BECAUSE OF YOU
(Karena kamu aku melakukan semua ini.)
Cast : - Park Chanyeol
- Byun Baekhyun
- Byun Heechan
Support : - Temukan sendiri
.
Author : KennyPark
.
Summary:
"Semua kulakukan karena aku ingin membahagiakan mu. Ya, karena kau aku melakukan semua ini."- Park Chanyeol
.
Genre :
Romance, Hurt, School life
.
GS
.
T
.
CHAPTER7 Aku percaya padanya
Di hitung dari sekarang, ini adalah hari ketiga Chanyeol tidak datang. Dia tidak mengunjungi ku lagi setelah hari ulang tahunnya Heechan. Entah ada urusan apa yang lebih penting buatnya hingga dia sama sekali tidak datang ke rumah.
Apalagi Heechan sering menanyakan tentang Chanyeol. Dia selalu berpikiran jelek bahwa aku sedang melarang Chanyeol mengunjungi nya.
"Baek.. ada masalah kah?" Aku terkejut saat Kyungsoo menghampriku di kasir dan mengajakku bicara. Aku menegakkan badanku yang sebelumnya sedang bersender pada rak kaca di belakangku.
"Yah, hanya rengekan Heechan, Kyung."
"Adikmu sangat lucu Baek. Aku ingin bertemu dengan nya lagi." Aku tersenyum kecil. Seperti inilah aku dan Kyungsoo saat bekerja. Hanya menghabiskan waktu untuk mengobrol saat tidak ada pelanggan.
"Baek, ku pikir kau akan ada tamu." Aku mengreyit, karena Kyungsoo mengajak ku bicara namun matanya memandang ke arah luar toko.
Aku berdiri dan menengok siapa yang dimaksudkan Kyungsoo. Ada mobil hitam legam terpakir di seberang toko. Sepertinya mobil yang ku kenal. Tapi Chanyeol lah yang keluar dari mobil tersebut lalu di susul Heechan.
Heechan dengan patuh menggandeng tangan Chanyeol saat menyebrang jalan. Heechan terlihat sangat senang saat berjalan kemari. Di tangannya ada robot yang aku pikir itu seperti baru di belinya. Lamunan ku pecah saat pintu toko terbuka dan bell yang berbunyi menyadarkanku.
"Noona!" Heechan berteriak dan sedikit berlari menghampiri ku. Aku keluar dari meja kasir dan memeluk Heechan lalu menggendongnya.
Heechan mencium pipi ku dan aku mencium bibirnya. "Kemana Luhan noona,hm?"
"Kata samchon, Luhan noona tadi menjemput ku tapi samchon menyuruhnya pulang. Dan samchon mengajak ku pergi beli robot baru." Entah mengapa saat mendengar Heechan bilang kalau Chanyeol mengajaknya keluar membuat perasan ku sediit was-was. Tapi tetap saja aku mengalihkan semua pemikiran ku.
"Apa Heechan sudah makan?"
"Eung!!" Heechan mengangguk semangat. "Samchon membelikan ku banyaaakkk sekali makanan seafood!"
"Baiklah kalau begitu. Heechan harus pulang dan tidur siang bersama Chanyeol hyung. Panggil hyung saja, kalau samchon nantii..."
"Nanti apa noona??"
Aku mendekatkan bibir ku ke telinga Heechan, membisikkan sesuatu hingga membuatnya tertawa.
"Nanti dia bakal memiliki kumis berwarna putih." Aku dan Heechan tertawa kecil sambil mlihat Chanyeol.
"Janji jangan bilang ke Chanyeol hyung?" Aku berbisik sambil sekali-sekali melirik Chanyeol yang tersenyum kearah kami.
"Eung!! Tapi noona harus membelikan ku buku gambar baru!"
"Pasti jagoan. Baiklah.." aku menurunkan Heechan dari gendonganku. "Heechan harus tidur siang bersama Chanyeol hyung, satu jam lagi nanti noona akan pulang dan memasakkan makan malam."
Heechan berlari menghampiri Chanyeol dan aku juga berjalan mendekatinya. Chanyeol dengan sigap langsung menggendong Heechan. Aku merogoh celana jeans ku, mengambil gantungan kunci rumah dan memberinya kepada Chanyeol.
"Aku baru selesai kerja satu jam lagi. Tolong jaga Heechan."
"Pasti sayang.." Chanyeol menjawabnya disertai cubitan kecil di pipi ku.
"Pulang lah, tunggu aku di rumah." Chanyeol dan Heechan serentak menganggukkan kepala. Lalu dengan tiba-tiba merka mendekat dan bersamaan mencium kedua pipi ku. Setelah itu dengan Heechan di gendongannya, Chanyeol sedikit berlari keluar toko.
Aku hanya tersenyum sambil memegang kedua pipi ku. Seperti inikah rasanya saat dulu sebelum kecelakaan itu terjadi? Dia melakukannya persis seperti ini dulu, sama seperti apa yang aku baca.
"Heii.. jangan melamun!" Aku tersadar saat Kyungsoo menepuk pundakku.
"Hehe maaf.."
"Aku tahu apa yang kau pikirkan Baek." Kyunsoo mendengus kecil lalu berbalik berjalan menuju gudang belakang. Aku pun juga kembali ke kasir.
Mendekati jam pulang ku, aku sangat terkejut saat seorang wanita masuk ke koto. Dan aku sangat-sangat mengenalnya. Dia dengan wajah angkuhnya berjalan mendekati kasir dan menunjuk rokok di belakangku.
Aku mengambil rokok yang dia mau dan langsung mennghitungnya dengan mesin kasir. Dia memberiku dua lembar sepuluh won.
"Aku pikir rokok tidak baik untuk kehamilan." Perutnya yang sedikit membuncit itu sangat terlihat dengan pakaiannya yang ketat.
"Tidak untukku pastinya. Untuk Chanyeol." Dia tersenyum manis. "Well.. anak kami menitipkan salam padamu." Aku hanya terdiam dan memberinya kembalian serta struk pembayaran. "Kau tahu, Chanyeol benar-benar hebat. Dia langsung membuat sesuatu hidup di perut ku hanya sekali terjang."
Serasa ada yang menancap tepat di suatu tempat di rongga dada ku.
"Wah.. sayang kau tidak datang saat pernikahan kami." Aku hanya tersenyum sinis. Dan dia langsung pergi begitu saja.
.
.
"Aku pulang.." Aku melepas sepatu ku dan sedikit bingung karena tidak ada jawaban dari salam ku.
Kulangkahkan kaki ku menuju kamar Heechan. Kubuka pelan pintu kamar Heechan. Aku menemukan Heechan dan Chanyeol tidur bersama. Meskipun kasur Heechan terlihat sangat kecil dan membuat kaki Chanyeol menggantung, dia terlihat sangat nyaman tidur disana.
Aku berjalan mrndekati mereka, mengalus wajah Heechan sebentar. Namun tangan ku terhenti saat ingin menyentuh Chanyeol. Aku teringat perkataan wanita tadi. Seketika banyak pemikiran melewati otakku.
Apa dia menyembunyikan ini semua? Siapa yang berbohong dan siapa yang jujur?
Aku akhirnya menangis, tapi sekuat tenaga aku menahannya. Aku menggigit bibir ku agar tidak keluar isakan. Tangan ku masih terulur hendak memegang wajah tampannya. Namun dengan sangat pelan aku mulai meraba wajah yang mengisi hati ku.
Mata bulatnya, hidung mancung nya, bibir tebalnya dan rahang tegas nya benar-benar sempurna. Apakah aku pantas, bersanding dengannya?
Namun wajah itu mulai terusik. Mata bulatnya mulai terbuka dan mengerjap pelan. Aku segera menarik tanganku. Berjalan meninggalkan kamar Heechan dan masuk ke kamar mandi di kamar ku.
"Baekhyun!" Chanyeol berjalan mengikuti ku. Tapi beruntung aku bisa masuk ke kamar mandi sebelum dia menangkap ku.
Kran air wastafel aku nyalakan, dan juga shower aku nyalakan. Aku berdiri di bawah guyuran air, menangis dan meluapkan semua kesedihan ku. Biarkan suara gemericik air menyemukan suara tangisan ku dan biarkan juga air yang melewati wajahku membawa air mata ku jatuh.
Suara nya terdengar sedang memanggil namaku. Tangannya tak berhenti menggedor pintu kamar mandi untuk meminta ku membukakannya.
Haruskah aku melepaskannya lagi untuk kedua kali nya? Ada banyak sekali kekhawatiran ku sekarang tentang dia. Mungkin disaat semua kenanganku kembali, pasti aku juga melepaskan dia. Haruskah aku melepasnya sekarang? Sebelum semua rasa sakit ini semakin menjalar?
Aku tahu aku bodoh. Saat di depan mata ku terlihat jelas sebuah ranjau. Tapi aku dengan beraninya menginjak ranjau itu. Dan sekarang aku harus bisa menerima resiko nya.
.
.
Aku hendak keluar dari kamar mandi hanya terbalut handuk putih. Tapi aju berpikir ulang, pasti Chanyeol sedang ada di kamarku. Aku membuka pintu kamar mandi sangat pelan dan mengintip sekitar. Chanyeol sedang berdiri di depan meja belajarku dulu. Entah apa yang dia lakukan karena dia berdiri memunggungi ku.
"Chanyeol.." aku memberanikan diri memanggilnya. Chanyeol menoleh dan meletakkan sesuatu di meja. "Tolong ambilkan bathrobe ku." Chanyeol mengangguk dan berjalan menuju lemariku. Membuka lemari tersebut dan mengambil satu bathrobe disana. Dia berjalan mendekati ku dan memberikan bathrobe itu.
Meskipun aku masih memakai handuk yang melilit tubuhku, aku langsung memakai bathrobe itu dan keluar dari kamar mandi. Aku berjalan mendahului Chanyeol dan mendekati lemariku.
Tapi tiba-tiba ada sebuah pelukan hangat dari belakang. Tangan ku seketika berhenti saat Chanyeol mengeratkan pelukannya. Kepala Chanyeol di senderkan pada bahu kiriku dan aku hanya mengelus tangannya yang memelukku.
"Ada apa,hmm?" Aku memberanikan diri bertanya padanya. Namun hanya gelengan pelan yang aku dapat kan.
Aku memutar badan ku dan menatap tepat pada manik nya. Tangannya masih setia memeluk pinggangku dan dia juga ikut menatap ku. Aku menangkap sebuah kesedihan yang terpancar dari sana. Aku mengulurkan tangan ku untuk mengelus wajahnya.
"Katakan ada apa?" Dia tiba-tiba mencium bibirku. Aku terkejut dan masih menatapnya. Matanya terpejam dan mulai menggerakkan bibirnya. Aku terbuai dan ikut memejamkan mataku, mengimbangi apa yang dia lakukan. Tanganku dengan sendirinya mengalung pada tengkuknya.
Tetapi kenapa ciuman ini terasa basah? Apa dia menangis?
Aku mencoba membuka mata ku meskipun aku masih mencoba mengimbangi ciumannya. Matanya terpejam, namun sebuah aliran air mata ada di pipinya.
Sejenak aku berhenti dan mematung melihatnya. Dia menangis saat mencium ku. Akhirnya Chanyeol juga berhenti lalu mulai membuka kedua matanya dan memandang ku. Chanyeol mengangkat tangannya lalu menyeka di sudut bibir ku. Aku juga mengangkat kedua tanganku dan membersihkan air mata nya.
"Apa sebegitu beratnya?" Chanyeol bersuara dengan nada serak nya. Air mata nya kembali jatuh dan mencoba mengontrol kesedihannya. "Aku sekarang tahu kesalahan ku. Dan aku tahu kenapa aku sekarang kehilangan sebagian dirimu."
Aku masih menatap nya, mendengar semua apa yang dia ingin katakan. "Aku sudah menanggung hukuman ku. Dan juga aku sudah melewati semua apa yang terjadi. Masih adakah yang harus aku tanggung lagi untuk mendapatkan sebagian dirimu yang hilang?" Aku hanya menggeleng dan terdiam.
"Aku menyesal. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu. Aku hanya fokus pada studi ku dan selalu menghiraukan ponselku. Tapi saat aku rindu padamu, aku malah mendapatkan kabar kecelakaan mu. Semua polisi mengatakan padaku bahwa saat itu kau hendak berlibur dan terjadi kecelakaan. Semua harta perusahan ayah langsung di asuransikan atas namamu. Maka dari itu, aku berani meninggalkan mu saat kau memintanya dan berpikir semua baik-baik saja. Tapi, kenyataannya perusahaan ayah bangkrut dan kau pulang kerumah ini. Dan soal undangan itu, aku benar-benar tidak tahu. Maafkan aku."
Dia memelukku sekali lagi dan semua tangisannya tumpah. Dia menangis sambil memelukku sangat erat. Bibirnya tidak berhenti mengucapkan kata minta maaf. Aku hanya bisa menepuk pelan punggungnya dan mengatakan bahwa semua ini baik-baik saja.
"Sudah Chan.. berhenti menangis. Aku tidak apa-apa."
"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Kau menanggung semua sendirian, tanpa ayah sama ibu. Kau berjuang sendirian sayang. Bagaimana bisa aku tidak khawatir." Chanyeol masih sesenggukkan. Lalu dia melepas pelukan ku dan menunduk.
Aku mengangkat wajahnya, "Heii.. semua sudah terjadi. Mau kau marah pun semua sudah aku lakukan." Aku tersenyum menatap matanya yang menangis.
"Lalu bagaimana perusahan ayah? Kau menghidupi dirimu dan Heechan juga dari pekerjaan mu?"
Aku tersenyum dan menggeleng. "Masih ada asurasi masa tua ayah dan ibu. Itu yang menghidupi sekolah Heechan. Untuk makan kami berdua adalah dari pekerjaanku."
"Sayang, ayo pindah ke apartemen ku."
Aku mengreyit. "Chan-"
"Ayo kita hidup bersama, aku, kau dan Heechan. Aku yang akan menghidupi kalian. Aku yang akan membayar sekolah Heechan. Kau tidak perlu bekerja lagi."
"Chann.." aku terkejut tentang tawaran Chanyeol. Kenapa bisa dia menawari ku seperti ini?
"Sayang.. aku mohon.." Chanyeol menggenggam kedua tangan ku dengan erat.
"Tapi Chan.. itu tidak semudah yang kau pikirkan."
"Apalagi sekarang? Kau belum tahu jika ayahku sudah meninggal?" Aku terkejut dengan berita ini. Bagaiama bisa orang itu meninggal?
"Ayolah sayang.. tidak ada yang membuat mu jauh dari ku lagi."
"Tapi Chan, Seulgi mendatangi ku tadi. Dia bilang sedang hamil anakmu."
Chanyeol terkejut. "Bagaimana bisa? Aku tidak pernah menidurinya sayang. Aku tidak pernah kembali ke Korea setelah kau menyuruh ku pergi. Dia pasti berbohong. Itu pasti bukan anakku."
"Chanyeol, hei.. aku percaya padamu." Aku mencoba menenangkan Chanyeol. Aku memegang rahang tegasnya dan jempol ku secara tidak mengelus pipinya.
"Sayang.. ayo hidup bersama ku."
"Chan.. aku perlu mengembalikan memori ku dulu. Aku yakin dengan tinggal disini aku bisa cepat mendapatkan semua itu kembali. Kau ingin sebagian diri ku kembali kan?"
"Sebernarnya iya, tapi tidak lagi. Cukup kamu yang sekarang dan kita memulai semua dari awal. Hanya ada aku, kau dan Heechan." Chanyeol kembali mencium bibirku, tapi cuma mencium saja.
"Chanyeol.."
"Apa perlu aku saja yang hidup bersama kalian hm?? Aku tinggal disini bersama kalian?"
"Baiklah. Tapi jangan macam-macam!" Aku mencubit pipi Chanyeol lalu berbalik lagi menghadap lemari. Tetapi tangan Chanyeol kembali memeluk pinggang ku.
"Kau yang mesum sayang.. bagaimana bisa kau keluar dari kamar mandi hanya terlilit handuk itu. Kau sangat seksi." Chanyeol mencium tengkukku dan kurasakan dara berdesir ke seluruh tubuhku.
"Kau membangunkannya sayang.."
"Chan!!"
TBC / NEXT?
Hueee:'(((
Ken minta maaf,
Udah berapa tahun ini story ngga lanjuutt..
Dunia real life begitu menyiksa
Minggu depan aku harus syuting, dan minggu depannya lagi juga mau uas..
Jadi mungkin ini story bakal keteteran updatenya..
Tapi aku usahain ttep update meskipun cuma seminggu sekali..
Aku udah janji ngga ngasih konflik berat, tapi masih ada konflik ttepan.
Jadi,
Suka kah sama chapter ini?
Plis jangan mikir enceh nya dulu,
Masalah enceh, ntar aku habis uas aja, hehehe:'))
Tengkyu yang udah review ya..
SFA30, kim. jin.9047, wandapcy614, spektrofotometri, Arum364, BaekHill, tctbcxx, Hanachoi, ssuhoshnet, Riskaa, rly, ChanBaekGay, inspirit7starlight, cicifu, zenbaek, rizypau16, Channies616, floivy, guguhay
Tengkyu banget yang masih penasaran sama cerita ini..
Tengkyu yang udah ndukung buat nerusin juga..
Regards, Ken.
