Note : Untuk para readers yang baru membaca fic ini, Chapter 2 adalah chapter paling OOC jadi maaf atas ketidaknyamanannya. *bows


My Butler

Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi.

Saya hanya menggunakan karakternya dalam fic ini.


Chapter 2 : Yandere Butler Type


.

Lagi-lagi, pagi yang cerah menyambut indahnya dunia. Matahari pun tidak mau kalah menunjukkan sinar hangat yang menyejukkan hati—bagi sebagian orang, tetapi bagiku setiap matahari menunjukkan wajahnya maka neraka akan dimulai.

PSUUUUNG!

JLEB! KRAK!

"AAAAAAH‼" Teriakku histeris melihat keajaiban yang terjadi tepat di depan mataku. Sebuah gunting baru saja melayang cepat melewati telingaku dan menancap elegan diantara ukiran-ukiran hiasan kayu ranjang yang sedang kududuki.

"Nah, lebih baik. Cepat mandi, dan sarapan juga sudah disiapkan."

"Akashi! Bisa tidak membangunkanku dengan cara yang biasa?!" protesku pada seseorang yang melempar gunting tersebut—seseorang berpakaian rapi, jas hitam yang melingkupi kemeja merah polosnya dan dasi hitam—tak lupa rambutnya yang sepadan warna dengan kemeja yang ia kenakan disertai tatapan iris mata heterokrom yang tajam.

"Maksud Ojou?" tanya seseorang itu seakan tidak ada kejadian apa-apa.

"Hah? Kau tidak sadar rutinitas mengerikan seperti apa yang kau lakukan setiap pagi saat membangunkanku, huh?", omelku kesal. Orang yang ditujukan omelan hanya bertampang datar tidak perduli dan mulai merapikan pakaiannya sendiri.

"Tapi, itu cara efektif untuk membangunkanmu, Ojou."

"Hah? Tapi kalau benar-benar mengenaiku bagaimana? Kau mau bertanggung jawab?!"

"Bagaimana ya—" ia menyeringai, "—sudahlah, cepat mandi dan sarapan. Aku tunggu di ruang makan," perintahnya padaku. Apa? Perintah? Sosok itu kemudian pergi meninggalkanku yang masih kesal dengan kelakuannya. Bersabarlah diriku!

.

.

.

Akashi Seijuuro—butler keluargaku. Butler tersadis yang pernah ada. Bisa terlihat dari caranya membangunkanku setiap pagi. Tak ada keraguan sama sekali untuk melempar gunting sembarangan ke arahku saat aku mulai tidak mau untuk bangun. Alhasil, jantungku hampir saja copot dari untaian organ dalam akibat hobi mengerikannya itu.

Sejujurnya aku tidak mengerti kenapa manusia dengan kepribadian seperti Akashi bisa menjadi seorang butler ditambah lagi perbedaan umur diantara kami tidak begitu jauh. Umur Akashi tiga tahun lebih tua dariku. Agak tidak logis, memangnya Akashi tidak bersekolah atau kuliah begitu? Mungkin karena ia sangat pintar sampai-sampai tidak perlu belajar lagi. Bahkan orang tuaku sangat menyukainya—padahal tau anaknya selalu terancam bahaya di pagi hari—karena ia sangat pintar, dan memiliki leadership yang sangat baik—terlihat dari bagaimana ia mengatur segala sesuatunya dengan sangat sempurna tanpa kesalahan setitikpun.

"Sudah? Nanti terlambat. Ayo cepat," perintahnya—lagi—sambil membukakan pintu mobil.

"Iya, sebentar."

Benar, ada satu hal penting lagi tentang Akashi yang perlu diketahui. Ia sulit sekali untuk diperintah, tetapi ia lebih dominan untuk memerintah. Bahkan Akashi tidak segan-segan untuk memerintahku. Apa-apaan ini? Orang tuaku pun memberikan kewenangan khusus padanya untuk memerintah seisi rumah. Sebenarnya siapa yang majikan dan pembantunya? Bisa dibilang, kata-kata seperti 'diperintah', 'majikan' dan 'pembantu' tidak ada di dalam kamus bahasa seorang Akashi Seijuuro. Lalu, kata apa yang dikenali olehnya?

"Ojou, jangan lupa. Hari ini kau ada les biola sehabis pulang sekolah. Kau juga harus mengunjungi nenekmu di rumah sakit sebelum jam tutup kunjungan. Malam harinya, kau akan menghadiri ulang tahun temanmu. Apa kau sudah siapkan kado untuknya?" Ia membeberkan semua kegiatanku hari ini. Sedangkan aku hanya mengangguk pelan disetiap perkataannya. Kemampuannya mengingat sangat luar biasa terutama yang berurusan dengan jadwal kegiatanku—hanya saat seperti ini ia terlihat seperti seorang butler.

"Belum, habis akhir-akhir ini aku sibuk jadi tidak sempat. Kalau begitu, setelah pulang les kita mampir di toko dulu, Akashi," jawabku sambil mengetik sesuatu di ponsel. Aku terkekeh kecil melihat apa yang tertulis di ponselku. Teman-temanku memang konyol sekali.

"Baiklah." Entahlah, aku bisa melihatnya yang sedang menyetir mobil melirik padaku melalui kaca mobil kemudian menyernyitkan dahi.

"Ojou.."

"Apa?"

"Kau sedang apa dengan ponsel itu?"

"Kirim email. Memang kenapa?"

"Kirim email ke siapa?"

"Temanku,"

"Teman yang mana? Laki-laki atau perempuan?"

"Perempuan,"

TIba-tiba saja, ia mengerem dan meminggirkan mobil di tepi jalan. Berhenti menyetir kemudian ia mengulurkan tangan padaku, "Berikan padaku ponselmu, cepat!"

"Apa sih, Akashi? Aku hanya kirim email ke temanku," teriakku agak sedikit kesal.

"Cepat berikan."

Oke, lagi-lagi kau sembarangan memerintahku. Baiklah. Aku yang akan mengalah. Akhirnya, kuserahkan juga ponsel milikku padanya.

Akashi membaca semua email-email yang kukirim pada teman-teman satu per satu lalu mengembalikannya lagi padaku. Sudah puas, huh? Perjalananku ke sekolah jadi agak tertunda karenamu! Tak lama, ia mulai mengendarai mobil lagi.

"Benar 'kan? Aku tidak bohong," kataku sambil cemberut. Ia diam saja. Dasar.

Hanya masalah ponsel dan email saja, ia menanggapinya dengan serius. Terkadang, orang ini sedikit memiliki masalah dengan sifat posesifnya. Terlalu posesif yang kadang agak menyebalkan, namun itu juga salah satu kelebihannya.

"Sudah sampai. Hati-hati, Ojou. Aku akan menjemputmu tepat waktu jadi jangan berkeliaran kemana-mana," lagi-lagi bicara dengan nada memerintah. Baiklah, tidak ada yang bisa kuperbuat tentang hal itu.

"Ittekimasu."

Sesaat sebelum aku membuka pintu mobil, ia memanggilku.

"Ojou, ke sini sebentar. Ada sesuatu di rambutmu." Ia menggerakkan tangannya memberi sinyal padaku untuk mendekatinya. Butler macam apa yang mengacungkan tangan memanggil Ojou-nya?

Walau bingung, perlahan aku mendekat padanya. Tangan Akashi mulai menghampiri rambutku—memangnya rambutku berantakan ya? Namun tiba-tiba saja berpindah ke daguku—eh?—dan—CUP!

"?!"

Sial. Oran ini melakukannya lagi. Serangan mengerikannya—serangan yang selalu sukses hampir membuat jantungku lepas dari pembuluh aortanya, selain gunting—sebuah ciuman tepat di bibir.

Refleks, aku mendorong tubuh Akashi dan terburu-buru membuka pintu mobil lalu berlari secepat mungkin. Tak perduli semua orang melihatku yang berlari panik dengan wajah merah seperti habis direbus dalam panci presto bertekanan tinggi. Aku tau, ia yang melihat tingkahku dibalik jendela mobil. Dan, aku juga tau ia sedang menyeringai.

Tidak hanya suka menyerangku dengan gunting, terkadang ia suka menyerangku dengan perbuatan-perbuatan gila lainnya—misalnya peluk, cium, peluk, cium, dan peluk lalu cium kemudian cium—oh, tidak, itu berlebihan. Setidaknya setiap pagi, ia selalu berhasil mencuri satu ciuman dariku dengan segala macam ide cerdiknya. Untung saja aku sudah kabur darinya, kalau tidak, mungkin aku akan mendengar kalimat paling mengerikan yang meluncur dari mulutnya sambil tersenyum. 'Kau adalah milikku, Ojou. Aku akan selalu ada di sampingmu, melindungimu. Ingat itu,'.

"Ku-Kuso! Butler macam apa dia?! Kurang ajar!"

Lupakan. Pura-pura tidak terjadi apa-apa—itulah tindakan yang selalu kulakukan untuk melewati segala macam serangan darinya.

.

.

.

.

.

Di teras belakang rumahku terpampang luas taman bunga mawar merah. Aku suka sekali duduk disana menikmati pemandangan indah itu sambil minum teh kesukaanku—Darjeeling Tea diselingi dengan sandwich.

Hari ini aku bermaksud untuk belajar di teras rumah demi persiapan ujian biologi besok. Bisa dibilang, aku tidak menguasai pelajaran itu sampai-sampai Sensei harus menunjukkan langsung padaku.

Akashi berdiri di sisiku mempersiapkan acara minum teh sambil belajar. Ia menuangkan tehnya di cangkir—teh Darjeeling kualitas tinggi yang diseduh dengan teknik yang baik sehingga menghasilkan harum yang semerbak. Akashi pun menyajikan cangkirnya di meja yang kupakai.

"Silahkan, Ojou."

"Hn.." anggukku seraya mengambil cangkir teh itu dan mulai meminumnya pelan. Seperti yang diduga, aku sangat menyukai teh buatan Akashi. Tidak hanya teh, segala sesuatu yang disajikannya memang punya kualitas—apapun yang ia lakukan selalu menghasilkan karya yang sempurna—tak heran orang tuaku sangat menyukainya.

Aku berusaha menghafal berbagai macam materi untuk ujian besok—materinya adalah system rangka manusia. Memulai menghafal struktur dari tulang tengkorak, "E—to, ini tulang dahi frontal… tulang hidung nasal…aaaah apa lagi ya? Tulang pipi e—to apa namanya ya? Arrrrgh!"

Akashi yang melihatku mulai kesulitan akhirnya bicara, "Ada apa, Ojou? Kau perlu bantuan?"

"Aku tidak hafal juga dari semalam materi ini. System rangka manusia."

"Kalau begitu, aku bantu—"

Ia duduk di bangku diseberangku. Akashi memang sering membantuku belajar—otak supernya sangat berguna di saat begini. Prestasiku di sekolah sangat bagus juga disebabkan oleh teknik mengajarnya yang agak sparta namun efektif. Ya, Sparta! Ingat itu.

"—agar cepat ingat, kau harus praktik langsung. Kemarikan tanganmu,"

Dengan bodohnya aku memberikan tanganku padanya. Tak lama, ia mengambil tanganku dan mulai meletakkan jari telunjuk milikku di wajahnya mulai dari dahi. APA?

"Ini tulang apa?"

"Hah? A, e.. oh.. itu.." gawat, aku mulai gugup, bukan karena lupa dengan sebutan tulang itu. Tetapi, kenapa metode belajarnya jadi begitu? Kenapa harus menggunakan wajahnya? Bagaimanapun juga aku masih punya wajah sendiri. Dengan sedikit tergagap, aku menjawabnya, "—dahi, eum… frontal,"

Kemudian ia memindahkan jariku ke pelipisnya, "Ini?"

"Ah.. pelipis..um—" aku semakin gugup, "—tem…poral?" kemudian berpindah ke pipi. Tidak. Aku mulai gemetar, bisa-bisa aku akan menyusuri seluruh bagian wajahnya kalau begini, "—pipi, ah.. iya.. hmm…e—to…. ARGGH!"

AKU TIDAK SANGGUP LAGI!

Aku melepaskan tanganku dari genggamannya.

"Sudah! Aku tidak mau bantuanmu! Kenapa harus dengan cara begitu? Jangan menggunakan cara yang sama dengan Sensei Mesum itu!"

"Sensei mesum?"

"Iya. Dia juga melakukan hal yang sama padaku waktu materi organ dalam."

GYUUUUT—Ia mengepalkan tangannya erat-erat sepertinya siap memukul siapa saja kemudian menghentakkannya ke meja—BRAK!—"Sensei yang mana dia? Biarkan aku bertemu dengannya besok. Aku habisi dia, karena sudah melakukan hal tidak senonoh pada Ojou-ku," Akashi bicara dengan nada mengerikan disertai tatapan dingin yang mematikan.

"Hiii… Akashi, kau kenapa? Tenangkan dirimu. Tidak usah berlebihan, walaupun aku juga tidak suka, tapi aku tidak selemah itu membiarkan diriku diperlakukan begitu. Lagipula, kau sama saja dengan dia!"

"Kalau aku berbeda."

"Hah?"

"Karena Ojou adalah milikku,"

DEG.

Hening sejenak.

Apa-apaan lagi itu? Aku berusaha untuk menahan diri—menahan detakan jantungku yang mulai berpacu dalam kecepatan tinggi. Akhirnya aku bangun dari duduk untuk pergi demi menyembunyikan wajah yang mulai merona.

"Jangan bercanda!"

Akashi lagi-lagi menyeringai.

.

.

.

.

Di sekolah, selesai ujian biologi.

"Hei, kamu. Tolong bawakan kertas-kertas ujian ini ya," Sensei itu pergi meninggalkan kelas setelah mengawasi ujian. Sensei mesum itu—bernama Aomine Daiki—menyuruhku membawa kertas ujian biologi yang baru saja usai. Apa lagi maksud dari sensei mesum itu malah menyuruhku segala?

"Baik."

Aku membawa kertas-kertas itu lalu mengikuti Sensei mesum itu. Sensei mesum ini memang sudah terkenal dengan kemesumannya saat mengajar di kelas. Walaupun mesum, ia juga terkenal dengan kemampuan bermain basket—dulu, ia pernah menjadi Ace di sekolahnya—menjadikannya sebagai Sensei pembimbing klub basket.

"Kau tidak tertarik untuk ikut klub basket? Misalnya jadi manager, begitu."

"Tidak, Sensei. Lagipula, aku sudah ikut klub lain." Aku menjawabnya dengan nada sinis mengingat perbuatannya tempo hari—mengajariku dengan metode praktik tubuh.

Aku tidak mau ada di klub yang berhubungan dengan Sensei mesum macam kau!

"Benarkah? Padahal mungkin saja kita bisa mengakrabkan diri disana."

Apa maksudnya 'mengakrabkan diri'?

"Haha, sayang sekali ya, Sensei."

Rasanya, tertawaku garing sekali. Tanda perempatan kesal sudah menempel di wajahku sepertinya.

"Benar. Lebih baik, kau pindah ke klub basket—" Ia merangkul tubuhku dengan lengan besarnya. Aku hanya memasang wajah 'What The Hell'. Ih! Lepaskan aku! Aku berusaha melepaskan diri dari rangkulannya. Sebenarnya ia tidak merangkulku terlalu rapat tapi tetap… aku sudah merasa kesal saja disentuh-sentuh apalagi oleh Sensei mesum seperti dia.

Tanpa disadari, tiba-tiba saja, disisi telinga Sensei mesum ini,

PSUUNGGG!—Baru saja terlihat gunting merah melayang entah dari mana, sontak membuatnya melepaskan diri dariku saking terkejutnya.

"Huaaa! Kenapa tiba-tiba ada gunting melayang?"

Tunggu dulu! Gunting melayang? Gunting merah? Pasti..!

Aku menoleh ke berbagai arah, untuk mencari asal datangnya gunting tersebut—tetapi tidak menemukan jejak dan sosok si pelempar gunting. Tidak perlu bertanya siapa pelakunya, bukan?

Setelah pulang sekolah, aku menginterogasi Akashi atas kejadian luar biasa tadi. Orang yang bersangkutan hanya memasang wajah innocent dan berkata, "Aku hanya melindungimu dari bahaya. Bukankah aku selalu bilang? aku akan berada disisimu dan melindungimu."

Setelah mendengar ucapannya aku benar-benar terkejut. Jangan-jangan selama ini Akashi selalu mengikutiku kemana-mana? Itu sebabnya Akashi selalu tau apa saja yang kuperbuat? Memang iya, orang tuaku menginginkan Akashi melindungiku setiap saat karena mereka tidak bisa selalu ada disisiku—mungkin itu sebabnya. TETAPI TETAP SAJA INI MENGERIKAN!

.

.

.

.

Esok hari. Di sekolah. Di kelasku, lebih tepatnya.

"Siapa dia? Tampan sekali."

"Sepertinya dia butlernya. Lihat saja pakaiannya,"

Bisik bisik bisik. Seisi kelasku membisikkan sesuatu yang sedang mereka lihat. Seseorang bersurai merah yang tengah berdiri di samping mejaku sambil tersenyum.

"Kenapa kau mengikutiku sampai sini, Akashi?" tanyaku sinis. Tak kalah sinisnya tokoh-tokoh antagonis di film-film.

"Aku memutuskan akan mengawasimu di sekolah secara langsung, Ojou."

HAH? APA?

"HAH? PULANG SANA!"

Sial! Jangan membuatku kesal lagi! Tadi… dan sekarang… ia membuatku kesal. Tidak hanya karena ia membangunkanku dengan lemparan guntingnnya lagi disertai ciuman yang ia curi sesaat setelah aku sarapan dengan dalih ada remah makanan di wajahku lalu sekarang ia mengikutiku sampai ke sekolah bahkan ke kelasku?

"Tuhan, hentikan siksaanmu ini."

"Kau bicara apa, Ojou?" Akashi bicara seraya menyeringai ke arahku. Hentikan menyeringai begitu! Hal itu sukses membuat wajahku memanas seperti insiden ciuman pagi darinya. Kulemparkan pandangan ke sudut kelas untuk menghindarinya.

KRRIINNG!—Bel masuk sudah berbunyi. Ia pun menyingkir dari kelasku. Fuuh. Untunglah. Aku agak sedikit lega, kupikir ia akan sepanjang hari berdiri di sampingku selama pelajaran. Tapi, itu tidak mungkin. Pasti Sensei tidak akan mengijinkan orang seperti Akashi menginterupsi pelajaran—mungkin akan terjadi keributan.

.

.

.

.

Selama beberapa hari ini, sejak orang itu mengikutiku ke sekolah, ada kejadian-kejadian aneh mulai terjadi. Banyak insiden gunting melayang dimana-mana. Saat Sensei mesum itu mengajar dan saat aku bicara dengan temanku—anehnya, hanya terjadi pada teman laki-laki. Bahkan hari itu, saat aku sedang mengerjakan tugas kelompok berdua di kelas dengan ketua kelas, Midorima Shintarou.

"Hei, ke sini sebentar—" aku mendekati Midorima yang sedang menunjukkan sesuatu di laptopnya—ketikan tentang tugas kelompok penelitian yang diberikan oleh Sensei Fisika, "—kenapa begini ya, kau mengerti?"

"Hm.. coba kulihat lebih jelas dulu."

Aku mendudukkan diri di samping Midorima. Untuk melihat jelas, ia pun mendekatkan diri padaku. Lagi, tanpa sadar, tiba-tiba saja—PSUUUNG!—gunting melayang diantara kami, masuk melalui jendela kelas yang terbuka.

"HAH!" Midorima agak terkejut namun berpura-pura cool karena ia memang tsundere, kemudian sok membenarkan kacamatanya yang hampir retak. Dasar tsundere!

Lagi-lagi, orang itu mengganggu!

"AKASHI~!"

Aku berteriak—membuat suaraku menggema di kelas yang kosong itu.

Selama perjalanan di mobil untuk pulang ke rumah, tiada hentinya aku menyembur si tersangka dengan sumpah serapah. Orang yang dimarahi hanya cuek saja dan menyetir dengan santai.

.

.

.

Semua rangkaian kejadian mengerikan itu membuatku naik pitam dan puncaknya terjadi saat kepala sekolah memanggil dan mencerahamiku karena sudah seenaknya membiarkan seorang butler berkeliaran di sekolah dengan membawa senjata berbahaya—gunting merah—membawa terror mengerikan pada sensei dan murid laki-laki.

"Akashi, hentikan menggangguku di sekolah. Sudah cukup,"

"Aku hanya melindungimu dari jeratan orang-orang yang akan mencelakaimu," katanya santai. Mencelakaiku, katanya? Siapa disini yang sedang mencelakaiku, huh?

"Mereka itu temanku!"

"Tapi, gerak gerik mereka mencurigakan," lanjutnya dengan nada kalem.

"Yang mencurigakan adalah kau! Butler macam apa kau! tidak pernah ada sejarah butler melempari teman-teman Ojou-nya dengan gunting, memangnya kau siapa, Sebastian, huh?"

Tidak, tidak. Sebastian hanya melempar garpu dan sendok—bukan gunting.

Baiklah, aku tidak bisa menahan diri lagi dengan semua perbuatannya. Aku sudah memutuskan, "Mulai hari ini, aku berangkat dan pulang sendiri! Kau tidak usah mengantarjemputku. Kau kerjakan tugasmu di rumah! Sekarang, cepat pulang!"

Aku pergi meninggalkan dirinya yang terdiam dengan wajah mengerut dalam.

.

.

.

Seminggu sudah Akashi tidak mengantarjemputku. Aku juga tidak mengacuhkannya saat di rumah. Aku telah memerintahkan orang lain untuk membantu semua kebutuhanku—kali ini, aku benar-benar marah padanya, bahkan tidak mau bicara padanya. Sejak seminggu ini, akhirnya… akhirnya… aku terbebas dari terror mengerikan yang disebabkan olehnya—lemparan gunting dan ciuman pagi—setidaknya itu membuatku sedikit lega, hidupku menjadi tenang tanpa ada rasa debaran-debaran aneh di dada.

Hari ini aku tidak ada kegiatan. Aku bermaksud pergi jalan-jalan sendiri sepulang sekolah. Hari ini aku bebas. Ini pengalaman menarik bagiku, karena selama ini aku selalu ditemani orang gila itu kemana-mana bahkan sampai tidak bisa bermain bersama teman-teman karena ia akan memerintah untuk segera pulang. Aku tidak pernah punya kesempatan bermain layaknya gadis-gadis biasa lainnya.

"Tidak kusangka, banyak hal menarik disini."

Aku berkeliling kota sendirian. Awalnya, aku mengajak teman-teman tetapi mereka tidak bisa karena mereka sibuk dengan kegiatan mereka hari ini. Huh payah.

Aku melihat-lihat berbagai benda yang dijual diluar sana, dan juga mencicipi berbagai makanan yang di jual bebas—makanan yang tidak pernah kutau sama sekali.

Setelah lelah berjalan-jalan, aku bermaksud untuk pulang. Tetapi, aku tidak begitu mengenal kota itu karena selama ini aku selalu naik mobil kemana-mana. Aku mencari jalan raya dan akan naik taksi, tetapi sejak tadi kenapa aku malah berputar-putar ditempat yang sama?—jadi, intinya, aku tersesat, begitu? Aku terus berjalan menelurusi jalan tanpa sadar sampai di gang-gang yang sangat sepi.

"Ini dimana, ya? Aku tidak tau jalan,"

Merasa sudah pusing dengan ketersesatan, akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi rumah dan minta jemput—tentu saja, bukan meminta Akashi yang menjemput. Aku masih tidak sudi berinteraksi dengannya. Belum sempat menelepon tiba-tiba saja, "Hei, nona. Sejak tadi, aku perhatikan kau melewati jalan ini terus. Kau tersesat ya?"

Terlihat seorang laki-laki dengan tampang mengerikan bicara dan mendekatiku. Siapa orang ini? Sok akrab. Dahiku menyernyit—merasa terganggu. Berusaha untuk pergi dari sana, tetapi malah dipojokkan oleh orang itu—jalanku dihalangi olehnya. Lepaskan!

"Wow, sepertinya kau menarik juga. Lihat penampilanmu, phew~" orang itu mulai bersiul nakal kemudian menggenggam pegelangan tanganku. Ponselku pun jatuh dari genggaman.

"Bagaimana kalau nona bersenang-senang denganku? Dijamin puas," orang itu dengan gaya rambutnya yang berantakan tidak karuan mulai menyentuh bahuku. Aku berusaha melepaskan sentuhannya, namun ia menggenggamku dengan keras. AH! Terlalu kuat. Sakit!

"Lepaskan!" teriakku saat berusaha memukulnya dengan tangan yang masih terbebas namun ia berhasil menghindarinya. "—kalau tidak, aku akan berteriak!" tangan yang satunya pun dikunci lagi oleh orang itu supaya aku tidak bisa bergerak. Ah, gawat, bagaimana ini?

"Wow, tidak disangka, nona manis agresif juga. Aku jadi penasaran, silahkan berteriak, kau tidak lihat disini sepi? Apalagi sudah gelap. Ayo, ikut denganku."

TIDAK! Lepaskan aku! Genggamannya terlalu kencang!

Orang itu menarikku menuju gang sempit buntu dan gelap. Tubuhku meronta-ronta, mulutku terus berteriak minta tolong, namun entah kenapa tidak ada seorang pun yang merespon—aku mengharapkan apa? Tidak ada seorangpun disana. Orang itu memojokkanku di ujung gang dan mulai meraba tubuhku tanpa lupa menahan tubuhku yang terus meronta.

"AAAAH! Lepakan aku! Lepaskan!"

Tidak perduli dengan perlawananku, orang itu terus saja melanjutkan ritualnya. Tubuhku mulai gemetar hebat setiap di sentuh oleh orang itu. Jijik, takut, benci! Perbedaan besar antara kekuatanku dengannya membuatku tidak berdaya.

"Akashi, tolong aku! Akashi!"

Akashi! Akashi!

Aku teringat padanya. Aku terus saja memanggil namanya. Kenapa ia tidak datang? Katanya, ia akan selalu ada di sisiku, melindungiku. Namun sekarang apa? Di saat tidak berdaya seperti ini, ia sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya. Air mata mulai membanjiri pipiku. Aku takut! Takut! Terlalu takut.

Tiba-tiba saja seseorang menarik penjahat yang menyerangku—membuatku terbebas darinya dan bersimpuh lemas di tanah. Aku tidak begitu menyadari situasi—hal yang kusadar hanyalah suara pukulan bertubi-tubi dan bunyi nyaring himpitan besi-besi yang menghantam permukaan tanah. Mataku melihat ke depan. Ah.. Akashi sedang menghajar orang itu.

Akashi, kau datang menyelamatkanku? Tetapi, ada apa dengan ekspresi wajahmu?

Saat itu aku merasa lega. Namun juga takut melihat ekpresi wajah Akashi yang penuh dengan kebencian. Walau ia bertubuh lebih kecil, namun ia kuat sekali terutama ketika ada gunting di sisinya.

"Ahh. Apa-apaan orang ini?! Kau gila!"

Aku mendengar orang itu berteriak histeris. Orang itu berhasil kabur dengan wajah babak belur. Akashi baru saja ingin lari mengejarnya, namun ia berhenti melangkah. Dengan cepat, ia menoleh dan menghampiriku. Tanpa basa basi, aku menggenggam erat lengan bajunya dalam keadaan gemetar hebat.

"Ojou, kau baik-baik saja?"

Ia mendekapku erat. Sudahlah, aku tidak sanggup lagi bicara, aku hanya bisa meremas-remas baju dan punggungnya.

"—maafkan aku. Aku tidak ada saat kau butuhkan."

.

.

.

Aku melamun di atas ranjang dalam keadaan duduk. Setiap mengingat kejadian itu aku merasa sangat muak sekaligus takut.

"Ojou? Bagaimana keadaanmu?"

Ah, Akashi. Kalau dipikir, entah sejak kapan aku terus saja menggenggam pergelangan tangannya. Aku takut ditinggal olehnya.

"Maafkan aku. Seandainya, aku lebih teliti mengawasimu, mungkin aku tidak akan kehilangan jejak."

Apa katanya? Aku menoleh, memandang wajahnya.

Mengawasiku? Kehilangan jejak?

Mendengarnya, air mata tidak bisa tertahan. Aku selalu mengerti bahwa orang ini memang selalu ada disisiku. Tentu saja, ia selalu mengikutiku. Pasti, selama seminggu ini ia mengikutiku diam-diam. Aku tau itu… ia tidak bisa diperintah. Perintah untuk tidak mengawasiku tentu saja akan diabaikan olehnya. Orang seperti itulah dia.

"Ojou? Kenapa kau menangis lagi? Apa ada yang sakit?"

"Akashi… jangan tinggalkan aku lagi. Jangan lepaskan pandanganmu sedikitpun dariku. Selalu ada disisiku, melindungiku."

Ia tersenyum sambil menghapuskan jejak air mata di wajahku.

"Tentu saja, Ojou."

.

.

.

Pagi yang cerah menyambutku lagi. Aku terbangun dari tidur lelap. Kejadian mengerikan semalam entah kenapa bisa kulupakan sejenak. Sewaktu bergerak, tanganku tidak sengaja menyentuh sesuatu—wajah seseorang yang kini tertidur lelap disisi ranjang dalam keadaan duduk dibangku dan menyandarkan kepalanya di ranjang—Akashi Seijuuro.

Jadi sepanjang malam ia menemaniku?

Aku bangun dan memperhatikan wajah tidurnya. Wajahnya terlihat polos sekali saat tidur, tetapi kalau sudah bangun image-nya berubah. Tanpa sadar aku mendekatkan tangan pada kepalanya—merasakan setiap helai rambut merahnya—membelainya. Tidak kusangka, rambut merahnya sangat halus. Selama ini kupikir, mungkin tanganku akan terbakar jika menyentuh rambutnya.

Hah? Apa yang aku lakukan?

Menyadari terbuai halus rambutnya, aku menyingkirkan tangan dari kepalanya namun—GREP!—tanganku ditangkap oleh tangan seseorang yang seharusnya sedang tidur itu.

EH?

Akashi terbangun kemudian membenarkan posisi duduknya. Ia terus memperhatikanku dalam-dalam tanpa bicara. Pandangan tajamnya tidak berubah. Jangan memandangiku begitu, kumohon. Aku jadi malu mengingat ia sadar ketika aku membelai rambutnya.

Pergelangan tanganku yang erat digenggamnya, ia letakkan lagi diatas kepalanya. Akashi melepaskan genggamannya dan membiarkan tanganku berada diatas kepalanya. Apa maksudnya? Oh, tidak. Aku kembali merasakan helaian rambutnya sambil membuang wajah yang merona dipandangnya.

Ahhhh.. aku sudah tidak tahan lagi dengan debaran jantung ini. Segera, aku melepaskan tanganku dari kepalanya dan mengepalnya pelan dibalik selimut.

Tak lama kemudian, ia bangun dari duduknya, menghampiriku, mengambil daguku kemudian mulai menyerang lagi dengan ciuman paginya yang sejak seminggu yang lalu tidak dilakukannya. Biasanya, saat mendadak dicium olehnya, aku pasti akan memberontak dan mendorong tubuhnya. Namun kali ini, sepertinya tidak—aku memejakan mata seraya ia mulai memperdalam ciuman yang entah kenapa kali ini terasa sangat berbeda.

"Akhirnya, kau mengakui bahwa kau adalah milikku, Ojou."

Jangan tersenyum begitu! Membuatku malu saja.

"Aku akan selalu ada disisimu, melindungimu."

Ia memandangku lekat-lekat—tersenyum. Rona merah di wajahku sepertinya sudah menyebar kemana-mana. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa.

Senyuman itu tiba-tiba sirna. Ekspresi wajahnya berubah drastis.

"—saa, sekarang waktunya balas dendam. Akan aku bunuh orang yang sudah menyentuh Ojou-ku. Ha ha ha ha.."

Wajahnya mendadak mengerikan. Ia menghampiri meja terdekat untuk mengambil gunting yang ia tempatkan disana.

"A-Akashi?"

Eh? Kau mau kemana? Tunggu dulu! Kenapa wajahmu mengerikan begitu?

"Tenang saja, Ojou. Aku akan membunuhnya tanpa jejak. HAHAHAHA.."

Ia pergi keluar kamar dengan penuh aura hitam disekeliling tubuhnya. Apa yang dilakukannya selalu sempurna, mungkin membunuh orang pun akan dilakukannya dengan sempurna. Apa yang harus aku lakukan sekarang?

"AKASHIIII~!"


A/N :

*Chapter ini sudah diedit ke POV orang pertama tanpa diubah sedikitpun komponennya. Kayaknya sih. Maafkan ke-OOC-an Akashi disini. Semua itu disebabkan impian Sang Author yang tidak bisa terwujud kalau tidak melalui fic ini.