Pair : Sasuhina

Rate : M

Genre : Angst, Romance, Drama

Warning: Typos, Full of Drama, Explicit Sexual Content, Explicit Language, Suspense, etc


It Can't be

"Karin, apa kau yakin akan melakukan ini?". Suigetsu merasa tertekan dengan rencana teman wanitanya. Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke salah satu wedding vendor yang ada di kota Hokkaido.

"Apa kau pikir aku ke sini hanya untuk bersenang-senang?". Karin mendengus kesal. "Aku harus menyelesaikan ini secepatnya sebelum semuanya terlambat".

"Paling tidak beritahu kami tujuanmu!". Suigetsu juga ikut kesal. "Kau juga penasaran kan, Juugo?". Tanyanya pada satu lagi temannya yang sedang menyetir.

"Tidak juga". Jawab Juugo singkat.

"Cih, kau seperti mayat hidup saja... apa kau sama sekali tak tertarik pada hal lain selain binatang?".

"Lakukan saja sesuai rencana, Suigetsu! Kau tak perlu cemas, karena aku yang akan menanggung semua akibatnya". Karin dengan tenang mencoba menenangkan pria bergigi runcing itu.

"Sasuke benar-benar akan membunuhku nanti". Suigetsu gigit jari membayangkan apa yang akan terjadi padanya.

It Can't be

"Jika kau tak ingin melakukan pernikahan ini maka kau tak perlu melakukannya, Gaara!". Sasori sedikit menaikkan suaranya di depan pintu kamar di mana Gaara berada. Sudah 2 hari keponakannya itu mengurung diri. Dan sekarang ia harus angkat bicara. Setelah dua hari sejak Gaara pulang dari makan malam bersama Hinata Hyuuga dan juga sejak anak itu melemparkan sebuah flash disk padanya, ia bungkam. Rahasia yang selama ini sudah ia coba sembunyikan dan tutup rapat akhirnya terbongkar. Fakta tentang kematian Rasa, ayah dari sabaku bersaudara. "Dan jika kau ingin tahu segalanya, aku akan memberitahumu sekarang". Lanjutnya. Tapi masih tak ada respon dari dalam. "Aku melakukan ini semua untuk melindungi kalian".

"Dia siapa paman?". Temari dengan raut wajah sedih menghampiri Sasori. "Siapa orang itu?". Ia, Kankuro dan Sasori sudah melihat isi flashdisk itu. Di sana mereka melihat beberapa video dari rekaman cctv. Lebih tepatnya rekaman cctv dari pembunuhan yang terjadi pada ayahnya sepuluh tahun silam. Seseorang menjerat leher ayahnya dengan tali. Dan orang itu menggantung mayat ayahnya seolah-olah ayahnya tewas karena gantung diri. Dan dari rekaman itu terlihat jelas, jika beberapa saat setelah kejadian itu, dua orang masuk ke ruangan dimana ayahnya berada dan melihat pelaku. Mereka adalah Uchiha Fugaku dan juga pamannya sendiri, Sasori. Dari potongan video yang lain, pamannya terlihat mengejar pelaku dan Uchiha Fugaku mencoba menurunkan mayat ayahnya. "Katakan pada kami semuanya, paman!".

"Kalian sendiri juga tahu bukan? Bagaimana keadaan ayah kalian saat itu?". Sasori mengatakannya dengan sedih. "Saat itu mentalnya sama sekali tak stabil karena ia kehilangan banyak hal dalam hidupnya".

"Dan kau berbohong pada kami jika penyebab mental tousan yang tak stabil dan penyebab kematiannya adalah klan Uchiha". Kankuro yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. "Di rekaman itu terlihat jelas jika pimpinan klan Uchiha berusaha membantu tousan. Dan paman sendiri setelah hampir satu jam keluar mengejar pelaku itu... paman kemudian masuk kembali ke tempat kejadian dengan membawa aparat kepolisian yang pada akhirnya mereka membawa Uchiha Fugaku bersama mereka".

"Sudah kubilang aku mencoba melindungi kalian, bukan?".

"Melindungi kami dari siapa, paman?". Gaara membuka pintu kamarnya dan menatap tajam Sasori. "Atau... paman sendiri yang ternyata bekerja sama dengan pelaku untuk melenyapkan ayah kami dan sengaja mengkambing hitamkan klan Uchiha?".

"Jaga bicaramu, Gaara!". Sasori tak bisa lagi menahan amarahnya. "Kau tak tahu apa-apa... jadi, jaga bicaramu!".

"Kalau begitu beritahu kami semua yang paman ketahui!".

It Can't be

"Temeee... tak bisakah kau duduk diam sebentar saja?". Naruto mengacak rambutnya frustasi. Sudah berulang kali sahabatnya itu terlihat tak tenang dan gelisah.

"Sudah dua hari Dobe... Tak ada informasi tentang Hinata". Sasuke mondar mandir di ruang tengah dimana teman-temannya yang lain sedang bersantai.

"Baru dua hari dan kau terlihat seperti sudah kehilangan Hinata selama bertahun-tahun saja". Ejek Kiba puas.

"Itu karena kau tak mengerti bagaimana rasanya, bodoh". Sela Sasuke tak terima. Ia semakin tak suka melihat Kiba mengingat pemuda itu adalah sahabat masa kecil Hinata. "Aku akan pergi menemuinya". Ia kemudian melangkah keluar ruangan.

"Dan kupastikan kau tak akan bisa kembali dalam keadaan hidup". Kiba memutar matanya bosan. Sudah berapa kali ia mengatakan kalimat itu untuk menghentikan Sasuke? "Dasar".

Sasuke yang menghentikan langkahnya langsung mengepalkan kedua tangannya kuat.

"Mendokusai... Tak bisakah kalian diam sebentar? Kalian memecahkan kosentrasi kami". Shikamaru akhirnya ikut mengeluh karena ia tak bisa fokus dalam permainan shoginya bersama Shino.

"Ya, Shikamaru benar". Kata Shino setuju.

"Apakah kalian tak merasa heran?" Tanya Kiba yang membuat tatapan mereka yang ada di sana tertuju padanya. "Kemana perginya pangeran es yang setiap saat selalu mengatakan dua konsonan aneh itu? Apa yang sering dia katakan?" Ejeknya memperjelas setiap kalimat.

"Hn". Naruto menimpali dengan tawa yang terbahak-bahak dan diikuti gelak tawa teman-temannya yang lain.

Ujung bibir Sasuke berkedut mendengar mereka menertawakannya.

"Cemilan dan minuman hangat siaaapppp". Ino dan Sakura berjalan keluar dari dapur dengan membawa makanan ringan dan minuman hangat di tangan mereka.

"Hati-hati Ino pig... minumannya bisa tumpah...". Sakura cuma bisa geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang berjalan cepat dengan banyak minuman yang ia bawa.

"Apakah kalian pikir ini waktu yang tepat untuk bersantai?". Sasuke menyipitkan matanya melihat tingkah orang-orang di sana.

"Ya, ini adalah waktu yang sangat tepat Sasuke...". Jawab mereka serempak membuat Sasuke membelalakkan matanya. Entah mengapa, ia bisa merasakan hatinya menghangat. Ia tak pernah merasakan moment seperti ini dalam hidupnya.

It Can't be

"Apakah semuanya akan baik-baik saja?". Hinata bergumam sendiri di sebuah ruangan. Ia sedang fitting baju untuk pernikahannya nanti. Sudah dua hari ia tak bertemu maupun berkomunikasi dengan teman-temannya. Ayahnya sengaja mengambil ponselnya dan melarangnya keluar menemui siapapun. Beruntung, kali ini ia bisa keluar sendiri tanpa pengawal. Ia akan menyempatkan waktu untuk menemui teman-temannya.

Flashback

"Hinata-chan... tentang Sasuke-kun... apakah kau tak ingin memberinya kesempatan?". Tanya Sakura sebelum Hinata turun dari mobil. Ia dan Ino yang mengantar Hinata pulang setelah mereka menghabiskan waktu bersama.

"Sakura-chan... tapi... bukankah kau sendiri menyukai Uchiha-san?". Hinata bingung dengan pola pikir Sakura. Bagaimana bisa ia menanyakan hal itu sedangkan dia sendiri sangat tergila-gila pada pemuda itu.

"Aku sudah membuang jauh perasaan itu, Hinata...". Kata Sakura sambil tersenyum tulus.

"Apa? Bagaimana bisa?". Hinata terkejut dengan pengakuan sahabatnya.

"Mengejar Sasuke-kun hanya membuatku lelah secara fisik dan mental... Apalagi aku tahu Sasuke-kun menyukai orang lain...".

"Sakura-chan...". Hinata ingin sekali mengelak.

"Sasuke-kun tak seburuk yang kau pikirkan Hinata... Percayalah padaku...". Sakura mencoba meyakinkan.

"Sakura benar Hinata... coba kau ingat kembali sisi positif yang Sasuke lakukan untukmu...". Ino juga mendukung ucapan Sakura.

"Kalian tak tahu apa yang sebenarnya terjadi... jika kalian tahu-"

"Kami tahu semuanya Hinata...". Potong Sakura cepat. "Dalam perjalanan ke sini, Sasuke-kun mengatakan segala hal tentang apa yang ia lakukan padamu...".

-Deg-

Dejavu. Itu yang Hinata rasakan. Semuanya seperti terulang kembali.

Sakura merasa menyesal. "Sebelumnya Sasuke-kun memang mengungkapkan isi hatinya pada Naruto... tapi dia tak menceritakan secara rinci apa yang sebenarnya terjadi...". Ia menatap Hinata dengan tatapan kasihan. "Baru dalam perjalanan kami ke sini, Sasuke-kun memberitahu kami semuanya".

"Dan kalian diam saja?". Hinata menatap Sakura dan Ino bergantian. "Setelah kalian tahu apa yang Uchiha-san lakukan padaku?".

"Apa kau tak memperhatikan wajah dan tubuh Sasuke-kun, Hinata?". Sakura menatap Hinata sedih. "Ino, Kiba dan Naruto memukul Sasuke-kun secara bergantian setelah kami mendengar fakta itu".

Hinata ingat, ia sempat melihat wajah Sasuke yang sedikit lebam di beberapa bagian. Tapi ia mengabaikannya. Seperti waktu itu, ia tak ingin tahu dari mana asal muasal luka di wajah pemuda itu.

"Sasuke sama sekali tak membalas pukulan kami Hinata... Ia hanya berdiam diri dan tak mencoba mempertahankan dirinya... Dia hanya diam dan menerima pukulan dari kami begitu saja". Ino menggigit bibir bawahnya. Bibirnya bergetar menahan tangis. "Bahkan Shikamaru sudah bersiap untuk melaporkannya ke polisi saat itu juga.".

"Dan Sasuke-kun siap jika ia harus menerima hukuman dan di penjara atas perbuatannya". Tambah Sakura.

Flashback end

"Ada apa denganku?". Hinata meremas tangannya gelisah. "Kenapa aku menjadi merasa bersalah begini?"

"Jadi, kau adalah... Hyuuga Hinata?". Seorang wanita berjalan pelan mendekati Hinata.

Hinata tersentak mendengar suara lain di ruangan itu. "Kau... siapa?". Ia menatap wanita itu curiga.

"Karin... Uzumaki Karin".

Hinata sedikit mengernyit karena tak ada keramahan dari nada bicara wanita itu. Tapi ia tetap mencoba tersenyum. "Apakah kau adalah kakak perempuan Naruto-kun?". Tanyanya saat menyadari marga wanita itu. Dan yang ia tahu, marga Uzumaki adalah marga yang sangat langka di Jepang. Selain itu, ia juga sudah mendengar sedikit cerita tentang kakak perempuan Naruto.

Karin agak terkejut mendengar nama Naruto keluar dari mulut Hinata. "Kau juga mengenal adikku?". Apa yang ia pikirkan? Tentu saja gadis ini mengenal Naruto. Dia kuliah di universitas yang sama dengan Sasuke. Tentu saja dia juga mengenal adiknya.

Senyuman Hinata mengembang saat rasa penasarannya terjawab. Wanita itu memang benar kakak perempuan Naruto. "Hai... aku adalah teman kuliah Naruto-kun". Jawabnya antusias kemudian berdiri untuk menyapa Karin dengan lebih sopan.

Berbeda dengan Hinata yang tersenyum ramah terhadapnya, Karin menunjukkan raut wajah tak suka. Tapi, sedetik kemudian ia menyunggingkan senyum yang ia paksakan. "Kau sangat cantik dengan memakai gaun itu".

Hinata tersipu malu mendengarnya. "Arigato Karin-san... umm tapi... kenapa Karin-san bisa ada di sini?". Tanyanya penasaran.

"Hanya ingin melakukan sesuatu...". Karin melihat ke setiap sudut ruangan. "Astaga, kenapa gaunmu kusut sekali?" Ia meraih gaun Hinata. "Berbaliklah! Biar kurapikan gaunmu".

-TBC-