BECAUSE OF YOU
(Karena kamu aku melakukan semua ini.)
Cast : - Park Chanyeol
- Byun Baekhyun
- Byun Heechan
Support : - Temukan sendiri
.
Author : KennyPark
.
Summary:
"Semua kulakukan karena aku ingin membahagiakan mu. Ya, karena kau aku melakukan semua ini."- Park Chanyeol
.
Genre :
Romance, Hurt, School life
.
GS
.
M
.
Recommended Song :
Soyou - I Miss You
.
CHAPTER 14 Happy Ending.
Meskipun perutnya mulai membesar, Baekhyun sama sekali tidak ingin mengecewakan orang yang dia miliki sekarang. Membawa beban berat di perutnya, menenteng beberapa belanjaan di tangan kanannya dan masih harus menggandeng Heechan untuk dijaganya.
Orang lain yang melihat pun pasti akan ikut merasa simpati dengan keadaan Baekhyun. Menjadi calon ibu yang single parent dan harus mengurus adikknya yang masih kecil memang merepotkan. Bahkan Baekhyun harus bekerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Awalnya Baekhyun berpikir untuk menabung uang hasil penjualan rumah peninggalan kedua orang tuanya untuk pendidikan Heechan. Makan mereka sehari-hari masih bisa bergantung pada asuransi. Tapi setelah tau jika rumah lama mereka dibeli kembali oleh Chanyeol, Baekhyun memutuskan untuk bekerja. Dia akan mengembalikan uang itu pada Chanyeol.
Di trimester pertama, Baekhyun mencoba mendaftar menjadi pelayan di rumah makan kecil di seberang rumah barunya dan mencoba beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Beruntung Bibi Ahn sangat baik menerima Baekhyun.
Baekhyun mencoba tidak terlalu lelah untuk bekerja. Dia juga menjaga asupan gizi untuk janinnya dan selalu menjaga dirinya sendiri. Setiap hari ia makan makanan sehat dan tidak lupa meminum susu untuk ibu hamil.
Tapi sang jabang bayi pun mengerti situasinya sekarang. Bahwa ibunya sedang berjuang sendiri. Dia tidak pernah rewel dan membuat Baekhyun selalu mengalami morning sickness yang melelahkan. Mual dan muntah memang hal yang biasa, namun tidak sampai membuat Baekhyun hampir pingsan.
Heechan pun sama. Dia mencoba mengerti bahwa di dalam perut nunna nya ada seorang adik bayi yang nanti akan lahir dan menemani nya bermain. Dengan patuh dia selalu menuruti apa kata Baekhyun dan mencoba untuk memahami kondisinya sekarang.
Baekhyun kadang kasihan dengan adiknya. Dia kembali merasakan hal sulit seperti dulu lagi. Meskipun berusaha sebaik apapun, Baekhyun hanya dapat menemani saat hari mai petang setelah pulang dari rumah makan.
Sekarang Baekhyun mencoba membalas semua hal yang harus di rela kan Heechan. Baekhyun menuruti apa yang Heechan inginkan. Bibi Ahn tau permasalahan Baekhyun dan dengan masa kehamilan Baekhyun yang mulai masuk usia enam bulan, Bibi Ahn melarang keras Baekhyun untuk memfosir pekerjaannya. Baekhyun boleh mengambil cuti sampai masa melahirkannya dan boleh kembali bekerja di sini jika itu masih diperlukan.
Hari ini, setelah Baekhyun memasakkan makanan untuk Bibi Ahn dan Taehyung, dia mengajak Heechan ke pasar seafood setelah pulang sekolah. Heechan meminta berbagai macam makanan dan Baekhyun mengiyakan.
Mereka berjalan pelan untuk sampai ke rumah. Heechan dengan tanggap mencoba membantu Baekhyun membawa beberapa belanjaan. Mereka berjalan dengan canda tawa dan membicarakan makanan apa yang ingin mereka masak nanti.
Hingga saat Baekhyun dan Heechan hampir sampai di rumah, Baekhyun menangkap sosok asing yang ia kenal. Berdiri di seberang jalan dengan sosok lain yang ia kenal juga. Mata mereka menuju kerumah kecil miliknya. Hingga salah satu dari mereka menangkap kehadiran Baekhyun.
Meskipun diliputi rasa penasaran, dengan hati-hati Baekhyun berjalan cepat menuju rumah kecilnya. Di teras sempit, ia menemukan sosok lain yang duduk meringkuk di depan rumahnya. Menangis histeris sambil memeluk lututnya.
Baekhyun sangat mengenali orang itu. Bahkan orang inilah yang masih dengan teguh menempati seluruh ruang hatinya. Orang inilah yang menjadi alasannya untuk tetap hidup dan mencoba bahagia meskipun di waktu lampau hanya sayatan perih yang ia dapatkan.
Ia bahkan tersenyum saat melihatnya lagi setelah sekian lama. Senyuman manisnya seperti mengutarakan sejuta kelegaan hati yang baru ia rasakan.
"Chanyeol?"
Baekhyun mencoba memanggilnya. Seketika pemilik nama itu mendongak dan menatap tidak percaya pada Baekhyun yang tersenyum manis di depannya.
"Chan, kenapa kau menangis?" Baekhyun mencoba menghibur Chanyeol. Ia tahu jika Chanyeol berpikir bahwa ia tidak berhasil menemukannya dan menangis.
Secara langsung Chanyeol berdiri dan berjalan mendekati Baekhyun. Baekhyun masih menatap wajah berantakan milik Chanyeol meskipun baginya masih tetap tampan saja.
Chanyeol dengan ragu mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Baekhyun. Baekhyun merasakan tangan besar nan kasar yang menerpa kulit pipinya. Namun dia merasa sangat nyaman dengan gerakan kecil yang di lakukan Chanyeol. Baekhyun tersenyum manis menggambarkan bahwa dia sangat menyukainya.
"A-apa k-kau nyata?" Meskipun sedikit ada rasa perih seperti cubitan menghampiri dinding hatinya, ia mencoba tersenyum dan memaklumi semuanya.
"Aku nyata Chan. Aku Baekhyun."
Baekhyun menjawabnya dengan mantap dan masih diselimuti oleh senyuman manisnya. Seketika Chanyeol kembali menangis lalu menarik Baekhyun untuk masuk dalam pelukannya. Chanyeol menangis, menangis bahagia jika dia dapat menemukan Baekhyun lagi.
"Baek, kumohon jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan aku. Aku mohon. Aku mohon." Chanyeol kembali menangis histeris di bahu Baekhyun. Tangan halus milik Baekhyun menepuk punggungnya pelan. Bibir tipisnya mengalunkan kata penenang untuk Chanyeol.
"Tidak Chan. Aku tidak akan pergi. Kau berhasil menemukanku dan itu membuatku yakin jika kau mencintaiku."
"Aku selalu mencintaimu Baek. Setiap waktu dan selamanya aku mencintaimu. Jangan ragu lagi kumohon."
Baekhyun mengangguk dan masih mencoba meredakan tangisan Chanyeol. Chanyeol melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Baekhyun di tangannya. "Aku mencintaimu Baek. Kumohon jangan pergi."
"Aku tidak akan pergi. Aku disini."
Meskipun air mata masih mengalir di pipinya, Chanyeol mencoba tersenyum. Di dalam hatinya dia mengucapkan beribu kata syukur pada Tuhan dan mengantarkan doa pada ayah dan ibu Baekhyun bahwa dia menemukan anak mereka.
"Chanyeol hyung."
Atensi mereka berdua teralihkan pada sesosok anak kecil yang menatap Chanyeol dengan sendu. Chanyeol langsung duduk berjongkok di depan anak kecil itu. Mengusak pelan rambut yang kecil dan tersenyum kearahnya.
"Merindukan hyung?" Seketika Heechan langsung menerjang Chanyeol. Memeluknya dan menangis dalam dekapan Chanyeol. Sedangkan Chanyeol membalasnya dengan mengecupi pucuk kepala Heechan degan gemas. Baekhyun yang melihat ini mengangkat bibirnya untuk tersenyum melihat tingkah mereka.
.
Chanyeol memutuskan untuk tetap tinggal di Busan, sedangkan Jongdae dan Jongin harus kembali ke Seoul karena restoran akan buka pada esok harinya. Mereka tidak bisa meninggalkan begitu saja tugas mereka. Dan untuk urusan Chanyeol, mereka ikut bahagia. Akhirnya mereka dapat melihat senyuman Chanyeol lagi.
Seperti sekarang, setelah mereka makan siang dan Heechan sudah terlelap dalam mimpinya, Chanyeol dan Baekhyun menghabiskan waktu mereka berdua di kamar Baekhyun.
"Apa dia sehat?" Baekhyun mengangguk dan masih menyamankan tubuhnya dirangkulan Chanyeol. Tangan Chanyeol dengan pelan mengelus perut Baekhyun dan mencium pucuk kepala yang lebih mungil.
Tiba-tiba Chanyeol terkejut saat ia mendapati pergerakan keras yang terasa di tangan besarnya. "Dia menendang." Baekhyun menjawabnya dengan mengangguk dan tersenyum.
"Mungkin dia tahu, jika yang mengelusnya sekarang adalah ayah yang sangat dia rindukan." Chanyeol mencium kening Baekhyun lalu merosot turun memposisikan dirinya tepat di depan perut buncit Baekhyun, mencoba berbicara sambil mengelus pelan.
"Hei, sayangnya ayah. Apa kau baik-baik saja?" Satu tendangan kuat sukses membuat Chanyeol tersenyum manis.
"Kau tidak merepotkan ibu kan?" Sebuah tendangan lagi yang dia dapatkan. Chanyeol dengan pelan mengelus perut Baekhyun dan menciumnya.
"Maafkan ayah,hm?? Ayah tidak akan membiarkan ibu membawamu pergi lagi. Ayah sangat meyayangimu."
Meskipun hanya sebuah percakapan kecil, namun itu sukses membuat Baekhyun menangis dalam diam. Chanyeol yang mengetahui itu langsung kembali ke posisi semula dan merengkuh Baekhyun dalam pelukannya.
"Sudah. Jangan menangis lagi. Aku disini." Chnyeol kembali mencium pucuk kepala Baekhyun dan mengucapkan kata penenang agar Baekhyun berhenti menangis.
"Aku yang pergi tapi aku yang sangat merindukanmu Chan. Maafkan aku." Baekhyun mencoba berbicara di sela tangisannya.
"Kau tidak bersalah sayang. Sudah, berhenti menyalahkan dirimu." Chanyeol masih setia mendekap tubuh Baekhyun. Membisikan kata penenang pada si mungil untuk berhenti menangis.
"Bagaimana sekarang? Hari ulang tahun pernikahan ayah dan ibu sudah lewat. Kita menikah di hari apa?" Baekhyun mencoba untuk berhenti menangis dan menatap wajah Chanyeol.
"Menikah? Tapi bagaimana dengan ib-"
"Aku bukan seorang keluarga park lagi Baek. Aku sudah memutuskan tali keluarga itu sejak dulu. Setelah aku tahu apa yang dilakukan ayahku padamu. Kumohon.. jangan pergi dariku lagi. Cukup dua kali aku kehilanganmu." Chanyeol mengusap pipi tirus Baekhyun, menghapus bekas airmata yang tertinggal disana. Mata bulatnya tidak berhenti untuk menatap si mungil yang masih diliputi keraguan.
Tapi bagi Baekhyun, menikah dengan Chanyeol adalah hal yang tidak mungkin terjadi. Hanya dengan Chanyeol yang mencintainya itu sudah cukup untuk membuat Baekhyun bahagia. Hingga Chanyeol dapat menemukannya seperti sekarang adalah suatu kebahagiaan terbesar yang Baekhyun dapatkan.
"Chan.. boleh aku mengatakan sesuatu?" Baekhyun menatap Chanyeol tepat di manik bulat si jangkung. "Aku sudah sangat bahagia cuma dengan kau yang mencintaiku. Itu sudah cukup bagiku. Tapi jika aku menikah dengan mu, apa kata orang lain Chan? Aku hanyalah seorang wanita yang-"
"Baek.. jangan pernah memikirkan apa kata orang lain. Cukup pikirkan dirimu sendiri. Pikirkan bagaimana kebahagiaan mu. Kau perlu egois di saat tertentu dan inilah waktunya kau egois. Kau mencintaiku dan aku mencintaimu. Kau berhak memilikiku dan aku juga berhak memilikimu. Jadi kumohon.. berhentilah membuat dirimu tersakiti lagi."
Baekhyun terdiam. Mencoba memikirkan kembali hal yang tidak seharusnya dia pikirkan lagi.
"Hanya pikirkan si kecil ini, bagaimana cara kita memberikannya kebahagiaannya." Chanyeol tersenyum menatap Baekhyun meskipun tangannya mengelus pelan perut istrinya.
Baekhyun hanya bisa tersenyum saat mendengar penuturan Chanyeol. Di dalam hati nya ada angin yang berhembus membawa hawa dingin yang menyegarkan hati. Dengan senyuman manisnya dia kembali mebenamkan wajahnya pada dada bidang milik Chanyeol.
"Aku sangat mencintai mu Chanyeol."
"Aku bahkan lebih mencintaimu Baekhyun."
.
Hari yang mereka nantikan pun tiba. Satu bulan setelah hari dimana Chanyeol menemukan Baekhyun, mereka menikah. Di depan altar, Chanyeol berdiri gagah bijaksana dengan balutan jas hitam pekat. Berdiri dengan gugup menanti seseorang yang dia cintai berjalan dengan anggun menghampirinya.
Baekhyun dengan pelan berjalan menuju altar suci ditemani Bibi Ahn disampingnya. Dress putih selutut nya sukses membuat orang yang hadir di gereja ini terkagum melihatnya. Meskipun perutnya yang buncit sangat menonjol, tapi wajah cantiknya seakan menipu daya orang yang melihatnya. Bahkan buket bunga mawar putih yang dibawanya seakan hanya pajangan semata tanpa ada yang mau meliriknya.
Chanyeol bahkan tertegun melihat calon istrinya bak artis hollywood berjalan yang datang menghampirinya. Chanyeol pun terkejut saat Baekhyun sudah sampai di hadapannya, tersenyum manis padanya. Diulurkan tangan kirinya untuk membantu Baekhyun berjalan mendekat ke sisinya.
Di hadapan pastur, mereka berdua tersenyum bahagia. Mencoba menghilangkan kegugupan mereka dan terus membisikkan kata doa di dalam hati mereka.
"Park Chanyeol, apakah saudara dengan tulus ikhlas hati menerima perkawinan ini, bersedia selalu mencintai dan mengasihi istri anda dalam suka maupun duka sepanjang hidup. Menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kalian nanti?"
"Ya, saya bersedia." Dengan mantap Chanyeol menyatakan kesediannya untuk sehidup semati dengan Baekhyun.
Hingga pastur beralih pada ibu hamil yang berdiri di samping Chanyeol. Sang pastur tersenyum manis kala melihat air mata mulai menumpuk di kelopak mata mempelai wanita.
"Byun Baekhyun, apakah saudara dengan tulus hati untuk menerima kasih dalam perkawinan ini, bersedia selalu mengasihi, mencintai dan menghormati suami anda. Menjadi ibu yang yang baik bagi anak-anak kalian nanti?"
Meskipun Baekhyun ingin menangis, ia benar-benar menahan airmatanya untuk jatuh disaat seperti ini. Mencoba memantapkan hati untuk bersedia menjadi pendamping hidup seorang Park Chanyeol. Setelah menghela nafas berat, Baekhyun mengatakan kesediannya.
"Ya, saya bersedia."
Ada kelegaan hati di dalam diri Chanyeol setelah mendengar kesediaan Baekhyun menjadi istrinya. Hingga seperti sekarang, pastur menyuruhnya untuk saling berhadapan untuk mengucapkan janji suci mereka. Sebenarnya Chanyeol terkejut saat melihat mata milik Baekhyun mulai basah. Namun Chanyeol mengerti bahwa itu adalah airmata kebahagian Baekhyun.
Chanyeol meraih tangan kanan Baekhyun lalu menyematkan pada jari manis sebuah cincin putih yang indah. Baekhyun tidak bisa berkata lagi hanya airmata yang turun membasahi kedua pipinya yang menjadi jawaban atas bahagianya.
Baekhyun melakukan hal yang sama pada Chanyeol. Menyematkan cincin putih yang ukurannya sedikit lebih besar pada jari manis tangan kanan Chanyeol. Lalu secepat itu selesai, Chanyeol menyambar bibir mungil Baekhyun untuk di kecupnya. Chanyeol tahu bahkan ia merasakan jika ciuman yang mereka lakukan terasa sangat basah. Tapi Chanyeol mengerti bahwa ini ada airmata kebahagiaan Baekhyun.
Seluruh orang di dalam gereja ini bersorak. Mereka sangat menantikan momen indah ini. Melihat dua anak adam dan hawa yang dulu telah merasakan pahitnya kehidupan yang mereka alami. Sekarang waktunya mereka bahagia dengan janji suci mereka sehidup semati.
Luhan tidak bisa menahan isak tangisnya, melihat sahabatnya sudah bahagia seperti sekarang. Jongdae dan Jongin pun tidak dapat mengekspresikan lagi bahagianya ketika Chanyeol benar-benar mengikat Baekhyun seutuhnya.
.
"Eungh..." Baekhyun terbangun dari tidurnya. Sebulan penantian Chanyeol pun datang. Semalam Baekhyun merasakan kontraksi hebat di perutnya dan akhirnya melahirkan seorang putri cantik mirip dengan ibunya. Si kecil ternyata mendesak ingin keluar lebih cepat dari yang mereka perkirakan. Awalnya seminggu lagi jadwal Baekhyun melahirkan namun siapa duga jika si bayi ingin cepat bertemu dengan ayah dan ibunya.
"Baekhyun.. kau bangun?" Chanyeol yang semalam merasa khawatir karena Baekhyun pingsan karena kelelahan, setelah berjuang untuk melahirkan normal. Chanyeol ingin sekali menggantikan posisi Baekhyun, namun apa daya jika Baekhyun yang hamil.
"Chan.."
"Sttt.. aku disini sayang." Chanyeol mengecup kepala Baekhyun dan menggenggam erat tangan istrinya. "Mana yang sakit,hm?"
"Dimana si kecil Chan? Aku ingin melihatnya." Alih-alih menjawab kekhawatiran Chanyeol, Baekhyun mencoba duduk tapi ditahan oleh si jangkung.
"Hei.. kau masih sakit. Tidurlah. Aku ambil Chanhee dulu." Awalnya Baekhyun mengreyit mendengar nama asing itu. Tapi Chanyeol malah tersenyum melihatnya. "Putri kecil kita, Park Chanhee."
Tanpa ba-bi-bu lagi Chanyeol berjalan menuju sisi lain di ruangan itu. Mengambil Chanhee dari box tidurnya yang berada tidak jauh dari tempat tidur Baekhyun. Menggendongnya pelan agar tidak membangunkan si kecil dari tidurnya. Chanyeol berjalan kearah Baekhyun dan menyodorkannya. Tanpa seizin Baekhyun, tiba-tiba airmata bahagia mulai mengalir membasahi pipi Baekhyun.
Seorang bayi yang sangat cantik, dengan kulit halus, mata yang sangat bulat meskipun sekarang sedang tertutup, berhidung mancung dan memiliki bibir yang sangat mungil.
"Dia sangat cantik Chan.." Baekhyun terus memandangi buah hatinya yang sedang tertidur lelap di gendongannya. Tanpa seinci pun bagian wajah Chanhee terlewat oleh Baekhyun.
"Ya, cantik seperti dirimu." Chanyeol mencium pipi Baekhyun dan membenahi anak rambut Baekhyun yang menggangu.
"Dia juga sepertimu Chan. Hidung dan matanya mewarisi punyamu." Chanyeol dan Baekhyun terkekeh hingga membuat si kecil diantara mereka menggeliat tidak nyaman. Lalu mata itu terbuka menampilkan manik yang sangat bulat, seperti punya ayahnya. Dia memandangi intens pada Baekhyun meskipun sesekali berkedip. Dia tidak menangis karena dia tahu, bahwa dia sekarang ada di dekapan ibunya.
"Apa dia tidak rewel selama aku tidur?"
Chanyeol menggeleng. "Tidak.. bahkan dia terus tertidur setelah dimansikan suster."
Baekhyun tersenyum dan kembali memeperhatikan putri kecilnya, darah dagingnya. Dia begitu bahagia melihat bayi yang di kandungnya sekarang telah keluar melihat dunia. Tetapi disini Chanyeol lah yang paling bahagia. Andaikan waktu itu ia tidak dapat menemukan Baekhyun, ia seperti apa untuk sekarang ini? Hidup diambang kekhawatiran saat anaknya lahir tanpa ayah dan tidak ada jaminan hidup bahagia.
"Baekhyun.." Baekhyun menoleh saat Chanyeol memanggilnya. "Bagaimana jika saat itu aku tidak dapat menemukanmu? Apa aku bisa melihatnya? Terus hidup di dalam kekhawatiran tentangmu dan juga si kecil. Aku tidak bisa berpikir jika aku akan terus hidup-"
"Chan.." Baekhyun memotong perkataan Chanyeol setelah dirasa airmata mulai memupuk di kelopak mata si jangkung.
"Kau telah menemukanku karena kau benar-benar mencintaiku dan aku mencintaimu. Tuhan sudah mengatur semuanya. Kematian ayah ibu, hilangnya ingatanku, kau yang pergi dan juga kau yang kembali. Semua sudah ada jalannya. Sekarang inilah pilihan yang Tuhan beri, kau berhasil menemukanku dan aku masih bertahan untuk menunggumu."
"Terimakasih Baekhyun. Teri-" Baekhyun menghentikan perkataan Chanyeol dengan tangannya yang memegang pipinya.
"Tidak Chan. Aku yang berterima kasih. Terimakasih karena mau mencintaiku, terimakasih karena mau mencariku dan terimakasih karena mau menerimaku."
Seketika Chanyeol mengecup bibir Baekhyun dang melumatnya pelan. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka menyudahinya dan saling menatap satu sama lain.
"Aku mencintaimu Baek."
"Aku juga mencintaimu Chan."
Mereka memutus kontak mata saat si mungil yang berada di gendongan Baekhyun menggeliat tidak nyaman. Mungkin ia marah jika orangtuanya melupakan dia yang ada diantara mereka.
Baekhyun dan Chanyeol tersenyum saat si mungil mulai menunjukkan wajah ingin menangis. Secepat itu pula Baekhyun mengeluarkan putingnya dan dilahap habis oleh bayinya.
"Hai sayang.. akhirnya kau keluar ke dunia. Ibu sangat senang. Cepat tumbuh dan menjadi putri cantiknya ibu-"
"Dan ayah." Baekhyun menoleh melihat Chanyeol yang menatapnya, namun setelah itu mereka berdua tersenyum satu sama lain.
.
3 tahun kemudian..
"Nunnaaaa... Chanhee menyembunyikan dasiku lagi!" Baekhyun yang sedang menyiapkan sarapan pagi sedikit terkejut dengan teriakan Heechan. Heechan berteriak saat menuruni tangga dengan tas di punggungnya. Wajah yang mulai berubah menjadi lelaki remaja itu sedikit tertekuk karena ulah keponakannya.
Chanhee yang sejak tadi sudah berada di meja makan dan duduk manis di pangkuan sang ayah hanya tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangan mungilnya. Baekhyun melihat itu hanya tersenyum melihat putrinya yang sangat menggemaskan.
Heechan menghentak-hentakan kakinya saat berjalan mendekat ke meja makan. Menghempaskan badannya di kursi dan memasang pose merajuk. Chanhee yang mengetahui unclenya datang mendekat, sesegera mungkin merubah posisinya memeluk sang ayah untuk bersembunyi.
Chanyeol dan Baekhyun yang melihat itu, tertawa kecil mengingat kejadian ini tidak terjadi sekali- dua kali. Apalagi kelakuan Chanhee yang tidak bisa membuat mereka marah pada si kecil boneka hidup.
"Chanhee.. kenapa kamu menyembunyikan dasinya uncle?" Chanyeol mencoba berbicara pada Chanhee yang semakin bersembunyi di sela-sela ketiaknya.
"Karena uncle kemarin melupakan janjinya." Sahut lirih Chanhee. Meskipun sangat pelan, tapi Chanyeol masih mendengarnya.
"Tapi Chanhee tidak boleh mengerjai uncle."
"Uncle jahat yah. Dia lupa membawakan lolipopku." Chanhee masih bertahan untuk bersembunyi, sedangkan Chanyeol, Baekhyun dan Heechan sudah tersenyum mengetahui alasan si mungil itu mengerjai unclenya.
Heechan dengan pelan berjalan menuju lemari kulkas, mengambil dua lolipop yang sebenarnya sudah ia bawakan untuk Chanhee. Bukan lupa, tapi kemarin saat Heechan pulang sekolah, Chanhee sudah tertidur dan pada malamnya mereka berdua lupa tentang lolipop itu. Heechan dengan pelan mendekati Chanhee yang masih setia bersembunyi di pelukan ayahnya. Lalu Heechan dengan inisiatif menggelitik pinggang Chanhee hingga membuat si mungil itu tertawa lalu keluar dari persembunyiannya. Dan secara cepat Heechan menunjukkan dua lolipop kesukaan Chanhee di depan wajahnya.
"Uwaaaa... Lolipop!" Saat Chanhee hendak mengambil lolipop itu, Heechan dengan jahil menariknya lagi dan membuat Chanhee sedikit cemberut.
"Janji dulu pada uncle setelah makan lolipop, Chanhee harus sikat gigi." Chanhee mengangguk kecil dan masih cemberut. Lalu Heechan menyodorkannya lagi lolipop itu dan dengan cepat Chanhee mengambilnya. Senyuman dengan dihiasi gigi gusi kecil itu membuat seluruh orang dewasa disana tertawa melihat tingkah lucunya.
"Nah.. uncle sudah memberikan lolipopnya. Sekarang Chanhee kembalikan dasinya uncle, uncle harus bersekolah." Baekhyun mengelus pelan rambut putrinya dan di jawab dengan anggukan.
Chanhee merogoh saku dari mini dressnya dan mengeluarkan dasi yang sedari tadi disembunyikannya di sana. Tangan mungilnya mengulurkan benda itu kearah Heechan yang masih setia duduk berjongkok di sebelah Chanyeol. Heechan menerimanya dan mengatakan terimakasih pada Chanhee.
"Nah.. karena semua sudah teratasi, ayo makan!!" Chanyeol langsung menyambat sumpitnya tapi di hentikan oleh Baekhyun yang menjewer telinga Chanyeol.
"Berdoa dulu ayah." Chanyeol hanya menyengir dan membenarkan posisi Chanhee di pangkuannya. "Nah.. pagi ini adalah giliran Chanhee yang berdoa."
"Eung?" Chanhee membelalak kaget saat mendengar perkataan ibunya. "Ibuu.."
"Ayo sayang, dibantu ayah." Chanyeol langsung mencium pipi putrinya dan dijawab anggukan oleh Chanhee.
"Terimakasih Tuhan untuk makanan pagi ini.." Sahut lirih Chanhee yang dibantu oleh bisikan Chanyeol.
"Berkati makanan pagi kami- agar menjadi energi untuk kami bekerja- Amin!" Chanhee langsung memotong bisikan Chanyeol dan langsung mengakhiri doa pagi itu.
Chanyeol memasang ekspresi tidak percaya pada putrinya yang sedang tertawa padanya. Sedangkan Baekhyun dan Heechan geleng-geleng sambil memulai sarapan.
Baekhyun mengambil nasi untuk piringnya Heechan dan porsi lebih banyak untuk piring Chanyeol. "Ibu.. ibu.. daging dan juga telur." Baekhyun menaruh masakan daging di piring Chanyeol dan dengan cepat Chanhee menusuk daging itu dengan garpu kecilnya.
"Chanhee juga harus makan nasi, aaa.." Chanyeol mencoba menyuapi putrinya tapi ditolak oleh Chanhee.
"Hmmm.. tidak suka nasi." Jawab Chanhee sambil geleng-geleng.
"Bagaimana dengan sayur?"
"Tidak enak!" Masih dijawab dengan gelengan oleh Chanhee.
"Kalau Chanhee tidak makan nasi, kapan kenyangnya? Dan juga sayur sehat untuk badan Chanhee. Ayoo.. ayah suapin."
"Ayaaahhhh..." Chanhee meletakkan garpunya dan memeluk tubuh Chanyeol berniat bersembunyi. Si kecil cemberut dipaksa untuk memakan makanan yang dia benci.
"Bagaimana jika ayah belikan boneka baru?" Chanyeol mulai membujuk putri kecilnya yang masih setia menyembunyikan wajahnya.
Tetapi Chanhee menolak sambil menggelengkan kepala nya ke kanan ke kiri. "Eung-eung."
"Boneka beruang?" Chanhe menggeleng. "Boneka barbie?" Dan Chanhee masih menggeleng. "Bagaimana jika bermain ke taman bermain pada akhir pekan?"
"Maaaauuuuuuu~"
Seketika Chanhee langsung melompat kegirangan di pangkuan Chanyeol membuat sang ayah kalang kabut karena takut putrinya terjatuh. Sendok yang sebelumnya dipakai untuk menyuapi Chanhee langsung saja dilempar mengetahui Chanhee langsung melompat kegirangan.
"Sayang.. jangan melompat. Kasihan ayah.." Baekhyun juga kaget mengetahui Chanhee kegirangan di pangkuan suaminya. Tapi si kecil hanya tertawa setelah berheti melompat.
"Nah.. sekarang Chanhee makan, aaaaaa..." Dengan lahap Chanhee memakan suapan dari Chanyeol. Tidak ada yang bisa membujuk Chanhee jika susah makan kecuali taman bermain. Bahkan piring itu hampir bersih, semua isinya juga hampir habis dimakan Chanhee.
Namun tiba-tiba garpu milik Chanhee menusuk daging yang berada di piring dan mengulurkannya tepat di depan mulut sang ayah.
"Ayah juga harus makan. Jangan menyuapi Chanhee terus." Seketika rongga dada Chanyeol menghangat saat menerima suapan dari putri kecilnya. "Tuhkan.. makanannya tinggal sedikit. Padahal ayah belum makan sama sekali."
"Tidak apa-apa. Ayah bisa makan setelah Chanhee." Chanhee cemberut melihat ayahnya. Tetapi ia memiliki akal yang membuat bibir mungil itu tersenyum.
"Ibu.. suapi ayah." Baekhyun yang sedang berhenti makan karena interupsi dari Chanhee mengreyit saat anak itu menyuruhnya. Ia baru sadar bahwa tangannya sedang memegang sendok berisi makanan yang tadi hendak di makan.
"Ayoo bu.. ayah kelaparan." Dengan senyum Baekhyun mengulurkan tangannya ke mulut suaminya dan di terima baik dengan senyuman.
"Nah.. begitu dong.. kan Chanhee bisa terus disuapi ayah. Dan ayah disuapi ibu." Kata si mungil sambil kembali menusuk daging yang ada di depannya.
Chanyeol dan Baekhyun hanya tersenyum kecil, sedangkan Heechan hanya menggeleng kesal mengingat semakin romantis kakak dan kakak iparnya.
Mungkin ini benar-benar happy ending untuk mereka.
END
.
.
.
BECAUSE OF YOU
1 Mei 2017
=
16 September 2017
.
15 Chapter
.
Tamat
.
Akhirnyaaaa!!!
Tamat jugaa!!
Happy Ending!
Aku cuma bisa berterima kasih buat semua readers tercintakuhh*
Terima kasih udah setia mengikuti BcsOfYou dari awal sampai akhir.
Terima kasih udah ngasih saran, kritik, review dari kalian.
Terima kasih udah mau nungguin dua bulan pas bikin sequelnya.
Sumpah, aku gabisa ngomong apalagi.
Pokoknya terima kasih udah stay terus buat cerita ini.
Ini cerita chanbaek pertama ku dan aku berpikir ini udah bikin puas kalian.
Jangan kapok buat mampir ke work aku.
Dan aku always love kalian yang terus mengikuti semua cerita ku.
Terima kasih banget!
Love you all!!
Regards, Ken.
