BECAUSE OF YOU

(Karena kamu aku melakukan semua ini.)

Cast : - Park Chanyeol

- Byun Baekhyun

- Byun Heechan

Support : - Temukan sendiri

.

Author : KennyPark

.

Summary:

"Semua kulakukan karena aku ingin membahagiakan mu. Ya, karena kau aku melakukan semua ini."- Park Chanyeol

.

Genre :

Romance, Hurt, School life

.

GS

.

T

.

CHAPTER 9 Hal yang tidak pernah ia sesali

Aku memaksa untuk menggendong Heechan setelah keluar dari mobil dan menyuruh Chanyeol untuk membereskan kopernya. Setelah Heechan nyaman di tempat tidur nya aku masuk ke kamar ku untuk berganti baju. Jam sudah menunjukkan pukul tiga kurang seperempat sedangkan aku harus bekerja jam tiga.

Kulihat Chanyeol menata baju nya untuk di taruh di lemari ku. Aku mengreyit pelan diambang pintu. "Kenapa di lemariku? Kau bisa memakai kamar ayah dan ibu."

Chanyeol menoleh kearah ku sebentar dan kembali menata baju nya. "Tidak sayang. Kamar ayah dan ibu biarlah seperti itu. Aku tidak ingin merusaknya."

Aku berjalan menuju lemari ku mengambil seragam kerja ku. "Kau akan bekerja?" Aku hanya mengangguk pelan dan mulai berjalan ke kamar mandi. Tetapi Chanyeol menahan ku. "Lalu Heechan dengan siapa?"

"Kan ada kamu Chan." Aku melepas genggaman Chanyeol. Tapi Chanyeol tetap menolak. "Lalu selama ini Heechan sendirian jika kamu bekerja."

Aku mengangguk, "Tapi kadang Luhan berkunjung untuk menemani Heechan."

"Baek.. bagaimana bisa kau meninggalkan Heechan sendirian?"

"Lalu mau bagaimana lagi? Jika aku tidak bekerja, siapa yang memberi makan Heechan." Aku menempis tangan Chanyeol dan masuk kedalam kamar mandi.

Setelah keluar dari kamar mandi, kulihat Chanyeol tertidur di kasur. Aku tersenyum sambil meletakkan baju ku di kursi dan menghampiri Chanyeol. Aku duduk di sebelah nya dan mengelus pipi tirusnya.

Mata nya mergerjap pelan melihat ku lalu tersenyum. "Tidurlah kembali. Aku akan bekerja."

Aku hendak berdiri tapi dia menahan tangan ku. Dan terpaksa aku duduk kembali di kasurku. "Ada apa lagi,hmm?" Aku mengelus tangannya yang menggenggam tangan ku.

"Berhentilah bekerja. Jaga Heechan. Aku yang bekerja." Aku hanya tersenyum dan kembali mengelus mukanya.

"Lalu jika kau pergi lagi, siapa yang membiayai semua nya hm?" Chanyeol langsung bangun dari tidur nya dan memelukku.

"Aku tidak akan meninggalkan mu lagi sayang.. aku janji." Aku hanya mengangguk pelan dan menepuk punggungnya, mengiyakan semua apa yang dia katakan. Meskipun aku meragukan nya.

Aku melepaskan pelukannya dan menatapnya lagi. "Bagaimana jika aku bekerja di restoran mu? Setidaknya biar kamu mengawasi ku juga." Tapi Chanyeol menggeleng lucu. "Chan.."

"Tidak Baek.. Cukup di rumah, jaga Heechan, bersih-bersih rumah dan bersiaplah jadi seorang istri untukku."

Aku membulatkan mataku, mendengar perkataan Chanyeol. "Chanyeol.."

"Kenapa? Kau tak ingin??"

"Tapi Chan, aku saja sama sekali tidak mengingat mu. Dan aku juga-"

"Hei.. sudah pernah aku katakan kan? Jika aku ingin Baekhyun yang sekarang. Bukan Baekhyun yang dulu. Aku hanya ingin Baekhyun ku yang baru, yang akan memiliki kehidupannya yang baru juga."

"Tapi Chan, aku belum siap menikah."

"Kenapa lagi??"

Aku sedikit ragu mengatakan alasan ku. Sedikit rasa takut menjalar ke hati ku untuk mengatakan ini. Aku hanya tidak ingin dia kecewa. "Aku.." Chanyeol masih menatap ku, mendengarkan apa yang ingin aku bicara kan.

"A-aku rasa ini b-berlebihan Chan. A-apalagi, a-aku belum memastikan p-perasaan ku. M-menikah bukan jalan yang terbaik Chan."

Awalnya ada perubahan raut kecewa dari wajah Chanyeol dan aku memaklumi apapun reaksi dari Chabyeol. Karena inilah apa yang ku rasakan. Tetapi setelah itu dia tersenyum dan menangkup kedua pipi ku dengan tangan besarnya.

"Baiklah.. aku akan menunggu mu. Temukan apa yang benar-benar kau rasakan dan aku akan menerima semua nya." Aku hanya menganvguk pelan dan tersenyum. Lalu Chanyeol memelukku lagi dan membisikan sesuatu.

"Aku mencintaimu."

.

.

"Aku pulang.." Aku memasuki rumah dan melepas sepatu ku. Rumah dalam keadaan sepi sekarang. Aku berpikir mungkn Chanyeol dan Heechan sudah tidur karena kelelahan. Pantas saja kulihat di depan tv mainan Heechan berserakan. Aku menaruh bahan makanan di meja makan dan berjalan menuju kamar Heechan.

Ku buka pintu kamar Heechan sangat pelan dan menemukan Chanyeol dan Heechan tidur berpelukan. Aku hanya tersenyum dan mendekati mereka. Ku naikkan selimut yang membukus tubuh mereka agar tidak kedinginan. Lalu mengusap pelan kepala mereka berdua.

Chanyeol merasakan usapan ku dan mulai mengerjapkan matanya. Mata nya sudah memerah dan mulutnya sesekali menguap. Dia mengubah posisi tidur nya menjadi duduk dan menatap sayu kearah ku.

"Tidur lah di kamar. Aku akan membersihkan diri dan makan dulu." Aku mengelus wajah nya pelan dan dia mengangguk.

Aku berdiri dan Chanyeol mengikuti ku namun dia langsung masuk ke kamar.

Setelah mandi, ku lihat Chanyeol sudah tertidur di kasur. Aku mendekatinya dan tidur di sebelahnya. Kutatap wajah Chanyeol yang tertidur dan mendaratkan tangan ku untuk mengelus wajahnya.

Dan kembali elusan tangan ku membangunkannya, "Maafkan aku. Kau jadi terbangun lagi." Namun Chanyeol hanya menggeleng lemah dan memasukkan ku ke dalam pelukannya. Sesekali dia mengecup pucuk kepala ku dan mengelus kepala ku.

"Tidak apa-apa Baek. Aku senang kau perlakukan seperti itu. Karena belum tentu esok hari aku mendapatkannya lagi."

"Kenapa?" Aku semakin memeluk erat tubuh tegap Chanyeol bersandar di dadanya. "Aku selalu disini Chan.."

Chanyeol terkekeh dan suaranya terdengar menggema di rongga dadanya. "Karena jika ingatan mu kembali, aku yakin kau akan sangat membenci ku."

Aku terdiam, masih mendengarkan apa yang ingin di katakan Chanyeol.

"Maka dari itu, sebisa mungkin aku melepaskan rindu ku saat bersama mu. Aku tidak akan menyia-nyiakan saat ini. Akan ku rekam semua kenangan ini baik-baik. Karena aku tidak akan tahu, kapan lagi aku bisa melakukan ini. Mungkin saja besok ingatan mu kembali dan kau membenciku lalu mengusirku. Semua tidak ada yang tahu sayang, hanya Tuhan yang tau."

Aku melepaskan pelukannya dan memberi jarak diantara kami. Ku pandang wajahnya yang sangat sangat tamoan itu dan merekamnya. "Apakah aku akan kehilangan mu lagi jika ingatan ku kembali?" Chanyeol menggeleng, namun di bibirnya di sertai senyuman kecil.

"Aku tidak tahu." Tangan besar Chanyeol membelai pipi ku pelan. "Karena semua keputusan ada di hati mu sayang. Kau yang memutuskan apakah aku tetap tinggal atau aku harus pergi."

"Tapi Chan.."

"Aku tahu, aku melakukan kesalahan besar waktu itu. Andaikan aku tidak menolak apa yang si bangka tua itu inginkan, dan tidak memilih pergi ke luar negri. Si bangka tua itu menyebabkan bangkrutnya perusahaan ayah. Dan kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi kalau rumah ini tidak disita. Ayah dan ibu pasti masih hidup."

Aku masih menatap nya dan berusaha mendalami lewat tatapan matanya.

"Aku sempat berfikir. Andaikan aku memilih menikah waktu itu, dan aku pergi dari mu. Tidak akan kembali lagi dan tidak akan mengingat mu lagi. Apa yang saat itu kau rasakan? Aku yang bilang bahwa aku benar-benar mencintai mu tapi aku malah pergi seenaknya dan menikah dengan wanita lain."

"Aku pasti akan sangat kecewa dan sangat-sangat membenci mu."

Chanyeol tersenyum dan mencium bibir ku lagi. "Kau sudah tau kan?" Aku mengangguk. "Aku lebih bersyukur jika kau kehilangan ingatan mu. Kau yang tidak teringat lagi rasa kecewa itu dan tidak terus-terusan merasa tersakiti. Dan aku sangat berharap kau tidak mengingat apapun kejadian kemarin." Chanyeol merubah posisi tidurnya menjadi menindih ku. Kedua sikunya yang ada di samping badan ku menopan berat tubuhnya yang berada di atasku

"Karena aku ingin Baekhyun ku yang baru, Baekhyun ku yang lupa akan semua kehidupan pilunya."

Lalu secara tiba-tiba Chanyeol mencium bibir ku dan melumat nya. Mata ku ikut terpejam dan mengimbangi ciumannya. Tanpa sadar tanganku berpindah tempat ke tengkuknya dan mengalung di sana. Sesekali aku meremas rambut yang ada di tengkuknya dan Chanyeol semakin memperdalam ciumannya. Tidak ada lumatan nafsu dari ciuman ini. Dan aku merasakan kerinduan yang mendalam pada diri Chanyeol.

Kurasa oksigen dalam paru-paru semakin menipis. Dan tidak sengaja, aku memukul lengan Chanyeol sedikit keras. Secara perlahan Chanyeol melepaskan ciuman kami dan terciptalah bunyi kecipak saat bibir kami terlepas. Dengan cepat aku mengambil oksigen di sekitar ku dan mata ku masih terpejam.

Setelah kurasa napas ku mulai teratur, aku membuka mataku. Yang kudapatkan wajah Chanyeol yang tepat di depan wajah ku hanya berjarak beberapa senti. Mata nya menelisik wajah ku dengan baik. Dan aku juga melakukan hal yang sama.

Hingga dia mencium ku lagi lalu mengatakan, "Aku mencintai mu Baekhyun."

Aakh!!

Saat itu juga kepalaku terasa sakit. Rasa sakit yang sangat hebat melanda kepalaku. Aku memegang kepala ku dan meremasnya kuat.

Astaga!

"Chan.. s-sakiit!" Aku mencoba terus bertahan pada sakit kepala ku.

Tapi, rasa sakit ini di ikuti dengan sebuah tayangan masa lalu seperti film rusak. Potongan-potongan kejadian yang aku fikir ini adalah ingatan ku saat itu terpampang jelas.

Canda tawa ku dengan Chanyeol, suara tertawa Chanyeol, Heechan yang diajak berbicara pelan dengan Chanyeol, saat aku ulang tahun dan Chanyeol mencium pipi ku, waktu berdua yang kuhabiskan bersama Chanyeol, Chanyeol menggendong Heechan, Chanyeol yang tertawa bersama ayah dan ibu, Chanyeol yang memberikan suprise atas kelulusan kita, Chanyeol yabg memelukku, dan Chanyeol yang menangis di pundakku.

Semua kenangan itu terputar di otak ku. Semakin banyak kenangan itu kembali, semakin sakit kepalaku.

"Baek.. Baekhyun.. Baek! Baek.." Aku hanya samar-samar mendengar suara khawatirnya Chanyeol.

"Aakhhh.. saakiitttt.."

Semua kenangan ku kembali.

Ingatan itu kembali.

Dan setelah itu hanya HITAM yang kuingat.

.

.

Aku terbangun sebuah hamparan ladang rerumputan. Sinar matahari yang menyilaukan masuk ke kelopak mata ku. Aku mulai duduk dan melihat sekitar. Hanya aku sendiri di sini. Aku sempat bertanya dimana aku sekarang. Namun rumput hanya bergoyang terhempas angin yang menjadi jawabanku.

Namun dari kejauhan di depan ku, ada dua orang yang berjalan menuju kearah ku. ku pertajam pengelihatan ku dan memperjelas siapa mereka.

Itu ayah dan ibu.

Aku langsung berdiri dan berlari kearah mereka. Air mata ku tidak bisa aku tahan lagi saat melihat wajah mereka yang tersenyum. Dengan cepat aku memeluk mereka dan menangia di pundak mereka.

"Hai sayang.." Ibu berkata di telinga ku dan Ayah menciumi pipi ku. "Bagiamana keadaan mu?"

Aku melepaskan pelukanku dan menatap mereka. "Apa aku sudah mati?"

Mereka hanya tersenyum dan menggeleng. "Jika kau pergi, siapa yang menjaga Heechan??" Ayah mencubit pipi ku dan tertawa.

"Lalu kenapa aku bisa ada disini? Bertemu dengan kalian?"

"Ibu dan ayah merindukan mu sayang." Ibu mengelus pipi ku dengan pelan. "Bagaimana keadaan mu? Apa kau dan Heechan baik-baik saja?"

Aku mengangguk.

"Syukurlah. Ayah senang mendengar nya."

Aku masih menangis di hadapan mereka. "Kenapa ayah dan ibu pergi?"

"Hei.. ini sudah takdir kita sayang. Dan jangan menyalahkan siapapun."

"Tapi bu.."

"Chanyeol tidak bersalah Baekhyun. Kau tidak boleh membencinya. Apa yang Chanyeol lakukan itu benar."

"Ayah.."

"Ayah dan Ibu sudah bahagia disini. Dan kau juga harus bahagia sayang. Dan kebahagian mu adalah Chanyeol. Dia sudah kembali. Jangan sedikit pun untuk membenci Chanyeol,hm?"

Aku mengangguk pelan meskipun air mata ku terus mengalir.

"Baekhyun.." Aku menatap ayah, "Berbahagialah bersama Chanyeol. Jangan ragukan dia lagi."

"Kau harus cepat bangung sayang.. Ayah dan Ibu harus pergi."

"Aku akan selalu merindukan kalian."

"Dan kami akan selalu mencintai mu sayang."

.

.

Aku mengerjap pelan, mencoba membiasakan sinar mentari yang masuk mengusik kedua mataku. Langit-langit kamar ku yang kulihat pertama kali. Dan kepala ku masih menyisakan sedikit pening.

Salah satu tangan ku terasa berat, dan aku melihat Chanyeol yang tidur merunduk di tangan tangan ku.

Aku mengelus surai hitamnya dan dia mulai merasakan apa yang aku lakukan. Chanyeol bangun dan terperanjat saat melihatku.

"Baek, kau sudah sadar??" Aku hanya mengangguk pelan. "Ada yang sakit?"

"Kepalaku masih terasa pusing." Aku berbicara sangat lirih dan Chanyeol terlihat sangat lega. Dia mencium pucuk kepala ku dan mengelus kepala ku.

"Chanyeol.."

"Apa ingatan mu kembali?" Aku hanya mengangguk. Kulihat ada raut khawatir yang tercetak di wajah Chanyeol.

"Aku bertemu ayah dan ibu." Chanyeol menatap ku dengan intens. "Mereka yang merubah keputusan ku Chan."

"Aku sangat mencintai mu Chanyeol." Aku langsung bangun dan memeluk Chanyeol. Chanyeol lalu tertawa pelan dan membalas pelukan ku.

"Aku juga mencintai mu sayang."

"Jangan pergi lagi Chan.." Chanyeol hanya mengangguk dan semakin mempererat pelukan ku. "Jangan pernah membuat ku khawatir lagi."

"Aku janji."

TBC

Haloooo..

Adakah yang masih inget cerita ini?

Adakah???

Kalo ngga ada mau mewek dulu *nangisdipojokkan

Maaf banget gabisa update cepet

Aku bukan hiatus berbulan-bulan kok..

Cuma mau ijin karena lagi ujian semester..

Buktinya ini aku udah kembali..

Niatnya habis update chap kemarin, mau update satu lagi dan baru hiatus. Tapi apa daya karena ternyata syutingan ku ada masalah dan aku ga bisa pegang cerita ini lagi. Aku harap ada yang masih nunggu cerita ini ya..

Tengkyu yang udah review di chap kemarin ya..

SFA30, kim. jin.9047, wandapcy614, spektrofotometri, Arum364, BaekHill, tctbcxx, Hanachoi, ssuhoshnet, Riskaa, rly, ChanBaekGay, inspirit7starlight, cicifu, zenbaek, rizypau16, Channies616, floivy, guguhay, Fu, rini kim, pongpongi, afrilany pasha

Tengkyu banget yang masih penasaran sama cerita ini..

Tengkyu yang udah ndukung buat nerusin juga..

Regards, Ken.