BECAUSE OF YOU
(Karena kamu aku melakukan semua ini.)
Cast : - Park Chanyeol
- Byun Baekhyun
- Byun Heechan
Support : - Temukan sendiri
Author : KennyPark
.
Summary:
"Semua kulakukan karena aku ingin membahagiakan mu. Ya, karena kau aku melakukan semua ini."- Park Chanyeol
.
Genre :
Romance, Hurt, School life
GS
.
T
.
CHAPTER 2 Semua ini salah mu dan karena mu juga aku tidak menyalahkanmu
"Noona.. hari ini jadi mengajari ku berhitung kan?" Aku berjongkok, mensejajarkan tubuhku di hadapan Heechan.
"Iya sayang, tapi nanti noona ya." Heechan mengangguk semangat. Sebelum pergi dia mengecup pipi ku dan memeluk leher ku.
"Noona cari uang yang banyak ya, biar aku bisa beli robot baru." Aku hanya mengangguk dan mencium pucuk kepala nya.
"Sana.. teman-teman mu sudah menunggu." Heechan melepaskan pelukann ku dan mulai berlari mendekari temannya. Setelah memastikan Heechan sudah masuk kelas, aku menggerakkan kaki ku ke arah tempat kerja ku.
"Pagi Sehun. Pulang dan beristirahat hmm?" Sehun adalah lelaki yang biasanya jadwal pada shift tengah malam.
"Oh ya noona maaf, stok susu hangat nya habis. Aku lupa belum mengisi ulang karena kemarin malam sangat ramai."
"Tidak apa-apa. Kau pulanglah." Sehun mengangguk dan melepas apron hijau yang dia pakai lalu memberikannya kepadaku. Dia mengabil tas backpack nya dan berjalan keluar.
Untuk hari ini tidak terlalu melelahkan karena Kyungsoo membantu ku. Awalnya aku masih menyuruhnya untuk istirahat, namun dia menolak karena terlalu lama tidak masuk.
Hari sudah siang, sebentar lagi pasti Heechan pulang. Sebelumnya Luhan sudah memberitahuku kalau dia bisa menjemput Heechan.
Kriingg~
Ponsel ku berbunyi. Ku taruh box snack yang seharusnya aku tata di lantai. Mengambil ponsel ku di saku dan ternyata ada panggilan dari Luhan.
"Hal-"
"Baek! Heechan tidak ada!"
Mata ku membulat, bagaimana Heechan bisa tidak ada?
"Apa maksud mu? Heechan bersekolah tadi!"
"Aku sedang menjemputnya, ternyata sekolah mempulangkan muridnya lebih cepat. Tapi tidak jauh dari jam pulang. Aku pikir Heechan menunggu ku di bangku seperti biasa. Tapi dia tidak ada."
"Sudah kau tanya gurunya?"
"Sudah.. tapi Heechan pulang dengan seorang laki-laki."
Astaga! Adikku.
"Tunggu disana aku akan segera kesana."
Pikiran ku tak terkontrol, aku langsung melepas apron hijau ku dan berpamitan pada Kyungsoo, dan mengatakan hal sebenarnya. Aku harus melangkahkan kaki ku super cepat untuk segera sampai ke sekolah Heechan. Di perjalanan aku semakin cepat berlari, seperti air mata ku yang jatuh dengan deras.
Sesampainya disekolah, aku melihat Luhan mondar mandir di depan kelas dan ada seorang guru bersama nya. Aku menghampiri mereka dan mempertanyakan hal sesungguhnya.
"Heechan pulang dengan seorang laki-laki. Dia masuk ke dalam mobil laki-laki itu."
"Bagaimana bisa kau membiarkan hal itu terjadi?! Kau gurunya, seharusnya kau tahu siapa yang menjemput anak didik mu!!" Luhan mencoba mengontrol emosi ku. Namun percuma, adikku, orang yang kusayangi satu-satu nya hilang.
"Aku pikir itu tidak masalah karena Yoonji ikut dengan mereka. Aku pikir mereka berdua selalu bersama." Hatiku langsung melemah.
Yoonji.
Jika Heechan pulang bersama Yoonji dan seorang laki-laki.
Kemungkinan dia yang menjemputnya.
Tanpa pamit aku langsung berlari menuju rumah. Mungkin saja dia sudah memulangkan Heechan. Dari jauh kulihat ada sebuah mobil terpakir di depab rumah. Aku sungguh berharap hal baik terjadi pada Heechan.
Pintu depan terbuka, aku tidak sempat melepas sepatu dan langsung masuk kedalam rumah. Hecchan disana, duduk berdampingan dengan Yoonji dan mangkuk eskrim di tangan mereka. Kulihat ada seseorang duduk tenang di sofa belakang mereka.
"Noona!" Langsung saja aku berlari dan memeluk Heechan. Air mata tak lepas dari pipiku. Kupeluk erat Heechan hingga dia menepuk punggungku. "Noona.. ak- aku ti- dak bisa ber- napas."
Ku lepas pelukanku dan menangkup pipinya. "Bagaimana bisa Heechan pulang tanpa memberitahu gurumu jika kau pulang bersama Yoonji?! Noona dan Luhan noona khawatir padamu."
"Maafkan aku noona."
"Syukurlah kau tidak apa-apa." Aku memeluk Heechan lagi, namun tatapan ku beralih pada seorang lelaki yang berdiri di belakang Heechan. Dan ada juga seorang laki-laki kecil bersembunyi dibalik kaki nya.
"Maafkan aku, Yoonji meminta untuk bermain bersama Heechan lagi. Dan aku menawarkan tumpangan." Aku tidak bersuara namun menatap nya tajam.
"Samchoon.. ayo pulang." Yoonji bercicit pelan. Meskipun aku tidak memperhatikannya, tetapi Heechan mendengarnya.
"Yonnji akan pulang? Tapi kita belum makan siang Ji.." Heechan melepaskan pelukan ku dan menatap Yoonji yang masih bersembunyi dibalik kaki pamannya.
"Tidak apa-apa Heechan. Aku akan makan siang dengan samchon." Suara Yoonji sangat lirih.
Heechan menoleh kearah ku dan pandangannya sedikit marah. "Noona.. ini bukan salah Yoonji dan samchon. Ini salah ku. Aku yang mengiyakan permintaan mereka tanpa berpikir jika Luhan noona menjemputku. Jadi noona jangan menatap Yoonji seperti itu! Lihat dia ketakutan."
Deg!
Heechan lebih membela paman dan keponakan ini?
Dan tidak pernah memikirkan perasaanku yang khawatir karena hilangnya dia?
Hati ku sedikit berdenyut sakit. Aku mengubah tatapan ku dan mulai berdiri. Mensejajarkan tubuh ku dengan seseorang yang selalu di sebut paman oleh Yoonji.
"Lakukan sesuatu sesuka kalian. Aku akan kembali bekerja." Aku berjalan keluar dengan sedikit lesu. Kulihat Luhan berdiri di dekat tembok yang memisahkan antara ruang tamu dan ruang keluarga. Aku hanya pamit padanya jika aku akan pulang terlambat. Dan mengatakan jika Luhan sibuk, dia boleh meninggalkan Heechan.
Aku berjalan lunglai menuju taman komplek, mendudukkan diriku di sebuah bangku.
Aku tidak percaya apa yang dikatakan Heechan barusan. Dia menghalangiku untuk memarahi mereka. Namun dia tidak pernah berpikir jika aku sangat mengkhawatirkannya.
Kau bodoh Baek.. Heechan masih kecil.
Aku hanya bisa menangis setelahnya. Hati ku terasa berdenyut mengingat Heechan semakin dekat dengan dia. Aku mencoba tidak menangis lagi. Mencoba memaklumi jika semua ini terjadi secara tidak sengaja. Aku menghapus air mata ku dan mulai berjalan pergi meninggalkan taman.
Meskipun hari mulai sore, aku tetap tidak berhenti bekerja. Deringan telpon di saku, ku abaikan dan terus melayani pelanggan. Sehun yang akan shift malam pun juga sudah datang, namun aku hanya bilang jika aku ingin mengganti jam ku saat menjemput Heechan.
Hingga jam menunjukkan pukul enam sore aku berpamitan pada Sehun. Aku berjalan pelan menuju rumahku. Aku mengaratkan pelukan pada badanku karena aku tidak membawa jaket.
Setelah membuka pintu aku di sambut dengan Heechan yang duduk di sekat antara ruang tamu dan pintu depan. Kulihat mata dan hidungnya memerah, dan sebuah boneka rilakuma berada di dekapannya. "Kenapa noona baru pulang?" Aku mengacuhkannya. Aku berjalan melewatinya menuju dapur. Kulihat di meja makan masih tersisa nasi goreng kimchi entah buatan siapa.
Aku mengambil ramen instan dari lemari atas konter. Memasak air di teko dan menunggunya. Sambil menunggu air matang, aku mengambil beberapa sosis dan memotongnya. Kurasakan pada kaki ku ada yang memeluk. Namun ku hiraukan.
"Noona.." Heechan memanggil, namun masih ku acuhkan. "Noona.." Kedua kali aku masih bisa bersabar. "Noona tidak lup-"
"Diam. Noona lelah. Kenapa tidak minta tolong pada samchon Yoonji untuk mengajari mu?!" Aku menatap tajam Heechan. Badannya sempat menegang saat melihat ku. Namun berganti dengan tundukan kepala dan badannya yang mulai bergetar.
"Hiks.. hiks.. hiks.." isakan kecil lolos dari bibir nya. Membuatku tersentak lalu segera memeluknya. Memasukkannya kedalam dekapanku dan Heechan semakin menangis.
"Maafkan noona sudah membentakmu." Aku menciumi kepala Heechan dan menepuk punggungnya pelan. Tangisannya mereda, namun masih sesenggukan
"Ma- hiks maafkan hiks Heechan hiks Heechan hiks salah."
"Ssst.. Heechan tidak salah. Noona hanya lelah. Maafkan noona." Aku merasakan kepala Heechan menggeleng lemah di pundakku.
"Heechan yang salah, gara-gara Heechan noona dan Luhan noona mengkhawatirkan ku. Dan karena aku Yoonji dan samchon Yoonji kena marah noona. Maafkan aku noona. Aku janji akan selalu menunggu noona atau Luhan noona yang menjemputku."
Aku hanya diam dan mengelus kepala nya. Sedari tadi air mata ku menetes mendengar perkataan Heechan..
Ayah, Ibu, maafkan Baekhyun sudah memarahi Heechan..
"Sudah sudah.. sekarang Heechan ke kamar, belajar untuk pelajaran besok. Noona makan dulu dan akan mandi. Nanti kita belajar berhitung bersama." Heechan mengangguk pelan dan tersenyum lalu menyeretku ke meja makan.
"Noona tidak boleh makan ramen atau jajangmyeon lagi. Itu tidak baik. Makan ini. Tadi samchonnya Yoonji memasakannya." Aku sedikit terkejut jika dia memasakkan makanan untuk Heechan. "Masakan samchon sangat enak, seperti masakan noona."
Aku hanya tersenyum mulai menyuapkan nasi goreng itu ke mulutku. Rasa familiar ini mulai mejalar ke lidah ku. Amarah ku yang menyangkut tentang dia mulai sedikit berkurang. Dan jangan lupa hati ku milai menghangat. Rasanya masih sama. Dan makanan ini yang dapat merayu ku dari semua kesalahan yang dia buat. Dia sangat sukses membujukku apapun itu dengan makanan ini.
"Bagaimana noona? Enakkan?" Aku hanya tersenyum sambil mengiyakan pertanyaan Heechan. "Kalau begitu Heechan kekamar. Noona harus segera mandi badan noona bau." Setelah berkata seperti itu Heechan berlari.
Aku kembali melamun memandang makanan di depanku. Aku tidak tahu apa yang di masukan kedalam makanan ini. Entah ramuan dari dukun, peramal atau apapun itu. Tapi makanan ini sukses membuat ku melupakan semuanya. Amarah ku, emosi ku, semuanya serasa lenyap.
.
.
Hari ini Chanyeol memenuhi janji nya. Dia mengajak ku dan Heechan piknik ketaman. Dia menggendong Heechan dan aku membawa bekal kami. Kami memilih taman di tepi kota, tidak terlalu ramai tidak terlalu sepi.
Aku membuka kain lebar di bawah pohon rindang. Kulihat Chanyeol masih berjalan mengajak Heechan melihat taman ini. Apa dia sedikit lupa jika bayi baru bisa melihat satu bulan setelah dia lahir? Aneh aneh saja.
Setelah merapikan alas untuk duduk aku membuka aplikasi kamera. Memfoto Chanyeol yang berdiri di dekat danau sana dengan segala rancauannya pada Heechan.
Tak lama dia berjalan kearah ku dan mendudukan dirinya di samping ku. Kulihat Heechan masih terbangun dan melihat pohon atas kami lalu tertawa. Aku mengreyitkan dahiku, lalu melihat keatas. Ada sepasang burung yang menyanyi. Apa Heechan tertawa karena itu?
"Aku lapar." Aku menoleh kearah Chanyeol. Dia memegang perutnya dan rautnya sangat lucu.
"Tunggu.." aku membuka bekal yang kami bawa. Ada kimbap, pasta seafood, telur gulung dan nasi goreng kimchi. Semua ini yang memasak adalah Chanyeol. Aku tidak bisa membantu karena Heechan sangat rewel saat aku letakkan di kasur dorongnya.
Setelah siap aku mengambil alih Heechan di gendongan ku dan Chanyeol mulai makan. Aku merogoh tas khusus perlengkapan Heechan untuk mencari susu botol nya. Tapi tidak ku temukan sama sekali.
"Chan.. kau tidak lupa memasukkan makanan untuk Heechan kan?"
"Makanan Heechan? Kan Heechan belum boleh makan." Chanyeol sama sekali tidak melihat ku. Dia hanya berfokus pada kimbap nya karena hanya itu yang boleh dia makan. Tentu nasi goreng kimchi nya untukku.
"Astaga Chan! Susu nya Heechan!"
"Aku masukan sayang. Cari lagi." Benar-benar lelaki satu ini. Aku langsung menjewer telinganya agar dia menoleh kearah ku.
"Ah ah ah.. sayang! Sakitt!!" Dia meronta ronta mencoba melepaskan tanganku dari telinga gajahnya itu. "Bagaimana jika aku nanti seperti gajah. Jangan menjewer lagi!"
"Aku bertanya padamu Chan! Kau sibuk pada kimbap mu. Mana botol susu Heechan!"
"Astaga.. di dalam tas sayang.. sini aku carikan." Chanyeol mengambil alih tas perlengkapan Heechan dan mulai merogohnya. "Kok tidak ada?"
"Mana Chan??"
"Yaampun.. aku meninggalkannya di mobil bersama dengan termos air hangatnya." Chanyeol langsung berdiri dan berlari menuju parkiran. Sedangkan aku, tertawa pelan. Namun aku kemblai memasang wajah datar ku karena kelalainnya.
"Ini botol susu nya. Astaga adikku benar-benar lapar." Chanyeol datang dengan susu Heechan dan termos air hangat. Dia langsung menyodorkan botol itu pada Heechan. Aku hanya melihatnya dengan tatapan datar.
"Kenapa??" Aku hanya diam dan mengambil alih botol susu dan memfokuskan pandanganku kearah Heechan. "Sayang.. kenapa hmm?" Aku tidak menjawab. Padahal dalam hati aku ingin sekali tertawa.
"Makan yah.." dia menyodorkan ku telur gulung. Namun aku hanya megalihkan mulut ku. Kudengar Chanyeol menghela napas. Lalu menarik dagu ku untuk menatap nya.
"Maafkan aku oke? Aku lupa jika susu Heechan aku pisahkan. Jadi jangan marah dan makan nasi goreng mu." Aku tidak bisa menahan tawaku. Aku langsung terkikik kecil melihat ekspresi Chanyeol. Dan Chanyeol memandangku bingung.
"Muka mu sungguh lucu Chan!" Langsung saja dia menggelitik pinggang ku. Aku mencoba melepaskan tangannya karena Heechan ada di gendonganku. "Chan! Berhenti! Ada Heechan."
"Andai tidak ada Heechan. Kau sudah mati karena tertawa terus." Aku masih terkikik dan mengambil sendok lalu menyuapkan nasi goreng itu pada mulutku.
"Hmm.. sangat lezat. Terimakasih Chan.." Chanyeol hanya tersenyum lalu merangkul ku dan mencium pucuk kepala ku.
"Aku mencintai mu."
TBC/NEXT?
Tengkyu ya udah review ff nista ini..
Responnya juga udah membangun aku buat ff ini lebih lagi..
Tengkyu ya..
Semoga suka chapter ini ya..
Jangan lupa review lagi
Regards, Ken.
