BECAUSE OF YOU

(Karena kamu aku melakukan semua ini.)

Cast : - Park Chanyeol

- Byun Baekhyun

- Byun Heechan

Support : - Temukan sendiri

.

Author : KennyPark

.

Summary:

"Semua kulakukan karena aku ingin membahagiakan mu. Ya, karena kau aku melakukan semua ini."- Park Chanyeol

.

Genre :

Romance, Hurt, School life

.

GS

.

M

.

Recommended Song :

Chanyeol - Don't Go Today

.

CHAPTER 13 Bagaimana aku menemukanmu.

Aku pulang sedikit agak terlambat hari ini. Setelah mengantarkan Heechan untuk pulang ke apartemen, aku harus kembali lagi ke restoran. Baekhyun sempat mengirimi aku pesan untuk makan malam di rumah. Langsung saja aku masuk ke apartemen dan menghampiri dapur, yang mungkin sekarang calon istriku sedang memasak. Meskipun aku memarahinya karena dia masih sakit namun dia menolak. Tapi dapur kosong, hanya ada beberapa makanan yang sudah tersaji rapi di meja makan. Ah, mungkin mereka sedang bersiap-siap.

Aku langsung naik ke lantai dua. Aku melangkahkan kakiku menuju kamar Heechan. Karena biasanya jika Baekhyun sudah selesai memasak dia akan membantu Heechan mandi sore. Tapi saat aku masuk kamar Heechan, kamar itu sepi. Tidak ada orang. Atau mungkin Heechan sedang menunggu Baekhyun mandi di kamar ku?

Dengan sangat tidak sabar, aku melangkahkan kaki ke kamar ku dan membuka pintu kayu ini. Tapi tetap saja tidak ada siapa pun di kamarku. Aku berjalan menuju kamar mandi, mungkin saja mereka berdua mandi bersama. Namun, kamar mandi kosong. Apa mereka sedang keluar? Aku mengedarkan pandanganku dan aku menangkap sebuah kertas tergeletak di atas tempat tidur. Aku langsung mengambil kertas itu dan membaca isinya.

Untuk Park Idiot Chanyeol.

Seseorang yang selalu aku cintai.

Hei.. apa kau sudah menerima surat ini? Maaf jika saat kau menerima surat ini, aku sudah tidak ada disampingmu. Aku pergi Chan, aku harus pergi. Dan jangan khawatirkan aku ataupun Heechan. Kami akan baik-baik saja, sama seperti saat kau pergi meninggalkanku dulu. Aku dapat menjaga diriku dan aku dapat memenuhi kebutuhanku serta Heechan.

Jangan pernah mencari kami di rumah. Rumah ayah dan ibu sudah aku jual. Kami akan pergi dari kehidupanmu dan berusaha tidak muncul sedikitpun dari pandanganmu. Aku sudah mengosongkan semua barang milikku dan Heechan di apartemenmu. Jangan takut, aku tidak akan seceroboh itu untuk membuatmu susah berpaling dariku.

Aku tahu, pasti akan berbeda rasanya saat kau tidak ada di sisiku lagi. Inilah yang aku takutkan dari dulu. Aku takut jika aku selalu tergantung padamu. Aku takut jika aku tidak bisa melepasmu. Padahal aku harus bisa hidup tanpamu. Jangan khawatir, aku akan mencoba untuk tidak membutuhkanmu lagi.

Apa yang dikatakan Nyonya Park benar. Aku beban untukmu. Aku hanyalah wanita murahan yang harus tidur denganmu dulu untuk mendapat sebuah kebahagiaan. Dia benar, bahwa aku seorang jalang. Kau memang kebahagiaanku, tapi aku bukan kebahagiaanmu. Aku sadar bahwa aku tidak pantas untuk menjadi kebahagiaan seorang Park Chanyeol. Kau pantas mendapat wanita yang lebih baik dari aku.

Aku minta maaf. Aku mengkhianati kata-kataku sendiri untuk tidak meninggalkanmu. Maaf untuk tidak dapat membantumu menepati semua janjimu. Kau sekarang tidak perlu melakukan semua itu. Karena aku tidak akan membutuhkannya lagi.

Aku pergi dengan sangat terpaksa. Awalnya aku ingin egois. Aku ingin hidup bersama denganmu. Tapi aku tidak bisa. Aku bukan orang yang tepat untukmu. Berbahagialah, kau pantas bahagia. Cukup kau berkorban banyak untukku.

Tapi bolehkah aku egois untuk satu hal? Dimana pun aku berada, sejauh mana pun aku pergi. Aku selalu mencintaimu Chan. Hanya perasaan ini yang tidak dapat aku lenyapkan dari hatiku.

Percayalah, aku tidak sendirian. Masih ada Heechan dan akan ada seseorang yang nanti datang menggantikan mu. Dia yang akan membuatku melepas rindu ku padamu.

Sekali lagi aku minta maaf. Aku pergi.

-Baekhyun-

Aku menangis. Ada sebagian jiwa ku menghilang lagi. Aku merasakannya. Ada suatu tempat di hati ku yang paling dalam terasa sakit. Sungguh ini sakit. Mengapa aku harus merasakan ini lagi. Rasa sakit saat kehilangan dia. Rasa hampa saat dia tidak di sisi ku.

Aku jatuh berlutut di sebelah tempat tidur ini. Surat dengan tinta hitam tulisan tangannya berterbangan dan mendarat di sebelah lutut ku.

Aku menjerit. Aku berteriak. Sekali lagi kebahagianku di bawa pergi. Dulu, kebahagiaanku lah yang tidak ingin menerima ku. Tapi sekarang aku bahkan kehilangan dia. Bagaimana aku bisa selengah ini?

Seharusnya aku meyakinkannya lebih dan lebih, bahwa aku benar-benar mencintainya. Aku seharusnya tahu, bahwa keraguannya masih tersisa meskipun aku sudah menjawab semua keraguannya.

Dengan air mata yang masih bercucuran aku berdiri. Aku berjalan sedikit cepat ke lemariku. Namun apa yang aku harapkan lenyap. Hanya ada pakaian milikku di lemari. Aku berjalan ke sisi lain. Di meja rias, lemari panjang, dan di kamar mandi pun tidak ada satu pun benda miliknya yang tertinggal. Dia benar-benar melakukan apa yang dia tuliskan. Di kamar mandi pun, tempat pengharum ruangan miliknya pun dia bawa.

"Akh!"

Aku menginjak sesuatu saat keluar dari kamar mandi. Ada benda persegi panjang dengan ukuran sedang tergeletak di lantai kamar mandi, di bawah wastafel. Aku mengambil benda itu dan melihatnya. Ada dua garis berwarna merah tertampil disana. Aku berpikir ulang, siapa yang memakai benda ini di apa-

Astaga!

Aku langsung berlari keluar dari kamar mandi. Berjalan cepat menuju surat yang tergeletak mematung di lantai sebelah tempat tidur ku. Aku kembali membaca surat peninggalan Baekhyun. Hingga menemukan satu kalimat yang membuat hati ku semakin tertohok.

" ... akan ada seseorang yang nanti datang menggantikan mu. Dia yang akan membuatku melepas rinduku padamu."

Aku kembali menangis histeris. Bagaimana bisa dia pergi membawa jiwaku yang lain? Hanya dia saja yang pergi sudah sukses membuat hidupku tidak karuan. Dan sekarang dia membawa pergi seseorang yang sangat aku nantikan selama ini. Calon anakku.

Aku meremas testpack kehamilan ini. Hanya ada satu orang yang dapat meragukan keteguhan hatinya. Aku menghempaskan testpack dan surat yang aku pegang. Aku langsung keluar dari apartemen menuju mobilku. Aku mengemudikan cepat mobilku membelah jalanan kota. Aku masih menangis. Aku menyalahkan diriku sendiri karena tidak dapat membuat Baekhyun percaya hanya padaku.

Pintu mobil aku banting dengan keras sesampainya di tujuanku. Aku mendobrak pintu utama dan menghiraukan para pelayan yang memberi hormat padaku. Aku berjalan cepat menuju ruang tengah, seperti aku sudah mengenal bangunan ini. Dan aku menemukan orang yang membuat jiwaku pergi. Sedang duduk bersantai dengan secangkir tehnya.

"Astaga anakku. Kenapa datang tidak mengabari ibu?" Dia berdiri dengan angkuhnya, merentangkan kedua tangannya bersiap memelukku.

"Apa aku masih kau anggap seorang anak hah?! Apa kau sudah puas?!" Rautnya berubah kebingungan setelah aku berteriak. Kedua tangannya yang hendak memelukku terjatuh lunglai dengan sendirinya.

"Apa-apaan kau? Apa maksudmu nak?" Dia mengreyit pelan. Tapi aku hanya menjawab dengan dengusan sebal.

"Apakah pantas seorang ibu merebut kebahagian anaknya?! Apakah seorang ibu setega itu membuat anaknya terpisah dari orang yang di cintainya?!" Dia terlihat terkejut namun dia sangat pintar menyembunyikan senyuman iblis di bibirnya.

"Apa jalang itu sudah pergi?" Dia dengan mudah untuk berdiri tenang dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Baguslah. Aku tidak sia-sia berceramah panjang lebar." Lanjutnya.

"Apa?!" Aku memekik tidak terima. Dia menyebut seseorang yang bagiku bak malaikat dengan sebutan itu. "Jalang?!" Dia hanya mengangguk untuk membalas perkataan ku.

"Apalagi sebutan yang baik untuknya. Jalang sudah sebutan teramat baik. Mengingat apa yang dia lakukan untuk memonopolimu."

Aku mendecih, "Dia bukan jalang. Kau seharusnya tidak menilai seseorang dari penampilannya. Kau seharusnya juga menilai wanita yang kau pilih. Dia jalang, bahkan lebih sampah daripada jalang."

"Chanyeol!" Dia berteriak. Wajahnya memerah, menahan emosinya.

"Baekhyun bukan jalang. Dia wanita yang sangat aku kasihi. Dia wanita yang aku cintai. Dan dengan semua omongan yang kau lontarkan, dia pergi. Dia pergi dengan calon anakku. Anakku yang aku tunggu kehadirannya, dia membawa pergi. Apa kau tidak pernah berpikir?!" Aku semakin emosi tapi aku mencoba meredam semuanya.

"Aku yang mengerti Baekhyun. Aku yang sekarang selalu ada di sisinya. Dia tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini. Hanya aku orang yang jadi sandarannya. Hanya aku tempat untuk dia menangis, untuk tempat dia bercerita di kala dia sedih. Aku juga membutuhkannya, karena aku mencintainya. Dia orang yang tulus mencintaiku dan tidak berharap lebih padaku. Aku mencoba membuatnya bahagia, anggaplah aku membalas semua perbuatan menjijikan dari suami mu. Tapi kau-"

Aku menujuknya dengan telunjukku. "-kau seenaknya mengatakan hal hal yang menyakitinya dan sekarang dia pergi! Dia ada luar sana, sendirian, dengan anakku yang ada di kandungannya! Bagaimana bisa kau melakukan semua itu?!"

"Chanyeol.. dia hanya memanfaatkan mu. Kau pun hanya kasihan padanya. Kau tidak mencintainya tapi kau hanya kasihan padanya. Dia pasti berbohong tentang kehamilannya. Yang hamil anakmu sebenarnya adalah Seulgi!" Dia memanggilku dengan suara lembutnya.

"Aku tidak pernah meniduri Seulgi! Aku hanya mencintai Baekhyun! Seluruh jiwa ku mencintainya! Aku membutuhkannya untuk berdiri di sampingku. Aku membutuhkannya untuk melengkapi seluruh hidupku."

"Chanyeol.."

"AKU BUKAN LAGI SEORANG KETURUNAN PARK! Aku bukan lagi dari keluarga ini. Dan kau tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam kehidupanku. Sekali lagi aku melihat kau melakukan sesuatu yang membuat ku muak, bersiaplah." Aku berbalik dan berjalan pergi meninggalkan tempat menjijikan ini. Aku terlalu lelah hanya untuk emosi. Ini akan jadi terakhir kalinya aku menginjakkan kakiku disini.

.

Aku masih terduduk dengan tempat tidur sebagai sandaran. Tangan kiriku masih menggenggam surat itu dan selalu membacanya berulang kali. Aku tahu bahwa sesering apapupun aku membaca surat ini, rasa sakit itu tidak akan pernah sembuh melainkan akan semakin menyebarkan. Di tambah dengan tangan kiriku menggenggam sebuah benda yang harusnya menjadi sukacita bagiku. Tapi aku bahkan menangis histeris daripada aku bahagia melihat benda ini.

Tiga hari sudah berlalu. Aku sudah mencarinya dimana pun. Tempat-tempat yang mungkin akan menjadi tempat tinggalnya. Rumahnya sudah aku cek dan benar jika dia menjualnya. Seluruh kota aku putari tapi aku tidak menemukannya. Luhan pun tidak mengetahui keberadaannya, pengacaranya pun hanya tau jika dia menjual rumahnya, tidak dengan keberadannya sekarang.

Aku lelah. Aku pikir aku akan menemukannya lagi dengan sangat mudah. Tapi dia memegang kata-katanya untuk tidak hidup di lingkunganku. Aku sangat bodoh. Aku secara gampang untk melepaskannya begitu saja.

Ponselku selalu berdering, namun aku hiraukan. Percuma ponsel itu berdering tapi bukan darinya. Aku selalu berharap dia membaca semua pesanku, mengangkat semua panggilanku. Tapi hanya bungkam yang aku terima. Dia benar-benar menghilang.

"Apa kau kembali sayang?" Aku menatap testpack tersebut. Air mata masih terus turun dari mata ku membasahi pipi tirus ini.

"Apa aku bisa melihatnya saat dia lahir nanti?" Aku masih setia menatap tespack itu, meskipun hanya buram karena tertutup air mata ku. "Apakah ayah akan melihatmu suatu saat nanti?"

Dan aku kembali menangis untuk kesekian kalinya.

"Hah.." Aku sangat kalut. Aku sudah mencarinya di manapun. Aku sudah menghubungi polisi sekalipun, tapi dia tetap tidak di temukan.

Aku frustasi. Dia sendirian di luar sana. Tanpa ada aku berada di sampingnya. Dan dia sedang mengandung anakku. Di usia kandungannya yang rentan, aku khawatir terjadi sesuatu dengan mereka. Apalagi Heechan sedang disaat-saat nakalnya. Aku takut jika Heechan akan menyusahkan dia.

Aku kembali menangis mengingat bahwa dia sendirian di luar sana. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Mencoba meredam tangis ku meskipun aliran sungai ini tidak akan berhenti di pipiku.

Ting ding dong~

Bel apartemen berbunyi. Mau tidak mau aku harus berdiri dan menuju pintu. Setelah aku buka, aku menemukan Jongdae hyung berdiri disana. Dia tersenyum lalu aku menyuruhnya masuk. Kami berdua duduk bersama di sofa ruang tamu.

"Baekhyun wanita yang kuat Chanyeol. Dia pasti baik-baik saja di luar sana.." Jongdae hyung menepuk punggungku dan masih dengan baik menghiburku. Aku mencoba tersenyum meskipun hatiku menangis darah.

Bagaimana bisa dia akan baik-baik saja? Dia bahkan wanita terlemah yang pernah aku temui. Dia wanita yang suka manja. Tapi sekarang dia harus menjadi wanita yang kuat. Tanpa ada diriku.

"Bagaimana dia bisa bertahan hyung. Dia mengandung anakku." Sekali lagi aku menangis dan ini di hadapan Jongdae hyung. Aku benar-benar mempertaruhkan harga diriku, menangis hanya untuk seorang wanita.

"Apa yang kau katakan? Dia hamil?" Aku hanya mengangguk. Aku benar-benar tidak bisa berbicara lagi. Aku sekarang hancur. Seseorang yang membuatku hidup tidak lagi ada di sampingku. Bagaimana aku bisa bertahan?

Ting ding dong~

Kami menoleh secara bersamaan kearah pintu. Dan Jongdae hyung yang memutuskan untuk membukanya. Aku mencoba menghapus air mataku dan mengatur nafasku yang tersendat.

Kulihat kakakku datang sendirian. Setelah menatapku, dia langsung berlari dan memelukku. Entah kenapa aku kembali menangis di dalam pelukannya. Pelukan kakakku seperti pelukan seorang ibu bagiku.

"Shhh.. shhh.. sudah. Kau harus bisa berpikir jernih. Kita pasti bisa menemukannya." Aku hanya mengangguk dan masih menangis di pundaknya.

"Baekhyun wanita yang kuat, dia pasti dapat mejaga dirinya." Tangan Yoora nuna mengelus pelan punggungku. Mencoba meredakan tangisku meskipun aku tidak bisa menahannya.

Sekalipun aku mencoba tegar, mencoba merelakan semuanya. Tapi tetap saja hatiku tidak dapat menerimanya. Seakan hidupku tidak ada artinya jika dia tidak ada di sisiku lagi.

"Apa kau sudah makan?" Aku hanya menggelengkan kepalaku di pundaknya. Bagaimana aku bisa makan jika di luar sana Baekhyun harus kesusahan dulu untuk mencari sesuap nasi untuknya dan Heechan.

"Hey, bagaimana bisa kau tidak makan? Jika Baekhyun tau kau seperti ini, dia akan sedih."

"Maka dari itu, biar dia sedih dan kembali untukku nuna." Aku kembali menangis meskipun aku tahu, air mata ku sudah kering dan tidak akan mengalir lagi.

.

Enam bulan kemudian..

Seharusnya hari ini adalah hari kebahagiaanku. Hari ini adalah hari pernikahanku. Hari yang selalu aku tunggu dalam kehidupanku. Hari dimana semua janjiku akan terlaksana. Hari dimana seharusnya aku mengikat Baekhyun menjadi istriku. Hari dimana aku membuktikan semua perkataanku. Dan hari dimana seharusnya dia tidak meragukan ku lagi.

Ya. Aku menangis. Selama enam bulan ini aku selalu menangis dalam diam. Tak ada satu pun orang yang tau bagaimana kesedihanku di balik senyuman manisku. Bagaimana aku bisa merasa baik-baik saja jika pencuri hatiku entah bagaimana keadaannya sekarang.

Selama enam bulan ini aku selalu terbayang oleh halusinasi semata. Aku selalu melihat Baekhyun dimanapun aku berada. Seakan suara Baekhyun selalu menemani kemana jiwa ku pergi.

Setiap bangun tidur, aku akan mendapatkan Baekhyun tidur di sampingku dan menatapku serta senyuman manis di bibirnya. Setiap aku mengunjungi dapur aku akan mendapatkan Baekhyun berdiri di sana dengan kecerewetannya. Saat aku pulang bekerja, aku selalu mendapatkan senyuman selamat datangnya untukku.

Dan itu akan hilang dalam kedipan mata.

Siapapun tak tahu jika aku selama enam bulan ini mengkonsunsumsi semacam obat anti depresi. Karena aku tidak ingin dianggap gila karena selalu melihat bayangannya yang ada di sekitar ku.

Sama seperti pagi ini, aku terbangun dan melihatnya tersenyum kearahku. Tangannya terulur menyentuh wajahku dan aku dapat merasakan tangan halusnya yang dingin. Aku benar-benar tidak ingin berkedip sekalipun mataku terasa panas. Tapi mau tak mau aku harus berkedip dan bayangan itu hilang dalam sekejap.

Aku mengelus tempat kosong di sebelahku. Tempat kosong dimana seharusnya dia tertidur. Tempat itu sangat dingin seperti tidak ada satupun orang pernah menempatinya.

Aku kembali menghela nafas pelan, mencoba bangkit dari posisi tidurku. Aku mengambil botol pil yang selalu ada di meja nakas. Mengambil satu pil dan meminumnya dengan air putih yang sudah aku sediakan.

Setelah itu aku turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Hari ini aku berencana untuk datang ke tempat istirahat terakhir ayah dan ibu Baekhyun. Aku sudah membelikan dua bunga terindah kesukaan mereka. Bunga itu sudah terbungkus rapi dan mereka pasti menyukainya.

Aku melangkahkan kakiku di rumah duka. Berjalan santai dengan dua bunga di dekapanku. Bibirku tidak berhenti tersenyum saat ini. Dan aku berulangkali membuang nafas hanya untuk menetralkan detak jantungku.

Sekarang berdirilah aku di hadapan dua guci putih yang tertulis nama ayah dan ibu Baekhyun. Ada dua bunga crysan putih yang baru sudah tersemat amat sangat baik di balik kaca ini. Aku sedikit heran siapa yang dapat membu-

Astaga! Apa Baekhyun kesini?

Aku melihat keadaan sekitar. Tapi tidak ada siapapun disini. Aku melangkahkan kakiku memutari rumah duka berharap jika Baekhyun bersembunyi di balik dinding hanya untuk menghindariku. Namun aku tetap tidak menemukannya.

Aku berjalan lesu kembali ke tempat tujuanku kemari. Memandang potret senyum bahagia ayah dan ibu di sebelah guci mereka. Aku memandang bunga crysan putih yang kubawa dan aku menempelkan di pinggir kotak kaca milik mereka.

Aku menunduk sebentar dan kembali mendongak menatap foto ayah dan ibu. Aku menghela nafas panjang sebelum mengungkapkan apa yang di pikiran ku.

"Maafkan aku ayah, ibu, aku tidak bisa menjaga Baekhyun dengan baik. Aku pikir aku dapat menyakinkan dia untuk selalu percaya padaku. Tapi aku gagal. Sekarang Baekhyun pergi entah kemana tanpa aku di sisinya."

Aku lemah jika berhadapan senyuman hangat ayah dan ibu. Aku kembali menangis di hadapan mereka. Melupakan bahwa aku seorang laki-laki yang seharusnya kuat menghadapi apapun.

"Aku telah ceroboh dan membiarkan semua terjadi begitu saja. Sekarang Baekhyun pergi bu.. bagaimana aku bisa membujuknya kembali tanpa bantuan kalian?"

Dengan pandangan buram aku masih menatap senyuman manis mereka.

"Apa Tuhan menghukum ku sekarang ayah? Apa Tuhan membenciku karena aku tidak bisa menjaga hadiah terindah yang kalian titipkan padaku?"

Aku memukul bagian dada kiriku, meredakan rasa sakit yang selama ini aku rasakan. Aku menunduk menangis dalam diam. Membiarkan air mata ku lolos dengan sendirinya.

"Aku sudah mencoba mencari nya dimana pun. Aku terus berdoa dan aku terus bertirakat untuk keadaan Baekhyun. Aku mencoba selalu berpikir bahwa Baekhyun adalah wanita kuat."

Aku mendongak, menatap kembali wajah ayah yang bijaksana dan wajah ibu yang lemah lembut.

"Tapi kalian tahu, aku mengenal Baekhyun yang manja padaku. Baekhyun yang selalu menuntut keinginannya padaku. Baekhyun yang cerewet dan Baekhyun yang lemah. Bagaimana aku bisa terus berpikir bahwa Baekhyun akan baik-baik saja?"

Aku mengambil jeda agar tangisanku mereda. Mencoba mengatur kembali emosiku agar aku tidak cengeng lagi.

"Padahal hari ini adalah hari pernikahan kami. Aku hampir memenuhi tugas yang ayah berikan untuk selalu menjaga Baekhyun. Apa aku melakukan kesalahan ayah? Apa aku menyakiti Baekhyun lagi?"

Tangisku kembali pecah dan itu semakin histeris. Aku menangkup wajahku dengan kedua tangan. Mencoba meredam emosiku yang tidak pernah dapat aku kontrol selama enam bulan ini.

"Dimana lagi aku harus mencarinya?"

.

"Kau datang?" Aku masuk ke restoranku dan di sambut Jongdae hyung dan Jongin. Aku membalas perkataan mereka dengan tersenyum dan melangkahkan kakiku menuju ruangan pribadiku.

Ada beberapa administrasi restoran yang harus aku selesaikan. Aku duduk di balik meja kerjaku. Menyalakan komputer dan mengambil beberapa berkas yang sudah siap di meja.

Tok tok tok

Pintu terbuka sesaat setelah aku mengijinkan masuk. Jongdae hyung yang datang dan ada berkas di tangannya. Aku mengalihkan pandanganku dari berkas dan melihat jongdae hyung duduk di kursi di depan mejaku.

"Ada apa hyung?"

"Hari ini Tuan Lee datang dan memberi kabar buruk. Pasokan seafood dari Incheon mengalami masalah. Karena ada badai besar selama lima hari terakhir di wilayah perairan sana, mereka tidak bisa mengirimi barangnya tepat waktu untuk kedepannya. Ya, setidaknya sampai badai reda."

Aku menghela nafas pelan, mencoba memijit bagian pangkal hidung untuk meredakan pusing yang melanda kepalaku.

"Apa kita harus ke Busan Yeol? Setidaknya perairan bagian sana tidak terkena badai. Hanya untuk mengisi kekosongan sampai semua kembali normal."

Aku berpikir sejenak, memikirkan kembali resiko-resiko dan tanggungan jika restoran ini harus memasok dari daerah Busan. Karena semua ini harus dipikirkan matang-matang.

"Kita pergi besok hyung. Kita akan mencari pemasok dari Busan. Setidaknya pengiriman dari sana membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya. Makanya kita harus cepat berangkat. Semoga stok ini cukup untuk seminggu kedepan."

Jongdae hyung mengangguk dan menatapku sedang menumpu kepala yang sedikit terasa pening.

"Apa kau sakit?" Aku menatap Jongdae hyung sebentar tapi kembali pada posisi ku semula.

"Tidak. Hanya terasa pusing saja." Aku menjawabnya dengan gelengan dan kembali menegakkan badanku. Mencoba berfokus pada berkas-berkas administrasi yang harus segera diselesaikan.

"Kalau begitu biar aku dan Jongin yang ke Busan. Kau istirahatlah. Wajahmu sangat pucat."

Aku tekekeh kecil dan meletakkan kembali berkas yang sebelumnya aku pegang. "Tidak hyung, aku juga harus ikut. Agar aku tahu kualitas yang baik untuk peminat restoranku."

"Tapi Yeol-"

"Aku baik-baik saja. Memang wajah ku seperti ini selama enam bulan terakhir."

"Baiklah. Besok lusa kita membawa mobil saja." Aku mengangguk mantap dengan usulan Jongdae hyung.

Jongdae hyung menatap ku diam dan setelah itu menghembuskan nafasnya. "Apa polisi belum memberi kabar?"

Aku menggeleng dengan cepat, "Aku pikir, aku menyerah dengan semua ini. Dia benar-benar tidak ingin di temukan."

Jongdae hyung hanya menepuk pelan bahu ku dan pergi meninggalkan ruangan.

.

Kami memutuskan untuk ke Busan dengan mobil pribadiku. Jongdae hyung dan Jongin yang akan bergantian mengemudi mobil. Mereka melarangku untuk mengemudi karena wajahku yang bagi mereka terlalu pucat.

Kami berangkat pagi-pagi buta dan sampai di Busan pada siang hari. Langsung saja kami memasuki pasar yang cukup terkenal di sana. Mencari beberapa pemasok yang dapat mengirimkan pesanan kami dengan baik dan cepat.

Aku, Jongdae hyung dan Jongin sedang berada di salah satu toko cumi. Bernego tentang pesanan kami untuk dikirim ke Seoul. Aku sedang memeriksa cumi yang mereka tawarkan, hingga aku mendengar suara anak kecil yang aku rindukan.

"Nuna.. nuna.. kita beli kepiting ya? Aku mau pasta crabbie."

Suara anak kecil yang sangat aku kenali. Seketika aku menoleh dan mencari suara itu. Mata bulat ku langsung mencari ke penjuru pasar ini mencari dimana anak itu.

"Nuna.. kepiting yang besar itu."

Suara itu kembali terdengar. Dan aku sangat berharap ini bukan halusinasiku.

Aku menggerakkan kakiku membelah kerumunan manusia yang sedang lalu lalang di sekitarku. Mencoba mencari sumber suara yang tidak pernah aku dengar selama enam bulan ini.

"Waahh.. kepiting yang besar."

Aku mencari keberadaannya. Tapi tidak ada toko kepiting di sekitarku. Aku memanjangkan leher ku, mencoba melihat sekitar dan menadapatkan seorang wanita yang membelakangiku. Memakai dress selututnya yang pernah aku belikan dulu, aku masih mengingatnya. Rambut panjangnya melebihi bahu sedikit, di kuncir setengah. Tangan kanannya memegang belanjaan dan tangan kirinya menggandeng seorang anak laki-laki kecil.

Postur badan yang ia miliki sangat aku kenali meskipun dari belakang terlihat sedikit gemuk.

Aku mencoba menyerobot dari kerumpunan manusia yang penuh sesak. Aku masih melihatnya. Dan aku masih mencoba menerobos orang banyak ini. Hingga kaki ku keluar dari pasar, aku kehilangan dia.

Apakah ini hanya halusinasiku? Apa dia tidak nyata? Ayolahh.. aku bahkan berkedip berulang kali tadi. Dan dia tidak hilang seperti biasanya. Aku masih dapat melihat sosok itu.

"Chanyeol!"

Aku menoleh saat suara Jongdae hyung memanggilku. Kulihat Jongdae hyung dan Jongin berjalan mendekatiku. Jongdae hyung terlihat khawatir saat mendatangiku.

"Kenapa kau pergi? Kau mencari siapa?"

Aku hanya menggeleng dan mencoba menyembunyikan kejadian ini. "Aku pikir aku melihat temanku."

"Aku pikir kau menemukan dia."Jongdae hyung dan Jongin bernafas lega setelah itu.

Aku hanya tersenyum kecut. "Dia tidak mudah di temukan hyung."

"Baiklah, ayo kembali." Jongdae hyung menepuk punggungku dan aku mengangguk mengikuti mereka kembali masuk ke dalam pasar.

Setelah kami menemukan toko yang mau mengirim pesanan kami ke Seoul, kami mencari makan siang setelah itu. Hanya rumah makan kecil tidak jauh dari pasar yang kami datangi tadi.

"Untunglah kita bertindak cepat dan mendapatkan pemasok untuk seminggu kedepan. Aku tidak yakin jika kita bakal kehabisan stok seafood."Kta Jongdae hyung sambil memainkan sumpitnya.

Aku hanya tertawa kecil dan mengacungkan jempol ku."Kau selalu mencari yang terbaik untuk restoran ku hyung."

"Tidak apa-apa. Kau sudah ku anggap adikku sendiri." Aku menggeleng dan menatap sinis pada Jongdae hyung.

"Kenapa?" Jngdae hyung mengreyit melihatku.

"Aku tidak mau jadi kembarannya si hitam." Seketika tawaku dan Jongdae hyung pecah meskipun Jongin hanya menatap kami tidak percaya.

"Kenapa selalu aku? Padahal Kyungsoo menyukai kulit eksotisku." Kata Jongin dengan cemberut.

"Tidak apa-apa. Bagi bibi kau selalu tampan." Bibi pemilik rumah makan ini datang membawakan pesanan kami. Aku dan Jongdae menatap tidak percaya pada bibi itu dan Jongin mengejek kami.

"Terimakasih bibi. Semoga makanan mu enak dan aku dapat menambah porsiku." Bibi pemilik rumah makan ini tertawa dan menyuruh kami makan dengan lahap.

"Ibu.. ibu.. aku membeli kue ini. Apa Baekhyun nuna sudah pulang?"

Deg!

Seorang remaja laki-laki yang baru saja memasuki rumah makan ini berteriak pada bibi itu yang ternyata adalah ibunya. Di tangannya ada sebuah kotak kardus yang mungkin isinya adalah kue yang dia bicarakan. Namun dia baru saja menyebutkan orang yang aku cari.

Baekhyun-ku..

Seketika aku berhenti makan dan tanganku otomatis tidak mampu bergerak. Tangan dan kakiku menegang seperti kesemutan. Aku sempat berpikir bahwa nama itu mungkin terucap karena halusinasiku. Aku juga sempat berfikir jika nama itu sangat pasaran dan banyak orang yang mempunyai nama itu.

"Baekhyun sudah aku suruh pulang Taehyung, perutnya semakin membesar dan aku sangat khawatir. Coba lihat di rumahnya. Jam segini pasti dia sudah pulang setelah menjemput Heechan."

Hamil?

Heechan?

Brak!

Aku langsung berdiri dan menghampiri bibi pemilik rumah makan ini dan remaja tadi yang sedang berdiri di balik etalase makanan. Wajah mereka terlihat terkejut saat aku tiba-tiba berdiri dan menghampiri mereka.

"M-m-maaf, B-baek-baekhyun yang kalian bicarakan apa orang baru disini?" Aku terbata saat menanyakan perihal orang yang sangat aku cari. Orang yang ku cintai.

"Benar nak mungkin sekitar lima bulan. Ada apa ya?" Bibi dan remaja itu lalu keheranan saat aku bertanya tentang orang baru saja mereka bicarakan.

Aku langsung mengeluarkan ponselku dan mencari foto Baekhyun serta Heechan.

"Apa wanita ini yang kalian maksud?" Aku menunjukkan foto itu ke mereka.

"Benar. Ini Baekhyun dan Heechan. Bagaiman kau bisa-"

"Ya Tuhan!! Akhirnya.. akhirnya aku menemukan Baekhyun!" Aku langsung memegang tangan bibi itu dan menempelkan pada dahi ku.

"Nak, jangan bilang kau calon-"

"Benar bi, aku calon suaminya Baekhyun!" Bibi itu terlihat terkejut serta remaja tadi juga melihatku tidak percaya.

"Astaga nak, cepat susul Baekhyun. Rumahnya ada di seberang rumah makan ini. Rumah cat biru. Aku tidak menyangka kau bisa menemukannya." Aku menoleh ke seberang bangunan ini. Rumah biru yang mereka tunjuk terlihat dari dalam bangunan ini. Setelah mengucapkan terima kasih, aku langsung berlari keluar dari bangunan ini.

Berlari seolah di kejar hantu untuk sampai di bangunan seberang. Aku bahkan hampir ditabrak mobil yang sedang melintasi jalanan ini saat menyebrang. Di pikiranku hanya secepat mungkin cara agar aku bisa melihat Baekhyun. Seseorang yang kucintai, seseorang yang telah menghilang daei kehidupanku enam bulan ini.

Hingga aku sudah berdiri rumah tanpa halaman ini dan langsung saja aku menekan bel rumah. Mengetok pintu rumah ini berkali-kali. Memanggil Baekhyun dan Heechan dengan penuh harap.

Tapi tidak ada sahutan dari dalam. Tidak ada suara halusnya yang menjawab panggilanku. Berkali-kali aku mengetok pintu ini tetapi tidak ada jawaban yang berbunyi dari dalam rumah ini. Pintu sama sekali tidak terbuka untukku. Tidak ada sambutan hangat dari Baekhyun ataupun Heechan.

Hingga aku menyerah dan jatuh terduduk di lantai yang dingin. Menyenderkan diriku dan menangis dalam diam. Sesekali aku membenturkan kepalaku ke pintu yang ada di belakangku. Mulutku bersumpah serapah pada diriku sendiri karena Baekhyun tidak mau membukakan pintu ini.

Aku memeluk lututku dan menangis disana. Keadaanku kembali hancur,kacau dan tidak karuan. Belahan jiwaku menolak untuk membukakan pintu untukku. Dia tidak ingin menemuiku lagi. Dia tidak ingin menyapaku lagi. Apa hidupku berakhir seperti ini?

"Chanyeol?" Aku mendengar suaranya.

Aku mohon semoga ini bukan halusinasiku lagi.

Aku mendongak dan menemukan seseorang berdiri di hadapanku. Seorang wanita dengan perut buncitnya. Memakai dress peach yang sangat aku kenali. Rambut sebahunya di kuncir setengah. Di tangan kanannya ada beberapa belanjaan dan di tangan kirinya sedang menggandeng seorang anak kecil.

Seseorang yang aku rindukan selama ini, seseorang yang aku cari keberadaannya. Seseorang sangat aku cintai, seseorang yang aku pertaruhkan hidup dan matinya dengan segala jiwa ragaku.

Dia berdiri dengan anggun di hadapanku. Tidak ada yang berubah. Hanya saja perutnya yang semakin membesar dan tumbuhnya tidak seramping dulu. Dia tetap cantik dan tetap menjadi Baekhyun-ku.

"Chanyeol, kenapa kau menangis?" Aku langsung berdiri. Mencoba berjalan mendekati sosok yang ada di hadapan ku saat ini.

Tanganku dengan pelan terulur untuk menyentuh pipinya. Meyakinkan diriku jika semua ini bukan halusinasiku. Aku mencoba berkedip berkali-kali dan sosok ini tidak hilang dari pandanganku. Dia masih tersenyum manis dan menatapku dengan dalam. Jika memang ini hanyalah mimpi, aku berharap semoga aku tidak terbangun dan melewatkan semua ini.

"A-apa k-kau nyata?" Aku tergagap saat melontarkan pertanyaan yang selalu ingin aku tanyakan saat aku mengalami halusinasi ini. Pipinya telah aku sentuh dan dia tidak menghilang seperti biasanya.

"Aku nyata Chan. Aku Baekhyun."

Dia menjawab dengan mantap dan terus tersenyum padaku. Kembali air mataku menetes mengantarkan sejuta rasa rinduku. Aku langsung memeluknya dan menangis di bahunya.

Tuhan, aku menemukannya..

Ayah, ibu, aku menemukannya..

Baekhyun-ku..

TBC

Akhirnya terlewati sudah masa-masa baper ane saat nulis ini chapter..

Jujur, berkali-kali pas nulis dan dengerin lagu nya, gue mewek gaess..

Dan yang udah nangis sambil salto-salto setelah baca ini chapter, unjuk tangan oyy..

Berarti perasaan kalian terlalu lama jomblo seperti gue, hahahaha..

Pengumuman juga, chapter depan bakal end! Yaasss!! Akhirnya gue udah ga kebeban ff yang baper nya tingkat dewa kayak gini! Wkwkwk..

Sumpah, nulis ini chapter butuh perjuangan gaes. Bahkan aku nulisnya duluan sebelum chapter kemarin. Pas nulis, mewek, berhenti nulis, terus besoknya nulis lagi, mewek lagi, terus berhenti nulis lagi. Terakhir, koreksi sama ngedit juga mewek lagi.

Maaf ya kalo ada kesalahan atau typo yang bertebaran. Gue udah ga kuat kalo disuruh baca ini lagi. Nyeessss!!

Semoga kalian suka ya..

Jangan lupa review bagaimana perasaan kalian..

Jangan lupa chapter depan end..

See you di chapter depan..

Regards, Ken.