BECAUSE OF YOU
(Karena kamu aku melakukan semua ini.)
Cast : - Park Chanyeol
- Byun Baekhyun
- Byun Heechan
Support : - Temukan sendiri
.
Author : KennyPark
.
Summary:
"Semua kulakukan karena aku ingin membahagiakan mu. Ya, karena kau aku melakukan semua ini."- Park Chanyeol
.
Genre :
Romance, Hurt, School life
.
GS
.
T
.
CHAPTER 6 Dia benar benar kembali
Hari ini aku mendapat jatah libur dari atasanku. Aku akan mencoba memakai waktu ku untuk bersama Heechan. Lagipula hari ini adalah ulang tahun Heechan. Aku ingin merayakan nya dirumah. Mungkin pesta kecil-kecilan bersama Luhan.
Setelah mengantar Heechan kesekolah, aku dan Luhan bersikeras menata ruang tengah menjadi indah. Berhiaskan balon warna warni dan pita-pita yang membentang di seluruh ruangan.
Tak lupa aku juga memesan kue coklat kesukaan Heechan dan beberapa makanan enak. Semua ku tata rapi di meja. Luhan sangat semangat membantu ku.
Setelah menaruh masakan yang terakhir, alarm ponsel ku berbunyi. Waktunya menjemput Heechan. Aku menghela napas lega, karena semua sudah beres. Aku langsung berpamitan pada Luhan jika aku akan menjemput Heechan.
Aku melangkahkan kaki ku dengan cepat. Aku sudah tidak sabar membawa Heechan pulang ke rumah dan merayakan pesta yang aku buat.
Sesampainya di sekolah, aku menunggu Heechan di bangku seperti biasa. Aku mencoba menata pakaian ku dan menata rambutku yang aku pikir sangat berantakan saat menyiapkan semuanya.
Bel berbunyi dan seluruh kelas mulai bersorak senang. Anak-anak pada lari keluar dan menghampiri orang yang menjemput mereka. Kulihat Heechan keluar dengan sedikit lesu, dan berjalan tidak semangat. Aku mulai penasaran dan menghampirinya. "Hey.. kenapa Heechan sedih, hm??"
Heechan mendongak dan memeluk kaki ku. "Yoonji tidak masuk hari ini. Jadi saat kelompok ku di panggil, aku mengerjakan sendirian di papan tulis."
Aku tersenyum dan mensejajarkan tubuhku dengan Heechan. "Mungkin Yoonji sedang sakit, atau mungkin halmoni Yoonji yang sakit. Jadi Yoonji harus menjaga halmoni."
Heechan hanya mengangguk dan kami mulai berjalan pulang. Setelah sampai di pintu rumah aku menyuruh Heechan masuk rumah duluan. Hingga Luhan keluar tiba-tiba dengan kue ulang tahun untuk Heechan di tangannya. "Selamat Ulang Tahun Heechaaannn!!"
Heechan langsung senang saat Luhan menghampirinya dengan kue coklat. "Noona dan Luhan noona yang menyiapkan??"
Aku dan Luhan mengangguk. "Terimakasih noona!"
"Sekarang, Heechan buat keinginan dan tiup lilin ini." Heechan mengatupkan kedua tangannya dan mata nya terpejam. Mulutnya bergerak mengucapkan kalimat dalam diam. Lalu setelah itu dia meniup lilin tersebut.
Aku bertepuk tangan lalu mencium kedua pipi Heechan. "Selamat ulang tahun adik tersayang noona."
"Sekarang ayo maakaaaannn!!" Luhan menghiring Heechan keruang tengah. Dan Heechan terkejut dua kali karena ruangan ini berhiaskan pita dan balon warna-warni.
"Huwaa.. ini indah noona!" Heechan berlari kearah tumpukan balon, dan bermain dengan balon tersebut. Aku mengambil kado yang sudah aku persiapkan di kamar. Lalu kembali dan memanggil Heechan.
"Ini kado dari noona." Heechan terlihat semangat dan membuka kado tersebut. Aku membelikannya robot baru, yang beberapa hari lalu dia minta saat iklannya tersiar di televisi.
"Wahhh! Noona ini kereeen! Terima kasih noona!" Aku mengangguk dan hampir menangis haru karena Heechan mulai bertambah umurnya. Luhan juga memberi Heechan kado, yaitu mobil-mobilan.
Kami sekarang menyantap makanan yang tersedia di meja ruang tengah. Heechan sangat lahap memakan makanannya karena aku memasakkan makanan yang dia suka.
Ting ding dong~
Atensi kami teralihkan pada bel rumah. Aku menyuruh Luhan dan Heechan kembali makan, biar aku saja yang membuka pintu. Setelah aku membuka pintu, terpampanglah dia dengan sebuah kado serta buket bunga.
"Heecha-"
"Samchon!" Aku dan dia terkaget karena Heechan mengikuti ku untuk kedepan.
"Hey jagoan. Selamat ulang tahun! Ini kado dari samchon dan Yoonji." Heechan sangat senang dan menerima kado itu.
"Terimakasih samchon. Tapi kemana Yoonji? Dia juga tidak masuk hari ini." Wajahnya berubah. Sedikit sedih aku rasa.
"Mendadak Yoonji harus ikut ayah nya keluar negri. Jadi dia lupa berpamitan padamu."
"Lalu kapan Yoonji kembali?"
"Aku tidak tahu jagoan. Tapi Yoonji sudah berjanji, saat natal dia akan pulang."
Heechan hanya tersenyum kecil. "Tidak apa-apa samchon. Setidaknya Yoonji tidak lupa ulang tahun ku."
Dia tertawa yang mengusak pelan kepala Heechan. "Ayo masuk samchon! Noona masak banyak makanan. Samchon juga harus makan cake ulang tahun Heechan." Heechan menariknya, namun dia malah menatap ku. Aku menganggukkan kepalaku dan berjalan masuk.
Awalnya Luhan terkaget karena dia masuk ke rumah. Namun aku hanya menyuruhnya diam dan akan menjelaskannya nanti.
Heechan bercerita banyak padanya dan memberinya banyak sekali makanan. Entah aku memang baru menyedari atau memang mereka sudah akrab sebelumnya. Aku hanya tersenyum melihat ini.
Siang haarinya Luhan pamit tidak bisa berlama-lama karena harus pergi kuliah. Heechan mengijinkannya, terpenting besok Luhan mau menjemput Heechan.
Sekarang Heechan dan dia sedang duduk di depan televisi. Menonton film kartun pilihan Heechan. Semangkuk eskrim ada di tangan mereka masing masing.
Suara tertawa mereka mengisi ruang tengah. Tak luput Heechan dan dia sering menirukan percakapan yang di film lalu tertawa bersama.
Aku memutuskan untuk mencuci piring dan memebersihkan peralatan makan tadi. Aku menyimpan sisa makanan dan cake ulang tahun yang tersisa juga langsung aku masukkan ke dalam kulkas.
Aku mengeringkan tangan ku dengan serbet saat ending film terdengar. Aku berlari keruang tengah, ingin mengajak Heechan untuk tidur siang. Namun ternyata Heechan sudah tidur di pahanya. Aku tersenyum ingin menggendong Heechan, tapi dia duluan yang menggendong Heechan.
"Biar aku saja." Heechan sama sekali tidak rewel saat dia menggendongnya dan menidurkannya di bahunya. Aku berjalan di belakangnya dan membantunya untuk membuka pintu kamar. Dia menaruh Heechan di tempat tidurnya dengan hati-hati. Aku membantunya juga untuk merapikan selimut Heechan. Namun yang membuat aku terkejut adalah dia mencium kening Heechan dan mengelus pipinya.
Aku hanya diam dan menghilangkan semua pikiranku. Mungkin memang dia sering melakukan itu untuk Yoonji. Apalagi Yoonji sekarang berada di luar negeri lalu melampiaskan pada Heechan.
Setelah menutup pintu aku berniat mencuci mangkuk bekas eskrim. Namun tangan ku ditahan nya dan membuat ku duduk di sofa. Aku mendengus sebal saat dia menatapku serius dengan kedua mata bulatnya.
"Apa lagi sekarang?" Aku menatapnya sinis.
"Melanjutkkan pembicaraan kita."
"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi." Aku hendak berdiri, namun dia menahan ku hingga duduk lagi.
"Pasti ada. Karena aku belum mendengar semua penjelasan mu." Aku hanya mendecih lalu menaruh mangkuk yang ku pegang ke meja disebelah sofa.
"Baik. Apa yang ingin kau dengar?" Aku mulai memfokuskan pandangan ku padanya.
"Semua. Semua alasan kau menghindariku. Karena aku sudah menyelesaikan semua hukuman ku jika aku boleh memberi tahu." Dia mendekatkan wajah nya pada wajahku namun aku hanya menatapnya tajam.
"Kupikir kau sudah tahu semuanya. Bahkan semua omong kosong yang mereka katakan pada ku."
Dia mengreyit, "Omong kosong?"
"Aku tidak tahu apa itu benar-benar omong kosong atau tidak. Tapi aku meyakinkan diriku kalau semua omong kosong itu benar."
"Lalu kau mempercayai semua itu?"
"Bagaimana tidak aku memepercayainya, semua bukti memang nyata dan aku melihatnya." Aku membuang arah pandangku. Entah mengapa saat melihatnya, aku seakan akan terseret pada pesonanya.
"Jelaskan apa omong kosong itu."
Aku menatapnya sebentar, lalu mengambil napas untuk mulai berbicara. "Aku tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya. Tapi mereka datang dan mengatakan jika kau pria yang sudah bertunangan dan akan menikah. Dan tambahan aku menemukan surat undangan pertunanganmu setelah aku pulang dari rumah sakit."
"Dan kau percaya??"
"Bagaimana bisa aku tidak percaya jika kau tidak datang setelah itu?? Kau berjanji kau datang dan aku menunggumu. Tapi apa, kau tidak datang. Kau tidak ada saat aku jatuh berkali-kali dalam masa pemulihanku. Kau tidak ada saat Heechan menangis mencari mu. Bagaimana bisa aku mempercayai mu??!!"
Aku tahu air mata ku menumpuk di pelupuk mata. Jika aku memejamkan mata ku pasti air mata ku pasti jatuh. Tapi saat dia memelukku, disitulah air mata ku akhirnya jatuh juga. Dia memelukku, membuatku menangis di dada bidangnya. Menciumi pucuk kepala ku dan mengatakan beribu minta maaf.
"Jangan menangis. Dengarkan penjelasan ku,hm?" Aku mencoba meredakan tangisanku dan masih dalam mode dipeluknya. "Setelah berpamitan dengan mu waktu itu, teman ku di perkuliahan menelpon. Mengatakan ada tugas yang harus aku kumpulkan saat itu. Awalnya aku ingin mengabaikannya, tapi jika aku terus mengabaikan tugasku, aku akan semakin lama menyelesaikan studi ku. Maka dari itu aku segera kembali ke New York dan menyelesaikan semuanya."
Aku masih sesenggukan, tangannya tidak berhenti mengelus pelan punggungku. Suara nya terdengar sanagat berat jika aku semakin menempelkan telinga ku di dadanya. "Dan soal pertunangan ataupun pernikahan. Aku sudah jelas menolak. Aku lebih memilih studi diluar negri lalu kembali menemui, daripada aku harus menikah tapi aku melepaskanmu. Meskipun kau menyuruhku menghindar, ataupun menjauhi mu sekalian, itu tidak akan pernah aku lakukan."
Mendengarkan penjelasannya kembali membuatku menangis lagi. Aku tahu dan aku sadar, jika keputusan itu merupakan keputusan bodoh yang pernah aku ambil.
"Sudah.. jangan menangis. Ini hanya salah paham. Sekarang aku ada disini. Dan aku akan mencoba mengembalikan memori kita." Aku mengangguk pelan dan membalas pelukannya sangat erat. Jika aku boleh jujur. Aku merindukannya.
"Sshh.. sshh.. sudah jangan menangis. Aku benar-benar mencintaimu."
.
.
Aku terbangun dari tidur ku. Yang kulihat pertama kali ada dada bidang yang masih terbalut kemeja putih yang aromanya pasti aku kenal. Aku merasakan ada beban yang menindih pinggang ku. Setelah ku raba ternyata tangannya menimpa pinggangku. Aku mencoba menjauh dari pelukannya dan dia kembali mengeratkannya lagi.
"Hei.. ini sudah sore. Heechan pasti sudah bangun." Aku menepuk dadanya, namun dia tidak segera membuka matanya. "Heii.."
"Panggil nama ku, baru aku akan bangun." Suara serak setelah bangun tidurnya membuatku tertegun. Bagaimana bisa aku memanggil namanya setelah sekian lama aku tidak pernah memanggil namanya. "Tidak mau? Yasudah." Dia semakin mengertakan pelukannya dan membuatku sedikit sesak di pelukannya.
"C-chan.. y-yeol-ssi." Dia hanya bergumam. Dan itu semakin membuatku gugup!
"Ayolah Chanyeol-ssi.. ini sudah soree." Namun tak ada balasan dari dia. Aku menghembuskan napas. Tidak mungkin kan aku memanggilnya seperti itu, yah.. kalian pasti tahu apa yang ditulis di buku diary saat ingatan ku dulu. Tapi jika tidak memanggilnya seperti itu, dia tidak akan bangun.
Aku menghembuskan napas pelan, menutup mata ku secara perlahan. "Channn, sayang.. bangun ya. Sudah sore nih. Kau mau memandikan Heechan kan?"
Gagal.
Dia sama sekali tidak bergerak.
"Chaannn!!" Aku memukul dada bidangnya, tapi dia cuma terkekeh dan menjauhkan ku dari pelukannya. Dia menunduk menatap ku dalam.
"Bagaimana jika kau saja yang aku mandikan?" Sebuah pukulan sedikit sakit menimpa kepalanya. Dia mengaduh dan memegangi kepalanya.
"Dasar mesum!" Ku gunakan kesempatan ini untuk beranjak dari tempat tidur. Aku berjalan menuju kamarnya Heechan. Kulihat dia masih tidur dengan nyenyak.
"Kau lihat kan, Heechan masih tertidur. Jadi, ayo kembali tidur lagi." Aku terkaget karena Chanyeol sudah ada di belakang ku. Aku hanya mendecih lalu berjalan turun. Mulai menyiapkan beberapa bahan makanan dan mengirisnya.
Chanyeol tiba-tiba memelukku dari belakang dan menjatuhkan dagunya di bahu ku. Aku sedikit meronta karena aku sama sekali tidak bisa leluasa bergerak. "Chanyeol-ssi lepaskan. Biarkan aku masak."
"Kemana nada manja mu tadi hm? Ah tidak mau kulepaskan kalau begitu." Aku membalikkan badan ku dan menatapnya. Wajah Chanyeol di cemberutkan dan dia juga memayunkan bibir nya. Tangannya masih setia menlingkari pinggangku, membuat badan ku berdempetan dengannya.
"Bagaimana jika kau pulang untuk mandi dan kembali lagi kesini untuk makan malam?" Chanyeol memasang wajah berpikir, lalu dia menggeleng.
"Jika aku pulang, akan ku pastikan aku tidak datang lagi kesini dalam waktu beberapa hari." Aku mendengus dan berbalik menghadap konter dapur. Melanjutkan acara memotong sayuran untuk makan malam.
"Baaeekk.." Chanyeol menggoyang-goyangkan tubuh ku di dalam pelukannya. Aku tidak menanggapinya dan berusaha terus terkonsen pada masakannku. Merasa di cuekkan, Chanyeol masih menjahili ku dengan cara yang sama.
"Aww.." hingga akhirnya, pisau itu mendarat di jari telunjukku dari pada di daun bawang yang akan aku potong.
"Astaga sayang.. maafkan aku.." Chanyeol langsung menarik ku kearah wastafel. Mengguyur jemariku dengan air supaya pendarahannya berhenti. Setelah darah dikira darahnya berhenti keluar. Chanyeol menarikkublagi untuk duduk di sofa. Mengambil kotak p3k di dinding belakang televisi lalu duduk di sebelah ku.
Chanyeol dengan telaten membersihkan luka ku, memberinya obat merah lalu menutupnya dengan plester dan terakhir kecupan pelan dari bibirnya.
Karena aku pikir dia sudah melakukan tanggung jawabnya, aku berdiri untuk kembali melanjutkan masakanku. Tapi Chanyeol menahan ku dan membuat aku duduk kembali.
"Aku yang masak, kau harus mandi dan membersihkan diri."
"Chann.. seharusnya kau yang membersihkan diri. Sana bangungkan Heechan lalu mandi bersamanya." Aku menepuk paha Chanyeol dan kembali menuju dapur untuk meneruskan acara memasak ku.
Makanan sudah aku siapkan di meja makan. Sekarang waktu ku untuk membersih kan diri. Aku berjalan menuju kamar ku di lantai dua. Saat membuka pintu aku di kejutkan karena Chanyeol hanya memakai handuk di pinggangnya saja.
"Yakkk!!" Aku langsung membalikkan diriku dan menutup muka ku dengan kedua tangan. "Pakai baju mu Chan!"
Chanyeol terkekeh sebentar lalu memelukku dari belakang. "Kau taruh mana baju ku yang biasanya ada di lemari?"
Aku sedikit gugup saat kedua lenganku bersentuhan dengan kedua lengannya. Apalagi suara seraknya menerobos langsung ke telinga ku.
"A-aku t-taruh d-di g-gudang.. akan aku ambilkan." Aku masih menutup muka ku berjalan pergi menuju gudang. Aku hanya mengingat kalau ada baju sedikit lebih besar dari pada punya ayah dan karena aku tak tahu milik siapa itu jadi aku taruh gudang saja.
Aku kembali sambil membawa beberapa helai baju dan celana pendek yang bersih. Dan mungkin aku besok harus mulai membersihkan baju-baju yang kotor itu.
Setelah mengetok pintu aku berbalik memunggungi pintu. Antisipasi saja karena aku jamin Chanyeol belum berpakaian. Terdengar suara pintu terbuka, dan aku menyodorkan pakaiannya. Chanyeol menerima itu dan masuk kembali.
Tak lama dia keluar dengan sudah berpakaian dan tersenyum idiot kearahku. Aku hanya mendengus kecil dan masuk kedalam kamar.
"Kenapa samchon ada disini? Aku pikir samchon sudah pulang." Kami makan bersama di ruang makan. Dan Chanyeol masih betah untuk duduk manis disini.
"Karena noona mu tidak ingin samchon pergi." Aku mencubit pelan pinggang Chanyeol dan dia mengaduh.
"Sakit Baek." Aku menatapnya tajam lalu beralih menatap manis pada Heechan.
"Habiskan makan mu, dan setelah ini Heechan harus belajar." Heechan mengangguk dan melanjutkan makannya lagi.
Setelah makan malam, aku dan Chanyeol menemani Heechan belajar di ruang tengah. Saat pekerjaan rumah Heechan selesai, Chanyeol menemani Heechan bermain denga kado yang dihadiahkan kepadanya.
Malam mulai larut dan Chanyeol harus benar-benar pergi. Setelah menidurkan Heechan di kamarnya karena dia kelelahan saat bermain bersama Chanyeol, dia mendekatiku dan memasukkan ku dalam pelukannya.
"Aku harus pulang. Terima kasih untukk hari ini sayang. Akan ku usahakan besok aku akan berkunjung lagi." Aku hanya mengangguk pelan di dalam dekapannya. Chanyeol masih terus menciumi pucuk kepala ku. Hingga akhirnya aku yang pertama kali memberi jarak diantara kami.
Cup!
Chanyeol mencium bibir ku dan tersenyum. Lalu mencium keningku dan memelukku sekali lagi meskipun hanya sebentar. Aku mengantar nya kedepan, melambaikan tangan saat dia masuk mobil, dan saat mobilnya menjauh dari rumah ku.
TBC/NEXT?
Gimana nih??
Masih pada nunggu kelanjutannya???
Semoga suka ya..
Aku gamau ngasih konflik berat lagi deh, aing baper duluan waktu nulisnya.
Aku mau jawab satu pertanyaan yang agak belibet nih :
BaekHill : ada alasannya sih, kenapa kakaknya ceye fine-fine aja waktu ketemu Baekhyun.
Dan juga, "..ibunya yoonji a.k.a kakaknya heechan kayaknya baik deh gak pandang baek sebelah mata.."
duhh.. ini gimana juga pertanyaannya, "ibunya yoonji" tuh ya yoora, kakaknya ceye bukan heechan, wkwk
Pertanyaan yang lain, udah kejawab ya di chap ini..
Maaf banget jika ada typo, kesalahan nama atau yang lain. Aing bukan manusia sempurna. Dan juga agak males juga perhatiin dari atas lagi.
Dan juga kemarin ada yang tanya, Ken laki-laki atau perempuan..
Terimakasih, karena saat ini saya masih permpuan. Tapi kalau dengan tidak sengaja mamih baek pose yang cans cans gitu, saya meragukan klo saya cewek asli.
Tengkyu yang udah review ya..
SFA30, kim. jin.9047, wandapcy614, spektrofotometri, Arum364, BaekHill, tctbcxx, Hanachoi, ssuhoshnet, Riskaa, rly, ChanBaekGay, inspirit7starlight, cicifu, zenbaek, rizypau16
Tengkyu banget yang masih penasaran sama cerita ini..
Tengkyu yang udah ndukung buat nerusin juga..
Regards, Ken.
