Di malam itu, aku kehilangan kesadaran untuk kedua kalinya semenjak aku berada di Trost. Di serang di tengah jalan, parahnya. Aku memang laki-laki, dan ini bukan pertama kalinya aku berkeliaran di tengah malam, tapi hei… siapa yang tahu kalau akan diserang dari belakang? Kecuali kalau kau adalah tokoh jagoan dalam manga shonen.

Sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya, masih setengah sadar; aku melihat sosok samar-samar yang kukenal…atau sepertinya aku mengenalnya…

…aku tidak tahu pasti…

Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Semuanya gelap, terasa begitu ringan seperti melayang, bagai tidak ada beban yang menuntutku di kepala maupun pundak. Rasanya seperti tertidur lelap…

Namun sebuah suara yang dalam meneriakkan namaku berkali-kali, membawaku kembali perlahan-lahan. Suara itu terdengar tegas, walau ada sebersit rasa panik. Suara dari seseorang yang kukenal, yang keberadaannya sudah begitu tertancap dalam memoriku…

"Rivaille?"


Photo

III

Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama

Sorry for the OOC-ness and typos if there are any.

Enjoy!


Kamera, cek. Buku catatan dan alat tulis, cek. Handphone, cek. Ups, dompet…cek. Passport beserta berbagai surat dan kartu identitas untuk jaga-jaga, cek. Botol untuk bekal air mineral, cek.

Semuanya lengkap. Eren menggendong ransel warna hijau hutan yang mencirikhaskan Wings of Freedom News. Lambang kantor berita tersebut tidak ketinggalan menempatkan dirinya di bagian atas penampang tas, dekat dengan resleting utama. Hari ini Eren memakai baju yang lebih kasual, hanya T-shirt lengan pendek warna biru langit dan celana panjang berwarna putih gading. Sepatu sneakers warna merah bergaya sporty menjadi alas kakinya. Dengan penuh semangat baru sang jurnalis muda keluar dari kamar hotelnya yang nyaman untuk memulai pekerjaannya membuat berita.

Eren bersiul sepanjang jalannya menuju restoran untuk makan pagi. Entah kenapa, meski Eren tidak mau mengakuinya—pertemuannya dengan Rivaille kemarin seperti membuat spiritnya naik kembali. Tanpa sadar, Eren bertanya-tanya apakah hari ini pun ia bisa bertemu dengannya lagi…

Ups, fokus, Eren Jaeger. Ada banyak agenda untuk hari ini. Coba kita lihat…mengunjungi museum sejarah Trost untuk meliput. Setelah itu akan ada pertemuan dengan para jurnalis dari Rose Journal di seminar jurnalistik sore nanti. Eren sekalian ditugaskan menjadi wakil dari WFN karena kebetulan sedang bertugas di Trost. Biaya tambahan penginapan biar WFN yang menanggung. Huh, dasar si Pixis.

Tapi bukannya Eren menolak, sih. Itu artinya ia punya waktu lebih banyak untuk tinggal di kota yang indah bernama Trost ini.

Eren memulai perjalanan dengan menaiki bis dari halte yang terletak tidak begitu jauh dari hotel. Sepanjang perjalanan, Eren duduk menikmati pemandangan kota dari jendela dengan ditemani oleh segelas cokelat dingin dari kafe di belakang hotel dan lagu-lagu favoritnya dari iPod. Eren ikut menggumamkan irama-iramanya seraya menggoyangkan kepalanya sesekali, menikmati tiap baitnya.

BIIP!

Suara dari monitor yang mengingatkan bahwa halte berikutnya yang menjadi tempat perhentian Eren sudah dekat. Eren berdiri menuju pintu bis, bersiap untuk turun. Tidak lama kemudian pintu dibuka tepat di depan halte. Eren menuruni tangga bis dengan hati-hati sebelum melempar gelas minuman cokelatnya yang telah kosong ke tempat sampah berlebel 'Sampah Daur Ulang'.

Setelah ini ia harus menaiki satu bis lagi. Hari ini cuaca masih cerah dengan langit biru dan awan tipis seperti kapas. Eren yakin ia akan menikmati perjalanannya, sejauh apa pun.

.

.

Hanya butuh waktu 15 menit lagi sebelum akhirnya tiba di museum sejarah Trost. Tulisan 'Trost Museum of History' terpahat besar di atas gedung bergaya abad pertengahan yang megah. Eren membuka mulutnya terpana, tapi segera mengarahkan kamera kesayangannya untuk mengambil beberapa gambar. Setelah puas, Eren bergabung dengan sekumpulan pengunjung yang lain yang tengah memperhatikan arahan dari sang pemandu. Eren mematikan blitz kamera sesuai perintah, meng-silent handphone dan tab miliknya, lalu bersama-sama berjalan memasuki area hall yang besar dengan berbagai patung dan foto dari tokoh-tokoh bersejarah yang mengelilinginya. Eren berjalan sedikit di belakang untuk mendapatkan angle yang bagus dari hall museum ini. Selama perjalanan, sang pemandu mengizinkan Eren mengambil banyak foto dan menjawab semua pertanyaannya dengan ramah. Pihak museum sudah diberitahu sebelumnya bahwa akan datang reporter WFN untuk meliput, lagipula. Eren pun tidak ketinggalan mewawancarai sedikit para pengunjung yang berada satu rombongan dengannya.

Kini mereka sampai di lantai dua, memasuki ruangan dengan diorama dari sejarah Trost berjejer di kiri dan kanan koridor. Di setiap diorama ada plat yang berisi tulisan mengenai apa yang digambarkan di sana. Eren memilih untuk memfoto beberapa setelah mencatat gambaran besar mengenai sejarah Trost yang diceritakan dengan sangat lengkap oleh sang pemandu. Singkatnya, Trost dulunya merupakan tempat pengungsian para korban dari peperangan antara Rose dan Sina 16 tahun silam yang diakibatkan dari bocornya rencana Sina untuk memperluas wilayah di Rose. Lalu pemimpin dari kedua negara sepakat untuk gencatan senjata hingga mereka membuat suatu perjanjian damai yang ditengahi oleh Maria, tidak lain karena mereka mendapat kecaman dari negara-negara lain di dunia. Setelah perjanjian damai itu berhasil disepakati, kedua pihak setuju untuk mengakhiri pertumpahan darah dan memulai hubungan kerja sama yang baru dari nol.

Kejadian itu sudah 16 tahun lamanya berlalu namun menjadi pengalaman pahit yang tidak terlupakan bagi para korbannya, dari kedua belah pihak. Saat itu Eren masih 8 tahun, jadi ingatannya tentang pertempuran tersebut hanya tersisa serpihan-serpihan kabur saja. Yang ia ingat, berbagai media massa kala itu berlomba-lomba memberitakannya dengan informasi terbaru.

Perang, ya. Eren jadi berpikir dalam hati. Orang-orang mengangkat senjata mereka demi tanah air mereka dan saling membunuh. Ataukah, mereka hanya diperintahkan demi mempertahankan idealisme para pemimpin mereka?

"Sebenarnya, arti dari memenangkan peperangan itu apa?"

"Itu tergantung dari sisi mana kamu melihatnya."

Eren tertegun sejenak. Apa ia sebegitu tenggelam dalam pikirannya hingga tidak sadar ia kelepasan menyuarakannya? Lebih-lebih, ada yang menjawab pertanyaan sekonyong-konyongnya itu. Dengan wajah agak memerah, ia menoleh ke sumber suara dengan niat meminta maaf.

Yang ia dapat, adalah seseorang pria berbadan tinggi kekar berambut pirang. Raut wajahnya tegas, terlihat dari bentuk rahang kuat yang ia miliki. Hanya dari penampilan luarnya, Eren jadi merasa agak segan. Walaupun auranya tidak semengintimidasi millik Rivaille. Manusia titisan iblis itu walaupun pendek, tapi benar-benar terasa berbeda dari orang lain.

Orang itu melihat keraguan Eren, tapi justru mengeluarkan senyuman. "Tapi memang pertumpahan darah sebaiknya dihindari sebisa mungkin, bukan begitu?"

Melihat cengirannya, Eren sedikit mendesah lega. Ia membalasnya dengan senyuman. "A-ah, maaf. Aku hanya terlalu memikirkan sesuatu…"

"Tidak masalah." Si pirang masih menyeringai, "Oh. Reporter dari WFN, ya?"

Eren menegakkan kepala, "Eh? Kau tahu?"

Pria itu mengarahkan telunjuknya pada tas Eren—atau lebih tepatnya, ke arah lambang yang ada pada tasnya. "Itu. Ranselmu yang bercerita."

Oh. Eren menggaruk kepalanya, malu.

"Aku tahu. Kau tipe yang walau sudah memakai seragam pun, masih bertanya kenapa orang lain tahu identitasmu, bukan?" wajah Eren semakin memerah. Orang itu menyodorkan tangan kanannya ke hadapannya dengan senyuman ramah, "Reiner Braun. Kebetulan, aku reporter dari Rose Journal. Salam kenal, err…"

Eren segera menambahkan untuknya seraya menyambut tangan itu, "E, Eren Jaeger…reporter dari Wings of Freedom News. Senang berkenalan."

"Sama-sama, Eren." Pria bernama Reiner itu melepaskan jabatan tangannya supaya mereka berdua bisa berjalan dan tidak ketinggalan rombongan. "Sedang tugas?"

"Ah, um." Eren mengangguk, "Sejak beberapa hari lalu, sebenarnya. Kau sendiri?"

Sebenarnya pertanyaan Eren masuk akal, karena Reiner hanya memakai jaket warna putih dengan kaus berwarna abu-abu gelap, serta jeans panjang berwarna biru tua dan sepatu sneakers hitam. Yang ia bawa hanya sebuah tas selempang warna cokelat kayu yang tampak tidak terisi penuh. Singkatnya, tidak ada tanda-tanda bahwa ia adalah reporter yang tengah menunaikkan tugas. Lambang Rose Journal pun tidak sedikit pun Eren temukan dari orang itu.

Reiner tertawa kecil, "Oh, aku dalam perjalanan, sebenarnya. Aku datang ke sini karena ada janji dulu dengan temanku, tapi karena aku datang terlalu cepat, jadi kuputuskan untuk masuk ke sini dan melihat-lihat." Ia berhenti sejenak, "Aku jadi ingat. Apa kau juga akan datang ke seminar jurnalistik nanti sore?"

Eren kembali mengangguk, "Iya. Jam 3 nanti aku akan berangkat."

"Kalau begitu bagus!" pria itu melonjak, "Kita pergi sama-sama saja! Kau akan kukenalkan pada temanku nanti, dia juga reporter Rose Journal bersamaku. Kau jadi bisa menambah kenalan sesama jurnalis, kan?"

"Boleh juga. Trims, Reiner." Eren menyeringai semangat. Berkenalan dengan orang baru memang bukan keahlian Eren yang paling bagus, namun ada perasaan senang dalam dirinya jika bisa berbicara pada orang-orang baru dengan berbagai pikiran mereka yang berbeda-beda. Eren jadi sumringah sendiri sekarang, sampai harus dipanggil sang pemandu tur agar tidak tertinggal.

.

.

Okay, Eren memang suka berkenalan dengan orang baru. Tapi untuk kedua teman Reiner ini, rasanya…agak sesuatu.

Yang badannya tinggi menjulang tapi pemalu, namanya Bertholdt Hoover. Rambutnya hitam dan raut mukanya menyatakan manusia ini inosen. Sungguh. Tinggi badan itu hanya kamuflase, pikir Eren kurang ajar.

Tapi yang satunya lagi sangat kebalikannya. Annie Leonhardt, wanita berambut pirang dicepol dengan tatapan yang mampu mengingatkannya pada milik Mikasa atau Rivaille. Dia lebih pendek dari Eren, dan sangat terjungkal dibanding Reiner apalagi Bertholdt; tapi aura galaknya menguar kemana-mana. Yah, tidak jauh berbeda pada sosok laki-laki yang tadi sudah disebutkan. Dasar cewek dingin, Eren memutuskan untuk tidak terlalu berlaku seriang biasanya kalau tidak mau kena tendangan sepatunya.

"Jadi, kita bertiga ini reporter dari Rose Journal." Ujar Reiner memperjelas. Rose Journal adalah media massa dalam bentuk cetak berupa koran dan yang paling ternama di Rose. Reputasinya sama seperti WFN, hanya saja mereka tidak turut menjamahi dunia maya.

"Eren Jaeger, reporter dari WFN. Salam kenal." Eren tersenyum hangat dan mendapat reaksi berbeda dari kedua rekan Reiner itu. Yang satu membalas dengan senyum malu-malu dan yang satu lagi hanya memalingkan muka.

"Oke, jadi kita berangkat sekarang?" Reiner memimpin jalan menuju tempat seminar digelar. Mereka menaiki bis untuk menuju ke sana. Di sepanjang perjalanan hanya Reiner dan Eren yang asik mengobrol dengan Bertholdt yang sesekali ikut menimpali, sementara Annie tetap anteng dengan earphone di telinganya.

"Psst, Eren…jangan terlalu memikirkan tingkahnya Annie ya." Bisik Reiner, yakin bahwa satu-satunya wanita dalam kelompok itu tidak mendengar. "Dia memang begitu dari dulu, kayak PMS setiap hari—OUCH!"

"Bicara macam-macam lagi, aku tidak hanya akan menendangmu." Ancam si rambut pirang. Eren dan Bertholdt menatap Reiner yang tengah mengusap-usap area tulang keringnya dengan prihatin.

Nggak mau bertingkah yang aneh-aneh di depan orang ini deh. Catet.

Tanpa terasa keempat jurnalis terebut sampai pada destinasi, yaitu lokasi seminar dilaksanakan yaitu di aula sebuah gedung. Eren dan yang lain sampai 15 menit lebih cepat, jadi bisa memilih kursi di barisan depan. Ternyata yang menyelenggarakan seminar ini tidak bukan adalah orang-orang dari Rose Journal yang mengundang perwakilan jurnalis dan wartawan dari berbagai media massa beserta publik yang ingin belajar mengenai dunia jurnalistik. Eren diberikan name tag bertuliskan 'WFN' yang kemudian ia kalungkan di leher jenjangnya. Supaya terlihat agak lebih rapi sebagai salah satu perwakilan media massa, Eren melapisi T-shirt biru langit yang ia kenakan dengan kemeja lengan panjang berwarna hitam. Ia pun sedikit merapikan rambutnya supaya lebih layak untuk dilihat tamu yang lain.

Sip. Eren sudah siap kembali ke mode jurnalisnya.

Beberapa menit setelah itu, seminar pun dimulai dengan peserta yang tidak sedikit.

.

.

Jam tujuh malam dan seminar akhirnya selesai. Apresiasi para peserta bagus sekali dan cukup banyak yang bertanya macam-macam pada Eren, entah soal blog pribadinya, hasil-hasil tulisan dan fotonya, juga pekerjaannya WFN. Eren tidak tahu kalau ternyata dia lumayan terkenal juga…atau setidaknya ia pikir begitu. Para wartawan dari Rose Journal pun juga ramai dijadikan sasaran pertanyaan. Eren juga menyadari kehadiran wakil dari surat kabar negara Sina, The Capital Gazette. Ada dua orang, yang satu laki-laki berumur di awal 30 tahunnya dan err…suka mengendus, bernama Mike Zacharius. Serta seorang lagi, berambut pirang yang sama seperti yang satunya, terlihat beberapa tahun lebih tua dari Eren dan tidak jelas apa gendernya. Siapa ya, namanya…Banana? Nanaba? Ah, Eren masih sibuk berpikir untuk menguak misteri gender asli dibalik wajah tampan sekaligus cantiknya itu.

Dengan begitu, tiga media massa besar dari tiga negara yang bertetangga dekat hadir. Eren berharap ia tidak di sana sebagai satu-satunya wakil dari WFN. Singkatnya, ia kesepian juga. Sialan si tua Pixis, menyuruhnya menghadiri acara sendirian. Mendadak pula.

Haah, Eren mendesah dalam hati sebelum ditepuk pundaknya oleh Reiner. Laki-laki itu menunjuk ke arah Bertholdt dan Annie dengan cengiran ramah. "Mau makan malam bersama sebelum pulang?"

Eren tersenyum dan mengangguk. Boleh juga. Tidak ada teman berarti dapat teman baru, kan?

Keempatnya segera bertolak ke rumah makan yang rasanya Eren tidak asing.

Ini, kan, restoran tempat ia diseret untuk kencan makan siang (begitulah Rivaille menyebutnya) dengan si iblis itu?

"Kenapa, Eren?" Reiner tampak menangkap wajah nista yang tidak sengaja keluar dari Eren. Yang ditanya hanya menggeleng nervous dan tertawa garing. Reiner hanya menaikkan bahu dan mendorong ketiga temannya masuk.

Makanan dan minuman segera dipesan (Eren menyadari pelayan yang melayani mereka juga sama), berbincang macam-macam dengan Annie yang tetap menutup mulut. Ia hanya menjawab jika ada yang bertanya. Bertholdt dengan sikap masih agak canggung berusaha tetap bergabung dalam pembicaraan. Tapi harus diakui, Eren pun cukup menyukai sifat dari pria tinggi itu.

Tiba-tiba tab Eren kembali berbunyi, tampaknya entah dari Armin atau Mikasa. Ia berusaha mengeluarkan benda itu namun justru menjatuhkan benda lain di tasnya. Menyadari apa yang jatuh, Eren segera membungkuk dan memasukkannya lagi ke dalam.

Foto itu. Eren menelan ludah. Ia kembali tertawa canggung ketika ditanya apa yang terjatuh tadi oleh Reiner, dan hanya menjawab itu bukan hal penting.

Tapi ia melewati pandangan Reiner yang sesaat menajam menatapnya. Pandangan itu hanya sekilas dan langsung hilang tanpa jejak.

Sisa malam pun dilewatkan seolah tidak ada apa-apa.

.

.

Jam sembilan malam, Eren pun berpisah jalan dengan Reiner dan yang lain. Mereka saling memberikan salam sampai jumpa lain waktu sebelum kembali menempuh jalan mereka masing-masing. Pikiran Eren kembali ke pembicaraannya melalui group chat bersama kedua temannya.

Jean dan Marco yang meliput ke Shiganshina.

Dari semua orang, kenapa mereka? Yah, Eren tidak ada masalah dengan Marco, dia anak baik. Tapi Jean? Orang yang jadi musuh sejak pandangan pertama keduanya justru yang meliput bencana di kampung saja saat ini Eren masih berada di kantor, ia bisa memohon pada Pixis agar menjadi wartawan yang pergi ke sana bersama Mikasa dan Armin. Shiganshina hanyalah kota kecil, namun di situlah mereka bertiga dilahirkan dan dibesarkan. Di kota kecil itulah, mereka bertiga bertemu dan bersahabat sampai sekarang.

Mikasa kehilangan kedua orang tuanya dan diangkat keluarga Jaeger. Mikasa dan Eren bertemu Armin. Eren kehilangan ibunya, lalu ditinggal ayahnya. Armin kehilangan kakek yang mengasuhnya dari kecil. Lalu mereka bertiga berjuang untuk hidup bersama.

Sudah…banyak sekali.

Mereka bertiga hanya baru meninggalkan Shiganshina setelah diterima bekerja di WFN dan sampai sekarang belum menengok kembali tanah itu. Ada sebercak perasaan bersalah muncul dalam perasaan Eren. Tiba-tiba hatinya merindukan Shiganshina bersamaan dengan otaknya yang tanpa disuruh memainkan kembali ingatan-ingatan masa kecilnya yang bahagia, sebelum ibunya meninggal. Rumah yang hangat dengan anggota keluarga lengkap dan dua sahabat yang setia. Walau akhirnya kebahagiaan itu pun tidak berlangsung lama.

Sekarang Jean dan Marco akan datang ke tempat itu. Ingin rasanya Eren menyusul mereka sambil membawa Mikasa dan Armin serta.

Eren terus melangkahkan kakinya dalam kegelapan malam, tanpa sadar bahwa ada yang mengikuti.

Dalam sekejap, kebahagiaan dalam hidup bisa sirna. Ibu yang dicintainya meninggal dan ayahnya menghilang entah kemana, mengharuskan Eren dan Mikasa berjuang sendiri.

Eren terus berjalan pelan, tanpa sadar bahwa ada yang mengincarnya dari belakang.

Dan dalam sekejap, kehidupan normal bisa berubah ke arah yang tidak terduga. Eren tersungkur tidak sadarkan diri ke tanah setelah kepalanya dihantam oleh seseorang dari belakang.

Sebelum Eren benar-benar jatuh ke dalam alam bawah sadar, ia melihat sosok yang dikenalnya. Sosok penyerangnya. Orang yang sepertinya tidak asing baginya

Mulut laki-laki itu bergerak seperti mengatakan sesuatu. Eren bisa merasakan tubuh dan tasnya diperiksa seperti yang ada pada pemeriksaan barang sebelum masuk ke hotel atau mall. Ia bisa mendengar suara yang mengatakan 'Ketemu' pada penyerangnya, dan lalu mereka pun pergi. Rasa sakit yang tiba-tiba menjalar di kepalanya, membuat Eren akhirnya menyerah untuk jatuh pingsan.

.

.

"Eren, kenapa kamu menjauhi anak itu?"

"Habis, Bu! Kata mereka Arlert itu cuma suka baca buku dan tidak suka main sama yang lain!"

"Eren. Itu tidak boleh. Kamu hanya tahu itu dari mendengar apa yang orang lain katakan, hm?"

"Tapi mereka bilang begitu…"

"Tapi kamu tidak tahu Arlert yang sebenarnya, bukan?"

"Tapi…"

"Eren. Jangan langsung mempercayai apa yang kamu dengar dan lihat sebelum kamu membuktikannya sendiri."

.

.

Eren terbangun dengan aroma kopi yang baru saja diseduh. Kedua mata hijaunya dikedipkan beberapa kali untuk mendapatkan fokus, lalu sedikit demi sedikit ia turut mulai memperoleh kembali ingatannya; dan sedikit rasa deja vu.

"Aku kembali ke kamarku?"

"Ya, dan aku terkejut karena kau tidak seberat yang aku kira."

Eren melompat kaget dan spontan menoleh, mendapati seraut wajah datar menatapnya bosan. "RIVAILLE!"

"Tapi menggendongmu kembali ke sini cukup merepotkan, bocah. Kau terus ngelindur." Sang anggota Sina Recon Corps meyeruput kopi hitam hangatnya dari sebuah gelas bening yang berasal dari meja di kamar hotel. Eren menjambak rambutnya.

"Astaga! Kenapa kau di sini!? Kau yang membawaku? Kenapa aku diserang? Apa yang terjadi sebenarnya aku tidak mengerti la—"

"Whoa, easy, brat." Rivaille menghampiri Eren yang tengah berbuat layaknya orang stres akut di kasurnya, "Waktu kau kutemukan, kau sudah pingsan di tengah jalan. Kukira kau sudah jadi mayat, tapi aku ingin memastikan, dan untunglah prediksiku salah." Jelasnya dengan sikap yang acuh tak acuh.

Eren menatapnya cengo. Ia berusaha mencerna kisah yang diutarakan Rivaille di dalam otaknya. Benar juga, aku memang merasa mengenali si penyerang itu, tapi kurasa dia bukan Rivaille. Gampang, itu karena orang yang menyerangku memiliki hal yang lebih dibanding Rivaille, yaitu dia…

"…Lebih tinggi…" gumam Eren keceplosan terlalu kencang terdengar di telinga pria yang satu lagi. Tampak tanda perempatan jalan di dahi Rivaille dan dengan penuh dendam ia tempelkan gelas berisi kopi panas itu ke pipi sang jurnalis. "PANAS!"

"Sadar, bocah sialan. Aku tidak bodoh dan tidak tuli." Ujar Rivaille ketus. "Jadi, apa yang terjadi sebenarnya?"

Eren mengusap pipinya yang kembali teraniaya Rivaille sambil mengingat-ingat. "Aku juga tidak tahu. Aku dalam perjalanan pulang, dan tahu-tahu ada yang memukul kepalaku sampai pingsan. Setelahnya, ya, ini." Eren menunjuk ke bawah yang memberi isyarat pada keadaannya sekarang.

"Apa perampokan?" Rivaille mencoba menduga, "coba cek tasmu itu."

Dengan menurut, Eren meraih tas ransel yang ia bawa malam itu. Ia cek satu per satu barang yang ada di dalamnya dan mengira-ngira benda lain yang ia bawa selain yang di sana. Beberapa lama ia membongkar dan mendapati bahwa benda-benda penting masih aman di situ.

"Benda berharga dan penting untuk pekerjaan masih ada lengkap…" gumamnya.

Rivaille menaikkan alis. "Benda lainnya?"

Eren lalu mencoba mengingat kembali. Benda lainnya, ya? Apa yang di tas itu sudah semua? Apa ia melewatkan sesuatu?

Kesadaran menyambarnya. Eren kembali mengobrak-abrik seluruh isi tasnya dengan lebih ganas, membuat Rivaille menduga bahwa mungkin anak ini memang benar kehilangan sesuatu.

"Rivaille…" Eren menatapnya nanar, "Foto itu…foto itu tidak ada…"

Kedua mata Rivaille melebar. Si penyerang itu memang benar menyerang Eren untuk suatu tujuan. Kalau begitu, yang ia incar adalah foto itu?

"Kau membawa foto itu?"

"Aku tidak sadar!" Eren membela diri, "Setelah kau berikan waktu itu, fotonya kuselipkan di tabletku…di sini…" ia menunjukkan suatu ruang kecil di casing tabletnya yang cukup untuk menyelipkan kartu atau benda kertas lain, "…aku tidak berniat membawanya, tapi karena ini kuselipkan di tabletku, aku tidak sadar membawanya juga."

Eren menepuk dahinya kencang hingga sepertinya sakit, "Bodoh sekali aku…"

"Ya, memang." Sahut Rivaille, "Sekarang foto itu berada pada seseorang—atau pihak tertentu yang mungkin ada kaitannya lebih dalam dengan ini semua."

"Rivaille…" Eren menoleh ke arah pria itu perlahan, "Mungkin mereka tahu keberadaan Mina dan Thomas…"

Rivaille hanya diam, tapi mengerti siapa yang Eren maksud. Rekan-rekan Eren sesama anggota WFN, dua orang dibalik pengambilan foto yang dicuri ini, yang menghilang tanpa jejak.

"Aku harus mencari orang ini…" ujar Eren. Kedua mata hijaunya bersinar dan meski tidak mau mengakuinya kencang-kencang, sangat memukau Rivaille.

"Ho? Bagaimana caranya?" tanya Rivaille, masih terpaku pada kilauan permata yang menjadi organ penglihatan pria yang lebih muda darinya itu.

"Aku tidak tahu." Eren mengepalkan kedua tangannya. "Tapi harus kutemukan." Di saat itulah, ia menetapkan tujuannya.

Rivaille mendesah pelan. Dilihat pun, ia tahu mengubah apa yang menjadi tujuan seorang Eren Jaeger adalah hal yang nyaris mustahil. Dan meski Eren tidak tahu jalannya, ia pasti akan mencarinya. Dan ketika ketemu, ia tidak akan melepaskan pandangannya dari tujuannya tersebut.

A 'Jaeger', indeed, pikir Rivaille dalam hati. Huh, anak ini memang menarik.

"Eren." Rivaille memanggil untuk mendapatkan perhatiannya, "Kau sudah dengar tentang berita wabah Shiganshina?"

Sedikit menelan ludah Eren menjawab, "Iya…AH BENAR, RIVAILLE!" pemuda itu tiba-tiba mencengkram kedua lengan Rivaille.

"Sina…apa benar Sina yang melakukan itu pada Shiganshina?"

Beberapa detik. Beberapa detik Rivaille dibuat tunduk di bawah kedua mata itu. Iris hijau yang bagai permata itu kini memancarkan…keraguan, ketidakpastian, kemarahan.

Benar-benar indah. Rivaille hampir saja terhanyut di dalam kedua manik itu jika pengendalian dirinya tidak top class. Ia mengerti apa yang Eren maksud dan segera memegang kontrol penuh kembali atas dirinya.

"Maksudmu, tentang ilmuwan dari Sina yang diberitakan sebagai pembuat dan penyebar wabah sehingga Shiganshina semakin parah?"

Eren tidak memberikan tanggapan namun Rivaille tahu kalau itu tepat sasaran.

"Menurutmu bagaimana, Eren?" Rivaille berbalik bertanya, "Bagaimana jika negaraku memang menarget Negara Maria dari Shiganshina?"

Eren menjawab dengan pelan, "Kalau begitu kau menjadi musuhku. Shiganshina tanah kelahiranku."

Satu hal tentang Eren yang Rivaille duga telah terkonfirmasi. "Tapi kau sudah tidak tinggal di Maria lagi bukan?"

"Yang jadi masalah adalah Shiganshina di sini, tidak peduli sekarang aku dimana tapi tempat itu tetap berharga bagiku."

"Aku bisa menganggapmu sebagai penghalang dan melenyapkanmu kapan saja."

"Aku tidak peduli."

Sedetik kemudian—Eren bahkan belum sempat berkedip—Rivaille sudah berada di atasnya, memerangkap tubuhnya di atas kasur dengan leher yang ditodong oleh sebuah pisau lipat. Kedua pasang mata saling beradu, menatap intens ke dalam diri masing-masing. Tidak ada yang sudi memalingkan pandangannya lebih dulu. Saling menatap, seolah saling menantang satu sama lain, namun tidak ada yang bergerak pertama.

Hingga akhirnya Rivaille kembali menghembuskan nafas pelan dan menyimpan kembali pisau lipatnya dengan aman di balik celananya. Eren sedikit melonggarkan kewaspadaannya melihat Rivaille hanya di sana, diam di tempatnya, kembali menatap Eren dengan pandangan yang berbeda. Kali ini lebih lepas, lebih santai, dan Eren merasa ia bisa tenang hanya dengan melihat ke dalam lautan silver itu.

"Dasar, apa kau senang sekali menantang bahaya?" ujar Rivaille pelan, tanpa sadar ia telah mendekatkan wajahnya dengan Eren.

"Tidak tahu." Eren tersenyum kecil, "Tapi sepertinya aku memang punya tendensi ke arah sana."

"Begitukah?" Rivaille mulai menggerakkan tangannya untuk memainkan rambut cokelat kayu Eren yang ternyata lebih lembut dari yang ia kira. "Tapi kau bisa membahayakan dirimu, kau sadar itu, kan?"

"Tentu saja."

Rivaille memajukan dirinya, mendekati salah satu telinga Eren. Wajah pemuda itu memerah karena jarak yang sangat dekat yang baru disadarinya. Jantungnya berdetak sangat cepat dan berharap agar pria yang lebih tua itu tidak menyadariya. Rivaille berbisik, membuat Eren geli.

"Kalau begitu, kuberi tahu satu hal, Eren…" ada nada seduktif untuk menggoda Eren di balik suaranya sehingga jantung sang target semakin menggila, "Sina…sama sekali tidak berhubungan dengan wabah yang terjadi di Shiganshina."

Nafas Eren tertarik. Tunggu. Ia tidak mengerti, bukankah ilmuwan dari Sina itu lah tersangkanya?

"Aku…tidak mengerti…" Eren bergumam pelan di telinga Rivaille. Rivaille melepas tertawaan kecil yang—astaga, Eren ingin menyembunyikan wajahnya yang sudah matang—terdengar sangat seksi.

"Itu semua bohong, Eren."

Eren mendongak dari yang awalnya ia menyembunyikan wajahnya di leher Rivaille menuju wajahnya yang masih berada di samping kepalanya. "A, apa maksudmu?"

Rivialle membalas tatapan matanya, "Itu bohong."

"Da, darimana…kau yakin?" Eren masih menatapnya tidak percaya. Rivaille menjawabnya degan sedikit senyuman yang sangat kecil.

"Karena aku kenal Hanji Zoe."

Kedua iris Eren terbelalak.

"Dan aku yakin segila apa pun dia, Hanji tidak akan pernah melakukan perbuatan macam itu. Dia mendedikasikan dirinya untuk kemajuan teknologi sains demi kesehatan umat manusia."

"Lantas…" Eren intens melihat ke arah Rivaille, menuntu penjelasan, "kenapa orang seberdedikasi itu dituduh sebagai pembuat virus wabah?"

Rivaille membalas singkat, "Itulah yang ingin kucari tahu." ia bangkit dari posisinya yang mendekap tubuh Eren, dan lalu berjalan ke arah meja untuk menelan satu tegukan kecil dari kopinya yang sudah mulai mendingin. Eren mengikuti gerak-geriknya dengan pikiran yang masih agak lambat memproses informasi yang baru diketahuinya tersebut.

Hanji Zoe, ilmuwan dari Sina yang salah satu anggota relawan, dituduh sebagai penyebar wabah di Shiganshina. Tapi di sinilah Rivaille, menolak pernyataan yang sedang ramai diberitakan itu. Karena ia kenal dengan si ilmuwan.

Eren mencoba membayangkan. Dulu ia tidak mau berteman dengan Armin karena anak-anak lain yang bilang kalau dia tidak suka bergaul dan hanya membaca buku. Namun setelah ibunya memaksanya, Eren pun akhirnya berkenalan dengan Armin yang ternyata adalah orang yang cukup menarik. Ia hanya kikuk dan sangat pemalu sehingga tidak bisa bergaul dengan anak-anak seusianya, dan buku-bukulah pelariannya dari rasa kesepian itu. Semakin lama mengenal Armin, Eren semakin mengerti.

Karena itu saat Armin dituduh menyembunyikan buku-buku perpustakaan sewaktu SMA, Eren sangat menolak untuk percaya. Seberapapun cinta Armin pada buku, ia tidak akan pernah melakukan yang sejelek itu.

Karena itulah, saat Hanji Zoe dituduh sebagai penyebar wabah, Rivaille sangat tidak mempercayai berita tersebut. "Segila apa pun dia, Hanji tidak akan pernah melakukan perbuatan macam itu."

Eren mengerti sekarang.

"Besok aku akan ke penjara di Maria tempat Hanji ditahan untuk sementara untuk mengorek semuanya dari mulutnya langsung." Rivaille berdiri sembari memakai kembali jas hitamnya yang tadi dibiarkan di atas meja teh, "Kau sendiri? Kapan kamu akan kembali ke markas WFN?"

"Lusa siang." Ujar Eren, menghelas nafas panjang.

Rivaille diam sejenak, berdiri bersandar di meja the sambil melipat kedua tangannya. "Akan kuberi tahu kau jika aku tahu sesuatu." Katanya lagi setelah menimbang sejenak keputusannya.

Eren terkejut dengan mata berbinar sampai membuat Rivaille nyaris terpana, "Benarkah? Kau mau membantuku?"

"Yea…" Rivaille memutar badannya supaya wajahnya yang sedikit, sangat sedikit berubah pink tidak tertangkap Eren, "Kalau rekanku juga menghilang seperti teman-temanmu, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama." ujarnya lagi, melangkah ke arah pintu. "Pastikan saja dirimu tidak terlibat dalam bahaya lagi sampai saat itu." Rivaille melangkah keluar.

"Tunggu, Rivaille!" panggil Eren tepat sebelum pria itu menghilang dari balik pintu, "Terima kasih banyak."

Senyuman itu bagai pisau yang menusuk dada Rivaille. Dengan satu anggukan kecil sebagai jawaban, ia menutup pintu dan pergi.

Hanya saja, Eren tidak tahu kalau di sepanjang perjalanannya keluar dari hotel tempat pemuda itu menginap, Rivaille terus menyunggingkan senyuman kecil di wajahnya.


A/N: Hai... Saya masih hidup kok... *nongol dari goa pertapaan*

Aww, maafkan author kamvret ini ya.. Tapi buat ngerjain fic macem ini lumayan menantang juga, so, sebisa mungkin akan saya selesaikan XD

*uhuk* walau udpate-nya ngadet *uhuk*

Review replies: Azure'czar: Err.. tampaknya begitu XD Arigatou~ Childishpink: Waah, makasiih~ Sebisa mungkin akan saya pertahankan romance Riren-nya disamping plot cerita wwwww~ Maap baru update lagi yaa... Network Error : Maafkan hamba yang gak bisa memenuhi permintaan fast update huaaaaaaa *mundung di pojokan* Oh iya dong Eren itu enak buat dipingsanin dan diehem-ehem Rivai *digiles* Nacchan Sakura: Ayee thanks yaa XD Kalo zombie ntar genre nya ganti ohoho~ (walau pengen bikin cerita zombie juga gara-gara makhluk ini fans sama zombie) Entah kenapa nulis Rivai nggak napsuan itu nggak greget bwahahaha! Harumi Ryosei: Sebenarnya sih cuman(?) digrepe ajaa, tapi yaaa Eren itu lebay *digaplok kamera* Emang hawa kehadiran ini fanfic agak invisible bagai Kuroko sih.. *ngaduk tanah* Dan maap yaa baru bawain chap 3 nya XD

Thanks for all reviewers, favs, follows, or even silent readers! Kecup basah buat kaliaaan~ /jijay

Dan mau mengumumkan satu hal, buat update-an chapter berikutnya dari fanfic ini dan fanfic saya yang lain, maaf banget, tapi nggak akan update sampai satu bulan ke depan lagi karena mau hiatus. Mau ciao KKN dulu. Kuliah Kerja Nyata, bukan Korupsi Kolusi Nepotisme apalagi Kerupuk Kecap Nasi /oi

Semester ini kuliahnya emang agak disaster, ditambah KKN itu selama sebulan ke depan, berarti sampe Februari. Dan kurang dari seminggu setelah pulang langsung mulai kuliah lagi di semester baru. Jadi mohon maaf sekali lagi.. *bungkuk*

Okay, sekian. Hope you enjoy the story~! See you next month!

Wishing a great new year for all of us!

mystic rei