Pair : Sasuhina

Rate : M

Genre : Angst, Romance, Drama

Warning: Typos, Full of Drama, Explicit Sexual Content, Explicit Language, Suspense, etc


It Can't be

"Karin memintaku untuk selalu memastikan suaranya terekam jelas sebelum dia menyuruhku dan juga Juugo untuk membawa Hinata-san ke sini dan meninggalkannya sendirian di sana". Suigetsu menyerahkan alat penyadap jarak jauh ditangannya kepada Sasuke. "Semua percakapannya tersimpan di sini". Ia kemudian mengambil ponsel dari saku celananya. "Sesuai permintaan Karin... Aku juga sudah mengirimkan isi rekaman itu pada sejumlah orang yang ada di kontak nama ponsel ini".

"Berikan padaku!". Naruto mengambil alat itu dari tangan Sasuke.

"Dobe,"

"Temee... Karin adalah kakakku...".

"Naruto...". Sakura menatap Naruto dengan sedih.

"Dan aku mempunyai hak untuk mendengarkan isi rekaman suara ini...". Tegas Naruto yang membuat seisi ruangan itu terdiam.

It Can't be

Hinata POV

"Nee Hinata-san... apa kau ingat dengan masa lalumu?".

Suara itu. "Karin-san? Karin-san? Kau ada di mana?". Dimana aku? Kenapa di sini gelap sekali? Aku tak bisa melihat apapun.

"Cobalah mengingatnya kembali, Hinata-san".

"Mengingat apa maksudmu? Aku mengingat segalanya... aku bukan orang yang sedang hilang ingatan...". Sebenarnya tempat apa ini? "Neee Karin-san... kau ada di mana?"

"Ingatlah kembali Hinata-san... ingatlah kembali apa yang menjadi ketakutan terbesarmu dan ingatlah kembali bagaimana rasa sakitmu... hadapi dan jangan melarikan diri dari kenyataan..."

"Ingat ingat ingat... apa yang harus aku ingat? Katakan padaku, Karin-san!". Ketakutanku? Rasa sakit?

"Hinata-chan... kau tahu sendiri jika Sakura tahu, maka-"

"Aku sudah tahu semuanya"

"Sakura... sebenarnya-"

"Aku ada di sana Ino... Malam itu aku juga di sana... Malam itu aku mengikuti Naruto... dan aku mendengar semuanya...".

Ino-chan? Sakura-chan? Tempat ini? Bagaimana bisa tiba-tiba aku ada di area kampus?

"Selamat Hinata..."

Kejadian ini?

"Lihatlah Ino... Kita sudah menemukan seseorang yang berhasil membuat Sasuke jatuh cinta... Hyuuga Hinata... Gadis paling naif yang kita kenal... adalah satu-satunya gadis yang akhirnya berhasil menakhlukkan hati seorang Uchiha Sasuke..."

Tidak.

"Jawablah Hinata! Apa benar jika kau pergi bersama Sasuke saat malam festival itu? Kau bahkan juga keluar bersama Sasuke di malam acara launching galeri Deidara... Sudah sejauh mana hubungan kalian, Hinata?"

Hentikan!

"Selamat atas pertunanganmu".

Naruto-kun?

"Itu adalah kabar yang bagus jika kau sudah bertunangan"

Tidak.

"Kau bisa melupakan hal konyol yang pernah kukatakan padamu".

Cukup!

"Aku lega saat itu kau tak memberiku jawaban"

Kumohon.

"Karena saat itu aku juga tak yakin jika aku benar-benar menyukaimu"

Aku tak ingin mendengar itu lagi.

"Aku tak bisa melupakan Sakura"

Kumohon hentikan, Naruto-kun.

"Rasa sukaku pada Sakura melebihi rasa sukaku padamu, Hinata".

Tidak tidak tidak.

"Hinata? Hinata, kau baik-baik saja?"

Tenten-nee?

"Apa yang kau lakukan, Hinata? Kau hampir tertabrak tadi..."

Apa yang terjadi?

"Kau ingin bertanya bagaimana bisa aku ada di sini? Ah ya sebenarnya aku ke sini untuk mengunjungi bibiku... Dan kau tahu? tadinya aku juga berencana mengunjungimu...".

Bagaimana bisa aku kembali ke sini?

"Tapi aku langsung berbalik arah dan pergi saat aku ingat bagaimana kondisiku... Tapi ada apa denganmu Hinata... kenapa kau berada di tepi jalan begini?".

Tidak lagi.

"Gomen, Hinata... Aku dan Neji harus menyembunyikan hubungan kami yang sebenarnya darimu... Kau ingat Neji pernah bilang padamu jika dia harus pergi ke Fukuoka selama 2 minggu, bukan? sebenarnya, Neji pergi ke sana bukan untuk perjalanan bisnis... Alasan sebenarnya adalah Neji pergi untuk mencariku... dan seperti yang kau lihat, aku hamil dan Neji adalah ayah dari anak yang ku kandung".

Aku ingat apa yang akan terjadi setelah ini.

"Kau sudah kuanggap seperti adik kandungku sendiri, Hinata... aku sangat menyayangimu... Tapi aku tak bisa selalu berada di sisimu setiap saat... jadi, kau harus jaga diri baik-baik dan jangan terlalu banyak berpikir hal yang tak perlu... kau mengerti kan?".

Tidak. Aku tak ingin melihat kejadian itu lagi.

"Kurasa ini sudah waktunya aku pergi..."

Jangan pergi Tenten nee. Aku harus mencegahnya.

"Jaga dirimu baik-baik Hinata..."

Jangan menaiki taksi itu Tenten nee. Tidak mungkin. Kenapa aku tak bisa bersuara dan menggerakkan tubuhku?

-Ciiiiieeeetttttt-

Tidak. Tenten-nee

-Crashhhh-

"TENTEN NEE"

Hinata POV end

It Can't be

"Naruto... aku melakukan ini semua hanya untukmu... aku hanya ingin kau ada di posisi yang seharusnya kau berada... Memang apalagi yang bisa kulakukan? Aku tak bisa menjadi kakak yang baik untukmu dan tak akan pernah bisa... Karena seperti yang kau bilang sebelumnya... aku hanyalah seorang pelacur yang hanya akan menjadi noda bagi keluarga kita... Tidak... maksudku adalah keluargamu... Fakta yang sebenarnya adalah... aku bukanlah kakakmu, Naruto... Aku hanyalah anak angkat dari Ibu Kushina sebelum ia menikah dengan ayahmu, Namikaze Minato...".

"Sebenci apapun kau padaku…Aku tetap kakakmu, Naruto…".

"Tidak ada anggota keluargaku… yang berstatus sebagai pelacur…".

"Dobe…". Sasuke menepuk pelan pundak Naruto.

"Wari, Sasuke… sepertinya aku harus kembali ke Tokyo hari ini juga". Gumam Naruto pelan. Tatapannya terpaku pada jenazah yang sudah terbaring kaku di hadapannya.

Sasuke juga menatap jenazah itu dengan tatapan bersalah. Bagaimanapun, wanita itu pernah menjadi bagian dalam hidupnya. "Hn, aku mengerti…".

Sakura yang juga berada di ruangan itu masih tak bisa percaya dengan pemandangan di depannya. Seorang wanita yang ia kenal sudah terbujur kaku di atas ranjang rumah sakit. Ia mengenal baik wanita itu. Uzumaki Karin, Wanita yang sangat membencinya. Dia adalah kakak perempuan Naruto sekaligus wanita yang sangat dekat dengan Sasuke. "Naruto, aku juga akan-".

"Tidak Sakura… Hina-chan membutuhkanmu di sini". Potong Naruto. "Lagipula, aku juga akan kembali ke sini secepatnya…". Ia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. "Setelah aku menyelesaikan urusanku di sana".

"Tapi-".

"Sakura…". Ino meraih pundak sahabatnya dan memaksanya menghadapnya. Ia menggelengkan kepalanya pelan untuk mencegahnya berbicara lebih banyak lagi. Ia juga turut berduka cita dan ikut bersedih dengan apa yang menimpa Naruto. Ia tak pernah menyangka akan melihat wanita itu lagi dalam keadaan seperti ini. Ia juga mengenal wanita itu. Dulu, wanita itu adalah momok baginya yang selalu membuatnya ketakutan. Dulu, wanita itu hampir merenggut nyawanya. Hanya karena satu alasan, yaitu Uchiha Sasuke.

"Sasuke… bisakah kau mengirim semua isi rekaman suara itu padaku?". Pinta Naruto

"Hn,"

It Can't be

Setelah dari kamar jenazah, Sasuke kembali ke ruangan dimana Hinata berada. Sesampainya di depan pintu, ia melihat dokter yang menangani Hinata keluar dari dalam ruangan dengan raut wajah yang membuatnya semakin cemas. "Bagaimana keadaannya, Kabuto?". Tanyanya saat ia sudah ada di hadapan pria itu.

Kabuto menatap Sasuke khawatir. "Gadis itu sudah kembali siuman setelah beberapa kali pingsan dan sekarang dia tertidur...". Katanya pelan.

Sasuke yang tak sabar segera melangkah melewati Kabuto untuk menemui Hinata. Tapi ia berhenti saat merasakan tangan Kabuto yang menahannya. "Ada apa?". Tanyanya jengkel.

"Gadis itu sedang dalam keadaan yang sangat buruk, Sasuke".

Sasuke terhenyak mendengarnya. "Apa maksudmu?"

"Amnesia Disosiatif". Kata Kabuto tanpa memandang Sasuke. "Sepertinya ia pernah mengalami trauma yang sangat berat di masa lalunya". Lanjutnya kemudian berbalik menatap Sasuke tajam. "Apa kau sudah tahu itu?".

"Hn"

"Souka...". Kabuto menghela napas dalam. "Karin memintaku untuk membantu gadis itu mengingat masa lalunya".

"Percuma saja".

Sasuke dan Kabuto tersentak mendengar suara berat seorang pria yang menginterupsi pembicaraan mereka. Hal itu membuat mereka berdua kemudian menoleh dalam waktu bersamaan. Di sana mereka melihat dua orang pria berjalan beriringan. Satu orang pria paruh baya dan satu orang lagi adalah seorang pria yang lebih muda.

"Dulu, kami sudah melakukan segala cara agar dia bisa mengingat segalanya...". Pria itu yang tak lain adalah Hiashi Hyuuga mengatakannya tanpa menatap Sasuke maupun Kabuto. Tatapannya hanya terpaku pada pintu ruangan di mana putri sulungnya berada. "Tapi tetap saja... semuanya tak ada hasil".

"Meskipun begitu, tak ada salahnya mencobanya kembali bukan?"

-Deg-

Jantung Sasuke berdetak cepat saat mendengar suara yang sangat ia kenal.

"Fugaku? Kau... apa yang kau lakukan di sini?". Hiashi terkejut melihat kedatangan saingan bisnisnya. Ia bahkan tak menyadari pria itu beserta putra sulungnya berada tak jauh di belakangnya.

"Otousan... Itachi?". Gumam Sasuke pelan. Ia tak menyangka melihat mereka di sini.

Itachi tersenyum tipis melihat reaksi Sasuke. Sebenarnya, ia sengaja ikut pergi ke Hokkaido bersama kedua orang tuanya di hari yang sama saat Sasuke pergi. Bagaimanapun juga, Sasuke masih menjadi tanggung jawabnya. Ia harus tetap mengawasi adik laki-lakinya itu dan berencana menyatukan keluarga mereka. Demi kebahagiaan keluarganya, ia sanggup melakukan apapun juga.

"Sampai kapan kau akan bersikap keras kepala seperti ini, Hiashi? Bukankah kau juga mendapatkan semua rekaman itu?". Fugaku menghela napas lelah. "Di usia kita sekarang... akan lebih baik jika kita mulai menurunkan ego kita masing masing...".

"Tutup mulutmu! Isi rekaman itu tak membuktikan apapun tentang tragedi yang ku alami...". Hiashi mulai geram dan menaikkan suaranya.

"Itulah mengapa ingatan putrimu sangat penting... Karena dia adalah saksi mata utama yang menyaksikan tragedi yang ia alami dan dialah yang melihat pelaku yang sebenarnya di balik tragedi itu". Suara Fugaku berhasil membungkam Hiashi.

-Craaanggg-

Semua orang panik mendengar suara pecahan kaca dari dalam ruangan di mana Hinata berada.

"Hinata". Sasuke langsung masuk ke dalam diikuti semua orang yang ada di sana.

"Aarrgghh ittaiiiii". Hinata mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya.

Sasuke langsung menangkap Hinata saat gadis itu turun dari ranjang dan akan melangkah tepat di atas pecahan kaca.

"Onegai... arrggh kepalaku sangat sakit...". Hinata memukul kepalanya berkali-kali dengan telapak tangannya

"Hinata...". Jujur saja, melihat Hinata yang mengerang kesakitan seperti ini membuat Sasuke takut. "Kabuto... jelaskan apa yang terjadi padanya?". Ia memeluk pinggang Hinata dengan satu tangan dan tangan lainnya memegangi kedua pergelangan tangan gadis itu yang kembali akan memukul kepalanya.

"Menyingkir dari putriku sekarang juga!". Hiashi tak suka melihat anak dari pesaingnya menyentuh putrinya.

"Ku mohon tenanglah, Hiashi jisan". Neji mencoba menenangkan pamannya. Ia tak akan membiarkan kemarahan pamannya membuat situasi semakin kacau.

"Lakukan sesuatu, Kabuto!". Perintah Itachi. Ia tak tega melihat gadis itu menahan sakit.

Kabuto dengan cepat mengambil kotak alat medis, lalu mengeluarkan salah satu alat suntik dan memasukkan cairan ke dalamnya. Setelah itu ia menghampiri Hinata dan menyuntikkannya tepat ke lengan atas gadis itu. Dan tak lama setelah ia menyuntikkannya, gadis itu mulai tenang dan jatuh ke pelukan Sasuke. "Aku terpaksa menyuntiknya dengan obat penenang... jika tidak, dia akan semakin merasa kesakitan...". Katanya kemudian.

Sasuke memeluk Hinata erat. Salah satu tangannya mengelus rambut gadis itu dengan lembut. Ia benar-benar tak bisa menyembunyikan kecemasannya.

Semua orang memandang Sasuke dan Hinata dalam diam. Tak ada yang bersuara. Semua orang dalam pikirannya masing-masing.

"Apa yang harus kita lakukan, Kabuto?". Tanya Fugaku memecah keheningan.

"Aku tak tahu pasti... tapi aku yakin dia bisa membantu".

Fugaku mengernyit. "Dia siapa maksudmu?".

"Orochimaru".

-TBC-