Note : Judulnya sih Oresama tapi boro-boro deh Oresama. Jadi, lebih baik klik tombol back. Wakakak!
My Butler
Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi.
Saya hanya menggunakan karakternya dalam fic ini.
Chapter 5 : Oresama Butler Type
.
Apa-apaan ini.
Apa yang sedang dilakukannya?
Kenapa setiap hari harus seperti ini?
Dasar.
"Ohayou, Ojousama.."
Aku tidak memperdulikan pelayan lain yang menyapa. Aku melewati mereka begitu saja. Kesal. Semua gara-gara orang itu. Bayangkan, ini sudah jam berapa?
*Tap*
Akhirnya, aku sudah sampai di depan pintu itu. Masih tertutup rapat.
Tok tok tok!
"Aomine."
Tidak ada jawaban?
Kembali kuketuk pintu di hadapanku. Aku menaikkan nada suara, dengan tak lupa mengetuk keras pintunya.
"Ao-mi-ne!"
Hening.
Masih tidak ada jawaban?!
Aku memegang kenopnya. Memutarnya. Eh? Sial. Tidak bisa dibuka. Orang itu…
"Siapapun, kemari!"
Tak lama, salah seorang pelayan—dari gerombolan pelayan yang mengikutiku—menghampiri.
"Ada apa, Ojousama?"
"Ambil kunci cadangan ruangan ini, cepat!" teriakku di depan pintu itu. Si pelayan itu pun lari tunggang langgang untuk mengambil kunci cadangan yang kuminta. Kurang lebih dua menit, akhirnya pelayan itu kembali dengan menenteng bulatan besi besar yang berisi kunci cadangan semua kamar.
"Ini, Ojousama."
"Yang mana kuncinya?"
"Yang ini," Ia menunjuk salah satu kunci. Aku mengapitnya di antara jariku. Siap memasukkannya ke lubang kunci.
Cklek—Akhirnya terbuka. Kau akan tau akibatnya, pemalas.
Brak!—Aku membanting pintunya dengan kasar.
Aku berhasil menerobos masuk ruangan itu. Ruangan yang berantakan sekali. Pakaian bergeletakan dimana-mana, bahkan ada komik dan majalah apa ini di lantai? Seperti bukan kamar seorang pelayan.
Ctik.
Guratan kesal sudah memenuhi wajah sepertinya. Aku memandangi ranjang yang ada di hadapanku. Sebuah selimut putih lebar tengah menyebar ke seluruh ranjang menutupi sesuatu. Di puncaknya, terlihat helaian-helaian berwarna dark blue yang menyumbul keluar di balik selimut. Aku menghampiri sisi ranjang dan berteriak, "AOMINE! BANGUN!"
Tidak ada pergerakan sama sekali.
"KUBILANG, BANGUN! KAU PIKIR INI SUDAH JAM BERAPA? AKU HARUS KE SEKOLAH!"
Sial. Dia tidak mendengarku?
"AOMINE! CEPAT BANGUN!"
Aku memukul gundukan di balik selimut itu. Sang gundukan hanya menggeliat sesaat. Sedikit aku bisa mendengar rintihan malas.
"Hnn..Ck..Ojou..kau berisik."
Apa? Kau pikir kau siapa beraninya bilang begitu, huh?
Aku pergi keluar ruangan itu untuk menghampiri beberapa pelayan yang sejak tadi menonton di luar pintu. Kemoceng yang sedang dibawa oleh salah satu pelayan aku rebut paksa.
"Ojousama, untuk apa?"
"Sudah diam saja."
Aku kembali mendekati gundukan tak beguna di ranjang itu. Kemoceng yang kupegang aku gunakan untuk memukulinya agar ia cepat sadar dari alam mimpi.
"APA-APAAN KAU?"
*duak*
"ADUH!"
"KAU ITU BUTLERKU, KENAPA MALAH AKU YANG MEMBANGUNKANMU SETIAP HARI? DASAR PEMALAS!"
*duak*
"ADUH! OJOU HENTIKAN!"
*duak*
"CEPAT BANGUN! AKU TELAT, AHOMINE!"
Selimutnya tersibak dan mengekspos isi dari gundukan tak beguna itu. Ya, seorang pemuda berambut dark blue dengan manik yang sepadan serta tubuh yang dilapisi kulit tan. Ternyata ia tidur masih dengan pakaian rapi yang biasa ia pakai. Dasar malas. Pasti ia tidak ganti baju dulu semalam.
*duak* *duak*
"OJOU HENTIKAN! SAKIT!"
Kedua tangannya berusaha melindungi segala bagian tubuhnya yang aku pukuli dengan kemoceng.
"Ojousama, hentikan. Kasihan Aomine-san!"
*duak duak*
"Kalian tidak usah membelanya! Dia pantas mendapatkan pukulan dari kemoceng ini! Biar tambah redup! Bangun!" teriakku kencang sampai-sampai membuat para pelayan itu terperanjat kaget semabri mengelus dada mereka.
"Iya, iya! Aku sudah bangun! Hentikan memukuliku dengan itu!"
*duak duak*
Aku masih kesal tau. Seenaknya saja kau. Gara-gara kau, aku semakin telat ke sekolah. Ditambah lagi, kondisi ruangan yang berantakan ini. Apanya yang Butler, hah? Aku tidak butuh Butler tidak berguna seperti dia!
"Ojou! Hentikan!"
*Grasp!*
Ia berhasil menghentikan tanganku. Pergelangan tanganku di tahan oleh tangan besar itu. Kemoceng yang aku pegang pun jatuh ke lantai. Aku berusaha melepaskan genggamannya namun—bruk!—Ia menarik tanganku hingga aku jatuh menubruk tubuhnya yang masih setengah berbaring di ranjang. Tangannya berpindah pada punggungku dan menarikku erat ke dalam pelukannya. Tubuhku tidak bisa bergerak. Aku berusaha mendongak melihat wajahnya.
"Lepaskan aku!"
"Tenangkan dirimu dulu dengan pelukanku, Ojou."
"APA?"
Prok prok prok!
Suara tepukan tangan siapa itu? Ternyata pelayan-pelayan yang sejak tadi menonton. Mereka bertepuk tangan entah karena apa. Sepertinya menikmati pemandangan ini. Sialan. Memangnya ini pertunjukkan drama?
"Hentikan bertepuk tangan!"
Prok prok prok!
Mereka masih saja bertepuk tangan? Bahkan ada yang bertepuk tangan sambil berlinangan air mata. Apa-apaan mereka? Dasar orang-orang konyol!
"Pergi kalian semua! Kerjakan tugas kalian!" Lagi, aku berteriak sembari menggeliat di dalam dekapan pemuda bernama Aomine ini. Semakin berusaha memberontak, malah semakin erat pelukannya.
Ia menghela nafas sesaat. Salah satu tangannya mengibas-ngibas memberikan isyarat, "Sudah kalian semua, pergi sana. Ojou sepertinya mau berduaan denganku. Jangan lupa ditutup ya pintunya. Lalu, jangan menguping."
"APA MAKSUDMU, AHOMINE?"
Bisa kudengar mereka pergi satu per satu. Kehebohan masih menyelimuti mereka. Salah satu dari mereka bahkan ada yang berkata sambil terseguk, "Berbahagialah Ojousama." Apa maksudnya? Mereka meledekku ya?
Ceklek—Pintu ditutup perlahan.
Tubuhku masih berusaha melepaskan diri. Ia malah menepuk-nepuk punggungku di setiap gerakan yang kubuat. Memangnya aku anak kecil yang sedang menangis apa?
"Aomine, lepaskan! Kau membuat seragamku kusut!"
"Cep..cep..cep..Ojou..tenangkan dirimu."
"Jangan perlakukan aku begitu!"
Lelah. Mau memberontak seperti apa tidak bisa. Ukuran tubuh kami berbeda jauh. Mau pukul lagi juga tidak bisa, ia menahan semua gerakanku. Kepalaku tergeletak lemas di dadanya. Entahlah, aroma tubuh maskulinnya masih tetap sama. Pelukan yang sangat familiar. Menenangkan saat aku ketakutan.
"Akhirnya, tenang juga."
"Bukannya aku suka dipeluk. Aku capek. Lebih baik cepat lepaskan. Aku harus berangkat sekarang."
"Tidak usah malu begitu. Dasar tsundere."
"SIAPA YANG TSUNDERE!"
Gyuut—Aku mencubit pinggangnya. Setidaknya tanganku masih bisa meraih pinggangnya.
"Sakit!"
Tubuhnya bergerak-gerak menghindari cubitanku. Tangannya yang berada dipunggungku tiba-tiba saja berpindah. Dengan mudahnya ia menaruh telapak tangannya di bokongku. Jadi, sengaja ya?
"APA YANG KAU PEGANG, HAH?"
*DUAK!*
Aku menyundul kepalanya dengan kepalaku sekuat tenaga. Membuat ia mengerang kesakitan sembari mengelus kepalanya. Dengan begitu, ia melepaskan seluruh jangkauannya dariku.
"ADUH!"
.
.
.
Kami berjalan bersama menyusuri sekolah. Beberapa kali aku mendengar ia menguap. Masih mengantuk, begitu? Butuh berapa lama tidur sih?
"Heh, Aomine. Lain kali, seharusnya kau yang bangun duluan. Kita hampir saja telat tadi."
"Sudahlah, yang penting sudah sampai. Hoaaam.."
Menguap lagi.
Lihatlah, pakaiannya. Ia memakai kemeja dan celana bahan namun berantakan. Dasinya tidak pakai. Jasnya ditenteng di bahunya. Kemeja biru tua digulung sampai lengan. Benar-benar berantakan. Bagaimana orang bisa tau ia adalah seorang butler? Tapi, walaupun begitu, di sekolah ia terkenal. Karena selalu mengikutiku sampai sekolah, semua murid tau tentangnya. Beberapa teman sekolahku saja memujanya karena ia sangat maskulin—tipe pria sejati—begitu katanya. Apa bagusnya dia? Redup saja. Kalau boleh memilih aku tidak mau ditemani olehnya ke sekolah tapi mau bagaimana lagi, orang tuaku sudah memerintah bahkan meminta izin ke sekolah agar ia diperbolehkan berkeliaran di sekolah menemaniku dengan syarat saat belajar ia harus menunggu diluar.
Namanya Aomine Daiki.
Salah satu butler yang ada dikeluargaku. Khususnya butler untukku. Ia sangat malas. Sepertinya tidak berniat untuk melayaniku. Seperti kejadian tadi pagi, ia selalu bangun bangun lebih siang dariku. Beberapa kali aku datang telat ke sekolah karena dia.
Perawakannya maskulin—kata banyak orang, bukan aku yang bilang. Tubuhnya besar dan tinggi sekali. Kulitnya yang redup itu selalu dibilang eksotis. Rambutnya yang berwarna biru gelap itu juga dibilang menawan, menunjukkan betapa jantannya dia. Apa sih yang semua orang pikirkan? Ia hanya mahluk gelap tak berguna yang malas. Tiap pagi, ia selalu menyajikan teh hitam seperti kulitnya padahal bukan dia yang membuatnya, apalagi sebutannya kalau bukan malas?
Terlebih lagi, sifat arogannya. Benar-benar membuatku gila. Sungguh menyebalkan. Ia selalu berkata "Tidak ada yang bisa mengalahku selain diriku sendiri" tapi nyatanya ia sulit diperintah, lebih tepatnya perintah itu hanya melewati telinganya saja. Perintah selalu ditolak dengan alasan, "Ah, menyebalkan" atau "Aku malas, lakukan sendiri saja" begitu. Apa artinya kata-kata 'Tidak ada yang bisa mengalahkanku' kalau tidak dibuktikan. Buktikan kalau bisa melakukan apapun, jangan hanya bicara saja. Jika aku punya kuasa, sudah aku pecat sejak dulu pelayan sepertinya.
Kemanapun aku pergi ia selalu mengekoriku. Orang tuaku memintanya untuk menjagaku baik-baik, tapi nyatanya saat bekerja ia hanya duduk santai dan membaca komik ataupun majalah model seksi apalah itu. Tidak hanya malas tapi mesum juga.
Kalau dipikir, perannya disisiku bukanlah seperti seorang butler, tetapi lebih tepatnya sebagai bodyguard. Memang ia lebih banyak bersantai, tetapi saat tiba waktunya maka ia akan selalu hadir. Hal itu sudah kuakui, aku membutuhkannya karena hanya ia yang bisa aku percaya.
"Aomine-san datang lagi?" Lihat. Beberapa temanku yang mengidolakannya mulai sok bertanya. Jelas-jelas sudah tau jawabannya, kenapa masih bertanya? Bilang saja ingin ngobrol dengannya.
"Tentu saja. Tiap hari aku menemani Ojou."
"Kyaaa…Aomine-san keren sekali."
"Tentu saja. Siapa lagi yang bisa menjaga Ojou dengan baik? Tentu saja, orang itu adalah aku."
Dasar kepala besar. Arogan. Belagu.
"Tolong, hentikan. Kalian membuatku hampir muntah," sahutku dengan nada malas.
Aku duduk di bangkuku. Aomine berdiri dihadapanku sembari ngobrol dengan beberapa teman sekolahku. Obrolan mereka terkadang membuatku heran, ya, mereka selalu memujinya. Kalian tidak tau saja orang seperti apa dia.
"Kenapa kau bicara begitu? Kau beruntung sekali selalu ditemani butler keren seperti Aomine-san."
"Apa yang kalian banggakan dari seorang dia, hah?" Aku menunjuk pemuda berkulit tan itu. Sedangkan orang yang dimaksud malah menyeringai ke arahku. Kenapa? Bangga kau dibela oleh mereka?
Aomine menghampiri sisi meja. Menepuk bahuku dan berseru, "Ojou, seharusnya kau tidak usah malu mengakuinya, kau butuh keberadaanku, aku tau itu. Hidupmu memang sudah tergantung padaku."
Apa? Menyebalkan sekali caranya bicara.
"Eh? Apa maksudnya, Aomine-san?"
"Kalian tau, Ojou memang begini, tapi, kalau sudah gelap, ia tidak berdaya bahkan tidak mau lepas dariku."
"Kyaaa…apa maksudnya? Ceritakan lagi‼"
SIALAN KAU, AHOMINE!
"KELUAR KAU, SEKARANG!"
Ia menggendikkan bahu. Kedua tangannya diangkat dengan maksud menyerah. Wajah arogan dan seringaiannya sengaja ditunjukkan padaku. Menyebalkan sekali! Ia berjalan lambat disengaja. Kulepas sepatuku dan kulemparkan kepadanya.
"Pergi sana! Tidak usah kembali!"
Ya, pergi sana. Tidak usah kembali. Tapi… kata-katanya kalau sudah gelap aku menjadi tidak berdaya… memang kenyataan sih.
.
.
.
Seminggu lagi, sebuah festival budaya akan diadakan di sekolah kami. Selama itu, aku menjadi sibuk dengan kegiatan di sekolah karenanya—ya, aku menjadi salah satu panitia di kelasku. Saat ini, kami sedang sibuk menyiapkan segala peralatan yang digunakan untuk membuat Obakeyashiki di kelas kami. Aku bertanggung jawab memesan peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan, seperti kain, cat, sterofoam, dan lainnya.
"Oi."
Suara itu. Tidak bisa memanggil nama dengan benar, ya? Aku menoleh dan melihat warna hijau dari rambut dan iris matanya.
"Ada apa, Midorima-kun?"
"Aku menyuruhmu untuk memesan kain putih panjang, kenapa kau malah membawa warna hitam begini nanodayo?" Ia menunjukkan kain yang dikatakan bermasalah olehnya.
Hah? Hitam? Aku memesan warna putih kok! Lagipula, ada yang aneh dengan warna kainnya.
"Aku memesan sesuai yang kau beritahukan padaku, mungkin tertumpah cat."
Ia menghela nafas. Menaikkan kembali kacamatanya dan mengerlingkan pandangan padaku, "Lalu, bagaimana ini? Harusnya, kau menjaganya dengan baik."
"Apa? Kenapa begitu? Aku tidak bertanggung jawab untuk itu!" teriakku padanya. Enak saja. Aku hanya memesan saja dan sudah kuberikan pada orang yang tepat karena kainnya mau dipakai.
"Biarpun begitu, seharusnya, kau meletakkan di tempat yang benar nanodayo!"
"Aku sudah menitipkannya pada tim yang membuat kostum! Jadi, jangan salahkan aku!"
"Hah?"
"Sudah, sudah. Sesama Tsundere jangan bertengkar," tiba-tiba suara bas yang terdengar malas menyela diantara pembicaraanku dengan si ramah lingkungan. Siapa lagi kalau bukan butler tidak berguna itu? Lihatlah, ia malah santai-santai duduk di pojok sambil membaca entahlah-apa-itu.
"AKU BUKAN TSUNDERE!" Tanpa sadar, aku dan Midorima-kun sama berteriak padanya. Kenapa timing-nya sama sih?
"Tsundere tidak akan mengakui dirinya Tsundere. Kalian payah," ucapnya lagi sembarangan. Kau kira kau sedang membicarakan siapa, huh? Aku adalah Ojou-mu! Berani sekali kau bicara begitu! Kurang ajar!
"Hah?"
"—sudahlah, memangnya tidak ada kain cadangan?" lanjut pemuda 192 cm itu sembari mengorek telinga. Dasar jorok!
"Seingatku, di ruang penyimpanan alat olahraga, disana tersimpan beberapa peralatan yang digunakan tahun lalu," ujar Midorima-kun seraya melipat kedua tangan di dada. "—tetapi, aku tidak yakin, lagipula, akan sulit mencarinya karena penerangan disana tidak baik."
"Baiklah, aku akan membantu mencarinya. Kalian—terutama Ojou, kau tunggu disini." Dan, Aomine pun melenggang keluar menuju tempat penyimpanan.
.
.
.
"Ini."
Diserahkannya kain putih itu padaku. Saat menerimanya dari Aomine, aku hanya diam tanpa mengatakan apa-apa. Segera, aku menyerahkannya pada pihak yang berwajib membuat kostum. Tak lupa, mengingatkan mereka untuk berhati-hati jika tidak akan terulang kejadian yang sama.
"Mana 'Terima Kasih'-nya, Ojou?"
Cih. Butler sialan. Jangan membuatku kesal dengan keberadaanmu yang menyebalkan itu.
Aku terdiam. Lagipula, kenapa aku harus mengucapkan terima kasih? Tidak harus 'kan?
Ia menyeringai, "—coba pikirkan, Ojou. Andai saja, aku tidak ada disana? Siapa yang akan disuruh untuk mengambil kain itu? Ke tempat sempit dan gelap itu~?"
Baiklah! KAU MENANG! Hentikan meledekku!
"Te-ri-ma-kaaaaa-siiih.." Ucapku malas. Nadanya dipanjang-panjangkan. Sengaja sih.
"Apa? Aku tidak mendengarnya?" Ia mendekatkan telinga miliknya ke arahku.
KAU MENYEBALKAN!
"Terima kasih, Aomine Daiki yang baik," lanjutku sembari memasang senyum terpaksa. Iya, terpaksa. Kalau bukan terpaksa, lalu apa lagi? Meskipun aku akui, ya, aku tertolong. Kalau tidak… entah bagaimana.
Tak lama, kepalaku merasakan tepukan ringan. Sebuah kekehan terdengar memasuki indera pendengaranku. Saat mendongak, ternyata ia-lah yang mengelus rambutku.
Ke-ke-kenapa menepuk-nepuk kepalaku begitu! Aku tidak suka diperlakukan begitu. Tapi, kenapa… rasanya… Sudah! Hentikan!
Aku menepis tangannya.
"Dasar Ahomine!"
Lalu, pergi meninggalkannya.
.
.
.
Malam ini, aku duduk bersantai di pinggir kolam renang rumahku—lebih tepatnya, dibangku yang berada di dekat kolam renang indoor di rumahku. Mencatat dan menghitung pesanan barang yang pesan untuk festival sekolah. Biaya yang dikeluarkan harus dibuat dalam laporan dan diberikan pada wali kelas kami.
Selama aku menulis si mahluk menyebalkan itu ikut menemaniku dan duduk di bangku sebelahku sembari membaca manga. Ya, ampun, ia seorang butler 'kan? Bukankah di saat begini seharusnya ia melayaniku dan menyajikan teh dan kue-kue misalnya? Kenapa malah ia yang kelihatan lebih bersantai disini?
"Hei, Aomine."
"Apa?"
Bahkan ia tidak menoleh sama sekali padaku?
"Buatkan aku teh."
"Haa? Aku malas, buat saja sendiri. Jangan manja."
Apa? Tenangkan dirimu, nak! Tahan dirimu untuk tidak memukul orang ini. Lagipula, coba pikirkan, siapa yang seharusnya memerintah disini? Siapa yang seharusnya dipatuhi disini?
"Manja, katamu? Enak saja kau bicara, Aomine. Itu pekerjaanmu!" teriakku seraya bangun dan berkacak pinggang. Berjalan berpindah-pindah menahan rasa kesal. Kakiku menapak pada lantai licin di pinggir kolam.
Ia mengerlingkan pandangan ke arahku dengan malas, "Pekerjaan utamaku adalah menemani dan menjagamu, Ojou. Begitu yang dikatakan Ayahmu. Kalau mau minum atau makan, suruh saja pelayan yang lain."
"Apa? Tidak! Ayah juga berkata bahwa KAU!" aku menunjuk hidungnya, ia memundurkan wajah, "—juga harus melayaniku."
"Melayanimu?" Kedua alisnya naik. Seringaian kembali muncul di wajahnya. "—Melayanimu seperti apa, Ojou?" Tiba-tiba ia menangkap pergelangan tanganku yang berada di depan wajahnya. Aku panik. Apa yang mau dilakukannya? Tanganku ia letakkan di atas bahunya, sedangkan tubuhnya maju menuju ke arahku. Tangannya yang berusaha menggapai pinggangku. Refleks, aku menarik pergelangan tanganku dari bahunya dan—tunggu dulu! Ah, lantainya licin!
"AH!"
Byur!—alhasil, aku jatuh terpeleset dan tercebut ke kolam. Karena berusaha menghindarinya.
"OJOU!"
AAAAAH! Aomine BODOH! Aku tidak bisa berenang!
Tubuhku tenggelam dalam air kolam. Berusaha menggapai permukaan dengan kedua tangan yang terentang. Rasanya berat. Air mulai memasuki mulut dan membuat mataku pedas. Entah apa yang terjadi, tubuhku yang terasa berat tiba-tiba menjadi ringan, seperti melayang di udara. Pinggang dan tubuhku merasakan sentuhan yang melingkarinya. Tubuhku terangkat di udara. Nafasku terengah dan aku terbatuk-batuk karena air yang masuk ke dalam mulutku. Tanpa disadari, aku sudah berada di lantai keramik rumahku.
"Ojou, kau baik-baik saja?"
Suara itu.
"Uhuk. Uhuk."
Mataku menangkap tubuhnya yang basah karena air, sama sepertiku. Ternyata, ia menolongku.
Mengingat apa penyebab aku jatuh dari kolam, tanpa basa basi, aku memukul tubuhnya berkali-kali.
"Aho! Semua gara-gara kau! Kau tau 'kan aku tidak bisa berenang!"
"Aduh. Hentikan, Ojou. Aku minta maaf. Aku hanya bercanda tadi. Tidak kusangka, kau akan jatuh," ucapnya serasa meringis kesakitan karena kupukuli. Dasar. Ia memang pantas mendapatkan semua itu. Oh tidak! Bajuku basah semua!
"Eh?"
Tiba-tiba saja, ia menggendongku dan berjalan masuk ke dalam rumah. Menimbulkan banyak tetesan air di lantai.
"Turunkan aku, Aomine!" Tubuhku meronta saat ia menggendongku. Namun, kedua tangannya itu sungguh kuat sampai bisa membuatku jera bergerak. Ia mengunci pergerakanku hanya dengan sebuah dekapan ringan.
"Tidak, nanti kau terpeleset, Ojou."
Beberapa pelayan mulai menghampiri kami karena mereka mendengar suara teriakanku. Semua berwajah panik dan merasa lega melihatku baik-baik saja. Lalu, mereka kembali pada urusan dan pekerjaan masing-masing setelah Aomine mengatakan ia yang akan mengurusiku.
"Maafkan aku, Ojou. Aku bercanda terlalu berlebihan," Ia mengeratkan pegangan pada tubuhku. Entah apa yang terjadi, ekspresi wajahnya itu tidak biasa.
"Tidak apa-apa," ucapku pelan, menyandarkan kepala ke atas bahunya yang lebar. Mataku melirik ke arah jendela yang kami lewati. Ah… ternyata di luar hujan deras.
Tibalah kami di kamarku. Dengan hati-hati, ia menurunkan tubuhku di depan pintu kamar mandi.
"Gantilah bajumu, Ojou. Nanti masuk angin."
Aku mengangguk. Meliriknya sejenak, lalu melangkah. Ada apa dengannya? Bukankan ia juga kebasahan? Kenapa malah diam saja? Ekspresi wajahnya itu loh, kenapa serius sekali?
"Kau juga ganti baju sana, Aomine. Jangan bilang kau mau mengintipku ganti baju," ceplosku saat itu juga—memincingkan mata curiga. Habis, dia mesum. Bisa saja 'kan?
Raut wajahnya kembali seperti semula. Mulai menggaruk tengguknya tidak sabaran.
"Tidak. Aku tidak akan mengintip. Aku akan menunggu sampai kau selesai ganti baju," sambungnya seraya melepaskan jasnya yang basah kuyup.
Menungguku sampai selesai ganti baju? Untuk apa? Memangnya aku anak kecil yang harus diperhatikan apakah bisa mengganti baju dengan benar?
"Tidak perlu. Kembali ke kamarmu dan bersihkan tubuhmu. Cepat!"
Ia memutar kedua bola matanya malas. Berbalik memunggungiku dan berjalan perlahan. Banyak tetesan air jatuh dari tubuhnya, membuat lantai ruang tidurku ikut basah. Setelah ini, aku harus memanggil pelayan untuk membersihkannya. Tak lama, pintu kamarku ditutup rapat.
Bergegas, aku masuk ke dalam kamar mandi. Membersikan sedikit tubuhku yang basah dengan handuk. Perlahan, melucuti semua pakaian basah itu dan meletakkan pada keranjang pakaian kotor yang ada di sudut kamar mandi. Mengganti pakaian dalam dengan yang bersih, memakai piyama yang baru. Namun, aku tidak menyangka, saat aku mengancingkan kemeja piyama yang kupakai, tiba-tiba saja…
Semuanya menjadi gelap.
Ge-gelap?
Ctaarr!—suara petir menggema.
"KYAAAAAAAAAAA~!"
Tidak! Tidak! Gelap! Aku takut gelap! Aku tidak suka dalam kegelapan! Membuatku ingat semua itu. Ayah dan Ibu... Mereka dipukul! Seseorang memukul mereka! Tidak! Kumohon jangan pukul mereka! Orang itu.. ia mau memukulku! Suara gemericik air terdengar! Tubuhku tenggelam dalam air! Aku tidak suka berada di dalam air! Keluarkan aku!
"TIDAK! TOLONG AKU! TOLONG!"
Tubuhku melemas di lantai. Menekuk dalam sembari menutup telinga dari suara-suara gemuruh petir yang terdengar. Seluruh tubuhku gemetar hebat, membuatku tidak bisa bergerak. Sudut-sudut mataku mulai berair.
Brak!—suara pintu digebrak. Siapa?
"Ojou? Dimana kau?"
Suara itu?
"Aomine.."
Dalam hitungan detik, tubuhku merasakan kehangatan. Seseorang tengah memelukku. Memberikan dekapan erat yang semakin dalam. Aroma tubuhnya yang maskulin membuatku sedikit tenang.
Suara petir terdengar lagi.
"KYAAAA!"
"Ojou," Ia berbisik di telingaku, "—tenang, aku ada disini. Aku tidak akan meninggalkanmu. Tenanglah." Tangannya mengelus punggungku dan tangannya yang lain mendorong kepalaku lebih dalam ke dalam dadanya. Kedua mataku tertutup rapat di balik tubuhnya. Aku tidak berani membuka mata. Semakin erat aku meremas pakaian yang dikenakannya. Terus mendekatkan diri padanya. Tidak ingin lepas dari perlindungannya.
Suaraku mulai menyerak karena terlalu banyak berteriak.
Hal ini selalu terjadi ketika aku tenggelam dalam kegelapan. Membuatku ingat akan peristiwa sewaktu aku masih kecil. Oleh karena itu, aku tidak suka berada di tempat gelap. Namun, semua itu sedikit mulai bisa diatasi karena keberadaannya selalu ada disisiku apalagi saat seperti ini. Hanya ia yang aku percaya. Meskipun begitu, setiap terjadi hal seperti ini, aku masih mengalami ketakutan hebat.
"Ojou, kau mendengarku?" suaranya tepat terdengar di telingaku, memberikan hembusan nafas yang hangat, "—dengarkan aku saja, jangan dengarkan yang lain. Maafkan aku karena meninggalkanmu. Maaf karena tidak menangkapmu sebelum kau jatuh ke kolam. Aku benar-benar panik saat melihatmu tenggelam." Mendengarnya, membuatku berhenti berteriak, namun tubuhku masih gemetar. Semakin ditepuk punggungku olehnya agar lebih tenang. "—Ojou, tenanglah. Aku ada disini. Kau mendengarnya?"
Mengangguk.
"Syukurlah. Ayo, kita ngobrol sesuatu."
Mengangguk lagi.
"—Kau tau, Maichan itu seksi, Ojou. Aku punya koleksi majalahnya di kamarku. Kau mau lihat?"
Hah? Maichan?
Dengan suara serak dan tertahan, aku berkata, "Siapa itu? Seksi? Dasar mesum. Untuk apa aku melihat majalah yang berisi wanita seksi? Aku bukan lesbian."
"Oh. Benar juga. Kalau Ojou lesbian, aku yang repot."
"Apa maksudmu berkata begitu?" Tanpa sadar, aku kembali memukul tubuhnya. Kenapa suka sekali memukulnya? Otomatis membuatku melepaskan pelukannya. Begitu membuka mata ternyata suasana masih gelap, membuatku kembali berteriak.
"GYA!"
Kedua mata kembali menutup erat. Aku merasa kedua tangan orang dihadapanku kini memegang kepalaku—sebagian membuat telingaku tertutup. Ia menghadapkan kepalaku ke atas, membuatku mendongak. Aku tidak bisa melihat apa yang terjadi karena kedua mataku masih tertutup. Gelap yang tercipta karena kedua mata tertutup lebih baik dibandingkan gelap diluar sana.
"Habisnya, kalau Ojou adalah lesbian, bagaimana dengan nasibku?" Samar-samar aku bisa mendengar ia meneruskan berbicara. Apa maksud perkataannya itu?
"Ha?"
Tak lama kemudian, aku merasakan sesuatu yang lembab menyapu bibirku. Bergerak pelan di dalam kegelapan. Membuat tubuhku merasakan sensasi yang lain. Membuat tubuhku merasa lebih tenang dan jiwaku menyejuk. Apa ini? Aku memberanikan diri membuka kelopak mata. Sinar cahaya menyilaukan memasuki kedua mataku, membuatku menyimpitkan mata. Selain cahaya yang terlalu silau, aku juga melihat warna biru tua dari jarak dekat. Sesuatu yang mengunci bibirku masih berada disana—bergerak lembut dalam waktu yang lama. A-apa? Ia me-menciumku?
Bibirku bebas setelahnya, dan merasakan hangat nafas seseorang. Kedua mataku bertemu dengan warna dalamnya laut. Kening dan kening saling menyatu, membuat kedua pipiku memanas. Air mata di sudut mataku terseka karena jemarinya.
"—jika Ojou adalah lesbian. Aku tidak bisa melakukan hal yang sama seperti tadi," Ia mengangkat daguku lebih tinggi, menatapku dalam membuatku bungkam. Menyadari apa yang terjadi, aku berusaha memberontak—menepis tangannya berada di daguku, namun, lagi, tangan besar itu menahan gerakanku dengan mendekap tubuhku sekali lagi, "—lupakan sejenak tsundere-mu itu, Ojou."
"Aku.. bukan tsundere! Lepaskan aku! Segera! Ini perintah!"
Helaan nafas.
"Ya. Ya. Ya. Aku lepaskan," Ia melepaskan pelukannya, tetapi sebelum sempat aku menyingkir, jemarinya kembali mengangkat wajahku untuk menghadap wajahnya, "—tetapi, sebelumnya, biarkan aku melakukannya sekali lagi."
Setelah itu, waktu berhenti. Ia menciumku lagi. Lalu, apa yang terjadi padaku? Bukankah aku tidak suka kegelapan? Kenapa aku menutup kelopak mataku lagi? Ah, mungkin karena aku lebih suka dengan kegelapan dibalik mata yang tertutup. Mungkin karena itu.
"Ojou, ngomong-ngomong, dadamu kelihatan."
"Ha?"
Aku melirik ke bawah dan mendapati kemeja tidurku yang belum terkancing semua sehingga belahan dadaku terlihat jelas. Apalagi orang ini yang posisinya lebih tinggi dariku. Bodoh! Saat listrik mati tadi aku tidak menyadari kalau aku belum sepenuhnya berpakaian!
"Tidak kusangka, dadamu cukup berisi. Boleh kusentuh?"
"KYAAAA! JANGAN DILIHAT! APALAGI DISENTUH! DASAR MESUM!"
Kembali, kedua tangan ini meninjunya.
"HADUH!"
.
.
.
Keesokan harinya, festival sekolah. Seperti yang diketahui, kelasku mengadakan Obakeyashiki. Setiap anggota kelas, harus mencoba masuk ke dalamnya—hanya sekedar untuk menguji saja. tapi, aku tidak berani. Bukan takut pada hantunya tapi… disana gelap. Tidak mungkin aku masuk, pasti aku akan berteriak ketakutan disana.
"Ojou. Kau baik-baik saja? Bukankah kau harus mencoba arena kelasmu?" Aomine bertanya. Kedua mataku memincing sebal ke arahnya, mengingat kejadian kemarin. Oke, sangat berterima kasih padanya, karena bagaimanapun juga ia selalu ada untuk menolongku. Ditambah lagi, ia.. eumm.. me-menci.. ya.. itu.. lupakan! Tetapi.. ia … sudah melihatnya.. tidak bisa kubiarkan.
"Tidak usah! Aku tidak mau masuk ke sana. Aku akan meminta izin khusus untuk tidak masuk ke sana."
Aku berjalan melewatinya, untuk bertemu dengan teman sekelasku dan memohon untuk tidak mengikutsertakanku dalam uji coba Obakeyashiki itu. Apapun aku berikan sebagai alasan!
Belum jauh melangkah, pergerakanku tertahan. Pergelangan tanganku ditangkap olehnya—membuat jantungku berpacu cepat.
"Ojou. Bagaimana kalau dicoba? Aku akan menemanimu. Ingat, aku ada disini."
Tanpa sadar, wajahku kembali memanas. Tidak ingin ia melihatnya, kulemparkan pandanganku darinya.
"O-O-Oke. Jangan lupa tersenyum lebar, Aomine. Supaya aku bisa melihatmu di tengah kegelapan."
"Baiklah. EH? Kau mengejekku, Ojou? Apa maksudnya tersenyum? Seputih itukah gigiku sampai hanya gigiku yang terlihat ditengah kegelapan, huh?"
"Iya. Dasar mahluk mesum redup!"
"Dasar tsundere."
"Aku bukan tsundere!"
Aku akan berusaha melawannya. Tak apa, ia ada disini. Bersama denganku. Tidak ada yang perlu aku takutkan.
A/N :
Oke gue tau ini bapuk abis. Gue tau. Gue tau. APA HAH? JANGAN PROTES DEH LO PADA! TERSERAH MAU PADA SUKA APA GAK! TERSERAH! GUE GAK PEDULI! *lirik2* /ini kenapa authornya jd tsundere juga?/
Hai, aku kembali dengan fic kamfffretooo ini. Udah lama banget ya ini gak diupdate. Ckck. Dari jaman lebaran yak kayaknya?
Maaf ya semua. Ini mengecewakan. Capek ah gue. Gak punya ide abisan. Oresama-nya si Aomine juga gak keliatan. Mana ngegantung abis. Feelnya gak ada pula! Apa coba maksud ceritanya? Gak ngerti kan? Bodo ah! *kyknya gue ini adalah author paling gak bener di fandom kurobasu, ckck, masa masa bodo begini*
Ya, fic ini kan hanya sebuah fanservice untuk para pecinta chara x reader jadi ya maklumi keterbatasan yg bs diberikan oleh gue. Maap yaaaak. *bungkuk dalem2* Lagipula, apanya yg butler gitu ya? Kuroko doang yg bener. Mana pasti ada adegan kissunya. Gue baru nyadar loh pas ngerevisi kemaren. Wakaka!
Meskipun begitu, gue sangat berterima kasih jikalau kalian mau memberikan kontribusi. Fave, follow, review? Boleeeeh. Teruuus, terima kasih atas dukungannya untuk fic aneh ini ya. Bener-bener makasih, entah apa jadinya gue tanpa kalian *berlinang air mata*
Abis ini update apa lagi ya? Oia, chapter berikutnya berarti si Murasakibara berarti ye? Okelah.
Mata ne. Gue mau makan dulu, laper. *gak penting* Last, reviewnya please?
NEXT : MURASAKIBARA ATSUSHI
