Note : Dibuat jadi sudut pandang orang pertama.
DIANJURKAN MENEKAN TOMBOL(?) BACK SEBELUM ANDA MENYESAL. INI TOTALLY FAILED!
My Butler
Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi.
Saya hanya menggunakan karakternya dalam fic ini.
Chapter 4 : Deredere Butler Type
.
Aku terbangun dari tidur nyenyakku. Sembari mengusap mataku yang berat tak ingin terbuka, aku duduk dan memandang ke luar jendela di dekat ranjangku.
Hari ini adalah hari yang cerah ya.
Aku berdiri dan menghampiri jendela besar yang terhubung dengan balkon kemudian membukanya perlahan. Hm… Udara dan angin pagi yang segar menyapu wajah dan helaian rambutku. Matahari bersinar menyilaukan dan menyejukkan. Pemandangan dan suasana indah ini mengingatkanku pada seseorang—ya, seseorang yang sebentar lagi akan hadir di sisiku lagi.
Tok! tok! tok!
"Ya, masuk."
Wangi teh menyeruak masuk memenuhi setiap sudut ruang tidurku. Aku menoleh dan mendapatkan seorang maid berambut cokelat tengah menggerek meja kecil untuk sajian teh.
"Apa itu teh bunga krisan?"
"Ya, Ojousama."
Aku keluar ruangan menuju balkon dan duduk di bangku yang bersisian dengan meja kecil yang berada disana. Maid tersebut menuangkan teh ke cangkir dan memasukkan kelopak bunga krisan mungil ke dalamnya kemudian menyajikannya di meja. Aku mengangkat cangkir itu dan memperhatikan isinya. Wajahku terpantul di permukaan teh berwarna kuning cerah itu. Bunganya berputar-putar mengambang di permukaan. Aku tersenyum teringat orang dengan warna dan memberikan efek relaksasi yang sama.
"Kudengar, Kise-san akan kembali hari ini. Apa itu benar, Ojousama?"
Aku mengangguk seraya menyesap teh.
"Syukurlah. Semuanya merindukan Kise-san. Tak disangka empat tahun terlewat begitu saja."
"Benar." Aku tak bisa menahan senyuman yang merekah ini. Akhirnya, aku bisa bertemu lagi dengannya. "—ah, tolong beritahu yang lain, kita akan mengadakan pesta kedatangan Kise. Jangan lupa beritahu Satsuki dan Daiki untuk datang."
"Baik, Ojousama."
"Sekalian, aku titip pesan untuk Daiki. Bilang, jangan kebanyakan main di pantai nanti tambah hitam."
"Baik, saya permisi dulu. Jika ada keperluan, bisa panggil saya segera." Aku mengangguk. Maid itu berbalik meninggalkanku sendirian.
Aku bersantai sembari menyurup habis tehku pagi ini.
"Ojoucchi suka sekali melihat langit ya," katanya.
Tiba-tiba aku teringat kata-katanya itu saat memandangi lekat langit biru cerah yang terhampar di hadapanku. Ucapan yang selalu meluncur dari mulutnya setiap kami melihat langit bersama. Aku pun bergumam sendirian, "Ya, melihat langit memberikanku ketenangan. Indah dan luas. Dan akhirnya, aku bisa menikmati indahnya langit bersama denganmu lagi…"
.
.
.
Aku baru saja selesai mandi dan berpakaian. Sembari duduk di bangku meja, aku merapikan penampilan. Kaca besar yang ada di hadapanku memantulkan sebuah bayangan selain diriku—tidak, lebih tepatnya, khayalan. Khayalan dimana seseorang melirik ke arahku melalui kaca dan berkata, "Hari ini kau bertambah cantik, Ojoucchi."
Aku tertawa mengingatnya. Haruskah sampai seperti ini aku mengingatnya? Apa karena ia akan kembali? Tingkahku sejak tadi sangat berlebihan.
Aku melirik jam berlapis lemari kayu besar di ujung ruangan. Seingatku ia akan sampai di bandara pagi ini dan mungkin akan sampai disini sekitar 1 jam lagi.
"Aku harap waktu berjalan lebih cepat…"
Orang yang sedang kutunggu kedatangannya adalah butlerku sendiri. Ya, namanya Kise Ryouta. Ia punya rambut blonde dan wajah yang cantik untuk ukuran laki-laki. Kepribadiannya seperti matahari. Menyilaukan sekaligus menghangatkan. Ceria dan semangat. Tapi ia juga cengeng dan suka merengek seperti anak kecil.
Selama tiga tahun, ia pergi ke Inggris untuk belajar. Awalnya kukira ia ingin sekolah khusus butler disana tetapi nyatanya tidak—ia kuliah di universitas umum. Tetapi ia sempat bercerita lewat telepon kalau disana ia juga mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan profesinya sebagai butler.
Sesungguhnya aku tidak mengerti alasannya ingin bersekolah di luar negeri. Ia tiba-tiba saja berkata begitu dan hal yang membuatku heran adalah ia berkata ingin meningkatkan diri dan menjadi orang yang lebih baik. Melihat wajahnya waktu itu membuatku yakin akan tekadnya yang sudah bulat. Dan akhirnya, ya, ia pergi selama empat tahun. Tapi, tidak apa-apa. Yang terpenting ia akan kembali.
Tok tok tok!
"Ojousan, Kise-san sudah tiba."
"Benarkah?" Aku berdiri dan langsung berlari ke luar kamar diikuti maid yang memanggilku tadi. Berjalan menyusuri lorong dan menuruni tangga. Samar-samar aku mendengar rengekan suara laki-laki yang cukup nyaring dan tinggi diselingi tawa beberapa orang. Aku dapat mengenali suara tinggi siapa itu. Rumah besar ini membuatku membutuhkan waktu untuk sampai di tempat mereka berkumpul.
Aku sampai di ruang tamu. Beberapa orang tengah mengelilingi seseorang. Menyadari keberadaanku yang sedang berusaha kembali bernafas normal, satu per satu dari mereka menyingkir memberikanku jalan untuk bisa melihatnya. Ya, melihat pemuda bersurai kuning yang entah sejak kapan bertambah tinggi dan tampan. Ia melirik—Iris mata madunya bertemu dengan milikku kemudian ia memasang sengiran andalannya.
"Ojoucchi… Tadaima."
"Okaeri….Kise."
.
.
.
"Jadi, apa oleh-oleh untukku, Kise?" tanya pemuda yang berkulit gelap, namanya Aomine Daiki. Ia suka sekali main di pantai hingga kulitnya hitam legam seperti itu. Sebenarnya tujuan ia main ke pantai karena ingin melihat gadis-gadis berbikini.
"Ah? Aku lupa-ssu." Orang yang ditanya menggaruk-garuk pipinya.
"Hah? Kau tega sekali. Yang lain kau berikan oleh-oleh sedangkan aku tidak?"
"Jadi Ki-chan tidak membelikanku oleh-oleh juga?" Gadis muda berambut pink ikut-ikutan memajukkan beberapa centi bibirnya—Momoi Satsuki—sepupu jauhku. Wajahnya cantik dan dadanya errr…cukup menarik perhatian. Satsuki seumuran denganku sedangkan Daiki seumuran dengan Kise. Sejak kecil kami selalu bermain bersama. Kise sendiri datang ke rumahku sejak aku berumur 10 tahun jadi mereka sudah kenal akrab dengannya.
Ngomong-ngomong kalian minta oleh-oleh? Aku saja tidak dikasih. Kise hanya membawa oleh-oleh untuk para pelayan yang lain. Ojoucchi-nya sendiri dilupakan.
"Maaf-ssu. Sebenarnya aku mau bawakan sesuatu tapi aku tidak tau apa yang cocok untuk kalian."
Ia menyengir lebar. Satsuki dan Daiki hanya menghela nafas panjang.
Untuk mencairkan suasana, aku berkata, "Terpenting Kise sudah kembali 'kan?"
Satsuki menggangguk sedangkan Daiki merangkul bahu si butler blonde dan berkata, "Benar! Kau sudah kembali. Jadi, jaga lagi teman baikku ini dengan benar ya."
Kami melanjutkan mengobrol bersama. Ya, sekarang kami sedang merayakan pesta kedatangan Kise. Beberapa pelayan yang lain juga ikut memeriahkan. Kami melakukan banyak hal, seperti mendengarkan celotehan Kise mengenai pengalamannya di tempat ia belajar lalu main beberapa games bersama. Ya, malam yang sangat menyenangkan. Aku bisa melihat wajah Kise yang makin berseri.
.
.
.
Selesai pesta, aku kembali ke kamar dan duduk di balkon menikmati langit malam yang dipenuhi oleh jutaan bintang bersinar indahnya. Mengingat momen-momen membahagiakan bersama yang lain.
"Ojoucchi suka sekali melihat langit ya."
Aku menoleh dan mendapati pemuda janggung berpakaian rapi membawa sebuah gelas tebal.
"Ini. Silahkan—" Aku mengambil gelas itu dan melihat isinya, "—Ojoucchi pasti akan minum segelas cokelat hangat saat memandang langit malam. Iya kan?" Ah, ia masih ingat. Ya, mana mungkin ia melupakannya begitu saja?
"Duduklah di sampingku." Ia tersenyum dan mendekat kemudian duduk di sampingku.
Aku menyeruput pelan cokelat panas itu. Ah, nikmatnya. Apalagi sembari melihat indahnya malam.
"Selama aku pergi, apa Ojoucchi baik-baik saja?"
"Iya." Aku tersenyum padanya. Entah kenapa kami hanya terdiam untuk beberapa saat. Aku sangat senang ia kembali tetapi entah kenapa ada sesuatu yang tak dapat aku ungkapkan sekarang. Aku tidak mengerti.
Tiba-tiba saja ia berteriak, "Ah! Aku lupa!" Terkejut aku saat mendengarnya. Ia berdiri dan, "Maaf Ojoucchi. Aku akan kembali, mohon tunggu sebentar." Aku mengedip bingung saat aku melihatnya keluar ruang tidurku. Sejak kapan ia jadi pelupa?
Tak lama setelah itu Kise kembali membawa sebuah kotak besar. Apa itu? ia menyerahkan kotak itu padaku.
"Aku sengaja memberikannya belakangan. Maafkan aku. Ini hadiah untuk Ojoucchi."
"Untukku? Apa ini?"
"Silahkan dibuka." Ia tersenyum malu-malu sembari menggaruk tengkuknya. Wajahnya terlihat manis untuk ukuran laki-laki.
Aku membuka kotak tersebut. Di dalamnya ada sebuah long dress elegan berwarna peach yang dihiasi dengan aksesoris bunga lily di sekitar pinggang dan kerahnya. Gaun yang sangat memukau.
"Ini..?"
"Maafkan aku Ojou, mungkin aku tidak bisa memberikanmu gaun semahal milikmu tapi itu gaun tercantik yang aku lihat disana. Kurasa cocok sekali untuk Ojoucchi. Hehehe."
"Kenapa?"
"Aku sedikit bingung ingin memberikanmu apa karena tidak ada yang pantas dengan Ojoucchi yang anggun, jadi… ya, beberapa hari sebelum aku pulang, aku menghadiri sebuah pesta dan disana banyak pasangan yang berdansa. Gadis-gadisnya memakai gaun yang sangat indah. Jadi, saat itu aku pikir…mungkin gaun cocok untukmu-ssu."
Ia terus bicara mengungkapkan sesuatu yang tidak jelas. Ekspresi wajahnya terkadang malu-malu tapi aku masih bisa melihat keceriaan di dalamnya. Intinya, sesuatu yang aku mengerti adalah ia tetaplah orang yang sama.
Ia bercerita bahwa sebelum pulang, ia mencari gaun di berbagai toko di sana. Saat hampir putus asa tidak menemukan yang cocok, tiba-tiba ia melihat gaun yang dipajang di etalase toko dress sederhana. Walaupun tidak mahal, ia bilang itu adalah gaun tercantik yang ia temukan. Aku sendiri merasa sangat senang apalagi gaunnya memang sangat cantik. Elegan dan terkesan menyenangkan.
"Ternyata kau juga memberikanku oleh-oleh? Kasian sekali Satsuki dan Daiki."
"Ah, tenang saja, Ojoucchi," Ia tertawa puas, "—aku bohong. Sebenarnya aku sudah siapkan oleh-oleh khusus untuk mereka berdua. Sebelum mereka pulang sudah aku berikan."
"Benarkah?"
"Untuk Nona Momocchi, aku berikan sebuah buku ampuh cara belajar memasak. Buku itu sangat terkenal disana, best-seller dan terbukti. Aku juga memberikannya sebuah topi santai berwarna pink. Sedangkan untuk Tuan Aominecchi—sebenarnya ia sudah berpesan sesuatu padaku sebelum aku berangkat, ya, itu… majalah…em…" Kata-katanya terputus-putus di akhir.
Aku sweatdrop mendengar apa oleh-oleh untuk Daiki. Well, persis yang kuduga.
"Baguslah."
Aku mengangkat tinggi gaun pemberian Kise. Beberapa manik perhiasan yang menempel di sana berkelap kelip indah namun tidak berlebihan. Ya, tepat sekali. Ini memang gaun tercantik yang pernah kulihat. Bahkan pakaianku yang lain saja kalah. Ditambah lagi, ini hadiah darinya.
"Ano…Ojoucchi..Bersediakah kau mencobanya? E—to, aku takut ukurannya salah-ssu."
Aku menatapnya lembut kemudian mengangguk, "Tunggu sebentar."
Aku berlalu menuju ruangan tempat aku bisa mencoba gaun itu. Aku melepaskan pakaianku dan menggantinya dengan gaun tersebut. Kaca besar yang ada di sana memantulkan sosok diriku yang dibalut sempurna dengan sebuah gaun elegan. Aku keluar dan pergi menuju balkon tempat Kise menunggu dengan wajah gelisah. Kenapa ia berwajah seperti itu?
"Bagaimana?"
Kise melirik dan sejenak aku bisa melihat kelopak matanya terbuka lebar. Aku berputar-putar perlahan di tempat untuk memperlihatkan bagaimana gaun itu menempel di tubuhku.
"Sangat cantik-ssu."
Senyumannya kusambut dengan sebuah tawaan lega. Kupikir, gaun seindah ini tidak pantas dipakai olehku.
"Bagaimana kau bisa tau ukuranku? Ini sangat pas. Tidak sempit dan tidak longgar."
"Entahlah. Saat memilihnya aku berusaha membayangkan Ojoucchi di sisiku. Dan begitulah," lanjutnya. Beberapa kali aku lihat wajahnya memerah merona. Tak lama kemudian ia mendekat dan berlutut di hadapanku sembari menyodorkan tangan kirinya. Telapak tangan kirinya menengadah meminta untuk menyambut sesuatu.
"Ojoucchi, shall we dance?"
Aku terperanjat sesaat mendengar ajakannya. Dasar.
"Aku tidak bisa berdansa."
Ia mendongak menatapku. Senyuman khas penuh kepuasan terukir di wajahnya.
"Aku akan mengajarimu. Cukup dengan melihat sekali orang berdansa, aku bisa menirunya. Ojoucchi ingatkan aku adalah seorang Perfect Copier.."
Sudut bibirku sudah tidak bisa ditahan untuk tidak mengulir sebuah senyuman. Sembari terkekeh aku menyambut tangannya. Ia berdiri dan meletakkan telapak tangan kanannya di pinggangku. Aku semakin dekat dengan tubuhnya. Tangan kiriku berada di bahu kirinya dengan elegan. Tangan kami yang lain saling bertautan.
"Ikuti gerakanku ya, Ojoucchi."
"Maaf kalau aku menginjak kakimu."
Ia hanya tersenyum, "Tenang saja, Ojoucchi. Aku akan membimbingmu dengan baik."
Kaki kami mulai melangkah perlahan. Beberapa kali aku hampir saja salah melangkahkan kaki dan menubruk tubuh Kise. Ya, kiri, depan, belakang dan kanan. Begitu seterusnya. Kise memberikan instruksi perlahan sampai akhirnya aku mulai terbiasa.
Setelah mulai terbiasa, aku terus memandangi wajahnya. Ia bertambah tinggi. Helaian rambutnya juga mulai memanjang menutupi sisi wajah tampannya. Sentuhan jari-jarinya sangat hangat. Senyumannya pun menyilaukan. Ia tidak tampak seperti seorang butler—ia lebih terlihat seperti seorang entertainer.
Selama memandanginya, ia terus bicara mengenai tata cara dansa yang baik. Ia juga berkata bahwa dansa adalah suatu cara yang baik untuk menyelaraskan diri dengan pasangan—entah kenapa saat mengatakan itu wajahnya merah seperti udang rebus—belajar tentang bagaimana menggerakkan kaki dengan benar, hitungan langkah dengan benar, serta sebagai laki-laki yang menjadi leader dalam sebuah dansa haruslah dapat mengarahkan pasangannya dalam suatu ruang gerak tanpa kesalahan. Ya, menciptakan keseimbangan dan keselarasan bersama.
Selama beberapa saat kami berdansa di bawah siraman sinar bulan dan diiringi gugus bintang-bintang yang tersebar luas dan indah di langit malam. Ya, hari ini memang hari yang menyenangkan.
"Ano..Ojoucchi. Aku punya hadiah lain untukmu. Aku pastikan kau akan menyukainya."
Ia melepaskan genggamannya. Melepaskan diri dari kedekatan kami. Ia mengambil kotak tempat menaruh gaun yang sedang kupakai. Merogoh sesuatu di dasar kotak itu.
"Ini."
Ia menyerahkan beberapa buah foto pemandangan yang indah. Mulai dari gunung, jalanan kota, toko dan lain sebagainnya.
"Kalau yang ini pasti Ojoucchi suka. Aku juga sangat menyukainya."
Ditunjukkanlah beberapa foto yang merekam keindahan langit. Langit malam, langit sore, langit saat hujan, langit bersalju. Banyak sekali.
"Setiap melihat langit aku teringat dengan Ojoucchi. Kau pernah bilang kau ingin berkeliling dunia untuk memotret berbagai langit di belahan dunia 'kan? Ini salah satunya, aku dapatkan saat berada di Inggris. Indah bukan?"
"Ya. Sangat. Terima kasih atas hadiah berharganya."
Tanganku menggenggam erat foto-foto itu. Memori masa lalu saat bertemu dengan Kise pertama kali kembali terngiang dalam benakku. Saat pertama kali bertemu dengannya, waktu itu ia belum menjadi butler-ku tetapi Ayahnya, saat itu aku berumur 10 tahun. Ayahnya sudah bekerja dengan keluargaku selama bertahun-tahun. Ayah Kise bertemu dengan wanita yang dicintainya dan menikah kemudian berhenti menjadi butler keluargaku. Namun ada berita bahwa Ibu Kise meninggal dunia karena sakit. Sesaat setelah ibunya meninggal, Ayahku menawarkan mereka untuk bekerja kembali di keluargaku. Saat itulah aku mengenalnya.
Waktu itu Ia bertanya kenapa aku selalu duduk lama memandangi langit. Ya, karena aku suka memandang langit. Saat itu ia memberikan sebuah foto langit dekat rumahnya yang dulu. Katanya, itu adalah foto langit yang ia potret dari atas atap rumahnya. Saat memotretnya ia hampir jatuh terpeleset. Tak lama, ia berkata, "Ayahku bilang ada seorang tuan putri di rumah itu, ia suka sekali melihat langit. Jadi, aku membawakan ini untuk Ojoucchi."
Begitulah. Hah. Kenapa aku selalu mengingat masa lalu? Ada apa denganku?
Tiba-tiba aku samar-samar mendengar pintu kamar tidurku di ketuk dan tak lama suara terpendam terdengar di balik pintu, "Ojousama, Tuan Besar baru saja kembali. Beliau ingin bertemu dengan anda dan Kise-san di ruang kerja."
Kami saling menatap. Berkedip bingung.
"Baik. Aku segera ke sana."
.
.
.
Aku dan Kise menemui Ayah di ruang kerja. Beliau duduk dan memperhatikan beberapa berkas di mejanya. Melihatku dan Kise masuk ruangan, ia mendongak dan kemudian tersenyum.
"Woah, Kise, kau bertambah besar dan tampan. Lama tidak berjumpa. Selamat datang kembali."
"Terima kasih, Tuan Besar." Kise membungkukkan tubuhnya di hadapan Ayah.
Ayah menyadari pakaian yang tidak biasa kupakai dalam rumah, "Anakku, kenapa kau pakai gaun?"
"Ah, aku sedang mencobanya, Ayah. Ini hadiah dari Kise," sahutku sembari berputar menunjukkan gaun baruku, "—indah bukan?"
Ayah berdehem sejenak, "Hmm…ya, sangat cocok untukmu, nak."
Aku dan Kise saling berpandangan setelah mendengar komentar Ayah. Tersenyum. Ya, Ayahku adalah orang yang baik, namun kadang menakutkan juga.
"Jadi, kenapa Ayah memanggilku?"
"Ayah ingin membicarakan sesuatu denganmu, sekaligus menyapa Kise. Lagipula, ada baiknya jika Kise sebagai butler-mu lagi berhak mengetahuinya."
Ayah melipat kedua lengannya di dada. Ia mulai berjalan mendekat jendela di balik bangku kerja. Menoleh dan memandang kami berdua yang tidak mengerti apa yang ingin dibicarakannya.
"Begini, beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan teman lama Ayah—Murasakibara-san."
"Benarkah? Keluarga berambut ungu itu? Yang pernah Ayah tunjukkan fotonya?" tanyaku semangat. Ya, seingatku, Ayah sangat dekat dengan orang bermarga Murasakibara itu.
"Ya, benar, nak. Aku juga sudah bertemu langsung dengan anak laki-laki Keluarga Murasakibara. Ia sedikit eksentrik tapi ia anak baik."
"Eksentrik? Lalu?" Aku memiringkan kepala. Tanpa berkedip aku terus memandangi wajah Ayah. Sejenak aku sempat melirik Kise yang berdiri tegap memperhatikan dengan seksama.
"Ya. Kurasa kau sudah cukup dewasa."
Entah kenapa ada suatu firasat yang tidak mengenakkan hati timbul dalam diriku saat itu, "Apa maksud Ayah? Aku tidak mengerti."
Ayah berhenti sesaat. Beliau menopang dagu dengan sebelah tangan, memandangku penuh harapan, "Ya, kau harus mengakrabkan diri dengan Atsushi mulai sekarang karena aku ingin ia menjadi menantu masa depanku. Aku dan Murasakibara-san sudah sepakat sejak dulu."
"Apa? Jadi, Ayah diam-diam menjodohkanku?"
Dahiku berkerut. Sedikit tidak menyangka hal ini terjadi terlalu cepat.
"Ya," Beliau mengangguk. Aku bingung harus berbuat apa. Ini adalah keinginan Ayah, aku tidak pernah sekalipun tidak memenuhi keinginan orang tuaku.
Mendadak Kise menginterupsi, wajahnya kelihatan panik. Ada apa dengannya?
"Tunggu, Tuan Besar. Bukankah ini terlalu cepat?"
Ayah melempar pandangannya menuju si butler blonde, "Tidak usah khawatir. Aku tidak menyuruh anakku menikah besok. Hanya saja, aku ingin anakku mengenal calon suaminya mulai sekarang." Jeda sebentar, Beliau menilik tajam mata Kise, sedangkan Kise terlihat gelisah, "—ku ingin kau mengerti. Ah, benar, besok mereka aku undang untuk makan malam di sini jadi Kise, bantu anakku menjadi anak baik yang cantik."
Kise hanya terdiam dan mengangguk perlahan. Ayah kembali memusatkan perhatiaannya padaku.
"Aku berharap besar padamu, nak."
Ya, kata-kata itu selalu meluncur dari mulut Ayah saat ia mengharapkan sesuatu dariku. Aku tidak bisa berbuat apapun.
Selesai bicara, aku dan Kise pergi dari ruang kerja Ayah. Aku berjalan terus menuju kamar tanpa memperdulikan beberapa orang yang kulewati. Entahlah, rasanya campur aduk. Kepalaku pusing.
"Ojoucchi.."
Aku lupa kalau Kise sedang mengikutiku. Saat menoleh, aku melihat wajahnya tertunduk. Entah kenapa rasanya aku tidak ingin bicara dengannya sekarang. Tetapi, aku berusaha mengendalikan perasaanku.
"Ada apa Kise?"
Manik madunya terlihat meredup.
"Ah..iya…tidak apa-apa. Sebaiknya Ojoucchi segera tidur. Ini sudah malam-ssu."
"Ya, aku pergi ke kamar sendirian saja. Kau kembali ke ruang tidurmu, pasti kau sangat lelah baru saja tiba hari ini."
Ia menundukkan kepala. Aku pergi meninggalkannya.
Aku merasa ada sesuatu yang bergejolak dan rasanya aneh sekali. Sesak.
.
.
Esok harinya, hari terlihat mendung. Meskipun begitu, kamarku terlihat cerah karena vas bunganya kembali terisi dengan warna kuning bunga krisan. Aku memandang keluar jendela. Suasana mendung ini kenapa terasa familiar?
Aku mandi dan merapikan diri. Tak lama Kise mengetuk pintu dan memberitakukanku kalau sarapan sudah siap. Aku dan Kise hanya saling menatap tanpa bicara. Aku pergi menuju ruang makan dan bertemu dengan Ayah yang sudah siap di meja makan. Selama makan aku tidak bicara sama sekali. Entahlah, rasanya aku tidak mau bicara.
"Keluarga Murasakibara akan tiba jam 7 malam. Siapkan semuanya dengan sempurna, Kise."
"Baik, Tuan Besar."
.
.
Malam hari pun tiba.
Aku disuruh berdandan sedemikian rupa. Memakai pakaian yang anggun berhiaskan manik-manik berwarna ungu. Awalnya, aku ingin sekali memakai gaun yang dihadiahkan oleh Kise namun rasanya aneh, ya, kenapa saat melihatnya dadaku terasa sesak? Bukankah aku sangat menyukai hadiah itu?
Keluarga Murasakibara datang. Ayah, Ibu, seorang gadis yang lebih tua dariku dan seorang pemuda bertubuh sangat tinggi. Aku diperkenalkan dengan pemuda itu. Jadi, ia adalah calon suamiku? Tubuhnya besar sekali dan kenapa ia selalu membawa makanan kemana-mana bahkan sesaat sebelum makan malam ia masih saja mengunyah. Apa ini yang disebut eksentrik oleh Ayah?
Selesai makan malam, Ayah memintaku untuk mengajak pemuda jangkung itu untuk berkeliling rumah sembari ngobrol. Aku sendiri bingung harus berbuat apa jadi aku menurut saja. Selama bersama dengan pemuda itu tidak ada kesan selain 'ia suka sekali makan, ekspresinya malas dan kurang responsif.' Bagaimana bisa aku dijodohkan dengan manusia seperti dia?
Kami berakhir ngobrol di teras sembari memandangi taman.
"Ano, Atsushi-san. Apa kau tidak merasa keberatan saat mengetahui kau dijodohkan?"
Ia memutar bola matanya malas, "Hmm… tidak. Aku tidak memikirkan apa-apa."
"Benarkah?"
Kurasa ia bukan orang yang perduli akan hal semacam ini. Ekspresi wajahnya sendiri tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali.
"Aku butuh cemilanku."
"Eh? Sepertinya kau suka sekali makan ya?" Ia mengangguk polos. Benar, ia agak sedikit kekanakan. Manis juga. "—tunggu sebentar ya, aku punya sesuatu yang enak."
"Apa itu?"
Aku tersenyum padanya kemudian mengambil sesuatu di dapur. Sepotong kue cokelat dengan toping buah-buah yang aku beli di toko kue favoritku. Aku memberikannya pada Atsushi-san.
"Ini. Kue ini kubeli di toko favoritku."
Atsushi-san mencicipinya. Wajah malasnya sedikit berekspresi.
"Enak sekali," Ia memandangku. Tiba-tiba tangan besarnya yang bebas mengelus-elus helaian rambutku. Aku sedikit kaget dengan perbuatannya. Tak kusangka tepukannya sangat lembut.
"Kapan-kapan aku akan mengajakmu ke sana, " lanjutku. Ia mengangguk. Walaupun samar-samar, aku bisa melihat ia cukup senang.
"Ojoucchi.."
Mendengar suara yang kukenal, aku beralih memandang sang pemanggil. Kise melihat Atsushi-san yang sedang mengelus rambutku. Ia memaku di tempat untuk sesaat.
"Ada apa, Kise?"
"Ah..hm..Tuan besar memanggilmu dan Atsushi-san."
"Baik. Kami segera ke sana."
Aku dan Atsushi-san melewati Kise yang masih mematung berdiri di sana. Ya, sejak tadi kami tidak saling bicara. Entahlah, aku tidak mau bicara dengannya. Ada apa dengan diriku sebenarnya?
Ternyata keluarga Murasakibara pamit untuk pulang. Sebelum pulang, Atsushi-san berkata ia ingin pergi ke toko kue yang kubilang tadi.
.
.
Sudah dua minggu sejak keluarga Murasakibara datang ke rumahku. Awalnya aku tidak yakin dengan semua ini tapi pada akhirnya aku berusaha menerimanya. Lagipula, Atsushi-san adalah orang yang baik dan manis. Mungkin lama-lama aku bisa menyukainya.
Kami sering bertemu terutama berjalan-jalan berkeliling kota mencari toko makanan. Sesuai dengan dugaanku, ia memang penjelajah kuliner sejati. Tapi, aku senang-senang saja bergaul dengannya. Walau terkadang ia tidak merespon tapi aku bisa mengerti hanya dengan melihat sorot matanya. Aku juga mulai terbiasa dengan perlakuannya padaku, terlebih lagi ia suka mengacak-acak rambutku. Rasanya seperti sedang diperhatikan.
Kami semakin akrab bahkan Satsuki dan Daiki sudah berkenalan dengan Atsushi-san. Kise juga ikut bersama kami saat kami melakukan kegiatan bersama.
Besok adalah hari ulang tahunku. Akan diadakan pesta di rumah. Semua sibuk menyiapkan segala yang dibutuhkan begitupula aku. Semua tamu sudah diundang, beberapa rekan kerja Ayah, teman sekolahku, dan teman-temanku di tempat lain bahkan keluarga Murasakibara.
Saat semua sedang sibuk, aku menyendiri di kamar. Termenung memandangi langit malam yang entah kenapa tidak ada bintang yang bersinar sama sekali disana. Kosong.
"Ojoucchi.."
Kise datang membawa teh dan kue untukku. Ia meletakkannya di meja di balkon kamarku kemudian menghampiriku yang sedang berdiri dipagar balkon.
"Ah, Kise.. Terima kasih."
Aku menatap wajahnya, rasa sesak itu muncul lagi. Berdua saja disini rasanya tidak enak. Ada apa sebenarnya?
"Ojoucchi.." Matanya tertunduk menatap lantai. Helaian rambutnya sebagian menutupi wajah tertunduknya. Aku berbalik menghadapkan tubuh padanya.
"Ada apa, Kise? Kau kelihatan tidak sehat. Apa kau sakit? Jika iya, kau boleh istirahat."
Jeda sebentar.
Ia tidak bicara. Aku diam. Ia menatapku. Mataku mengerjap. Ia tersenyum canggung. Aku bingung.
"Apa aku…anak yang nakal?"
"Hah?" Aku tidak mengerti maksudnya.
"Apa aku anak yang nakal sehingga Tuhan marah padaku? Katakan padaku, Ojoucchi.."
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."
Di malam yang sunyi itu, aku melihat wajahnya mengerut. Sudut matanya menyimpit berusaha menahan sesuatu. Ia menggigit bibir. Mengeratkan tangan.
"Apa usahaku selama ini tidak ada artinya?"
"Hah?"
"Bahkan aku berusaha menahan rasa rinduku selama 4 tahun demi memperbaiki diri. Karena aku ingin menjadi orang yang pantas, berusaha mengembangkan diri agar memiliki derajat yang sama, agar bisa terus bersama dalam arti yang berbeda—keluar dari belenggu ini. Tapi, kenapa semuanya tidak berjalan lancar?"
Ucapannya yang bergetar itu menyiratkan rasa sakit yang dalam. Entah sebenarnya aku mengerti atau tidak maksudnya. Setidaknya aku mengerti satu hal, aku sedang berbohong pada diriku sendiri.
Tanpa sadar aku menepuk-nepuk kepalanya. Sesungguhnya ada sesuatu yang tidak bisa ditahan dalam diriku, tapi aku tidak bisa menunjukkan padanya.
Tiba-tiba ia menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Tangannya menyusup masuk diantara tubuh dan lenganku—meremas erat pundakku. Wajahnya bersembunyi di balik bahuku. Nafasnya tak beraturan. Jari-jarinya yang menyentuh tubuhku terasa bergetar.
"Katakan Ojoucchi… Apa aku…tidak boleh mengharap lebih?"
.
.
.
Malam itu pesta Ulang Tahunku. Semua tamu berhamburan di ruangan besar yang dijadikan tempat pesta. Beberapa orang menghampiriku dan menyelamatiku. Aku menerima banyak hadiah.
Satsuki dan Daiki datang begitupula Atsushi-san.
"Selamat ulang tahun ya," Satsuki mengucapkan selamat dan memelukku sedangkan Daiki mengacak rambutku. Uh, padahal rambutnya sudah ditata rapi jadi berantakan 'kan?
"Dimana si monster ungu itu?" tanya Daiki. Ia mengedarkan pandangan mencari sosok yang sangat mencolok itu.
"Tadi Atsushi-san sudah datang. Kurasa ia sedang menikmati makanannya," jawab Kise yang sejak tadi berdiri di sisiku dalam diam.
Satsuki melirik wajah Kise dan menyenggol pinggangku. Ia mendekat dan berbisik, "Nee, apa kau yakin akan menjalin hubungan dengan Mukkun? Ya, dia orang baik sih, tapi bukankah—" Ia melirik Kise yang tengah bicara dengan Daiki, "—kau suka pada butler-mu sendiri?"
Saat mendengar itu, tubuhku bereaksi cepat. Tangan mengepal meremas ujung baju. Aku menghindari tatapan Satsuki.
"Hah, kenapa kau tidak jujur saja? Kau tidak perlu memaksakan diri. Aku tau Ki-chan adalah seorang butler, tapi aku menganggapnya teman. Aku mendukung walaupun mungkin Ayahmu tidak akan setuju."
Ayahku? Ya, Beliau mengharap aku bisa menikah dengan Atsushi-san, dengan begitu jalinan hubungan keluarga kami semakin dekat. Itu yang selalu diharapakan kedua belah pihak. Jadi, mana mungkin aku menentangnya?
Aku menghela nafas, "Sudahlah." Dan pergi keluar ruangan, mencari udara segar. Sepanjang aku berjalan, aku teringat kejadian kemarin malam. Kise belum sempat mengatakan lanjutan kalimatnya. Ia tiba-tiba saja pergi meninggalkanku dan minta maaf. Aku tidak mengerti.
Aku pergi menuju teras rumahku. Disana aku bertemu dengan Atsushi-san yang sedang sibuk dengan makanannya.
"Ah, Atsushi-san. Sedang apa kau?"
"Arara~ sedang makan. Aku tidak suka di dalam ramai."
Aku menghampirinya dan duduk di bangku teras tepat di samping Atsushi-san. Ia melahap habis makanannya. Aku hanya bisa memperhatikan dalam diam.
Atsushi-san berhenti makan dan tiba-tiba bicara, "Kise-chin… kau suka pada Kise-chin kan?"
"Hah?"
"Sa-chin yang bilang padaku."
Apa? Dasar orang itu.
Aku berpikir sejenak. Ya, aku akui aku sangat suka padanya. Sejak dulu. Semenjak ia memberikan foto langit di rumahnya yang dulu. Saat ia meninggalkanku, aku sangat merindukannya. Aku sangat menanti kepulangannya. Tetapi, saat ia pulang, semua kejadian mengerikan ini terjadi. Aku tidak bisa berbuat apapun.
"Ya… aku suka padanya."
Atsushi-san menatapku. Ekspresinya masih sama malasnya.
"Tenang saja, aku sudah bicara pada Ayahku dan Ayahmu. Mereka tidak melarang. Sepertinya, Ayahmu sudah tau yang sebenarnya terjadi."
"Heh? Apa? Ayah tau?"
Atsushi-san berdiri dan berlalu melewatiku, "Aku tidak akan menikahimu karena aku akan menikah dengan maiubo-chin~"
"HAH?"
Apa katanya? Pernyataan yang sangat errr…absurd.
"Arara~ Kise-chin. Kalau kau ada, seharusnya bilang."
Aku tersentak kaget dan menoleh. Kise berdiri mematung di ambang pintu teras. Kemudian Atsushi-san pergi meninggalkan kami berdua, katanya mau ambil makanan lagi.
Terdiam. Tidak ada yang bicara.
Kise mendekat. Duduk di sampingku. Aku berusaha tidak menatapnya. Kurasa ia mendengar pernyataanku tadi.
"Ojoucchi. Aku belum mengucapkan selamat. Selamat ulang tahun."
"Terima kasih."
Hening. Hening. Hening lagi.
Lalu,
"Jadi…Ojoucchi…kau…em…"
"Ya, suka pada Kise." Tanpa basa basi aku mengatakannya. Aku menyadari sebaiknya jangan berbohong pada diriku lagi. Selama ini aku berusaha untuk tidak banyak bicara dengannya dan lebih memilih bersama Atsushi-san untuk menyingkirkan pikiran seperti itu. Tetapi, nyatanya tidak bisa.
"E—to.. aku harus bereaksi apa?" tanyanya. Wajahnya sudah dipenuhi dengan semburat merah begitupula diriku.
"Kau suka padaku?"
"Sangat!" Tiba-tiba ia berteriak di depan wajahku. Iris matanya berbinar-binar seperti anak anjing. "—tapi, Tuan Besar… akan marah. Beliau mengharap Ojoucchi dekat dengan Atsushi-san. Lagipula, aku hanya seorang butler."
"Bukankah kau bilang kau belajar di luar negeri untuk bisa bebas dari belenggu itu? Kau ingin berhenti jadi butler dan menjadi orang yang bisa diterima oleh Ayah 'kan?"
Ia mengangguk, "Awalnya begitu, aku mau berhenti dan menjadi pilot. Tapi kalau menjadi pilot aku akan berpisah dengan Ojoucchi. Aku tidak mau itu. Ada juga yang menawariku jadi model, tapi aku tidak sanggup. Jadi, sebaiknya aku tetap jadi butler saja. Tetapi, itu tidak bisa, aku lebih rendah dibandingkan dirimu. Tuan besar juga tidak akan setuju. Jadi, karena aku cepat belajar, aku mempelajari apapun yang aku bisa disana, nanti aku tinggal memutuskan yang terbaik."
Panjang lebar ia bicara. Aku hanya bisa diam mendengarkan tiap kata yang diucapkannya. Selesai menjelaskan banyak hal, dari yang aku mengerti sampai yang tidak aku mengerti, ia menatapku lekat. Kami saling berpandangan dalam waktu cukup lama. Iris matanya seakan menyedot seluruh perhatianku.
"Ojoucchi?"
"Iya?"
"Boleh aku menciummu?"
Wajahku makin memanas mendengarnya. Mengangguk perlahan. Tanpa kusadari wajahnya sudah dekat. Bibir kami saling bertautan. Detak jantungku bertambah cepat. Perlahan aku berusaha menyaingi ciuman hangatnya. Aku membalas tiap kecupannya sebagai ungkapan kerinduanku selama ini. Ciuman pertama di malam ulang tahunku di bawah sinar bulan. Entah kenapa hari ini langit penuh dengan bintang.
.
.
Esok hari. Dunia kembali cerah. Langit indah terhampar luas di hadapanku.
Aroma teh bunga krisan memenuhi hidungku. Aku menoleh dan mendapati butler tampan bersurai kuning tengah menuang teh ke dalam cangkir dan menaruh bunga mungil di sisi cangkirnya. Selesai menyesapnya, aku berjalan menuju pagar balkon kamarku. Berdiri menikmati pemandangan yang tersedia.
Tiba-tiba aku merasakan seseorang mendekat. Memeluk tubuhku dari belakang. Menyandarkan kepalanya di kepalaku. Bergumam tidak jelas.
"Ojoucchi… bisa kita tetap seperti ini?"
Aku menyandarkan punggungku sepenuhnya di dadanya. Mendongak ke belakang melihat wajahnya.
"Tidak boleh."
"EH?"
"Kau harus dapat izin dari Ayahku."
Alisnya menyernyit. Ia berpikir dan berkata, "Kalau begitu, ayo sekarang bicara dengan Tuan Besar. Aku akan mengatakan bahwa aku mau menikahi anaknya."
"APA?"
Ia melepaskan pelukannya dan kembali berlutut di hadapanku, "So, shall we dance? Dansa adalah ungkapan yang tepat dalam menjalin hubungan rumah tangga, benar 'kan, Ojoucchi? Keseimbangan dan keselarasan."
Senyuman merekah di wajahku. Sembari menyambut tangannya, aku berdoa semoga Ayah menyetujuinya.
WADEPAK? INI APAAAA? Maafkan aku readers sekalian. Sungguh, gue minta maaf! Kise adalah harapan gue, kenapa malah ancur geneeee?
Sebenernya ini terinspirasi dari chapter midorima. Kalo disana Ojou-nya yg pergi, sekarang, Kise yg pergi dan kembali UWOWOWOWO(?). Masalah settingan Ojou nya sekolah apa gak, gak dikasih tau. Lu bayangin aja sendiri. Sesuai imaginasi kalian deh.
Yang jadi pertanyaan adalah…bapake setuju gak tuh? NAH LOH! AHAHA. MAAFKAN AKU INI GANTUNG BGT! Mana DEREDERE-nya Kise gak keliatan, malah menjurus ke angst bgt (=_=). Dan gue gak bisa berhenti ngakak NGEBAYANGIN Ojou-nya di jodohin ma Murasakibara. KAMPRET BGT IMAJINASI GUE! AHAHA!
Oiye, bang mine ultah ye? Sayang sekali, ini chapternya Kise bukan bang Mine. Tp ya udahlah, met ultah bang dim!
Udah ah, cukup bacot nya. Makasih atas semua kontribusinya, readers sekalian! Jika mengecewakan, ya, maafkan aku!
NEXT CHAPTER : YO! AOMINE DAIKI DIM YO!
