BECAUSE OF YOU

(Karena kamu aku melakukan semua ini.)

Cast : - Park Chanyeol

- Byun Baekhyun

- Byun Heechan

Support : - Temukan sendiri

.

Author : KennyPark

.

Summary:

"Semua kulakukan karena aku ingin membahagiakan mu. Ya, karena kau aku melakukan semua ini."- Park Chanyeol

Genre :

Romance, Hurt, School life

.

GS

.

T

.

Chapter 4 Semua sudah terbongkar

"Noona.. boleh aku bertanya sesuatu?" Aku dan Heechan sedang berada di ruang tamu. Aku berjanji pada nya malam ini akan menemaninya belajar.

"Ada apa hm? Heechan mau tanya apa?" Wajah Heechan sedikit agak ragu untuk mengatakan pertanyaannya.

"Tapi Heechan takut noona marah."

Aku tersenyum pada Heechan dan mengelus kepalanya, "Tanyakan pada noona. Heechan mau tanya apa?"

Heechan pergi berlari kekamar. Lalu kembali dengan sebuah foto di tangannya. Aku tidak tahu foto apa itu, karena Heechan menutupinya.

"Janji noona tidak marah?" Aku mengangguk. "Kenapa pamannya Yoonji ada di foto ini noona?"

Aku terkejut saat Heechan menunjukkan foto itu. Didalam foto itu ada aku, dia dan Heechan. Heechan yang masih berumur satu tahun berada di gendongannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi saat dia sekolah tadi, atau saat dia pulang sekolah. Siapa yang berani menunjukkan foto itu pada Heechan?

Aku mencoba menahan emosi ku, karena aku berjanji pada Heechan untuk tidak marah. "Bagaimana Heechan mendapatkan foto ini??"

"Saat pulang sekolah tadi, paman Yoonji mengajakku bermain. Awalnya Heechan menolak, tapi paman Yoonji menunjukkan ini pada Heechan dan bilang jika Heechan adik kesayangan pamannya Yoonji. Dan setelah itu pamannya Yoonji bercerita semua. Dia juga menunjukkan beberapa foto ayah, ibu, noona dan pamannya Yoonji, serta aku yang di gendong pamannya Yoonji."

Aku terdiam, masih mencoba mendengar pemjelasan Heechan. "Heechan semula tidak percaya, namun Heechan membuka buku album kita dan mencocokan bayi di situ dengan Heechan yang ada di album foto. Tapi itu mirip. Di foto itu memang Heechan."

Aku memang berfirasat, semua ini akan terbongkar. Aku pikir, aku sudah menyimpan semuanya rapat-rapat. Dan tak ada satu orang pun yang akan tahu.

"Noona tidak marah kan?" Aku menghela napas dalam. Mencoba tersenyum pada Heechan.

"Tidak. Noona tidak marah."

"Jadi, Heechan boleh bermain bersama Yoonji lagi?? Kata pamannya Yoonji, jika noona tidak marah saat menunjukkan foto ini, Heechan bisa bermain dengan Yoonji lagi."

Apa benar aku terlalu mengengkangnya?

"Hmm.. Heechan boleh bermain dengan Yoonji lagi." Heechan terlihat senang, lalu kembali fokus pada buku pelajarannya.

Aku melirik sebentar pada foto itu. Kebahagian yang dulu pernah aku rasakan. Sebelum sesuatu melenyapkan semuanya. Jujur aku sudah berdamai dengan semua ini. Tapi akal sehat ku yang merubah semuanya. Aku mencoba egois dan hanya memikirkan diriku sendiri. Dan jadilah orang di sekitarku yang menjadi korbannya.

"Noona.." aku terkejut saat Heechan memanggilku. "Noona kenapa tidak bersama dengan samchonnya Yoonji lagi?"

"Apa Heechan ingin mendengarkan cerita noona??"

.

.

"Kau akan pergi ke luar negri?" Chanyeol hanya mengangguk. "Haruskah besok??" Wajah Chanyeol sangat menyesal saat ini. "Lalu aku bagaimana? Kau berjanji akan kuliah di sini. Kita akan masuk ke jurusan bisnis bersama."

"Maafkan aku sayang.. ayah memintaku untuk belajar di New York. Aku janji, aku akan datang saat liburan nanti."

"Chann.." Air mata ku mulai menumpuk tapi aku mencoba sekuat tenaga untuk tidak menangis saat ini.

"Sayang.. aku janji, aku akan cepat menyelesaikan studi ku, dan berkumpul bersama mu dan Heechan lagi. Kau mau menunggu ku kan??" Awalnya aku menatap nya dengan tajam seolah ingin menolak semua ini. Ayolah.. empat tahun dia disana. Siapa yang mau ditinggal seseorang yang kau cintai selama empat tahun di sebrang benua. Tapi aku mencoba memahaminya. Aku menunduk dan menganggukkan kepala ku.

"Maafkan akuu.. aku janji, aku akan pulang saat liburan dan natal. Jadi kita bisa merayakannya bersama." Dia memelukku. Menghunjani kepala ku dengan ciumannya.

Tapi di dalam pelukannya aku menangis, dia akan pergi besok. Dan hanya hari ini tersisa beberapa jam sebelum dia benar-benar pergi. "Sshh sshh.. jangan menangis. Aku mohon.. aku tidak bisa meninggalkanmu kalau begini."

Aku masih menangis di pelukannya. Mendekapnya erat dan mencoba mengingat pelukan hangatnya ini. Mencium aroma parfum yang kusukai dan mengingat semuanya.

Chanyeol masih menepuk pelan punggungku. Dan menenangkanku agar berhenti menangis. Tapi bagaimanapun juga aku akan menabgis lagi nantinya. Chanyeol ku akan pergi. Yah meskipun kita masih bisa berhubungan. Tapi tak ada dia semua seperti berbeda.

.

.

Tepat satu tahun Chanyeol kuliah keluar negeri. Dan selama itu, dia hanya pulang satu kali juga dan hanya mengunjungi sebentar. Natal dia tidak datang. Dia hanya mengirim kado untuk ku dan Heechan. Aku hanya merayakan natal bersama keluarga ku.

Hari ini aku pergi kuliah. Yah sedikit membosankan karena tidak ada Chanyeol. Chanyeol yang cerewet, Chanyeol yang penuh dengan kata kata puitis, dan segala Chanyeol yang idiot.

Setelah selesai kuliah aku berencana pergi ke cafe dekat kampus, yah menghabiskan waktu kosong ku dengan minuman berkafein.

Tapi saat berjalan keluar kampus, ada seseorang berbaju hitam menghadangku. Awalnya aku menyingkir, tapi dia masih tetap menghadangku.

"Maaf pak, ada apa ya? Saya mau lewat."

"Kau benar Byun Baekhyun kan?" Aku hanya menggeleng pelan. Aku sedikit takut untuk mengakui namaku. Tapi pria itu langsung menarikku, tapi aku meronta.

"Jangan memberontak nona, jika nona tidak ingin melihat Tuan Muda lagi." Aku berjengkit pelan.

Tuan Muda?

"Ada seseorang yang ingin mengajak mu berbicara tentang Tuan Muda Chanyeol." Penasaranku membuat tubuh ku gampang di tarik oleh pria tadi. Dia menyuruhku untuk masuk kedalam sebuah mobil hitam legam yang aku pikir harga nya bisa setinggi langit.

Aku masuk mobil itu dengan seseorang berwibawa sudah duduk disana. "Kau pasti bertanya apa yang ingin aku katakan kan?"

Aku hanya diam tidak berani menatap pria ini, yang aku yakini dia adalah ayah Chanyeol. "Aku hanya ingin kau menjauhi anakku. Karena mu anakku mau melakukan hukumannya untuk belajar ke luar negri. Dia lebih memilih hukumannya bertahun-tahun daripada melakukan apa yang dapat membuatnya sukses dalam sekejap. Dan kau tau alasan dia menanggung hukumannya?"

Aku hanya diam. Awalnya terkejut, tapi aku hanya membunyikannya.

"Dia lebih memilihmu gadis biasa, daripada gadis beretika baik yang ingin ku kenal kan padanya. Jika dia mau mengencani gadis itu, aku jamin dia langsung melesat menjadi seseorang yang sukses dalam bisnisnya. Dia tidak perlu keluar negeri hanya untuk memimpin perusahanku."

Air mata ku mulai menumpuk. Dan tanganku sudah menggenggam erat sweater babyblue yang ku pakai. Apa yang dikatakan ayahnya Chanyeol benar-benar menancap tepat di hati ku. Apakah ini alasan Chanyeol tidak pernah mempertemukanku dengan keluarga nya? Apakah semua yang dia katakan jika keluarganya sangat baik dan akan menyukai ku adalah kebohongan?

"Aku hanya ingin bernego dengan mu. Tinggalkan Chanyeol, maka kau masih melihatnya dengan kedua matamu. Tapi jika tidak, jangan harap Chanyeol mau melihat mu lagi."

Aku kalut dengan semua ini. Bagaimana bisa ayah Chanyeol memberiku tawaran seperti itu.

Tapi aku berpikir lebih dewasa lagi. Jika memang Chanyeol mau menerima hukuman itu, sama seperti dia sedang memperjuangkan ku saat ini. Aku tahu, Chanyeol pasti sudah memikirkan semua resiko nya. Dan sekarang waktu ku untuk memperjuangkan hubunganku.

Aku menghela napas pelan, "Maaf sebelumnya tuan, aku tahu aku bukan gadis yang di beri pelajaran beretika baik. Ayah ibu ku juga bukan seseorang yang dapat memberiku pelajaran seperti itu. Tapi aku dididik oleh orang tua ku dengan segela jerih payah mereka. Dan, soal hubungan ku dengan Chanyeol. Aku tahu aku bukan gadis baik yang dapat menjamin kehidupan Chanyeol. Tapi aku mencoba, membahagiakan Chanyeol dengan caraku sendiri. Sekali lagi saya minta maaf tuan, saya tidak bisa melepaskan Chanyeol begitu saja. Karena disana dia berjuang untukku, maka dari itu, disini aku berjuang untuknya."

Setelah mengatakan seperti itu aku langsung keluar dari mobil itu. Menyetop taksi dan pulang kerumah.

.

.

"Baekhyun sayang.. maafkan ayah dan ibu sebelumnya." Aku duduk di sofa di ruang tengah. Menggendong Heechan dan orang tuaku duduk disebelahku. "Kita harus pindah nak. Kita akan pulang ke Busan, kerumah nenek. Kita akan memulai demua dari awal disana. Maafkan ayah nak."

Jika kalian bertanya apa yang terjadi. Bisnis ayah bangkrut, semua aset milik ayah disita dan besok kita harus pindah ke busan. Aku terpaksa mengundurkan diri dari perkuliahan ku. Dan meninggalkan semua kenangan ku dirumah ini.

"Its okay ayah. Baekhyun tahu, semua pasti ada pelajaran yang dapat kita petik. Mungkin Tuhan ingin keluarga kita hidup sederhana. Apalagi rumah nenek tidak buruk. Aku akan bekerja nanti membantu ayah dan ibu."

Ibu yang sedang duduk disamping ku menangis dan memelukku. Ayah hanya mengusak kepala ku dan mencium pipi Heechan.

Ting ding dong..

Suara bel rumah berbunyi. Awalnya ingin aku yang membukakan, tapi ayah duluan yang yang pergi ke depan. Tak lama ayah kembali dengan sebuah undangan di tangannya. Aku mengreyit, wajah ayah nampak sangat sedih. Ayah memberikanku undangan itu. Aku memberikan Heechan pada ibu sebelum menerima undangan itu. Aku langsung membaca nya dan langsung terkaget dengan nama yang tercantum disana.

Park Chanyeol x Kim Seulgi

Engagement

Seseorang tolong katakan padaku tentang kebohongan semua ini!

Aku langsung membuka undangan itu dan melihat kapan pertunangan itu dilaksanakan.

Besok.

Pertunangannya dilaksanakan besok.

Apa yang terjadi?

Bagaimana bisa??

Aku langsung mengeluarkan ponsel ku, menjoba menghubungi Chanyeol. Namun semua panggilanku teralihkan ke spam. Aku mencoba menghubunginya berkali kali dengan air mata ku yang menumpuk.

Aku tahu semua ini adalah bohong.

Chanyeol hanya mencintaiku.

Tapi semua hanya sia-sia. Tidak ada kepastian dari Chanyeol. Ataupun pembelaan Chanyeol tentang hubunganku. Semua sirna.

Aku, ayah ibu serta Heechan sudah dalam perjalanan menuju Busan. Kami mempercepat kepindahan kami. Hanya mobil ini dan beberapa barang penting yang tersisa. Aku sudah merelakan semuanya. Kehidupan bahagia ku, semua kenangan terindah ku, dan juga orang yang ku cintai. Semua sudah kutinggalkan disana, dirumah lama ku.

Semalaman aku menangis. Chanyeol sama sekali tidak bisa dihubungi. Tidak ada kepastian dari orang yang kucintai. Dia sama sekali tidak memperjuangkanku. Padahal aku disini berjuang hingga rela membuat keluarga ku menderita. Dan semua itu membuatku sadar. Aku bukan orang yang selalu ada dipikirannya.

Aku memutuskan,

Aku akan melupakannya.

Braakkkk!!

Aku tidak ingat apa yang terjadi. Hanya merasakan semua tubuh ku terbanting. Kepalaku terasa sangat sakit dan seakan dunia berputar. Aku mengalihkan perhatian ku pada Heechan yang ada di gendonganku. Dia masih tertidur pulas dengan raut lucunya di rangkulanku. Aku tersenyum melihatnya, setelah itu hanya gelap yang aku ingat.

.

.

Aku membuka mataku secara perlahan. Mencoba beradaptasi dengan cahaya yang masuk ke mata ku. Apa yang kulihat saat ini hanya lah langit-langit putih dan sebuah lampu pijar. Kepalaku sedikit pening dan aku memaksakan tangannku bergerak.

Namun tanganku terasa kebas. Ada beban yang menimpa tanganku. Aku mencoba menoleh melihat ke sampingku. Aku mendapati sebuah kepala yang sedang meniduri kepala ku. Aku mencoba menggerakkan tanganku. Orang itu sedikit terusik dengan pergerakan tanganku. Dia terkejut melihat ku terbangun dan langsung memeluk badanku.

Dia seorang laki-laki, memiliki tubuh tinggi dan tegap. Di sekitar mata bulatnya terdapat lingkaran hitam. Rambutnya sangat acak-acakan dan bajunya sedikit tidak beraturan.

"Astaga kau bangun sayang.. akhirnya.. sebentar, aku akan panggilkan dokter." Aku menahan tangannya. Mencoba mengumpulkan suara ku.

"S-si-a.."

Dia tersenyum dan mencoba membuat ku berhenti bicara. Dia mencium keningku dan tersenyum, mengelus pelan kepala ku. "Sudah.. jangan banyak bicara."

Tapi aku menggeleng lemah. Aku kembali mencoba mengeluarkan suara ku. "K-kau.. s-si-apa?"

Setelah aku mengatakan itu, dia membulatkan matanya. Tangannya yang sedang menggenggam tanganku terasa melemah.

"Baek.."

Aku linglung. Siapa pria ini?

"Kau siapa?" Kuulangi lagi pertanyaanku. Namun satu tetes air mata jatuh dari mata bulatnya yang menjadi jawabanku.

TBC/NEXT?

Tengkyu yang udah review ya..

SFA30, kim. jin.9047, wandapcy614, spektrofotometri, Arum364, BaekHill, tctbcxx, Hanachoi, ssuhoshnet, Riskaa, rly

Tengkyu banget yang masih penasaran sama cerita ini..

Tengkyu yang udah ndukung buat nerusin juga..

Regards, Ken.