BECAUSE OF YOU

(Karena kamu aku melakukan semua ini.)

Cast : - Park Chanyeol

- Byun Baekhyun

- Byun Heechan

Support : - Temukan sendiri

.

Author : KennyPark

.

Summary:

"Semua kulakukan karena aku ingin membahagiakan mu. Ya, karena kau aku melakukan semua ini."- Park Chanyeol

.

Genre :

Romance, Hurt, School life

.

GS

.

T

.

CHAPTER 5 Keputusan bodoh yang kuambil?

"Baek.. hari ini kau masak apa?" Aku menoleh kearah Luhan yang sedang berjalan mendekat.

"Hanya sup ayam. Heechan memintanya tadi pagi."

"Ngomong-ngomong, kau sudah memperbolehkan Heechan main dengan Yoonji lagi?" Aku mengangguk pelan saat Luhan menanyaiku.

"Kenapa?" Aku berhenti mengiris sayuran dan menghembuskan napas.

"Semua sudah terbongkar Lu.."

"Maksudnya?"

"Dia memberikan Heechan foto lama kami dan Heechan menanyakan padaku."

"Lalu kau menjelaskan semua nya?"

Aku menggeleng, "Tidak semua, hanya kisah-kisah bahagia ku saat dia masih di sampingku."

"Jadi kau benar-benar tidak amnesia?"

Aku menoleh sebentar dan menggelengkan kepala ku. "Aku masih amnesia. Aku tahu semua nya karena ada buku diary dimana tertulis semua kenanganku. Aku masih tidak mengingat apa yang terjadi sebelum aku kecelakaan atau pun saat saat dimana aku bersamanya."

"Lalu kenapa kau masih mengingat Heechan??"

"Aku tidak tahu. Rasanya ada beberapa ingatan ku hilang." Akumengreyitkan dahi ku, membongkar semua ingatanku. "Aku masih mengingat wajah ayah dan ibu serta Heechan. Lagipula ingatan tentang Heechan pun seperti terpotong-potong. Tapi sama sekali tidak untuknya."

"Lalu kenapa kau tidak mau saat dia mencoba berada disisi mu saat sadar setelah koma??"

"Aku ingin dia sisi ku saat itu. Tapi setelah orang itu datang, dia menghancurkan semua nya. Dan aku menyadari, keputusan yang kuambil saat itu adalah keputusan bodoh yang selama ini ku pilih."

.

.

"Aku harus pulang, tapi aku janji aku akan datang. Kau jangan khawatir, Heechan ada diruangan anak-anak. Dia tidak rewel. Nanti saat makan malam. Aku akan mengajaknya." Aku tidak tahu apa yang dia lakukan. Aku hanya menurut dan menganggukkan kepalaku. Beruntung Heechan tidak apa-apa, dia juga tidak rewel.

Lelaki itu lalu pergi keluar dari ruang inapku setelah mengecup keningku dan mengucapkan selamat tinggal.

Aku hanya berbaring di ranjangku karena memang aku tidak bisa melakukan apapun. Kata dokter tubuhku memang sedang mati rasa karena selama empat minggu aku tidak sadarkan diri.

Awalnya aku ingin memejamkan mataku, sebelum seorang pria yang tidak aku kenal masuk ke ruanganku dan membawa Heechan di gendongannya. Dan juga ada seorang wanita mengikuti pria itu.

Aku langsung terbangun dan duduk, tangan ku ulurkan, ingin mengambil Heechan, namun pria itu tidak memberikan.

"Kau rindu adikmu,hm??" Pria itu menatap jijik pada adikku yang sedang tersenyum padanya.

"Tuan tolong berikan adikku." Aku sedikit merasa takut saat Heechan mulai bertingkah tidak nyaman di gendongannya.

"Kau khawatir dengan adikmu? Bagaimana jika dia tidak bisa bertemu denganmu lagi?" Aku terkejut saat wanita itu mencubit paha adikku dan membuatnya menangis.

"Apa mau kalian?" Aku mendesis, mencoba tidak menangis karena Heechan.

"Hanya jauhi Chanyeol dan hidup kalian akan aman."

Chanyeol? Siapa dia? Ataukah..

"Kau pasti bertanya kan siapa Chanyeol. Akan ku beritahu. Chanyeol adalah tunanganku, dia adalah lelaki yang akan menjadi suamiku. Jika kau bisa pergi jauh dari kehidupan Chanyeol. Akan ku jamin adik mu ini akan selamat."

Aku menahan emosi ku. Mencoba meredakannya cuma sebentar. Kepala ku terasa pening. Namun aku mencoba mengontrol pandanganku. Setelah rasa sesak di dada ku hilang, aku mendongak dan menatap mereka dengan tajam.

"Kembalikan adikku dan kalian akan mendapat imbalannya." Mereka berdua tersenyum dan memberikan adikku dalam pangkuan ku. Setelah itu mereka berdua pergi dengan senyum puas di bibir mereka.

Aku menangis saat pintu itu tertutup. Memeluk Heechan dan menciumnya bertubi-tubi. Aku hanya berharap apa yang aku pilih saat ini benar dan akan terus benar. Agar tidak ada satu pun pihak yang tersakiti.

.

.

Kata pengacara ku, rumah ini di balik nama atas diriku kembali. Rumah lama ku dan semua nya. Awalnya aku bingung apa yang terjadi.

Aku pulih dari perawatan ku. Cuma butuh beberapa hari saja untuk melatih otot-otot kaki untuk bekerja lagi. Dan sekarang aku dapat menggendong Heechan. Setelah malam itu, dia tidak kembali seperti janji nya. Maka dari itu secepat mungkin aku bisa pulang dan menjauhinya.

Setelah sampai di rumah, aku melihat sekitar. Tidak banyak berubah dari potongan-potongan ingatanku. Beberapa lukisan favorit ayah masih terpajang rapi di dinding ruang tamu. Vas vas berukiran cantik milik ibu juga masih menghiasi setiap sudut rumah.

Aku berjalan menuju kamarku. Tak banyak berubah, hanya ada beberapa baju lama yang masih ada. Aku menuju kamar Heechan dan menaruh Heechan di kasur dorongnya karena dia sudah tertidur dari tadi.

Pengacara ku masih menjelaskan semua. Dari pakaian ku dan segala macam benda di rumah ini. Yang pasti aku tangkap, jika rumah dan segala isinya menjadi milikku lagi. Pengacaraku tidak menjelaskan segala sebab dan akibat kembalinya rumahku. Dia juga memberi ku sebuah kartu atm dan mengatakan jika uang yang akan di transfer ke dalam atm itu adalah asuransi dari orang tua ku.

Aku mengangguk mengerti dan mengantar pengacara ku keluar. Setelah itu aku menuju kamar ku dan membuka beberapa kardus yang ada di dekat dinding. Ada beberapa buku bacaan, baju-baju lamaku dan boneka. Dan terakhir di kardus sedikit sedang, aku menemukan berbagai foto, pigura, buku catatan dan benda-benda lucu lainnya.

Aku menemukan foto ku dan keluarga ku, foto ku dan Heechan, foto Heechan saat masih bayi, dan terakhir aku menemukan foto ku dengan dia. Ada banyak sekali foto ku dan dia di kardus ini. Di foto-foto itu seperti kami berdua menghabiskan waktu bersama dan mengabadikannya.

Aku beralih pada sebuah buku catatan bewarna biru pastel. Aku membukanya dan membaca sekilas-sekilas tulisan disana. Dan aku menemukan sebuah undangan di halaman terakhir. Sebuah undangan pertunangan.

Dan tanggal yang tercatat disana, adalah tanggal dimana aku kecelakaan.

Dan nama yang tertulis disana, adalah nama seseorang yang aku lihat pertama kali setelah aku sadar.

Yang terakhir, di lembar itu hanya tertulis, "Aku mencintaimu." Dengan undangan itu terselip disana.

Entah kenapa, air mata ku tiba-tiba menetes melihat ini. Aku tidak yakin kenapa hati ku merasa sesak. Aku mencoba membuka lembar sebelumnya. Ada sebuah tulisan panjang, tertulis rapi disana.

Untuk Park Idiot Chanyeol.

Aku sangat merindukanmu. Merindumu hingga aku benar-benar tidak sabar bertemu dengan mu. Aku tahu, kau benar-benar mencintaiku Park! Aku tahu, dan aku merasa yakin. Tapi seolah kepercayaanku hilang dan lenyap dalam sekejap. Hanya kedatangan satu lembar tidak berfaedah ini dapat menghancurkan semuanya. Awalnya aku masih percaya, percaya dengan semua janji manismu. Namun aku berpikir kembali, mungkin inilah titik dimana kita diuji, dan aku lah pihak yang memutuskan untuk menyerah. Aku menyerah, dan aku sudah mengorbankan semuanya. Selamat tinggal.

Aku menutup wajah ku dengan kedua tangan lalu menangis dalam diam. Rasa sesak di dalam hati semakin menyakiti ku. Aku benar-benar tidak percaya apa yang terjadi di masa lalu. Dengan ini aku bisa menyimpulkan berbagai macam.

Haruskah aku berterima kasih? Karena ada nya buku catatan ini aku bisa mengetahui apa yang terjadi?

Atau aku harus membakar semua, agar semua nya sirna?

Ting ding dong~

Aku terlunjak saat mendengar bel rumah berbunyi. Secepat mungkin aku membereskan barang-barang di kardus ini. Berjalan sedikit berlari dan menghapus air mata ku.

Aku membuka pintu rumah dan dia berdiri disana. Denga wajah sembab, mata hitamnya yang terlihat lagi, rambut sangat kusut dan baju yang berantakan. Dia memandangku dan langsung memelukku. Menciumi pucuk kepalaku dan berbisik di telingaku dengan sejuta kata-kata.

"Kau sudah pulang ternyata, dimana Heechan? Aku ingin menemuinya." Dia melepaskan pelukanku. Dan aku menatapnya tajam. "Sayang.. ada apa?"

"Hanya jangan pernah menemui ku atau Heechan lagi. Kami tidak butuh bantuan mu. Kami juga tidak butuh kasih sayangmu. Hanya cukup jauhi aku, maka tidak ada yang tersakiti." Setelah itu aku menutup pintu ku dan bersandar di balik pintu ini. Menangis lagi namun kututup mulut ku agar tidak keluar isakan.

Pintu ku di gedor dengan keras, dia berteriak memanggil namaku. Aku ingin sekali memeluk nya, mengatakan semuanya, dan menangis dalam pelukannya. Tapi, resiko dari semua itu ada di tanganku.

.

.

Hari pertama setelah kepulangan ku dari rumah sakit, banyak sekali teman-teman ku yang datang. Tak luput juga dari teman-teman bisnis ayah ku yang datang dan berbela sungkawa. Untung saja mereka hanya berbasa-basi sebentar, karena aku pun tidak begitu mengingat mereka. Mungkin cuma beberapa teman lama ku yang masih ada di ingatanku

Aku hampir merasa lelah karena tamu terus berdatangan. Heechan sudah terlelap dari tadi dan sama sekali tidak terusik kebisingan yang ada di rumah. Hingga tamu terakhir pergi dari rumah, aku mulai membersih kan ruangan demi ruangan.

Ting ding dong~

Berselang 30 menit dari tamu terakhir. Aku mengreyitkan dahi, ini sudah malam, siapa yang bertamu? Aku menepuk pelan baju ku membersihkannya dari debu. Sebelum kubuka pintu aku mengintip dari celah lubang kecil. Namun tidak ada siapa-siapa. Aku mencoba memberanikan diri membuka pintu dan di kejutkan seseorang yang memelukku sangat erat.

Dari bagaimana dia memelukku aku mengenalinya. Aku meronta untuk melepaskan pelukan ku. Tapi dia makin memeluk erat tubuhku. "Kumohon sebentar saja.. setelah ini kau bebas dari ku."

Aku merasakan basah pada pundakku. Dan isakan kecil lolos dari bibir nya. Aku sempat terdiam dan membiarkannya melakukan semua ini. Ada aroma aneh yang masuk ke penciumanku. Aroma parfumnya dan alkohol yang sangat menyengat.

Awalnya aku ingin mengajaknya masuk, dan mengambil beberapa air putih agar dia tidak mabuk.

Tetapi dia melepaskan pelukanku dan berbalik pergi begitu saja.

Dia sangat cepat pergi ke mobil nya lalu melesat meninggalkan rumahku.

Setelah kejadian malam itu, dia tidak kembali. Tidak pernah mengujungku lagi atau pun menampakkan batang hidungnya. Dia benar-benar menuruti keinginanku.

Bodoh.

Tak taukah dia jika aku membutuhkannya?

Tapi apa daya ku jika semua keinginan ku harus aku pendam dalam-dalam?

Ini sudah hari ketujuh dia meninggalkan ku malam itu. Tidak ada kasih sayangnya yang dia berikan. Tidak ada ucapan manis yang dapat menenangkan ku. Tidak ada suara husky nya yang tertawa saat di sampingku.

Dia benar-benar pergi.

Dia benar-benar memenuhi semua keinganku.

Namun ku tempis rasa kecewa ku. Dan berusaha untuk berpikir jika semua ini benar. Dan inilah seharusnya yang aku jalani.

Aku mulai memikirkan semuanya. Aku harus mengolah uang untuk kehidupanku dan Heechan. Menjaga Heechan. Mencoba melakukan sesuatu saat aku bosan. Terlebih aku ingin menyibukkan diri, agar tidak teringat padanya lagi.

TBC/NEXT?

Akhirnyaa..

Alasan di balik kejadian ini udah terbongkar kan??

Semoga suka ya chapter ini

Tengkyu yang udah review ya..

SFA30, kim. jin.9047, wandapcy614, spektrofotometri, Arum364, BaekHill, tctbcxx, Hanachoi, ssuhoshnet, Riskaa, rly, ChanBaekGay, inspirit7starlight

Tengkyu banget yang masih penasaran sama cerita ini..

Tengkyu yang udah ndukung buat nerusin juga..

Regards, Ken.