"Sakura! Ada apa? Cepat buka pintunya!"
"Sakura! Cepat buka pintu ini!"
Karena tidak ada jawaban dari Sakura, Sasuke memutuskan untuk mendobrak pintu kamar Sakura. Dan akhirnya pintu kamar itu terbuka. Saat pintu itu terbuka, terlihatlah Sakura yang telah pingsan di depan meja belajarnya.
"Sakura!" Sasuke yang sudah sangat khawatir akan keadaan Sakura, langsung membawa Sakura ke mobil. Sasuke mengemudikan mobil itu dengan cepat agar adiknya, Sakura dapat tertolong.
.
.
.
UNIMAGINABLE LOVE
(Chapter 3)
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto ; Cerita milik RainHug :D
Warning : Cerita abal, typo, aneh, etc
Rated : T
Genre : Romance, Family
DLDR, Mohon review'nya ya…
This is my story… Enjoy please:D
.
.
.
.
.
Sesampainya di Rumah Sakit Waverly Beechworth Lunatic, Sasuke menggendong Sakura ke dalam rumah sakit itu. Suster penjaga langsung sigap menangani Sakura. Sakura langsung dibawa menuju UGD. Disana ada Dr. Tsunade yang sedang berjaga. Saat ia melihat Sakura yang sedang pingsan, Dr. Tsunade langsung dengan sigap melakukan pemeriksaan. Setelah pemeriksaan selesai, Dr. Tsunade keluar dari ruangan UGD. Disana Sasuke telah menunggu dengan cemas keadaan Sakura. Sasuke juga telah menelpon ayah serta ibunya agar mereka cepat ke rumah sakit ini.
"Apa anda keluarga Sakura?"
"Ya, Dokter… Saya Sasuke, kakak Sakura… Bagaimana keadaan Sakura sekarang? Apa dia baik-baik saja?"
"Ya… Sakura baik-baik saja… Ia pingsan karena terlalu banyak beban pikiran. Jadi saya mohon agar Sasuke bisa membantu mengontrol emosi Sakura."
"Baiklah, Dokter… Kalau begitu, kapan Sakura bisa pulang?"
"Jika keadaan Sakura membaik, besok sore Sakura bisa pulang."
"Arigatou."
Sasuke akhirnya lega mendengar kabar itu tanpa tahu keadaan sebenarnya. Tak lama setelah Dr. Tsunade pergi, Kizashi dan Mikoto datang. Mereka sangat khawatir dengan keadaan Sakura. Mereka takut terjadi sesuatu pada Sakura. Namun setelah mendengar bahwa Sakura baik-baik saja, mereka sudah bisa bernafas dengan lega. Mereka bertiga membagi tugas untuk menjaga Sakura di rumah sakit.
"Sasuke, malam ini biarkan Kaa-san dan Tou-san yang menjaga Sakura… Kamu harus istirahat, besok kamu ada jadwal kuliah kan?"
"Tapi, Kaa-san…"
"Tidak ada kata tapi. Kamu harus segera pulang… Dengarkan kata Kaa-san'mu itu."
"Tidak, Tou-san… Aku khawatir dengan keadaan Sakura…"
"Sudahlah, Sasuke… Kau tidak perlu khawatir dengan keadaan Sakura, ada kami disini…"
"Baiklah, aku pulang… Oyasumi Kaa-san, Tou-san…"
.
.
Sesampainya di rumah…..
"Hn. Sekarang masih jam 8, terlalu sore untukku tidur." batin Sasuke sambil melihat jam yang ada dinding sampingnya.
"Bagaimana kalau aku membereskan kamar Sakura? Kelihatannya kamarnya sangat berantakan tadi…"
Sasuke pun mulai berjalan menuju kamar Sakura yang ada di lantai 2.
"Huft… Berantakan sekali tempat ini. Kenapa bisa Sakura tidur di tempat yang berantakan seperti ini?"
Sambil menggerutu, Sasuke membereskan kamar Sakura yang sangat berantakan itu. Sesekali Sasuke tersenyum melihat banyak sekali barang-barang aneh yang dimiliki oleh Sakura. Dan banyak dari barang-barang aneh itu adalah pemberian Sasuke pada Sakura yang sering kali ditolak oleh Sakura. Sasuke tidak menyangka kalau Sakura memang menyimpan barang-barang itu.
"Hn. Apa ini? Apa ini surat cinta dari teman Sakura?"
Karena penasaran, Sasuke membalik surat tersebut. Ternyata di bagian depan surat itu tertera namanya. Dengan bimbang, Sasuke mulai membuka surat itu dan membacanya.
"Sakura…" kata Sasuke lirih.
"Kenapa kamu rahasiakan ini semua dari kami? Ini penyakit yang serius Sakura. Ini pasti sungguh berat buatmu, aku berjanji akan terus melindungimu…"
Malam itu Sasuke tidak bisa tidur karena ia sangat memikirkan penyakit yang di derita Sakura. Sasuke sedih karena Sakura mengidap penyakit yang sama dengan almarhum ayahnya, Uchiha Fugaku. Sasuke teringat dengan perjuangan ayahnya yang tak kenal lelah itu. Fugaku harus meminum obat dengan rutin. Banyak sekali obat yang harus ia minum tiap harinya. Itu harus dilakukan Fugaku agar ia dapat sembuh dari kanker yang sangat mematikan itu. Dulu Sasuke sangat sering melihat ayahnya sedang meminum obat-obatan itu dan Sasuke merasa sedih karena melihat ayahnya yang harus bergantung pada obat-obatan itu. Meskipun Fugaku sudah rajin meminum obat itu, tetap saja Fugaku tidak bisa diselamatkan. Dan hal itu yang membuat Sasuke semakin sedih. Ia takut nasib Sakura seperti almarhum ayahnya itu.
.
.
Keesokan harinya…
"Kenapa hari ini jam berputar sangat lama ya?"
"Sasuke, kamu kenapa sih? Kamu terlihat gelisah sekali?" kata Sai.
"Tak apa."
"Apa kamu punya masalah? Ceritakan saja padaku."
"Tidak ada."
Setelah itu, Sasuke memutuskan untuk pergi ke atap kampus. Disana ia bisa menenangkan diri tanpa diganggu oleh orang lain. Ia duduk di sebuah sofa yang ada disana.
"Sakura… Nii-san mencintaimu… Nii-san tidak ingin kehilanganmu… Nii-san tahu kalau perasaan ini salah, tapi Nii-san tidak bisa menghilangkan perasaan ini… Nii-san berjanji untuk menjaga dan melindungimu." Batin Sasuke.
Tak terasa kalau Sasuke sudah 1 jam berada disana. Ia turun untuk mengikuti kelas selanjutnya. Namun saat ia sampai di depan pintu kelas, ia berpapasan dengan Sai.
"Hari ini, Kakashi-sensei tidak bisa hadir. Jadi tidak ada kelas. Apa kamu ada waktu? Gaara, Shika, Neji, dan aku akan pergi nonton di rumah Neji. Apa kamu mau ikut?"
"Tidak."
"Ya sudah."
.
.
Setelah itu, Sasuke langsung meninggalkan kampus, dan bergegas menuju Rumah Sakit Waverly Beechworth Lunatic. Ia mengendarai mobil kesayangannya dengan kecepatan sedang. Jalanan saat itu cukup padat tapi tidak sampai menimbulkan kemacetan. Jarak dari kampusnya dengan rumah sakit cukup jauh sehingga memakan waktu kurang lebih 30 menit.
"Kaa-san, Tou-san…" kata Sasuke saat memasuki kamar rawat Sakura.
"Eh? Nii-san?"
"Sakura-chan, dimana Kaa-san dan Tou-san?"
"Ehm, itu, Kaa…Kaa-san dan Tou-san bekerja. Mereka ada meeting mendadak." Jawab Sakura tergagap-gagap karena melihat kakaknya tersenyum.
"Oh… Kamu kenapa, Sakura-chan? Apa perlu Nii-san panggilkan dokter?"
"Eh.. Tidak, tidak. A-Aku baik-baik saja."
"Yokkata. Sakura-chan, ada yang ingin Nii-san tanyakan."
"Ehm… Apa?"
"Kenapa kamu rahasiakan penyakitmu kepada kami?"
"A-Apa maksud, Nii-san? A-aku ti-tidak mengerti."
"Sudahlah Sakura, jangan berbohong lagi… Nii-san sudah tahu semuanya…"
"Gomen, aku hanya tidak ingin membebani kalian. Aku takut kalian tertekan dengan penyakitku ini." Kata Sakura sambil menunduk.
"Tapi kamu tidak perlu menyembunyikan semua ini, Sakura… Nii-san pasti akan bantu kamu…"
"Tapi aku mohon agar Nii-san tidak mengatakan ini semua ke Kaa-san dan Tou-san. Nii-san mau kan berjanji padaku?"
"Kenapa Sakura? Kenapa Kaa-san dan Tou-san tidak boleh tahu?"
"Aku tidak ingin mereka semakin terbebani karena penyakitku… Nii-san tahu kan kalau sekarang perusahaan Tou-san sedang dalam keadaan krisis? Nah karena itu aku tidak mau membebani mereka."
"Baiklah. Tapi kamu juga harus berjanji pada Nii-san untuk menceritakan semua masalah yang kamu hadapi. Nii-san tidak ingin ada kebohongan… Apa kamu mau?"
"Baiklah, Nii-san…"
Mereka berdua berpelukan dan berjanji untuk saling jujur.
"Aku ingin waktu berhenti detik ini juga. Aku tidak ingin melepaskan pelukan ini. Andai saja Sakura bukan adikku… Aku pasti akan bisa memilikinya…" batin Sasuke.
"Nii-san…" kata Sakura sambil melepaskan pelukannya.
"Iya, Saku-chan?"
"Ish, Nii-san! Jangan panggil aku dengan panggilan itu!" kata Sakura sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa, Saku-chan?" kata Sasuke sambil mencubit gemas kedua pipi Sakura.
"Lepas, Nii-san… Sakit tahu!"
"Iya, iya… Nii-san lepaskan."
Setelah itu Sakura langsung menyentuh pipinya dan mengusap-usapkan tangannya ke kedua pipinya yang merah itu.
"Nii-san…"
"Hn" jawab Sasuke tanpa menoleh ke arah Sakura.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Hn"
"Kenapa Nii-san… Hmm.."
"Apa, Saku-chan?" jawab Sasuke sambil menoleh ke arah Sakura.
"Kenapa Nii-san… ehm… belum punya pacar?"
"Hn"
"Kenapa? Ayolah, Nii-san…" Sakura merajuk.
"Tidak ada yang cocok."
"Tidak mungkin. Teman Nii-san sangat banyak. Masa tidak ada satupun yang disukai oleh Nii-san?"
"Tidak."
"Pasti mereka takut karena Nii-san selalu cuek kan? Ya, kan?"
"Tidak."
"Lalu kenapa Nii-san tidak punya pacar?"
"Hn"
"Nii-san menyebalkan!"
"Memang kenapa?"
"Aku ingin tahu saja."
"Tidak boleh."
"Kenapa? Apa jangan-jangan Nii-san itu…"
"Apa?"
"Ih, Nii-san yaoi."
"Apa?!"
"Nii-san yaoi. Ya, kan?
"Baka."
"Lalu kalau Nii-san bukan yaoi, kenapa Nii-san tidak punya pacar?"
"Nii-san suka dengan seseorang."
"Siapa itu? Pasti cantik kan?"
"Hn"
"Seperti apa dia?"
"Dia cantik tapi bodoh."
"Hah?! Kenapa Nii-san suka dengan perempuan bodoh?"
"Dia baik."
"Hanya karena itu?"
"Hn"
"Nii-san aneh."
"Hn"
"Ya sudah…"
.
.
Akhirnya Sakura menyadari betapa besar perhatian Sasuke kepadanya. Dan Sakura pun sudah dapat menerima Sasuke sebagai kakaknya. Sakura tidak lagi bersikap dingin lagi kepada kakaknya itu. Sakura meminta maaf atas semua hal yang telah ia lakukan. Sakura sadar akan kesalahan yang selama ini ia perbuat kepada kakak dan ibu tirinya itu.
.
.
.
.
To be Continue
Yey! Akhirnya chap 3 selesai \(^^)/
Aneh ya? Ngebosenin ya? Bikin bingung ya? Gomen._.
Gomen buat yang nungguin kelanjutan fic ini… Aku gak bisa update cepet-cepet soalnya aku lagi banyak tugas dan mau ujian._. Doain ujianku sukses ya, biar fic ini cepet di update :D #Malah curhat X_X
Fic masih ada yang berminat kan (?) Banyak dong :D #PD:Mode on… Semoga aja masih ada… Aku berharap banget para reader berkenan ngasih review buat fic ini…
Tapi buat silent reader…. Arigatou udah mau baca :D hehehe
Kita bakal ketemu lagi di chap depan :D
Balasan review chap 2:
hanazono yuri
Iya :D Chap 2 aku update cepat karena chap 3 aku telat update'nya..
Jadi sebagai ganti gitu loh :D :p
Moga kamu masih berminat ya… Arigatou…
Febri Feven
Okay… Arigatou udah memotivasi aku buat ngelanjutin fic ini…
.9
Okay :D
Anisha Ryuzaki
Arigatou udah suka fic ini… Aku juga newbie kok, jadi kita sama-sama belajar ya:D
Ini udah aku lanjutin :D Moga terus berminat ya :D
Salam Hangat….
RainHug #peluk
