Note : Untuk para readers yang baru membaca fic ini, Chapter 3 adalah chapter paling panjang dan aneh. Jadi, maafkan lagi si Author tak bergunanya.


My Butler

Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi.

Saya hanya menggunakan karakternya dalam fic ini.


Chapter 3 : Tsundere Butler Type


.

Aku melihat ke arah kaca super besar yang ada di kamar. Kaca itu cukup besar hingga bisa membuatku melihat seluruh tubuh. Aku merapikan baju, kemeja, blazer dan menata rambut. Hari ini aku sudah siap melewati segala macam tantangan yang akan datang.

"Sip, persiapan oke."

Aku melirik ke arah meja yang ada di dekat jendela. Di sana, tertata rapi tea set berserta teh hangat yang harumnya menggoda. Hem, Earl Grey Tea. Disana juga terdapat menara kecil yang berisi penuh sandwich dan juga kue-kue manis kesukaanku.

Aku duduk di bangku dekat meja itu, lalu menuangkan teh tersebut ke cangkir berukir bunga lily dipinggirnya—ya, itu cangkir teh favoritku. Hmm.. Aroma teh memenuhi hidung. Aku menyesapnya dan menikmati perlahan.

Sip. Sudah siap untuk memulai hari. Setelah selesai menikmati secangkir teh dan juga sandwich, aku pergi keluar ruang tidur—mencari seseorang.

"Dimana Midorima?" tanyaku pada salah satu maid yang lewat di depan ruang tidurku. Aku sedang mencari orang bernama Midorima, entah kenapa ia masih belum muncul juga padahal aku sudah siap untuk berangkat.

"Sepertinya, aku melihatnya di ruang tamu sedang nonton TV, Ojousan."

"Apa?"

Tanpa basa basi, aku pergi menuju ruang tamu secepat mungkin. Langkahku menimbulkan bunyi dentuman cukup keras membuat maid-maid yang sedang membereskan rumah jadi menoleh ke arahku berjalan. Sampailah aku di ruang tengah dan mendapati pemuda berambut hijau sedang duduk di bangku memperhatikan televisi ukuran besar yang ada tidak jauh darinya. Aku menyernyitkan dahi melihatnya.

"Apa yang kau lakukan disini, Midorima?"

Orang yang kupanggil—Midorima, menoleh. Ia menatap sebentar lalu kembali memandangi televisi.

"Hari ini, cancer ada di urutan ketiga. Waw, tidak perlu khawatir. Jangan lupa, bawa lucky item kalian hari ini!"

Mendengar suara yang berasal dari televisi, aku menepuk kening perlahan. Ya, tidak ada yang bisa aku perbuat masalah ini. Rasanya sakit kepala.

"Baiklah, Oha-Asa sudah selesai. Ayo, pergi, Midorima."

"Baik, Ojou," katanya sembari mengikutiku dari belakang, namun, "—tapi Ojou, kita cari lucky item-ku dulu ya sebelum berangkat—penggaruk punggung."

"Hah? Hal konyol macam apa sih Oha-Asa itu? mana mungkin penggaruk punggung menjadi lucky item?"

"Tapi, kalau tidak membawanya, mungkin saja kita tidak akan sukses hari ini."

Tidak akan sukses hari ini? Aku tersontak kaget. Itu tidak bisa dibiarkan. Oke, lucky item dan diriku tidak ada hubungannya, kenapa harus khawatir? Tetapi, lucky item dan Midorima adalah satu paket, jadi..

"Oke. Ayo bergegas mencarinya."

Aku hanya bisa menerima kenyataan dan bersabar.

.

.

.

Midorima Shintarou—butler Ayahku—ya, awalnya ia adalah butler Ayahku. Midorima memiliki kemampuan akurasi yang tinggi sehingga ia dijadikan butler khusus untuk Ayah, membantunya dalam urusan bisnis. Banyak permasalah bisnis yang diserahkan pada Midorima karena penilaiannya yang sangat akurat, terlebih lagi dalam menentukan target yang tepat untuk peningkatan produksi perusahaan.

Sekarang, Midorima menjadi butlerku. Kenapa bisa begitu? Karena ia diperintahkan oleh Ayah untuk membimbingku. Aku akan memasuki dunia bisnis Ayah mulai hari ini—menjabat sebagai presiden direktur salah satu perusahaan milik keluarga. Jabatanku memang sudah tinggi, bukan karena aku adalah anak keluarga pemilik perusahaan, namun aku memang memiliki semua kualifikasi tersebut. Ayah bukanlah orang yang akan melakukan tindakan manis dengan menempatkanku pada posisi tinggi jika aku tidak memenuhi persyaratan.

Sesungguhnya, aku ingin melanjutkan studi di luar negeri namun karena jadwal pemberangkatanku masih tiga bulan lagi, Ayah menyuruhku untuk sementara memegang posisi presiden direktur menggantikannya untuk sementara. Disanalah Midorima berperan, ia akan menemaniku selama tiga bulan ini. Ia akan mengajariku segala hal tentang perusahaan secara detail karena Midorima sudah sangat familiar dengan keadaan perusahaan. Ditambah lagi, Midorima adalah orang kepercayaan Ayah. Ayah tau akan kualitas Midorima lebih dari siapapun—Ayah mempercayakanku padanya.

Benar, Midorima adalah orang yang sangat dipercaya oleh Ayah. Namun, aku tidak menyangka Midorima orang yang seperti itu. Midorima terobsesi dengan ramalan dan juga lucky item. Ramalan pagi Oha-Asa adalah acara televisi yang tidak pernah dilewatkan olehnya. Pertama kali menjadi butlerku, ia sudah meminta izin untuk tidak melayaniku saat jam 7 pagi karena ia harus menonton Oha-Asa. Saat itu, kuberpikir orang ini sangat konyol sekali—aku tidak percaya, orang yang dibanggakan Ayah adalah orang aneh seperti dia.

"Bagaimana? Merasa lebih baik setelah mendapatkan lucky item-mu?"

Kami baru saja keluar dari toko membeli penggaruk punggung. Bayangkan, pada umumnya, pagi-pagi mana ada toko buka. Untung saja, ada toko 24 jam di ujung jalan rumahku—dan anehnya, mereka menjual penggaruk punggung.

"Ya, tentu saja. Aku merasa lebih percaya diri,"

Baiklah, aku berusaha memakluminya. Terkadang, ia terlihat seperti anak kecil yang polos saat menemukan lucky item-nya. Mungkin baginya, itu penting walaupun bagiku itu sangat menggelikan.

Melihat wajahnya bahagia, aku hanya bisa tersenyum. Terlihat semburat merah di sekitar pipinya. Ia berusaha menegapkan tubuh dan menaikkan kacamatanya yang bahkan tidak merosot seinci pun.

"Wajahmu merah tuh. Ahaha,"

"Hah? Ti-Tidak. Ini efek cahaya matahari pagi nanodayo."

Cahaya matahari? Alasan yang buruk. Ya, itulah dia. Terkadang, ia tidak mau terang-terangan mengatakan isi hatinya. Entah malu atau apa. Terdengar gossip—maid-maid di rumah sering menggosipkannya—kalau Midorima adalah seorang Tsundere. Mungkin itulah sebabnya. Terkadang rasanya aku ingin tertawa terbahak melihat reaksinya yang malu-malu. Apa yang membuatnya malu? Aku tidak mengerti. Bukankah harusnya ia malu saat orang-orang melihatnya membawa benda aneh kemana-mana?

"Dasar, Tsundere-kun."

"Aku bukan Tsundere-kun, Ojou."

"Hai, hai, Tsundere-san."

"ITU TIDAK ADA BEDANYA! Kau hanya merubahnya jadi '-san'."

"Baiklah, Tsundere-chan."

Sepertinya, aku suka sekali meledeknya. Salah satu sisi manisnya bisa terlihat saat diledek seperti itu.

"Errrgh. Namaku Midorima Shintarou. Berhenti menyebutku begitu nanodayo," Ia membenarkan posisi kacamatanya dan kembali pada gestur sok cool-nya, "—Sudahlah, ayo pergi, Ojou. Nanti terlambat."

"Kau yang menyebabkan kita terlambat, karena lucky item-mu itu."

"Iya, maaf."

Ia mengangguk—tak lupa wajah malu-malu yang sok ditutupi masih menghiasi penampilannya.

"Sou? Kalau begitu, ayo Tsundere-sama."

"OJOOOOU!"

.

.

.

.

Gugup. Satu kata yang terucap dihatiku saat ini. Kenapa? Karena dihadapanku sudah ada berpasang mata memandangiku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rasanya, sedikit saja aku bergerak, akan ada bom atom melanda ruangan itu—ruangan tempat meeting para direksi dan pemegang saham terbesar.

"Baiklah, sebelumnya, saya minta maaf karena terlambat pada hari pertama saya bekerja," kataku tegas sembari melirik Midorima yang berdiri di sisi kanan dekat pintu. "—jadi, bagaimana kalau kita mulai?"

Beberapa orang mengangguk. Ada juga yang diam, ada yang terlihat kesal bahkan ada yang EH TIDUR? Oh, bukan, dia hanya menundukkan kepala jadi tidak terlihat wajahnya.

"Perkenalkan, saya presdir untuk sementara. Ya, saya adalah anak dari pemilik perusahaan seperti yang anda semua ketahui. Setidaknya, pasti kalian bertanya kenapa saya bisa dengan mudahnya meraih posisi ini? Maafkan saya, tetapi saya punya kualitas. Bukan karena pengaruh Ayah."

Aku mulai bicara penuh ekpresi. Berjalan berkeliling dan memainkan kedua tangan saat bicara. Aku menjelaskan berbagai macam keahlian yang kumiliki—berusaha meyakinkan mereka bahkan aku memang sanggup memenuhi kriteria mereka. Aku juga mengatakan bahwa ada Midorima di sisiku yang akan setia membantu untuk lebih mengenal tentang perusahaan dan membuktikan diri bahwa aku tidak hanya punya nama namun juga kemampuan serta leadership yang cukup untuk memimpin sebuah perusahaan.

"Maafkan saya lagi, pasti ada yang tidak terima masalah pengangkatan mendadak saya. Jika ada yang ingin bicara, saya persilahkan."

"Jika kau memang memiliki kualitas, maka buktikanlah. Kau masih punya waktu tiga bulan, benar? Gunakan sebaik mungkin," kata salah satu pemegang saham yang tertubuh sangat gemuk seperti akan meletus.

"Baik. Apa yang perlu saya lakukan?"

"Beberapa waktu belakangan, terjadi penurunan pada pendapatan investasi perusahaan. Bagi kami, dividen cukup penting disini," lanjut pria besar itu. Sisa dari mereka hanya mengangguk dan berdehem.

"Ho?" Mengangguk mengerti.

"Seluruh pemegang saham pastinya akan sangat senang jika kau setidaknya bisa mengembalikan posisi investasi perusahaan seperti sebelumnya atau mungkin membuatnya lebih baik."

"Begitukah? Baiklah, aku akan berusaha."

"Jangan hanya berusaha, tetapi lakukan sebuah langkah strategi. Kami menunggu hasilnya," lalu, mereka pergi dari ruangan itu bersamaan sebelum aku mengatakan setuju. Dasar, orang-orang seperti mereka memang terkadang.. sudahlah.

.

.

.

Ruang kantor baru.

"Well, Midorima, jelaskan semuanya padaku—mengenai perkembangan investasi kita."

Midorima mengangguk dan mengambil sebuah berkas yang ia simpan di map. Ia membaca dan membolak-balikkan halamannya kemudian mulai menjelaskan,

"Belakangan ini bisnis investasi portofolio mengalami kemunduran, Ojou. Bisa terlihat dari data ini," Ia menghampiriku dan memperlihakan berkas yang ia baca. Ia menunjukkan grafik dan data mengenai pengembalian investasi yang diperoleh selama 3 bulan belakangan.

"Ho," aku mengambil berkas tersebut dan melihat-lihat. "—menurutmu, apakah kita sebaiknya melakukan penggalakan dalam investasi portofolio lagi atau.."

"Kurasa tidak, Ojou."

Alisku naik ketika mendengarnya, dan mataku memandang dirinya serius, kemudian ia melanjutkan, "—salah satu rekan bisnis kita—keluarga Akashi akan memberikan kita jalan keluar."

"Akashi? Sepertinya, aku pernah mendengar nama itu."

"Ya, salah satu penerusnya adalah kenalan saya, Ojou. Dulu, kami pernah bermain basket bersama."

"Kalau begitu, pertemukan aku dengannya."

.

.

.

.

"Lalu, kenapa kita malah ke sini?" Aku bertanya-tanya kenapa kami malah berada di lapangan basket yang ada tak jauh dari kantor. Ya, didekat kantor ada lapangan basket karena ini salah satu tempat favorit Ayah untuk berolahraga dan sering di temani oleh Midorima saat sedang penat dengan pekerjaan.

"Seperti yang aku katakan sebelumnya, Ojou. Jika kau ingin berhasil, maka kau harus mempelajari shogi dan basket untuk menarik perhatian Seijuuro-san," Ia melepaskan jasnya dan menggulung lengan baju sampai siku.

"Aaah, menyebalkan. Kenapa untuk menarik perhatiannya aku harus capek-capek belajar basket dan shogi?"

"Kecintaan Seijuuro-san pada kedua olahraga itu sangat besar, kita bisa ambil keuntungan dari sana. Ia suka mengajak lawan bicaranya untuk melakukan olahraga itu bersama, jika kau bisa maka kemungkinan besar ia akan tertarik."

Menghela nafas. Sesungguhnya aku tidak suka olahraga, salah satu sebabnya adalah refleks tubuhku yang sangat buruk.

"Kenapa tidak bicara seperti biasa saja, setidaknya melakukan obrolan tentang basket dan shogi. Aku malas kalau harus menguras tenaga, cukup bekali aku pengetahuan dan aku akan menunjukkan bahwa aku tau banyak. Kurasa itu sudah cukup,"

"Tidak," sanggahnya, "—justru karena Seijuuro-san adalah orang yang sulit dihadapi maka cara terbaik untuk mendekatinya hanya melalui praktek olahraga ini. Kalau bicara empat mata dengannya kurasa sebelum kau bicara kau sudah tak sanggup berada di dekatnya."

"Hah? Maksudmu dengan tak sanggup?"

"Ya, menatap matanya saja sudah membuatmu merinding, Ojou."

Belum-belum aku sudah menelan ludah. Tapi kalau dipikir, mungkin tidak ada salahnya juga. Ini merupakan pengalaman pertamaku menghadapi salah satu rekan bisnis, mungkin diluar sana ada orang-orang yang lebih mengerikan. Ditambah lagi, jika aku tidak melakukan ini kemungkinan akan gagal sangat besar dan aku akan didepak dari perusahaan oleh bapak-bapak obesitas para direksi dan pemegang saham.

Tak lama, aku ikut menggulung kedua lengan baju, "Baiklah, ajarkan aku, Midorima."

Midorima mengambil bola basket yang ada di keranjang. Ia bersiap di posisi dan melompat untuk melakukan three point shot. Bola dengan mudahnya masuk ke ring.

"Hoooo~" Aku bertepuk tangan melihat kemampuan Midorima dalam three point, selama ini aku tidak pernah tau ataupun melihatnya main basket.

"Oke, sudah lihat? Lakukan seperti yang aku praktekkan. Kurasa untuk men-dribble tidak perlu aku ajari 'kan? Setahuku, sewaktu SMA Ojou pernah ambil olahraga ini, benar?"

Mengangguk, "Kenapa kau bisa tau?"

Ia mengalihkan pandangannya dariku. Kenapa? Entah kenapa aku bisa melihat adanya semburat merah di pipinya, "Aku tidak sengaja mendengarnya dulu. Bu-bukannya aku menguping ya!"

Aku hanya bisa menahan tawa melihat sikapnya. Benar, dulu, di sekolah setiap siswa diwajibkan main basket untuk ujian olahraga. Pada saat itu, aku pingsan karena terkena lemparan bola basket. Seingatku, aku menceritakan pada Ayah, membuat Ayah tertawa terpingkal-pingkal—benar-benar membuatku kesal karena Ayah malah menertawakanku, bukannya khawatir anaknya yang pingsan—saat itu, ada Midorima juga.

"Pfft..ya, sudah," Aku mengambil bola dan berusaha meniru form Midorima saat melakukan tembakan namun hasilnya nihil. Bola sama sekali tidak menyentuh ring sedikitpun, lebih tepatnya malah terlempar ke arah lain, "—Aaah, tidak masuk tuh," Aku menoleh padanya, "—kurasa kau harus membantuku."

Aku mengambil bola kedua dan menyodorkannya pada Midorima. Ia kembali memasang posisi siap menembak, namun sebelum ia melempar bola aku menarik lengannya, "Bodoh! Bukan begitu! Bantu aku caranya langsung!"

"Maksudnya?" Aku ikut memegang bola di tangan Midorima dan menyusup masuk diantara kedua tangannya yang memegang bola. Tubuhku menghadap ring dan membelakanginya sedangkan tangan kami bertautan memegang bola basket. Sepertinya, jarak punggungku dan dadanya hanya beberapa centi saja.

"—Cho-chotto, Ojou. Apa yang kau lakukan?"

Aku menoleh dan mendongak untuk bisa menatap matanya, "Bantu aku langsung, aku akan mengikuti gerakanmu." Lagi-lagi aku bisa melihat adanya rona merah di wajahnya sukses membuatku makin menahan tawa. Sepertinya aku suka sekali menggodanya.

Ia agak ragu saat mengangkat bolanya. Perlahan, bolanya terangkat. Tanganku masih memegang bola yang dipegangnya. Namun tak disangka, pemuda dibelakangku ini mengangkat bola tersebut terlalu tinggi—ya bagaimanapun juga ia bertubuh tinggi—sampai membuatku harus berjinjit untuk tetap mengikuti gerakannya. Ah, gawat! Aku.. mau jatuh!

Dalam sekejab, aku kehilangan keseimbangan dan punggungku menubruk dadanya. Aku bisa merasakan tubuhnya tersentak kaget saat tubuh kami bersentuhan.

Tetapi, aku harus menyelesaikan ini. Masih bersikeras untuk tetap melanjutkan dan tak melepaskan bolanya. Pandangan mataku kembali menuju ring. Tangan kiri Midorima bergerak maju bermaksud melempar bola, aku mengikuti gerakannya. Ia mendorong bolanya dan aku pun melepaskan genggaman. Namun saat ia mendorong bolanya, tubuhnya condong ke depan dan tak sengaja mendorong tubuhku. Aku yang sedang berjinjit makin kehilangan keseimbangan dan akan jatuh tersungkur ke arah depan. Tetapi, sebelum sempat jatuh—

"Ojou—" Ia melingkarkan kedua lengannya untuk menangkap tubuhku yang akan jatuh. Ya, posisi kami sekarang adalah ia memelukku dari belakang.

"Oh—hampir saja," aku bernafas lega tidak jadi jatuh. Saat menoleh ke belakang, aku mendapati wajahnya yang berada di sisi telingaku. Kami membatu dalam posisi yang sama untuk beberapa saat.

Errr… Terasa sedikit canggung. Tak lama kemudian, Midorima melepaskan pelukannya. Ke-kenapa jadi hening begini? Tapi… rasanya… aku mengerti sesuatu.

Setelah beberapa menit saling diam. Aku membalikkan badan dan menghadap Midorima. Menggaruk tengkukku yang tidak gatal, aku menatap iris emerald-nya kemudian mendekat dan memeluk tubuhnya.

"O-O-Ojou?" Suaranya terdengar gugup. "—apa ya-yang kau la-lakukan?" Tanpa melihatnya pun aku sudah tau kalau dipastikan wajahnya pasti merah seperti biasanya saat aku menggodanya.

"Hanya ingin memastikan sesuatu," ucapku pelan seraya membenamkan wajahku di dadanya. Ya, aroma tubuhnya pun menyeruak masuk melalui indera penciumanku. Ya. Aku mengerti sekarang. Aku… sepertinya…

Setelah memastikan sesuatu yang kukatakan sebelumnya, aku melepas pelukan dan menatap manik hijaunya, "—kurasa, aku suka padamu, Midorima."

"Hah?"

Ya. Begitulah kira-kira yang kurasakan.

.

.

.

.

Sebulan kemudian.

Hari ini, aku sudah ada janji untuk bertemu dengan anak dari keluarga Akashi yang dibicarakan oleh Midorima. Perjuangan panjang untuk mendapatkan waktu yang tepat untuk bisa menemuinya, akhirnya berbuah hasil. Selama menunggu bisa bertemu dengan orang itu, aku berusaha mencari jalan keluar untuk membangkitkan investasi perusahaan namun hasilnya tak bisa sebesar perkiraan jika berhasil menggaet keluarga Akashi.

Akashi Seijuuro—orang yang akan kutemui—mengundangku langsung ke kediamannya untuk bicara. Sesuai dengan cerita Midorima, aku merinding saat menatap langsung mata heterokromatik milik Akashi Seijuuro.

Ya, aku tau, aku pergi ditemani oleh Midorima. Semenjak pernyataan cinta mendadak dariku, entah kenapa ia terlihat segan jika berada di dekatku. Hal itu, membuatku sedikit khawatir karena aku kesulitan untuk meminta pertolongannya jika terdesak berhadapan dengan Akashi Seijuuro. Aku sudah menyerah soal basket dan malah memilih untuk mempelajari shogi saja. Aku pun menawarkan diri menantangnya untuk bertanding shogi sembari membicarakan hal bisnis daripada harus lama-lama berpandangan dengan mata belang mengerikan miliknya.

"Tidak kusangka, kau cukup berbakat dalam shogi," sahut pemuda berambut merah itu sembari tersenyum tipis namun bagiku senyuman itu terlihat mengerikan.

"Ah, tidak juga. Seijuuro-san lebih jago daripada aku."

Ia sedikit menyeringai dan membuatmu merinding lagi. Aura disekelilingnya sangat berbeda dengan butlernya yang sedang menyiapkan teh untukku—Kuroko Tetsuya.

"Silahkan dinikmati," ucap Kuroko sambil menyodorkan cangkir berisi teh Earl Grey kesukaanku, "—kudengar, anda suka sekali dengan teh Earl Grey jadi saya siapkan teh Earl Grey kualitas terbaik."

"Ya, terima kasih," sahutku seraya mengambil cangkir dan menyesap isinya. Aku sedikit terkejut dengan teh buatan butler keluarga Akashi itu. Enak sekali.

"Tetsuya, kerja bagus. Kelihatannya nona ini sangat tersanjung dengan teh buatanmu." Kuroko hanya menunduk dan kemudian kembali berdiri di samping tuannya. Sedangkan Midorima sejak tadi diam saja dan mematung berdiri di sampingku.

Kami melanjutkan obrolan sembari main shogi. Tak disangka dengan main shogi, kengerian yang disebabkan oleh Akashi Seijuuro bisa sedikit dilunturkan sesuai dengan ucapan Midorima. Tetapi, saat aku sedang terdesak dengan permainan dan juga kata-katanya, aku ragu-ragu untuk minta bantuan Midorima karena sikap tsundere-nya.

"Sejak tadi kau diam saja, Shintarou. Kulihat kau dan nona-mu ini sedikit canggung."

"Aku hanya sedang memperhatikan jalannya pertandingan Ojou dengan Seijuuro-san," ucapnya sembari menaikkan kacamata yang bertengger di lekukan hidungnya.

"Benarkah?" Ia tersenyum lagi. Si rambut merah mulai kembali menjalankan bidak shoginya membuatku terdesak karena lagi-lagi bidakku dimakan oleh bidaknya, "—jadi, kau menginginkan dana investasi, begitu?"

"Tidak hanya untuk menempatkan dana, Seijuuro-san. Aku ingin kita bekerja sama dalam bisnis pertambangan yang sedang dikelola keluarga Akashi," balasku padanya sambil menyesap lagi teh dan menjalankan salah satu bidak shogi.

"Aku tidak bisa begitu saja menempatkan dana disembarang tempat, nona. Kau harus memperlihatkan sesuatu yang akan menarik perhatianku."

"Kalau boleh tau, apa itu?" tanya Midorima. Untuk beberapa saat, Midorima dan Seijuuro-san saling berpandangan dan tak mengacuhkanku. Kemudian, Seijuuro-san berdiri dari tempatnya duduk dan menghampiriku. Ia menepuk pundakku dan Midorima bersamaan.

"Nona, bisa kita bicara berdua saja? Perintahkan Shintarou untuk keluar dari ruangan ini dan juga Tetsuya, kau keluar temani Shintarou."

Apa yang diinginkannya?

"Baiklah, Midorima, keluarlah sebentar," perintahku. "O-Ojou, tapi—" belum sempat Midorima melanjutkan perkataannya aku kembali memandanginya. Ia hanya menghela nafas dan akhirnya menyerah lalu keluar bersama Kuroko.

Setelah para butler keluar, pemilik mata belang itu berkeliling ruangan sembari mengelus-elus dagunya.

"Apa yang ingin kau katakan, Seijuuro-san?"

Ia menoleh, "Kau suka pada Shintarou?" Kata-katanya lagi-lagi membuatku terdesak. Kali ini benar-benar tepat sasaran, seakan ada panah menusuk jantungku. Hal yang membuatku bingung adalah dari mana orang ini tau?

"Kenapa—"

"Aku bisa tau?" katanya dengan nada tegas. Ia mulai berjalan mendekatiku lagi dan kembali duduk dibangkunya, "—biar kutebak, Shintarou menolakmu?" Aku diam tanpa adanya perubahan ekspresi. "—ah, bukan. Shintarou tidak merespon?"

Apa? Bagaimana orang ini bisa menebaknya? Ia kembali memasang seringaian khasnya.

Ya, benar. Midorima tidak merespon. Saat aku menyatakan cinta, ia pergi begitu saja meninggalkanku. Semejak saat itu, ia segan-segan denganku. Jarang berada di dekatku dan bersikap lebih sopan dari biasanya. Entah kenapa jarak diantara kami bertambah jauh padahal waktuku berada disini hanya tinggal dua bulan lagi karena aku harus segera berangkat untuk melanjutkan studi diluar negeri.

"Kurasa kita sedang membicarakan tentang investasi, Seijuuro-san." Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Tenang saja. Keluarga Akashi sudah lama bekerja sama dengan keluargamu. Aku tidak mungkin mengkhiyanati kerjasama yang sudah dibangun selama ini. Saat Shintarou menghubungiku, aku sudah tau apa yang akan kau lakukan. Aku hanya sedang bosan, jadi maaf jika aku membuatmu tak nyaman. Tak disangka, aku benar-benar menemukan hal menarik antara kau dan Shintarou."

Aku menelan ludah menyadari betapa mengerikannya orang yang ada dihadapanku sekarang. Tidak hanya karena ia bisa tau segala arti dari tindak-tandukku bahkan ia bisa dengan mudah mempermainkanku sejak tadi.

"Benarkah? Kalau begitu terima kasih. Aku sangat tersanjung."

"Lalu? Kau ingin aku bantu?"

.

.

.

Setelah selesai berbicara, aku dan Seijuuro-san keluar ruangan.

Entah kenapa, dengan cepat, Midorima berdiri dan memperhatikan kami. Wajahnya mengerut ketika melihat aku digandeng Seijuuro-san keluar ruangan.

"Shintarou, kurasa aku akan semakin sering datang kesini. Karena nona ini ingin sering bertemu denganku," katanya tak lupa dengan senyuman 'manis'nya. Midorima mengerutkan alisnya seakan menjadi satu tetapi ia tidak bisa protes apalagi berhubungan dengan Akashi Seijuuro, lagipula ia berkata aku yang menginginkannya.

.

Semenjak saat itu, aku sering sekali pergi bertemu dengan rekan bisnisku yang satu itu. Terkadang untuk main shogi ataupun hanya berbincang-bincang. Investasi pun didapatkan dengan mudah, aku juga memanfaatkan pertemuanku dengannya untuk meminta saran. Tak disangka, saran-saran yang diberikan olehnya sangat berguna. Jika diingat, aku lebih sering minta tolong padanya dibanding dengan pada butlerku sendiri. Ada masalah sedikit, aku selalu mengadu padanya.

Saat ini aku berada di ruang kerja di kediamanku. Aku baru saja selesai mengalisa laporan bulanan perusahaan dan menandatangi beberapa file penting. Beberapa menit yang lalu, aku barus selesai menelepon Seijuuro-san untuk bertanya masalah kemajuan bisnis pertambangan yang sudah dijalankan bersamanya. Selesai bicara melalui telepon, aku melihat Midorima yang sudah standby dengan beberapa kudapan yang biasa kunikmati di tengah-tengah pekerjaan.

"Ojou, kenapa kau sedikit-sedikit bergantung pada Seijuuro-san?"

"Memangnya kenapa?" Saat aku bertanya begitu, ia hanya bungkam seribu bahasa. Baiklah, jika ia tidak mau menjawabnya. Aku menghela nafas, bingung dengan apa yang sebenarnya Midorima pikirkan. "—habisnya, butlerku selalu menghindariku, lebih baik aku minta tolong pada orang lain."

Diam.

"Kau tidak boleh berdekatan dengannya, Ojou."

"Kenapa?"

Untuk kesekian kalinya, ia hanya diam. Aku menghela nafas berat kali ini, "Baiklah. Setidaknya, perusahaan menjadi lebih baik sekarang dan pak tua gendut itu tidak protes lagi. Terima kasih atas bantuanmu selama ini, Midorima. Besok aku akan berangkat, jadi jaga baik-baik perusahaan dan juga Ayah," aku berdiri dan menundukkan badan padanya sebagai permohonan untuk menjaga Ayah selama aku tidak ada. Ya, aku akan pergi selama 4 tahun jadi wajar saja.

"Ojou, jangan seperti itu nanodayo."

"Selama ini kau selalu menjaga Ayah dengan baik apalagi kondisi Ayah mulai memburuk. Tentu saja sebagai seorang anak aku sangat berterima kasih padamu." Aku berdiri dan kembali menatap mata hijaunya yang sebagian tertutupi rambut sepadan warna. Aku melanjutkan, "—Kau tidak usah menemaniku besok ke bandara, urusi saja beberapa file yang sudah aku baca tadi."

Apa raut wajahku menyedih?

"Selamat tinggal, kau baik-baik saja disini dan, " aku beranjak pergi dari ruang kerja dan membuka pintunya, "—aku menyukaimu, Midorima." Setelah itu, aku menghilang di balik pintu.

.

.

.

Aku pergi ke bandara ditemani oleh supir. Sebelum pergi, aku sempat bertemu dengan Ayah sebentar dan berpamitan meminta doa supaya sampai selamat disana. Ayah awalnya ingin menemani namun aku menolak, karena Midorima pasti akan ikut datang. Kalau harus pergi dan melihat wajahnya akan membuatku sedih apalagi teringat dengan dirinya yang selalu menghindar.

Aku berjalan menyusuri bandara mencari tempat untuk istirahat sebentar sembari menunggu keberangkatan 10 menit lagi. Mengedarkan pandangan mencari tempat kosong tetapi saat melihat pintu masuk, aku melihat seseorang berlari terburu-buru ke arahku—seseorang yang sepertinya kukenal dan berambut hijau memakai kacamata—eh?

"Midorima?" Ia berhenti di hadapanku, memangku tubuhnya dengan kedua tangan di lutut dan nafasnya terengah-engah, "—sedang apa kau disini? Aku bilang jangan kesini 'kan?"

"Ojou, apa kau baik-baik saja?" Ia mengobservasi setiap bagian tubuhku, berjalan mengelilingiku.

"Apa sih? Aku baik-baik saja, lihat." Aku merentangkan kedua tangan. Midorima kelihatan kebingungan.

"Loh? Tadi Seijuuro-san meneleponku katanya kau jatuh dan pingsan nanodayo."

"Hah?"

"—tapi, kok, kau baik-baik saja. Bahkan berdiri dengan gagahnya."

"Hah?"

Kami malah saling tatap-menatap kebingungan. Sejenak kumendengar ia mendecak pelan dan kemudian menghela nafas.

"Kurasa aku dipermainkan lagi olehnya."

"Hah?"

Jika diingat, ia menyebutkan nama Akashi Seijuuro. Ya, Seijuuro-san bilang ingin membantuku mendapatkan Midorima dengan cara selalu minta bantuan padanya dan membuat Midorima cemburu namun setelah diuji coba ternyata Midorima tidak menunjukkan apapun selain pertanyaan aneh. Lalu, sekarang apa? Jadi, alasannya datang ke sini karena dibohongi oleh Seijuuro-san kalau aku jatuh dan pingsan? Karena khawatir ia datang kesini?

"Jadi, kau datang kesini karena kau khawatir padaku?" Ia mengangguk sekali walaupun gerakannya agak samar-samar terlihat. Lihat, wajahnya mulai merona lagi. Ia berusaha menutupinya. Ada apa ini? Entah kenapa ada sesuatu dalam dadaku yang terasa berdebum tak henti.

"Ojou—" sebelum ia sempat berbicara, tanpa basa basi aku langsung menerjangnya. Memeluknya erat-erat seakan tidak mau berpisah.

"Midorima, Midorima, Midorimaaaaa—" Aku meneriaki namanya berkali-kali sambil mengusap-usap wajah di dada bidangnya. Rasanya mau menangis karena sesungguhnya aku ingin sekali ia datang menemaniku sekarang.

"A-Apa, Ojou?" katanya gugup. Ia hanya menyentuh pelan kepalaku dan sedikit menepuknya.

"Aku menyukaimu!"

"O-Oh, ya?" Aku sudah bisa memprediksi seperti apa wajahnya sekarang ditambah lagi aku seperti mendengar detakan jantungnya yang mendadak menjadi lebih cepat saat aku menenggelamkan wajahku pada dadanya.

"O-Ojou, le-lepaskan. Banyak orang yang melihat nanodayo."

"Aku tidak perduli. Sebentar lagi kita akan berpisah, jadi aku manfaatkan dulu! Lupakan dulu Tsundere-mu sebentar."

"A-Aku bukan tsundere nanodayo!"

"Aku suka padamu, Tsundere-kun, Tsundere-chan, Tsundere-san, Tsundere-samaaaa."

"Aku adalah butler, jangan panggil –sama dan aku bukan tsundere!"

"MASA BODOH!"

Aku melepaskan pelukanku dan mendongak melihat wajahnya yang sudah semerah udang rebus. Membuatku terkekeh dan kembali memeluknya sembari meloncat-loncat kegirangan.

Baiklah! Aku kembali menatap wajahnya dan menempatkan kedua tangan di pundaknya. Kakiku berjinjit berusaha untuk menggapai sesuatu namun tak sampai karena ia terlalu tinggi bagiku. Ah, tidak sampai!

"Kau mau apa, Ojou?" Melihatku yang berjinjit bahkan hampir melompat membuatnya bingung, ya?

"Bungkukan badanmu sedikit. Aku tidak sampai!"

"Ha? Untuk apa?"

Aku tersenyum nakal.

"Tentu saja menciummu, Tsundere-kun!"

"Oooh—EEEEH? APA? TIDAK!" Ia menggeleng-geleng.

"Sudah lakukan saja, cepaaat!" Aku seperti anak kecil yang minta permen. Di saat yang sama, kumelirik jam digital besar yang menunjukkan keberangkatan pesawat di bandara itu.

Ia tetap menolak tetapi aku terus memaksanya, akhirnya ia menundukkan kepala dan sedikit membungkukan tubuhnya, wajahnya pun sudah merah tak tertahankan seperti mau meledak. Walaupun begitu, aku tetap tidak bisa meraih bibirnya. Aku makin berusaha berjinjit dan bibirku berhasil menyentuh bibirnya hanya sedikit saja.

Perlahan, aku merasa bibirku makin menempel dengannya bahkan kakiku yang berjinjit kini sudah menapak penuh pada permukaan lantai. Ya, dipastikan ia semakin membungkukan tubuhnya, dengan begitu aku tidak perlu repot meraih bibirnya. Sekarang bibir kami sudah sepenuhnya bertautan memberikanku kesempatan lebih untuk menngecupnya lebih dalam namun tak disangka malah dirinya yang memimpin ciuman pertama kami. Ciumannya dipenuhi kecupan-kecupan kecil yang membuatku hanya bisa diam membiarkannya menciumi bibirku perlahan-lahan. Sesaat ia melepaskan ciumannya untuk mengambil nafas tetapi aku tidak mau menyia-nyiakan waktu sempit ini dan malah mempertemukan kembali bibir kami.

"Mi-do-ri-ma, tumben kau tidak malu dilihat banyak orang," ia sontak kaget dan melihat sekelilingnya sudah banyak orang memperhatikan tingkah laku kami berdua. Wajahnya makin merona dan menatapku malu-malu.

"…."

"HAHAHAHA," aku tertawa terbahak-bahak melihat ekspresinya, sedangkan ia berusaha pergi dan tentu saja aku menahannya, "—kau mau kemana? Kita belum selesai."

"Hen-Hentikan, Ojou. Aku mau pulang!" bentaknya padaku—mungkin—karena saking malunya.

"Tidak boleh, masih ada 5 menit lagi," aku menahan lengan kanannya. Ia berusaha pergi dan hampir menyeretku yang kukuh tak mau lepas darinya, "—Ayo, pergi ke ujung persimpangan sepi disana kalau kau malu, lalu kita lanjutkan ciumannya."

"Hah?" Ia kembali mengedarkan pandangan pada orang-orang yang mungkin saja mendengar omonganku. Ia sudah malu setengah mati. Seperti itukah Tsundere? Bukan begitu. Sepertinya, aku-lah yang bermasalah.

"Kita sudah dewasa kau tidak usah malu. Lagipula, kita akan berpisah lama sekali. Aku akan merindukanmu." Tubuhku membungkuk lemas. Ya, aku akan merindukan sikap tsundere malu-malu maunya. Sudah pasti. Tanpa sadar, aku melepaskan genggaman tanganku pada lengannya.

Entah apa yang terjadi, Midorima terdiam. Kemudian, ia mendekat dan kembali menciumku. Haha. Bahkan seorang tsundere bisa melupakan tsuntsun-nya disaat genting seperti ini.

"Aku akan selalu suka pada Midorima. Selama aku pergi jangan melirik yang lain ya."

Ia hanya mengangguk dengan rona merah menyebar penuh di seluruh wajahnya.

Pengumuman keberangkatan pesawat yang akan aku naiki sudah dikumandangkan. Bergegas pergi dan melambaikan tangan pada dirinya yang masih berdiri mematung dan merona disana. Yang bisa aku harapkan hanyalah ia akan baik-baik saja dan tentunya TIDAK MELIHAT YANG LAIN. Walaupun aku tau, ia tidak akan melakukan itu karena Midorima Shintarou adalah seorang Tsundere.


A/N :

*Chapter ini sudah diedit ke POV Orang pertama dengan sedikit diubah komponennya. Hihi. Kalo dipikir, ini chapter paling mirip sama drama2 korea gitu. Wakakak! Udah lupakan! Dengan begini, revisi selesai.