BECAUSE OF YOU

(Karena kamu aku melakukan semua ini.)

Cast : - Park Chanyeol

- Byun Baekhyun

- Byun Heechan

Support : - Temukan sendiri

.

Author : KennyPark

.

Summary:

"Semua kulakukan karena aku ingin membahagiakan mu. Ya, karena kau aku melakukan semua ini."- Park Chanyeol

.

Genre :

Romance, Hurt, School life

.

GS

.

T

.

CHAPTER 8 Aku masih percaya padanya

Akhir pekan aku dan Heechan mengantar Chanyeol ke apartemennya untuk menganmbil beberapa baju dan barang pentingnya. Heechan sangat senang, dia tidak berhenti mengoceh saat duduk di pangkuan ku. Chanyeol sangat tenang mengendari mobilnya, sesekali menimpal apa yang Heechan katakan.

"Noona.. noona.. kalo Chanyeol hyung tinggal di rumah kita, setiap akhir pekan ayo kita liburaann! Heechan tidak pernah pergi ke pantai."

"Heechan mau pergi kepantai?" Meskipun perhatiannya tertuju pada jalanan, Chanyeol masih mampu berbicara pada Heechan.

"Eung!!! Hyung, akhir pekan besok ayo ke pantai." Heechan menoleh menatap Chanyeol. Chanyeol hanya tersenyum kearah Heechan dan mencubit pipi Heechan dengan tangan kanan nya.

"Baiklah. Jika pr matematika Heechan dapat nilai diatas 80. Hyung akan mengajak Heechan ke pantai."

"Yeeayy!!" Heechan melonjak di pangkuan ku dan secara tiba-tiba mencium pipi Chanyeol. "Gomawo hyung.."

Chanyeol hanya tersenyum sambil menatap Heechan. Aku memandangnya dan berbisik tanpa suara untuk berterima kasih. Chanyeol mengambil tangan kiri ku dan menciumnya lalu menggenggamnya.

Sesampainya di baseent apartemen Chanyeol. Aku yang menggendong Heechan, menggandeng tangan Chanyeol untuk berjaan menuju lift. Kami sempat bertukar sapa dengan satpam disana.

Setelah keluar dari lift, kami di tunjukkan sebuah lorong panjang. Chanyeol berjalan duluan dan berhenti pada pintu pertama sebelah kanan. Dia memasukkan kode password apartemennya lalu membuka pintu tersebut. Dan nampaklah apartemennya yang sungguh mewah.

"Woaahh.. rumah Chanyeol hyung sangat bagus!!" Heechan merengek untuk turun lalu berlari mengitari apartemen Chanyeol.

"Hati-hati jagoan. Nanti jatuh." Chanyeol mengingatkan Heechan lalu kembali memandangku. "Benar-benar tidak ingin tinggal bersamaku?"

"Chan.. ini terlalu mewah untukku dan Heechan. Aku akan lebih pantas hidup di rumah ku sendiri." Chanyeol mendengus sebal tanpa menatap ku lagi.

"Terus saja begitu jawabannya." Dia lalu berjalan pergi, mungkin menghampiri Heechan yang berkeliling kemana.

Aku tahu Chanyeol mungkin ngambek karena penolakan ku untuk tinggal bersama. Jadi biarkan saja. Aku tidak ambil pusing karena aku tahu dia bukan orang yang suka marah dengan tidak elitnya.

Aku mulai berjalan lebih masuk ke apartemen Chanyeol. Apartemennya sangat nyaman dan di dominasi dengan warna putih. Saat masuk kau akan disuguhi dengan ruang tamu dan sebuah jendela besar di sisi kanan. Jika menoleh ke kiri ada meja makan dan dapur yang sangat mewah.

Lalu aku berjalan ke lantai dua, melihat Heechan sedang bermain di taman kecil di lantai ini. Ditaman itu terdapat satu hammock untuk bersantai. Ada ruang keluarga dengan tv besar di tengah ruangan ini, dan sisanya ada tiga pintu.

Aku mendekati Heechan yang sedang tidur bersantai di hammock dengan Chanyeol yang menggoyangkan hammocknya. Mereka berdua terus tertawa karena kadang-kadang Chanyeol mnegerjai Jeechan dengan menguatkan goyangannya. Aku berniat memegang tangan Chanyeol tapi dia menepis dan menjulurkan tangannya untuk menggendong Heechan beranjak pergi.

Chanyeol lalu duduk si sofa ruang keluarga dan aku juga duduk di sofa lain. Chanyeol masih setia memangku Heechan dan saling mengobrol. "Heechan suka rumah hyung?"

"Eung!! Rumah hyung sangat bagus!" Heechan bersorak dan bertepuk tangan.

"Heechan mau tinggal disini??" Heechan terdiam dan berpose memikir sebentar. Tetapi setelah itu menjawab pertanyaan Chanyeol dengan menggeleng. "Kenapa? Heechan tidak suka?"

"Bukan begitu hyung. Rumah hyung sangat bagus, tapi kasihan noona kalau mau mengantar Heechan kesekolah. Dan kasihan noona juga harus membayar sewa nanti."

"Hei jagoan.. hyung tidak meminta uang sewa kok. Heechan dan Baekhyun noona boleh tinggal disini sesukanya. Nanti masalah mengantar Heechan ke sekolah biar hyung yang mengantar Heechan."

"Chan.." Aku mengintrupsi pembicaraan mereka. "Jangan terlalu memewahkan Heechan."

Tapi Chanyeol sama sekali tidak menatap ku. "Jadi Heechan mau tinggal bersama hyung?"

Tetapi Heechan kembali menggeleng. "Heechan tidak mau meninggalkan rumah Heechan. Disini tidak ada ayah dan ibu. Tapi Heechan janji, Heechan akan berkunjung kesini hyung."

Chanyeol menghela napas pelan dan tersenyum dia memeluk Heechan dan menciumnya bertubi-tubi. Aku sangat bersyukur karena Heechan benar-benar tidak ingin tinggal disini. Karena bagiku, aku dan Heechan tidak pantas mendapatkan semua ini.

"Baiklah, ayo bantu hyung berkemas!!" Chanyeol secara tiba-tiba mengangkat Heechan memasuki salah satu pintu di ruangan ini. Aku berdiri dan berjalan mendekati pintu itu, tetapi tidak berani memasukinya. Aku berdiri di sebelah pintu dan mengintip apa yang mereka lakukan.

Kamar Chanyeol terbanding terbalik dari pada yang ada di apartemen ini. Kamarnya bernuasa abu-abu, hitam dan minim warna putih. Kamar nya sangat rapi, dan benar-benar elegan. Tempat tidur ukuran king size terletak di pinggir ruangan, dekat dengan jendela. Sedangkan lemari nya terletak di sebrang tempat tidur itu. Ada televisi besar dan seperangkat dvd dan speaker di depan kasur itu. Dan sisanya adalah rak yang dipenuhi dengan buku komik serta koleksi mainan mini nya.

Chanyeol mengeluarkan koper yang cukup besar dan menaruhnya di kasur. Dia mengambil beberapa kaos dan kemeja lalu memasukkannya di dalam koper. Dia sesekali menyuruh Heechan mengambil komik dan mainan mini nya. Heechan menurut dan berlari kecil kearah rak di sudut ruangan. Heechan membawa banyak sekali mainan tersebut lalu langsung memasukkannya ke dalam koper. Chanyeol hanya tersenyum dan mengusak rambut Heechan lalu menata mainan tersebut.

Setelah koper itu tertutup, Chanyeol menaruhnya diatas lantai lalu bersama Heechan berbaring di kasur king size nya itu. Mereka bercanda lagi dan kembali tertawa. Aku memberanikan diri untuk berjalan masuk dan mendekat. Aku duduk di sebelah Chanyeol dan mengusap rambut Chanyeol dan Heechan bergantian.

"Kalian tidak lapar? Ini sudah mendekati jam makan siang."

"Heechan mau pasta seafood? Seperti kemarin di restorannya hyung?" Heechan terlihat sangat tertarik dengan tawaran Chanyeol.

"Eung! Noona ayo ke restorannya Chanyeol hyung. Nanti Chanyeol hyung yang masak, masakan hyung sangat enak. Noona dan hyung disana juga sangat baik padaku."

Aku khawatir tentu saja. Karena aku dan Heechan sangat tidak pantas mendapat semua ini. Apalagi Chanyeol mengajak ku ke restorannya.

"Chan.. kita bisa makan dirumah." Aku mencoba bernego dengan Chanyeol. Chanyeol terlihat mendengus kesal lagi lalu dengan cepat merubah ekspresinya saat menatap Heechan.

"Heechan.. katakan pada noona mu untuk menurut pada hyung kali ini. Hyung mau-"

"Chanyeol!" Aku berteriak kali ini. Sudah cukup batas kekhawatiran ku. Kulihat Chanyeol dan Heechan terkejut. "Maaf.. tolong beritahu aku kamar mandimu." Chanyeol menunjukkan dengan dagu sebuah pintu di ruangan itu.

Aku langsung masuk dan menyalakan kran di wastafel. Aku menangis di sini. Namun sekuat tenaga aku mengigit bibir ku agar suara isakan ku tidak terdengar.

Aku hanya khawatir, sesuatu yang tidak aku inginkan menimpa ku atau Heechan lagi. Cukup di saat itu aku hampir kehilangan Heechan. Aku hanya ingin hidup tenang seperti tiga tahun belakangan ini.

Setelah memastikan mataku tidak sembab dan make up ku tidak luntur, aku keluar dari kamar mandi. Kulihat Heechan dan Chanyeol masih di atas kasur dan menonton sebuah kartun pendek di televisi. Mereka berdua tertawa dan sering kali menirukan percakapan di dalam kartun itu.

Aku menghampiri mereka dan duduk di sebelah mereka. "Ayo makan siang. Untuk kali ini terserah Heechan mau dimana."

"Hyung.. makan dirumah saja ya, aku ingin masakan noona." Aku menaikkan alis ku, kenapa Heechan cepat merubah pemikirannya?

"Heechan tadi bilang mau makan seafood, kalau ingin kerestoran Chanyeol hyung juga tidak apa-apa." Aku mengelus pipi Heechan.

"Tapi noona.." Heechan terlihat memohon.

"Ke restoran Chanyeol hyung, atau noona tidak mau memasakkan seafood lagi untuk Heechan." Heechan menatap Chanyeol, tapi setelah menganggukkan kepala, Heechan terlhat senang.

"Yeayy!! Restoran Chanyeol hyung!!" Aku memandang Chanyeol tapi Chanyeol terasa saat aku pandangi. Dia menoleh kearah ku sebentar, tapi selanjutnya di mengalihkan pandangan nya dan mengendikkan bahunya.

Setelah seatbelt ku terpasang dan Heechan sudah duduk manis di pangkuan ku, Chanyeol dengan baik mengendarai mobilnya keluar dari basement apartemennya. Seringkali Heechan mengatakan keinginannya saat melihat berbagai bangunan yang kita lewati.

Hingga mobil Chanyeol berhenti di salah satu bangunan yang sedang namun sangat klasik. Bangunan itu di dominasi dengan warna coklat di luarnya.

Chanyeol mengambil alih melepaskan seatbelt ku. Dan sesegera mungkin keluar dari mobil untuk membukakan pintu di sisi ku. Dia mengmbil Heechan untuk di gendong dan tangannya diulurkan untuk membantu ku turun dari mobil.

Kami bersama memasuki restoran itu, dan Heechan langsung merengek turun dan berjalan di salah satu sofa di tengah ruangan itu tapi langsung menghadap pada sebuah panggung kecil. Dan aku yakini itu tempat favorit Heechan.

"Hei, Heechan.." ada seorang lelaki yang berjalan mendekati Heechan dan mengusak rambutnya.

"Oohh, Jondae hyuung~" Heechan tersenyum pada lelaki tersebut.

"Ooh Chan, siapa dia?" Tiba-tiba ada seorang lelaki yang berdiri langsung tepat di hadapan ku dan Chanyeol.

Chanyeol langsung merangkul pundakku dan membuat lelaki tersebut tersenyum miring. "Aahh.. aku tahu. Perkenalkan nama ku Jongin. Aku adiknya dia." Salah satu tangannya menunjuk lelaki yang sedang berbincang dengan Heechan.

"Ayo.." Chanyeol mendorong ku untuk duduk di sebelahnya Heechan dan Chanyeol disisi lain. Lelaki yang sedang bersama Heechan juga memperkenalkan diri nya.

"Noona mau makan apa, pilih yang noona suka, nanti Chanyeol hyung yang memasak." Aku di sodori Heechan sebuah buku menu. Heechan sepertinya lebih tahu segala nya tentang restoran milik Chanyeol ini.

Aku melihat daftar menu tersebut. Nilai harga makanan yang tersaji di restoran sedikit mahal. Aku mengmdengar Heechan menyebutkan pasta seafood yang di inginkan. Aku lalu mencari menu tersebut dan melihat harganya. Tiga puluh ribu won. Aku mengingat kembali uang yang ada di dompet ku. Dan aku memutuskan untuk tidak memesan.

"Noona jadi pesan apa? Aku memesan pasta king crab, di pasta itu nanti Chanyeol hyung bakal memberi ku satu kepiting raksasa." Heechan memperagakan apa yang di katakannya dengan merentangkan kedua tangannya.

"Noona, tidak makan. Pesan saja apa yang Heechan mau." Aku tersenyum, mencoba menghilangkan wajah khawatir ku. Aku sempat mengusak rambut Heechan pelan. Tapi entah kenapa wajah Heechan terlihat sedih saat menatapku. "Kenapa,hm??"

"Noona pasti tidak bawa uang, jadi cuma Heechan saja yang bisa makan. Aku mau pesan yang lain saja, biar noona juga ikut makan." Heechan mencoba mengambil buku menu dan membuka kembali.

"Heechan.. noona tidak lapar-"

"Pesan lah, apapun yang kau mau. Jangan pikirkan tanggungannya. Aku pemilik restoran ini." Chanyeol memotong perkataan ku dan mencoba mengambil perhatian Heechan. "Heechan boleh kok memesan pasta king crab, hyung yang membayarnya kali ini."

"Benarkah hyung?" Chanyeol dengan semangat mengangguk lalu kembali menatap ku.

"Aku pesan pasta cheese and chicken saja." Aku memang memesan menu yang murah dan bagiku itu sudah mewah seperti menu lainnya. Tapi Chanyeol cuma menatap ku dengan pandangan dinginnya.

Dan benar kata Heechan, dari tempat ku duduk aku bisa melihat Chanyeol sendiri lah yang memasakan pesanan ku dan Heechan. Lalu Chanyeol datang dengan pesanan kami. Aku hanya bingung karena apa yang aku dapat kan berbeda dengan apa yang aku pesankan. Aku menatap kearah Chanyeol tapi Chanyeol malah dengan acuh nya malah tersenyum melihat Heechan makan dengan lahap.

Di hadapan ku ada sepiring pasta beef and spinach. Dilihat dari potongan dagingnya sangat banyak pasti akan sangat mahal. "Makan Baek. Aku memasaknya bukan untuk di lihat saja. Lagipula.." aku langsung menatap Chanyeol yang entah sedang menerawang apa, karena pandangannya tidak tertuju kearah ku. "..ku pikir kau sekarang lebih kurus."

Aku menghela napas dan mulai menyuapkan pasta itu ke mulutku. Sensasi saus pasta yang tercampur dengan daging nya benar-benar memanjakan lidahku.

"Inilah pekerjaan ku sekarang. Tanpa ada kertas-kertas tidak penting yang berada di sekitarku. Dan juga," Aku menoleh lagi kearah Chanyeol. Namun yang kudapatkan Chanyeol menatap kosong ke arah panggung. "..aku bukan seorang dari keluarga Park lagi. Karen-"

"Dasar jalang!!"

Byurrr..

Aku tidak tahu apa-apa, yang sekarang aku rasakan hanyalah dingin di kepala ku dan si badanku. Aku menoleh dan mendapati Seulgi berdiri di belakang ku dengan gelas kosong. Aku hanya berdiri terdiam. Masih terkejut dengan apa yang terjadi

"Sudah kutakakan kalau Chanyeol menikahiku. Dan aku sedang mengandung-"

"Seulgi!! Apa-apan kau!! Keluar dari restoran ku!!" Chanyeol segera menarik Seulgi keluar. Kulihat Seulgi meronta-ronta dan terus mencoba terlepas dari seretan Chanyeol.

Aku menatap kosong keluar dari restoran ini, melihat bagaimana Chanyeol mengusir Seulgi dan menyuruhnya untuk segera pergi. Lalu pandangan ku teralihkan karena salah satu pelayan Chanyeol, Jongdae, memberikan ku handuk yang besar, yang mampu menutupi baju basah ku. "Jangan khawatir, Chanyeol bukan pembohong."

Dia tersenyum manis padaku, seakan-akan dia mampu menjawab apa yang aku pikirkan selama ini.

"Noonaa.." aku langsung teringat pada Heechan. Aku menoleh dan langsung memegang pundaknya. "Noona kedinginan??"

Aku mengangguk kecil, "Tapi Jongdae oppa sudah memberiku handuk jagoan."

"Ajhumma tadi sangat jahat pada noona. Besok kalau Heechan sudah besar, Heechan akan memukulnya." Aku hanya tersenyum dan menyuruh Heechan untuk kembali makan. Lalu aku bertanya pada salah satu pelayan disini letak kamar mandi.

Meskipun wajah ku sudah terasa bersih, tapi baju yang kupakai yang sedikit terasa lengket karena minuman tadi. Aku mencoba mengusak baju ku dengan handuk pemberian Jongdae tadi untuk mengeringkan sementara baju ku yang basah.

Aku keluar dari kamar mandi langsung saja di hadapkan dengan Chanyeol yang berdiri di depan pintu. Chanyeol mengambil tanganku lalu menyeret ku berjalan menuju lantai dua. Wajah Chanyeol sangat datar untuk sekarang, dan aku tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.

Setelah tangga ada dua pintu di sisi kiri dan kanan, dan Chanyeol mulai masuk di pintu sisi kanan. Langsung saja setelah pintu itu terbuka aku melihat sekilas sebuah kamar yang sama seperti kamar Chanyeol di apartemennya namun ini dalam bentuk minimalis.

Aku di dudukannya di kasur dan Chanyeol berjalan ke lemari, memilih kaos miliknya. Lalu dia kembali kehadapanku dan memberikanku sebuah kaos putih.

"Gantilah baju basah mu, nanti bisa masuk angin." Chanyeol juga menunjukkan sebuah pintu lain di kamar ini yang aku tebak pasti kamar mandi.

Setelah berganti baju dan mencoba membersihkan badan ku yang terasa lengket aku segera keluar dari kamar mandi. Kaosnya cukup besar dan terpaksa bagian bawahnya aku masukkan kedalam celana jeans ku.

Ku temukan Chanyeol hanya duduk di sofa dengan sebuah komiknya namun teralihkan saat aku keluar dari kamar mandi. Chanyeol mengaambil alih baju basah ku dan handuk untuk di masukkan kedalam tempat baju kotor di sebelah pintu kamar mandi.

Lalu dia menarikku untuk keluar dari kamar ini dan kembali duduk di bersama Heechan. Heechan terlihat senang karena sudah menghabiskan makanannya, dan sekarang dia menikmati eskrim.

"Makan makananmu dan setelah ini kita pulang." Aku mengangguk dan mulai menghabiskan makananku, sedangkan Chanyeol dan Heechan bercanda gurau bersama.

Setelah selesai makan, kudapati Heechan sudah tertidur di sofa dengan paha Chanyeol sebagai bantalnya. Aku ingin mengambil alih Heechan, namun Chanyeol menolak. Dia dengan hati-hati mengangkat Heechan dan menggendongnya lalu beranjak dari tempat duduk. "Ayo kita pulang.."

Setelah berbincang singkat dengan Jongdae, Chanyeol menggandengku keluar dari restorannya. Aku disuruhnya masuk terlebih dulu kedalam mobil dan memastikan seatbeltku terpasang baru Heechan di alihkan ke pangkuan ku. Chanyeol mengendarai mobilnya sangat pelan dan juga hening yang terjadi di antara kita berdua.

"Jangan terlalu di pikirkan Baek. Karena aku benar-benar mencintaimu. Tidak ada yang lain di hati ku." Aku menoleh menatap Chanyeol yang masih fokus menyetir. Namun tiba-tiba Chanyeol menoleh kearah ku dan langsung saja mencium bibir ku.

"Aku mencintai mu."

TBC/NEXT??

Karena sesungguhnya aku bakal benar-benar hiatus setelah ini *mewek dipojokkan*

Mungkin bakal ada satu chapt lagi yang bakal update, baru setelah itu aku bakal fokus ke kuliah ku dulu

Dan kemarin aku dapet masukkan juga buat lebih panjangin chapternya,

Maaf yah sebelumnya, karena emang per chapter udah aku porsiin adegannya.

Ya mungkin waktu itu aku khilaf lagi ga mood nulis jadinya cuma dapet segitu..

Aku minta maaf sebesar besarnya kalau ada typo, atau kesalahan nama yang tertera diatas, karena aku gaada waktu untuk koreksi ulang.

SETIDAKNYA AKU UPDATE CEPET YEEAYY!!

Tengkyu yang udah review ya..

SFA30, kim. jin.9047, wandapcy614, spektrofotometri, Arum364, BaekHill, tctbcxx, Hanachoi, ssuhoshnet, Riskaa, rly, ChanBaekGay, inspirit7starlight, cicifu, zenbaek, rizypau16, Channies616, floivy, guguhay, Channies6161, Fu, rini kim

Tengkyu banget yang masih penasaran sama cerita ini..

Tengkyu yang udah ndukung buat nerusin juga..

Regards, Ken.