BECAUSE OF YOU
(Karena kamu aku melakukan semua ini.)
Cast : - Park Chanyeol
- Byun Baekhyun
- Byun Heechan
Support : - Temukan sendiri
.
Author : KennyPark
.
Summary:
"Semua kulakukan karena aku ingin membahagiakan mu. Ya, karena kau aku melakukan semua ini."- Park Chanyeol
.
Genre :
Romance, Hurt, School life
.
GS
.
M
.
CHAPTER 12 Aku sangat mengerti posisi ku.
Akhirnya Chanyeol memutuskan untuk mengajak aku dan Heechan tinggal di apartemennya. Bukan menetap hanya mungkin akan sesekali tinggal di apartemen. Jadi aku dan Heechan memutuskan membawa dua koper besar atas permintaan Chanyeol.
Setelah menentukan kamar untuk Heechan, aku dan Chanyeol membantu Heechan menata beberapa baju dan buku sekolahnya. Heechan sangat suka dengan tempat tidurnya. Dia terus terusan meloncat di tempat tidur. Sesekali dia berlari kesana kemari melihat kamar baru nya.
"Hyung.. hyung.. di dinding sana pasang poster ironman ya??" Heechan menarik baju Chanyeol dan menunjuk dinding kosong yang ada di belakang tempat tidurnya. Chanyeol berdiri sejajar dengan Heechan.
Chanyeol mengusak rambut Heechan dengan gemas. "Iya jagoan, besok kita beli bersama. Nanti juga beli beberapa perabotan kesukaan Heechan."
"Huwaaa... Beneran hyung??!!" Chanyeol mengiyakan perkataan Heechan. Lalu dengan senang Heechan berlari mengitari kamar nya dan kembali lagi pada tempat tidurnya untuk meloncat kegirangan.
"Kau terlalu memanjakannya Chan.." Chanyeol menoleh kearah ku lalu mengecup pelan pipi kiri ku. Lalu mendaratkan tangannya untuk memeluk pinggang ku.
"Sudahlah, kita pernah membahasnya kan. Jadi jangan protes lagi." Aku hanya mendengus sebal. Tapi sekali lagi aku mendapatkan kecupan di pipi ku. "Apa kau cemburu dengan Heechan karena aku tidak pernah memanjakanmu?"
Aku tidak percaya saat Chanyeol mengatakan seperti itu. Heii, ayolahh.. siapa juga yang cemburu dengan Heechan. Aku kakak nya..
"Jangan omong kosong Chan. Bagaimana bisa aku cemburu dengan Heechan." Aku melepaskan pelukan Chanyeol dan kembali berberes koper milik Heechan. Namun Chanyeol kembali memelukku bahkan mengecupi tengkuk leher ku.
"Hey ayolah.. katakan sebenarnya dan aku tidak akan marah." Aku membalikkan badan ku dan menatap jengah pada Chanyeol. Tapi Chanyeol hanya memasang wajah idiotnya sambil tersenyum.
"Lupakan Tuan Park. Aku membencimu."
"Tapi aku sangat mencintai mu Nyonya Park." Sekali lagi aku harus merelakan bibir ku untuk di kecupnya. Tapi aku tersenyum setelah itu.
Setelah memastikan Heechan tidur, aku mematikan lampu kamarnya. Menyisakan lampu tidur disebelahnya lalu menutup pintu kamar. Saat berbalik aku mendapati Chanyeol berdiri bersender pada lemari panjang yang berada di dekat pintu kamarnya Heechan.
"Apa dia sudah tidur?" Aku mengangguk kecil dan mulai berjalan menuju kamarnya Chanyeol. Chanyeol berjalan di sebelah ku dan meletakkan tangannya di pinggang ku.
Sesampainya di kamar aku langsung membuka koperku. Mengeluarkan semua isinya dan menata nya di lemari. Chanyeol hanya tiduran bersender di headbed, berkutat dengan laptopnya.
Aku kembali tersenyum dan melanjutkan acara berkemasku. Menata beberapa bajuku di lemari milik Chanyeol. Menaruh barang barang ku di lemari panjang dekat tempat tidur. Menata alat make up ku di meja rias. Menata alat mandi ku di kamar mandi.
Setelah semua selesai aku berjalan menuju tempat tidur Chanyeol. Aku merebahkan diri ku disana dan menatap apa yang sedang Chanyeol lakukan.
Tapi aku tidak ambil pusing, aku hanya mencium pipinya dan mengucapkan selamat tidur. Setelah itu aku menyamankan badan ku dan mulai memasuki alam mimpi.
Namun tak lama aku merasakan ada tangan yang menyelusup ke baju tidurku. Tangan kasar yang sangat aku kenali mengelus pelan bagian pinggang ku. Aku tau apa yang dia maksud dan aku hanya membiarkannya. Sekali-sekali aku ingin mengerjainya.
"Baek.. kau sudah tidur?"
Aku mengacuhkannya dan masih berpura-pura jika aku benar-benar tidur. Sangat sulit untuk menahan senyumanku, karena aku tidur menyamping menghadapnya.
"Sudah tidur rupanya." Chanyeol mengelus kepala ku dan mencium keningku. "Padahal aku ingin mengajak mu melakukan sesuatu."
"Melakukan apa?" Aku membuka mata ku secara tiba-tiba dan mencium kilat bibir tebal nya. Chanyeol terlihat terkejut dan aku tertawa kecil melihatnya.
"Kau belum tidur?" Chanyeol masih dalam mode terkejutnya. Dan aku menjawabnya dengan gelengan dan masih terkikik.
"Kau mengerjai ku,huh??" Dengan cepat Chanyeol menggelitik pinggang ku dan sukses membuat ku tertawa lepas.
"Hahahahha... Chan... Hahaha.. cukup.. oke oke aku minta maaf.." aku terpaksa mengaku kalah hanya dengan gelitikannya. Tapi Chanyeol sama sekali tidak berhenti untuk menggelitikku.
Tapi tiba-tiba Chanyeol menatap ku dengan serius. Dan aku baru menyadari bahwa dia sekarang berada dalam posisi menindih ku. Kedua sikunya menumpu badan tegapnya. Entah kenapa saat dia memandangku, jantungku berdegup dengan kencang. Seluruh fungsi otak ku tiba-tiba berhenti seketika.
Hingga bibir tebal Chanyeol menyentuh bibir tipisku. Melumatnya dengan pelan tanpa ada tuntutan. Dan itu hanya terjadi sebentar, lalu Chanyeol menyudahi acar kecupan ini.
"Apa kau bahagia?" Pertanyaan itu berhasil membuat sesuatu di rongga dada ku menghangat. Apalagi Chanyeol bertanya dengan senyumannya yang menawan, terpampang nyata di depan mataku dalam jarak yang cukup dekat.
"Seharusnya aku yang bertanya akan hal itu. Apa kau bahagia? Bersama ku dan Heechan?"
"Eung.. selalu bahagia." Chanyeol menjawabnya dengan anggukan mantap. Salah satu tangan besar nya mengelus rambut ku. Lalu turun untuk menangkup pipi ku. "Apapun dirimu aku akan selalu bahagia."
Aku tersenyum dan mencium pipi kiri nya. Lalu kembali merebahkan kepalaku. Dia tertawa kecil saat aku selesai melakukan itu. Kedua tanganku terjulur untuk meraba dahi lebarnya. Lalu turun meraba mata bulatnya. Chanyeol menutup mata nya sekejap, lalu membuka nya kembali saat tangan ku mencubit hidung nya. Kami tertawa bersama tapi setelah itu kami saling diam. Mata kami saling menatap satu sama lain. Aku tidak tau apa yang dia cari dari mata ku. Tapi aku melihat kebahagian di matanya. Rasa gembira menyelubungi rentina coklat nya. Tangan ku turun untuk membelai pipinya. Namun Chanyeol menolehkan kepalanya dan mencium telapak tanganku.
"Bagaimana jika kita menikah di hari ulang tahun pernikahan ayah dan ibu?"
Aku mengreyitkan dahiku, mengingat kembali tanggal bersejarah itu. "Itu berarti ada sekitar enam bulan lagi."
"Hmm.. brarti ada cukup persiapan untuk pernikahan kita. Bagaimana suasana pernikahan kita nanti? Kau mau yang seperti apa?"
"Tidak perlu terlalu mewah Chan. Sederhana saja."
"Kau selalu mengatakan seperti itu." Chanyeol menggesekkan hidung mancung nya ke hidungku. Aku hanya tertawa geli merasakannya. "Aku sudah menabung banyak uang. Apa kau lupa tabungan yang sudah kita kumpulkan? Bagaimana bisa kau meminta yang sederhana, hm?"
"Kita membutuhkan banyak biaya setelah menikah. Kita akan punya anak dan kita juga harus menghidupinya Chan. Lagipula Heechan juga masih membutuhkan banyak biaya."
"Ngomong soal anak. Aku ingin punya anak perempuan. Bagaimana dengan mu?"
"Eung.. aku juga." Aku tersenyum saat mendengar keinginan Chanyeol untuk memiliki anak perempuan.
"Tapi, aku menerima apapun nanti pemberian Tuhan. Entah laki-laki atau perempuan aku akan menerimanya. Selagi itu dari perut mungil mu." Chanyeol sekali lagi mencuri ciuman dari bibir ku. Dan aku hanya menanggapi nya dengan senyuman. "Bagaimana jika sekarang kita berusaha untuk membuat anak perempuan. Aku membaca di artikel ada gaya yang dapat memberi anak perempuan." Kata Chanyeol dengan menaik turunkan alisnya.
"Dasar mesum!" Aku mencubit sesuatu di balik celana tidurnya. Dan Chanyeol mengaduh kesakitan.
"Baekhyun! Sakit sayang!" Aku hanya tertawa dan mencium bibir nya sekilas. Tapi Chanyeol menatapku serius lalu mencium ku dengan segala tuntutannya.
Ciumannya lalu turun melewati leher ku, merambah daerah sensitif ku yang lain. Bahu putih di kecup nya dan bibir sekarang berada di payudara ku. Aku tidak tahu kapan tangan Chanyeol melepas baju piyama ku dan bh ku juga sudah terlepas dari tempatnya.
Dia menyedot puting ku dengan kuat, memberi kesang panas pada seluruh tubuhku. Tangannya menjalar pada pinghul ku lalu dengan cepat melepas celana piyama ku.
Tangan kasar nya lalu merambat, mengelus vagina dalam ku. Menyentuh biji kecil disana yang sukses membuat ku mendesah nikmat.
"Channhhh.."
"Panggil nama ku sayang," Chanyeol kembali memaikan biji itu hingga aku bergerak tidak karuan. Tangannya yang memainkan itu dan bibir nya dengan lihai masih bermain di putingku. Ini sungguh membuatku menggelinjang hebat.
Tangan ku tidak berhenti meremas rambut belakangnya. Dan tangan ku yang lain meremas lengannya.
Secara tiba-tiba, Chanyeol memasukkan dua jari nya sekaligus. Itu berhasil membuatku mendesah tertahan. Jarinya menguak lubang ku dan membuat bagian selatan ku berkedut.
Mulut Vhanyeol masih berfokus pada puting ku. Dia menyesap kuat dan selalu berpindah. Kanan kiri kanan kiri. Jari-jari nya mulai sedikit lebih cepat mengocok bagian bawah ku. Jempolnya juga terus merangsang klitorisku. Bagaimana bisa aku menahan semua ini? Dan akhirnya aku sampai pada puncaknya.
Mata ku terpejam dan badan ku bergetar hebat. Jari Chanyeol masih memainkan klitoris ku. Bibir tebalnya menciumi leher ku, mencoba untuk meredam gelombang orgasme ku.
Setelah mengatur napas ku, aku membuka mata. Terpampang jelas wajah tampan Chanyeol yang tersenyum manis diatas ku. Tangan nya sudah menjauh dari bibir vagina ku.
"Apa kau siap?" Aku mengangguk dan seketika itu juga Chanyeol membalik badan ku. Aku menungging dan kedua tanganku menumpu badan ku. Langsung saja Chanyeol memasukkan penis besar nya.
"Ahh.." Benar-benar terasa penuh. Ujung penisnya tepat menabrak bibir rahim ku. Dan itu memberika sejuta sensai pada badan ku.
Tanpa ba bi bu lagi, Chanyeol menggerakkan pinggulnya menghantam pantat ku. Tangannya sesekali meremas pantat ku dan menepuk nya dengan keras. Chanyeol sesekali menggeram saat aku semakin mengetatkan otot vagina ku.
Sedangkan aku, meskipun aku masih bisa berkonsentrasi untuk memanjakan penis Chanyeol pada vagina ku. Aku sendiri mencari pelampiasan untuk rasa nikmat ini. Bibirku tidak berhenti mendesah memanggil nama Chanyeol. Tangan ku juga dengan kuat meremas bantal.
Hingga kurasa aku kembali akan merasakan puncak yang tak tertahan lagi. Seperti tahu jika aku akan orgasme, Chanyeol semakin cepat menumbuk titik terdalam ku. Hingga akhirnya kita mencapai orgasme bersama. Dan Chanyeol mengeluarkan benihnya di dalam rahim ku.
Aku ingin merebahkan badan ku, tapi Chanyeol terlebih dulu menahan bobot badanku. "Tunggu sebentar. Biarkan sperma ku membuahi sel telur mu."
Aku sudah tidak bisa melakukan apapun dan sepenuhnya menuruti apa yang di katakan Chanyeol. Hingga sekitar sepuluh menit aku dan Chanyeol dalam posisi ini. Lalu dia merebahkan badan ku, dan melepaskan penisnya dari vagina ku.
Sebelum menyelimuti badan ku, dia mencium perut telanjang ku. "Segeralah tumbuh dan lahir di dunia ini sayang, ayah akan menunggu mu." Meskipun aku sudah tidak bisa bergerak, aku tersenyum kecil mendengar penuturan Chanyeol. Chanyeol melihat ku dan mencium bibir ku. Lalu dia merebahkan tubuhnya disampingku.
"Aku akan selalu berdoa agar usaha ku tidak sia-sia." Aku mengangguk lemah. Dia benar-benar berharap memiliki anak dari rahim ku.
"Tidurlah, kau pasti lelah." Aku menyamakan badan ku di pelukan Chanyeol. Mengusak pelan hidung ku di dadanya dan Chanyeol emncium pucuk kepala ku.
"Aku mencintai mu Baekhyun. Park Baekhyun."
.
Sudah seminggu kami tinggal bersama. Sesekali aku, Chanyeol dan Heechan tidur di rumah ayah ibu ku. Tapi untuk hari ini kami sudah kembali ke apartemen Chanyeol.
Seperti biasa, aku memasak untuk sarapan mereka di pagi hari. Hanya sup tulang sapi dan masakan daging yang di sukai Heechan. Tapi ada yang aneh. Bau sup yang aku buat sangat tidak enak. Apa aku salah memasukkan bumbu? Atau aku kurang bersih saat mencuci danging nya?
"Hei.. ada apa?" Aku terkejut saat Chanyeol sudah ada di belakangku dan memeluk pinggangku.
"Coba rasakan ini." Aku menyodorkan sesendok sup yang sudah aku tiup agar dingin ke Chanyeol. "Bagaimana? Tidak enak kan?"
Chanyeol mengecap sebentar sup yang aku buat. Tapi dia hanya menganggukkan kepalanya dan kembali memeluk pinggangku.
"Chanyeol, aku bertanya padamu?!" Aku sedikit berteriak dan Chanyeol hanya mengreyit pelan.
"Itu sangat enak Baek, seperti biasanya. Kau saja yang aneh. Masakan mu selalu enak." Tapi apa yang aku rasakan berbeda. Setiap mencicipi sup ini, aku selalu merasa mual. Sungguh bau nya saja membuat perutku tidak nyaman.
"Tapi ini tidak enak baunya Chan." Chanyeol hanya mendecak sebal. Dan semakin mempererat pelukannya padaku.
"Chanyeol, jika kau terus melakukan ini, aku tidak akan selesai memasak. Sekarang naiklah dan bangunkan Heechan."
Tapi yang kudapatkan adalah kecupan di bibir ku dan sukses membuat ku terkejut. "Kau selalu mengomel. Apa kau sedang datang bulan?"
Aku teringat sesuatu. Tanggal haid ku sudah lewat dua minggu yang lalu. Apa aku terus terbawa emosi karena sedang hamil? Ah.. tidak-tidak. Tidak mungkin aku hamil begitu saja.
"Aku akan naik keatas dan membangunkan Heechan." Chanyeol kembali mecium pipi ku lalu setelah itu pergi keluar dari dapur.
Seperti biasa, aku, Chanyeol dan Heechan akan sarapan bersama. Tapi kali ini sup tulang dan masakan daging tidak aku sajikan. Aku benar-benar tidak mau jika Chanyeol dan Heechan memakan sup yang tidak enak itu.
"Aku pikir kau memasak sup tadi?" Chanyeol mengreyit saat aku hanya menghidang kan beberapa sayuran.
"Kan aku sudah bilang. Bau sup nya tidak enak." Aku duduk di sebelah Heechan dan mengambilkan nasi untuk Heechan dan Chanyeol.
"Baek, tapi sup mu tadi sangat lezat. Aku serius."
"Nuna.. apa tidak ada daging? Aku benci sayuran." Heechann merengek pada ku dengan wajah melasnya.
"Tapi-"
"Biar aku saja." Chanyeol berdiri dan berjalan menuju dapur. Dia mendekati kompor yang diatasnya masih ada satu panci sup dan di panci lain adalah masakan daging yang lain. Kulihat Chanyeol mencicipi sup itu dan masakan daging ku. Lalu dia membawa dua panci itu ke meja makan.
"Baekhyun, ini enak sayang. Masakan mu tidak bau." Tapi aku buru-buru menutup hidung ku karena bau itu semakin membuat perutku mual.
Chanyeol dan Heechan mengreyit melihat ku yang sedang menutup hidung ku. Aku benar-benar tidak mau mencium masakan yang aku buat. Itu sama sekali tidak enak.
"Baek, ini masakan mu enak loh.. kenapa kau menutup hidung mu?" Aku menggeleng untuk menjawab pertanyaan Chanyeol.
Heechan mengambil sesendok masakan ku dan mengecapnya pelan. "Nunaa.. ini sangat lezat. Bagaimana nuna bilang ini tidak enak?"
Semakin lama aku semakin merasakan mual pada perutku. Ini sungguh tidak nyaman. Aku langsung berlari ke kamar mandi didekat dapur dan memuntahkan semua isi perut ku di wastafel. Namun tidak ada yang keluar dari mulutku, hanya air liur yang menetes. Tapi semua ini membuat semua badanku terasa lemas. Jika saja Chanyeol tidak menopang ku, mungkin saja aku jatuh di wastafel.
"Astaga Baek.." Chanyeol dengan sogap menggendong ku dan membawa ku ke kamar. Chanyeol menidurkan dengan pelan badan ku dan menyelimutinya. Kulihat sekilas Heechan terdiam lesu dinujung kasur sambil melihat ku.
"Apa badan mu terasa buruk?" Aku hanya mengangguk pelan. Sungguh aku tidak kuat mengeluarkan suara ku. "Akan kubuat kan bubur kalau begitu." Tapi sebelum Chanyeol pergi, aku mencegah lengannya, dan Chanyeol berbalik untuk menghadap ku lagi.
"Apa yang kau butuhkan sayang?" Aku hanya menggeleng dan mencoba mengumpulkan energi untuk berbicara.
"Antarkan Heechan dulu. Dia akan telat nanti." Chanyeol menatap Heechan yang berdiri diam di ujung kasur lalu dia menatap ku lagi.
"Tapi Baek-"
"Aku tidak apa-apa Chan. Antarkan Heechan dulu."
"Baiklah." Chanyeol mengangguk dan menuntun Heechan keluar dari kamar. Setelah itu aku hanya bisa terlelap karena memang aku tidak ada energi lagi.
Aku terbangun saat Chanyeol mencoba membangunkan ku untuk memakan bubur buatannya. Aku mencoba bangun meskipun aku memaksakan diriku. Chanyeol dengan telaten menyuapi ku. Padahal aku ingin berhenti makan setelah dua sendok.
"Apa kita harus ke dokter?" Aku menggeleng saat aku selesai menghabiskan buburnya. Chanyeol membantu ku untuk kembali berbaring, menyelimuti badanku dan mengecup kening ku.
"Tidak apa-apa Chan. Mungkin aku hanya masuk angin." Chanyeol terlihat sangat khawatir saat duduk di sebelah ku. Tangannya masih setia menggenggam tanganku.
"Kau tidak bekerja? Kasihan Jongdae oppa sendirian, Jongin kan masih ijin sakit." Dia mengangguk lalu mengecup tanganku.
"Aku akan pergi, istirahat lah. Aku yang akan menjemput Heechan nanti dan biarkan dia di restoran saja."
"Bawa Heechan pulang saja Chan, nanti jika dia disana, dia akan mengganggu mu. Lagipula aku juga butuh teman nanti."
"Baiklah. Istirahat, jangan memaksakan untuk bergerak." Aku hanya mengagguk lali Chanyeol mencium kening dan bibir ku. Setelah itu dia keluar dari kamar dan aku kembali terlelap.
Tapi kenyataannya aku tidak bisa tidur. Aku sangat heran apa yang terjadi dengan badan ku. Baru kali ini aku merasakan mual seperti ini. Apa aku benar hamil? Apa aku harus mengetesnya? Aku melewatkan haid ku bulan ini, ini sudah lewat hampir dua minggu.
Tapi aku terlalu lelah untuk berpikir sekarang, lebih baik aku tidur..
Aku terbangun lagi saat Heechan dan Chanyeol masuk ke kamar ku. Heechan berjalan dengan cepat mendekati ku dan memegang tanganku. "Apa nuna sudah baikkan?" Heechan menatap ku dengan wajah sedihnya
Aku tersenyum mengangguk dan mencoba bangun untuk duduk. Chanyeol masih membantu ku dan dia duduk di sebelahku.
"Chan kembali lah. Kasihan Jongdae oppa."
"Apa kau benar sudah baikkan?"Aku menjawabnya dengan anggukan. Setidak nya tidur selama itu tadi aku sudah cukup mengumpulkan energi ku lagi. Meskipun tidak untuk rasa mual di perut ku.
"Baiklah." Lalu Chanyeol memegang pipi Heechan. Heechan menatap Chanyeol dengan serius. "Jaga nuna ya, hyung pergi kerja dulu. Jangan nakal dan membuat nuna kesusahan."
"Heechan mengerti."
"Bagus.." Chanyeol tersenyum dan mengusak rambut Heechan. "Aku pergi Baek." Chanyeol mencium pipi ku lalu berlalu keluar dari kamar.
Aku menatap Heechan yang masih setia berdiri di sebelah tempat tidur. "Apa kau lapar?"
Heechan mengangguk pelan. "Tapi kan nuna masih sakit."
"Meskipun nuna sakit, kalau Heechan lapar nuna mau gimana lagi? Tidak mungkin kan kalau nuna tidak memasak?"
Aku turun dari tempat duduk ku dan berjalan keluar kamar. Aku membuka kulkas untuk melihat persedian bahan, tapi tidak ada apa-apa yang bisa kumasak.
"Heechan, kita harus ke supermarket dulu? Masih bisa menahan lapar mu?" Heechan mengangguk dan mengikuti ku untuk pergi keluar apartemen.
Aku memberi Heechan biskuit untuk mengganjal rasa lapar nya. Kami berjalan menuju supermarket yang tidak jauh dari apartemen Chanyeol. Kami berjalan sangat pelan karena memang aku masih merasa mual di perut ku.
Setelah berbelanja aku mampir ke apotek di sebelah apartemen. Heechan sempat bertanya tapi aku menjawab jika aku ingin membeli obat untuk pusing ku. Tapi sebenarnya aku ingin membeli testpack untuk masalah kekhawatiran ku. Bisa jadi jika rasa mualku ini karena aku hamil.
Sesampainya di apartemen aku langsung memasakkan Heechan makanan. Aku juga mengirimi pesan untuk Chanyeol, menyuruh dia untuk makan malam di rumah saja. Awalnya Chanyeol menolak karena pikirnya aku masih sakit, tapi aku menuntutnya untuk tetap makan di rumah.
Hari sudah sore dan aku berniat untuk mandi sebelum memasak karena sebentar lagi Chanyeol pasti pulang. Heechan masih tertidur pulas setelah makan siang tadi. Setelah mandi aku teringat testpack yang aku beli tadi. Aku memberanikan diri untuk mencoba nya.
Ada dua garis merah yang muncul disana. Apa artinya aku ham-
Astaga!
Benarkah ini??
Aku hamil?
Aku hamil anaknya Chanyeol?
Ya tuhan. Akhirnya keinginan Chanyeol terwujud. Aku bisa mewujudkan keinginan Chanyeol. Astaga..
Aku menangis bahagia sekarang. Di dalam perut ku, di dalam rahim ku ada jabang bayi yang hidup disana. Calon anak ku. Calon anak nya Chanyeol. Calon anak kami. Pasti Chanyeol akan bahagia mendengar kabar ini. Aku harus memasakkan makanan yang enak. Ini sungguh kabar bahagia!
Ting ding dong~
Aku menoleh saat mendengar bel apartemen berbunyi. Aku langsung saja berlari keluar dari kamar untuk membuka pintu. Tak lupa mengahapus air mata kebahagiaan ku untuk sebentar. Namun aku menemukan seorang wanita paruh baya yang berdiri di depan pintu sambil melipat kedua tangannya. "Maaf, mencari siapa?"
"Aku ibunya Chanyeol." Wanita itu sangat angkuh, namun aku masih mencoba tersenyum dan menyuruhnya masuk. Baru kali ini aku mengenal ibunya Chanyeol. Ibunya Chanyeol duduk di sofa ruang tamu dan aku berlari ke dapur untuk membuatkan teh untuk nya.
"Hmm, Chanyeol masih di restoran, apa perlu aku-" Aku meletakkan teh yang aku buat di hadapannya dan duduk di seberang meja ini.
"Aku tidak ada keperluan dengan Chanyeol, tapi dengan kau." Ibunya Chanyeol menatap ku dengan tajam. Aku hanya bisa terdiam saat ini.
"Berani-berani nya kau tinggal di apartemen anakku. Kau siapa,huh?!"
"Aku-"
"Kau hanya jalang, bodoh! Kau seharusnya tidak pantas mendapatkan anakku. Apakah seorang jalang pantas satu rumah dengan anakku?! Apa kejadian dahulu tidak membuatmu sadar bahwa posisi mu tidak ada gunanya?!" Ibunya Chanyeol mendecih pelan saat melihatku.
Ada rasa sakit yang kurasakan sekarang. Ibunya Chanyeol saja memanggilku jalang, apakah aku seburuk itu?
"Kau sama sekali tidak pantas jika di sandingkan dengan anakku. Sudah berulangkali suami ku memperingatkan mu, tapi tetap saja tidak mempan. Sampai aku harus bertemu wanita menjijikan seperti dirimu."
Aku ingin menangis sekarang, perasaan ku sangat nyeri saat ini. Tapi apa yang dikatakan ibunya Chanyeol benar. Aku hanyalah jalang tidak tahu diri.
"Seharusnya kau melepas genggaman mu. Apa tidak cukup kau kehilangan orangtuamu saja? Apa aku harus bertindak lebih. Hanya melepas Chanyeol dan menghilang dari kehidupan Chanyeol, apa itu sangat susah?!"
Aku menunduk dan terdiam.
"Seharusnya kau ikut mati dengan kedua orang tua mu. Bukan hidup tapi merepotkan anakku." Setelah itu ibunya Chanyeol berdiri dan pergi dari apartemen.
Langsung saja aku menangis dalam diam. Aku menumpahkan semua rasa yang aku rasakan sekarang. Inilah yang selalu aku takutkan, bahwa hidup bersama Chanyeol memang suatu kesalahan.
Berapa kali pun Chanyeol mengatakan bahwa dia mencintai ku, orang lain pasti akan menghujat ku bahwa aku telah memonopoli nya. Berjuta-juta kali Chanyeol meyakinkan ku bahwa dia benar-benar mencintai ku, aku akan tetap ragu jika aku pantas dengannya.
Meskipun dengan jalan menikah pun, hingga Chanyeop mengikat ku, aku tetap tidak akan pantas untuk di cintai. Hahaha, di cintai? Hidup saja tidak ada yang menginginkan.
Aku langsung berlari ke lantai dua. Aku berjalan menuju kamar Heechan. Kuambil koper besar milik Heechan, dan memasukkan semua barang-barang nya tak tertinggal satu pun.
Heechan sempat bertanya, kenapa aku melakukan semua ini. Tapi aku dengan berat hati harus menjawab, jika kita harus pergi. Awalnya Heechan menolak, tapi aku meyakinkan dia bahwa kita harus pergi.
Setelah menaruh koper Heechan di ruang tengah, aku berjalan menuju kamar ku dan Chanyeol. Aku mengambil koper ku dan memasukkan semua barangku. Beruntung barang yang aku simpan di apartemen ini hanya sedikit. Jadi aku tidak terlalu susah membawa semua itu. Semua sudah ku masukkan, dan aku mengambil ponsel ku, untuk menelpon Luhan.
"Lu, bisakah kau menolong ku?"
TBC
HELLOOOWWWW
Ada yang kangen sama cerita ini??
Ada yang makin penasaran abis baca kata TBC???
Ada yang udah puas lihat ChanBaek naena???
Ada yang udah puas lihat Baek hamil???
Ada yang greget sama ibunya Chanyeol??
Ada yang lebih greget pas Baekhyun pergi???
Ah iya, anggap aja percakapan preview kemarin adalah percakapn antara Baekhyun sama Heechan pas masih di apartemen.
Kkkkkk...
Sumpah, aku tuh awalnya bingung mau nambah konflik apa. Awalnya tuh mau ada pihak ketiga, tapi ga deng, cukup Baekhyun di maki sama ibu nya Chanyeol itu udah bikin baper..
Semoga suka chap ini ya..
Udah sampe 4k lohhh, word nya..
Jangan terlalu baper, karena kedepannya bakal ada yang lebih mengejutkann..
Stay vangkee yaa~
Jangan lupa revieww..
Regards, Ken.
