BECAUSE OF YOU
(Karena kamu aku melakukan semua ini.)
Cast : - Park Chanyeol
- Byun Baekhyun
- Byun Heechan
Support : - Temukan sendiri
.
Author : KennyPark
.
Summary:
"Semua kulakukan karena aku ingin membahagiakan mu. Ya, karena kau aku melakukan semua ini."- Park Chanyeol
.
Genre :
Romance, Hurt, School life
.
GS
.
T
.
CHAPTER 3 Pelukan mu dapat merubah segalanya
"Bisa kita bicara sebentar?" Aku terkejut, saat dia dengan tenang berdiri di depan pintu rumah. Mengatakan jika ia ingin berbicara padaku. Awalnya aku ingin menolak, namun dia memaksa. "Ku mohon, aku ingin berbicara sesuatu." Dengan terpaksa aku mengiyakan permintaannya.
Kami berjalan sebentar menuju taman dekat kompleks. Mobilnya di parkirkan di depan rumahku dan memilih berjalan dengan ku. Kami memilih tempat duduk yang berada di pinggir taman. Agar tidak banyak orang yang mendengar pembicaraan kami.
"Sebelumnya aku mau membicarakan tentang kejadian kemarin. Dan karena itu aku datang untuk meminta maaf." Kami tidak saling pandang satu sama lain. Pandanganku kualihkan pada tempat bermain yang ramai di tengah tamann ini. Namun aku mendengarkan dengan jelas perkataannya.
"Yoonji memintaku untuk minta maaf padamu. Karena dia takut jika dia tidak bisa berteman dengan Heechan lagi."
"Kalian tidak tahu bagaimana kacaunya aku saat mendengar jika Heechan hilang. Karena aku hanya memilikinya." Kudengar helaan napas pelan di sampingku. Aku menunggunya.
"Aku minta maaf, dengan bodohnya aku langsung mengajak Heechan." Setelah itu terjadilah keterdiaman diantara kami.
"Apa kau benar-benar melupakan ku?"
Aku mengreyit. Bukan. Jika kalian berpikir aku bertanya kenapa dia mengajukan pertanyaan itu. Namun sarat nada sedih yang dia ucapkan.
"Aku pikir kau tidak benar-benar melupakan ku. Kecelakan itu tidak mungkin merenggut ingatan mu tentang ku."
Aku diam. Meskipun hati ini mulai terasa sesak, aku masih menahannya
"Aku terkejut jika kabar itu benar adanya. Kau sadar dari koma mu dan bertanya siapa diriku yang saat itu selalu mendampingi mu. Apalagi dokter mengiyakan diagnosa itu, karena benturan di kepalamu memang cukup parah."
Aku masih mendengarkannya. Ingin mengetahui apa yang dia pikirkan selama ini.
"Aku merasa sangat terpukul sejak hari itu. Kau yang murung, kau yang selalu diam, berbeda dengan kau yang kukenal sebelumnya."
Ada sedikit penyesalan yang hinggap di hatiku. Namun kutepis begitu saja.
"Aku merasa menjadi orang asing setelah semua itu terjadi. Kau mengingat Heechan namun tidak padaku. Padahal aku ada sebelum Heechan lahir." Aku sedikit was was.
Apakah semua akan terbongkar?
"Aku merasa frustasi karena aku pikir kau hanya memiliki ku waktu itu. Namun kau menolak dengan tegas bahwa aku tidak perlu repot-repot mengurusimu." Jujur, mata ku mulai memanas.
Kumohon jangan teruskan semua ini.
"Aku selalu bertanya apa yang terjadi sebenarnya. Apa ini benar-benar dirimu, atau kau hanya memakai topeng."
Aku mulai merasa gelisah.
"Mungkin kau tidak mengingat ku. Aku yang kau lihat untuk pertama kali setelah koma. Namun maafkan aku tidak berada disamping mu setelah itu. Tapi per-"
"Cukup!"
Aku harus menghentikan ini.
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Aku tidak mengenal mu, dan aku juga tidak mengingatmu." Suara ku sangat lirih saat ini. Lantas aku berdiri dan mulai berjalan. Namun pelukan hangat dari belakangku menahan seluruh pergerakan ku.
"Aku merindukan mu sayang."
Aku diam.
Sungguh.
Dia berhasil membuat ku tak berkutik.
"Aku ingin mengembalikan semua memori kita. Aku, kau dan Heechan. Aku disini sayang. Kau masih memiliki ku. Aku masih mencintai mu."
Tahan Baekhyun.. dia masalalumu.. tahan air mata mu..
"Jika kau memang ingin melakukan itu, kenapa tidak dari dulu kau melakukannya? Disaat aku terpuruk dan sendiri? Disaat aku butuh seseorang untuk tempat ku bersandar dan mengadu?" Tidak ada emosi dalam perkataan ku. Hanya nada kekecewaan yang muncul dan pengungkapan isi hati ku selama ini.
Aku berbalik dan menatap tajam tepat pada manik kelamnya, "Meskipun aku kehilangan ingatan ku, seharusnya kau menemaniku. Kau bilang kau mencintaiku kan? Kenapa kau tidak disisi ku? Seharusnya dengan gigih kau mencoba mengembalikan ingatanku. Tapi apa? Kau pergi begitu saja, kau sudah menyerah didepan. Aku hanya bertanya kenapa tidak dari dulu kau mengatakan ini semua?!"
Dengan cepat dia memelukku lagi. Aku merasakan basah pada pipi dan pundakku. Isakan kecil lolos dari bibir ku dan juga isakan dengan suara berat terdengar dari telingaku. Pelukannya semakin erat dan mampu membuat ku diam. Namun pertanyaanku tidak ada jawaban. Dia membisu.
Aku meronta, mencoba melepaskan pelukannya. Namun dia sama sekali tidak melepaskanku. Benar-benar tidak ingin aku pergi. "Lepaskan aku.." suara ku begitu lirih. Seakan aku tidak ada lagi tenaga untuk memberontak.
"Jangan.. kumohon jangan pergi." Dia mengeratkan pelukannya dan aku semakin jatuh bersandar pada dada bidangnya. Menciumi pucuk kepalaku bertubi-tubi dan menyandarkan dagunya pada kepala ku. Bau parfum nya kembali menguar di indera penciumanku. Bau yang dulu selalu aku hirup selama disisinya. Dia masih memaka jenis parfum ini. Parfum yang selalu aku pilihkan.
"Aku menunggu saat seperti ini. Memelukmu kembali dan menyalurkan rasa rindu ku. Aku sungguh merindukan mu. Kumohon sebentar saja.." Dia berulang kali mengatakan itu. Bahwa dia merindukan ku. Aku terdiam dan mata ku mulai terpejam. Aku mulai terlena atas sikapnya ini. Namun aku kembali pada alam sadar ku karena alarm ponselku berbunyi.
Waktunya menjemput Heechan!
Aku tersadar dan langsung melepaskan pelukanku. Dia terbingung akan sikap kasarku. Tapi aku langsung pergi begitu saja menuju sekolahnya Heechan.
Di depan sekolah, kulihat Heechan keluar bersama Yoonji. Aku langsung mendekati mereka lalu menarik Heechan. "Kita harus cepat pulang."
Heechan merasa bingung, namun hanya menurutiku untuk berjalan lebih cepat menuju rumah. Mobilnya yang terpakir di depan rumah masih terdiam manis disana.
Aku langsung menyuruh Heechan masuk kedalam rumah lalu mendudukkannya di sofa. Raut wajahnya masih bingung karena aku sedikit menyeret nya.
"Heechana.. Heechan menyayangi noona kan?" Heechan mengangguk pelan. "Noona mohon pada Heechan, jangan pernah bermain lagi bersama Yoonji." Kuliahat raut wajah Heechan sedikit terkejut lalu segera aku katakan padanya tentang apa yang aku ingin dia lakukan. "Heechan boleh bermain dengan siapapun, Heechan boleh meminta apapun pada noona, robot, eskrim, buku cerita, buku menggabar, apapun itu. Tapi Heechan harus janji, jangan pernah berteman lagi pada Yoonji."
"Kenapa noona? Yoonji anaknya baik."
"Hanya dengarkan kata noona. Heechan tidak mau berpisah dari noona kan?" Heechan mengeleng lemah. Aku tau, aku egois kali ini. Dan aku harap keegoisan ku ini tidak akan menjatuhkan aku lagi. "Janji dengan noona tidak bermain dengan Yoonji lagi?" Heechan mengangguk. "Setelah bel berbunyi, Heechan hanya perlu pulang dan tidak boleh mengiyakan permintaan Yoonji. Tidak mengiyakan tawaran apapun dari samchon Yoonji dan pulang bersama Luhan noona. Mengerti?" Heechan mengangguk lagi. Aku langsung memeluk Heechan, menciumi pucuk kepalanya dan mengelus rambutnya.
Maafkan aku, karena egois ku Heechan mendapatkan semua ini..
"Nah, sekarang Heechan ganti baju. Noona akan memasakan makanan kesukaan Heechan." Heechan mengangguk dan berjalan lesu ke kamarnya.
Aku tahu, dia pasti sedih aku mengengkang nya sekarang. Tapi aku pikir ini lah jalan terbaik untuk kami. Menjauh darinya agar aku tidak terjatuh lagi. Aku hanya ingin, hidup ku terlepas darinya. Tidak ada dia lagi di kehidupanku. Apapun itu dan menyangkut siapapun itu.
"Waahh.. kenapa noona masak seafood hari ini? Ini terlalu enak noona. Apa uang kita masih ada?" Aku hanya tersenyum dan mencubit pipi Heechan pelan.
"Masih ada sayang. Tadi noona sudah janji kan? Jika Heechan menuruti kata noona, noona akan kasih apa yang Heechan mau." Heechan lalu mengangguk pelan dan tersenyum. "Nah.. sekarang ayo makan. Noona sudah masak banyak untuk Heechan."
Aku menaruh berbagai lauk kesukaan Heechan di piringnya. Dia dengan semangat memakan masakan ku hingga mulutnya terlihat penuh. Tak ada yang spesial lagi untuk malam ini. Mungkin bagi Heechan ini spesial, karena aku jarang sekali memasak seafood untuk makan malam. Namun bagiku, tidak ada hal spesial jika hanya kami berdua yang makan bersama di meja ini, tanpa ayah dan ibu lagi.
.
.
Hari ini aku shift pagi. Saat siang hari aku pulang karena Sehun sudah datang. Sesampainya dirumah aku disambut dengan tatapan tajam dari Luhan. Seolah tatapannya mengajak ku ingin bicara empat mata. Kulihat Heechan sedang tidur siang di depan televisi.
Aku mengikuti Luhan ke kamar ku. Dan Luhan sudah duduk di kasur ku dengan sebuah foto di tangannya. "Apa apa?" Wajah Luhan sedikit beremosi, tapi aku tidak tahu apa yang terjadi.
"Sepanjang jalan, Heechan mencoba mengacuhkan Yoonji. Hingga sampai di depan rumah, dia sama sekali tidak ingin berbicara pada Yoonji. Samchonnya juga sedikit keheranan karena perubahan sikap Heechan pada Yoonji. Aku tidak tahu kenapa Heechan berubah. Akhirnya dengan segala jurus ku, Heechan mau berbicara apa yang kau minta padanya. Aku hanya tidak bisa berpikir kenapa kau melakukan semua itu? Menjauhkan Heechan dan Yoonji karena keegoisan mu?"
Aku menghela napas. Luhan belum tahu semuanya. "Kau tidak tahu semuanya Lu.."
"Aku tahu semuanya Baek!" Luhan berteriak, "Aku tahu jika samchonnya Yoonji adalah masa lalu mu. Dan foto ini menjawab semuanya."
Aku terkejut. Sebuah foto yang selama ini aku simpan baik-baik di gudang. Tidak ada orang yang tau foto itu. Itu foto kami saat masih sekolah. Saat kami menghabiskan makan siang kami dan dia mencuri ciuman pertama ku. Foto itu hanya ada dua, aku dan dia saja yang punya. Dan milikku tersimpan rapi di gudang yang aku jamin benda itu tidak bisa di jangkau.
"Bagimana bisa?"
"Setelah menidurkan Heechan aku keluar rumah, awalnya berniat pulang untuk mengambil tugasku. Tapi samchonnya Yoonji datang dan menjelaskan semua. Dia juga menebak, dibalik berubah sifatnya Heechan ada campur tanganmu. Dan aku membenarkan semua itu. Dan kau tahu apa yang dia katakan setelahnya?"
Aku menatap Luhan, sedikit tertarik dengan apa yang dia katakan.
"Dia masih bisa memaafkan mu." Ada sedikit rasa berdenyut di hati ku. "Dia memaafkan mu, dan mencoba mengatakan pada Yoonji jika Heechan tidak ingin di ganggu. Apa yang kau lakukan Baek? Kau tega membuat adikmu terkengkang?"
"Itu yang terbaik Lu.." aku hanya pasrah. Aku berjalan ke lemariku dan mengganti baju ku.
"Tapi itu tidak baik untuk Heechan."
"Heechan bisa berteman dengan yang lain. Temannya tidak hanya Yoonji saja."
"Baek.."
"Kumohon Lu.. aku tidak ingin menemuinya lagi. Aku tidak ingin dia berada disekitar adikku lagi. Apapun yang menyangkut dia, aku harap tidak akan mendekati ku ataupun Heechan." Aku berbalik dan menangkap wajah kecewa Luhan.
"Apa ingatan mu benar-benar hilang?" Ada keraguan yang dari tatapan Luhan. "Jawab aku Baek. Apa kau benar-benar hilang ingatan tentangnya?"
Haruskah aku menjawabnya?
"Ya." wajah Luhan berubah drastis. "Maka dari itu, aku juga ingin menghilangkan apapun dia di kehidupanku." Tatapan Luhan tersirat rasa tidak percaya. Tapi ketahuilah, aku yang mengatakan ini juga merasa aneh di hati kecil ku.
"Kau keterlaluan Baek." Luhan keluar dari kamar ku. Meninggalkan selembar foto lama di atas kasur ku. Aku mendekatinya lalu mengambil foto itu. Foto yang berisikan aku dan dia yang masih sangat muda. Entah mengapa mata ku mengabur. Dan satu tetes air mata jatuh ke pipi ku.
.
.
"Chan.. makan makanan mu. Percuma saja aku memasakkannya." Aku dan Chanyeol duduk di bawah pohon rindang di taman sekolah. Ini waktu istirahat siang, dan kami memuruskan makan siang disini.
"Chan!" Chanyeol menoleh dan tersenyum pelan kearahku.
"Baiklah sayang. Tapi suapi aku." Dia membuka mulutnya menunggu ku untuk menyuapinya.
"Tidak mau! Kau punya dua tangan yang besar dan percuma saja tidak di gunakan!" Chanyeol mengubah mimik nya cemberut. Bibir tebal nya mengerucut dan tangannya hanya asik memainkan ponsel.
Jika begini aku lah yang harus mengalah.
Kuambil satu tusuk tteobokki dan mengarahkan kemulutnya. Tapi Chanyeol sama sekali tidak membuka mulutnya dan masih terfokus pada pondelnya.
"Chan.."
"Hmm.." Dia mengacuhkan ku. Aku hanya menghela napas pelan dan tersenyum kecil.
Aku menarik dagunya agar dia menatap ku. Benar wajahnya menatapku, tapi mata bulatnya sama sekali tidak tertuju kearah ku.
Cup.
Aku mengecup pipinya dan sukses membuatnya terbelalak. Ingin sekali aku menertawakannya tapi sekarang aku masih dalam mode membujuknya.
"Makan hm.. aku sudah susah-susah membuatkan mu bekal. Aku rela harus bagun pagi dan meminta tolong ibu mengajari ku. Tapi yang minta bekal tidak mau makan sama sekali." Ku buat sedemikian rupa wajah ku kecewa padanya.
Itu sama sekali tidak mempan. Tapi saat aku mulai mendekatkan wajah ku dan awalnya ingin mengatakan apapun yang dapat merayunya. Tiba-tiba, sebuah ciuman mendarat di bibirku disusul dengan suara jepretan kamera.
Langsung saja aku menutup bibir ku dan membulatkan mataku melihat Chanyeol. Chanyeol tertawa lepas setelah itu dan langsung mengambil sumpitnya dan mulai memakan makanan yang aku bawa.
Chanyeol hanya tersenyum meihatku sambil menyuapkan lagi makanannya. "Ini sangat enak sayang. Aku menyesal tadi sempat menolak."
"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Kenapa kau menciumku?!" Aku memukulnya setelah sadar apa yang dia lakukan barusan. Ngomong-ngomong itu first kiss ku.
"Aw..aw.. sakit sayang!" Aku berhenti memukulnya. Dia meringis pelan sambil memegang lengannya. "Kenapa tidak boleh? Aku kan pacar mu. Lenganku sakit tauu."
"Tapi tidak juga menncium bibir ku bodoh! Dasar telinga yoda! Gajah afrika jelek!" Aku memukulnya lagi. Tapi tangan ku ditangkap tangan besarnya. Lalu dia memandang wajah ku lekat.
"Itu first kiss mu kan? Sudah jangan malu sayang. Aku sangat beruntung mendapatkan itu."
Blusshh..
Doakan semoga wajah ku tidak semerah tomat busuk.
"Sekarang makan makanan mu, sebentar lagi kelas akan dimulai."
Aku tersenyum kecil dan juga mulai menyendokkan makanan ke mulutku. Chanyeol juga mengulurkan tteobokki dan aku memakannya.
"Sayang?"
"Hmm?" Aku menoleh kearah Chanyeol.
"Besok kau ada waktu?" Aku mengangguk dan masih mengisi mulutku dengan makanan enak. "Gimana kalau kita jalan jalan? Ada pasar malam di tengah kota. Ajak Heechan juga. Aku ingin membelinya baju baru."
"Akan ku usahakan kalau masalah mengajak Heechan. Takutku besok ayah dan ibu pergi." Chanyeol membalas perkataanku dengan ciuman di pipi. Aku hanya tersenyum dan mencium pipinya juga.
"Aku mencintaimu sayang." Dia menarik tubuhku lalu memeluknya serta menghujani kepalaku dengan kecupan.
"Aku juga mencintai mu Chan."
.
.
"Astaga sayang! Maafkan akuu.." Chanyeol langsung memelukku yang saat itu kedinginan. Menyalurkan kehangatan lewat pelukan badan besarnya. Angin malam musim gugur sungguh paling menakutkan bagiku. Mereka benar-benar dapat membuatku mati membeku saat ini.
Jika kalian bertanya apa yang terjadi, Chanyeol hampir melupakan rencana kami untuk pergi ke pasar malam.
Awalnya aku memang berniat berangkat duluan, karena tempat pasar malam itu berada di tengah-tengah antara daerah rumah ku dan daerah rumahnya Chanyeol. Aku tidak ingin merepotkan Chanyeol karena harus putar balik jika menghampiri ku duluan. Dan Chanyeol menyetujui itu.
Saat pulang sekolah kita tidak pulang bersama. Chanyeol ada latihan basket untuk pertandingan final nya. Aku memaklumi juga. Karena jika terus-terus bersama Chanyeol, kadang aku juga gampang bosan. Namun dia masih mengingatkan untuk bertemu di taman kota pukul empat sore.
Dan terkutuklah otak Chanyeol yang besar sebesar mata bulatnya!
Hampir tiga jam aku duduk membeku di bangku taman kota. Yah meskipun jaket dan sweter tebalku sudah terpasang, aku kan tidak menyukai dingin.
Dan bersyukurlah hanya aku yang mati membeku, karena aku tidak jadi mengajak Heechan.
Kalian juga boleh mengatakan bodoh padaku, aku tidak akan marah. Aku tahu dan aku sadar kalau aku sangat-sangat bodoh masih menunggunya di balik tiupan angin musim gugur.
"Ayo kita berteduh.." Chanyeol masih memelukku dan menuntunku masuk di cafe terdekat.
Dia memesankan ku susu coklat hangat dan semangkok sup. Setelah kita duduk berdampingan, Chanyeol masih terus meniup kedua tangan ku. Serta kedua tangannya di gesekkan lalu di temmpelkan pada pipiku. Tak lupa dia memakaikan ku hoodienya yang super besar.
"Kenapa kau masih bertahan di sana jika tahu aku tidak datang dalam satu jam?! Lihatlah, badan mu membeku! Untung Heechan tidak ikut."
Oh well! Seharusnya aku yang marah disini. Tapi dengan seribu sayang aku tidak bisa mengeluarkan jurus hakpido ku karena badanku yang menggigil. Bersyukurlah kau Park!
"Maafkan aku.. maafkan akuu.." Chanyeol lalu memelukku, memasukkan ku dalam dekapannya. Dia menciumi pucuk kepala ku dan tetap membuatku hangat dengan mengelus punggung ku.
Pesanan kami datang, dan Chanyeol menyuruhku menghabiskan semua nya. Dengan cepat semua habis lalu badan ku menghangat. Meskipun tahu jika badanku sudah tidak menggigil lagi, Chanyeol masih setia memelukku.
"Maafkan aku sayang.. sungguh aku minta maaf."
"Sudahlah Chan.. aku tidak apa-apa." Well.. hampir semua amarah ku menghilang saat ini. Bagaimana bisa marah, jika dia terus memelukku dan menciumi puncak kepalaku. Lalu meminta maaf terus tidak ada berhentinya.
"Apanya yang tidak apa-apa! Kau hampir mati kedinginan! Kau seharusnya berteduh sayang, cari kafe dan pesan minuman hangat. Bagaimana bisa kau bertahan di sana selama tiga jam? Sungguh beruntung kau tidak membawa Heechan."
"Meskipun aku mengajak Heechan, aku juga akan menunggu mu di cafe." Aku mencebikkan bibirku. Tapi dengan cepat Chanyeol mencium nya.
"Lalu kenapa kau masih disana? Kau bisa berteduh kan?" Suara Chanyeol melemah, yah tidak setinggi tadi saat memarahi ku.
"Baterai ponsel ku habis. Dan kita berjanji bertemu di sana. Awalnya aku sudah berteduh di penjual odeng. Tapi saat ingin memberitahumu, ponsel ku mati. Maka dari itu, aku kembali kesana lagi dan menunggumu. Tapi kau tidak juga datang." Chanyeol hanya terdiam dan masih memelukku. "Lalu, kenapa kau melupakan rencana hari ini? Seharusnya aku yang marah tau!"
Chanyeol hanya terkekeh sebentar, lalu kembali menciumi kepala ku. "Maaf, aku kelelahan setelah latihan basket. Padahal aku sudah menyuruh ibu untuk membangunkanku nanti. Tapi ibu dan ayah pergi. Jadi tidak ada yang membangunkanku."
Aku hanya mengangguk dan semakin melesakkan wajah ku di dada bidang Chanyeol. "Its okay. Kita bisa jalan-jalan lain waktu."
Aku tahu dia terseyum lagi, meskipun aku menutup mataku di dalam pelukannya. "Maafkan aku sayang. Aku sangat mencintaimu."
.
.
"Hei.. ayo bangun dan makan buburmu,hmm. Lalu minum obatnya." Aku terbangun setelah suara Chanyeol menyapa indra pendengaran ku.
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Kemarin malam badan ku menggigil kembali dan kepala ku sangat pusing. Seluruh badan ku terasa panas padahal aku sudah mencoba menaikkan suhu AC ku, tetapi setelah itu badan ku mulai menggigil. Aku tidak mengingat apa-apa. Hingga aku kembali tertidur lagi dan sekarang Chanyeol ada dirumahku.
Aku bangun dibantu oleh Chanyeol agar dapat duduk bersandar di headbed. Chanyeol dengan telaten menyuapi ku bubur hangat. Sampai suapan kelima aku menolak.
"Ayo sayang.. tinggal sedikit." Tetap saja aku menolak. Lidah ku terasa pahit dan kepala ku terus berputar. "Baiklah.. tapi minum obatmu."
"Susu.."
Yah.. memang aku tidak bisa minum obat tanpa susu. Rasa pahit obat akan membuatku memuntahkan seluruh isi perutku. Apalagi sekarang lidah ku juga ikut terasa pahit.
"Ini susu mu dan ini obat mu." Dan beruntung Chanyeol mengerti kebiasaan ku. Kuminum pelan obat itu dengan susu. Setelah selesai langsung saja aku kembali merebahkan diriku dan terlelap.
Aku tidak tahu ini sudah jam berapa yang pastinya sudah malam. Aku terusik dengan benda berat di pinggang ku. Dengan sangat amat terpaksa aku membuka mataku dan meraba benda yang menumpu pinggang ku. Tapi yang kudapati pertama kali adalah dada bidang berkaos basket dan sebuah tangan memelukku. Tapi ku acuhkan dan kembali menelusukkan kepalaku di dada bidang itu.
Siapa lagi kalau bukan Chanyeol.
Aku mengenal wangi parfum ini. Parfum favorit ku tentu saja. Hanya heran saja dia masih ada di kamarku.
"Kau benar-benat tidak ingin bangun?" Mungkin Chanyeol juga terusik dengan pergerakanku.
"Tidak."
"Kau ingin tidur lagi?"
"Hmm.."
"Badan mu sudah baikkan?"
"Hmm.."
"Baiklah. Akan kuambil kan makan. Kau hanya makan sedikit tadi." Chanyeol akan beranjak pergi dari tempat tidur ku, namun aku semakin mengeratkan pelukan ku. "Baekhyunn.."
"Kembalilah tidur Chaan.. aku tahu kau lelah. Tidur dan temani aku."
Chanyeol tertawa sebentar, mencium pucuk kepalaku lalu kembali memelukku. "Baiklah sayang.. tapi sebentar lagi kau harus makan."
Aku hanya mengangguk pelan lalu kembali terlelap sebentar. Hingga suara tangisan Heechan kembali membangunkan ku dan Chanyeol.
"Baekhyunna.. Heechan merindukanmu." Ibu dengan seenaknya masuk ke kamar ku dengan membawa Heechan di gendongannya. "Hanya selama 12 jam Heechan tidak menggedongmu, dia sangat rewel sekali. Digendong ibu tidak mau, ayah juga. Terlebih Chanyeol juga sama sekali tidak mau."
Dengan terpaksa aku bangun dari tidur ku, mengambil alih Heechan dan menidurkannya diantara aku dan Chanyeol. Awalnya dia menangis, lalu terdiam saat melihat ku.
"Dia sangat rewel tadi. Aku, ayah dan ibu bingung mengurusnya." Chanyeol bermain dengan tangan mungil Heechan, membuat Heechan tertawa.
Kulihat Heechan menepuk keningku pelan. Dan aku meraba keningku, merasakan sesuatu yang melekat disana. "Ku pasangkan byebye fever. Karena aku harus pergi latihan tadi dan tidak bisa mengompres mu selalu. Ibu dan ayah sedang membujuk Heechan tadi." Aku mengangguk dan melepas plester penurun panas itu karena badan ku sudah terasa lebih baik.
"Kuambilkan makan ya.. sedari tadi pagi kau hanya makan beberapa sendok." Aku hanya mengangguk dan Chanyeol kekuar kamar.
Aku mengambil badan Heechan agar tiduran di pangkuan ku. Lalu bermain bersamanya hingga dia tertawa. Tak lama Chanyeol datang dengan nampan berisikan semangkok sup ayam. Kalau di cium dari baunya, ini pasti buatan dia sendiri.
Awalnya Chanyeol ingin mengambil alih Heecan dari pangkuan ku. Baru saja ingin menggendong, Heechan sudah menangis tak karuan. "Sshhh... Shhhh.." Terpaksa deh aku harus menenangkannya.
"Kenapa hmm? Noona biar makan dulu. Heechan dengan Chanyeol hyung." Heechan menatap ku dengan puppy eyesnya. Ingin sekali aku mencubit pipi gembulnya.
"Dia benar-benar membenci ku." Aku melihat Chanyeol yang mencebik kan pipinya. "Karena aku kau sakit, makanya dia tidak mau aku gendong."
Aku terkikik pelan dan menciumi pipi Heechan. Lalu menatap Chanyeol yang masih memasang muka sedihnya. Refleks, aku juga mencium pipi Chanyeol. Tapi entah apa yang membuat Heechan berubah, dia menjulurkan tanganya kearah Chanyeol. Dengan bingung Chanyeol menggendong Heechan. Tiba-tiba, Heechan menepuk pipi Chanyeol dengan kedua tangannya lalu menciumnya.
Aku dan tentu saja Chanyeol terkejut dengan perlakuan Heechan. "Heechan tidak marah lagi sama hyung?" Heechan menjawab pertanyaan Chanyeol dengan gelengan, lalu menjulurkan lidahnya.
"Eiii.. kau mengejekku hmm?" Langsung saja Chanyeol memeberi Heechan hujan ciuman. Membuat Heechan tertawa dan berulang kali menepuk kepala Chanyeol meminta berhenti.
Setelah puas bermain dengan Heechan, Chanyeol memberiku nampan tadi, menyuruhku makan. Aku makan dengan pelan, dengan di suguhi pandangan Chanyeol bermain terus bersama Heechan.
Hingga makanan ku habis, mereka berdua masih tertawa bersama. Chanyeol menyadari jika makanan ku habis, lalu memberikan Heechan padaku dan dia mengembalikan nampan tadi kebawah.
Aku bangun dari tempat tidurku dan turun dengan Heechan di gendongan ku. Aku lihat ayah sedang menonton tv di ruang tengah dan ibu sedang memoto g sayuran di meja makan. Kulihat Chanyeol masih berkutik di wastafel. Aku berjalan menuju ayah dan mencium pipinya. Juga berjalan kearah ibu mencium pipinya juga.
Aku mendudukkan badanku di kursi makan sebelah ibu. Dia menelus kepala ku lalu mengecek suhu badanku lewat leher. "Sudah turun panas mu." Aku hanya mengangguk dan melihat ibu memotong sayurnya kembali.
"Berikan Heechan pada ayah. Kamu kembali lah ke kamar. Mandi lalu istirahat lagi. Biar Chanyeol bisa pulang." Aku terkejut jika Chanyeol tidak pulang.
"Chanyeol seharian di rumah?" Ibu hanya mengangguk.
"Ibu tidak menyuruhnya pulang?"
"Bagaimana bisa ibu menyuruhnya pulang, jika dia sangat khawatir karena mu." Aku mendengus kesal. Kebiasaan jelek si caplang Park. Khawatir berlebihan!
"Dia rela membolos dan hanya pergi selama sepuluh menit dan kembali lagi. Hampir seharian dia menunggumu dan rutin mengganti kompresmu."
Kulihat Chanyeol hanya tersenyum idiot di sebrang meja makan. "Dan kupastikan kau belum mandi Park."
Chanyeol hanya terkikik pelan. "Tapi sedari tadi kau terus memelukku meskipun aku belom mandi."
"Cepat mandi Park!"
"Mandiin.." Kumat deh idiotnya.
"Sana mandi sama Heechan!" Aku menaruh Heechan pada ayah. Dan kembali berjalan kekamarku.
Aku berdiri diatas balkon memandangi gemerlap malam dari atas rumahku. Lalu ada selimut tersampir di bahu ku dan pelukan hangat dari belakanh tubuhku. "Kau baru sembuh sayang.. nanti kau kedinginan."
"Kan ada kamu yang jagain aku." Aku mencium pipi Chanyeol dari samping.
"Ya ya ya.. terserah tuan putri." Aku tertawa pelan dan membalikkan badanku untuk memeluknya.
"Terimakasih Chan.." Lalu mencium pipinya.
"Maafkan aku,hmm? Karena aku kau sakit." Dia mengeratkan pelukkannya dan terus menciumi kepala ku.
"Its okay jika saat aku bangun kau yang ada disampingku." Kudengar kekehannya yang menggema di dada bidangnya.
"Siapa tadi yang mengatakan aku bau hm?"
"Aku membencimu Park!"
Di tertawa dan menciumi pucuk kepala ku lagi, "Aku mencintai mu Baekhyun."
.
.
TBC/NEXT?
Tengkyu bangetttt yang sudah mendukung ff nista ini
terutama yang sudah mereview juga..
SFA30, kim. jin.9047, wandapcy614, spektrofotometri, Arum364, BaekHill, tctbcxx, Hanachoi, ssuhoshnet, Riskaa
Dan maaf jika ada yang belum kesebut, mungkin review nya ngga masuk..
Dan aku apdate pas hari ultah nya baek biar kalian makin kobam setelah semua postingan ceye sama baek!!!
Yalorrdd kenapa itu ceye elus elus standee nya baekhyun?? ada makna kah di elus elus gitu trus di selimutin juga??
baek jugaa ahh!! ngapain pake uploud naked segalaaa???? habis naena yah sama ceye?? kado terindah banget yak..
stop! aing makin kobam:')))))))))))
Tengkyu semua ya, yang udah dengerin bacotan ku juga,
Regards, Ken.
