditampilkan oleh foto ini adalah 'tentara yang merawat korban perang', bukan? Ia memberikan 'obat' dengan cara menyuntikkannya. Orang awam pasti akan melihatnya begitu, bukan?"

Rivaille mengangguk, "Lanjutkan."

"Nah, itulah masalahnya." Eren menelan ludahnya, "Bagaimana kalau ternyata, ada makna asli dibaliknya…dan justru benar-benar menyatakan hal yang berlawanan?"

Rivaille sudah benar-benar menyeringai sekarang. Persetan dengan menjadi pengusaha kaya raya yang hidup nyaman dan aman. Kehidupan sebagai pengintai yang mencari tahu semua top secret jauh lebih menyenangkan dan menantang. Apa lagi, jika bersama orang seperti Eren Jaeger di sampingnya. Tidak ada keraguan lagi, dirinya benar-benar akan menginjakkan kakinya di wilayah 'abu-abu' ini.

"Kau sudah melampaui ekspektasiku, hei jurnalis muda."

.

.

Eren melompat turun dari sekoci. Akhirnya, ia keluar dari situasi yang aneh ini. Bicara di tempat sepi macam di tengah sungai di atas perahu, dengan seseorang berkelakuan ketus yang menjadi teman bicaranya; rasanya tidak begitu menyenangkan.

Tapi Eren tidak membantah kalau sebenarnya hal itu tidak begitu buruk. Rivaille kadang melontarkan kalimat yang Eren anggap sebagai pujian.

"Kemampuan analisamu tidak buruk, bocah. Kalau kau mau, aku bisa menarikmu ke dunia intelijen dan kau akan dibimbing langsung olehku."

"Tidak, terima kasih." Balas Eren singkat. Rivaille berpura-pura merajuk.

"Oh, jadi kau begitu tidak menyukai kehadiranku, ya?"

"Bu…bukan begitu—"

"Hanya bercanda. Huh, dasar bocah." Lalu Rivaille bertolak dengan cueknya ke tempat mesin penjual minuman dingin. Ia lalu kembali tidak lama kemudian dengan dua kaleng soda, pada Eren yang tengah duduk menggerayangi tombol di kameranya.

"Kalau kau curiga, aku tidak menghapus foto apa pun dari memory card-mu." Rivaille menepuk pipi Eren dengan kaleng minuman soda hingga membuat yang punya kepala melompat kaget karena dinginnya, "Tapi aku harus berkomentar. Hasil jepretanmu memang level fotografer WFN."

Eren hanya mendengus, tapi ada senyuman di bibirnya. Ia anggap yang satu ini pun sebagai pujian. Pemuda itu membuka tutup kaleng sebelum meneguk isinya dengan buas. Ia tidak sadar kalau ternyata ia sehaus ini. Sensasi soda bercampur rasa cola terasa sangat segar dan menggigit seluruh sudut mulutnya hingga turun ke kerongkongannya.

"Uhuk!"

"Pelan-pelan, bodoh."

Rivaille menepuk-nepuk punggung Eren, dan si jurnalis merasakan keanehan lagi. Mungkin dibalik sampulnya yang begitu datar dan bermulut pedas, laki-laki ini cukup peduli orang lain.

Apa ini yang para penggemar anime dan manga sebut dengan tsundere? Huh, ia harus bertanya lebih jauh soal ini pada Ymir.

Rivaille meminum sodanya dengan lebih elegan dan tenang. Melihatnya saja sudah akan membuatmu bertanya apakah dia ini dari keturunan bangsawan atau bukan, karena wow…sikapnya itu mencirikan keanggunan kaum kelas atas. Ditambah cara memegang kalengnya itu aneh, tapi tidak bisa dibilang jelek. Justru terkesan unik, jari-jari yang panjang dan kuat bertengger di pinggirian mulut kaleng. Ia tidak pernah melihat orang meminum cola dengan setampan ini—uhuk. Eren kembali terbatuk. Serius, apa yang dia pikirkan, sih?

Mencoba mengalihkan pikirannya yang mulai melanglang buana, Eren membuka tas selempangnya dan memancing keluar sebuah tablet. Ada Mikasa dan Armin mengirimkan message lewat group chat khusus untuk mereka bertiga, terlihat dari notification-nya. Intinya, mereka berdua mengatakan hal sama; sedang apa, dan apakah ia sudah lihat berita atau belum. Eren mengetik balasan.

'Maaf, aku tadi sedikit sibuk. Berita apa?"

Tidak perlu menunggu waktu lama. Armin yang membalas.

'Sebaiknya kamu lihat sendiri, Eren. Buka saja headline news di website WFN, Mikasa baru saja merangkumnya."

Penasaran, Eren membuka browser, lalu memencet alamat website WFN di bookmark. Tampilan home langsung terpampang di layar, dan segera ia mencari headline news yang dimaksud. Ia lalu mematung melihat judulnya. Dengan segan, ia tekan link berita itu.

'Wabah Misterius Menyerang Warga Shiganshina'

Klik.

Loading untuk internet mencapai target terasa begitu lama. Eren menghentakkan kakinya tanpa sadar. Rivaille menangkap gerak-geriknya, memandangnya penuh tanya. Ia sempat melihat tulisan besar di judul berita yang ia tebak dari website WFN. Wabah, huh? Shiganshina? Oh, distrik terpencil di Maria itu, ya. Rivaille melihat kedua alis mata Eren merengut ketika matanya menusuri paragraf demi paragraf berita. Jangan bilang anak ini…

"Eren?"

Rambut pemuda di sampingnya jatuh menutupi wajahnya. "Um, Rivaille…kurasa, ini sudah waktunya aku pulang."

Rivaille tidak berkomentar. Ia menatap Eren kembali memasukkan tab miliknya di tas dan berdiri dari tempat duduk. Rivaille pun ikut bangkit.

"Ini." ujar Rivaille, "Simpanlah."

Eren terdiam sejenak di depan foto tersebut, sebelum akhirnya mengangguk. Sebuah pikiran—yang sebenarnya terlalu terlambat—lewat di otaknya bagai sambaran petir. Sungguh, Eren harus meng-upgrade kecepatan pikirannya. Tidak heran banyak orang yang mengatainya polos.

"Tunggu. Sebenarnya, kalian mendapatkan foto ini dari mana?" Mina kan mengirimkan memory card berisi file foto ini dari kamera pribadi Thomas langsung ke WFN lewat jaringan khusus yang hanya bisa diakses oleh anggota-anggotanya. Harusnya orang luar tidak ada yang tahu.

Senyuman Rivaille kembali merekah, "Menurutmu?"

Eren ingin sekali membenturkan kepalanya ke kursi atau menceburkan dirinya ke sungai. "Kalian meng-hack jaringan WFN, ya!?"

Sekarang Rivaille sudah nyaris tertawa. Aduh, pemuda ini memang benar-benar lugu.

Eren menjambak rambut sewarna kayunya kencang. "Pantas saja aku tidak bisa membuka email-ku beberapa hari lalu! Aagh!"

"Email pribadimu dan email WFN-mu terhubung, sih. Dan mendapatkan email seorang fotografer yang juga aktif di blog itu gampang." Rivaille terkekeh pelan, "Walau jaringan WFN itu pun lumayan sulit untuk kupecahkan."

"JADI ITU KAU SENDIRI!?" jerit Eren mengalahkan suara toa dari pemandu wisata di dekat mereka. Sumpah demi apa, Eren merasa ia harus sujud ampun di hadapan Pixis nanti.

Rivaille sudah kembali dari tertawanya yang sudah lama tidak ia rasakan; rasanya, yah…cukup melegakan. Dan orang yang membuatnya bisa melakukannya lagi adalah pemuda—yang sempat ia manfaatkan—ini. Rivaille memandang pemuda bermata hijau ini dengan penuh arti dan senyuman kecil yang tidak begitu tampak, tapi tetaplah eksis. Tangannya meraih kumpulan rambut di atas kepala Eren, mengacak-ngacaknya dengan lembut.

"Sampai bertemu lagi, bocah."

Beruntung Rivaille langsung melenggang pergi karena Eren tidak mau pria itu melihat rona merah yang seketika menyembul di wajahnya.

.

.

Malam menjelang di hari ketiga semenjak terakhir bertemu dengan Rivaille. Di bawah sinar bulan, seorang Eren Jaeger berjalan pelan menuju hotel. Ia terpaksa memperpanjang masa menginapnya karena kelelahan tidak tidur setelah mengejar deadline. Sambil melangkah, ia memandangi sebuah gadget yang berupa tablet dengan tatapan nanar. Manik hijaunya merangkai kata dari satu paragraf ke paragraf lainnya. Keringat dingin entah sejak kapan muncul dan mengalir jatuh ke lehernya. Berita terbaru hadir, hanya tiga sehari dari berita tentang munculnya wabah misterius di Shiganshina.

"Seorang Ilmuwan dari Sina Dituduh Sebagai Penyebar Virus Penyebab Wabah Shiganshina."

Ya. Negara Rose dan Sina memang megirimkan relawan untuk membantu korban wabah. Bersama ilmuwan dari Maria mereka meneliti obat untuk penyakit misterius ini.

Tapi ternyata, sebuah artikel dari suatu media dari Maria mengungkapkan bahwa ilmuwan dari Sina justru tidak membuat obat, malah membuat suatu zat yang diduga adalah virus tersebut. Wabah di Shiganshina semakin tidak terkendali. Sina pun terancam tuduhan melakukan pembunuhan massal atas ini. Tampak foto dari ilmuwan yang dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab. Seorang wanita berkacamata dengan kuncir kuda yang tampak berantakan, Hanji Zoe.

Sina? Melakukan hal sekejam ini pada kampung halamannya, Shiganshina? Apa tujuan yang ingin mereka capai dari Maria?

Apakah…Rivaille juga terlibat dengan ini?

Pertanyaan Eren tidak terjawab. Alih-alih, ia justru kehilangan kesadarannya.

Ada seseorang yang menyerangnya dari belakang hingga pingsan di tengah jalanan malam yang sepi.

Eren pun tersungkur. Tablet-nya terlempar di tanah di depannya. Suatu sosok yang dikenalnya tampak samar-samar, sebelum akhirnya ia menyerah pada kegelapan…


A/N: And you got a cliffhang~! Maaf yak hehehe *ditimpuk mouse* Oh, mau kasih tahu aja, mungkin alur fic ini nggak cuma maju, ya. Akan ada sedikit maju-mundur. Mulai chapter 3 nanti upupupu~

Special thanks buat yang udah ngasih review: Childishpink, Chijou Akami, ShilaFantasy, Harumi Ryosei, dan Reniel Moza; beserta semua yang fav, follow, dan para silent reader. Hope you like it!

Maaf juga kalo update-nya luama dan bakal luama lagi ya... (-_-;)

Mkay. Ini sudah jam satu pagi dan saya mesti kuliah jam 7 so have a good rest~

mystic rei